Home » Selected Contemplation » Kemajuan Sainstek dan Kelindan Agama Mengikut Giring Logika Sumir Provokatif Denny J.A.

Kemajuan Sainstek dan Kelindan Agama Mengikut Giring Logika Sumir Provokatif Denny J.A.

Anggota Parlemen India, Sashi Tharoor, membuat beringsut klaim kebesaran Inggris yang membuat India menjadi negara yang demokratis. Tharoor berargumen bahwa Inggris harusnya berterima kasih dan meminta maaf kepada India karena dengan penjajahan terhadap negeri di Asia Selatan itulah Revolusi Industri di Inggris bisa berlangsung dengan gegap gempita. Ia menunjukkan fakta bahwa sebelum penjajahan Inggris, India memiliki keterlibatan kepada perekonomian dunia sebesar 23% dan berubah menjadi hanya 4% saat Inggris angkat kaki dari tanah India. Ia berseloroh mengenai mustahilnya Revolusi Industri tanpa bahan baku mentah yang dikeruk Inggris dari tanah jajahan serupa India.

Tharoor, yang saat itu diundang memberikan ceramah di Oxford University, menyindir bagaimana salahnya mengklaim demokrasi di India adalah jasa besar Inggris sementara kisah sebenarnya adalah penjajahan, pembunuhan, dan perampokan sumber daya alam selama 200 tahun –dari 1757 hingga 1947– dan demokratisasi di India tak elok untuk diagungkan sebagai jasa besar Inggris.[i]

Tharoor tidak berhenti sampai di situ saja. Klaim lainnya bahwa sebagian infrastruktur di India khususnya jalur kereta api dan jalan raya yang terwariskan hingga sekarang adalah jasa lain Inggris kepada tanah Hindustan itu juga dibabat tanpa ampun oleh Tharoor. Ia mengatakan bahwa infrastruktur yang dibangun oleh Inggris, jika mau fair, niatan pembangunannya adalah untuk kepentingan Inggris bukan untuk pribumi. Inggris butuh infrastruktur untuk mengontrol jajahan, memobilisasi sumber daya alam, atau hasil produksi oleh sebab itulah dibangun tetek bengek itu.[ii]

Kisah penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Eropa Barat sebenarnya jika ditarik ke belakang disebabkan oleh penguasaan jalur perdagangan dari dunia timur lewat jalur konstatinopel dikuasai oleh Ottoman.[iii]Kesultanan Ottoman begitu kuatnya menjaga jalur perdagangan ini bukan hanya dalam kaitannya penguasaan dunia perdagangan saja namun juga penjagaan wilayah yang waktu itu aroma Perang Salib masih terasa kuat. Hal inilah yang salah satunya membuat bangsa Eropa Barat yang butuh komoditas dari dunia timur secara bebas dan tidak banyak aturan terpaksa mencari jalan ke dunia timur lewat laut.

Usaha yang disebut sebagai terobosan eksplorasi pencarian jalur ke timur lewat laut adalah sampai dengan selamatnya Vasco da Gama di Tanjung Harapan. Keberhasilan Vasco da Gama disebut sebagai katalis rentetan perubahan besar terhadap dunia Eropa.[iv] Keberhasilan ini menyulut eksplorasi lebih banyak lagi menuju dunia timur demi komoditas yang mereka butuhkan dan hanya bisa diperoleh dari dunia timur.

Keadaan Eropa secara umum di hingga pertengahan abad 13 memang kepayahan. Interaksi dengan peradaban[v] Muslim dari Timur menunjukkan bahwa mereka kalah pada banyak hal. Dunia timur saat itu yang interaksinya terwakili oleh peradaban Muslim menunjukkan kekurangan mereka pada banyak bidang. Secara militer mereka kalah dan ini terbukti lewat rentetan Perang Salib yang dimenangkan oleh kaum Muslim. Abad kegelapan yang menguasai Eropa pada saat itu kian menunjukkan bahwa tidak hanya mereka kalah dari Turki Ottoman di bidang militer namun juga di bidang sains dan teknologi.[vi]

Dunia muslim bisa disebut lebih maju dalam bidang medis, sains, dan teknologi saat itu dari rentang waktu tahun 800 – 1450 dibandingkan dengan Eropa.[vii]Banyak argumen yang bisa dinisbatkan kepada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia muslim saat itu. Yang jelas adalah dunia muslim saat itu, ketika Eropa masih berkubang pada rigiditas dan cengkeraman Gereja berkenaan dengan akses pada literatur dan bagaimana melihat dunia, dengan sangat longgar dan bersemangat mempelajari warisan ilmu pengetahuan dari Yunani kuno,[viii]Syiriac, Pahlavi, dan Sanskrit. Bahkan tidak disangkal bahwa universitas tertua yang masih beroperasi hingga sekarang muncul di masa keemasan peradaban Islam[ix] yakni Perpustakaan, Pusat Penerjemahan, dan Penelitian yang megah Baitul Hikmah di Baghdad yang didirikan di sekitar 830 M,[x] Perpustakaan Besar Darul Hikmah yang didirikan di Kairo pada tahun 1004 M,[xi] Universitas al-Qarawiyyin (University of Karueein) yang berdiri pada tahun 859 M di Maroko[xii]dan sekolah kedokteran modern Kulliye yang berdiri pada tahun 1488 M[xiii] bisa membuat cemburu beberapa negara Eropa pada saat itu.

