Home » Selected Contemplation » Teks Quran

Teks Quran

Al Quran (Quran, Qur’an, Koran (Eng.)) adalah kitab suci umat Islam. Bagi muslim, Quran kalamullah (kalimat Allah) yang diturunkan kepada Muhammad saw. melalui Jibril a.s. (Gabriel). Bagi dunia Barat, kajian terhadap Quran sangat pesat. Beberapa kajian sifatnya penyepadanan dengan kajian teks Biblikal (exegesis hermeneutics, critical redaction, historical-textual analysis) dan seringkali diniatkan dalam bingkai Orientalisme, Pluralisme, Revisionisme, dan Perennialisme. Kajian-kajian dengan metodologi yang berbeda dengan metodologi yang dikenal di dalam literatur Islam dan dalam niatan ‘meleburkan’ Islam dengan ‘agama-agama dan atau ideologi’ yang lain berbeda dengan cara muslim mengkaji Quran (buku menarik tentang bagaimana Barat -Christendom dan Sekulerisme Barat- berinteraksi dan menafsirkan Quran menurut kacamata [dan kepentingan] mereka misalnya dapat dirujuk pada buku Islam and the West: A Historical Cultural Survey karya Philip Khuri Hitti).

Bersebab gempuran pendekatan Quran yang berasal dari luar Islam, beberapa ilmuwan dan ulama membuat buku sebagai hujah atas usaha-usaha pelihatan Quran sebagai produk budaya dan tidak dianggap sebagai revelasi. Berkenaan dengan itu, beberapa tulisan yang menarik mengenai Quran, teks Quran, dan bagaimana respon para ilmuwan dan ulama yang sadar akan adanya nilai negatif dari penjelasan kodifikasi dan pendekatan (penafsiran) yang dibingkai dalam semangat Orientalisme, Pluralisme, dan Perennialisme telah melahirkan tulisan-tulisan sebagai berikut:

  1. Codex Sana’a – A Quranic Manuscript from Mid-1st Century of Hijra (Islamic Awareness)
  2. Method Against Truth: Orientalism and the Qur’anic Studies (Parvez Manzoor)
  3. Did the Prophet Muhammad Plagiarise Ancient Greek Embriyology? (Hamza Andreas Tzortzis)
  4. The History of Qur’anic Text from Revelation to Compilation: A Comparative Study with The Old and New Testaments (Muhammad Mustafa Al A’zami)
  5. Qur’anic Orthography: The Written Representation of the Recited Text of the Quran (MAS Abdel Haleem)
  6. Misquoting Islam, Forging a Disgraceful Image in the Name of God (Sami Ameri)
  7. Hunting for the Word of God (Sami Ameri)
  8. The Qur’an’s Numerical Miracle: Hoax and Heresy (Abu Ameenah Bilal Philips)
  9. The Bible, The Qur’an, and Science (Maurice Bucaille)
  10. Studies in Hadith Methodology and Literature (Muhammad Mustafa Al A’zami)

Dengan alasan tertentu, tulisan-tulisan seperti “The History and The Compilation of The Quran” karya Tahirul Qadri, “The Compilation of the Text of The Quran” karya John Gilchrist, Conspiracies Against The Quran karya Syed Abdul Wadud, The History of the Quran karya ‘Allamah Abu ‘Abdullah al Zanjani, “What is the Koran” karya Toby Lester, “Truth Unchanged, Text Unchanging” karya Chad VanDixhoorn, Textual Criticism and Qur’an Manuscripts karya Keith Small, dan tulisan-tulisan Arkoun dan Nasr Hamid Abu Zayd yang dijiwai Orientalisme, Pluralisme, Revisionisme, Perennialisme, dan juga Mu’tazilah serta Syiah atau campur aduk dari itu semua.

Isu yang diangkat di dalam beberapa tulisan yang tidak ditoleh sudah dibahas oleh tulisan 1, 2, 3, 4, 5, 6 dan 7. Bentuk bahasan tambahan mengenai tulisan-tulisan yang tidak ditoleh juga sebagian telah dibahas secara daring misalnya di dalam situs mostmerciful.com.

Berita terbaru tentang penemuan manuskrip Quran ‘tertua’ berdasarkan penanggalan karbon di Universitas Birmingham seperti dulu manuskrip Qur’an Sana’a yang ditemukan di salah satu ruang tertutup di masjid tua di Yaman harus disikapi dengan bijak. Manuskrip Sana’a yang sempat digunakan oleh Orientalis untuk mendiskreditkan Islam sudah dijelaskan oleh M.M. A’zami di dalam The History of Qur’anic Text sebagaimana bentuk ringkasannya telah diterbitkan oleh brother Rasheed Gonzales, mualaf keturunan Filipina yang kini menjadi aktivis Islam di Toronto, Kanada, di dalam situs blog pribadinya. Sedangkan untuk manuskrip yang baru saja ditemukan di Universitas Birmingham, penulis dan pendiri ilmfeed.com lewat tulisan ringkasnya yang berjudul “How Does the Earliest Manuscript of the Qur’an Compare to Today’s Qur’an?” menyatakan bahwa manuskrip yang ditulis dalam gaya Hijazi tersebut adalah identikal.

