Home » Selected Contemplation » Realitas

Realitas

Di dalam film pre-sekuel trilogi Matrix yang dibuat dalam bentuk animasi, [The] Animatrix, kebedebahan atas nasib umat manusia dimulai dari langit gelap yang tak mendapat cahaya mentari.

Di dalam Animatrix, keputusan gegabah para pemimpin umat manusia itu dibuat dengan niatan memblok sinar matahari agar para andro-robot tak mendapat sumber energi. Hasilnya justru fatal. Dari situlah manusia kalah oleh rasa terlalu percaya dirinya dan malah dari situlah para andro-robot menemukan sumber energi baru: amino manusia.

Dari situlah dunia matrix muncul. Manusia yang kalah dalam perang besar terakhir melawan andro-robot dipaksa hidup dalam dunia baru yang diimplant dalam otak mereka: ‘realita’ matrix. Sementara manusia hidup dalam dunia matrix dan merasa bahwa realitas adalah apa yang mereka ‘alami’ di dalamnya, realita sebenarnya adalah tubuh mereka sedang dimanfaatkan aminonya.

Begitulah film Matrix membenturkan pengertian realitas itu. Ia mirip sebuah novel Iwan Simatupang yang berbicara manakah yang real? Waktu bangun terjaga ataukah saat kita ‘hidup’ di dunia mimpi saat kita tidur?

Reality Word Cloud by rachelbinx

credit pic: rachelbinx

Menarik juga jika bicara tentang ini kita tautkan dengan film Epic. Film animasi ini berbicara tentang dunia yang tak terlihat oleh kita bukan karena ia tidak ada namun karena keterbatasan tangkapan indera kita. Ini mengingatkan kita mengenai daifnya kita ini. Bukankah dalam kecepatan yang lebih cepat dari takar nalar normal kita dan kemampuan kita menangkap sesuatu secara inderawi, kita kerepotan mendefinisikan realita? Bayangkan jika dalam kondisi normal kita setiap saat kita melihat benda sehingga sampai ukuran molekul? Memahami kecepatan yang bisa ditangkap mata normal adalah sekelebatan kecepatan cahaya? Susah dibayangkan. Tapi bagian lain yg bisa mengaitkannya dngan film berikutnya yang akan saya sebut adalah bagaimana ‘dunia hutan dan tumbuhan’ dijaga dengan susah payah oleh ‘entitas dari dunia yang di luar’; dunia resepsi normal indera kita.

Bicara film Epic, mengingatkan kita pada film animasi tersukses dalam sejarah animasi Jepang, Princess Mononoke.

Film animasi ini tak bicara mengenai filosofi realitas. Ia plain atau lempang bicara mengenai manusia dan dunia-dunia. Mungkin kalau dalam kajian fisika kuantum dikenal dengan istilah multiple universe. Tapi konsep multiple universe lebih terkait dengan kenisbian definisi waktu dan ruang yang ditakar secara hitungan, empiris-rasionalitis. Film Epic, film buatan Barat, punya napas itu.

Film Princess Mononoke, beda dengan Epic, punya tradisi Timur. Manusia hanyalah bagian dari keseluruhan sistem dunia ‘manusia’, dunia ‘hewan’, dunia ‘tumbuhan / hutan’ dan dunia ‘alam gaib’. Kerjasama dan tidak menindihi di antara dunia-dunia ini akan melahirkan ‘dunia utuh’ yang menopang dunia-dunia yang ada. Manusia bukanlah entitas yang dominan, ia hanyalah bagian dari sebuah sistem yang besar di antara dunia-dunia itu. Sebutlah sistem ini bernama Kehidupan.

Dari Animatrix, Epic, dan Princess Mononoke, setiap orang bisa belajar bahwa manusia tak bisa merusak dunia “lain” kecuali membunuh dirinya sendiri dan rasa kemanusiaan pun akan ikut lenyap di dalam prosesnya. Demikian kiranya.

REFERENSI

Miyazaki, Hayao. (1997). Princess Mononoke”. Movie. Studio Ghibli.
Morimoto, Koji et al. (2003). “The Animatrix”.  Movie. Village Roadshow Pictures.
Wedge, Chris. (2013). “Epic”. Movie. Blue Sky Studios & 20th Century Fox Animation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s