Home » Article » Perang di Suriah dan Kisah Para Pengungsi

Perang di Suriah dan Kisah Para Pengungsi

Perang di Suriah belum juga berhenti dan kini melahirkan isu terkait ‘kebijakan penanganan’ pengungsi di beberapa negara Timur Tengah dan Eropa. Perang yang berlangsung sejak 2011 ini sebenarnya dipicu oleh tindakan aparat rezim Bashar al-Assad yang membunuh para demonstran pada bulan Maret di kota Deraa. Para demonstran ini menyuarakan pergantian pimpinan di Suriah dan pembenahan kesejahteraan rakyat di negara yang hampir selama 50 tahun dikuasai oleh partai Baath.[i][ii] Partai ini adalah partai yang selama ini melanggengkan kekuasaan keluarga Assad di Suriah. Presiden yang sekarang berkuasa, Bashar al-Assad, menjadi presiden Suriah selepas ‘mewarisi’ kekuasaan dari ayahnya Hafez al-Assad.

Keluarga besar Assad sendiri berlatar belakang minoritas Syiah Alawiyah (atau kadang disebut Nusayriyyah) (12% dari populasi) yang memimpin di negara yang mayoritas Sunni (74%), Druze dan Kristen (10%).[iii]Pendekatan sekuler keluarga Assad di dalam memimpin selama hampir lima puluh tahun membuat isu sektarian di dalam pemerintahan di Suriah tidak muncul.[iv]

Namun mulai menguatnya tuduhan korupsi yang dilakukan oleh keluarga besar al Assad membuat gelombang unjuk rasa muncul di awal tahun 2011. Para demonstran saat itu menuntut pengunduran diri Bashar al-Assad. Bashar al-Assad tidak bergeming dengan tuntutan para demonstran tersebut dan melakukan pendekatan represif. Beberapa demonstran ditembak hingga meninggal sedangkan ratusan demonstran lainnya luka-luka.[v] Dari situlah kemudian kisruh lokal berkembang menjadi kekacauan nasional dan isu sektarian muncul ke permukaan.

Perang di Suriah kini adalah perang yang sangat kompleks yang lebih dari sekedar perkara Sunni melawan Syiah Alawiyah sebagaimana diyakini sebagian orang.[vi] Perang ini sekarang juga bukan sekedar perang rebutan pengaruh Saudi Arabia dan Iran di Timur Tengah selepas Arab Spring sebagaimana difokuskan oleh sebagian orang.[vii][viii][ix] Perang yang terjadi di Suriah juga membuat prediksi sebagian orang bahwa pengaruh Arab Spring tidak akan menyentuh Suriah dan perubahan situasi domestik yang sejak tahun 1963 selalu dalam keadaan darurat di bawah dominasi satu partai serta pergantian kepemimpinan di Suriah akan berlangsung secara damai juga meleset.[x] Perang ini juga kompleks karena kemudian semakin menunjukkan keterlibatan banyak negara asing di dalam konflik; Rusia, Iran, Irak yang berseberangan dengan Saudi Arabia, Amerika Serikat, Qatar, Perancis, Yordania, Turki, dan Kuwait.[xi][xii][xiii][xiv]

Bahkan Iran sendiri lewat jalur Hezbollah di Lebanon, tidak hanya membantu persenjataan atau pelatihan militer sebagaimana negara-negara lain yang terlibat, tetapi juga pengiriman pasukan fisik.[xv][xvi]Kekompleksan perang di Suriah bisa ditambahkan bukan melulu ideologi, proksi (perang pengaruh di balik layar dan boneka), tetapi juga berkaitan dengan bisnis peperangan.[xvii] Semuanya bisa diringkas dengan satu kata yang dipakai oleh seorang pewarta berita sebagai madness; sebuah kegilaan karena kompleksitasnya. Dan juga semakin ganas karena Bassar al-Assad terlihat sangat membabi-buta dengan senjata kimia dan barrel bomb di daerah penduduk sipil yang dikuasai pemberontak Sunni[xviii]

Konflik di Suriah hanyalah bagian dari kesemrawutan konflik di Timur Tengah (Diambil dari: economist.com/blogs/graphicdetail/2015/04/daily-chart-0)

Konflik di Suriah hanyalah bagian dari kesemrawutan konflik di Timur Tengah (Diambil dari: economist.com/blogs/graphicdetail/2015/04/daily-chart-0)

Apa yang dilakukan Iran adalah tak terhindarkan. Suriah di bawah kepemimpinan keluarga besar Assad adalah salah satu negara di Timur Tengah yang merupakan sekutu dekat mereka. Iran akan berjuang segala cara agar Bashar al-Assad tidak jatuh. Suriah adalah penting bukan hanya di dalam masalah persamaan ideologi Syiah namun juga karena barat Suriah berbatasan langsung dengan laut terbuka merupakan akses penting bukan hanya di dalam ekonomi namun juga militer.[xix] Ini belum lagi kebutuhan Iran mengamankan pembangunan jalur ekspor pipa gas menuju Eropa yang akan melewati Suriah dan kebetulan merupakan kerja bareng dengan Rusia yang direncanakan akan selesai pembangunannya di pertengahan 2018 –tentu jika tidak ada perang.[xx]

Di dalam negeri Suriah sendiri, isu sektarian yang semula tidak muncul di dalam awal konflik di tahun 2011 yang kemudian mulai muncul bersamaan dengan kian parah dan meluasnya cakupan perang antara Sunni dan Syiah kian membuat posisi Bashar al-Assad kian sulit.[xxi] Bantuan dari Iran adalah keniscayaan karena Bashar al-Assad seiring dengan ekskalasi peperangan, harus melawan front Sunni baik dari IS (Islamic State) yang merangsek hendak memperluas wilayahnya dari tenggara, etnik Kurdi yang berperang untuk kemerdekaan mereka di daerah timur laut, milisi-milisi domestik yang muncul dari tindak opresif rezim Assad, dan kombatan asing Sunni yang muncul sebagai respon kehadiran Iran dan Hezbollah-Lebanon dalam konflik yang makin melebar dan isu sektarian mulai muncul di peperangan.[xxii]

Sementara perang belum menunjukkan tanda bakal segera mereda, penduduk sipil Suriah mengungsi ke luar dari negara mereka. Awalnya mereka mengungsi ke negara-negara terdekat yang memang berbatasan langsung dengan Suriah. Pilihan yang ada adalah Turki di sebelah utara, Lebanon di sebelah barat, Mesir lewat jalur laut dari sebelah barat, Israel dan Yordania di sebelah selatan, kemudian Irak di sebelah Tenggara.[xxiii] Bagi para pengungsi korban perang ini, migrasi ke arah tenggara kecuali di daerah yang dikuasai etnik Kurdi jelas tidak mungkin karena daerah Irak sebagian besarnya merupakan daerah yang sedang berkonflik. Dengan demikian, pilihan yang mungkin akan diambil oleh para pengungsi ini keluar dari negara mereka adalah hanya Turki, Lebanon, Mesir, dan Yordania.

Negara-negara lain di Timur Tengah –jika kita melihat peta Suriah– tidak mudah ditempuh oleh mereka yang mengungsi dari peperangan lewat jalan darat yang mungkin mereka lakukan.[xxiv] Tidak sepenuhnya benar ejekan bahwa negara-negara Timur Tengah lain tidak menerima para pengungsi ini sebab Turki, Lebanon, dan Yordania, menampung para pengungsi ini dalam jumlah yang sangat besar.[xxv] Jalur lain yang biasa dipakai para pengungsi dari Suriah adalah biasanya lewat bandara Damaskus untuk terbang ke Turki.

Peta bersumber dari 'Syria Needs Analysis Project' yang dikutip di BBC - 'Syria: Mapping the Conflict' (10 Juli 2015)

Peta bersumber dari ‘Syria Needs Analysis Project’ yang dikutip di BBC – ‘Syria: Mapping the Conflict’ (10 Juli 2015)

Penduduk sipil Suriah harus mengungsi karena di Suriah tidak ada daerah yang disepakati sebagai safe zone dan non-fly zone oleh pihak yang saling bertikai.[xxvi] Kebanyakan pengungsi melarikan diri ke arah Turki karena perlakuan Turki kepada para pengungsi korban perang disebut lebih baik dibandingkan negara-negara sekitar yang lain selain betapa terbukanya Turki terhadap para pengungsi yang masuk bahkan ada beberapa daerah yang jumlah penduduk Turki kalah jumlah dengan para pengungsi –yang berisiko menimbulkan gejolak di Turki.[xxvii]Kebijakan open door policy kepada para pengungsi Suriah oleh Erdogan membuat banyak pengungsi lari ke Turki.[xxviii] Kebijakan inilah yang tidak dimiliki negara lain di sekitar Suriah seperti Israel, Kuwait, dan Arab Saudi.

Peta Pengungsi di Negara Sekitar Syria berdasar rilis UNHCR per 9 Juli 2015 dari unhcr.org/4million/

Peta Pengungsi di Negara Sekitar Syria berdasar rilis UNHCR per 9 Juli 2015 dari unhcr.org/4million/

Turki juga dipilih karena dari Turki para pengungsi Suriah bisa berpeluang ‘menerobos’ ke Eropa. Di Eropa-lah, para pengungsi ini berharap mendapatkan status asylum. Kecuali hanya untuk tinggal di kamp pengungsian, beberapa negara Timur Tengah memiliki kebijakan yang sangat ketat terhadap pendatang dari luar yang hendak mencari asylum. Negara-negara seperti Oman, Kuwait, Qatar memiliki masalah serius dengan komposisi penduduk yang selama ini sudah sumpek dengan para pekerja asing dari negara Asia Selatan dan ini berimbas pada kebijakan asylum yang sangat ketat.[xxix]

Pemandangan dari ‘kota’ Oncupinar Container di Kilis, Turki, yang dilengkapi dengan fasilitas sosial, sekolah, tempat pelatihan, layanan kesehatan, dan pusat olahraga di mana 14 ribu pengungsi Suriah tinggal. Kebijakan pemerintah Turki untuk membuka pintu selebar mungkin kepada pengungsi Suriah membuat Turki dibanjiri para pengungsi dibandingkan negara-negara lain meskipun kritikan terhadap pemerintah Turki juga ada terkait beberapa aturan ketat kepada para pengungsi ini di dalam kelenturan hukum Turki memberikan kesempatan kerja bagi para pengungsi ini. (Photo by Atilgan Ozdil/Anadolu Agency/Getty Images)

Pemandangan dari ‘kota’ Oncupinar Container di Kilis, Turki, yang dilengkapi dengan fasilitas sosial, sekolah, tempat pelatihan, layanan kesehatan, dan pusat olahraga di mana 14 ribu pengungsi Suriah tinggal. Kebijakan pemerintah Turki untuk membuka pintu selebar mungkin kepada pengungsi Suriah membuat Turki dibanjiri para pengungsi dibandingkan negara-negara lain meskipun kritikan terhadap pemerintah Turki juga ada terkait beberapa aturan ketat kepada para pengungsi ini di dalam kelenturan hukum Turki memberikan kesempatan kerja bagi para pengungsi ini.
(Photo by Atilgan Ozdil/Anadolu Agency/Getty Images)

Lain dengan opsi mengungsi ke selatan, kondisi sekarang berubah drastis bagi para pengungsi yang memilih jalur Turki di dalam pengungsian mereka. Opsi untuk bermigrasi ke Eropa kini kian terbuka lebar. Beberapa negara Eropa, setelah desakan aktivis kemanusiaan dan semprotan Erdogan,[xxx][xxxi][xxxii]mulai membuka diri kepada para pengungsi yang hendak masuk ke negara mereka.[xxxiii] Para pengungsi di Turki yang sudah berjubel di beberapa wilayah di Turki melihat bahwa perjalanan dan kehidupan baru di Eropa kini terbuka lebar.

