Home » Selected Contemplation » Ideologi, Ideologi Antiperbedaan, dan Ironi

Ideologi, Ideologi Antiperbedaan, dan Ironi

Sampai sejauh manakah kita bisa mengklaim dengan sah, legit, bahwa sebuah ideologi tidak memberikan ruang bagi perbedaan?

Jawaban atas pertanyaan itu sulit.

Di dalam kontestasi ideologi, sebuah hegemoni atau ideologi yang dominan (baca: sedang berkuasa) meniscayakan praktik opresi saat ada ideologi lain yang berbahaya mengancam penjungkalan kekuasaan.

Misalnya saja bisa kita rujuk kepada kisah Sukarno. Konon Sukarno dulu dijungkalkan dari tampuk kepresidenan ketika gerakan antinekolimnya dianggap membuka jalan lebih lebar bagi komunisme yang sudah mulai membesar di daerah Indochina. Inggris dengan kapitalis imperialisme yang bercokol di semenanjung melayu ketar-ketir jika keterjepitannya di utara dan kelak di selatan (Indonesia) akan benar-benar membuatnya terjungkal dari semenanjung Melayu. Inggris mulai khawatir bagaimana komunisme mulai membesar di utara dan selatan daerah kekuasaannya (Malaysia dan Singapura).

Kekhawatiran itulah yang membuat tokoh seperti Norman Reddaway muncul. Dengan operasi intelijennya dan uang segepok dari MI6 serta dukungan intelijen dari CIA, konon terjadilah operasi intelijen merusak nama Sukarno di dalam negeri (Indonesia) dan pencarian kandidat rekan usaha pelemahan Sukarno dari dalam Indonesia.

Hal seperti ini mengingatkan pula kita pada film “Green Zone”. Di dalam film yang dilakoni Matt Damon ini, langkah intelijen dan kemudian militer ala negara adidaya di dalam melemahkan sebuah negara bisa kita pelajari.

Kisah ideologi yang terancam sehingga butuh langkah ekstrem juga kini konon sedang dilakukan oleh Iran. Iran dalam posisi yang berat. Berharap “mediasi” Amerika Serikat saja di dalam menjaga kisah keseimbangan Islam [Sunni] (poros Arab Saudi) – Syiah (poros Iran) – Yahudi (Israel) di Timur Tengah saja tidak mencukupi.

Bagaimana tidak? Irak sudah mulai dikuasai Sunni dan konon dari garis keras. Sunni garis keras ini menyebut diri mereka Daulah Islamiyyah atau Barat menyebutnya IS (dulu awalnya ISIL, ISIS, lalu IS). Suriah sudah ada sebagian wilayah mulai jatuh. Meskipun Sunni menyangkal ke-Sunni-an IS namun Syiah berhak merasa meradang. IS ini menggoyang pemerintahan Syiah di Irak yang sebelumnya lama dipegang Sunni lewat Saddam Hussein. Syiah lumayan banyak pemeluknya di Irak dan euforia jatuhnya Saddam Hussein lewat operasi militer Amerika Serikat menjungkalkan Saddam Hussein sehingga Syiah bisa mulai ambil kekuasaan di Irak mendadak terganggu oleh munculnya IS.

IS ini juga mulai bergerak merangsek ke utara ke sebagian wilayah Suriah. Kita tahu bersama bahwa Suriah yang mayoritas Sunni dipimpin oleh Bashar al Assad seorang Syiah Alawite minoritas yang secara ideologis-teologis merupakan sekutu dekat Iran. “Perang saudara” yang kini sedang terjadi di Suriah menghadirkan kepentingan dan menunjukkan ketakutan Iran. Kini Suriah di beberapa daerah digerogoti oleh tidak hanya pergerakan IS dari Irak ke utara -wilayah Suriah- tetapi juga mulai membesarnya gerakan separatisme di sebagian wilayah Suriah. Rezim Bashar al Assad saking jengkelnya menangani kekacauan di sebagian wilayahnya sampai nekad memakai senjata kimia untuk melawan para “pemberontak”.

