Home » Selected Contemplation » Salaf (Wahhabi) Membantah Argumen dari Kaum Takfiiriyyuun

Salaf (Wahhabi) Membantah Argumen dari Kaum Takfiiriyyuun

Tulisan ini adalah gabungan dari tiga tulisan yang disalin tempel dari laman blog Abu Al-Jauzaa’. Perangkaian tiga tulisan ini mengikuti kaidah fair use. Tiga tulisan yang dirangkai ini memiliki judul secara terpisah sebagai berikut: 1) Shahih Atsar Ibnu ‘Abbas: Kufrun Duuna Kufrin – Menjawab Sebagian Syubhat Takfiiriyyuun, 2) Menyikapi Penguasa yang Dhalim, 3) Perkataan Asy-Syaikh Ahmad Syaakir dan Asy-Syaikh Mahmuud Syaakir tentang Berhukum Selain Hukum Allah. Inisiatif penerbitan ulang tulisan dari Ustad Abu Al Jauzaa’ di dalam blog ini sebagai pemberi pandangan yang berimbang kepada awam mengenai Wahhabi dan mitos yang beredar mengenainya.

Selama ini tersebar di media massa dan dunia maya bahwa Wahhabi adalah gerakan keislaman yang mengajarkan kekerasan, intoleransi, tidak memakai dalil dengan benar, dan takfir serampangan. Bahkan diseminasi pandangan bahwa Wahhabi adalah ajaran kekerasan dan pertikaian begitu blatant-nya sehingga pernah salah satu tokoh intelektual Indonesia pernah menuliskan pandangan yang keliru ini. Sebenarnya, istilah Wahhabi sendiri adalah istilah yang kerap dipakai dengan definisi yang sangat bebas tergantung agenda politik yang dihendaki sebagaimana dibahas oleh Roger Hardy, seorang analis Timur Tengah, dalam artikel BBC berjudul “Analysis: Inside Wahhabi Islam”. Buku menarik yang membahas mitos-mitos di seputar Wahhabi yang disebarkan Orientalis, Syiah, dan beberapa yang alergi dengan isu puritanisme misalnya adalah The Wahhabi Myth: Dispelling Prevalent Fallacies and the Fictitious Link karya Haneef James Oliver.

Awam juga kadang terbuat rancu mengenai kemonolitan [baca: ketunggalan pemikiran dan gerakan] gerakan keislaman serta keadaan kacau balau politik di negara-negara Timur Tengah. Di Timur Tengah sendiri beberapa pergerakan keislaman bermunculan setelah ‘imperialisme Barat’ masuk dan mengobrak-abrik dan kemudian memperkenalkan ide-ide baru mengenai negara modern, partai, nasionalisme, dan gaya politik Barat di Timur Tengah. Jika membaca paper tulisan Are Knudsen “Political Islam in the Middle East” memang nampak seolah-olah tidak ada peran Barat di dalam kemunculan gerakan-gerakan Islam yang sifatnya politis di Timur Tengah bersebab masuknya Barat. Seolah-olah karena narasi yang dimunculkan oleh Are Knudsen menghilangkan ‘peran Barat’ di sana. Kita bisa melihat misalnya bagaimana gerakan Wahhabi muncul bersamaan dengan peran Inggris di kesultanan Turki Utsmani yang mulai goyah dan praktik puritanisme Islam mulai lekang oleh hal-hal dari luar core Islam, begitu juga kita harus menyadari bagaimana Ikhwanul Muslimin muncul bersamaan dengan pengaruh Inggris di Mesir. Begitu juga kita bisa melihat bagaimana Hizbut Tahrir muncul di Yerusalem pada era 50-an selepas melihat bagaimana Barat menganakemaskan Israel di dalam konflik di Palestina sedangkan kekhalifahan sudah tiada lagi. Ketiga gerakan resistensi ini berpandangan pan-Islam; memiliki keinginan menyatukan semua muslim di seluruh dunia di dalam satu wadah. Juga perlu ditambahkan bahwa antara Wahhabi, Ikhwanul Muslimin, dan Hizbut Tahrir selain mempunyai latar belakang yang berbeda juga memiliki perbedaan pandangan di dalam berdakwah sehingga di antara ketiganya hingga kini banyak sekali perbedaan pendapat (baca lebih lanjut buku The Many Faces of Political Islam: Religion and Politics in the Muslim World).

Sedikit berbeda memang jika berbicara mengenai Hezbollah yang muncul di Lebanon berkat endorsement Syiah Iran bersebab Israel merangsek ke daerah Lebanon di mana Syiah-nya begitu kuat. Hezbollah dari sisi lingkup gerakan -bukan teologi- mirip Hamas. Hamas muncul dari resistensi atas pendudukan Israel terhadap tanah-tanah Palestina. Hezbollah dan Hamas hanya concern di wilayah mereka saja, Lebanon dan Palestina. Jadi ada gerakan yang sifatnya pan-Islam dan ada gerakan yang sifatnya lokal saja. Bicara Hezbollah dan Hamas itu belum berbicara mengenai pergerakan Islam lainnya yang sifatnya lokal di beberapa wilayah di Timur Tengah (misal Sufisme) dan gerakan-gerakan lain yang mengkombinasikan Islam dan nasionalisme semisal di Irak dan Suriah. Ambil singkat, pergerakan Islam maupun pergerakan Syiah di Timur Tengah tidaklah bisa dibaca dan dipahami dengan sekali duduk.

Saya sendiri pernah mendapati seorang yang merupakan aktivis ormas keislaman yang besar di Indonesia menganggap bahwa semua yang di Arab selain dari Iran adalah Wahhabi. Dus, dengan pandangannya yang seperti itu seolah-olah kekompleksan kisah pergerakan Islam di Timur Tengah hanyalah kisah dua hal: Wahhabi versus Syiah [bandingkan pandangan ini dengan pandangan kemonolitan gerakan Islam di Timur Tengah pada paragraf sebelumnya dan perlu pula dicatat bahwa mayoritas Ulama Sunni menolak keras beberapa sekte Syiah dengan keras dan menyebutnya ‘bukan (lagi) bagian dari Islam]. Begitu juga pandangan serampangan dan ngawur mengenai Islam di Timur Tengah adalah Wahhabi* dan Syiahnya Iran saja ini dipegang oleh salah satu tokoh pekabar lintas agama di Jawa yang kontroversial karena terlalu sering mengisi khotbah di tempat ibadah agama lain. So sad but true.

Timur Tengah adalah kompleks. Banyak kisah di sana. ‘Kisah nyata’ yang tersedia untuk dibaca dan dipelajari lebih panjang dan kompleks daripada kisah 1001 Malam. Bagaimana Islam muncul, kekhalifahan berdiri, lebih dari satu kekhalifahan muncul bersamaan, Turki Ustmani jatuh, Perang Dingin, Revolusi Syiah Iran, kisah debatable mengenai dalang sebenarnya 9/11, dan berlanjut hingga Arab Spring yang semuanya berpengaruh kepada politik dunia justru menunjukkan bahwa Timur Tengah -dunia Arab- adalah wilayah yang seksi dari banyak hal. Memahami politik global adalah penting terutama jika bicara konflik dan kepentingan antarnegara dan tentu dalam konteks ini adalah politik gobal berkelindan dengan Timur Tengah (silakan baca misalnya buku Prisoners of Geography: Ten Maps that Tell You Everything You Know about Global PoliticsCrossroads of War: A Historical Atlas of the Middle East).

Timur Tengah seksi karena ada sejarah Islam, Kristen, Yahudi, dan Zoroastrianisme selain ‘agama-agama’ lainnya. Bisa misalnya kita lihat sejarah Yahudi di dalam perpolitikan dan kenegaraan modern memunculkan negara Israel dengan 75% adalah beragama Yahudi (sisanya Kristen dan Islam), lalu ada Lebanon yang jumlah pemeluk Kristen-nya justru mayoritas (40%) kemudian berturut ada agama Syiah (pemeluk 27 sekian persen) yang memunculkan Hezbollah, dan sedikit Islam (Sunni) yang sekitaran 27% di sana. Zoroastrianisme yang dulu pernah jaya di daerah Persia juga masih kuat di sebagian wilayah Iran. Selain itu ada juga ‘agama’ Yazidis, Mandeanisme, Ishikis serta Druse. Semua agama ini masih ada dan banyak pemeluk di Timur Tengah dan semuanya di dalam sejarah Timur Tengah hingga kini beberapa masih terlibat konflik. Tahu tentang data ini memahamkan kita bahwa penduduk di negara-negara Timur Tengah tidak melulu seratus persen Islam dan tidak melulu yang ‘terlibat konflik’ adalah hanya orang Islam.

Belum lagi kalau berbicara mengenai etnis yang ada di Timur Tengah. Timur Tengah memang benar didominasi oleh etnis Arab. Meskipun demikian, Timur Tengah itu sejatinya memiliki lima etnis utama: Arab, Persian, Turkis, Yahudi, dan Kurdi. Kelima etnis ini jika kita mau ‘adil melihat’ di dalam pembicaraan mengenai konflik maka akan kita dapati bahwa kelima etnik ini semuanya pernah dan sedang terlibat konflik yang terjadi di Timur Tengah. Jadi stigma kekerasan adalah identik dengan Timur Tengah yang Arab adalah pandangan yang tidak tepat.

Timur Tengah seksi juga karena jika menilik sejarah, ia merupakan “daerah tengah” Barat (Yunani, Romawi, ‘Eropa’) dengan dunia Timur (Hindus, Persia dan China) serta Selatan (Punt, Axum, Ghana, Songhai, Mali, Abyssinia (Ethiopia)). Menimbang jalur perdagangan jaman dulu serta posisi geo-politik kini, Timur Tengah itu seksi. Ia terletak di antara Russia dan China dengan ‘Barat’. Timur Tengah juga seksi karena kekayaan minyak bumi dan gas alamnya sungguh luar biasa. Timur Tengah seksi karena ada Islam yang ‘berasal’ dari sana dan Islam sebagai ‘ideologi’ pernah dijadikan sekutu Kapitalisme Barat di dalam melawan Sosialis Komunis Soviet dan China di dalam Perang Dingin. Timur Tengah itu seksi karena kekuatan besar dunia (baca: negara-negara tertentu) menjaga ‘panasnya’ Timur Tengah agar mudah dikontrol di antara tiga proksi utama: Israel, Arab Saudi, dan Iran (cf. Myths, Illusions, and Peace: Finding a New Direction for America in the Middle East). Timur Tengah itu seksi dalam banyak hal. Menjadi ‘wajar’ bilamana konflik sering muncul (baca: diciptakan atau tercipta) di Timur Tengah.

Bicara Timur Tengah yang difokuskan kepada Islam dan karena konflik yang kerap muncul di sana dianggap ekuivalen dengan Islam-nya Timur Tengah adalah tidak tepat. Negara yang sering berkonflik di Timur Tengah tidak melulu konflik membawa panji Islam. Banyak perang di Timur Tengah karena campur baur antara kisah perebutan eksplorasi sumber daya alam dan pemberontakan yang diciptakan untuk memunculkan pemimpin boneka. Banyak hal bisa terjadi di Timur Tengah karena Timur Tengah adalah seksi.

Dan ketika bicara Timur Tengah yang diasosiasikan dengan kata Arab, tidaklah tepat punya pikiran bahwa Arab adalah melulu Arab Saudi. Sebab ada perancuan mengenai “Timur Tengah ekuivalen dengan seringnya konflik ekuivalen dengan Islam ekuivalen dengan Arab ekuivalen dengan Arab Saudi.” Cara berpikir ini adalah keliru.

Patut pula diperhatikan bahwa saat stigma bahwa budaya Arab identik dengan budaya kekerasan dan atau budaya Islam identik dengan kekerasan sudah sirna dari benak kita, ada baiknya juga melihat beberapa negara di Timur Tengah yang ‘relatif steril’ dari perang atau konflik. Marilah kita tengok misalnya Yordania (Islam 92% dan etnis Arab [Badui] 93%), Oman (75% Ibadi dan etnis Arab 73%), Bahrain (70,2% [99,8%] Muslim dan Arab Bahraini 63%), Uni Emirat Arab (Islam 76% dan mayoritas etnis Arab 48%), dan Qatar (Islam 77% dan mayoritas etnis Arab 40%). Kelima negara Timur Tengah ini bisa disebut sebagai tirisan dari keracauan stigma Islam atau Arab di Timur Tengah adalah ternyata tidak identik dengan perang atau konflik. Bisakah misalnya kita mengatakan bahwa Kristen di Amerika Serikat adalah identik dengan kekerasan ketika melihat komposisi demografis agama Amerika Serikat adalah mayoritas Kristen (Protestan 46,5%; Katolik 20,8%) sedangkan bangsa Amerika Serikat [saya menyebutnya bukan etnis Amerika Serikat] sepanjang sejarah pengakuan kebangsaannya berdasarkan riset Zoltan Grossman sejak tahun 1890 hingga 2014 (124 tahun) mengalami masa ‘tidak terlibat konflik atau perang’ hanya selama 12 tahun saja?

Jika bisa disanggah bahwa konflik atau perang yang dilakukan oleh Amerika Serikat, 1. tidak semuanya terjadi di tanah Amerika Serikat, 2. kadang memakai dalih misi perdamaian, 3. perang proksi secara fisik bukan intelejen tidak sama dengan aktif secara militer terjun perang, 4. parlemen tidak menyatakannya sebagai perang resmi, maka tolok ukur ‘suka kekerasan dengan tidak’ kemudian batasannya apa? Atau misalnya pada contoh lain bagaimana semenjak berdirinya Israel yang selalu terjadi perang dan konflik, apakah elegan untuk menuding bahwa Yahudi -sebagai etnis- dan atau Yahudi -sebagai agama- adalah identik dengan kekerasan?

Nah.

Balik lagi mengenai ekuivalensi rancu Islam, Arab [Timur Tengah], dan kekerasan. Ketika bicara mengenai ekuivalensi rancu tersebut, nama yang sekarang sering keluar adalah Wahhabi. Mengenai apa itu Wahhabi serta tuduhan atas Wahhabi serta sanggahannya bisa dirujuk pada tulisan Ustad Abu Al Jauzaa’ yang berjudul “Wahabi – Bani Tamim – Khawaarij – Dajjaal”. Hal lain mengenai Wahhabi adalah penyebaran paham yang keliru bahwa Wahhabi adalah jamaah takfiri dan jamaah takfiri memiliki ciri khas pemakaian istilah bidah di dalam pembicaraan dan praktik keberagamaan mereka.

Masalah dari penyepadanan penggunaan istilah bidah yang asosiatif dengan jamaah takfiri bahwa bidah sendiri merupakan istilah yang ada di dalam Islam. Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, dan MTA, atau bahkan misalnya ulama-ulama Aceh serta NU, juga mengenal istilah bidah dan memakainya di dalam pembicaraan dan praktik keberagamaan; di dalam performing Islam. Jikalau praktik takfiri adalah sama dengan pemakaian istilah bidah maka semua jamaah bisa terkena stempel keliru sebagai jamaah takfiri. Padahal perkara takfir adalah perkara yang serius bagi semua muslim sebagaimana juga diyakini oleh Wahhabi bahkan kepada perkara mereka yang meninggalkan sholat wajib dan juga kepada khawaarij. Menyebut seseorang sebagai ahli bidah bagi Wahhabi tidaklah sama dengan mengkafirkannya dan lantas tidak mau ikut mensholati jenazahnya.