Yang membuat kemajuan ilmu pengetahuan di dunia Islam saat itu selain bergairahnya muslim mempelajari ilmu pengetahuan dari peradaban-peradaban sebelumnya untuk kemudian dikembangkan, donasi wakaf untuk ilmu pengetahuan begitu digalakkan, dan juga bisa disebutkan interaksi dunia Islam dengan China yang menguasai pembuatan kertas.[xiv] Dengan banyak hal yang mendukung kemajuan ilmu pengetahuan dan kemampuan mendiseminasikan ilmu pengetahuan yang cepat lewat universitas-universitas yang begitu marak didirikan[xv] dan penguasaan teknik pembuatan kertas maka peradaban Islam begitu unggul jika dibandingkan dengan abad kegelapan Eropa saat itu.[xvi]

Kebutuhan pencarian komoditas tertentu (rempah-rempah) dari Timur yang lebih banyak dan murah,[xvii]tugas suci semisal royal patronage,[xviii]dan interaksi dengan peradaban Islam lewat Perang Salib yang menunjukkan bahwa peradaban di luar Kristendom bisa lebih maju dan beradab[xix] telah menyulut imajinasi bangsa Eropa untuk berani mengarungi lautan luas menuju dunia Timur. Hal lain yang membuat ada perubahan radikal di Eropa adalah wibawa gereja yang menurun, gairah mempelajari literatur sains dan filosofi Yunani, Romawi serta dunia Timur lainnya meningkat berkat sambung kembangan peradaban Islam,[xx] serta ditemukannya mesin cetak oleh Gutenberg[xxi] yang semuanya terjadi di tahun 1400-an. Dari sinilah muncullah zaman Fajar Budi (Renaissance) di daratan Eropa.

Dari semangat untuk menjelajahi dunia dan mencapai kejayaan maka muncullah negara-negara di Eropa yang melakukan ekspedisi ke dunia Timur. Sebutlah negara-negara seperti Spanyol, Portugis, Inggris, Belanda, dan Perancis. Sebuah working paper yang bagus membahas kemakmuran negara-negara di Eropa Barat bersebab adanya ekplorasi dan perdagangan kepada peradaban lain yang sangat masif dimulai sejak abad ke-15 dan lalu berujung kepada kolonialisme ditulis oleh akademisi dari MIT dan University of California dengan judul “The Rise of Europe: Atlantic Trade, Institutional Change, and Economic Growth”.[xxii]Ini mengingatkan kita pada ucapan Tharoor di atas bahwa kemajuan banyak hal negara-negara Eropa sejatinya memiliki sejarah kelam pada perampokan sumber daya alam dari negara-negara yang kini merangkak untuk menjadi negara yang makmur selepas kehancuran yang diperbuat oleh aksi kolonialisme Eropa.

Ketika Eropa berhasil mempertahankan dan mengembangkan kemajuan peradabannya yang dimulai di abad 15 dengan dukungan kolonialisme, peradaban Islam yang berhenti ekspansif mengalami stagnansi. Memang argumen kemajuan sebuah peradaban diperoleh lewat penjajahan kepada bangsa lain terasa miris tapi sejarah peradaban menunjukkan demikian. Kemajuan sebuah peradaban [baca: negara] memang membutuhkan dukungan dari pemerintah dan kecepatan diseminasi sains namun ekonomi yang kuat juga diperlukan. Bisakah misalnya revolusi industri di Inggris bisa gegap gempita jikasanya tidak adanya kolonialisme yang dilakukan oleh kerajaan Inggris terhadap bangsa-bangsa lain di dunia?

Bicara era kini saat Amerika Serikat menguasai berbagai macam bidang, bisakah misalnya kedigdayaan Amerika Serikat disimpulkan sebagai akibat dari beberapa rentetan sejarah sebagaimana berikut ini: tidak luluh lantaknya mereka dari Perang Dunia II sehingga memberi jalan imperialisme halus kepada Eropa Barat lewat Marshal Plan,[xxiii]pembajakan ilmuwan-ilmuwan kelas wahid semisal lewat Operation Paperclip,[xxiv] keseriusan pemerintah Amerika Serikat kepada pendidikan dan riset lewat pendanaan yang luar biasa,[xxv] peran Amerika Serikat di dalam Perang Dingin serta akhir dari Perang Dingin dengan aksi “covert warfare and government destabilisation”-nya,[xxvi] penjajahan Amerika Serikat di dalam dunia keuangan dan moneter dunia lewat manuver Bretton Woods System,[xxvii] kemudian berlanjut kepada petualangan Amerika Serikat selepas 11 September sehingga membuat Amerika Serikat hingga kini bertahan pengaruh kuatnya secara global.[xxviii][xxix][xxx]

Alur logika di atas seakan-akan mengarahkan pada kesimpulan bahwa kemajuan peradaban atau kemajuan sebuah negara ditentukan oleh intensivitasnya di dalam peperangan dan penakhlukan. Dan alur logika seperti itu pasti akan mudah disanggah dengan kasus China[xxxi] dan Mongol. Keduanya unik sebagai contoh bagaimana China yang ngubrek-nguplek hanya daratan China saja bisa bertahan, berkembang dan maju sedangkan Mongolia yang pernah agresif namun kemudian menjadi sebuah negara kecil yang kini kurang diperhitungkan di kancah politik ekonomi dan sainstek dunia. Meskipun demikian, menafikan peran peperangan dan penakhlukan daerah lain yang kaya sumber daya alam terhadap kemakmuran dan kemajuan saisntek sebuah negara[xxxii]adalah tidak tepat. Perang dan semangat penakhlukan menjadikan sebuah bangsa ingin berterusan menjadi unggul dan mengungguli bangsa lain, tentu saja sekali lagi, ini bukan faktor satu-satunya.