Amerika Serikat sendiri di dalam posisi membingungkan untuk masalah Suriah. Secara garis besar, Amerika Serikat butuh tetap adanya perimbangan kekuatan agama Islam (Sunni) dengan agama Syiah di Timur Tengah. Di dalam melihat rezim Bashar al Assad, Amerika Serikat mempunyai dilema yang tidak dimiliki oleh Iran.

Bashar al Assad, seorang kepala negara dinasti Syiah Alawite yang lama memimpin Suriah yang mayoritas Islam, disebut oleh dunia internasional sebagai rezim yang keji sehingga Amerika Serikat tidak mungkin membelanya. Amerika Serikat tetap butuh adanya Syiah yang kuat di Timur Tengah sebagai penyeimbang Islam (Sunni) namun Amerika Serikat tidak bisa mendukung Bashar al Assad yang otoriter. Bashar al Assad boleh jatuh namun Syiah jangan jatuh di Suriah, kurang lebih begitu jika melihat kebijakan pemerintahan Amerika Serikat di Suriah. Amerika Serikat punya pandangan bahwa jika rezim Bashar al Assad misalnya harus turun maka itu urusan nanti karena prioritasnya kini adalah memukul mundur IS.

Sikap setengah-setengah Amerika Serikat ini berbeda dengan kepentingan Iran menyikapi Bashar al Assad. Iran butuh Bashar al Assad di dalam menjaga pengaruh dan kekuasaan Syiah di Suriah. Oleh sebab itulah tidaklah mengherankan jikalau Iran dan aktivis pro-Iran akan mati-matian membuat klaim mengenai ketidakterlalubersalahan dan otoriternya Bashar al Assad di dalam memimpin Suriah sebagai perang psikologis. Di dalam aspek bantuan militer, Iran jor-joran memberi bantuan kepada pemerintahan Bashar al Assad di dalam memerangi tidak hanya IS [yang ditolak ke-Sunni-annya oleh sebagian besar Sunni] namun juga pemberontak Kurdi [yang bergerak memberontak karena isu etnis kekurdian, lihat juga gerakan Kurdi di Irak utara] dan gerakan resistensi terhadap rezim Bashar al Assad yang digalang oleh kombatan Sunni [sebut misalnya kelompok Jabhat al Nusra]. Awalnya kisah Suriah adalah perlawanan melawan rezim Bashar al Assad yang lebih dimulai karena pemerintahan otoriter namun dalam perkembangannya perlawanan itu menjurus kepada perang sektarian, etnis, dan lalu melibatkan negara-negara yang berkepentingan dengan narasi klasik mengenai Timur Tengah.

Yang pasti, Amerika Serikat tak ingin Suriah jatuh ke IS atau Jabhat al Nusra yang dianggap sebagai Islam (Sunni) radikal tapi juga ragu-ragu dan berisiko untuk tetap mempercayai Bashar al Assad. Tidak bisa tetap mendukung Bassar al Assad tetapi Amerika Serikat juga tak ingin pemerintahan Suriah jatuh ke tangan Islam (Sunni) yang radikal. Pemerintahan yang jatuh, apalagi kalau jatuh ke tangan IS atau Jabhat al Nusra, tidak baik bagi mereka di dalam menjaga kisah Islam – Syiah – Yahudi di Timur Tengah. Belum lagi jika misalnya Suriah jatuh ke tangan Sunni yang anti-Amerika Serikat maka Amerika Serikat yang sudah ngos-ngosan terlalu aktif melawan Sunni yang anti-Amerika Serikat di Afghanistan, Irak, dan Yaman, akan kian buruk neraca keuangannya dan meleset perkiraan awal mengenai pencapaian pemenuhan kebutuhan minyak dari negara-negara yang mau kooperatif di Timur Tengah.