Turki digunakan sebagai ‘semacam tempat transit’ sebelum ke Eropa karena mereka tahu Turki tak mungkin berterusan menampung dan terus menambah jumlah pengungsi dari negeri mereka, Suriah, yang sebelumnya sudah dijejali pengungsi dari Irak dan Afghanistan. Tidak ada pekerjaan dan penghidupan yang baik kalau hanya tinggal di kamp pengungsian di Turki kecuali mereka menyeberang ke Eropa untuk mendapatkan asylum.[xxxiv]Dan Jerman kini menjadi favorit di dalam usaha pencarian asylum. Jerman memberikan kuota yang sangat besar dibandingkan negara-negara lain di Eropa untuk asylum pengungsi Suriah. Meskipun demikian, langkah Jerman ini menurut Washington Post serta BBC disebabkan oleh solusi win-win buat Jerman yang secara demografis membutuhkan tenaga kerja muda dan cakap. Data demografis menunjukkan bahwa dalam waktu dekat Jerman akan kekurangan warga negara untuk menjaga pemenuhan tenaga kerja yang dibutuhkan oleh industri mereka. Dan memang ini bersesuaian dengan catatan penting yang tak boleh dilupakan atas willkommenskultur Jerman, bagaimanapun Jerman menerapkan sistem kuota dan tidak mungkin bisa menampung banyak kecuali sesuai ‘kalkulasi kuota yang ada’.[xxxv]

Penawaran Settlement dan Program Lainnya sebagaimana dilaporkan oleh UNHCR (diambil dari

Penawaran Settlement dan Program Lainnya sebagaimana dilaporkan oleh UNHCR (diambil dari “Anatomy of a crisis: the facts on Europe’s refugees”, The Newstateman; newstatesman.com/politics/uk/2015/09/anatomy-crisis-facts-europe-s-refugees)

Lonjakan pengungsian ke Eropa juga dipengaruhi oleh tersebarnya berita mengenai jalur-jalur yang sukses ditembus oleh para pengungsi Suriah ke Eropa di antara para pengungsi.[xxxvi]Dari Turki-lah kebanyakan para pengungsi ini hendak mengadu nasib dengan mempertaruhkan nyawa menuju Eropa baik lewat jalur darat maupun lewat jalur laut,[xxxvii]sedangkan sebagian melalui jalur Mesir sebelum menyeberang ke Eropa.

Dan terjadinya lonjakan pengungsian lewat jalur open door policy Turki menuju Eropa akhir-akhir ini bukan hanya karena asylum yang ditawarkan beberapa negara Eropa yang bakal beda dengan status refugee namun juga karena jalur Lebanon sudah ditutup pemerintah Lebanon sejak Oktober tahun lalu. Alasan yang dipakai pemerintah Lebanon adalah jumlah pengungsi sudah dianggap terlalu membebani negara. Selain pemerintah Yordania sudah mulai kewalahan menangani pengungsi sehingga kondisi pengungsi di Yordania tidak menggembirakan, Yordania bukanlah pilihan yang baik sebagai ‘tempat transit’ karena Arab Saudi atau Kuwait kini sudah tidak memberikan harapan asylum. Para pengungsi Suriah selain melihat susahnya mendapat asylum di Arab Saudi atau Kuwait juga sebagian di antaranya memandang isu sektarian akan menyulitkan mereka mendapatkan kenyamanan hidup. Jadi kalau mengungsi ke selatan hanya akan stagnan di Yordania saja, itupun dalam kondisi yang tak nyaman. Jalur favorit kini tinggallah Turki sebagai ‘tempat transit’ dan lalu ke Eropa.[xxxviii][xxxix]

Grafis rute pengungsi Syria menuju Eropa diambil dari The Independent, Lizzie Dearden,

Grafis rute pengungsi Syria menuju Eropa diambil dari The Independent, Lizzie Dearden, “6 Charts and a Map that Show …”

Para pengungsi ini benar-benar harus nekad untuk menerobos masuk ke Eropa. Meskipun masuk ke Turki relatif mudah namun perjalanan berikutnya ke Eropa tidak demikian. Beberapa dari mereka hanya bermodalkan keberanian dan harapan besar untuk bisa melewati beberapa negara Eropa menuju negara-negara Eropa yang makmur dan mau memberikan status asylum seperti Jerman dan Swedia. Namun beberapa memang karena mempunyai kerabat di negara-negara Eropa tertuju. Bagi yang hanya bermodal nekad, tantangannya bukan hanya di-granted pengajuan status asylum-nya ketika sampai di negara yang memiliki kebijakan terbuka pada para pengungsi Suriah ini namun juga karena beberapa negara Eropa hingga kini tidak mempunyai kebijakan untuk memberikan jalur perlintasan terbuka kepada para pengungsi Suriah apalagi mau menerima para pengungsi ini.[xl]

Namun dari semua berita mengenai pengungsi Suriah, tampaknya ada sesuatu yang ganjil di dalam pemberitaan media massa. Kartun olok-olok buatan kartunis yang berdomisili di Swedia yang beredar mengenai ‘kebaikhatian’ negara Eropa terhadap pengungsi Suriah dan sikap apatisnya semua negara Timur Tengah tidak sepenuhnya benar dan malah dapat dibaca sebagai propaganda murahan meletakkan Eropa (baca: Barat) sebagai pahlawan kemanusiaan dan dunia Arab sebagai dunia yang apatis terhadap saudaranya.

Siapakah yang menggugat? Negara Timur Tengah-kah atau Turki? [Turki bisa disebut Eropa juga bisa disebut 'bagian dari dunia Arab']. Benarkah Negara Timur Tengah tutup mata terhadap para pengungsi? Benarkah Eropa membuka pintu sejak awal terhadap para pengungsi Suriah? Bagaimanakah kisah sebenarnya?

Siapakah yang menggugat? Negara Timur Tengah-kah atau Turki? [Turki bisa disebut Eropa juga bisa disebut ‘bagian dari dunia Arab’]. Benarkah Negara Timur Tengah tutup mata terhadap para pengungsi? Benarkah Eropa membuka pintu sejak awal terhadap para pengungsi Suriah? Bagaimanakah kisah sebenarnya?

Pemberian ruang bagi para pengungsi Suriah di Eropa tidak serta merta muncul kecuali sebelumnya menjadi komoditas politik di sesama negara Eropa.[xli][xlii][xliii][xliv][xlv]Bersamaan dengan seruan Angela Merkel, politisi berpengaruh di Eropa, kepada negara-negara Eropa dalam hal border policy untuk lebih terbuka dan suportif kepada para pengungsi Suriah –dengan perhitungan kuota[xlvi]– lonjakan arus para pengungsi Suriah ke Eropa kemudian menjadi tidak terelakkan. Meskipun demikian, berita bagus ini bisa rusak jika rencana Hungaria untuk membangun tembok sepanjang 1757 kilometer jadi dilaksanakan dan penolakan terhadap para pengungsi tetap kokoh dipegang. Menteri Luar Negeri Hungaria menyatakan bahwa keberadaan para pengungsi kurang baik bagi perekonomian dan keamanan di negaranya. Tembok sepanjang 175 kilometer dan 3,9 meter ini diniatkan oleh Hungaria sebagai tembok penghalang para pengungsi memakai jalur Serbia-Hungaria sebelum menuju ke negara Eropa yang makmur seperti Jerman dan Perancis. Hungaria bersikeras bahwa mereka berhak menjaga negaranya dari potensi ketidakstabilan domestik.[xlvii]

Estimasi jumlah pengungsi Suriah di SELURUH Eropa dibandingkan dengan pengungsi Suriah di Neighbouring Countries (Diambil dari

Estimasi jumlah pengungsi Suriah di SELURUH Eropa dibandingkan dengan pengungsi Suriah di Neighbouring Countries (Diambil dari “Can’t Go Home: NPR; apps.npr.org/syria/#_)

Perang tidak pernah tidak melahirkan tragedi. Perang di Suriah dan kisah para pengungsi adalah sebuah tragedi. Tragedi yang memang kadang tak terelakkan dan rakyat sipil-lah yang banyak menanggung beban penderitaan. Tidak ada yang tahu kapan perang di Suriah akan berakhir melihat kekompleksan yang terjadi di sana meskipun ada kemungkinan Assad akan mau berbagi kekuasaan di Suriah untuk meredakan perang tapi dengan syarat yang ia maui.[xlviii] Bisa saja, ini pendapat yang kurang populer di antara analis, perang akan berakhir dengan model balkanisasi dengan pecahnya Suriah menjadi beberapa negara kecil dengan wilayah barat menjadi negara berbasis Syiah, wilayah utara-timur laut berbasis keetnikan Kurdi, barat daya akan menjadi negara berbasis Druze atau tetap satu dengan wilayah barat, sedangkan wilayah tengah dan selatan akan menjadi negara Sunni.[xlix][l][li]

Syria Balkanization diambil dari The 4th Media,

Syria Balkanization diambil dari The 4th Media, “Syria Balkanization: Negotiating Ethnic Cleansing and a Temporary Partition”.