Peperangan kerap mempercepat laju kemajuan teknologi sebagaimana bisa disaksikan dari perjalanan sejarah umat manusia.[xxxiii] Lewat peperangan atau keadaan perang atau bagaimana menjaga ketundukan negara takhlukan [baca: menjaga hegemoni], funding kepada riset dan pengembangan yang terkait sainstek juga meningkat. Dari situlah ungkapan politisasi sainstek menjadi muncul. Sainstek menurut John De la Mothe di dalam bukunya Science, Technology, and Governance menjadi sesuatu yang tak terelakkan dengan warfare.[xxxiv] Mothe tidak bicara kemajuan sainstek hanya melulu dengan kebutuhan yang terkait dengan warfare saja namun juga bagaimana kemakmuran ekonomi juga kontributif terhadap kemajuan sainstek.[xxxv]

Yang menjadi pertanyaan penting kemudian adalah peradaban Islam, peradaban bukan Islam, kemajuan sainstek, dan bagaimana keterkaitannya dengan agama [baca: agama Islam] sebagaimana disulut oleh Denny Januar Ali lewat status Facebooknya. Denny Januar Ali dengan gaya khasnya bermain dengan survei melempar sebuah gambar dan memberi penjelasan sesuai gambar. Beberapa bagian memang seolah-olah penafsiran dari gambar yang ia lemparkan namun beberapa kalimat adalah tidak terdapat pada gambar. Kalimat mengenai halal-haram dan berjibaku siapa yang sesat adalah tidak terdapat di dalam gambar dan merupakan kalimat dari Denny Januar Ali sendiri.[xxxvi]

Menanggapi status Facebook Denny Januar Ali tersebut, pertanyaan mengenai kemajuan sainstek sudah bisa sedikit terjawab lewat pemaparan di atas. Masuknya Turki Ottoman ke dalam Perang Dunia I adalah langkah awal kehancuran imperium tersebut. Babak bunyak persenjataan dan pasukan selepas terlibat Perang Balkan, Imperium Turki Ottoman malah tetap nekad masuk ke dalam kancah Perang Dunia I.[xxxvii] Sedangkan melejitnya Eropa [yang terdiri dari banyak negara] sejak akhir abad 16 dengan faktor-faktor yang telah disebutkan di atas jika dibandingkan dengan satu negara Turki Ottoman adalah kurang pas. Keadaan sainstek Imperium Turki Ottoman sendiri –kecuali di bidang persenjataan– adalah tidak bisa dikatakan mengalami ketertinggalan dibandingkan dengan negara-negara Eropa saat itu.[xxxviii]Walaupun demikian, Imperium Turki Ottoman memang mengalami stagnansi di dalam diseminasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dengan salah satu hal yang menjadi penyebabnya, menurut sebagian sejarawan, adalah telatnya pemakaian mesin cetak di dalam penerbitan buku. Baru pada tahun 1729 Imperium Turki Ottoman memakai mesin cetak di dalam penerbitan buku berbahasa Arab dan kelambatan menangkap peluang penyebaran ilmu pengetahuan dengan mesin cetak oleh Imperium Turki Ottoman ini disayangkan oleh beberapa sejarawan.[xxxix]Keadaan lain yang membuat Imperium Turki Ottoman adalah kondisi ekonomi yang buruk yang sudah terjadi sebelum mereka masuk ke kancah Perang Dunia I.[xl]

Perang Dunia I membuat Imperium Turki Ottoman sempoyongan. Perjanjian rahasia antara pihak Inggris dan Perancis yang dikenal dengan Sykes-Picot Agreement pada 19 Mei 1916 membagi wilayah Imperium Turki Ottoman yang sangat luas saat itu menjadi beberapa wilayah sebagai konsekuensi kekalahan Turki Ottoman di dalam Perang Dunia I.[xli] Wilayah hasil pecahan inilah yang kemudian menjadi negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara saat ini.[xlii]Bagaimanapun juga jika melihat jalannya sejarah persaingan Eropa dengan Timur [baca: peradaban Muslim], tidaklah bisa hanya dikatakan kecuali merupakan akumulasi dari interaksi kedua peradaban sejak Perang Salib. Kekalahan Turki Ottoman pada Perang Dunia I mewujudkan cita-cita lama menghancurkan ‘musuh lama’ sebagaimana kemudian Perjanjian Sevres menunjukkan bagaimana Turki Ottoman benar-benar diluluhlantakkan wilayah dan harga dirinya.[xliii]

Jadi misalnya hendak disebut ketertinggalannya dunia Muslim sekarang ini dengan dunia Barat[xliv] ada baiknya ditakar sejak munculnya negara-negara Islam [pecahan Imperium Turki Ottoman] adalah kurang pas dan “norak” jika dibandingkan dengan titik mulai abad kegelapan Eropa.

