Home » Selected Contemplation » Selip Lidah Obama dan Freudian Slip

Selip Lidah Obama dan Freudian Slip

Kapan hari barusan, Obama terselip lidah. Dia bilang dalam selip lidahnya itu seakan-akan Amerika Serikat-lah yang melatih ISIL. Dari selip lidah Obama, beberapa orang menyimpulkan bahwa ada sebuah fakta yang ‘ketrucut‘ (Jw.) atau kelepasan terkuaknya kalau Amerika Serikat akan mempercepat pelatihan atas ISIL [ISIS]. Masalahnya adalah, Obama bukan hanya sekali ini saja tergelincir lidahnya. Sudah beberapa kali Obama terselip lidah di hadapan publik, baik saat wawancara maupun saat memberi pidato.

Pernah ia terselip lidah mengatakan “my muslim faith“. Sebelumnya juga ia terselip lidahnya mengatakan bahwa ia bukan seorang American. Begitu juga ia pernah beberapa kali mengucapkan kalimat yang membingungkan. Benar, ia adalah orator yang tenang dan bagus namun ia juga bisa mengalami selip lidah. Selip lidah tidak hanya terjadi pada Obama saja. Contoh lain adalah ‘sexback‘-nya Bush. Siapa bisa menafikan kepiawaian pidato Bush? Pun, Bush bisa mengalami selip lidah. Contoh lainnya seorang komentator TV di Amerika yang selip lidah mengatakan “Now Obama is dead” padahal maksudnya adalah “Now Osama is dead“.

Fenomena selip lidah di dalam psikologi “bisa dikaitkan” dengan Freudian slip. Sigmund Freud menelurkan teorinya berkat observasinya atas percakapan Nyonya X dengan Tuan Y. Di dalam percakapan antara Nyonya X dan Tuan Y, Freud mendapati gelincir lidah pengucapan ‘cultivate‘ dengan ‘cuptivate‘ [captivate] dan kemudian Freud menyimpulkan bahwa secara bawah sadar di antara X dan Y ada hambatan ekspresi seksual yang keluar lewat kesalahan mengucapkan kata yang seharusnya.

Well, banyak teori Freud yang kini tidak dipakai lagi. Freud sebagai bapak psikoanalisis memang dianggap berhasil mengembangkan ilmu psikologi yang berusaha menafsirkan segala sesuatunya berdasar: kemungkinan adanya supresi bawah sadar akan dorongan seks. Teori-teori Freud awalnya selalu lari ke sana meskipun di dalam pengembangannya tidak semuanya melulu ke seks; ia kemudian kadang membuat analisis kepada supresi keinginan bawah sadar. Secara umum, adagium psikoanalisis Freudian mengatakan bahwa semua penyakit jiwa muncul karena supresi kehendak atau kebenaran bawah sadar.

Apakah Freud selalu benar? Tidak. Banyak teori Freud, tidak lagi seratus persen dianggap benar dan atau dipakai [baca: usang]. Meski demikian Freud di bidang psikoanalisis tetap dianggap punya jasa besar. Freud-lah yang memprovokasi analisis kejiwaan dengan membuat kaidah telisik lewat alam bawah sadar. Letak peran Freud di dalam ilmu psikologi khususnya psikoanalisis adalah sumbangsih revolusionernya di dalam kajian ilmu jiwa. Namun ya tadi, tidak semua dari Freud masih dipakai di psikologi modern. Sebagai contoh, beberapa psikolog penggugat pendekatan Freudian menunjukkan bukti bahwa Freud menyembunyikan kegagalannya menyembuhkan beberapa pasien yang datang kepadanya. Freud di dalam kertas kerjanya hanya menonjolkan bahwa metodenya ‘seakan-akan’ sangat berhasil. Sangat berhasil adalah debatable namun apa yang dilakukan dan dikampanyekan Freud adalah sebuah breakthrough atau terobosan dan kemudian pelan tapi pasti memiliki keberterimaan di cabang baru psikologi yang saat itu mandeg di tengah jalan; psikoanalisis. Itu saat itu dan bukan masa kini (cf. Unauthorized Freud: Doubters Confront a Legend).