Isu Wahhabi di Indonesia kini sedang begitu panasnya. Praktik puritanisme Wahhabi memang membuat gesekan tidak terelakkan dengan kaum liberal [yang sering mengolok-olok Wahhabi dengan kaum tekstualis sebagaimana Wahhabi memiliki panggilan kepada kaum liberal sebagai kaum neo-mu’tazilah] serta sebagian kaum tradisional [yang sering salah paham mengenai pemakaian istilah bidah di dalam diskursus Wahhabi karena bersinggungan dengan praktik blend in warna lokal ritual mereka sehingga menganggap bahwa istilah bidah dipakai untuk praktik takfir atas diri mereka]. Di dunia internasional, Wahhabi sering dikaitkan secara keliru dengan bom bunuh diri dan aksi terorisme baik Al Qaeda maupun yang terbaru adalah Islamic State sering sebenarnya hanya didasari pada penyimpulan tendensius ketika ada warga Arab Saudi yang terlibat atau memang kesengajaan untuk memberi ‘pembatasan’ kepada pengaruh Arab Saudi di Timur Tengah dan dunia Islam secara umum sehingga stigma ini sengaja dimunculkan. Gesekan yang sedang terjadi dengan Wahhabi itulah yang membuat saya tertarik untuk menampilkan pandangan mereka pada perkara yang sering dikaitkan dengan Wahhabi seumpama istilah-istilah thogut, takfir, dan angkat senjata atau tindak kekerasan terhadap pemerintah. Di dalam tulisan yang dirangkai di bawah ini, Wahhabi membedakan diri mereka terhadap jamaah takfiri khawarij.

Bagi Wahhabi, awam dikacaukan pemahamannya mengenai Wahhabi [sebenarnya mereka ini tidak nyaman disebut Wahhabi] yang distempel sebagai sama dengan khawarij. Bagi pengamat militer dan politik dunia namun kurang menelisik gerakan pemikiran Wahhabi, Wahhabi “ambil gampangnya” diasosiasikan “semua yang berasal dari Arab Saudi” dan “meracau” dalam membuat tudingan bahwa setiap kekerasan yang dilakukan dan atau disponsori oleh warga negara Arab Saudi selalu dikatakan sebagai ulah Wahhabi. Saya pribadi melihatnya pemahaman ini sebagai tidak pas.

Stigmatisasi terhadap Wahhabi besar jadi, menurut saya, terkait dengan banyak hal mulai dari pengaruh ‘perang proksi di Timur Tengah’, persaingan pengaruh politis dan sosial gerakan pan-Islam dengan ‘yang lokal’, bisa juga gelut pengaruh teologi dan politik antara Islam dengan Syiah di Timur Tengah. Oleh sebab itulah kita melihat Barat bisa membuat stigma namun juga bisa bermesraan dengan Wahhabi karena terkait proksi tadi (butuh dekat dengan Sunni tapi butuh konsep pan-Islam diredupkan), kita bisa melihat bagaimana gerakan Islam lokal terkadang galak dengan Wahhabi, serta kita sering mendapati bagaimana Syiah di Iran yang berebut pengaruh mengenai ‘Islam’ dan rebut keunggulan ras dan sejarah antara Persia (Sumeria-Babilonia) dengan Arab (asal Muhammad saw. dan mulainya ‘Islam’) tidak pernah jemu menjaga jarak dengan Wahhabi [juga perhatikan bagaimana pan-Islam lain dari Sunni distempel dan diperlakukan sama] dan etnis Arab (untuk pemahaman lebih lanjut mengenai apa yang terjadi di dalam negara Iran bisa dibaca misalnya buku Persian Pride: From the Dungeons of Iran to Dinner with the US President oleh Kurosh Bian).

Semoga lewat pengantar saya dan tiga tulisan dari Ustad Abu Al Jauzaa’ yang dirangkai jadi satu ini bisa menghasilkan ‘sedikit’ pemahaman dan banyak manfaat bagi semuanya.

* Ia mengatakan bahwa Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir adalah Wahhabi. Pandangannya ini sedikit mirip dengan pandangan yang disebarkan Syiah mengenai semua gerakan Sunni di Timur Tengah adalah terpengaruh Wahhabi. Pekabar ini memang ngawur di dalam bercerita sedangkan versi yang disebarkan Syiah memang bisa dilihat sebagai agenda politis dan teologis menandingi pengaruh Islam [Sunni] di Timur Tengah.

Tidak ada negara Islam di Timur Tengah yang gerakan pan-Islam [Sunni]-nya kuat dan berkelanjutan lama berciri Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir. Memasukkan Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir dalam satu kotak dalam label Wahhabi memudahkan stigma ‘mereka yang anti-Syiah’. Wahhabi yang dipilih karena hingga kini warna Islam [Sunni] yang dominan mewujud dalam bentuk “ideologi sebuah negara” adalah Wahhabi di Arab Saudi sedangkan Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir belum pernah berhasil melakukan itu. Ketika yang dilawan adalah sebuah entitas yang berwujud negara maka Iran butuh satu negara sebagai “yang bukan negara mereka” manifestasi Sunni.

Mengenai pertarungan Islam dengan Syiah dengan melalui perang proksi yang dikomandoi Arab Saudi melawan Iran dan Amerika Serikat yang bermain di antara kedua negara ini misalnya dapat dirujuk kepada artikel tulisan Chuck Todd, Mark Murray, dan Carrie Dann yang berjudul “Proxy War: US on Both Sides of Tensions Between Iran, Saudi Arabia” begitu pula misalnya perang proksi antara Saudi Arabia serta Iran serta bagaimana Amerika Serikat ikut bermain di kedua sisi terhadap perang-perang di Timur Tengah bisa dirujuk pada tulisan jurnalis independen yang tahun 2012 lalu mendapat penghargaan Gellhorn Prize di bidang jurnalisme dan penulis buku Manufactured Crisis: The Untold Story of the Iran Nuclear Scare, Gareth Porter, berjudul “The Media Misses the Point on Proxy War.”

Awam sering tidak tahu bahwa bukan hanya perbedaan latar belakang namun juga cara memperjuangkan Islam di antara Wahhabi, Ikhwanul Muslimin, dan Hizbut Tahrir-lah yang membuat ketiganya kadang berbeda pendapat dan bahkan beberapa kali terjadi konflik.

Bagi Ikhwanul Muslimin, sepanjang pendek tahu saya, Wahhabi bermasalah karena Arab Saudi-nya -perhatikan kata “Arab Saudi-nya”- dekat dengan Amerika Serikat apalagi Amerika Serikat ini disebut sebagai pelindung dan pendukung terbesar negara Israel. Wahhabi dianggap tidak terlalu keras terhadap hubungan pemerintah Arab Saudi dengan Amerika Serikat. Pada bagian ini, berharap Wahhabi frontal terhadap pemerintah Arab Saudi -atau bahkan dengan pemerintah manapun di mana ia bermukim- adalah sulit. Dakwah Wahhabi -sekali lagi sependek tahu saya- sangat fokus pada pemurnian akidah dan ritual ibadah. Permainan politik dan gerakan menentang pemerintah yang masih mengijinkan dakwah Islam dan tidak terang-terangan menindas muslim agak sulit diharapkan dari Wahhabi. Tiga seri tulisan yang bakal Anda baca nanti menjelaskan maksud saya ini.

Bagi Hizbut Tahrir, sepanjang pendek tahu saya, selain Wahhabi yang dianggap sama dengan Arab Saudi itu dekat kepada Amerika Serikat juga memiliki sejarah dianggap sebagai penghancur sistem kekhalifahan. Perhatikan bahwa diskursus besar dan bergema dari Hizbut Tahrir di seluruh dunia adalah mengembalikan kekhalifahan yang runtuh seiring runtuhnya Turki Usmani. Seolah-olah, hancurnya kekhalifahan terakhir Islam (Turki Usmani) adalah besar andilnya hanya disebabkan oleh gerakan Wahhabi yang dimotori oleh Muhammad bin ʿAbd al-Wahhāb yang bekerja sama dengan Muhammad bin Saud dan mengesampingkan kisah kekeroposan di dalam internal Turki Usmani.

Lantas apakah Ikhwanul Muslimin dengan Hizbut Tahrir saling rukun satu sama lain? Tidak. Hizbut Tahrir menganggap bahwa Ikhwanul Muslimin memilih jalan yang tidak tepat ketika memperjuangkan Islam melalui demokrasi (parlemen). Sebaliknya, Ikhwanul Muslimin melihat bahwa jalan yang dipilih Hizbut Tahrir -yang menolak demokrasi- mentok hanya pada diskursus saja dan belum memberikan efek pada perubahan keadaan.

Masih terkait dengan isu Salaf (Wahhabi), dinamika internal gerakan mereka -dan awam banyak yang tidak tahu- menyebabkan adanya perbedaan sebagaimana dijelaskan oleh Abu Hatim di dalam tulisan berjudul “Fakta Perpecahan di Tubuh Salafi”.

=================

TULISAN 1

KEDUDUKAN ‘ABDULLAH BIN ‘ABBAS radliyaallaahu ‘anhuma DALAM TAFSIR AL-QUR’AN :

عن ابن عباس قال : كنت في بيت ميمونة ابنة الحارث فوضعت لرسول الله صلى الله عليه وسلم طهوره فقال : من وضع هذا ؟ فقالت ميمونة : عبد الله ، فقال : ” اللهم فقهه في الدين وعلمه التأويل “

Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata : “Aku pernah berada di rumah Maimunah binti Al-Haarits. Maka aku ambilkan untuk Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (air) untuk bersuci (thaharah). Beliau pun bertanya : ‘Siapakah yang mengambilkan (air) ini ?’. Maimunah menjawab : ‘Abdullah’. Beliau bersabda : ‘Ya Allah, faqihkan ia dalam agama dan ajarkanlah ilmu ta’wil (tafsir) kepadanya”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (12/111-112 no. 12273), Ahmad dalam Al-Musnad(1/266, 314, 328, 335) dan Fadlaailush-Shahabah (2/995-956 no. 1856, 1859, 2/963-964 no. 1882), Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqaat (2/365), Al-Fasawiy dalam Al-Ma’rifah wat-Taariikh (1/493-494), Ath-Thabariy dalam Tahdziibul-Aatsaar (hal. 168 no. 262, hal. 169 no. 263 – Musnad Ibni ‘Abbas), Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir (10/238 no. 10587), Ibnu Hibban (15/531 no. 7055), Ibnu Abi ‘Aashim dalam Al-Ahaadiitsul-Matsaaniy (1/287 no. 380), Al-Haakim (3/534), dan Al-Baihaqiy dalam Dalaailun-Nubuwwah (6/192-193) – melalui jalan ‘Abdullah bin ‘Utsmaan bin Khutsaim. Diriwayatkan juga dari jalan Dawud bin Abi Hind oleh Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir (10/263 no. 10614) dan Ash-Shaghiir(1/197). Juga dari jalan Sulaiman Al-Ahwal oleh Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir (12/55 no. 12506) dan Al-Ausath (3/345 no. 3356) dan Abu Thaahir Adh-Dhuhliy dalam Al-Fawaaid sebagaimana terdapat dalam Al-Ishaabah (2/331). Tiga jalan tersebut (‘Abdullah bin ‘Utsmaan bin Khutsaim, Dawud bin Abi Hind, dan Sulaiman Al-Ahwal) semuanya dari jalan Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas. Hadits ini shahih dan semua perawinya adalah tsiqah.

Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya (1/169 no. 75, 7/100 no. 3756, 13/245 no. 7270) melalui jalan Khaalid, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas radliyalaahu ‘anhuma secaramarfu’ dengan lafadh :

اللهم علِّمْهُ الكتاب.

“Ya Allah, ajarkanlah ia Al-Kitaab (Al-Qur’an)”.

Dalam lafadh lain : {اللهم علمه الحكمة} “Ya Allah, ajarkanlah ia Al-Hikmah”.

Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya (1/244 no. 143) sebagaimana juga Muslim dalam Shahih-nya melalui jalan ‘Abdullah bin Ziyad, dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’dengan lafadh :

اللهم فَقِّهْهُ في الدِّين.

“Ya Allah, faqihkanlah ia dalam agama”.

Namun Muslim tanpa membawakan lafadh : “dalam agama (fid-diin)”.

Melalui jalan ‘Amr bin Dinar, dari Kuraib, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata :

أتيت رسولَ الله صلى الله عليه وسلم فدعا الله لي أن يزيدني علماً وفهماً.

“Aku mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau berdoa kepada Allah untukku agar menambahkan kepadaku ilmu dan kepahaman (dalam agama)”.

Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Fadlaailush-Shahabah (2/956 no. 1857), Al-Fasawiy dalam Al-Ma’rifah wat-Taariikh (1/518), Ath-Thabariy dalam Tahdziibul-Aatsaar (hal. 169 no. 264 – Musnad Ibni ‘Abbas), Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (1/314-315), dan Abul-Fadhl Az-Zuhriy dalam Hadiits (1/394 no. 393).

Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

وهذه الدعوة مما تحقق إجابة النبي صلى الله عليه وسلم فيها، لما علم من حال ابن عباس في معرفة التفسير والفقه في الدين رضي الله تعالى عنه.

“Doa ini merupakan satu bentuk pemastian/jaminan jawaban dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam di dalamnya, dimana beliau mengetahui keadaan Ibnu ‘Abbas atas pengetahuannya di bidang tafsir dan kefaqihannya dalam agama – radliyallaahu ta’ala ‘anhu” [Fathul-Baariy, 1/170].

Al-Haafidh Ibnu Katsir rahimahullah berkata saat menyebutkan orang yang harus dirujuk dalam penafsiran Al-Qur’an :

ومنهم الحبر البحر عبد الله بن عباس، ابن عم رسول الله صلى الله عليه وسلم، وترجمان القرآن وببركة دعاء رسول الله صلى الله عليه وسلم له حيث قال: “اللهم فقهه في الدين، وعلمه التأويل”

“Di antara mereka adalah : ‘al-habrul-bahr – ‘Abdullah bin ‘Abbas; anak paman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, turjumaanul-qur’an, dan orang yang mempunyai barakah doa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, saat beliau bersabda : ‘Ya Allah, faqihkanlah ia dalam agama, dan ajarkanlah ia ilmu ta’wil (tafsir)” [Tafsir Ibni Katsir, 1/8].

Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu berkata :

لو أن ابن عباس أدرك أسناننا ما عاشره منا أحدٌ. قال وكان يقول : نعم ترجمان القرآن ابن عباس رضي الله عنه.

“Apabila Ibnu ‘Abbas menjumpai jaman kita, niscaya tidak ada seorang pun di antara kami yang dapat menandingi (ilmu)-nya. Sebaik-baik penerjemah/penafsir Al-Qur’an adalah Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhu” [Diriwayatkan oleh Abu Khaitsamah dalamAl-‘Ilmu (no. 49), Ahmad dalam Fadlaailush-Shahabah (no. 1860, 1861, 1863), Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqaat (2/366), dan yang lainnya; shahih].

Al-Imam Mujahid bin Jabar Al-Makkiy rahimahullah berkata :

كان ابن عباس يُسَمَّى البحر من كثرة علمه.

“Ibnu ‘Abbas dinamakan Al-Bahr (samudera) karena banyaknya ilmu yang ia miliki” [Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Fadlaailush-Shahaabah (2/975 no. 1920), Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqaat (2/366), Al-Fasawiy dalam Al-Ma’rifah wat-Taariikh (1/496), dan yang lainnya; shahih].

Telah berkata Al-Imam Muhammad bin ‘Aliy bin Abi Thaalib (Muhammad bin Al-Hanafiyyah) rahimahullah pada hari meninggalnya Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma :

اليوم مات رباني هذه الأمة.

“Hari ini, telah meninggal seorang ulama rabbaniy umat ini” [Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Fadlaailush-Shahaabah (2/951 no. 1842), ‘Abbas Ad-Duuriy dalam At-Taariikh(2/315-316), Al-Haakim (3/535), dan yang lainnya; hasan].

TAFSIR ‘ABDULLAH BIN ‘ABBAS radliyallaahu ‘anhu ATAS QS. AL-MAAIDAH : 44

Allah ta’ala berfirman :

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” [QS. Al-Maaidah : 44].

Berkata Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma saat menafsirkan ayat di atas :

إنه ليس بلاكفر الذي تذهبون إليه، إنه ليس كفراً ينقل عن ملة : (وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ) كفر دون كفر.

“Sesungguhnya ia bukanlah kekufuran sebagaimana yang mereka (Khawarij) maksudkan. Ia bukanlah kekufuran yang mengeluarkan dari agama (murtad).‘Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir’; yaitu kekufuran di bawah kekufuran (kufrun duuna kufrin)”.