Jika pembandingan dilakukan dengan gaya seperti itu maka bisa saja dengan cara serupa kita membandingkan kejayaan Yunani lalu Romawi-nya Eropa yang berlangsung beberapa ratus tahun dengan kejayaan peradaban Islam yang berlangsung 600-an tahun dan bertahan hingga 400-an tahun sesudahnya pada saat Imperium Turki Ottoman ambruk. Gaya pembandingan seperti ini sebenarnya ada teorinya di dalam kajian sosiologi dengan nama teori Social Cycle Theory. Menurut teori ini, kemajuan dan kemunduran peradaban hanyalah seperti sebuah siklus saja yang saling berulang bergantian.[xlv] Well, kurang lebih begitu dan yang beginian malah jadi mbulet-mbulet seperti pertanyaan ayam dengan telur mana yang duluan.

Melihat ketertinggalan dunia Muslim dengan Barat yang misalnya saja diwakili dengan hegemoni Amerika Serikat dan Inggris dengan titik mulai diukur dari berakhirnya Perang Dunia II adalah lebih pas. Perang Dunia II memunculkan negara-negara Islam baru pecahan Turki Ottoman dan negara-negara Islam[xlvi] merdeka yang penduduk mayoritasnya Islam di Asia Tenggara. Juga selepas Perang Dunia II kemudian masih berlanjut dengan Perang Dingin berakhirnya menahbiskan Amerika Serikat dan Inggris sebagai pemegang dominasi banyak hal di dunia kini. Perang Dunia II juga memunculkan Perserikatan Bangsa-bangsa (United Nations) dengan Big Five-nya. Jadi memang selayaknya akhir dari Perang Dunia II dijadikan titik mulai perbandingan. Dari pergumulan Big-Five ini, negara-negara lain yang kecil atau baru belajar menjadi negara kemudian menjadi “cerminan” atau kadang proksinya saja dalam banyak hal. Dus, kemajuan negara-negara Islam yang baru saja merdeka dan hendak disebut sebagai peradaban kaum Muslim sebenarnya lebih tepat dihitung mulai lagi dari puing debu hancurnya Turki Ottoman dan bukan sejak mula kelahiran nabi Muhammad saw.

Lalu jika ditanyakan apakah sudah menuju ke arah yang melegakan atau bahkan menggembirakan? Belum bersatunya negara-negara Islam atau katakanlah belum nampak ada indikasi bahwa negara-negara Islam ini bersedia bersatu menjadi satu suara[xlvii]di bidang politik dan militer. Dan kuatnya pengaruh Big Five kepada mereka menjadikan mereka terpolarisasi pada kutub-kutub sisa Perang Dingin.

Kemudian mengenai gambar tersebut. Apakah benar gambar tersebut mendapatkan justifikasi mengenai kemajuan sainstek ketika masyarakat sudah tidak peduli lagi kepada agama?[xlviii] Tidak, hal ini tidak benar.

Mari kita tengok tahun-tahun pada gambar itu dan kemudian kita analisis ringan.

Gambar dan Status Facebook Denny J.A.

Gambar dan Status Facebook Denny J.A.

Apa yang terjadi pada tahun 1896? Pada tanggal 4 Juni 1896, Henry Ford merampungkan mobil ciptaannya yang ia beri nama ‘Quadricycle’ di negara Amerika Serikat lewat usaha Ford sendiri.  Apa yang terjadi pada tahun 1903? Pada tanggal 17 Desember 1903, Wilbur Wright and Orville Wright dengan usaha mandiri berhasil menerbangkan pesawat buatan mereka selama 59 detik dan menempuh jarak 259,7 meter. Sementara itu kerajaan Turki Ottoman sedang sibuk dan bersusah payah menumpas pemberontakan Armenia yang disulut lewat kejadian Perlawanan Bashkale, Pemberontakan Sassoun, Pemberontakan Van, dan baru berakhir pada tahun 1896 di Zeytun. Kemudian Turki Ottoman menghadapi pemberontakan di Macedonia yang terjadi pada tahun 1903. Keadaan di Turki Ottoman saat itu sangat buruk. Selain pemberontakan terjadi di mana-mana, kondisi keuangan negara juga sedang memburuk dan kian memburuk hingga akhirnya Empirium Turki Ottoman menjadi cerai berai. Amerika Serikat pada tahun 1893 mengalami depresi ekonomi yang luar biasa namun pada tahun 1896-1897 keadaan ekonomi Amerika Serikat membaik dan bahkan di tahun-tahun itu Amerika Serikat begitu progresif di dalam kebijakan luar negerinya.[xlix]Jadi layaklah jika keadaan di Amerika Serikat dapat mendorong kreativitas dan inovasi warga negaranya dibandingkan kekacauan yang terjadi di Emperium Turki Ottoman. Bisakah membandingkan orang sakit dengan orang sehat dan penuh gairah?

Apa yang terjadi pada tahun 1961? Pada tanggal 12 April 1961, kosmonot Soviet menjadi orang pertama yang bisa berada di luar angkasa. Vostok 1, begitu nama pesawat luar angkasa tersebut, berhasil mengorbit selama 108 menit. Sementara itu Empirium Turki Ottoman sudah hancur dan pecahan-pecahannya sedang belajar menjadi negara mandiri. Perang Dingin saat itu sedang terjadi antara kampiun sisa Perang Dunia II: Amerika Serikat dan Uni Soviet. Amerika Serikat begitu cerdik bermain di sektor perminyakan dan bantuan militer kepada negara-negara Timur Tengah yang baru mandiri, masih lemah secara militer, dan kaya minyak.[l] Bersaing dengan Uni Soviet, Amerika Serikat mati-matian ingin mengalahkan Uni Soviet di dalam perlombaan penguasaan penjelajahan ke luar angkasa. Bisakah membandingkan bayi dengan orang dewasa?