Jadi kisah perang Suriah seakan Iran bersendirian. Di negara-negara tetangga, sekutu Syiah mereka sudah mulai kedodoran dan mengharapkan main mata Amerika Serikat di dalam kisah proksi Timur Tengah tidaklah semulus dahulu. Belum lagi “ancaman” dari dalam negeri mereka. Di dalam negeri mereka, Iran pun berusaha mengurangi ancaman ideologi yang berseberangan dengan ideologi resmi teokrasi mereka. Tindakan ekstrem kemudian menjadi terpaksa dilakukan terhadap “musuh negara” yang berseberangan ideologi.

Dunia oh dunia. Kekuasaan dan hegemoni adalah kadang menjadi dasar untuk opresi atau tindakan lain yang tak bisa kita bayangkan saat kita asyik mendengar dendang berjudul “Sleeping Child” dari MLTR. Tidak ada ideologi yang terbuka dan moderat terhadap ideologi lain yang mulai muncul menguat di permukaan. Jikalau mengatakan misalnya Amerika Serikat memiliki ideologi yang benar-benar terbuka dan menerima perbedaan, mungkin saatnya kita membaca buku karya Robert P. Saldin yang berjudul War, the American State, and Politics since 1898. Amerika Serikat selama umur negaranya selalu dalam perang melawan ideologi yang bisa mengancam ideologi mereka. Di dalam bukunya, Saldin berbicara mengenai foreign wars  dan sudah menjadi rahasia umum bagaimana Amerika Serikat menjaga kepentingan negara dan ideologinya di dunia dengan cara berperang di hot wars di negara-negara lain. Jika hendak menafikan itu, mengapa Samuel Huntington sampai iseng membuat buku berjudul The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order? Ideologi saling bersaing baik terbuka maupun lewat proksi-proksi.

Tapi kalau kemudian kita menyalahkan ideologi atau agama serupa John Lennon yang mengiba ajak semua untuk membayangkan dunia tanpa agama tanpa negara yang kasarnya bisa kita bilang “dunia tanpa ideologi,” John Lennon ini mungkin alpa bahwa justru tanpa itu dunia bisa jadi kian kacau. Mengapa bisa jadi? Meminjam istilah Thomas Paine, negara adalah semacam entitas yang diperlukan meski dalam kondisi terburuk bisa malah menjadi agen penindasan dan merupakan sebuah ironi jika negara itu tidak ada. Tidak ada negara yang “betul-betul” baik. Namun jika negara tidak ada maka chaos terjadi dan yang lemah rentan tertindas. Negara memang tak bisa menjamin bahwa yang lemah selalu terjaga tapi tanpa peran negara keadaan justru bisa lebih parah.

Oleh sebab itulah John Lennon mengajak kita “membayangkan” saja. Membayangkan itu tidak harus rasional dan praktis diterapkan. Sebagaimana Marx yang seorang pemabuk dan perokok berat berseloroh serius mengenai agama serupa candu bagi masyarakat yang sering disalahartikan sebagai “opium/candu” padahal ia merujuk pada pemberi ketenangan dan impian delusional bagi pengurang pertentangan kelas. Di satu sisi ia seakan-akan “rasional”. Tapi di sisi lain, ideologi Marxisme yang muncul dari pemikirannya justru menjadi candu yang lain bagi pengikutnya.

Benar juga bahwa Marxisme yang “merasionalkan” munculnya ideologi atau agama lewat pertentangan kelas adalah populer dan inspiratif bagi para buruh untuk menyadari ‘realita dunia’ dan bersolidaritas di antara mereka namun ironis juga saat kita tahu bagaimana Marx hidup sebagai pemabuk yang kasar dan arogan, sering bermasalah dengan orang lain, dan ia juga seorang majikan yang tak peduli dengan kesejahteraan anak buahnya.