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (8/20), Said bin Manshuur dalam As-Sunan (4/1482 no. 749), Ahmad dalam Al-Iimaan (4/160 no. 1419) – melalui Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah (2/736 no. 1010), Muhammad bin Nashr Al-Marwaziy dalamTa’dhiim Qadrish-Shalah (2/521 no. 569), Ibnu Abi Haatim dalam At-Tafsiir (4/1143 no. 6364), Ibnu ‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid (4/237), Al-Haakim (2/313); yang kesemuanya melalui jalan Sufyan bin ‘Uyainah, dari Hisyaam bin Hujair, dari Thaawus, dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma.

Al-Haakim berkata :

هذا الحديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه.

“Hadits ini sanadnya shahih, namun tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim”.

Pernyataan ini disepakati oleh Adz-Dzahabiy. Dishahihkan pula oleh Al-Albaniy dalamAsh-Shahiihah (6/113), dan beliau berkata :

أخرجه الحاكم (٢/٣١٣)، وقال : ((صحيح الإسناد)). ووافقه الذهبي، وحقهما أن يقولا : على شرط الشيخين. فإن إسناده كذلك.

Diriwayatkan oleh Al-Haakim (2/313) dan ia berkata ‘Shahiihul-isnaad’; dan hal itu disepakati oleh Adz-Dzahabi. Dan yang benar bagi mereka berdua adalah untuk mengatakan : “(Shahih) atas persyaratan Al-Bukhari dan Muslim, karena sanadnya adalah seperti itu”.

Sebagian orang ada yang melemahkan riwayat ini dengan mempermasalahkan Hisyaam bin Hujair. Di antara mereka adalah Hamud bin ‘Uqalaa Asy-Syu’aibiy, Sulaiman Al-‘Ulwaan, Abu Muhammad Al-Maqdisiy, Hasaan bin ‘Abdil-Manaan, dan yang lainnya. Adapun di Indonesia, pendla’ifan atsar Ibnu ‘Abbas ini banyak disuarakan oleh beberapa ikhwan HASMI, MMI, dan kelompok takfiriyyun Aman ‘Abdurrahman.

Berikut pembahasan tentang Hisyaam bin Hujair :

Hisyaam bin Hujair adalah perawi yang dipakai oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Yahya bin Ma’in (dalam salah satu perkataannya) telah melemahkannya, namun dalam perkataannya yang lain sebagaimana diriwayatkan oleh Ishaaq bin Manshur, ia (Ibnu Ma’in) berkata : “Shaalih”.

Yahya bin Sa’iid Al-Qaththaan pernah ditanya mengenai hadits Hisyaam bin Hujair, maka ia pun menolak untuk menceritakannya dan tidak pula meridlainya.

Sufyan bin ‘Uyainah berkata : “Kami tidak mengambil darinya kecuali apa yang tidak kami dapatkan dari selainnya”.

Al-‘Ijilliy berkata : “‘Tsiqah, shaahibus-sunnah”. Abu Haatim berkata : “Ditulis haditsnya”. Ibnu Syubrumah berkata : ‘Tidak ada di kota Makkah orang yang serupa dengannya’.

Berkata ‘Abdullah bin Ahmad dari ayahnya : “Laisa bil-qawiy (tidak kuat)’. Aku (‘’Abdullah) berkata : ‘Dia dla’if ?’. Maka ia (Ahmad bin Hanbal) berkata : ‘Ia tidaklah seperti itu (laisa bidzaaka)”.

Dalam riwayat lain dari ‘Abdullah, Ahmad bin Hanbal berkata : “Hisyaam bin Hujair, orang Makkah, dla’iiful-hadiits”.

Zakariyya bin Yahyaa As-Saajiy berkata : “Shaduuq”.

Al-‘Uqailiy memasukkannya dalam Adl-Dlu’afaa’. Begitu juga Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil fidl-Dlu’afaa’.

Ibnu Hibbaan menggolongkannya sebagai perawi tsiqah dalam Ats-Tsiqaat. Begitu pula Ibnu Syaahin dalam Ats-Tsiqaat dan Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqaat.

Berkata Adz-Dzahabiy : Tsiqah”. Berkata Ibnu Hajar : Jujur, tapi ia mempunyai beberapa kesalahan (Shaduuq, lahu auham)”.

[Selengkapnya silakan periksa : Tahdziibut-Tahdziib 4/267-268, Taqribut-Tahdziib hal. 1020 no. 7338, Miizaanul-I’tidaal 4/295 no. 9219, Tahdziibul-Kamaal 30/179-181, Al-Kaasyif 2/335 no. 5958, Al-Kaamil fidl-Dlu’afaa’ir-Rijaal 8/413-414, Adl-Dlu’afaa’ lil-‘Uqailiy hal. 1458-1459 no. 1947, Ats-Tsiqaat li-Ibni Hibbaan 7/567, Thabaqaat Ibni Sa’d 5/484, Ats-Tsiqaat li-Ibni Syaahin hal. 250 no. 1536, Kitaabul-‘Ilal wa Ma’rifaatir-Rijaal hal. 403 no. 824-825, dan yang lainnya].

Mengenai perkataan Ahmad bin Hanbal : ‘Laisa bil-qawiy’; maka ini maknanya bukan pendla’ifan. Hal itu disebabkan beliau sendiri yang mengingkari makna ini sebagai pendla’ifan dengan perkataannya : ‘laisa bidzaaka’. Oleh karena itu, maksud perkataan ini adalah bahwa Hisyaam tidaklah berada pada tingkatan shahih, namun hanya berada pada tingkatan hasan saja.

Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

وقد روى عن الإمام أحمد أنه قال: هو ضعيف ليس بالقوي لكن هذه العبارة يقصد بها أنه ممن ليس يصحح حديثه بل هو ممن يحسن حديثه وقد كانوا يسمون حديث مثل هذا ضعيفاً ويحتجون به لأنه حسن …

“Telah diriwayatkan dari Al-Imam Ahmad dimana ia berkata : ‘Ia dla’if, laisa bil-qawiy’. Akan tetapi, maksud perkataan ini adalah bahwa ia bukanlah seorang yang haditsnya berada pada tingkatan shahih, namun hanya berada tingkatan hasan. Mereka (para ulama) telah menamakan hadits yang seperti ini dengan dla’if, padahal yang mereka maksudkan dengannya adalah hasan…” [Iqaamatud-Daliil ‘alaa Ibthaalit-Tahliil oleh Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah, hal. 243].

Al-Haafidh Adz-Dzahabiy rahimahullah berkata :

وقد قيل في جَمَاعاتٍ : ليس بالقويِّ ، واحتُجَّ به . وهذا النَّسائيُّ قد قال في عِدَّةٍ : ليس بالقويّ ، ويُخرِجُ لهم في (( كتابه )) ، قال : قولُنا : (ليس بالقوي ) ليس بجَرْحٍ مُفْسِد .

“Telah dikatakan tentang sekelompok (perawi) : ‘Laisa bil-qawiy’, namun ia tetap digunakan sebagai hujjah’. An-Nasa’i telah berkata mengenai sejumlah perawi yang dihukumi dengan laisa bil-qawiy dan ia masukkan dalam kitabnya (As-Sunan) : ‘Perkataan kami mengenai ‘laisa bil-qawiy’ adalah tidak memberikan jarh yang merusakkan (kedudukannya)’ [Al-Muuqidhah fii ‘Ilmi Musthalahil-Hadiits, hal. 82].

Dalam bagian lain beliau juga berkata :

وبالا ستقراءِ إذا قال أبو حاتم : ( ليس بالقوي ) ، يُريد بها : أنَّ هذا الشيخ لم يَبلُغ درَجَة القويِّ الثَّبْت .

“Dengan menelaah/meneliti apa yang dikatakan Abu Haatim : ‘Laisa bil-qawiy’; maka yang dimaksudkan dengannya adalah orang ini tidak mencapat tingkatan (paling atas) kuat dan tetap/teguh (qawiy tsabat)” [idem, hal. 83].[1]

Lebih lanjut, ketika ‘Abdullah bin Ahmad meriwayatkan dari ayahnya dalam kitab Al-‘Ilal(hal. 403) saat beliau (Ahmad) mengatakan : “Hisyaam bin Hujair, orang Makkah,dla’iiful-hadiits” ; maka beliau melanjutkan dengan membawakan perkataan Ibnu Syubrumah : “Tidak ada orang di Makkah yang lebih faqih darinya – yaitu Hisyaam bin Hujair”.

Ini semua menunjukkan bahwa Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah tidak mendla’ifkan (secara mutlak) Hisyaam bin Hujair sehingga riwayat darinya dihukumimardud (tertolak) sebagaimana perkiraan sebagian orang yang hanya mencermati sebagian perkataan beliau saja.

Adapun jarh Yahya bin Ma’in yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Ma’in perihal Hisyaam bin Hujair bahwa ia sangat melemahkannya; maka dalam hal ini harus diperhatikan perkataannya yang lain. ‘Abdullah bin Ahmad pernah bertanya kepada Yahya bin Ma’in : “Hisyaam bin Hujair lebih engkau senangi daripada ‘Amr bin Muslim ?”. Ia menjawab : “Ya” [lihat Al-‘Ilal fii Ma’rifatir-Rijaal, hal. 1204-1205 no. 4024-4025].

Adapun ‘Amr bin Muslim, maka ternukil dua hal yang berbeda dari Yahya bin Ma’in tentangnya. Dalam riwayat Ad-Duuriy dan ‘Abdullah bin Ahmad, ia mendla’ifkannya. Adapun dalam riwayat Ibrahim Al-Junaid, Ibnu Ma’in berkata : “Laa ba’sa bihi (tidak mengapa dengannya)” [lihat Tahdziibul-Kamaal, 22/244]. Bahkan para ahli hadits telah menjelaskan tentang peristilahan Ibnu Ma’in, bahwa jika ia mengatakan laisa bihi ba’s(tidak mengapa dengannya), maka hal itu ekuivalen dengan tsiqah [lihat Ulumul-Hadiitsoleh Ibnu Shalah hal. 111 dan Al-Kifaayah oleh Al-Khathiib Al-Baghdadiy hal. 60].[2]Terkait dengan ini, maka kedudukan Hisyaam bin Hujair tidaklah lebih rendah dari ‘Amr bin Muslim. Apalagi jika kita lihat riwayat lain dari Yahya bin Ma’in tentang Hisyaam yang dibawakan oleh Ishaaq bin Manshuur : “Shaalih” – dan ini merupakan satu bentukta’dil sebagaimana dikenal oleh para ahli hadits. Adz-Dzahabi rahimahullah berkata :

وكذا لم اذكر فيه من قيل فيه محله الصدق ولا من قيل فيه يكتب حديثه ولا من لا بأس به ولا من قيل فيه هو شيخ أو هو صالح الحديث فإن هذا باب تعديل

“Begitu juga, aku tidak menyebutkan di dalamnya orang yang dikatakan mahaluhush-shidq (tempatnya kejujuran), yuktabu hadiitsahu (ditulis haditsnya), laa ba’sa bihi (tidak mengapa dengannya), syaikh, dan shaalihul-hadiits; maka kesemuanya ini termasuk bagian dari ta’dil” [Al-Mughni fidl-Dlu’afaa’, 1/4].

Lantas bagaimana bisa diterima perkataan sebagaian kalangan yang menganggap hal ini sebagai bentuk jarh yang menjatuhkan Hisyaam ? Apalagi dilihat dari kenyataan bahwa Yahya bin Ma’in termasuk imam yang mutasyaddid dalam melakukan jarh terhadap perawi.

Oleh karena itu, atsar Ibnu ‘Abbas sebagaimana dimaksud di awal pembahasan adalahhasan – dan kemudian ia menjadi shahih dengan penguat-penguatnya.

Hisyaam bin Hujair yang meriwayatkan atsar ini dari Thaawus dari Ibnu ‘Abbas; mempunyai beberapa penguat, antara lain :

  1. Dikeluarkan oleh Sufyan Ats-Tsauriy dalam Tafsir-nya (hal. 101 no. 241) :

عن عبد الله بن طاوس عن أبيه قال : قيل لابن عباس : (وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ)، قال : هي كفره، وليس كمن كفر بالله واليوم الآخر.

Dari ‘Abdullah bin Thaawus, dari ayahnya, ia berkata : Dikatakan kepada Ibnu ‘Abbas : “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” ; Ibnu ‘Abbas berkata : ‘Itu adalah kekufurannya, namun tidak seperti halnya orang yang kufur terhadap Allah dan hari akhir”.

Atsar ini shahih.

Sebagian orang menilai atsar ini ma’lul karena adanya inqitha’ (keterputusan sanad) antara Ats-Tsauri dan ‘Abdullah bin Thaawus. Ats-Tsauri tidak mendengar riwayat dari ‘Abdullah bin Thaawus, dan di antara keduanya terdapat perawi yang bernama Ma’mar bin Raasyid (sebagaimana riwayat yang akan disebutkan pada no. 2).

Ta’lil ini sama sekali tidak benar, sebab Ats-Tsauri memang telah mendengar dari ‘Abdullah bin Thaawus sebagaimana terdapat Shahih Muslim !! Sehingga tidak masalah jika satu waktu Ats-Tsauri meriwayatkan langsung dari ‘Abdullah bin Thaawus, dan di waktu lain ia meriwayatkan melalui Ma’mar bin Raasyid.

  1. Diriwayatkan dari Wakii’ dan Abu Usamah, keduanya dari (Sufyaan) Ats-Tsauriy, dari Ma’mar bin Raasyid, dari ‘Abdullah bin Thaawus, dari Thaawus, dari Ibnu ‘Abbas dengan lafadh :

هي به كفر، وليس كمن كفر بالله وملائكته وكتبه ورسله.

“Hal itu dengannya adalah satu kekufuran. Namun tidak seperti orang yang kufur terhadap Allah, para malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, dan Rasul-Rasul-Nya”.

Atsar ini shahih, diriwayatkan oleh : Ahmad dalam Al-Imaan (4/158-159 no. 1414), Muhammad bin Nashr Al-Marwaziy dalam Ta’dhiimu Qadrish-Shalaah (2/521-522 no. 571-572), Ath-Thabariy dalam Tafsir-nya (6/166), dan Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah (2/734 no. 1005).

Sebagian orang menganggap bahwa riwayat yang dibawakan oleh Sufyaan Ats-Tsauri adalah mudraj. Hal ini ditunjukkan pada riwayat berikut :

Dari Ma’mar, dari Ibnu Thaawus, dari ayahnya (Thaawus), ia berkata :

سئل ابن عباس عن قوله : (وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ)، قال : هي كفر، قال ابن طاوس : وليس كمن كفر بالله وملائكته وكتبه ورسله.

Ibnu ‘Abbas pernah ditanya tentang firman Allah : ‘Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir’, maka ia menjawab : “Hal itu adalah kekufuran”. Berkata Ibnu Thaawus : “Tidak seperti orang yang kufur terhadap Allah, para malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, dan Rasul-Rasul-Nya”.

Atsar ini shahih, diriwayatkan oleh : Ahmad dalam Al-Imaan (4/160 no. 1420), Ibnu Nashr Al-Marwaziy dalam Ta’dhiimu Qadrish-Shalaah (2/521 no. 570), Ath-Thabariy dalam Tafsir-nya (6/166), Ibnu Abi Haatim dalam Tafsir-nya (4/1143 no. 6435), Wakii’ dalam Akhbaarul-Qudlaat (1/41), dan Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah (2/736 no. 1009) – semuanya dari ‘Abdurrazzaq dalam Tafsir-nya (1/191).

Mereka katakan bahwa lafadh : ‘namun tidak seperti orang yang kufur terhadap Allah, para malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, dan Rasul-Rasul-Nya’ ; adalah idraaj(sisipan/tambahan) dari perkataan ‘Abdullah bin Thaawus. Alasan mereka adalah ‘Abdurrazzaq adalah perawi yang lebih tsiqah dan mutqin dibandingkan Sufyan Ats-Tsauriy. Ibnu Rajab membawakan riwayat dalam Syarul-‘Ilal dari Ibnu ‘Askar, dari Ahmad bahwa ia berkata :

إذا اختلف أصحاب معمر فالحديث لعبد الرزاق

“Apabila shahabat-shahabat Ma’mar berselisih (mengenai riwayat Ma’mar), maka yang dipegang adalah perkataan ‘Abdurrazzaq”.