Apa yang terjadi pada tahun 2013? Dari gambar yang diberikan memang kurang jelas pada apa yang terjadi pada tahun 2013 sebagaimana dimaksudkan pada gambar. Pada tahun itu, Jepang,[li] India, China, Amerika Serikat, Russia, Kazakhstan[lii] meluncurkan satelit ke luar angkasa.[liii]Bisa jadi meme tersebut diciptakan pada tahun 2013 sehingga gambar yang terakhir adalah bertahun 2013.

Jika kita tadi telah membandingkan dua peradaban, Islam dengan Barat yang diwakili Amerika Serikat, tanpa standar yang jelas hanya pilihan tertentu pada aspek tertentu di tahun yang acak kemudian kita bandingkan lagi dua peradaban, Islam dengan Barat yang diwakili Uni Soviet tanpa standar yang jelas hanya pilihan tertentu pada aspek tertentu di tahun yang acak maka kini coba kita bandingkan keadaan Amerika Serikat di tahun-tahun 1890-an, 1900-an, 1960-an kemudian 2010-an di dalam keributan perkara agama. Benarkah pada empat periode yang berbeda tersebut, masyarakat Amerika Serikat yang mengakui keberadaan agama sudah tidak ada keributan yang berkisar masalah agama? Jawabannya tidak benar. Perlukah membandingkannya dengan keadaan di Uni Soviet? Tidak perlu karena di Uni Soviet agama ditekan begitu kuatnya.

Lalu bagaimanakah keadaan Amerika Serikat terkait dengan agama pada tahun-tahun tersebut? Jawabnya sederhana. Periksa saja sejarah Amerika Serikat pada tahun-tahun itu.[liv]

Lagian jika Denny J.A. “lurus,” biarlah perkara sainstek dibahas teknokrat dan ilmuwan sedangkan halal dan haram, sesat akidah atau tidak, biarkan dibahas ulama. Membludaknya teknokrat dan ilmuwan serta kokohnya tradisi keilmuan di negara-negara dengan karakteristik yang berbeda yang diambil sebagai bandingan dengan satu peradaban monolit yang disebut sebagai peradaban Islam padahal kini ia terdiri dari banyak negara yang baru muncul selepas Perang Dunia II yang bisa disebut dengan baru belajar banyak hal adalah “menceng“. Bukankah jika ia merecoki yang begini jelas malah seolah menunjukkan bahwa ia kurang kerjaan dan sengaja menyulut kerancuan?

Pun jika misalnya kemajuan peradaban disepakati sebagai hasil dari interaksi antarperadaban yang sifatnya komulatif dan struktur yang sederhana dari peradaban kecil kemudian menjadi peradaban yang kompleks, atau dalam konteks ini dunia yang kemudian menjadi seakan satu peradaban, maka difusi antarperadaban menggiring kepada sistem yang menampilkan kontrol (hegemonik), pengontrol, dan yang dikontrol. Jadi laju peradaban dunia semenjak Perang Dunia II selama belum ada perubahan yang radikal akan secara alami mengalirkan evolusi peradaban yang dimulai dari pusat. Dan kita tahu dimanakah pusat ekonomi dan militer dunia sejak perang itu berakhir bersama laju kapitalisme dan rasionalisasi.[lv]

.

.

.

.

=================

Endnotes

[i] Rishi Iyengar. 23 Juli 2015. “Watch This Indian Lawmaker Briliantly Explains Why the U.K. Owes Reparations for Colonial Rule”. Time. Diakses 21 Agustus 2015 dari: http://time.com/3969097/shashi-tharoor-oxford-union-debate-reparations-india-britain/

[ii] Ibid

[iii] Emrah Safa Gurkan. 2012. “The Efficacy of Ottoman Counter-intelligence in the 16th Century”. Acta Orientalia Academiae Scientiarum Hung. Volume 65 (1), 1-38 (2012).

[iv] Shane Winser. 17 Februari 2011. “Vasco da Gama”. BBC. Diakses 21 Agustus 2015 dari: http://www.bbc.co.uk/history/british/tudors/vasco_da_gama_01.shtml

[v] Sebenarnya istilah peradaban, kebudayaan, dan [kekuatan] ekonomi [dan sainstek serta militer] bisa saling tumpang tindih dikontestasikan sebagaimana misal perdebatan tentang ini dikupas oleh Kunihiko Kumai ketika menyorot thesis benturan antarperadaban (Kunihiko Kumai. 2006. “Culture, Civilization, or Economy? Test of the Clash of Civilizations Thesis”. International Journal on World Peace. Vol. 23 No. 3, hlm. 3-32).

[vi] Azeem Majeed. 2005. “How Islam Changed Medicine: Arab Physicians and Scholars Laid the Basis for Medical Practice in Europe”. British Medical Journal. 2005 Dec 24; 331(7531): 1486–1487.

[vii] Prince of Wales, op cit.

[viii] Sering yang dikoarkan beberapa pengusung kehebatan Barat [baca: Eropa] hanya mengatakan mengenai dunia Muslim yang mempelajari warisan ilmu pengetahuan Yunani kuno saja padahal tidak.