Sementara perang masih akan terus berkecamuk, para pengungsi Suriah –dan pengungsi dari negara Timur Tengah lain yang negaranya porak poranda akibat petualangan militer beberapa negara besar di dalam mendapat konsensi penguasaan sumber daya alam dan perluasan pengaruh politik serta ideologi– sedang mencari jalan lain menuju negara Eropa yang makmur untuk kehidupan damai dan penghidupan yang lebih baik. Jalur Hungaria akan tertutup jika tembok ratusan kilometer jadi dibangun dan Perancis akan kian ketat menjaga perbatasannya. Mungkin jalur Rusia-Norwegia akan dipilih para pengungsi yang masih tertinggal di daerah konflik zonder peduli dingin akan menyapa.[lii][liii]

Pengungsi dari Suriah dan juga negara Timur Tengah dari negara-negara yang sedang mengalami konflik akan memilih bermigrasi untuk menjalani hidup di Eropa. Bukankah di negara-negara Eropa yang makmur kecil sekali bakal mengalami kisah perang yang konon terpaksa dilakukan demi mengganti rezim yang berkuasa dan demi demokratisasi sebagaimana terjadi di banyak negara Timur Tengah sebagaimana disindir oleh Thalif Deen dari PBB? Ataukah sudah mulai lupa semua bagaimana carut marut di negara Timur Tengah dan Afrika adalah karena permainan di balik layar kerakusan kapitalisme sebagaimana damprat pewacana dan akademisi Marxis, Slavoj Zizek? Dan sudahkah sampai kabar kepada kita bahwa krisis kekeringan di sebagian besar wilayah Suriah yang juga disebut memperkeruh demonstrasi anti Bashar al-Assad di tahun 2011 bisa jadi membuat para pengungsi Suriah kemudian memilih daerah tujuan migrasi yang memungkinkan asylum daripada hanya sekedar hidup di kamp pengungsian negara sekitar yang nanti ketika konflik mereda mereka harus balik ke negerinya yang sudah porak poranda? Belum lagi dengan isu IS yang mulai mengusik beberapa negara Teluk dan dengan negara-negara Teluk yang juga sangat susah untuk mendapatkan asylum, katakan, katakan dengan logikamu, menuruti perspektif para pengungsi ini jika tidak ke Eropa yang jalurnya mulai terbuka lebar dan hidup punya potensi cerita menjanjikan lalu mau ke mana lagi?[liv]

Pengungsi perang ini bertindak rasional ketika memilih harus pergi ke Eropa. Di Eropa-lah mereka tidak akan mendengar lagi atraksi militer negara lain atas nama demokrasi atau demokratisasi. Jalur ke utara untuk menuju Eropa kini menjadi pilihan utama dan bukan jalur ke selatan ke arah Yordania. Benar bahwa Yordania –juga Lebanon– dengan bantuan Arab Saudi telah memberikan fasilitas yang baik kepada para pengungsi Suriah begitu juga Kuwait dan Qatar juga memberikan donasi yang luar biasa kepada pengungsi Suriah,[lv] namun dengan berita berseliweran mengenai ancaman IS yang serius akan menerjang negara lain di Timur Tengah, bukankah keluar dari Timur Tengah adalah lebih menenangkan hidup mereka? Belum lagi ditambah perang di Suriah yang memunculkan isu sektarian membuat opsi bagi para pengungsi untuk tetap di Timur Tengah adalah ide yang buruk.[lvi]

Foto Penampungan Pengungsi di Yordania (credit pict. AFP via Getty Images; diambil dari

Foto Penampungan Pengungsi di Yordania (credit pict. AFP via Getty Images; diambil dari “Can’t Go Home: NPR”, apps.npr.org/syria/#_)

Apakah berita tidak pas yang berseliweran dari media massa Barat mengenai bagaimana negara-negara Timur Tengah yang seharusnya lebih kontributif kepada para pengungsi Suriah adalah sebenarnya manifestasi kekhawatiran mereka akan makin menjubelnya para pengungsi ini menuju Eropa? Negara-negara Eropa terlihat lebih suka jika para pengungsi ini tidak masuk ke Eropa. Jikalau hendak disangkal dugaan ini, bukankah sejak semula telah diketahui (baca: sejak awal perang di beberapa negara Timur Tengah bahkan hingga kini) hiruk pikuk yang media massa Barat sebut dengan istilah sebagai “crisis” di beberapa negara-negara Eropa memiliki nada negatif dan menghasilkan perlakuan kurang manusiawi terhadap para pengungsi ini? Lihatlah misalnya kisah para pengungsi di Perancis dan Hungaria.[lvii]

Kamp Pengungsi di Calais, Perancis. Para pengungsi Syria selain juga negara Afrika serta Timur Tengah yang sedang bergolak mendapatkan area pengungsian di daerah Perancis ini. Beberapa berhasil mengajukan 'asylum' dan beberapa melintas perbatasan menuju UK. Beberapa tetap tinggal dalam kamp pengungsian seperti ini. (Foto diambil dari jepretan Sean Smith,

Kamp Pengungsi di Calais, Perancis. Para pengungsi Syria, Afrika, dan beberapa negara Timur Tengah yang sedang bergolak mendapatkan area pengungsian di daerah Perancis ini. Beberapa berhasil mengajukan ‘asylum’ dan beberapa melintas perbatasan menuju UK. Beberapa tetap tinggal dalam kamp pengungsian seperti ini. (Foto diambil dari jepretan Sean Smith, “Migrant life in Calais’ Jungle refugee camp – a photo essay”, ‘The Guardian’; theguardian.com/media/ng-interactive/2015/aug/10/migrant-life-in-calais-jungle-refugee-camp-a-photo-essay)

Tariq Al Shammari, ketua the Council of Gulf International Relations, mengatakan bahwa berita yang beredar di media massa Barat mengenai penafian sumbangsih negara-negara Teluk di dalam membantu pengungsi Suriah adalah ‘nonsense‘ dan ‘unfair‘. Tariq Al Shammari mengatakan bahwa negara-negara Eropa baru mulai koar-koar mengenai krisis para pengungsi Suriah hanya setelah para pengungsi mulai banyak menerobos pantai-pantai mereka.[lviii]

Masih relevan dengan bagaimana media massa Barat tidak adil di dalam memberitakan krisis para pengungsi Suriah, angka-angka yang beredar mengenai jumlah pengungsi di negara-negara Teluk tetangga Suriah tidak sesuai dengan data lapangan yang diutarakan oleh Nabil Othman. Nabil Othman yang merupakan acting regional representative untuk wilayah Teluk di badan kemanusiaan PBB yang mengurusi pengungsi UNHCR mengatakan bahwa di Saudi Arabia ada 500.000 pengungsi Suriah yang di dalam dokumen resmi Saudi Arabia disebut sebagai “Arab brothers and sisters in distress.”[lix]

Laporan dari salah satu media massa berbasis Timur Tengah mengenai jumlah pengungsi Suriah yang diterima Saudi Arabia semenjak konflik terjadi di Suriah. Walaupun demikian, beberapa mengkritik Arab Saudi karena KONON warga Suriah yang diterima oleh Arab Saudi bukanlah pengungsi yang tak bervisa. Ada yang mengatakan bahwa yang ditampung sebagai mukim oleh Arab Saudi adalah student atau worker asal Suriah yang tidak bisa balik ke Suriah sejak mulai perang dan bukan warga Suriah yang benar-benar mengungsi dan bukan student atau worker di Saudi Arabia sebelumnya.

Foreign Ministry official source said that the Kingdom of Saudi Arabia were not willing to talk about their efforts in support of the Syrian brothers in their plight excruciating, because it is since the beginning of the crisis has dealt with the subject of religious and purely humanitarian premises, and not for the purpose brag or media review, but he saw the importance of clarifying These efforts facts and figures in response to media reports, and its contents from false and misleading accusations about the Kingdom.
The official source said that the actions taken by the kingdom, which was the following:
– Received the kingdom since the outbreak of the crisis in Syria, nearly two million and a half million Syrian citizen, made a point of not dealing with them as refugees, or put them in refugee camps, in order to preserve the dignity and integrity, and gave them complete freedom of movement, and awarded for those who wanted to stay were in the kingdom who report hundreds thousands, accommodation systemic like the rest of residents, with all the consequent rights to free health care and to engage in the labor market and education, as was clearly demonstrated at the royal order issued in 2012, which included the admission of Syrian students visiting the kingdom in general education schools, which It embraced more than 100 thousand Syrian student to free school, according to government statistics Nirvana campaign.
– Saudi efforts to receive and host the Syrian brothers after the humanitarian tragedy in their country is not limited, but extended its efforts to include the support and care of millions of Syrians refugees to neighboring countries to their homeland in Jordan, Lebanon and other countries. And it included efforts to provide humanitarian assistance in coordination with the governments of their host countries, as well as with international humanitarian relief organizations, whether through physical or in-kind support.

(Klarifikasi dari Kantor Berita Saudi Arabia mengenai pemberitaan tidak pas mengenai ketiadaan sumbangsih dan kepedulian Kerajaan Saudi Arabia, Sumber: http://www.was.sa/1397404)

Dan sementara kisah dan gambar pilu tentang para pengungsi perang berkepanjangan ini mungkin akan menghiasi linimasa media sosial kita beserta bagaimana media massa Barat mempermak wajah kemanusiaan dan kepahlawanan mereka, jika longgar, kita bisa menghayati pula bagaimana nelangsanya para pengungsi Suriah dengan menyusuri rute perjalanan pengungsian mereka di sebuah halaman daring BBC Middle East, “Syrian Journey: Choose your own escape route”.

Demikian.

=================================

PS.