Kita jawab :

Bagaimana bisa dikatakan bahwa ‘Abdurrazzaq lebih tsiqah lagi mutqin dibanding Sufyaan Ats-Tsauriy ? Padahal beberapa bukti dari perkataan ulama menunjukkan hal sebaliknya.

Yunus bin ‘Ubaid mengatakan tidak ada seorang pun yang lebih afdlal daripada Sufyan. Wahb telah lebih mendahulukan Sufyan daripada Malik (bin Anas) dalam hal hapalan. Yahya bin Sa’id Al-Qaththaan mendahulukan Sufyaan dibandingkan Syu’bah, padahal Syu’bah di sisi Ibnul-Qaththaan adalah orang yang paling ia cintai (dalam periwayatan). Begitu ia mendahulukan Sufyaan atas diri Malik (bin Anas) – sama seperti Wahb. Ia pun diikuti oleh Abu Haatim dan Abu Zur’ah yang mendahulukan Sufyan dalam hapalan dibanding Syu’bah. Yahya bin Ma’in tidak mendahulukan siapapun di atas Sufyan di jamannya dalam hal fiqh, hadits, zuhud, dan yang lainnya. Ahmad mengatakan bahwa ia tidak mendahulukan siapapun atas diri Sufyaan di hatinya [lihat selengkapnya dalam Tahdziibut-Tahdziib 2/56-58 – biografi Sufyaan Ats-Tsauriy].

Sedangkan ‘Abdurrazzaq – sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hibban – kadangkala melakukan kekeliruan jika ia meriwayatkan dari jurusan hapalannya.

Adapun mengenai perkataan Ahmad yang dibawakan oleh Ibnu ‘Askar, maka tidak shahih dari beliau. Hal ini dikarenakan Ibnu ‘Askar (Muhammad bin Sahl bin ‘Askar) adalah seorang yang majhul. Orang ini bukanlah Ibnu ‘Askar yang disebutkan biografinya dalam Tahdziibul-Kamaal yang merupakan rijaal Muslim, At-Tirmidziy, An-Nasa’iy, dan yang lainnya[3].

Selain itu, perkataan Al-Imam Ahmad tersebut telah menyelisihi perkataan beliau yang lain yang lebih masyhur dan tsaabit. Ibnu Rajab dalam Syarhul-‘Ilalmembawakan perkataan Ahmad dari riwayat Ibraahiim Al-Harbiy, dimana ia (Ahmad) mengatakan :

إذا اختلف معمر في شئ فالقول قول ابن المبارك

“Apabila Ma’mar berselisih dalam sebuah riwayat, perkataan yang dipegang adalah perkataan Ibnul-Mubaarak”.

Perkataan inilah yang kita pegang jika ada perselisihan mengenai riwayat Ma’mar.

Apalagi Sufyan Ats-Tsauri termasuk aqraan Ma’mar yang kemudian meriwayatkan darinya. Bukan ashhaab dari Ma’mar. Oleh karena itu, dalam kasus ‘Abdurrazzaq dan Sufyan Ats-Tsauriy, sangat tidak tepat jika mengkaitkan dengan perkataan Ahmad bin Hanbal. Pengunggulan riwayat ‘Abdurrazzaq atas riwayat Sufyan Ats-Tsauriy adalah keliru dalam banyak sisi.

Kesimpulannya : Shahih riwayat Ibnu ‘Abbas yang dibawakan dari jalan Sufyan Ats-Tsauri, dan tidak perlu dipertentangkan dengan riwayat ‘Abdurrazzaq.

Catatan penting :

Perkataan Ibnu ‘Abbas dalam riwayat ‘Abdurrazzaq : ‘Hal itu adalah kekufuran’ ; tidaklah dipahami bahwa beliau mengkafirkan secara mutlak setiap orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah – sebagaimana pendapat kaum takfiriyyun. Selain alasan bahwa perkataan tersebut ditafsirkan oleh perkataan beliau yang lain (yang dibawakan oleh Sufyan Ats-Tsauriy dan yang lainnya – yang tidak memutlakkan dengan kafir akbar yang mengeluarkan dari agama), juga hal itu bertentangan dengan pemahaman para ulama salaf. Al-Haafidh Ibnu Baththah Al-‘Ukbariyrahimahullah telah memasukkan perkataan Ibnu ‘Abbas dari riwayat ‘Abdurrazzaq tersebut dalam bab :

ذكر الذنوب التي تصير بصاحبها إلى كفر غير خارج به من الملّة

“Penyebutan dosa-dosa yang menyebabkan pelakunya terjerumus pada kekufuran, tanpa mengeluarkannya dari agama (murtad)” [Al-Ibaanah, 2/723].

Kita tidak berkeyakinan bahwa para takfiriyyuun itu lebih paham tentang tafsir dan ilmu para ulama salaf dibandingkan Ibnu Baththah Al-‘Ukbariy rahimahullah.

  1. Diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata tentang firman Allah ta’ala : “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” :

من جحد ما أنزل الله فقد كفر. ومن أقرّ به ولم يحكم، فهو ظالم فاسقٌ.

“Barangsiapa yang mengingkari apa-apa yang diturunkan Allah, maka ia kafir. Barangsiapa yang mengikrarkannya namun tidak berhukum dengannya, maka ia dhalim lagi fasiq”.

Diriwayatkan oleh Ath-Thabariy dalam Tafsir-nya (6/166) dan Ibnu Abi Haatim dalamtafsir-nya (4/1142 no. 6426 dan 4/1146 no. 6450) dari Al-Mutsanna bin Ibraahiim Al-Aamiliy dan Abu Haatim, keduanya dari ‘Abdullah bin Shaalih, dari Mu’awiyyah bin Shaalih, dari ‘Ali bin Abi Thalhah.

Atsar ini adalah lemah karena kelemahan ‘Abdullah bin Shaalih dan Mu’awiyyah bin Shaalih. Namun ia menjadi hasan (lighairihi) dengan riwayat sebelumnya.

  1. Diriwayatkan dari ‘Atha’ bin Abi Rabbah rahimahullah, bahwasannya ia berkata :

“ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون”،”ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الظالمون”،”ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الفاسقون”، قال: كفر دون كفر، وفسق دون فسق، وظلم دون ظلم.

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dhalim. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang faasiq”; (‘Atha’ berkata) : “Kekufuran di bawah kekufuran (yang mengeluarkan dari Islam), kefasiqan di bawah kefasiqan (yang mengeluarkan dari Islam), dan kedhaliman di bawah kedhaliman (yang mengeluarkan dari Islam)”.

Atsar ini shahih.

Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Iimaan (4/159-160 no. 1417 dan 4/161 no. 1422) dan Masaail Abi Dawud (hal. 209), Ath-Thabariy dalam Tafsir-nya (6/165-166), Muhammad bin Nashr Al-Marwaziy dalam ta’dhiimu Qadrish-Shalaah (2/522 no. 575), Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah (2/735 no. 1007 dan 2/736-737 no. 1011), Ibnu Abi Haatim dalam tafsir-nya (4/1149 no. 6464), serta Al-Qaadli Wakii’ dalam Akhbaarul-Qudlaat (1/43); semuanya dari jalan Sufyan Ats-Tsauriy, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’. Asy-Syaikh Al-Albaniy telah menshahihkan atsar ini dalam Silsilah Ash-Shahiihah(6/114).

Sebagian orang ada yang melemahkan atsar ini dengan alasan ‘an’anah dari Ibnu Juraij – dan ia seorang mudallis.

Kita katakan :

‘An‘anah Ibnu Juraij dari ‘Atha’ bin Abi Rabbah dihukumi muttashil bersambung. Ibnu Abi Khaitsamah membawakan satu riwayat shahih dari Ibnu Juraij, bahwa ia (Ibnu Juraij berkata) :

إذا قلت قال عطاء فأنا سمعته منه وإن لم أقل سمعت

“Apabila aku berkata : Telah berkata ‘Atha’ , maka artinya aku telah mendengarnya walau aku tidak mengatakan : Aku telah mendengar” [Tahdziibut-Tahdziib, 2/617 – biografi ‘Abdul-Malik bin ‘Abdil-‘Aziz bin Juraij Al-Umawiy].

Asy-Syaikh Al-Albani pun kemudian memberikan penegasan :

وهذه فائدة هامة جدا ، تدلنا على أن عنعنة ابن جريج عن عطاء في حكم السماع

“Ini satu faedah yang sangat besar, yang menunjukkan pada kita bahwa ‘an’anahIbnu Juraij dari ‘Atha’ dihukumi penyimakan (sama’)” [Irwaaul-Ghaliil, 4/244].

Pernyataan di atas disanggah oleh sebagian takfiriyyuun dengan mengatakan : Al-Imam Ahmad telah mengatakan bahwa seluruh perkataan Ibnu Juraij, baik dengan redaksi : ‘telah berkata ‘Athaa’ atau ‘dari ‘Atha’ ; hanya menunjukkan bahwa Ibnu Juraij tidak mendengar dari ‘Atha’. Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu ‘Abdil-Haadiy dalam Bahrud-Damm (hal. 278).

Kita jawab :

Pertama, Al-Imam Ahmad tidak menspesifikkan siapa yang dimaksud dengan ‘Atha’ di sini ? ‘Atha’ bin Abi Rabbah ataukah ‘Atha’ bin Abi Muslim Al-Khurasaniy ? Jika dikatakan bahwa Ibnu Juraij tidak pernah mendengar sama sekali riwayat ‘Atha’ bin Abi Rabbah, maka ini keliru. Sebab, Ibnu Juraij pernah belajar (menjadi murid) di majelis ‘Atha’ bin Abi Rabbah selama beberapa tahun. Adz-Dzahabi telah menjelaskan bahwa Ibnu Juraij telah menceritakan hadits (tahdits) dari ‘Atha’ bin Abi Rabbah, Ibnu Abi Mulaikah, Naafi’, dan Thaawus [lihat Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 6/326]. Berarti, Ibnu Juraij pernah bertemu dengan ‘Atha’.

Di sini dapat diketahui bahwa yang dimaksudkan Ahmad bin Hanbal dalam perkataan di atas adalah ‘Atha’ bin Abi Muslim Al-Khurasaniy, bukan ‘Atha’ bin Abi Rabbah. Apalagi ini dikuatkan oleh pernyataan Ahmad :

ابنُ جُرَيْج أثبت الناس في عطاء.

“Ibnu Juraij adalah orang yang paling tsabt dalam riwayat yang berasal dari ‘Atha’ [Tahdziibut-Tahdziib, 2/617].

‘Atha’ di sini maksudnya adalah Ibnu Abi Rabbaah.

Dan hal yang menunjukkan maksud perkataan Ahmad bahwa yang ia lemahkan dari riwayat Ibnu Juraij dari ‘Atha’ adalah ‘Atha’ bin Abi Muslim Al-Khurasaaniy adalah kecocokannya dengan perkataan Yahya bin Sa’id Al-Qaththaan. Berkata Abu Bakr :

ورأيت في كتاب علي بن المديني سألت يحيى بن سعيد عن حديث بن جريج عن عطاء الخراساني فقال ضعيف قلت ليحيى أنه يقول أخبرني قال لا شيء كله ضعيف إنما هو كتاب دفعه إليه

“Aku melihat di kitab ‘Ali bin Al-Madiiniy : ‘Aku pernah bertanya kepada Yahya bin Sa’id tentang hadits Ibnu Juraij dari ‘Atha’ Al-Khurasaaniy. Ia pun menjawab : ‘Dla’iif’. Aku berkata kepada Yahya : ‘Sesungguhnya ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku (akhbaranii)…’. Ia berkata : ‘Tidak ada artinya. Semuanyadla’iif, karena ia hanya berasal dari kitab yang diberikan kepadanya” [Tahdziibut-Tahdziib, 2/617-618].

Kedua, Ibnu Juraij sendiri yang menegaskan bahwa ia mendengar riwayat dari ‘Atha’ bin Abi Rabbah, baik yang ia sampakan dengan shigah : aku telah mendengar (sami’tu), atau : dari (‘an). Lantas, bagaimana bisa dikatakan bahwa ia tidak mendengar dari ‘Atha’ bin Abi Rabbah ?

Ketiga, perkataan Ibnu Juraij yang menegaskan penyimakannya atas ‘Atha’ yang bersamaan dengan itu terdapat penafikan hal tersebut dari Ahmad (jika kita permisalkan untuk menerima alasan mereka bahwa ‘Atha’ di sini adalah Ibnu Abi Rabbaah); maka yang menetapkan lebih didahulukan daripada yang menafikkan (al-mutsbitu muqaddamun ‘alan-nafyi) – sebagaimana telah ma’ruf dalam ilmu ushul [Al-Ushul min ‘Ilmil-Ushuul hal. 64].

Walhasil, pelemahan mereka terhadap atsar ‘Atha’ ini pun tertolak.

Jika kita telah mengetahui keshahihan perkataan ‘Atha’ ini, maka semakin kuatlah kedudukan atsar Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma di atas. ‘Atha’ adalah murid Ibnu ‘Abbas yang menimba ilmu secara langsung kepadanya. Tidaklah terlalu berlebihan jika dikatakan penafsiran ‘Atha’ atas ayat hukum di atas merupakan ilmu yang ia peroleh dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma.

Secara keseluruhan, atsar Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhu tentang ayat hukum :kufrun duuna kufrin, hiya kufruhu wa laisa ka-man kafara billaahi wal-yaumil-aakhiri, atau hiya bihi kufrun wa laisa ka-man kafara billaahi wa malaaikatihi wa kutubihi wa rusulihi ; adalah shahih. Tidak ada ruang bagi takfiriyyuun untuk melemahkan atsar ini dan kemudian memutlakkan kekafiran pada setiap orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah tanpa melakukan perincian. Tidak ada satu pun pendahulu bagi mereka dalam hal ini.

Berikut ini adalah beberapa nukilan (tidak semua) dari para ulama salaf tentang perkataan/tafsir Ibnu ‘Abbas terhadap ayat hukum yang semakin mengokohkan pemahaman Ahlus-Sunnah dan meruntuhkan ‘aqidah ahlul-bida’ (takfiriyyun).

  1. Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah,

Telah berkata Isma’il bin Sa’d dalam Suaalaat Ibni Haani’ (2/192) :

سألت أحمد: ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾، قلت: فما هذا الكفر؟ قال: “كفر لا يخرج من الملة”

“Aku bertanya kepada Ahmad tentang firman Allah : ‘Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir’. Apakah yang dimaksud kekafiran di sini ?”. Maka ia menjawab : “Kekufuran yang tidak mengeluarkan dari agama”.

Dan ketika Abu Dawud As-Sijistaaniy bertanya kepada Ahmad dalam kitab As-Suaalaat-nya (hal. 114) mengenai ayat ini, maka ia (Ahmad) menjawab dengan perkataan Thaawus sebagaimana telah disebutkan di atas.

  1. Al-Imam Muhammad bin Nashr Al-Marwaziy rahimahullah.

Telah berkata dalam kitabnya Ta’dhiimu Qadrish-Shalaah (2/502) :

ولنا في هذا قدوة بمن روى عنهم من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم والتابعين؛ إذ جعلوا للكفر فروعاً دون أصله لا تنقل صاحبه عن ملة الإسلام، كما ثبتوا للإيمان من جهة العمل فرعاً للأصل، لا ينقل تركه عن ملة الإسلام، من ذلك قول ابن عباس في قوله: ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾

“Dan kami memiliki panutan dalam hal ini dengan apa yang diriwayatkan oleh para shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan tabi’iin : Yaitu ketika mereka menjadikan kekufuran itu bercabang-cabang dari pokoknya yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, sebagaimana mereka menetapkan amal cabang dari pokok iman yang tidak mengeluarkan orang yang meninggalkannya dari agama Islam. Hal itu didasari oleh perkataan Ibnu ‘Abbasatas firman Allah ta’ala : Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”.