Tidak berhenti sampai di situ, beberapa negara yang mengaku mendasari cita-citanya berdasar Marxisme —konon tentu saja kecuali Kuba— justru dalam praktiknya kemudian busuk kepada para buruh walaupun sebagian akademisi Marxis melihat Marxisme konon tetap dibutuhkan sebagai oposan dari kapitalisme yang memeras para buruh (cf. Michael Burawoy, “Marxism is Dead, Long Live Marxism!”, Socialist Review 1990, 90 (2): 7-19) atau pandangan dari Russel Means, seorang tokoh pergerakan suku bangsa Indian, yang di dalam pidatonya “For America to Live, Europe Must Die” menunjukkan bahwa pemikiran Marx tak lepas dari respon kesituasian dari kehidupan di Barat pada abad 19 dan tidak membumi pada semua keadaan dan kebudayaan. Dan kegegapgempitaan untuk seakan menjadi ‘modern’ dengan berpikir ala Marx serta hal lainnya tentang Karl Marx dan Marxisme misalnya dapat kita temukan lubang dan ironinya, misal, di dalam buku karya George Fabian, Karl Marx – Prince of Darkness atau buku berjudul Intelectualls karya Paul Johnson.

Misal saja ada fakta yang menarik mengenai Marx. Bahwa ia lebih suka kumpul dengan kalangan menengah pemikir dibandingkan bergumul dengan kaum pekerja. Sesuatu yang mungkin banyak Marxis ‘tulen’ tidak ketahui.

What is even more striking is Marx’s hostility to fellow revolutionaries who had such experience-that is, working men who had become politically conscious. He met such people for the first time only in 1845, when he paid a brief visit to London, and attended a meeting of the German Workers’ Education Society. He did not like what he saw. These men were mostly skilled workers, watchmakers, printers, shoemakers; their leader was a forester. They were self-educated, disciplined, solemn, well-mannered, very anti-bohemian, anxious to transform society but moderate about the practical steps to this end. They did not share Marx’s apocalyptic visions and, above all, they did not talk his academic jargon. He  viewed them with contempt: revolutionary cannon-fodder, no more. Marx always preferred to associate with middle-class intellectuals like himself (Intellectuals, hlm. 60-61).

Ideology by Andrew Parks (Credit Pic: gamersalliance.com)

“Ideology” by Andrew Parks (Credit Pic: gamersalliance.com)

Balik kepada menahbiskan sebuah ideologi sebagai ideologi yang sangat pasifis dan toleran kepada ideologi lain, maka pernyataan ini bisa disebut ironis kalaupun ada dipilih satu klaim sebab sebuah ideologi akan mulai resisten ketika ideologi “yang lain” mulai berkembang dan kuat. Dan sejarah memang menunjukkan demikian. Bahkan, pemahaman ini memunculkan strategy game yang diciptakan oleh Andrew Parks dengan nama “Ideology”. Tertarik bermain? Apakah ideologimu?

Referen Tambahan Mengenai Kehidupan Karl Marx

  1. David Mikics. 18 Juni 2013. “Karl Marx: The Greatest Intellectual Fraud of the 19th and 20th Centuries.” tabletmag.com.
  2. Jim Eckman. 15 Oktober 2011. “The Tragedy of Karl Marx.” Issues in Perspective.
  3. Louis O. Kelso. Maret 1957. “Karl Marx: The Almost Capitalist.” American Bar Association Journal diakses dari Center for Economic and Social Justice.
  4. George Jochnowitz. Juli/Agustus 2000. “Ecuses, Excuses.” Midstream diakses dari Jochnowitz.net.
  5. Troy Jollimore. 19 September 2011. “The Private Life of Karl Marx.” Salon.com
  6. BBC Learning English – Moving Words. “Karl Marx.”
  7. Stefan Molyneux. 11 Januari 2014. “The Truth about Karl Marx.” YouTube.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s