Media massa Barat baru-baru ini menyinggung bagaimana raja Saudi Arabia, Raja Salman, menyewa seluruh kamar Hotel Four Seasons dalam kunjungannya di Amerika Serikat untuk bertemu dengan Obama terkait pembahasan empat mata perkembangan perjanjian nuklir Amerika Serikat dengan Iran dan efeknya terhadap perdamaian Timur Tengah.[lx] Pemberitaan ini menarik karena ‘kebetulan’ menjadi sentilan ironis terhadap keadaan para pengungsi Suriah yang terpaksa mengungsi dalam kesusahan dan rumah hancur karena perang. Namun sebagai sebuah pilinan teks yang saling bersambung, timing pemberitaan ini menjadi kurang lengkap jikalau dilupakan bahwa keluarga-keluarga kerajaan yang ada di seluruh dunia kebanyakan memang glamor di dalam menghamburkan uang –tentu tanpa kecuali dan terkhusus keluarga kerajaan Arab Saudi saja– sesuai dengan keadaan keuangan masing-masing keluarga dan juga besaran donasi yang mereka bisa dan biasa berikan dalam acara amal.[lxi]

Untuk mendapatkan pemahaman secara lebih lengkap mengenai pilinan teks duka pengungsi Suriah, citra kurang baik negara Timur Tengah, dan ‘kemuliaan’ dunia Barat maka perlu dilihat dalam konteks relevansinya dengan kehidupan ‘sehari-hari’ keluarga kerajaan di seluruh dunia. Beberapa berita tentang betapa eksklusifnya kehidupan keluarga kerajaan di seluruh dunia bisa ditengok lewat media massa. Sebagai contoh adalah bagaimana pengeluaran keluarga kerajaan Inggris mendapatkan sorotan oleh media massa sekelas Sydney Morning Herald gara-gara hanya untuk perjalanan sepanjang tahun menghabiskan 10 juta dollar selama tahun 2014,[lxii] atau misalnya salah satu anggota keluarga kerajaan Thailand yang dianggap boros belanja ketika berada di UK,[lxiii] atau bagaimana Raja Maroko dianggap terlalu boros dengan pengeluaran rutin per tahun sebesar £144 milyar,[lxiv] atau Pangeran Haji Abdul Azim dari Brunei yang menghabiskan uang 70.000 Euros untuk bungsa saja di dalam sebuah pesta, [lxv] atau Pangeran Pierre Cashiragi dari Monaco yang suka menghamburkan uang untuk minuman-minuman keras berharga mahal di klub-klub malam di Eropa maupun Amerika Serikat, [lxvi] atau bagaimana pengeluaran rutin keluarga kerajaan Inggris yang sangat tinggi sehingga timbul dugaan yang tidak-tidak oleh beberapa warga Inggris awam.[lxvii] Angka-angka fantastis pengeluaran dari keluarga kerajaan di seluruh dunia memang cara menakarnya harus dikembalikan pada gaya hidup yang mewah mereka dan di antara mereka. Sementara dunia penuh rakyat miskin yang kelaparan, hidup dalam ketakutan, dan terusir dari kampung halaman, orang-orang kaya –baik anggota keluarga kerajaan atau bukan– hidup dalam kemewahan yang tak terbayangkan.

Dan nampaknya lebih nyaman ketika kita melihat fenomena Raja Salman bukan dalam konteks ia menggunakan uang yang sah sesuai gaya hidupnya sebagaimana kehidupan glamor anggota keluarga kerajaan di seluruh dunia. Atau misalnya bisa jadi ia datang ke Amerika Serikat untuk menemui Obama dalam posisi harus nampak ‘wah’ dalam rangka psychological war. Pun meskipun begitu, bukan masalah sah atau tidaknya kecuali, sebagaimana kritikan pedas Bilal Abdul Kareem, seorang aktivis pewartaan dan dokumenter konflik di Timur Tengah, alangkah lebih baiknya jikasanya uang yang dipergunakannya untuk acara penting membahas kondisi ke depan Timur Tengah sebagian besarnya dikucurkan untuk para pengungsi dari negara-negara Timur Tengah.[lxviii] Sebagaimana Bilal juga menyuarakan adanya salah stigma kepada para kombatan asing yang berjuang membantu rakyat Suriah melawan rezim Assad sebagai teroris. Bilal yakin bahwa konflik di Syria akan reda jika Bashar al-Assad berhasil dijungkalkan.[lxix]

Sementara itu, Israel yang jelas-jelas berbatasan langsung dengan Suriah justru baru muncul [silakan cek kronologis pemberitaan] di media massa internasional mengenai krisis pengungsi Suriah ini. Mengejutkannya, Israel muncul dalam berita dengan kebijakan tidak akan menampung para pengungsi Suriah.[lxx] Alasan yang dipakai oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, di dalam penolakannya adalah karena Israel adalah negara yang “too small to absorb Syrian or African refugees.[lxxi] Pendirian Netanyahu mendapatkan kecaman dari tokoh oposisi Isaac Herzog sebagai sesuatu yang menyelisihi nilai-nilai ajaran Yahudi mengenai perbuatan baik kepada mereka yang kesusahan.[lxxii] Jika terus demikian maka pertanyaan yang mungkin bakal bisa diajukan adalah, sahkah Israel berargumen demikian dan tegakah negara lain serupa menggunakannya?