Setelah menyebutkan atsar dari ’Atha’ (sebagaimana di atas) beliau berkata :

وقد صدق عطاء؛ قد يسمى الكافر ظالماً، ويسمى العاصي من المسلمين ظالماً، فظلم ينقل عن ملة الإسلام وظلم لا ينقل

Sungguh telah benar ’Atha’ dalam hal ini. Seorang yang kafir itu bisa disebut sebagai orang yang dhalim; dan orang yang bermaksiat dari kaum muslimin pun bisa disebut dengan orang yang dhalim. Kedhaliman (ada dua), yaitu yang dapat mengeluarkan seseorang dari agama Islam dan yang tidak mengeluarkan dari agama Islam” [Ta’dhiimu Qadrish-Shalah, 2/523].

  1. Al-Imam Al-Mufassir Ibnu Jarir Ath-Thabariy rahimahullah.

Beliau berkata :

وأولـى هذه الأقوال عندي بـالصواب, قول من قال: نزلت هذه الاَيات فـي كافر أهل الكتاب, لأن ما قبلها وما بعدها من الاَيات ففـيهم نزلت وهم الـمعِنـيون بها, وهذه الاَيات سياق الـخبر عنهم, فكونها خبرا عنهم أولـى. فإن قال قائل: فإن الله تعالـى ذكره قد عمّ بـالـخبر بذلك عن جميع من لـم يحكم بـما أنزل الله, فكيف جعلته خاصّا؟ قـيـل: إن الله تعالـى عمّ بـالـخبر بذلك عن قوم كانوا بحكم الله الذي حكم به فـي كتابه جاحدين فأخبر عنهم أنهم بتركهم الـحكم علـى سبـيـل ما تركوه كافرون. وكذلك القول فـي كلّ من لـم يحكم بـما أنزل الله جاحدا به, هو بـالله كافر, كما قال ابن عبـاس…..

”Yang lebih benar dari perkataan-perkataan ini menurutku adalah adalah, perkatan orang yang mengatakan bahwa : ”Ayat ini turun pada orang-orang kafir dari Ahli Kitab, karena sebelum dan sesudah (ayat tersebut) bercerita tentang mereka. Merekalah yang dimaksudkan dalam ayat ini. Dan konteks ayat ini juga mengkhabarkan tentang mereka. Sehingga keberadaan ayat ini sebagai khabar tentang mereka lebih didahulukan”. Apabila ada yang berkata : ”Sesungguhnya Allah ta’ala menyebutkan ayat ini bersifat umum bagi setaip orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah, bagaimana engkau bisa menjadikan ayat ini khusus (berlaku pada orang Yahudi) ?”. Maka kita katakan : ”Sesungguhnya Allah menjadikan keumuman tentang suatu kaum yang mereka itu mengingkari hukum Allah yang ada dalam Kitab-Nya, maka Allah mengkhabarkan tentang mereka bahwa dengan sebab merka meninggalkan hukum Allah mereka menjadi kafir. Demikian juga bagi mereka yang tidak berhukum dengan hukum Allah dalam keadaan mengingkarinya, maka dia kafir sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ’Abbas….” [Jamii’ul-Bayaan/Tafsir Ath-Thabari, 6/166].

  1. Al-Imam Ibnu Baththah Al-‘Ukbariy rahimahullah.

Dalam kitab beliau yang berjudul Al-Ibaanah 2/723 disebutkan { باب ذكر الذنوب التي تصير بصاحبها إلى كفر غير خارج به من الملّة } ”Bab : Sejumlah dosa yang mengantarkan pelakunya kepada kekufuran yang tidak mengeluarkan dari agama”.

Di antara yang disebutkan dalam bahasan bab ini adalah : { الحكم بغير ما أنزل الله} ”Berhukum dengan selain apa-apa yang diturunkan Allah”. Kemudian beliau menyebutkan atsar-atsar dari para shahabat dan tabi’in[4] bahwa (yang dimaksud kekufuran tersebut adalah) kufur ashghar yang tidak mengeluarkan (pelakunya) dari agama”.

  1. Al-Haafidh Ibnu ‘Abdil-Barr Al-Andalusiy rahimahullah.

Beliau berkata :

وأجمع العلماء على أن الجور في الحكم من الكبائر لمن تعمد ذلك عالما به، رويت في ذلك آثار شديدة عن السلف، وقال الله عز وجل: ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾،﴿ الظَّالِمُونَ ﴾،﴿ الْفَاسِقُونَ ﴾ نزلت في أهل الكتاب، قال حذيفة وابن عباس: وهي عامة فينا؛ قالوا ليس بكفر ينقل عن الملة إذا فعل ذلك رجل من أهل هذه الأمة حتى يكفر بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر روي هذا المعنى عن جماعة من العلماء بتأويل القرآن منهم ابن عباس وطاووس وعطاء

”Para ulama telah bersepakat bahwa kecurangan dalam hukum termasuk dosa besar bagi yang sengaja berbuat demikian dalam keadaan mengetahui akan hal itu. Diriwayatkan atsar-atsar yang banyak dari salaf tentang perkara ini. Allah ta’ala berfirman : (Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir) , (orang-orang yang dhalim), dan (orang-orang yang fasiq) ; ayat ini turun kepada Ahli Kitab. Hudzaifah dan Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhum telah berkata : ”Ayat ini juga umum berlaku bagi kita”. Mereka berkata : ”Bukan kekafiran yang mengeluarkan dari agama apabila seseorang dari umat ini (kaum muslimin) melakukan hal tersebut hingga ia kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan hari akhir. Diriwayatkan makna ini oleh sejumlah ulama ahli tafsir, diantaranya :Ibnu ’Abbas, Thawus, dan ’Atha’” [At-Tamhiid, 5/74].

وقد ضلت جماعة من أهل البدع من الخوارج والمعتزلة في هذا الباب فاحتجوا بهذه الآثار ومثلها في تكفير المذنبين، واحتجوا من كتاب الله بآيات ليست على ظاهرها مثل قوله عزّ وجل: ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾

”Dan sungguh telah sesat sekelompok ahlul-bida’ dari Khawarij dan Mu’tazillah dalam bab ini. Mereka berhujjah dengan atsar-atsar ini dan yang semisal dengannya untuk mengkafirkan orang-orang yang berbuat dosa. Mereka juga berhujjah dengan ayat-ayat Kitabullah tidak sebagaimana dhahirnya seperti firman Allah ’azza wa jalla : ”Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” [At-Tamhiid, 17/16].

  1. Al-Imam Ibnul-Jauziy rahimahulah.

Beliau berkata :

أن من لم يحكم بما أنزل الله جاحداً له، وهو يعلم أن الله أنزله؛ كما فعلت اليهود؛ فهو كافر، ومن لم يحكم به ميلاً إلى الهوى من غير جحود؛ فهو ظالم فاسق، وقد روى علي بن أبي طلحة عن ابن عباس؛ أنه قال: من جحد ما أنزل الله؛ فقد كفر، ومن أقرّبه؛ ولم يحكم به؛ فهو ظالم فاسق

“(Kesimpulannya), bahwa barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah dalam keadaan mengingkari akan kewajiban (berhukum) dengannya padahal dia mengetahui bahwa Allah-lah yang menurunkannya – seperti orang Yahudi – maka orang ini kafir. Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah karena condong pada hawa nafsunya – tanpa adanya pengingkaran – maka dia itu dhalim dan fasiq. Dan telah diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas bahwa dia berkata : ‘Barangsiapa yang mengingkari apa-apa yang diturunkan Allah maka dia kafir. Dan barangsiapa yang masih mengikrarkannya tapi tidak berhukum dengannya, maka dia itu dhalim dan fasiq” [Zaadul-Masiir, 2/366].

  1. Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.

Beliau berkata :

وإذا كان من قول السلف: (إن الإنسان يكون فيه إيمان ونفاق)، فكذلك في قولهم: (إنه يكون فيه إيمان وكفر) ليس هو الكفر الذي ينقل عن الملّة، كما قال ابن عباس وأصحابه في قوله تعالى: ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾ قالوا: كفروا كفراً لا ينقل عن الملة، وقد اتّبعهم على ذلك أحمد بن حنبل وغيره من أئمة السنة

”Ketika terdapat perkataan salaf : Sesungguhnya manusia itu terdapat padanya keimanan dan kemunafikan. Begitu juga perkataan mereka : Sesungguhnya manusia terdapat padanya keimanan dan kekufuran. (Kufur yang dimaksud) bukanlah kekufuran yang mengeluarkan dari agama. Sebagaimana perkataan Ibnu ’Abbas dan murid-muridnya dalam firman Allah ta’ala : ”Barangsiapa yang tidak berhukum/memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” ; mereka berkata : ”Mereka telah kafir dengan kekafiran yang tidak mengeluarkan dari agama”. Hal tersebut diikuti oleh Ahmad bin Hanbal dan selainnya dari kalangan imam-imam sunnah” [Majmu’ Al-Fatawa, 7/312].

  1. Al-Imam Al-Haafidh Ibnul-Qayyim rahimahullah.

Beliau berkata :

وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم: “لا إيمان لمن لا أمانة له”. فنفى عنه الإيمان ولا يوجب ترك أداء الأمانة أن يكون كافرا كفرا ينقل عن الملة. وقد قال ابن عباس في قوله تعالى: {وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ}: ليس بالكفر الذي يذهبون إليه. وقد قال طاووس: سئل ابن عباس عن هذه الآية فقال: هو به كفر, وليس كمن كفر بالله وملائكته وكتبه ورسله. وقال أيضا: كفر لا ينقل عن الملة…..

“Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Tidak beriman orang yang tidak mempunyai amanah’. Di sini beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menafikkan darinya keimanan, namun tidaklah berkonsekuensi atas hal tersebut bagi orang yang tidak menunaikan amanat menjadi kafir dengan kekafiran yang mengeluarkannya dari agama (islam). Telah berkata Ibnu ‘Abbas atas firman Allahta’ala : ‘Barangsiapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir’ : ‘Bahwasannya ia bukanlah kekufuran sebagaimana yang mereka (Khawarij) maksudkan’. Thaawus berkata : Ibnu ‘Abbas pernah ditanya tentang ayat ini, maka ia menjawab : ‘Itu adalah kekufurannya, namun tidak seperti halnya orang yang kufur terhadap Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan Rasul-Rasul-Nya’. Ia berkata pula : ‘Kufur yang tidak mengeluarkan dari agama’…” [Ash-Shalaah wa Ahkaamu Taarikihaa, hal 54-55].

  1. Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’diy rahimahullah.

Beliau berkata :

فالحكم بغير ما أنزل الله من أعمال أهل الكفر، وقد يكون كفرً ينقل عن الملة، وذلك إذا اعتقد حله وجوازه، وقد يكون كبيرة من كبائر الذنوب، ومن أعمال الكفر قد استحق من فعله العذاب الشديد .. ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾ قال ابن عباس: كفر دون كفر، وظلم دون ظلم، وفسق دون فسق، فهو ظلم أكبر عند استحلاله، وعظيمة كبيرة عند فعله غير مستحل له

”Berhukum dengan selain yang diturunkan Allah termasuk perbuatan orang-orang kafir, kadangkala hal itu bisa mengeluarkannya dari Islam. Yang demikian itu apabila ia meyakini tentang kebolehannya. Dan kadangkala ia merupakan dosa besar, dan hal ini termasuk perbuatan orang-orang kafir yang berhak atas perbuatannya adzab yang keras….. {Barangsiapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir}, telah berkata Ibnu ’Abbas : Kekufuran di bawah kekufuran (kufur ashghar), kedhaliman di bawah kedhaliman, dan kefasiqan di bawah kefasiqan. Hal iu menjadi kedhaliman yang besar apabila menghalalkannya, dan menjadi dosa besar apabila tidak menghalalkannya” [Taisir Kariimir-Rahman, 2/296-297].

  1. Asy-Syaikh ‘Abdul-‘Aziiz bin Baaz rahimahullah.

Beliau berkata :

اطلعت على الجواب المفيد القيّم الذي تفضل به صاحب الفضيلة الشيخ محمد ناصر الدين الألباني – وفقه الله – المنشور في جريدة “الشرق الأوسط” وصحيفة “المسلمون” الذي أجاب به فضيلته من سأله عن تكفير من حكم بغير ما أنزل الله – من غير تفصيل -، فألفيتها كلمة قيمة قد أصاب فيه الحق، وسلك فيها سبيل المؤمنين، وأوضح – وفقه الله – أنه لا يجوز لأحد من الناس أن يكفر من حكم بغير ما أنزل الله – بمجرد الفعل – من دون أن يعلم أنه استحلّ ذلك بقلبه، واحتج بما جاء في ذلك عن ابن عباس – رضي الله عنهما – وغيره من سلف الأمة.

ولا شك أن ما ذكره في جوابه في تفسير قوله تعالى: ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ
الْكَافِرُونَ ﴾، ﴿…الظَّالِمُونَ ﴾، ﴿ …الْفَاسِقُونَ ﴾، هو الصواب، وقد أوضح – وفقه الله – أن الكفر كفران: أكبر وأصغر، كما أن الظلم ظلمان، وهكذا الفسق فسقان: أكبر وأصغر، فمن استحل الحكم بغير ما أنزل الله أو الزنا أو الربا أو غيرهما من المحرمات المجمع على تحريمها فقد كفر كفراً أكبر، ومن فعلها بدون استحلال كان كفره كفراً أصغر وظلمه ظلماً أصغر وهكذا فسقه

“Aku telah mengetahui jawaban yang bermanfaat dan lurus dari Fadlilatusy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani – semoga Allah memberinya taufik – yang disebarkan lewat surat kabar Asy-Syarqul-Ausath dan Al-Muslimuun ketika beliau menjawab pertanyaan tentang ‘Pengkafiran Orang yang Berhukum dengan Selain Hukum Allah Tanpa Adanya Perincian”. Aku mendapatkannya sebagai suatu jawaban yang sangat berharga dan beliau telah benar dalam hal ini. Beliau – semoga Allah memberinya taufiq – telah menempuh jalan kaum mukminin serta menjelaskan bahwa tidak boleh bagi seorang di antara umat ini untuk mengkafirkan orang yang berhukum dengan selain hukum Allah hanya sekedar karena dia mengerjakannya tanpa mengetahui bahwasannya dia menghalalkan dalam hati. Beliau pun berdalil dengan apa-apa yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma dan dari salaf umat ini. Tidak diragukan lagi bahwa jawaban beliau tentang tafsir ketiga firman Allah itu (QS. Al-Maaidah : 44,45,47) sudah benar. Beliau menjelaskan – semoga Allah memberinya taufiq – bahwa kufur itu ada dua macam : kufur besar dan kufur kecil, sebagaimana kedzaliman dan kefasiqan itu ada dua : besar dan kecil. Maka barangsiapa yang menghalalkan berhukum dengan selain hukum Allah atau zina, riba, atau yang selainnya dari hal-hal yang diharamkan secara ijma’, maka dia kafir dan melakukan kufur besar (keluar dari Islam), dzalim dengan kedzaliman yang besar, serta fasiq dengan kefasiqan yang besar. Dan barangsiapa yang melakukannya tanpa ada penghalalan, maka kekafirannya adalah kufur kecil, kedzalimannya adalah kedzaliman kecil, dan demikian pula kefaiqannya.” [Asy-Syarqul-Ausath no. 6156, 12-5-1416 H].

  1. Asy-Syaikh Muhammad Naashiruddin Al-Albaniy rahimahullah :

«..﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾؛ فما المراد بالكفر فيها؟ هل هو الخروج عن الملة؟ أو أنه غير ذلك؟، فأقول: لا بد من الدقة في فهم الآية؛ فإنها قد تعني الكفر العملي؛ وهو الخروج بالأعمال عن بعض أحكام الإسلام. ويساعدنا في هذا الفهم حبر الأمة، وترجمان القرآن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما، الذي أجمع المسلمون جميعاً – إلا من كان من الفرق الضالة – على أنه إمام فريد في التفسير.

فكأنه طرق سمعه – يومئذ – ما نسمعه اليوم تماماً من أن هناك أناساً يفهمون هذه الآية فهماً سطحياً، من غير تفصيل، فقال رضي الله عنه: “ليس الكفر الذي تذهبون إليه”، و:”أنه ليس كفراً ينقل عن الملة”، و:”هو كفر دون كفر”، ولعله يعني: بذلك الخوارج الذين خرجوا على أمير المؤمنين علي رضي الله عنه، ثم كان من عواقب ذلك أنهم سفكوا دماء المؤمنين، وفعلوا فيهم ما لم يفعلوا بالمشركين، فقال: ليس الأمر كما قالوا! أو كما ظنوا! إنما هو: كفر دون كفر… ».