[ix] Peradaban Islam di sini bukanlah peradaban yang ilmuwan dan teknokratnya hanya berisi orang-orang Islam. Ini adalah anggapan yang keliru. Yang dimaksud dengan peradaban Islam di dalam tulisan ini adalah peradaban yang dibangun di bawah kontrol orang-orang Islam.

[x] Eduscapes.com. “Early Libraries: 800s CE”. Diakses 22 Agustus 2015 dari: http://eduscapes.com/history/early/800.htm

[xi] Nancy Spiegel. 14 April 2011. “Library History and Architecture: Medieval Islamic Libraries”. The University of Chicago Library News. Diakses 22 Agustus 2015 dari: http://news.lib.uchicago.edu/blog/2011/04/14/library-history-and-architecture-medieval-islamic-libraries/

[xii] Guiness World Record. “The Oldest University”. Diakses 21 Agustus 2015 dari: http://www.guinnessworldrecords.com/world-records/oldest-university

[xiii] Nurettin Heybeli. 2009. “Sultan Bayezid II Kulliyesi: One of the Earliest Medical Schools – Founded in 1488”. Clinical Orthopaedics and Related Research. 2009 Sep; 467(9): 2457–2463.

[xiv] Eduscapes.com. “Early Libraries: 800s CE”. Diakses 22 Agustus 2015 dari: http://eduscapes.com/history/early/800.htm

[xv] Di tahun 1100-an, tercatat ada 75 Madrasah (sepadan dengan Universitas kini) di Kairo, 51 buah di Damaskus, dan 44 buah di Aleppo yang memiliki kurikulum dan memberikan ijazah (degree).

Rujukan: Firas Alkhateeb. 8 Desember 2012. “Education in Islamic History”. Lost Islamic History. Diakses 22 Agustuys 2015 dari: http://lostislamichistory.com/education/

[xvi] Sebuah film dokumenter yang bisa memberikan gambaran keunggulan peradaban Islam saat itu dibandingkan dengan Eropa adalah “Science and Islam” by Jim Al Khalili, 2009, BBC Documentary.

[xvii] Buku Paul Freedman meskipun mendapatkan kritikan namun layak dibaca sebagai rujukan tentang ini. (Paul Freedman. 2008. Out of the East: Spices and the Medieval Imagination. Yale University Press).

[xviii] Don Fanning. 2009. “Roman Catholic Era Medieval Period.” History of Global Mission. Paper 4. http://digitalcommons.liberty.edu/cgm_hist/4

[xix] Masoumeh Banitalebi dkk. 2012. “The Impact of Islmic Civilization and Culture in Europe during the Crusades”. World Journal of Islamic History and Civilization, 2 (3): 182-187, 2012

[xx] Di tahun 1469, seorang pedagang kaya bernama Cosimo de Medici baru mendirikan Platonic Academy di Florence (cf. Paul Kuritz. 1988. The Making of Theatre History. Prentice Hall College Div. hlm. 136) yang bisa disebut mulai tumbuhnya tradisi akademis lepas dari kungkungan doktrin gerejawi.

Hal lain yang perlu dicatat adalah, literatur sains dan filsafat Yunani dan Romawi serta peradaban kuno lainnya telah dilestarikan, berkembang, dan menulari literatur yang kemudian dipakai oleh akademisi Eropa di dalam melepaskan diri dari doktrin gereja saat itu. Peradaban Eropa tidak pernah muncul tiba-tiba ketika mulai bangkit dari abad kegelapan.

[xxi] Berkat penemuan mesin cetak, terjadi revolusi penyebaran informasi dan ilmu pengetahuan di Eropa. Di tahun 1500an terdapat tidak kurang sembilan juta buku dan pamflet di Eropa (cf. Paul Kuritz. 1988. The Making of Theatre History. Prentice Hall College Div. hlm. 138)

[xxii] Daron Acemoglu, Simon H. Johnson, & James A. Robinson. 25 November 2002. “The Rise of Europe: Atlantic Trade, Institutional Change, and Economic Growth”. Social Science Research Network Electronic Paper Collection.

[xxiii] John Provan. n.d. “The Marshall Plan and Its Consequences”. George Marshall Society. Diakses 22 Agustus 2015 dari: http://www.george-marshall-society.org/george-c-marshall/the-marshall-plan-and-its-consequences/

[xxiv] Annie Jacobson. 2014. Operation Paperclip: The Secret Intelligence Program to Bring Nazi Scientists to America. Little, Brown & Company.

[xxv] Wachiro Kigotho. 14 November 2014. “China Heads for top world in R & D Spending – OECD”. University World News. Diakses 22 Agustus 2015 dari: http://www.universityworldnews.com/article.php?story=20141114112226407

Bandingkan juga dengan data dari Investopedia “What country spends the most on research and development” yang dapat diakses lewat:

http://www.investopedia.com/ask/answers/021715/what-country-spends-most-research-and-development.asp

Amerika Serikat juga menarik bagi peneliti-peneliti dari seluruh dunia untuk bekerja di sana dengan jaminan kemakmuran dan fasilitas riset yang luar biasa. Semua kembali pada kekuatan ‘dolar’. Beberapa poin mengenai ini bisa disimak lewat penjelasan ahli pendidikan Pasi Sahlberg lewat tautan berikut ini:

http://pasisahlberg.com/what-makes-united-states-and-finland-so-great/

[xxvi] Doug Stokes. 2003. “Why the end of the Cold War doesn’t matter: the US war of terror in Colombia”. Review of International Studies (2003), 29, 569–585 Copyright © British International Studies Association.