===================================

Miscellaneous

  • Konflik Suriah menjadi parah sejak pertengahan 2011. Salah satu donatur terbesar tahun 2012 untuk korban perang Suriah adalah Saudi Arabia.[lxxiii] Donasi terbesar untuk kemanusiaan pada konflik Suriah pada tahun 2013 saya belum temukan datanya. Donasi terbesar di tahun 2014 yang disalurkan lewat catatan badan UN untuk negara adalah dari US, UK, dan Kuwait. Arab Saudi di tahun 2014 menempati posisi ketujuh.[lxxiv] Pemahaman mengenai pencatatan donasi oleh badan UN mengarahkan kita pada pemahaman bahwa donasi sebuah negara atau pribadi dari suatu negara ‘tidak selalu’ detil disebutkan dalam catatan, khususnya donasi gaya Arab Saudi.[lxxv] Naik turunnya donasi suatu negara di dalam bantuan kemanusiaan kepada negara lain adalah wajar dan sebaiknya tidak pas untuk diributkan. Bisa jadi sebuah negara menjadi donatur yang sangat besar untuk krisis di negara A namun sedang-sedang saja untuk krisis di negara B. Hal inilah yang juga menjadi perdebatan di Inggris. Pertanyaan apakah David Cameron, perdana menteri Inggris, yang hanya membuka jatah asylum tidak sebanyak negara Eropa tertentu ditebus dengan akumulasi donasi pemerintahannya untuk krisis Suriah yang besar.[lxxvi] 
  • Para pengungsi Suriah ‘nampaknya’ ada yang kemudian menuju ke Eropa untuk mencari asylum dan bukan hendak menjadi refugee. Meskipun demikian, beberapa pengungsi tidak mempedulikan konsep asylum atau refugee atau ada istilah lain yaitu migrant selama mereka bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik di Eropa. Konsep yang ditawarkan Eropa mengenai kuota adalah asylum dan bukan refugee. Simpang selisih istilah ini membuat kekacauan di dalam pemberitaan mengenai penanganan pengungsi korban perang ini. Jika hendak membandingkan bagaimana salah satu negara Eropa menangani refugee maka bisa dilihat pada kamp di Calais, Perancis yang menyedihkan[lxxvii] dan silakan bandingkan dengan kamp di Kilin, Turki.
  • Saudi Arabia memang menjadi primadona pemberitaan media massa baik yang tertarik dengan Islam maupun yang tidak tertarik dengan Islam. Pemberitaan mengenai Saudi Arabia di media massa Barat memang kerap miring. Hal ini adalah wajar jika kita mengingat bagaimana Edward Said, profesor Amerika keturunan Palestina di dalam kajian sastra naratif diskursif, menunjukkan pengambilan angle occident-oriental terlibat di dalam berita superioritas Barat dan ‘kekurangan’ Timur dalam tindakan yang sebenarnya sama dilakukan. Dalam konteks isu kemanusiaan ini, negara-negara Timur Tengah sengaja terbentuk dalam pemberitaan dengan tidak fair.
  • Bicara Arab Saudi adalah pembicaraan yang seksi karena Arab Saudi bukan hanya mewakili dunia Timur saja namun juga simbol Islam. Tahu bahwa ada kemungkinan pemberitaan Barat sering tidak fair kepada Arab Saudi, tidak berarti juga menganggap bahwa Arab Saudi bagus 100% sebab setiap negara jika hendak dicari cacatnya, pastilah ada cacatnya. Mengenai penjelasan singkat kontribusi Saudi Arabia terhadap pengungsi Suriah tautan yang ada di endnote tulisan ini. Data lainnya mengenai sumbangsih donasi kemanusiaan Arab Saudi dan negara Teluk lainnya dari 2005-2014 yang menanjak naik, sekiranya relevan untuk asupan pengetahuan umum, bisa diakses di situs Global Humanitarian Assistance. Sedangkan data yang menarik mengenai porsi donasi Saudi Arabia dibandingkan negara-negara lain di dunia juga bisa dirujuk pada laporan Humanitarian Policy Group mengenai kecenderungan Arab Saudi memberikan donasi kepada negara yang mayoritasnya muslim dan penyalurannya tidak melulu melalui lembaga kemanusiaan internasional di bawah UN (United Nations).[lxxviii]
  • Problem asylum yang dialami Eropa dengan kebijakan kuota yang digaungkan Merkel sebenarnya juga dialami negara-negara Teluk seperti Oman dan Qatar bersebab perhatian pada domestic welfare policy. Ada kekhawatiran masalah sosial akan timbul jikalau ‘penduduk yang baru’ gagal beradaptasi dengan negara baru dan tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang cukup bagi mereka. Ini belum termasuk pemberlakuan hukum internasional mengenai penanganan refugee yang tiap negara memiliki kebijakan berbeda-beda. Hal yang sama juga dialami oleh Saudi Arabia. Dus, anggapan bahwa Arab Saudi disebut tidak mau menampung refugee dari negara muslim sekitar korban perang adalah tidak tepat.[lxxix]Bandingkan dengan kebijakan beberapa negara Eropa untuk memberikan kuota asylum karena mereka butuh tenaga kerja untuk industri mereka. Semua sudah dikalkulasikan menurut kemampuan dan keadaan negara masing-masing.[lxxx]
  • Islamic State (IS) dihindari oleh para pengungsi, sebagaimana konteks tulisan di atas, disebabkan karena daerah yang dikuasai IS cenderung dalam kondisi perang dengan pasukan Amerika Serikat dan sekutunya –sesuatu yang pasti dihindari para pengungsi. Meskipun demikian, ada juga pengungsi Suriah yang menghindari IS karena isu sektarian Sunni-Syiah atau karena mereka Kristen atau Druze. Ini belum lagi kenyataan bahwa tidak semua Sunni mendukung IS. Hal lain yang jangan dilupakan adalah, gelombang pengungsian besar-besaran sudah terjadi sekitar akhir 2011 sedangkan IS baru berdiri –waktu itu bernama ISIS– pada akhir bulan Juni 2014.[lxxxi]
  • Berdasarkan data Amnesty International, hingga akhir tahun 2014 negara-negara Eropa tidak menampung pengungsi Suriah kecuali hanya sekitar 5% saja dibandingkan 95% pengungsi Suriah yang ada di negara sekitar Suriah.[lxxxii] Kebijakan di beberapa negara Eropa untuk membuka keran lebih lebar kepada pengungsi dalam konteks ‘kuota asylum” baru muncul akhir-akhir ini lewat seruan Merkel, tokoh di Uni-Eropa yang juga kanselir Jerman. Meski demikian, seruan Merkel ini disorot oleh surat kabar berbasis Amerika (Washington Post) dan Inggris (BBC) sebagai bentuk ‘kebutuhan’ Jerman yang tidak bisa disamaratakan dengan negara-negara lain yang mungkin kondisi demografisnya berbeda dengan Jerman.
  • Pengungsi Suriah secara salah kaprah dan sengaja dipelintir oleh beberapa media massa seakan-akan hanya terdiri dari muslim saja dan mereka akan rela berpindah agama hanya untuk bisa mendapatkan asylum di beberapa negara Eropa. Perlu diketahui bahwa komposisi pengungsi Suriah tidak seperti itu. Sejak mula memang ada pengungsi Suriah yang beragama Kristen dan hanya melakukan ritual rutin sesuai dengan agamanya di tanah barunya, Eropa. Ini adalah hal yang wajar. Secara umum di Suriah ada penduduk yang beragama Kristen, ada yang Islam, Syiah (Alawiyah), Druze, bahkan Yazidis. Isu mengenai prioritas penyelamatan penduduk Suriah berdasar agama menjadi isu yang cukup panas misalnya ketika di Australia ada wacana dari politisi di Australia mengenai penduduk Suriah yang beragama minoritas-lah yang sebaiknya menjadi fokus. Isu ini menjadi panas karena Australia sebagai negara yang tidak ada potensi terimbas isu konflik sektarian dari pengungsi yang akan diterima haruslah melihat isu kemanusiaan sebagai sesuatu yang netral tanpa melihat agama seseorang. Namun argumen bahwa penduduk minoritas menjadi prioritas karena kekerasan di dalam keadaan perang sering terjadi atas minoritas juga mendapatkan ruang justifikatif.[lxxxiii] Isu penyelamatan sesuai agama di dalam daerah konflik akan tidak menjadi isu panas jikasanya dilakukan bukan oleh suatu negara seperti terjadi di bulan Juli tahun ini yang dilakukan oleh organisasi yang dibentuk Lord Weidenfeld, seorang tokoh di Inggris, terhadap penduduk Kristen Suriah.[lxxxiv]
  • Sangat wajar bagi pihak yang pro Iran atau Rusia akan membela Bashar al-Assad habis-habisan. Iran dan Rusia konsisten mendukung pemerintahan Bashar al-Assad oleh sebab banyak hal. Selain kepentingan militer dan proksi di Timur Tengah sebagaimana kisah Iran di Yaman, khusus untuk Suriah, Iran dan Rusia memiliki kepentingan terhadap pipanisasi sumber daya alam gas. Namun jika merujuk pada timeline asal muasal terjadinya perang di Suriah sebagaimana diceritakan ulang oleh tokoh Arab Spring, Iyad el-Baghdadi, maka masalahnya adalah bermula dari cara Bashar al-Assad menangani demonstrasi penduduk yang kemudian menimbulkan pergolakan.
  • Ada tiga artikel yang layak dibaca mengenai krisis pengungsi Suriah ini. Artikel yang pertama adalah tulisan Michael Stephens yang membicarakan alasan beberapa negara Teluk menolak memberikan tempat pengungsian bagi rakyat Suriah. Menurut Michael, beberapa negara Teluk seperti UAE dan Qatar sudah memiliki masalah demografi yang serius. Penduduk negeri itu selama ini sudah dalam komposisi 10% lebih sedikit adalah warga negara sedangkan sisanya selama ini adalah ‘transitory economic workers‘. Pembukaan keran pengungsian bisa menimbulkan masalah sosial yang akan membuat negara-negara tersebut akan kolaps. Alasan kedua adalah, negara-negara seperti UAE, Saudi Arabia, dan Qatar khawatir bahwa kekacauan akan terjadi di dalam negeri mereka jika keran pengungsian dibuka. Beredar rumor di lingkungan negara Teluk bahwa loyalis Bashar al-Assad akan membalas dendam kepada ketiga negara ini dengan menyaru lewat pengungsian. Beberapa pemimpin Arab merasa bahwa seandainya Barat sejak semula segera menjatuhkan Assad sebelum meluasnya pertempuran ke seluruh Suriah maka gelombang besar pengungsian tidak akan pernah terjadi. Keputusan membukakan keran pengungsian yang berimbas pada potensi masuknya pengungsi yang niscaya dalam jumlah besar akan mengganggu keadaan sosial ekonomi domestik.
  • Artikel berikutnya adalah artikel laporan dari BBC News yang berjudul “EU migration: crisis in graphic”. Artikel ini terbit pada tanggal 9 September 2015 sehingga aktual melaporkan keadaan sebenarnya mengenai kondisi para migran di Eropa. Ada tiga fakta menarik dari artikel ini. Fakta pertama adalah data pengabulan aplikasi asylum di negara-negara Eropa tidak selalu akurat karena ‘jumlah pengajuan asylum’ dengan ‘pengajuan asylum yang dikabulkan’ tidak berselisih tipis. Misalnya di UK, data tahun 2014 menunjukkan 60% pengajuan ditolak. Hal senada juga terjadi di negara Eropa lainnya. Pengajuan hingga pengabulan asylum bukan perkara yang jadi sekali proses. Bagaimana jika pengajuan ditolak? Ya harus mulai dari awal dan sementara tinggal di tempat seadanya. Di Calais, Perancis ada tempat yang disebut dengan kamp para pengungsi yang keadaannya ‘seadanya.’ Silakan dicek sendiri lewat berbagai media massa keadaan di sana. Fakta kedua adalah bagaimana tidak selalu pengaju asylum ini bisa berkesempatan mencoba kesekian kali untuk mengajukan asylum. Di negara seperti UK, mereka yang gagal mengajukan asylum bisa dikembalikan pulang ke negara asalnya. Fakta ketiga adalah mengenai sistem penerimaan pengungsi yang diberlakukan Jerman yang berbunyi “Germany has a quota system which redistributes asylum seekers around its federal states based on their tax income and existing population density”.
  • Artikel yang ketiga adalah reportase Benjamin Hiller dan Rebecca Greig. Keduanya melaporkan bagaimana sistem penerimaan pengungsi di Jerman dan juga proses pengabulan asylum. Di dalam artikel ini juga diwartakan bagaimana keadaan para pencari asylum dan ketentuan khusus yang harus mereka penuhi sehingga terhindar dari deportasi. Hal lainnya yang harus dihadapi oleh mereka yang terkabul pengajuan asylum-nya adalah keadaan sosial ekonomi di Jerman yang membuat keadaan bisa sulit bagi ‘orang-orang baru ini.’
  • [Updated on 15 September 2015] Berita buruk bagi para pengungsi Suriah yang bermigrasi ke Eropa, Jerman akhirnya menjaga ketat perbatasannya selepas makin meningginya tingkat migrasi menuju Jerman. Yang menarik adalah: “A quota system by which each region will take in a set number of refugees has faced stiff resistance, with authorities in Munich complaining that they are being left to cope with the arrivals alone.”[lxxxv]
  • [Updated on 25 January 2016] Jerman, Swiss, dan Denmark memberlakukan penyitaan uang dan barang-barang berharga milik para pengungsi yang baru datang dan melamar sebagai asylum dengan alasan bahwa pemberian asylum kepada seseorang yang secara hukum di ketiga negara tersebut akan memberikan benefit berupa bantuan mengharuskan para pengungsi yang diberi asylum untuk menghabiskan kekayaan yang mereka bawa sebelum mendapatkan benefit bantuan. Kebijakan kontroversial ini tidak mendapatkan tentangan di ketiga negara tersebut.[lxxxvi]

Endnotes

[i] “Syrian president Bassar al-Assad: Facing down rebellion”. 12 November 2014. BBC. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.bbc.com/news/10338256

[ii] “Middle East unrest: Three killed at protest in Syiria”. 18 Maret 2011. BBC. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.bbc.com/news/world-middle-east-12791738

[iii] “Syria’s Civil War: Key Facts, Important Players”. 3 April 2014. CBC News. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.cbc.ca/news2/interactives/syria-dashboard/

[iv] ibid

[v] “Middle East unrest: Three killed at protest in Syiria”. 18 Maret 2011. BBC. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.bbc.com/news/world-middle-east-12791738

[vi] Ardini Maharani. 17 Juni 2013. “Makin santer perang Sunni-Syiah di Suriah”. Merdeka. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.merdeka.com/dunia/makin-santer-perang-sunni-syiah-di-suriah.html

[vii] Michael Kelly. 17 Oktober 2013. “The madness of Syrian proxy war in one chart”. Bussines Insider Australia. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.businessinsider.com.au/who-is-involved-in-the-war-in-syria-2013-10

[viii] El Moussaoui. 24 Januari 2014. “Kepentingan Arab Saudi dalam Perang Suriah”. DW. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.dw.com/id/kepentingan-arab-saudi-dalam-perang-suriah/a-17385172

[ix] Will Fulton, Joseph Holiiday, & Sam Wyer. Mei 2013. “Iran Strategy in Syiria”. AEI’s critical threats project & Institute for the Study of War. Diaksed 6 September 2015 dari: http://www.understandingwar.org/sites/default/files/IranianStrategyinSyria-1MAY.pdf

[x] Lina Sinjab. 4 Maret 2011. “Syiria: why there’s no Egypt-style revolution?”. BBC. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.bbc.com/news/world-middle-east-12639025

[xi] Michael Kelly. 17 Oktober 2013. “The madness of Syrian proxy war in one chart”. Bussines Insider Australia. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.businessinsider.com.au/who-is-involved-in-the-war-in-syria-2013-10

[xii] “Syiria Crisis: Where key countries stand”. 18 Februari 2014. BBC. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.bbc.com/news/world-middle-east-23849587

[xiii] Roland Oliphant & Louisa Loveluck. 4 September 2015. “Vladimir Putin confirms Russian military involvement in Syiria’s civil war.” The Telegraph. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/europe/russia/11845635/Vladimir-Putin-confirms-Russian-military-involvement-in-Syrias-civil-war.html

[xiv] Berlianto. 5 September 2015. “Perancis siap perpanjang operasi militer di Suriah.” Sindonews. Diakses 6 September 2015 dari: http://international.sindonews.com/read/1041163/41/prancis-siap-perpanjang-operasi-militer-di-suriah-1441467195