“….Barangsiapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Kekufuran apakah yang dimaksud dalam ayat ini? Apakah kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam ataukah tidak? Aku berkata : Kita harus teliti dalam memahami ayat ini. Dan terkadang yang dimaksud oleh ayat adalah kufur amali, yaitu melakukan beberapa perbuatan yang mengeluarkan pelakunya dari sebagian hukum-hukum Islam. Pemahaman kita inididukung oleh Habrul-Ummah dan Penafsir Al-Qur’an Abdullah bin Abbasradliyallaahu anhuma, yang telah disepakati oleh seluruh kaum muslimin-kecuali kelompok-kelompok sesat – bahwa beliau adalah seorang imam yang tiada bandingnya dalam tafsir Alquran. Seakan-akan beliau ketika itu telah mendengar apa yang kita dengar pada hari ini bahwa disana ada sekelompok orang yang memahami ayat ini dengan pemahaman yang dangkal tanpa perincian.
Beliau berkata : Bukan seperti kekufuran yang kalian (Khawarij) maksudkan, (yaitu) bukan kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari agama”. Akan tetapi yang dimaksud adalah kufrun duna kufrin”. Mungkin yang beliau maksudkan dengan hal itu adalah kaum Khawarij yang memberontak terhadap Amirul-Mukminin Ali radliyayaallahu ‘anhu, dan termasuk akibat dari perbuatan mereka adalah tertumpahnya darah kaum mukminin, mereka melakukan perbuatan keji terhadap kaum mukminin yang tidak mereka lakukan kepada kaum musyrikin, maka beliau berkata terhadap mereka, “Bukanlah perkara itu sebagaimana yang mereka katakan dan mereka duga, akan tetapi yang dimaksud adalah kufrun duna kufrin(kekafiran yang tidak mengeluarkan dari islam)” [At-Tahdziir min Fitnatit-Takfiir, hal. 56].

  1. Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimin rahimahullah.

Beliau berkata :

هذه الآية قيل إنها نزلت في اليهود وأستدل هؤلاء بأنها كانت في سياق توبيخ اليهود قال الله تعالى (إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدىً وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ فَلا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَناً قَلِيلاً وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ) وقيل إنها عامة لليهود وغيرهم وهو الصحيح لأن العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب ولكن ما نوع هذا الكفر قال بعضهم إنه كفر دون كفر ويروى هذا عن ابن عباس رضي الله عنهما وهو كقوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم (سباب المسلم فسوق وقتاله كفر) وهذا كفر دون كفر بدليل قول الله تعالى (وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ إنما المؤمنون أخوة) فجعل الله تعالى الطائفتين المقتتلتين أخوة للطائفة الثالثة المصلحة وهذا قتال مؤمن لمؤمن فهو كفر لكنه كفر دون كفر وقيل إن هذا يعني قوله تعالى (وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ) ينطبق على رجل حكم بغير ما أنزل الله بدون تأويل مع علمه بحكم الله عز وجل لكنه حكم بغير ما أنزل الله معتقدا أنه مثل ما أنزل الله أو خير منه وهذا كفر لأنه أستبدل دين الله بغيره.

“Ayat ini dikatakan (oleh sebagian ulama) turun kepada Yahudi. Mereka berdalil bahwa ayat tersebut siyaq-nya adalah teguran/celaan kepada Yahudi. Allah ta’alaberfirman : ‘Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir’. Dikatakan pula bahwa ayat tersebut umum, yaitu (turun) kepada Yahudi dan selain mereka. Inilah yang benar, karena pelajaran itu diambil dari keumuman lafadh bukan dari kekhususan sebab. Namun, macam apakah kekufuran yang dimaksudkan di sini ? Sebagian mereka mengatakan bahwa itu adalah kekufuran di bawah kekufuran (kufrun duuna kufrin). Telah diriwayatkan hal itu dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma. Hal itu seperti sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Mencaci seorang muslim adalah kefasiqan, dan memeranginya adalah kekufuran’. Ini adalah kekufuran di bawah kekufuran (kufrun duuna kufrin) dengan dalil firman Allah ta’ala : ‘Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara’ (QS. Al-Hujuraat : 9-10). Allah ta’ala menjadikan dua golongan yang saling berperang sebagai saudara bagi golongan ketiga yang mendamaikan. Peperangan seorang mukmin kepada mukmin lainnya adalah kekufuran, namun kekufuran di bawah kekufuran (kufrun duuna kufrin). Dikatakan pula, yaitu ayat : ‘Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir’ ditujukan kepada seseorang yang berhukum dengan selain yang diturunkan Allah tanpa adanya ta’wil; yang bersamaan dengan itu ia mengetahui kewajiban berhukum dengan hukum Alah ‘azza wa jalla; namun ia malah berhukum dengan selain yang diturunkan Allah dengan keyakinan bahwa hal itu seperti hukum yang diturunkan Allah, atau lebih baik dari hukm Allah; maka ini adalah kufur (akbar). Karena ia telah mengganti agama Allah dengan selainnya” [Fataawaa Nuur ‘alad-Darb, juz 2 – Maktabah Ruuhul-Islaam].

Itulah yang dapat dituliskan atas sebagian penjelasan keshahihan atsar Ibnu ‘Abbasradliyallaahu ‘anhuma dan pemahaman para ulama salaf yang menyertainya. Banyak hal yang belum disinggung dalam tulisan ini – khususnya mengenai beberapa syubhattakfiriyyuun terkait bahasan berhukum dengan selain hukum Allah. Namun, semoga yang sedikit ini dapat menjadi saham kecil dalam rangka nasihat kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin, dan kaum muslimin pada umumnya. Dan semoga dapat berguna bagi Penulisnya dan bagi Pembaca semuanya.

Wallaahu a’lam bish-shawwaab.

[Abu Al-Jauzaa’, di suatu pagi bulan Rajab 1430 H].

Banyak mengambil faedah dari :

Qurratul-‘Uyuun fii Tashhiih Tafsir ‘Abdilah bni ‘Abbas li-Qauli ta’ala Wa Man Lam Yahkum bi Maa Anzalallaah fa Ulaaika Humul-Kaafiruun oleh Abu Usaamah Saalim bin ‘Ied Al-Hilaliy

Al-Hukmu bi-Ghairi Maa Anzalallaah oleh Dr. Khaalid Al-Anbariy.

Takfiirul-Hukkaam Al-Muslimiin wal-Khuruuj ‘alaihim oleh Abu Yuunus.

– Beberapa referensi pelengkap dari buku-buku hadits, ilmu hadits, tafsir, dan yang lainnya; serta beberapa artikel internet.

[1] Namun Al-Imam Al-Bukhari memutlakkan istilah ‘laisa bil-qawiy’ dengan kedla’ifan [Al-Muuqidhah, hal. 83].

[2] Akan tetapi Al-Haafidh Al-‘Iraqiy memberikan perincian bahwa tidak boleh membawa lafadh laisa bihi ba’s kepada tsiqah dari Ibnu Ma’in kecuali ia (Ibnu Ma’in) menegaskan kesamaan dua lafadh tersebut. Wallaahu a’lam [lihat oleh Taudliihul-Afkaar Ash-Shan’aniy, 2/164].

[3] Lihat Tahdziibul-Kamaal, 25/325.

[4] Termasuk dalam hal ini atsar Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhu sebagaimana dalam bahasan.

TULISAN 2

Tanya : Bagaimana sikap kita dalam menghadapi pemimpin/penguasa yang dhalim dimana ia menjalankan pemerintahannya tidak sesuai tuntunan Islam dan menyia-nyiakan hak rakyat ?

Jawab : Hakekat kepemimpinan adalah amanat yang harus dilaksanakan sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah ta’ala. Allah ta’ala telah memerintahkan siapa saja yang dipasrahi amanah (termasuk kepemimpinan) agar menunaikannya serta tidak menyia-nyiakannya, sebagaimana firman-Nya :

يَأَيّهَا الّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللّهَ وَالرّسُولَ وَتَخُونُوَاْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” [QS. Al-Anfaal : 27].

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahkan telah memberikan peringatan yang sangat keras bagi para pemimpin yang menyia-nyiakan amanah Allah dalam mengurus rakyatnya, sebagaimana sabdanya :

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيْهِ اللهُ رَعِيَّةً يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ وَهُوَ غَاشٌ لِرَعِيَّتِهِ إِلّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidak ada seorang hamba pun yang mendapat amanah dari Allah untuk memimpin rakyat, lantas ia meninggal pada hari meninggalnya dimana keadaan mengkhianati rakyatnya kecuali Allah telah mengharamkan atasnya surga” [HR. Al-Bukhari no. 7150 dan Muslim no. 142].

Lantas, bagaimana sikap kita jika kita menemui pemimpin yang dhalim lagi menyia-nyiakan amanat Allah kepada rakyatnya ? Untuk menjawab hal ini, sudah barang tentu harus kita kembalikan kepada Al-Qur’an, As-Sunnah Ash-Shahiihah, serta pengamalan para shahabat dan para ulama setelahnya. Fenomena tentang munculnya para pemimpin dhalim ini sebenarnya telah ditegaskan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallamsemenjak empatbelas abad silam. Hal ini bukan baru terjadi di abad 19 atau 20 saja, melainkan telah ada dalam sejarah perjalanan Daulah Islam. Sikap pertama yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika menghadapi penguasa-penguasa seperti itu adalah bersabar dengan tetap mendengar dan taat. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِيْ أَثَرَةً فَاصْبِرُوْا حَتَّى تَلْقَوْنِيْ عَلَى الْحَوْضِ

“Sesungguhnya kalian nanti akan menemui atsarah (yaitu : pemerintah yang tidak memenuhi hak rakyat – AbuAl-Jauzaa’). Maka bersabarlah hingga kalian menemuiku di haudl”  [HR. Al-Bukhari no. 7057 dan Muslim no. 1845].

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

فيه الحث على السمع والطاعة وإن كان المتولي ظالماً عسوفاً، فيعطي حقه من الطاعة، ولا يخرج عليه، ولا يخلع، بل يتضرع إلي الله – تعالي – في كشف أذاه، ودفع شره، وإصلاحه

“Di dalam (hadits) ini terdapat anjuran untuk mendengar dan taat kepada penguasa, walaupun ia seorang yang dhalim dan sewenang-wenang. Maka berikan haknya (sebagai pemimpin) yaitu berupa ketaatan, tidak keluar ketaatan darinya, dan tidak menggulingkannya. Bahkan (perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim adalah) dengan sungguh-sungguh lebih mendekatkan diri kepada Allah ta’ala supaya Dia menyingkirkan gangguan/siksaan darinya, menolak kejahatannya, dan agar Allah memperbaikinya (kembali taat kepada Allah meninggalkan kedhalimannya)” [Syarh Shahih Muslim lin-Nawawi, 12/232].

عن علقمة بن وائل الحضرمي عن أبيه قال سأل سلمة بن يزيد الجعفي رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : يَا نَبِيَّ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ قَامَتْ عَلَيْنَا أمَرَاءُ يَسْأَلُوْنَا حَقَّهمْ وَيَمْنَعُوْنَا حَقَّنَا فَمَا تَأْمُرُنَا فَأَعْرَضَ عَنْهُ ثُمَّ سَأَلَهُ فَأَعْرَضَ عَنْهُ ثُمَّ سَأَلَهُ فِي الثَّانِيَةِ أَوْ فِي الثَّالِثَةِ فَجَذَبَه اْلأَشْعَثُ بْنِ قَيْسِ وَقَالَ اسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهمْ مَا حَمَلُوْا وَعَلَيْكُمْ مَا حَمَلْتُمْ

Dari ‘Alqamah bin Wail Al-Hadlrami dari ayahnya ia berkata : Salamah bin Yazid Al-Ju’fiy pernah bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “WahaiNabiyullah, bagaimana pendapatmu jika kami punya pemimpin yang menuntut pemenuhan atas hak mereka dan menahan (tidak menunaikan) hak kami. Apa yang engkau perintahkan kepada kami ?”. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallamberpaling darinya, dan Salamah kembali mengulangi pertanyaannya. Dan hal itu berulang hingga dua atau tiga kali. Kemudian Al-Asy’ats bin Qais menariknya (Salamah). Dan akhirnya beliau menjawab : “(Hendaklah kalian) mendengar dan taat kepada mereka. Karena hanyalah atas mereka apa yang mereka perbuat dan atas kalian apa yang kalian perbuat” [HR. Muslim no. 1846].

Hadits di atas merupakan jawaban yang sangat gamblang bagi para pecinta Sunnah (Ahlus-Sunnah), yaitu tetap sabar atas kedhaliman penguasa serta tetap mendengar dan taat kepada mereka dalam perkara-perkara yang ma’ruf.[1] Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكرَهَ إِلا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَّةٍ فَإِنْ أَمَرَ بِمَعْصِيَّةٍ فَلا سَمْعَ وَلا طَاعَةَ

“Wajib atas seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa/umaraa’) pada apa-apa yang ia sukai atau ia benci, kecuali apabila penguasa itu menyuruh untuk berbuat kemaksiatan. Apabila ia menyuruh untuk berbuat maksiat, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat” [HR. Al-Bukhari no. 2955,7144; Muslim no. 1839; Tirmidzi no. 1707; Ibnu Majah no. 2864]. [2]

Al-‘Allamah Al-Mubarakfury berkata :

وفيه : أن الإمام إذا أمر بمندوب أو مباح وجب . قال المطهر على هذا الحديث : (( يعني :سمع كلام الحاكم وطاعته واجب على كل مسلم، سواء أمره بما يوافق طبعه أو لم يوافقه، بشرط أن لا يأمره بمعصية فإن أمره بها فلا تجوز طاعته لكن لا يجوز له محاربة الإمام ))

“Dalam hadits ini (yaitu Sunan At-Tirmidzi no. 1707) terkandung tuntutan bahwa jika imam/pemimpin itu memerintahkan untuk mengerjakan amalan sunnah atau mubah, maka wajib untuk melaksanakannya. Al-Muthahhar mengomentari hadits ini : ‘Yaitu bahwa mendengar ucapan penguasa dan mentaatinya adalah perkara wajib bagi setiap muslim, baik dia memerintah kepada apa yang sesuai dengan tabiat muslim tersebut atau tidak. Syaratnya adalah penguasa tersebut tidak memerintahkannya untuk berbuat maksiat. Jika penguasa memerintahkan berbuat maksiat, maka tidak boleh mentaatinya (dalam perkara maksiat tersebut), namun juga tidak boleh membangkang/memerangi penguasa tersebut” [Tuhfatul-Ahwadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi, 5/365, Cet. As-Salafiyyah, Madinah].

Al-Harb berkata dalam kitabnya Al-‘Aqidah dengan menukil perkataan dari sejumlah ulama salaf :

وإن أمرك السلطان بأمر فيه لله معصية فليس لك أن تطعه البتة وليس لك أن تخرج عليه ولا تمنعه حقه

“Jika sulthan (penguasa) memerintahkanmu tentang satu perkara kemaksiatan di sisi Allah, maka tidak ada ketaatan bagimu kepadanya. Akan tetapi, engkau juga tidak boleh keluar dari ketaatannya dan menahan haknya” [Lihat Haadil-Arwaah oleh Ibnul-Qayyim hal. 401].