[xxvii] Corbridge S, 1994, “Bretton Woods revisited: hegemony, stability, and territory” Environment and Planning A 26(12) 1829 – 1859

[xxviii] Mark Beeson. 2004. “US Hegemony” dalam O’Hara, Phillip (ed.), Encyclopaedia of Public Policy: Governance in a Global Age. London: Routledge.

[xxix] Catherine Austin Fitts. 2004. “Mapping The Real Deal; Cui Bono 9/11”. Scoop Independent News. Diakses 22 Agustus 2015 dari: http://www.scoop.co.nz/stories/HL0406/S00046.htm

[xxx] “The Fifth Estate – The Lies that Led the War”. CBC 2007.

[xxxi] Bandingkan juga kisah China yang berdagang tidak bernafsu menganeksasi wilayah dengan Eropa yang berdagang dan berhasrat mencaplok wilayah (cf. Matthias Tomczak. 19 Desember 2008. “Science during the Renaissance; exploration, maps, the new view of the world”. Diakses 22 Agustus 2015 dari: http://www.es.flinders.edu.au/~mattom/science+society/lecture17.html)

[xxxii] Sejak awal pemakaian ‘negara’ dengan ‘peradaban’ saling bertukaran meskipun secara definitif keduanya berbeda namun dalam konteks tulisan ini kelentukan pemakaian kedua istilah terjadi. (Bandingkan dengan endnote nomor 5).

[xxxiii] Dengan angle yang sedikit berbeda misalnya bisa dibandingkan dengan artikel berjudul “War and Technology: A Critical Investigation” (Shunzo Majima. 2008. berjudul “War and Technology: A Critical Investigation.” Journal of the Graduate School of Letters, Hokkaido University Vol.3;pp.87-98, March 2008)

[xxxiv] John De la Mothe. 2001. Science, Technology, and Governance. Psychology Press.

[xxxv] Sekali lagi dengan angle yang berbeda mengenai kemajuan sainstek dan optimalisasi manfaat yang lebih terdapat pada negara-negara yang secara ekonomi makmur disebutkan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh RAND Corporation (cf. AFP. 2006. “Rich countries gain most from technology”. ABC Science. Diakses 22 Agustus 2015 dari: http://www.abc.net.au/science/articles/2006/06/02/1653593.htm

Hal lain yang juga patut diperhatikan selain kekuatan ekonomi yang merupakan hasil dari kolonialisme, imperialisme halus maupun imperialisme kasar yang menghasilkan pengerukan sumber daya alam, penguasaan sumber daya ekonomis, dan terbukanya pasar, patut pula misalnya dilihat bagaimana keseriusan pemerintah di dalam riset dan pengembangan teknologi, kontribusi penghargaan dan proteksionisme kemajuan ilmu pengetahuan lewat sistem paten, dan migrasi orang-orang cerdas ke negara-negara makmur yang melihat urgensi merekrut sumber daya manusia unggul atau bisa juga karena orang-orang ini mencari penghidupan dan kehidupan yang lebih baik.

Untuk tiga hal tersebut misalnya dapat dirujuk pada:

“Government can advance innovation” interview with Vinod K. Aggarwal, © International Trade Centre, International Trade Forum – Issue 3/2003.

Clement Tisdell. 2012. Science and Technology Policy: Priorities of Governments. Springer Science & Business Media.

Dianne Nicol & John Liddicoat. 21 Februari 2012. “Do patents promote innovation?”. The Conversation. Diakses dari 24 Agustus 2015 dari: http://theconversation.com/do-patents-promote-innovation-5443

Kacey N Douglas. 2015. “International Knowledge Flows and Technological Advance: The Role of Migration.” IZA Journal of Migration 20154:13  doi:10.1186/s40176-015-0037-8.

[xxxvi] Yang menarik adalah belum begitu lama, Musdah Mulia juga menyalintempelkan sebuah status yang mengusik urgensi pendidikan agama di sekolah. Status salin-tempel tersebut memang bukan status yang muncul lewat kalimat yang dibuat oleh Musdah Mulia. Walaupun demikian, salintempel status tanpa penjelasan pro atau kontra terhadap isu yang diusung justru, menurut saya, bisa menyesatkan jika isinya adalah pembuat syubhat terhadap cara berpikir awam. Hal seperti ini ndrawasi apabila yang membawakan isu adalah seorang public figure dan atau opinion leader.

[xxxvii] ‘Weapons of the Ottoman Army’, URL: http://www.nzhistory.net.nz/war/ottoman-empire/weapons-of-the-ottoman-empire, (Ministry for Culture and Heritage), updated 30-Jul-2014.

[xxxviii] Ekmeleddin Ihsanoglu. 2004. Science, Technology, and Learning in the Ottoman Empire: Western Influence, Local Institutions, and the Transfer of Knowledge. Ashgate/Variorum.

[xxxix] Metin M. Cosgel dkk. March 2009. “Guns and Books: Legitimacy, Revolt, and Technological Change in the Ottoman Empire”. University of Connecticut – Department of Economics Working Paper Series.

[xl] Erkut Duranoglu dand Guzide Okutucu. 2009. Economic Reasons Behind the Decline of the Ottoman Empire (Thesis). Norges Handelshøyskole.