[xv] Catherine Philp & Hugh Tomlinson. 9 Juni 2015. “Iran sends men and arms to shore up retreating Assad”. The Times. Diakses September 2015 dari: http://www.thetimes.co.uk/tto/news/world/middleeast/article4464108.ece

Eli Lake. 9 Juni 2015. “Iran spends billions to prop up Assad”. Bloomberg View. Diakses September 2015 dari: http://www.bloombergview.com/articles/2015-06-09/iran-spends-billions-to-prop-up-assad

“Assad defends presence of Hezbollah fighters in Syria”. 26 Agustus 2015. Al Jazeera. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.aljazeera.com/news/2015/08/assad-defends-presence-hezbollah-fighters-syria-150825203254106.html

[xvi] Kareem Shaheen. 12 Februari 2015. “US warning as pro-Assad Hezbollah fighters launch assault on Syrian rebels”. The Guardian. Diakses September 2015 dari: http://www.theguardian.com/world/2015/feb/11/us-warning-assad-hezbollah-syria

Ariel ben Solomon. 5 April 2015. “Despite Iranian-Hezbollah support, in the long run it is hard to see how Assad can survive”. The Jerusalem Post. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.jpost.com/Middle-East/Despite-Iranian-Hezbollah-support-in-the-long-run-it-is-hard-to-see-how-Assad-can-survive-402067

[xvii] Perang sebagai sebuah bisnis bukanlah isu yang baru semenjak jaman dahulu. Bisa dikatakan dengan agak miris bahwa konflik itu niscaya karena kebutuhan sedangkan perang adalah jalan terakhir dari usaha pencapaian perdamaian karena perang menegaskan siapa yang berkuasa dan siapa yang harus melepaskan kebutuhan memuaskan kebutuhan. Artikel yang membahas mengenai bisnis peperangan di dalam konflik di Syria misalnya ditulis oleh William Hartung dan Stephen Miles. William Hartung adalah Direktur Arms and Security Project, Center for International Policy sedangkan Stephen Miles adalah Direktur Advokasi dari Win Without War.

Lewat peranglah hal seperti perdagangan senjata, kontrak kerjasama militer, perdagangan konsensi pengelolaan sumber daya alam setelah perang, permainan uang negara dalam jumlah sangat besar oleh para politikus dan jenderal makelar peperangan dapat dilakukan.

William Hartung & Stephen Miles. 2 Oktober 2014. “Who Will Profit from the Wars in Iraq and Syria?”. The Huffington Post Australia – The Blog. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.huffingtonpost.com/william-hartung/who-will-profit-from-the_b_5915794.html?ir=Australia

Juga bandingkan dengan artikel ini

Jeremy Bender. 8 April 2015. “Syria and Iraq are awash with Russian, Iranian and Chinese weapons”. Business Insider Australia. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.businessinsider.com.au/syria-and-iraq-full-of-russian-iranian-and-chinese-weapons-2015-4

Simon Shuster. 1 Juli 2012. “Russian Realpolitik: Inside the Arms Trade with Syria”. Time. Diakses 6 September 2015 dari: http://world.time.com/2012/07/01/russian-realpolitik-inside-the-arms-trade-with-syria/

[xviii] Michael Kelly. 17 Oktober 2013. “The madness of Syrian proxy war in one chart”. Bussines Insider Australia. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.businessinsider.com.au/who-is-involved-in-the-war-in-syria-2013-10

Kenneth Roth. 7 Oktober 2015. “Why Putin Should Stop Assad’s Barrel Bomb Attacks.” Foreign Policy. Diakses 2016 dari: http://foreignpolicy.com/2015/10/07/why-putin-should-stop-assads-barrel-bomb-attacks-russia-syria/

[xix] Saeed Kamali Deghan. 23 Oktober 2012. “Romney gaffe: ‘Syiria is Iran’s route to the sea’”. The Guardian – Iran Blog. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.theguardian.com/world/iran-blog/2012/oct/23/romney-gaffe-syria-iran-route-to-sea

[xx] Jerry Robinson. 27 Agustus 2013. “Why Syria? An Examination of the Iran-Iraq-Syiria Pipeline”. Follow The Money Daily. Diakses 6 September 2015 dari: http://ftmdaily.com/what-jerry-thinks/whysyria/

[xxi] “Syria: the story of the conflict”. 12 Maret 2015. BBC. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.bbc.com/news/world-middle-east-26116868

[xxii] “Syria Revolution”. Global Security. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.globalsecurity.org/military/world/war/syria.htm

[xxiii] “Syrian Refugees”. 6 September 2013. PBS Newshour. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.pbs.org/newshour/spc/multimedia/refugees-syria/

[xxiv] “Syria Map – Political Map of Syria”. Ezilon Maps. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.ezilon.com/maps/asia/syria-maps.html

[xxv] Kemal Kirisci. 3 September 2015. “Why 100,000s of Syrian refugees are fleeing to Europe”. Brookings. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.brookings.edu/blogs/order-from-chaos/posts/2015/09/03-eu-refugee-crisis-kirisci

[xxvi] Hamish de Bretton-Gordon. 5 September 2015. “We’re missing the point about Syrian refugees”. Al Jazeera – Opinion. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.aljazeera.com/indepth/opinion/2015/09/missing-point-syrian-refugees-150903110038405.html

[xxvii] Alpaslan Ozerdem. 13 Januari 2015. “Turkey needs to integrate its Syirian refugees”. The Conversation. Diakses 6 September 2015 dari: https://theconversation.com/turkey-urgently-needs-to-integrate-its-syrian-refugees-35984

[xxviii] Elizabeth Ferris & Kemal Kirisci. 8 Juli 2015. “What Turkey’s open door policy means for Syrian refugees”. Brookings. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.brookings.edu/blogs/order-from-chaos/posts/2015/07/08-turkey-syrian-refugees-kirisci-ferris

[xxix] Amira Fathalla. 2 September 2015. “Migrant crisis: Why Syrians do not flee to Gulf states”. BBC Monitoring. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.bbc.com/news/world-middle-east-34132308

[xxx] Martin Chulov & Harriet Grant. 14 Januari 2014. “EU must open doors to avoid Syrian refugee catastrophe, says UN”. The Guardian. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.theguardian.com/world/2014/jan/13/syrian-refugee-catastrophe-european-union-united-nations

[xxxi] “Yvette Cooper calls for moral leadership over refugee crisis – video”. 1 September 2015. The Guardian. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.theguardian.com/world/video/2015/sep/01/yvette-cooper-moral-labour-leadership-refugee-video

[xxxii] “Erdogan calls on Europe to welcome more migrants amid flow of refugees”. 13 May 2015. Today’s Zaman. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.todayszaman.com/anasayfa_erdogan-calls-on-europe-to-welcome-more-migrants-amid-flow-of-refugees_380573.html

[xxxiii] Simon Shuster. 4 September 2015. “Why refugees from old wars are only rushing to Europe now”. Time. Diakses 6 September 2015 dari: http://time.com/4023186/refugees-migration-reasons/

[xxxiv] Christian Fuchs. 19 November 2012. “Turkey: urban refugees from Afghanistan face winter crisis”. Jesuit Refugee Service. Diakses 6 September 2015 dari: https://en.jrs.net/campaign_detail?PTN=1&TN=PROJECT-20130130042601

Ibrahim Kaya. 2009. “The Iraqi refugee crisis and Turkey: a Legal Outlook”. [Migration Policy Centre]; [CARIM-South]; CARIM Analytic and Synthetic Notes; 2009/20; Legal Module. Euro-Mediterranean Consortium for Applied Research on International Migration (CARIM).

[xxxv] Rick Noack. 8 September 2015. “This map helps explain why some European countries reject refugees, and others love them”. Washington Post. Diakses September 2015 dari: https://www.washingtonpost.com/news/worldviews/wp/2015/09/08/this-map-helps-explain-why-some-european-countries-reject-refugees-and-others-love-them/

Robert Peston. 7 September 2015. “Why Germany needs migrants more than UK”. BBC. Diakses September 2015 dari: http://www.bbc.com/news/business-34172729

Doris Akrap. 6 September 2015. “Germany’s response to the refugee crisis is admirable. But I fear it cannot last”. The Guardian. Diakses September 2015 dari: http://www.theguardian.com/commentisfree/2015/sep/06/germany-refugee-crisis-syrian

Benjamin Hiller & Rebecca Greig. 4 September 2015. “What’s life like for Syrian refugees in Germany?”. International Business Times. Diakses September 2015 dari: http://www.ibtimes.com/whats-life-syrian-refugees-germany-2083610

[xxxvi] Simon Shuster. 4 September 2015. “Why refugees from old wars are only rushing to Europe now”. Time. Diakses 6 September 2015 dari: http://time.com/4023186/refugees-migration-reasons/

[xxxvii] Joanna Kakissis. 15 Agustus 2015. “Fleeing war, Syrians and Afghans stream onto tiny Greek island”. NPR. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.npr.org/sections/parallels/2015/08/15/432356529/thousands-of-migrants-escape-to-tiny-greek-island-of-kos

[xxxviii] Lizzie Dearden. 2 September 2015. “6 Charts and a Map that show where Europe’s Refugees are coming from – and the perilous journeys they are taking”. The Independent. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.independent.co.uk/news/world/europe/refugee-crisis-six-charts-that-show-where-refugees-are-coming-from-where-they-are-going-and-how-they-are-getting-to-europe-10482415.html

Katarina Montgomery. 31 Oktober 2014. “Lebanon closes its borders to Syrian refugees, after surge in numbers”. Syria Deeply. Diakses September 2015 dari: http://www.syriadeeply.org/articles/2014/10/6315/lebanon-closes-borders-syrian-refugees-surge-numbers/

[xxxix] “Syrian journey: Choose your own escape route”. 1 April 2015. BBC. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.bbc.com/news/world-middle-east-32057601

Leonid Bershidsky. 4 September 2015. “Why don’t Gulf States accept more refugees?”. Bloomberg View. Diakses 7 September 2015 dari: http://www.bloombergview.com/articles/2015-09-04/why-don-t-gulf-states-accept-more-refugees-

Zvi Bar’el. 23 Mei 2015. “King Abdullah struggles to keep lid on Jordan”. Haaretz. Diakses September 2015 dari: http://www.haaretz.com/news/middle-east/.premium-1.657678