Meskipun demikian perlu dicatat bahwa uji penanggalan karbon kini diketahui memiliki masalah pada keakuratannya sebagaimana gugatan ini digaungkan oleh kaum kreasionis (lih. mis. Professor Walter J. Veith dari Cape Town University dan Dr. Gerald E. Aardsma seorang ahli fisika nuklir lulusan University of Toronto) dan kemudian mendapatkan ‘angin segar’ dari para ilmuwan yang tidak berafiliasi dengan gerakan kreasionis seperti Bronk Ramsey beserta timnya berbicara mengenai kebutuhan kalibrasi penanggalan karbon yang temuannya diterbitkan di majalah Nature edisi 18 Oktober 2012. Tidak berhenti sampai di situ, isu berkenaan dengan penanggalan karbon juga dikemukakan oleh Alan Zindler, professor di Columbia University, dan Heather Graven, seorang peneliti di Imperial College London.

Manuskrip yang ditemukan di tumpukan manuskrip Birmingham University boleh saja diklaim sebagai manuskrip yang kuno namun mengingat penanggalan karbon tidaklah mesti sangat presisi maka sikap berhati-hati menanggapi temuan ini adalah penting. Pun, yang diuji dari manuskrip itu kan usia dari perkamennya bukan kapan tulisan itu ditorehkan ke atas perkamen itu. Bisa saja sebuah perkamen baru dipakai untuk menulis beberapa waktu lamanya dari masa produksinya. Selidik lain belum bicara masalah siapa yang menuliskan teks itu ke atas perkamen itu serta otoritas kepenulisannya. Mengenai hal ini ada tulisan yang menarik, meski harus dibaca secara hati-hati, dari akademisi George Washington University, Dr. Jonathan Brown yang berjudul “How should a rationalist deal with dogmatism? The case of the Birmingham Quran pages”.

Terkait dengan temuan manuskrip kuno di University of Birmingham juga manuskrip kuno yang sebelumnya ‘ditemukan’ di University of Tubingen Jerman kemudian juga manuskrip Sana’a (Yaman), atau manuskrip di mana saja, hal yang perlu diperhatikan seperti nasehat Syaikh Ayman Suwayd adalah:

The Islamic way of authentication is different from the western way of authentication. The carbon test authenticates the time and the copy but not the content. In order to authenticate the content we need to answer two questions: 1.) Who wrote the copy? If the scribe was unknown we don’t consider the copy, he might be an ignorant scribe who wrote it. 2.) From where did he write it? Unless it was relying on an authentic copy we can’t consider it authentic.

So if we have any differences from the new copy against the authentic Quran which we have, we won’t consider it at all. So don’t let the orientalists shake your faith if any differences were discovered, because we can’t accept any copy because of its age, it has to comply the rules of authenticity of our scholars not the westerner scholars. The authenticity of the scribe and the authenticity of his source of dictation are two pillars in this process. Even the companion Zaid bin Thabit has to respond to these two question[s]. When he was appointed to compile the Quran, he was the most reliable person to do that by the recommendation of the prophet peace be upon him. Zaid asked for all the written documents and he asked for witnesses to confirm that it has been written in front of the prophet peace be upon him. So don’t be overwhelmed by this oldest copy of the Quran that much.”

Memahami bagaimana sebuah kisah diceritakan dan dengan angle (sudut pandang) mana diambil adalah penting ketika kita berusaha memahami sesuatu. Kisah manuskrip kuno dan penafsirannya jika memakai sudut pandang kodifikasi Quran sebagaimana terceritakan di dalam tradisi Muslim seperti nasehat Syaikh Ayman Suwayd akan berbeda dengan gaya yang dipakai oleh Orientalis, Liberalis, Perennialis, maupun Syiah.

Kita tahu bahwa kisah sejarah Islam, bukan melulu terkait dengan manuskrip saja, menurut tradisi Islam dengan tradisi Orientalis, Liberalis, Perennialis, maupun Syiah akan berbeda. Ambil contoh bagaimana kisah hidup para sahabat r.a. jika dituturkan dengan gaya Orientalis dan mencampuradukkan dengan literatur sejarah dari Sunni dan Syiah di dalam buku The Heirs of the Prophet Muhammad karya Barnaby Rogerson mendapatkan kritikan halus dari Professor Reza Aslan dari University of California.

Menjadi objektif dan adil bukan selalu semua versi diterima untuk dipercaya bukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s