Dan inilah contoh praktek nyata dari salah satu Imam kaum muslimin, yaitu Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, ketika terjadi fitnah di masanya. Ketika itu semarak pemahaman kufur Mu’tazillah dan Jahmiyyah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Para penguasa banyak menumpahkan darah dan memenjarakan para ulama dan kaum muslimin, termasuk di antaranya Imam Ahmad. Kisah kesabaran dan sikap Imam Ahmad terhadap penguasa yang dhalim ini sudah sedemikian masyhur [3]. Al-Imam Hanbal rahimahullah mengisahkan :

أجتمع فقهاء بغداد في ولاية الواثق إلي أبي عبد الله – يعني الإمام أحمد بن حنبل – رحمه الله تعالي – وقالوا له: أن الأمر قد تفاقم وفشا – يعنون: إظهار القول بخلق القرآن، وغير ذلك ولا نرضي بإمارته ولا سلطانه !
فناظرهم في ذلك، وقال: عليكم بالإنكار في قلوبكم ولا تخلعوا يداً من طاعة، ولا تشقوا عصا المسلمين، ولا تسفكوا دمائكم ودماء المسلمين معكم وانظروا في عاقبة أمركم، واصبروا حتى يستريح بر، ويستراح من فاجر
وقال ليس هذا – يعني نزع أيديهم من طاعته – صواباً، هذا خلاف الآثار

“Para ahli fiqh Baghdad bersepakat menemui Abu ‘Abdillah – yaitu Imam Ahmad bin Hanbal – untuk membicarakan kepemimpinan Al-Watsiq (yaitu karena penyimpangan dan kedhalimannya terhadap hak-hak kaum muslimin). Mereka mengadu : “Sesungguhnya perkara ini telah memuncak dan tersebar, yaitu ucapan : Al-Qur’an adalah makhluk [4] dan perkara yang lainnya (yaitu kedhalimannya terhadap kaum muslimin). Kami tidak ridla dengan kepemimpinannya dan kekuasaannya”. Maka beliau (Al-Imam Ahmad) mendebat mereka dan berkata : “Wajib atas kalian mengingkarinya hanya dalam hati kalian. Janganlah kalian melepaskan tangan kalian dari ketaatan (kepada pemerintah), janganlah kalian memecah-belah persatuan kaum muslimin, janganlah kalian menumpahkan darah kalian dan darah kaum muslimin. Renungkanlah oleh kalian akibat yang akan ditimbulkan dari apa yang hendak kalian lakukan. Dan bersabarlah kalian sampai orang yang baik hidup tentram dan selamat dari orang yang jahat”. Lalu beliau melanjutkan : “Hal ini (yaitu keluar dari ketaatan penguasa/pemimpin) bukanlah suatu kebaikan. Ini adalah tindakan yang menyelisihi atsar” [Al-Adabusy-Syar’iyyah oleh Ibnu Muflih juz 1 hal. 195,196. Kisah ini juga dikeluarkan oleh Al-Khallal dalam As-Sunnah hal. 133].

Bersabar dan tidak keluar dari ketaatan bukan berarti kita meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar. Kita tetap diwajibkan untuk beramar ma’ruf nahi munkar kepada siapapun – termasuk kepada penguasa/pemimpin – sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Namun, tidak boleh bagi kita dengan mengatasnamakan amar ma’ruf nahi munkar untuk menjelek-jelekkan penguasa di muka umum, seperti mengatakan kalimat-kalimat provokatif : “Penguasa kita ini adalah penguasa yang korup; Penguasa kita dan kabinetnya telah terpengaruh pada ide-ide kafir; Kebijakan penguasa kita telah membuat rakyat sengsara; Para pemimpin kita telah menyia-nyiakan amanat ; dan yang semisalnya.  Pernyataan-pernyataan seperti itu (walau dengan alasan nasihat dan amar ma’ruf nahi munkar) akan menimbulkan fitnah yang besar. Antara pemimpin dan rakyat semakin terbuka jurang pemisah. Tuntutan syari’at untuk mendengar dan taat pada perkara yang mubah dan ma’ruf pun akhirnya ditinggalkan karena kebencian mereka terhadap para pemimpin. Apabila itu berlanjut, api fitnah semakin menyala-nyala, diangkatlah senjata, dan akhirnya tumpahlah darah. Imbasnya pula, muncullah kelompok-kelompok sempalan yang mengkafirkan negeri-negeri Islam, para penguasa muslim, dan bahkan kaum muslimin secara umum. Ini bukanlah prediksi fiktif tanpa bukti…..

Islam sebagai agama yang hanif telah memberikan kaifiyah (cara) menasihati dan beramar-ma’ruf nahi munkar kepada penguasa, sebagaimana sabda Rasulullahshallallaahu ’alaihi wa sallam :

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَّةً وَلَكِنْ لَيَأْخُذَ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang ingin menasihati sulthan (pemimpin kaum muslimin) tentang satu perkara, maka janganlah ia menampakkannya secara terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangannya secara menyendiri (untuk menyampaikan nasihat).Bila sulthan tersebut mau mendengar nasihat tersebut, maka itu yang terbaik. Dan bila sulthan tersebut enggan (tidak mau menerima), maka sungguh ia (si penasihat) telah melaksanakan kewajibannya yang dibebankan kepadanya” [HR. Ahmad no. 15369, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah no. 1096-1098, dan Al-Hakim no. 5269; shahih lighairihi].

Realisasi petunjuk Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam di atas tercermin dari apa yang dilakukan Usamah bin Zaid radliyallaahu ‘anhu ketika banyak kaum muslimin terpengaruh hembusan fitnah kaum munafikin pada masa pemerintahan Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radliyallaahu ‘anhu, dimana beliau dan para pejabat yang mendampinginya dituduh telah banyak melakukan penyelewengan (dan sungguh jauh sangkaan mereka itu – Abu Al-Jauzaa’).

عن أسامة بن زيد قال قيل له ألا تدخل على عثمان فتكلمه فقال أترون أني لا أكلمه إلا أسمعكم والله لقد كلمته فيما بيني وبينه ما دون أن أفتتح أمرا لا أحب أن أكون أول من فتحه

Dari Usamah bin Zaid radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Seseorang berkata kepadanya : “Apakah engkau tidak menemui ‘Utsman (bin ‘Affan) dan menasihatinya ?”. Maka Usamah menjawab : “Apakah engkau memandang bahwa aku tidak menasihatinya kecuali aku perdengarkan di hadapanmu ? Demi Allah, sungguh aku telah menasihatinya dengan empat mata. Sebab aku tidak akan membuka perkara (fitnah) dimana aku tidak menyukai jikalau aku adalah orang pertama yang membukanya” [HR. Al-Bukhari no. 7098 dan Muslim no. 2989]. [5]

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata :

ولكنه ينبغي لمن ظهر له غلط الإمام في بعض المسائل أن يناصحه ولا يظهر الشناعة عليه على رؤوس الأشهاد بل كما ورد في الحديث أنه يأخذ بيده ويخلو به ويبذل له النصيحة ولا يذل سلطان الله وقد قدمنا في أول كتاب السير هذا أنه لا يجوز الخروج على الأئمة وإن بغوا في الظلم أي مبلغ ما أقاموا الصلاة ولم يظهر منهم الكفر البواح والأحاديث الواردة في هذا المعنى متواترة ولكن على المأموم أن يطيع الإمام في طاعة الله ويعصيه في معصية الله فإنه لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق.

“Akan tetapi, barangsiapa yang mengetahui kesalahan seorang imam (penguasa) dalam sebagian permasalahan, sudah selayaknya menasihati tanpa mempermalukannya di hadapan khalayak umum. Namun caranya adalah sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadits : “Hendaklah ia mengambil tangan penguasa itu dan mengajak berduaan dengannya, mencurahkan nasihat kepadanya, dan tidak menghinakan penguasa Allah”. Telah kami paparkan diawal buku As-Siyar bahwa tidak boleh memberontak kepada imam-imam (pemerintah) kaum muslimin walaupun mereka sampai berbuat kedhaliman apapun selama mereka menegakkan shalat dan tidak nampak kekufuran yang nyata dari mereka. Hadits-hadits yang diriwayatkan dengan makna seperti ini adalah mutawatir. Namun wajib bagi orang yang dipimpin untuk mentaati imam dalam ketaatan kepada Allah dan mendurhakainya bila ia mengajak bermaksiat kepada Allah. Sebab tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq” [As-Sailul-Jarar, hal. 965; Daar Ibni Hazm, Cet. 1].

Inilah petunjuk Nabawi tentang nasihat dan amar-ma’ruf nahi munkar terhadap penguasa muslim. Hadits di atas sekaligus sebagai penafsir hadits lain yang berbunyi :

إن من أعظم الجهاد كلمة عدل عند سلطان جائر

“Sesungguhnya jihad yang paling besar adalah kalimat ‘adil (benar) yang disampaikan di sisi penguasa yang dhalim/jahat” [HR. Abu Dawud no. 4344, At-Tirmidzi no. 2174, Ibnu Majah no. 4011, Al-Khathiib dalam Taariikh-nya 7/28, dan yang lainnya; shahih].

Mengapa disebut jihad yang paling besar ? Tidak lain karena ia telah berani menyampaikan kebenaran langsung di hadapan penguasa dengan cara menemuinya empat mata. Bisa jadi ia ditangkap, dipenjara, atau bahkan dibunuh karena nasihat yang disampaikannya. Dan itulah jihad baginya.

Kita tetap dituntut untuk menjelaskan kepada umat bahwa yang haq itu adalah haq dan yang bathil adalah bathil. Misalnya saja, jika penguasa kita menerapkan sistem perekonomian kapitalis ala Yahudi yang menyuburkan praktek riba. Maka, tidak ada alasan untuk tidak mengatakan bahwa riba itu haram. Kita tetap menjelaskan kepada umat tentang hal tersebut dan memperingatkan mereka agar menjauhi riba dengan segala macam jenis dan cabangnya; tanpa perlu kita mengeluarkan perkataan-perkataan yang bernada mencela pemerintah/penguasa yang memprovokasi massa serta membakar emosi khalayak. Kita ucapkan perkataan-perkataan yang mulia kepada penguasa tanpa ada kesan menjilat. Tetap tegas, akan tetapi sesuai Sunnah.

Kesimpulan : Bila kita mendapatkan penguasa melakukan kemaksiatan – baik yang berhubungan dengan pribadi maupun urusan rakyatnya – maka kita diperintahkan untuk bersabar, mendengar dan taat (dalam hal yang ma’ruf), serta dilarang mencela mereka (baik dilakukan di mimbar-mimbar, buku-buku, buletin, majalah, radio, atau media-media lainnya). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melarang mencela penguasa/pemimpin secara khusus dalam haditsnya yang shahih. Hal itu hanyalah akan menimbulkan fitnah. Kebenaran harus kita tegakkan tanpa merendahkan kedudukan pemimpin/penguasa di mata umat. Mendengar dan taat kepada penguasa yang dhalim/jahat bukan berarti ridla dengan kemaksiatan yang ia lakukan. Apabila seseorang ingin menasihati seorang pemimpin/penguasa terkait dengan kemaslahatan kaum muslimin, maka hendaknya ia lakukan secara pribadi (empat mata). Itulah petunjuk Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang banyak ditinggalkan oleh sebagian kaum muslimin. Hendaknya kita senantiasa berdoa kepada Allah agar Dia memberikan petunjuk kepada para pemimpin kita untuk selalu kembali pada kebenaran dan istiqamah di atasnya. Penguasa pada hakekatnya merupakan perwujudan kondisi umat. Bila umat masih bergelimang dalam kesyirikan, bid’ah, dan maksiat ; maka terangkatlah seorang pemimpin yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan mereka. Sangat sulit membayangkan terwujudnya kepemimpinan ala Abu Bakar Ash-Shiddiq jika umat masih dalam keadaan seperti ini. Ini merupakan bagian dari ujian Allah kepada kita. Siapa yang mengikuti petunjuk Nabi, maka ia akan selamat ; dan siapa yang menyimpang darinya, maka ia akan binasa. Wallaahu a’lam.

DIALOG LANJUTAN……

Tanya : Saya setuju dengan pernyataan taat kepada pemimpin. Namun, menurut saya, semua itu terkait dengan pemimpin yang masih berhukum dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Lantas, bagaimanakah dengan pemimpin yang tidak berhukum dengan kedua hal tersebut (sebagaimana sekarang) ? Dan tolong hubungkan dengan QS. 5 : 44,45,47 dan QS. 3 : 118 ?

Jawab : Telah disebutkan dalam uraian kami sebelumnya tentang satu hadits tentang kemunculan atsarah. Pada kesempatan ini akan kami tuliskan riwayat yang lain tentangatsarah :

إنَّهَا سَتَكُوْنُ بَعْدِيْ أَثَرَة وأُمُوْر تُنْكِرُوْنَهَا قَالُوْا يَا رَسُْولَ الله كَيْفَ تَأْمُرُ مَنْ أَدْرَكَ مِنَّا ذَلِكَ قَالَ تُؤَدُّوْنَ الْحَقَّ الَّذِيْ عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُوْنَ اللهَ الَّذِيْ لَكُمْ

“Sesungguhnya sepeninggalku akan ada “atsarah” dan banyak perkara yang kalian ingkari dari mereka”. Para shahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami yang menemuinya ?”. Beliau menjawab : “Tunaikan hak (mereka) yang dibebankan/diwajibkan atas kalian, dan mintalah hak kalian kepada Allah” [HR. Muslim no. 1843].

Imam An-Nawawi berkata :

والأثرة : الاستئثار والاختصاص بأمور الدنيا عليكم. أي : أسمعوا وأطيعوا وأن أختص الأمراء بالدنيا، ولم يوصلوكم حقكم مما عندهم

Al-Atsarah adalah monopoli dan berbuat sewenang-wenang terhadap kalian dalam urusan dunia. Jadi arti hadits itu (yaitu hadits atsarah) adalah : dengar dan taatilah pemerintah/penguasa tersebut walaupun mereka lebih mengutamakan dan mengutamakan urusan dunia mereka di atas kalian [Syarh Shahih Muslim lin-Nawawi, 12/225].[6]

Beliau kemudian melanjutkan :

فيه الحث على السمع والطاعة وإن كان المتولي ظالماً عسوفاً، فيعطي حقه من الطاعة، ولا يخرج عليه، ولا يخلع، بل يتضرع إلي الله – تعالي – في كشف أذاه، ودفع شره، وإصلاحه

“Di dalam (hadits atsarah) ini terdapat anjuran untuk mendengar dan taat kepada penguasa, walaupun ia seorang yang dhalim dan sewenang-wenang. Maka berikan haknya (sebagai pemimpin) yaitu berupa ketaatan, tidak keluar ketaatan darinya, dan tidak menggulingkannya. Bahkan (perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim adalah) dengan sungguh-sungguh lebih mendekatkan diri kepada Allah ta’alasupaya Dia menyingkirkan gangguan/siksaan darinya, menolak kejahatannya, dan agar Allah memperbaikinya (kembali taat kepada Allah meninggalkan kedhalimannya)” [idem, 12/232].

Al-Atsarah sebagaimana yang terdapat dalam hadits itu merupakan gambaran penguasa dhalim yang menyia-nyiakan amanah kepemimpinan yang diberikan Allah untuk ditunaikan kepada rakyatnya. Ia adalah tipe penguasa yang sewenang-wenang. Dalam realitas kehidupan kita, maka al-atsarah tergambar pada diri seorang pemimpin yang melakukan korupsi, kolusi, nepotisme, dan perbuatan maksiat lainnya. Pendek kata, ia merupakan tipe penguasa yang menjalankan kepemimpinannya dengan tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah (pada beberapa permasalahan). Lantas, apa yang mesti diperbuat oleh kaum muslimin ketika menemui atsarah ini ? Keluar dari ketaatan ? atau bahkan memberontak (kudeta) ? Ternyata tidak. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam – dan beliaulah orang yang paling tahu tentang syari’at Islam – tetap memerintahkan untuk sabar, mendengar dan taat pada hal-hal yang ma’ruf, selama pemimpin tersebut masih berstatus sebagai seorang muslim (tidak kafir) dan masih menegakkan shalat.