Sam Jones & Kareem Shaheen. 11 September 2015. “Destitute Syrian refugees in Jordan and Lebanon may return to warzone”. The Guardian. Diakses September 2015 dari: http://www.theguardian.com/global-development/2015/sep/11/destitute-syrian-refugees-jordan-lebanon-may-return-to-warzone

[xl] “Migrant crisis: follow the path of refugees seeking EU asylum”. 2 September 2015. CBS Radio. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.cbc.ca/radio/thecurrent/the-current-for-september-02-2015-1.3212382/migrant-crisis-follow-the-path-of-refugees-seeking-eu-asylum-1.3212395

“Denmark closes road as refugees attempt to reach Sweden by foot”. 10 September 2015. The Guardian. Diakses September 2015 dari: http://www.theguardian.com/world/video/2015/sep/10/denmark-closes-road-as-refugees-attempt-to-reach-sweden-by-foot-video

Michael Pearson, Holly Yan, & Arwa Damon. 7 September 2015. “European migrant crisis: more troubles in Hungary as Austria, Germany near tipping point”. CNN. Diakses September 2015 dari: http://edition.cnn.com/2015/09/07/europe/europe-migrant-crisis/

[xli] Antonio Guterres. 22 Juli 2014. “Europe must give Syrian refugees a home”. The Guardian. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.theguardian.com/commentisfree/2014/jul/22/europe-syrian-asylum-seekers-refugees-illegal-trafficking

[xlii] Laura Smith-Spark. 5 September 2015. “European migrant crisis: A country-by-country glance”. CNN. Diakses 6 September 2015 dari: http://edition.cnn.com/2015/09/04/europe/migrant-crisis-country-by-country/

[xliii] Menelaos Tzafalias. 30 November 2014. “Syrian refugees in Europe: The law is not on their side”. Al Jazeera – Opinion. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.aljazeera.com/indepth/opinion/2014/11/syrian-refugees-europe-law-not-2014112965913701497.html

[xliv] “Europe’s migrant acceptance rates”. 1 September 2015. The Economist. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.economist.com/blogs/graphicdetail/2015/09/daily-chart

[xlv] “The Guardian view on Europe’s refugee crisis: a little leadership, at last”. 2 September 2015. The Guardian. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.theguardian.com/commentisfree/2015/sep/01/guardian-view-on-europe-refugee-crisis-leadership-at-last-angela-merkel

[xlvi] Kim Willsher & Stephanie Kirschgaessner. 4 September 2015. “Germany and France demand binding refugee quotas for EU members”. The Guardian. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.theguardian.com/world/2015/sep/03/germany-france-eu-refugee-quotas-migration-crisis

[xlvii] Lizzie Dearden. 18 Juni 2015. “Hungary proposes 110-mile long barrier along entire Serbian border to keep migrants out”. The Independent. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.independent.co.uk/news/world/europe/hungary-proposes-110mile-long-barrier-along-entire-serbian-border-to-keep-migrants-out-10329414.html

[xlviii] “Putin says Syria’s Assad is ready to share power”. 4 September 2015. Al Jazeera. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.aljazeera.com/news/2015/09/putin-syria-assad-ready-share-power-150904130440732.html

[xlix] Michael O’Hanlon. 3 September 2015. “How will Syria’s war end? Other civil wars suggest an answer”. The Washington Post. Diakses 6 September 2015 dari: https://www.washingtonpost.com/posteverything/wp/2015/09/03/how-will-syrias-war-end-other-civil-wars-suggest-an-answer/

Tony Karon. 24 Juli 2012. “Nightmare scenarios for a post-Assad Middle East”. Time. Diakses 7 September 2015 dari: http://world.time.com/2012/07/24/five-syrian-nightmares-the-mideast-cant-live-with-assad-but-living-without-him-wont-be-easy/

[l] Jurriaan Maessen. 27 Juni 2013. “Henry Kissinger: Balkanized and Broken-up Syria ‘Best Possible Outcome’”. Global Research. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.globalresearch.ca/henry-kissinger-balkanized-and-fractured-syria-best-possible-outcome/5340611

[li] “Syrian Balkanization – Possible Successor States”. Global Security. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.globalsecurity.org/jhtml/jframe.html#http://www.globalsecurity.org/military/world/war/images/map-syria-2013.jpg|||Possible Successor States

[lii] Stine Jacobsen & Alister Doyle. 3 September 2015. “On Arctic tip of Europe, Syrian migrants reach Norway by bike”. Reuters. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.reuters.com/article/2015/09/03/us-europe-migrants-arctic-idUSKCN0R325N20150903

[liii] Jan van der Made. 31 Agustus 2015. “Syrian refugees find Arctic route towards western Europe”. Radio France Internationale (RFI). Diakses 6 September 2015 dari: http://www.english.rfi.fr/europe/20150831-syrian-refugees-find-arctic-route-towards-western-europe

[liv] Referensi untuk perang demi demokratisasi menimbulkan kekacauan dimana-mana bisa dirujuk pada tulisan ini:

Thalif Deen. 3 September 2015. “Europe invaded mostly by ‘Regime Change’ Refugees”. Global Issues. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.globalissues.org/news/2015/09/03/21456

Referensi untuk kerakusan kapitalisme sebagaiman disindir Slavoj Zizek bisa dibaca dari artikel berikut:

Slavoj Zizek. 9 September 2015. “Slavoj Zizek: We Can’t Address the EU Refugee Crisis Without Confronting Global Capitalism”. In These Times. Diakses September 2015 dari: http://inthesetimes.com/article/18385/slavoj-zizek-european-refugee-crisis-and-global-capitalism

Referensi mengenai kekeringan parah yang terjadi di Suriah sebagai salah satu faktor resistensi terhadap rezim yang lamban bergerak mengatasi kekeringan bisa dirujuk pada tulisan ini:

Alex Watt. 5 September 2015. “This cartoon succinctly the background to the Syrian conflict”. Unilad. Diakses 7 September 2015 dari: http://www.unilad.co.uk/articles/this-cartoon-succinctly-explains-the-background-to-the-syrian-conflict/

Referensi untuk IS yang bisa merangsek ke beberapa negara tetangga Suriah bisa dirujuk pada berita-berita berikut ini:

Alessandria Masi. 5 Januari 2015. “ISIS claims attack on Saudi Arabia border, signals strategy change in militant infiltration.” International Business Times. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.ibtimes.com/isis-claims-attack-saudi-arabia-border-signals-strategy-change-militant-infiltration-1773754

Michael Pearson. 27 Juni 2015. “ISIS claims fatal mosque attack in Kuwait”. CNN. Diakses 7 September 2015 dari: http://edition.cnn.com/2015/06/26/world/kuwait-mosque-attack/

“Kuwait on high alert in anticipation of ISIS attack”. 29 Juni 2014. Middle East Monitor. Diakses 7 September 2015 dari: https://www.middleeastmonitor.com/news/middle-east/12433-kuwait-on-high-alert-in-anticipation-of-isis-attack

[lv] “UN thanks Kingdom for helping Syrian refugees.” 21 Agustus 2015. Arab News. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.arabnews.com/saudi-arabia/news/794526

Raisa Kassolowsky. 11 Januari 2013. “Saudi Arabia gives $10 million for Syrian refugees in Jordan”. Reuters. Diakses 7 September 2015 dari: http://www.reuters.com/article/2013/01/11/us-syria-crisis-refugees-saudi-idUSBRE90A0HV20130111

“Foreign Aid “. Royal Embassy of Saudi Arabia. Diakses 7 September 2015 dari: https://www.saudiembassy.net/affairs/recent-news/foreign-aid/

United Nations Development Program (UNDP). 2013. How humanitarian funds for the Syria crisis were spent. URL: http://www.undp.org/content/dam/rbas/doc/SyriaResponse/KuwaitII/KuwaitII_How_Humanitarian_Funds_Syria_Crisis_Were_Spent_Eng_10Jan%20.pdf

UNESCO. 2013. How humanitarian funds for the Syria crisis were spent. URL: http://www.unesco.org/science/syria/Syriacrisis-achievementsreportforKuwaitConference2.pdf

Menekse Tokyay. 3 Juni 2015. “A university for Syrian refugees: How, when, and where?”. Al Arabiya. Diakses 7 September 2015 dari: http://english.alarabiya.net/en/perspective/features/2015/06/03/A-university-for-Syrian-refugees-How-when-and-where-.html

[lvi] Leonid Bershidsky. 4 September 2015. “Why don’t Gulf States accept more refugees?”. Bloomberg View. Diakses 7 September 2015 dari: http://www.bloombergview.com/articles/2015-09-04/why-don-t-gulf-states-accept-more-refugees-

[lvii] Raziye Akkoc. 4 September 2015. “Migration crisis: Desperate refugees escape camps and start a 110-mile trek to Austria”. The Telegraph. Diakses 7 September 2015 dari: http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/europe/11843189/EU-refugee-crisis-Migrants-in-Bicske-station-Hungary-siege-continues-overnight-live.html

[lviii]  Donna Abu-Nasr, Vivian Nereim, & Deema Almashabi. 4 September 2015. “Syiria’s refugees feel more welcome in Europe than in the Gulf – Syrians who want an ‘honorable life’ say that’s something they can hope for in western Europe, not the Gulf states”. Bloomberg. Diakses 7 September 2015 dari: http://www.bloomberg.com/news/articles/2015-09-04/syria-s-refugees-feel-more-welcome-in-europe-than-in-the-gulf

[lix] Donna Abu-Nasr, Vivian Nereim, & Deema Almashabi. 4 September 2015. “Syiria’s refugees feel more welcome in Europe than in the Gulf – Syrians who want an ‘honorable life’ say that’s something they can hope for in western Europe, not the Gulf states”. Bloomberg. Diakses 7 September 2015 dari: http://www.bloomberg.com/news/articles/2015-09-04/syria-s-refugees-feel-more-welcome-in-europe-than-in-the-gulf

“Saudi Arabia hosted more than half a million Syrian since 2011”. 8 September 2015. Al Arabiya. Diakses September 2015 dari: http://english.alarabiya.net/en/webtv/reports/2015/09/08/Half-a-million-Syrians-entered-Saudi-since-the-start-of-the-war.html

[lx] Ryan Carey-Mahoney. 4 September 2015. “Saudi King Salman to visit D.C., books entire hotel”. CNBC. Diakses 7 September 2015 dari: http://www.cnbc.com/2015/09/04/saudi-king-salman-to-visit-dc-books-entire-hotel.html