Kalau merujuk kepada Freudian slip, salah satu istilah psikoanalisis ala Sigmund Freud, keraguan atas mutlak kesahihannya oleh para ahli psikologi dan psikolinguistik juga terjadi. Freudian slip memang merupakan ‘perspektif baru fenomenal’ di dalam memahami linguistik kognitif; psikolinguistik. Freud di dalam analisisnya mengenai percakapan X dan Y menyulut perspektif baru mengenai produksi tuturan dan alam bawah sadar. Walaupun demikian, Freudian slip di dalam perkembangan kajian linguistik kognitif tidak dipakai lagi kecuali sebagai ‘bagian dari sejarah teori memahami produksi tuturan’.

Banyak ahli di dalam riset yang lebih ilmiah dan terkini menyimpulkan hal yang lain berkenaan dengan selip lidah. Profesor Gary Dell, ahli di bidang linguistik dan psikologi dari University of Illinois at Urbana menyatakan bahwa teori Freudian slip adalah tidak ilmiah. Ia malah merujuk fenomena selip lidah sebagai kompetisi antar-noda di dalam otak kita. Kadang ketika jejaring di dalam produksi tuturan kita begitu sibuk maka selip lidah sangat besar terjadi. Tidak ada bukti ilmiah bahwa selip lidah adalah selalu apa yang disembunyikan sebagai kebenaran di alam bawah sadar atau semisalnya ada supresi dorongan seksual.

Pendapat hampir senada dikatakan oleh Rudolf Meringer, seorang filologis. Meringer percaya bahwa selip lidah sangat bisa terjadi di dalam produksi tuturan dan ia tidak memegang teori Freudian slip. Ia menyatakan bahwa kajian terbaru menunjukkan produksi tuturan bisa mengalami ‘blunder’. Tiap orang bisa ‘blunder’ di dalam memproduksi kalimat dan itu wajar.

Daniel Wegner, psikolog di Harvard University, selip lidah bisa terjadi saat benak kita mengalami kekacauan. Bahkan ia terang-terangan menolak kesahihan metodologi dan analisis yang dipakai Freud di dalam memunculkan teorinya mengenai selip lidah. Tidak hanya Wegner, Michael Motley dari University of California juga tidak sepakat dengan Freudian slip.

Menarik adalah pendapat Jack Schafer, seorang agen khusus FBI yang punya keahlian di bidang interogasi. Ia tidak bicara mengenai Freudian slip. Ia lebih bicara bagaimana seseorang bisa memproduksi tuturan yang tidak tepat. Faktor-faktor seperti niatan bohong, konsumsi alkohol, faktor usia, dan kecapekan. Ya, kecapekan sangat bisa membuat kerja noda di dalam otak di dalam produksi tuturan kadang tidak sinkron antara maksud sebenar dengan yang terucapkan. Hal yang beginian mengingatkan kita pada serial fiksi ilmiah televisi Barat, Lie To Me atau serial detektif Jepang, Galileo. Di dalam Lie To Me dan Galileo, seseorang yang diwawancarai kadang mengalami gagap bicara, selip lidah, dan hal lainnya yang kompleks dan tidak melulu dibuat kesimpulan ala Freudian slip.

Di dalam buku Um…Slips, Stumbles, and Verbal Blunders and What They Mean, Michael Erard menyingkap bahwa kurang tidur [dan banyak pikiran] bisa membuat seseorang keseringan membuat malapropisme: ujaran yang mirip hurufnya dan bertukaran. Malapropisme membuat seseorang bisa tampak konyol. Tapi menurut Motley, malapropisme dan selip lidah secara umum tidak usah terlalu dikhawatirkan. Setiap orang bisa kena selip lidah. Setiap orang bisa membuat ujaran yang tidak pas atau kalimat yang tidak pas sesuai keinginan. Itu manusiawi.