[xli] “Britain and France conclude Sykes-Picot Agreement”. History.com. Diakses 22 Agustus 2015 dari: http://www.history.com/this-day-in-history/britain-and-france-conclude-sykes-picot-agreement

[xlii] Model pemecahan wilayah seperti ini mirip terjadi pada kisah Republik Indonesia Serikat. Dengan pemecahan wilayah maka bangsa yang disatukan oleh semangat (-ism) yang sama dibuat terpecah atau mengkonfigurasikan ulang persamaan identitas dan identitas kebersamaannya.

[xliii] Nick Danforth. 10 Agustus 2015. “Forget Sykes-Picot. It’s the Treaty of Sevres that Explains the Modern Middle East”. Foreign Policy. Diakses 22 Agustus 2015 dari: https://foreignpolicy.com/2015/08/10/sykes-picot-treaty-of-sevres-modern-turkey-middle-east-borders-turkey/

[xliv] Lihat Endnote nomor 5 dan rujukkan juga dengan betapa lentuknya istilah ini di dalam diskursus ‘civilization’ ala Samuel Huntington.

[xlv] Simak misalnya buku The Downfall of the West karya Oswald Spengler (1926) atau buku karya Ravi Batra, The Downfall of Capitalism and Communism: a New Study of History (1978).

[xlvi] Definisi Islamic Countries mengikut pada definisi longgar yang dipakai di dalam riset pertama mengenai Islamicity yang menyebut negara dengan mayoritas penduduknya muslim zonder peduli bentuk negara atau hukum yang dipakai sebagai negara Islam.

[xlvii] Organisasi Konferensi Islam (The Organisation of Islamic Conference) lewat ISESCO memang belum bertaring namun layak untuk diperhatikan bagaimana misalnya Uni Emirate Arab mencapai perkembangan yang menggembirakan di dalam kemajuan sainstek penerbangan luar angkasa-nya.

[xlviii] Kelihatannya arah argumen Denny Januar Ali adalah masyarakat Muslim agar lebih maju di bidang sainstek harus merelakan menjadi masyarakat yang sekuler atau bisa juga ditafsirkan bahwa kemajuan sainstek bagi masyarakat Muslim akan dicapai jika sudah abai pada perkara halal dan haram.

[xlix] “The Progressive Movement and US Foreign Policy, 890-1920s”. U.S. Department of State. Diakses 22 Agustus 2015 dari: http://2001-2009.state.gov/r/pa/ho/time/ip/108646.htm

[l] Michale Quentin Morton. 2011. “Narrowing the Gulf: Anglo-American Relations and Arabian Oil 1928–1974”. Liwa-  Journal of the National Center for Documentation & Research. Volume 3, Number 6, December 2011, hlm. 39-54.

[li] Jepang adalah contoh lain dari kemajuan yang timbul dari semangat mencaplok wilayah lain meski kemudian selepas kalah perang dari sekutu (Amerika Serikat), Jepang tidak fokus lagi mengembangkan hal yang berbau militer. Walaupun demikian, Jepang malah kemudian menjadi sekutu dekat Amerika Serikat dan mendapatkan perlindungan militer dari Amerika Serikat hingga kini.

[lii] Bisakah Kazakhstan disebut sebagai negara yang mewakili masyarakat Muslim meskipun proyek satelitnya adalah di bawah kendali Russia? Sebaiknya tidak dianggap seperti itu. Tetaplah kita sebut itu kerjanya Russia dan bukan Kazakhstan.

[liii] “2013 – Launches to Orbit and Beyond”. Zarya.info. Diakses 22 Agustus 2015 dari: http://www.zarya.info/Diaries/Launches/Launches.php?year=2013

[liv] Untuk periode 1890-1920 silakan dirujuk pada disertasi Sarah K. Nytroe (Sarah K. Nytroe. 2009. Religion and Memory in American Public Culture, 1890-1920. (Dissertation). Boston College Electronic Thesis or Dissertation, 2009). Kemudian untuk periode 1960-an yang mempengaruhi politik Amerika Serikat saat itu bisa dirujuk pada paper karya Jeff Manza dan Clem Brooks (1997). “The Religious Factor in U.S. Presidential Elections, 1960–1992”. American Journal of Sociology, Volume 103 Number 1 (July 1997): 38–81. Sedangkan untuk masa 2010-an silakan ditelusuri bagaimana Mitt Romney mengalami kegagalan dan menjadi polemik nasional untuk menjadi calon presiden yang patut dijagokan karena ia seorang penganut sekte Kristen Mormonisme.

Tulisan Dr. Mary Segers mengenai agama dan pemilihan presiden di Amerika Serikat dengan judul “The Role of Religion in the U.S. Presidential Election” juga patut dibaca.

[lv] Buku yang menarik jika bicara perubahan peradaban adalah Sociocultural Systems: Principles of Structure and Change karya Frank W. Elwell yang buku digitalnya bisa diunduh secara gratis. Bab empat adalah bab yang menarik terkait dengan isu mengenai perubahan sosial dan kemajuan teknologi yang dalam konteks peradaban dunia saya analogikan dengan berintegrasinya peradaban yang ada, yang majemuk, menjadi kian mengerucut sebagai sebuah kesatuan dan bagaimana kemudian kemajuan teknologi bisa tersentralkan.

Rasionalisasi di sini bukan dimaksudkan kecuali dalam konteks rasionalisasi society ala Weber.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s