[lxi] Devon Pendleton, Tatiana Serafin, & Cristina von Zeppelin. 17 Juni 2009. “In pictures: World’s Richest Royals”. Forbes. Diakses 7 September 2015 dari: http://www.forbes.com/2009/06/17/monarchs-wealth-scandal-business-billionaires-richest-royals_slide.html

Saeed Kamali Dehghan. 4 Juli 2015. “Alwaleed bin Talal: meet the Saudi prince giving away all his money”. The Guardian. Diakses September 2015 dari: http://www.theguardian.com/business/2015/jul/03/alwaleed-bin-talal-meet-the-saudi-prince-giving-away-all-his-money

Claire Hayhurst & Rod Minchin. 4 Februari 2014. “Prince Charles donates £50,000 to support flooded Sommerset residents”. The Independent. Diakses September 2015 dari: http://www.independent.co.uk/news/uk/home-news/prince-charles-donates-50000-to-support-flooded-somerset-residents-9106898.html

[lxii] Mary Ward. 24 Juni 2015. Royal family spent $10 million jetsetting last year”. Sydney Morning Herald. Diakses 7 September 2015 dari: http://www.smh.com.au/lifestyle/celebrity/royal-family-spent-10-million-jetsetting-last-year-20150624-ghwim3.html

[lxiii] Cal Flyn. 8 Juli 2012. “Thai Prince who loves cream tea spends £10,000 in Hampshire antique shop”. The Telegraph. Diakses 7 September 2015 dari: http://www.telegraph.co.uk/news/9385213/Thai-prince-who-loves-cream-tea-spends-10000-in-Hampshire-antiques-shop.html

[lxiv] Kim Wilsher. 23 Januari 2005. “Moroccans pay £144m a year for monarch”. The Telegraph. Diakses 7 September 2015 dari: http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/africaandindianocean/morocco/1481846/Moroccans-pay-144m-a-year-for-monarch.html

[lxv] Julie Zeveloff & Alaina McConnell. 19 Desember 2012. “Meet the most spoiled kids in the world”. Yahoo Finance. Diakses 7 September 2015 dari: http://finance.yahoo.com/news/meet-the-most-spoiled-kids-in-the-world-153905583.html

[lxvi] ibid

[lxvii] Mona Chalabi. 29 Januari 2014. “How much do the royal family spend and are they down to their last million?”. The Guardian. Diakses 7 September 2015 dari: http://www.theguardian.com/news/reality-check/2014/jan/28/how-much-do-the-royal-family-spend-and-are-they-down-to-their-last-million 

Carol Matlack. 28 Januari 2014. “Europe tells its royals to tighten their belts”. Bloomberg Business. Diakses 7 September 2015 dari: http://www.bloomberg.com/bw/articles/2014-01-28/europe-tells-its-royals-to-tighten-their-belts

[lxviii] Bilal Abdul Kareem. 4 September 2015. “Why I am not crying for the father of this boy”. Bilal Abdul Kareem – Journalist, Documentary Filmmaker. Diakses 7 September 2015 dari: http://www.bilalabdulkareem.com/srefugees/

[lxix] ibid

[lxx] Jamie Walker. 7 September 2015. “Israel rejects Syirian refugees”. The Australian. Diakses 7 September 2015 dari: http://www.theaustralian.com.au/in-depth/europes-migrant-crisis/israel-rejects-syrian-refugees/story-fnws9k7b-1227515660806?sv=ffc62c9f8fb576eb0d867592c51535d3

[lxxi] Barak Ravid. 6 September 2015. “Netanyahu: Israel is too small to absorb Syrian and African refugees”. Haaretz. Diakses 7 September 2015 dari: http://www.haaretz.com/news/diplomacy-defense/.premium-1.674717

[lxxii] ibid

[lxxiii] Elizabeth Dickinson. 31 Juli 2012. “Saudi Arabia almost doubles aid to war-torn Syria with US $72m donation”, The National. Diakses September 2015 dari: http://www.thenational.ae/news/world/saudi-arabia-almost-doubles-aid-to-war-torn-syria-with-us-72m-donation

[lxxiv] UNESCO. 2013. How humanitarian funds for the Syria crisis were spent. URL: http://www.unesco.org/science/syria/Syriacrisis-achievementsreportforKuwaitConference2.pdf

[lxxv] Leo Barasi. 29 Maret 2005. “Saudi Arabia’s humanitarian aid: a political takeover?” Humanitarian Practice Network – Humanitarian Exchange Magazine. Issue 29 March 2005. URL: http://www.odihpn.org/humanitarian-exchange-magazine/issue-29/saudi-arabias-humanitarian-aid-a-political-takeover

[lxxvi] Mark Anderson & Achilleas Galatsidas. 25 Juni 2014. “Global humanitarian spending soars to record high”. The Guardian. Diakses September 2015 dari: http://www.theguardian.com/global-development/poverty-matters/2014/jun/24/global-humanitarian-aid-spending-2013-syria-south-sudan-typhoon-haiyan

Matt Chorley. 4 September 2015. “Britain aid to refugees smashes through £1Billion as Cameron boasts UK is spending more than any EU country”. Daily Mail. Diakses September 2015 dari: http://www.dailymail.co.uk/news/article-3222250/How-Britain-given-aid-refugees-Germany-Netherlands-France-Italy-Hungary-Austria-Poland-COMBINED.html

[lxxvii] Sean Smith. 10 Agustus 2015. “Migrant life in Calais’ Jungle refugee camp – a photo essay”. The Guardian. Diakses 6 September 2015 dari: http://www.theguardian.com/media/ng-interactive/2015/aug/10/migrant-life-in-calais-jungle-refugee-camp-a-photo-essay

Jan Semmelroggen. 18 Agustus 2015. “The difference between asylum seekers, refugees, and economic migrants”. The Independent. Diakses September 2015 dari: http://www.independent.co.uk/news/world/europe/the-difference-between-asylum-seekers-refugees-and-economic-migrants-10460431.html

[lxxviii] GHA Team. 27 Juli 2015. “International humanitarian assistance from Kuwait, Qatar, Saudi Arabia, and UAE 2005-2014”. Global Humanitarian Assistance. Diakses September 2015 dari: http://www.globalhumanitarianassistance.org/chart/international-humanitarian-assistance-kuwait-qatar-saudi-arabia-uae-2005%E2%88%922014

Lin Cotterrell & Adele Harmer. September 2005. Diversity in donorship: the changing landscape of official humanitarian aid – Aid donorship in the Gulf States. Humanitarian Policy Group, Overseas Development Institute, London – UK. URL: http://www.odi.org/sites/odi.org.uk/files/odi-assets/publications-opinion-files/414.pdf

[lxxix] “World Refugee Survey 2009: Saudi Arabia”. U.S. Committee for Refugees and Immigrants. Diakses September 2015 dari: http://www.refugees.org/resources/uscri_reports/archived-world-refugee-surveys/2009-wrs-country-updates/saudi-arabia.html?referrer=https://www.google.com.au/

[lxxx] Rick Noack. 8 September 2015. “This map helps explain why some European countries reject refugees, and others love them”. Washington Post. Diakses September 2015 dari: https://www.washingtonpost.com/news/worldviews/wp/2015/09/08/this-map-helps-explain-why-some-european-countries-reject-refugees-and-others-love-them/

[lxxxi] “ISIS rebels declare ‘Islamic State’ in Iraq and Syria”. 30 Juni 2014. BBC. Diakses September 2015 dari: http://www.bbc.com/news/world-middle-east-28082962

[lxxxii] “Facts & figures: Syria refugee crisis & international resettlement”. 5 Desember 2014. Amnesty International. Diakses September 2015 dari: https://www.amnesty.org/en/latest/news/2014/12/facts-figures-syria-refugee-crisis-international-resettlement/

[lxxxiii] Anna Henderson & Chris Uhlmann. 8 September 2015. “Syrian migrant crisis: Christian to get priority as Abbot faces pressure to take in more refugees”. ABC. Diakses September 2015 dari: http://www.abc.net.au/news/2015-09-08/christians-to-get-priority-in-syrian-refugee-intake/6757110

[lxxxiv] Tom Coghlan. 14 Juli 2015. “Holocaust survivor Lord Weidenfeld rescues Syrian Christians”. The Times. Diakses September 2015 dari: http://www.thetimes.co.uk/tto/news/world/middleeast/article4496623.ece

[lxxxv] David Lawler. 13 September 2015. “German border controls mark sudden shift in refugee policy”. The Telegraph. Diakses September 2015 dari: http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/europe/germany/11862322/German-border-controls-mark-sudden-shift-in-refugee-policy.html

[lxxxvi] Lizzie Dearden. 23 Januari 2016. “Germany follows Switzerland and Denmark to Seize Cash and Valuables from Arriving Refugees”. The Independent. Diakses 25 Januari 2016 dari: http://www.independent.co.uk/news/world/europe/germany-follows-switzerland-and-denmark-to-seize-cash-and-valuables-from-arriving-refugees-a6828821.html

12 thoughts on “Perang di Suriah dan Kisah Para Pengungsi

    • Sebutkan penyesatannya. Silakan dikoreksi. Namun jika tidak ada data penyanggah, penyesatan justru kepada mereka yang menebar stempel penyesatan. Demikian. He he he …

      Jika kemudian ada koreksian terhadap tulisan “opini” yang merujuk pada banyak sumber tersebut di atas yang sifatnya faktual, saya akan senang untuk mengubahnya agar terjaga pesan tulisan “opini” tersebut.

      Like

  1. Menarik sekali meskipun panjang sekali artikelnya. Saya kurang fokus teehdp isu Timteng tapi banyak new info dalam tulisan Dipa ini.

    Salam, mas W

    Like

    • Salam Pak.

      Njih harus panjang. Tambahan PS dan Miscelleneous disebabkan banyak yang ‘urakan’ membandingkan negara Teluk dengan Eropa tanpa melihat ‘span’ krisis itu, cara kerja ‘donasi’ tiap negara, dan istilah ‘asylum’ vs. ‘refugee’.

      Terima kasih Pak atas kunjungannya.

      Like

  2. Faktor penolakan terhadap pengungsi adalah ISLAM dan kebencian atas Islam meluber-luber di dunia ini. Gue ga tau kenapa orang bisa benci Islam

    Like

  3. wah tulisannya mantap mas, mudah difahami,…apalagi disertai referensi link dari tulisan para aktivis internasional,…cocok deh mas ini jadi Pengamat Sosial Politik atau jadi Peneliti bidang sosial politik atau jadi Penulis profesional bidang kemanusiaan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s