Cartoon by Nicholson from “The Australian” newspaper: www.nicholsoncartoons.com.au

Cartoon by Nicholson from “The Australian” newspaper: http://www.nicholsoncartoons.com.au

Saya teringat bagaimana adik saya Pijar Wirapermana Suyitno​ pernah mengalami malapropisme ketika mengatakan “cedera engsel”. Waktu itu saya dan beberapa orang lainnya tertawa. Kami mengatakan: “yang bener adalah ‘cedera engkel'”. Saya waktu itu tidak sadar bahwa selip lidah pada Pijar besar kemungkinan karena ia dalam kondisi kurang tidur. Kurang tidur, karena kebiasaannya waktu itu suka begadang, sangat berpotensi membuatnya kena selip lidah dan itu wajar. Saya khilaf karena tertawa saya ternyata tidak pas tempat. Tertawa saya adalah tidak elok, semacam bully, mockery. Tidak layak. Saya minta maaf pada Pijar lewat tulisan ini.

Jadi sekali lagi, selip lidah adalah normal dan tidak pas untuk dikatakan sebagai exact ‘penyampaian kebenaran yang disimpan di alam bawah sadar’. Jangan kemudian langsung membuat kesimpulan bahwa selip lidah adalah ‘singkapan dari apa yang disembunyikan di alam bawah sadar’. Pembuatan simpulan seperti ini bisa berbahaya.

Obama selip lidah mengenai ISIL [ISIS] belum tentu benar. Ingat bahwa banyak versi mengenai ISIS dan semuanya simpang siur. Lebih baik tidak mengomentari mengenai ISIS karena banyak sumber ‘yang bisa disebut kredibel’ mempunyai versi yang berbeda-beda mengenai ISIS. Ada yang bilang ISIS beginilah atau begitulah sedangkan di situs-situs resmi mereka, ISIS mengatakan beginu. Jadi semua simpang siur mending tidak terombang-ambing membuat persepsi atau penyimpulan kepada sesuatu yang syubhat; yang samar. Jika setia pada sikap dan kebijakan pemerintah Amerika Serikat mengenai ISIS -yang sekarang ganti nama menjadi IS saja- maka kemungkinan maksud Obama adalah pemerintahnya akan mempercepat pelatihan rekrutan dari Syiria untuk melawan ISIS sebagaimana berita di awal Juli 2015 menteri pertahanan Amerika Serikat, Ash Carter, nyatakan demikian. Lepas dari beberapa versi yang ada tentang ISIS, karena perkara ISIS ini ‘samar’ bagi awam seperti kita maka mendingan kita tawaqquf saja; mendiamkan dulu sehingga jelas ada bukti yang bisa mengarahkan kepada kesimpulan yang kuat.

Dan masih terkait dengan Freudian slip -jika tetap mau memakai frame analisis Freudian- mungkin kalau mau iseng bisa dipakai untuk analisis atas keseringan keliru ketik surat atau tanda tangan yang dilakukan staf dan pejabat di sebuah negara tetangga Singapura. Juga bisa saja kalau mau iseng dipakai untuk menganalisis kicau twitter dosen ilmu komunikasi yang culun di negara yang sama. Barangkali mereka kurang tidur atau terlalu banyak pressure atas diri mereka. Atau mungkin saja ada hambatan menyalurkan keinginan bawah sadar kebutuhan seksual mereka. Itu kalau mau iseng menganalisis. Iseng yang sia-sia tiada guna.

Demikian.
.
.
.
.
.

Rujukan:

1. http://joeforamerica.com/2014/10/obamas-slip-tongue-admits-american-kenyan-born/#
2. http://www.washingtontimes.com/news/2008/sep/07/obama-verbal-slip-fuels-his-critics/?page=all
3. https://www.psychologytoday.com/articles/201203/slips-the-tongue
4. http://www.amazon.com/Unauthorized-Freud-Doubters-Confront-Legend/dp/0670872210
5. http://shoutussalam.org/
6. https://www.middleeastmonitor.com/articles/middle-east/13675-who-is-behind-isis
7. http://www.counterpunch.org/2014/06/17/who-is-behind-isis/
8. http://www.globalresearch.ca/going-after-the-islamic-state/5401439
9. http://rt.com/usa/272284-carter-syrian-rebels-training/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s