عَن عبَادَةَ ابن الصَامت – رَضيَ الله عَنه -، قَالَ : دَعَانَا رَسول الله صَلَى الله عَلَيه وَسَلَمَ فَبَايَعنَاه فَكَانَ فيمَا أَخَذَ عَلَينَا أَن بَايعنا على السمع والطاعة في منشطنا ومكرهنا وعسرنا ويسرنا وأثرة علينا وأن لا ننازع الأمر أهله قال إلا أن تروا كفرا بواحا عندكم من الله فيه برهان

Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyeru kami, maka kami membaiat kepada beliau. Adapun bai’at kami terhadap beliau adalah untuk selalu mendengar dan taat dalam dalam keadaan senang dan benci; dalam keadaan kami sulit dan dalam keadaan mudah; ketika kesewenang-wenangan menimpa kami; dan juga agar kami tidak mencabut perkara (kekuasaan) dari ahlinya (yaitu penguasa). Lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallambersabda : “Kecuali bila kalian melihat kekufuran yang jelas/nyata berdasarkan keterangan dari Allah” [HR. Al-Bukhari no. 7005 dan Muslim no. 1709]. [7]

Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

“Sebaik-baik pemimpin-pemimpin kamu adalah dimana kamu mencintainya dan mereka mencintaimu. Kamu mendoakannya dan mereka pun mendoakanmu. Adapun sejelek-jelek pemimpin kamu adalah dimana kamu membencinya dan mereka pun membencimu, kamu melaknatnya dan mereka pun melaknatmu”. Dikatakan : Wahai Rasulullah, apakah kami tidak memeranginya saja dengan pedang ?”. Beliau menjawab :“Tidak, selama mereka masih menegakkan shalat di tengah kalian. Apabila kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kamu benci, maka bencilah perbuatannya saja dan jangan melepaskan tangan dari ketaatan” [HR. Muslim no. 1855, Ahmad no. 24027 dan lainnya]. [8]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan barometer menegakkan shalat sebagai tolok-ukur ketaatan terhadap penguasa adalah karena shalat merupakan ibadah amali paling agung (setelah ucapan syahadat) yang jika ditinggalkan dapat menjerumuskan seseorang pada kekafiran.[9] Pada asalnya, ketaatan tidaklah diberikan kecuali pada seorang muslim.

Adapun tentang firman Allah ta’ala :

وَمَن لّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ…… وَمَن لّمْ يَحْكُم بِمَآ أنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـَئِكَ هُمُ الظّالِمُونَ…… وَمَن لّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. [QS. Al-Maidah : 44] “Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”. [QS. Al-Maidah : 45] “Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”[QS. Al-Maidah : 47] [10]

maka ayat di atas juga tidak memutlakkan setiap orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah adalah kufur akbar yang mengeluarkannya dari Islam (murtad) yang dengan itu kita boleh keluar dari ketaatan kepadanya (bahkan memberontak/angkat senjata kepadanya). Kita semua paham – insyaAllah – bahwasannya berhukum dengan hukum Allah itu mencakup segala hal (aqidah, hukum, akhlaq, dan yang sebagainya); karena kalimat maa anzalallah (apa-apa yang diturunkan Allah) meliputi semua isi dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Semua hal yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka hal itu dinamakan ghairu maa anzalallaah (selain yang diturunkan Allah).

Jika ada orang yang berpandangan dengan pemutlakan kekafiran (kufur akbar) terhadap siapa saja yang tidak berhukum dengan hukum Allah, maka konsekuensinya dia akan mengkafirkan hampir seluruh kaum muslimin, dan mungkin juga termasuk dirinya. Ia akan mengkafirkan pada setiap pelaku kemaksiatan seperti pembohong, pencuri, pezina, dan yang lain-lain. Tidak diragukan lagi ini adalah i’tiqad (keyakinan) yang salah yang merupakan warisan kaum sesat Khawarij dan Mu’tazillah.

Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah telah mengisyaratkan hal ini dengan perkataannya :

فإن الله عز وجل قال : ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون ، ومن لم يحكم بما أنز الله فأولئك هم الفاسقون ، ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الظالمون . فليلزم المعتزلة أن يصرحوا بكفر كل عاص وظالم وفاسق لأن كل عامل بالمعصية فلم يحكم بما أنزل الله

“Sesungguhnya Allah telah berfirman : Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir ; Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasiq ;Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dhalim. Maka konsekuensi bagi Mu’tazillah, hendaknya mereka mengkafirkan setiap pelaku kemaksiatan, kedhaliman, dan kefasikan; karena setiap pelaku kemaksiatan itu tidaklah berhukum dengan apa yang diturunkan Allah” [Al-Fishaal juz 3 hal. 234]. [11]

Ahlus-Sunnah telah sepakat bahwa bahwa orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah tidaklah selalu jatuh padanya kufur akbar yang menyebabkan keluar dari agama. Bisa jadi perbuatan tersebut merupakan kufur ashghar yang tidak sampai mengeluarkannya dari agama (tapi ia tetap merupakan dosa besar yang wajib bagi seseorang untuk bertaubat). Para ulama telah menjelaskan makna dari ayat di atas sebagai berikut :

Abul-’Abbas Al-Qurthubi rahimahullah (guru dari mufassir Abu ’Abdillah Al-Qurthubirahimahullah penulis Al-Jaami’ li-Ahkaamil-Qur’an) berkata :

وقوله تعالى : { ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون )) ؛ يحتجُّ بظاهره من يُكفِّرُ بالذنوب ، وهم الخوارج ، ولا حجَّة لهم فيه ؛ لأنَّ هذه الآيات نزلت في اليهود المحرفين كلام الله تعالى ، كما جاء في هذا الحديث ، وهم كفار ، فيشاركهم في حكمها من يشاركهم في سبب نزولها . وبيان هذا : أن المسلم إذا علم حكم الله تعالى في قضيَّة قطعًا ، ثم لم يحكم به ؛ فإن كان عن جَحْدٍ كان كافرًا ، لا يختلف في هذا . وإن كان لا عن جَحْدٍ كان عاصيًا مرتكب كبيرة ؛ لأنَّه مصدق بأصل ذلك الحكم ، وعالم بوجوب تنفيذه عليه ، لكنه عصى بترك العمل به ، وهكذا في كل ما يعلم من ضرورة الشرع حكمه ، كالصلاة ، وغيرها من القواعد المعلومة . وهذا مذهب أهل السُّنه.

”Firman Allah ta’ala : Barangsiapa yang tidak berhukum/memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir [QS. Al-Maaidah : 44]. Dhahir ayat ini dijadikan hujjah bagi orang yang mengkafirkan orang yang berbuat dosa (yaitu khawarij), padahal tidak ada hujjah bagi mereka pada ayat tersebut. Karena ayat-ayat ini turun pada orang Yahudi yang menyelewengkan firman Alah ta’ala, sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits, dan mereka adalah orang-orang kafir. Maka orang-orang yang semisal dengan mereka yang menjadi sebab turun ayat ini, sama pula hukumnya. Penjelasannya adalah : Sesungguhnya seorang muslim bila dia mengetahui hukum Allah ta’ala pada perkara tertentu, kemudian dia tidak menjalankannya, jika hal itu dilakukan karena pengingkarannya (terhadap hukum tersebut), maka dia kafir dan ini tidak diperselisihkan lagi. Namun jika tidak demikian (tidak mengingkari), maka dia termasuk orang yang berbuat dosa besar, karena dia masih mengakui pokok hukum tersebut dan mengetahui kewajiban menjalankan hukum tersebut, tapi dia bermaksiat dengan meninggalkannya. Demikian pula halnya dengan perkara-perkara yang hukumnya sudah diketahui dengan gamblang dari syari’at ini seperti shalat dan selainnya berupa kaidah-kaidah yang sudah dimaklumi. Inilah madzhab Ahlus-Sunnah. [Al-Mufhim limaa Asykala min Talkhiisi Kitaabi Muslim, 5/117].

Ibnul-Jauzi rahimahullah berkata :

أن من لم يحكم بما أنزل الله جاحداً له، وهو يعلم أن الله أنزله؛ كما فعلت اليهود؛ فهو كافر، ومن لم يحكم به ميلاً إلى الهوى من غير جحود؛ فهو ظالم فاسق، وقد روى علي بن أبي طلحة عن ابن عباس؛ أنه قال: من جحد ما أنزل الله؛ فقد كفر، ومن أقرّبه؛ ولم يحكم به؛ فهو ظالم فاسق

“Kesimpulannya, bahwa barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah dalam keadaan mengingkari akan kewajiban (berhukum) dengannyapadahal dia mengetahui bahwa Allah-lah yang menurunkannya – seperti orang Yahudi –maka orang ini kafir. Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah karena condong pada hawa nafsunya – tanpa adanya pengingkaran –maka dia itu dhalim dan fasiq. Dan telah diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas bahwa dia berkata : ‘Barangsiapa yang mengingkari apa-apa yang diturunkan Allah maka dia kafir. Dan barangsiapa yang masih mengikrarkannya tapi tidak berhukum dengannya, maka dia itu dhalim dan fasiq” [lihat Zaadul-Masiir 2/366]. Dan lain-lain [12].

Jika ada orang yang berkata : “Bukankah para penguasa kita telah ‘mengganti’ hukum Allah dengan hukum-hukum lain seperti demokrasi sehingga dengan itu mereka telah kafir ?”. Maka kita jawab : “Tidak diragukan bahwa hukum demokrasi merupakan hukum kufur. Namun perlu dicatat bahwa « mengganti » atau tabdiil (تَبْدِيْلٌ) yang dijelaskan para ulama Ahlus-Sunnah maknanya adalah keadaan seorang yang membuat hukum selain hukum Allah dengan menganggap bahwa itu adalah hukum Allah atau seperti hukum Allah. Adapun jika tidak demikian, maka bukan dinamakan tabdil (yang menyebabkan kufur akbar).

Al-Imam Ibnul-‘Arabi rahimahullah berkata :

وهذا يختلف: إن حكم بما عنده على أنه من عند الله فهو تبديل له يوجب الكفر. وإن حكم به هوى و معصية فهو ذنب تدركه المغفرة على أصل أهل السنة في الغفران للمذنبين

“Dan ini berbeda : Jika dia berhukum dengan hukum dari dirinya sendiri dengan anggapan bahwa ia dari Allah maka ia adalah tabdiil (mengganti) yang mewajibkan kekufuran baginya. Dan jika dia berhukum dengan hukum dari dirinya sendiri karena hawa nafsu dan maksiat, maka ia adalah dosa yang masih bisa diampuni sesuai dengan pokok Ahlus-Sunnah tentang ampunan bagi orang-orang yang berdosa” [lihat Ahkaamul-Qur’an juz 2 hal. 624].

Apa yang dikatakan oleh Ibnu ‘Arabi ini sama seperti yang dikatakan oleh Al-Qurthubi dalam Tafsir-nya (6/191) dan Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (3/268). Kita harus berhati-hati dalam masalah ini. Jika kita tidak bisa menetapkan dengan satu kepastian, maka tidak boleh kita menghilangkan sifat iman dan Islam dari seorang muslim (sehingga menghukuminya menjadi seorang kafir). [13]

Inti dari penjelasan di atas adalah bahwa tidak berhukumnya seseorang dengan satu atau beberapa bagian dari hukum Allah tidaklah selalu mengharuskan adanya kekafiran baginya. Hal itu sangat selaras dengan hadits :

لينقضن عرا الإسلام عروة عروة فكلما انتقضت عروة تشبت الناس بالتي تليها وأولهن نقضا الحكم وأخرهن الصلاة

“Sungguh akan lepas tali Islam seutas demi seutas. Maka setiap kali terlepas seutas, diikuti oleh manusia. Dan yang pertama kali terlepas adalah hukum dan yang terakhir sekali adalah shalat.” [HR. Ahmad no. 22214; shahih].

Perhatikanlah ! Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak menghilangkan Islam secara keseluruhan (hingga menjadi kafir) hanya karena sebab tidak berhukum dengan hukum Allah pada beberapa bagiannya. Nash ini berlaku umum, baik amir (penguasa) maupun ma’mur (rakyat). Perinciannya adalah sebagaimana telah dituliskan. Jika hal ini telah menjadi pemahaman bagi kita semua, maka ayat selanjutnya dari yang ditanyakan (yaitu QS. Aali Imran : 118) menjadi sangat mudah. Allah ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” [QS. Aali-‘Imraan : 118].

Dalam ayat tersebut hanyalah mengandung larangan untuk menjadikan teman kepercayaan (bithaanah) selain dari kalanganmu (min duunikum). Kalimat min duunikum di sini maknanya adalah selain dari kaum muslimin, yaitu orang kafir. Jadi larangan pada ayat tersebut adalah larangan untuk menjadikan orang kafir sebagai teman dekat yang kita [lihat Tafsir Ibnu Katsir QS. Aali ‘Imran : 118].

Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah tidaklah selalu berkonsekuensi kafir, maka menerapkan ayat tersebut dalam pembahasan adalah kurang tepat. Kita tetap diperintahkan untuk mendengar dan taat pada penguasa selama ia masih berstatus Islam dan menegakkan shalat.

Terakhir, kami tutup pembicaraan ini dengan hadits :

يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ، قَالَ: قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟، قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

“Akan ada sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku, dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul pula di tengah-tengah kalian orang-orang yang hatinya adalah hati syaithan dalam wujud manusia. Aku (Hudzaifah) bertanya : “Apa yang harus aku lakukan jika aku mendapatkannya?”. Beliau menjawab :“(Hendaknya) kalian mendengar dan taat kepada amir, meskipun ia memukul punggungmu dan merampas hartamu, tetaplah mendengar dan taat” [HR. Muslim no. 1847].[14]

Wallaahu a’lam.

[Abu Al-Jauzaa’ di tengah keheningan malam pada tanggal 23 Jumadits-Tsani 1430 H].

[1]     Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إنما الطاعة في المعروف

“Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang ma’ruf (kebajikan)” [HR. Al-Bukhari no. 4340,7257; Muslim no. 1840; Abu Dawud no. 2625; dan lain-lain].

[2]     Sebagian orang ada yang mempunyai pemahaman bahwa jika ada seorang pemimpin yang memerintahkan kemaksiatan atau berbuat kemaksiatan, maka otomatis gugurlah ketaatan kepadanya secara keseluruhan berdasarkan hadits tersebut. Pemahaman tersebut adalah tidak benar. Sudah menjadi pengetahuan yang jamak di kalangan ulama dan penuntut ilmu bahwa yang gugur itu hanyalah pada hal perintah maksiat saja. Adapun ketaatan secara umum kepadanya masih tetap ada dan wajib dilakukan. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallambersabda :

ألا من ولي عليه وال فرآه يأتي شيئا من معصية الله فليكره ما يأتي من معصية الله ولا ينزعن يدا من طاعة

“Ketahuilah, barangsiapa diperintah atasnya (oleh) seorang wali (imam/pemimpin), kemudian dia melihat (imam/pemimpin tersebut melakukan) kemaksiatan kepada Allah, maka hendaknya dia membenci kemaksiatan kepada Allah (yang dilakukan imam/pemimpin tersebut). Dan tidak boleh baginya melepaskan tangan (keluar) dari ketaatan” [HR. Muslim no. 1855].

[3]     Misalnya dapat dibaca dalam kitab Siyaru A’lamin-Nubalaa’ karya Imam Adz-Dzahabi yang tersebar dalam beberapa juznya.

[4]     Perkataan ini adalah perkataan kufur menurut kesepakatan ulama Ahlus-Sunnah; karena Al-Qur’an adalah Kalamullah, bukan makhluk – Abu Al-Jauzaa’.

[5]     Ibnu Hajar berkata [أي باب الإنكار على الأئمة علانية خشية ان تفترق الكلمة] “Yaitu pintu mengingkari para penguasa dengan cara terang-terangan (di hadapan khalayak), karena aku mengkhawatirkan persatuan kaum muslimin akan tercerai-berai.” [Fathul Bari juz 13 penjelasan hadits nomor 6685].

[6]     Pengertian atsarah yang diterangkan oleh An-Nawawi adalah sama dan semakna sebagaimana yang diterangkan oleh ulama yang lainnya, seperti Ibnul-Atsir (An-Nihayah fii Gharibil-Hadits), As-Suyuthi (Ad-Diibaaj ‘alaa Shahih Muslim), Abul-‘Abbas Al-Qurthubi (Al-Mufhim lima Asykala min-Talkhiisi Kitaabi Muslim), Al-Qadli ‘Iyadl (Ikmaalul-Mu’lim Syarh Shahih Muslim), Ibnu Barjas (Mu’ammalatul-Hukkam), dan yang lainnya.

Sebagai contoh Al-Hafidh As-Suyuthi rahimahullah menerangkan makna Atsarah : “Monopoli dan berbuat sewenang-wenang dalam urusan dunia, dan menghalang-halangi sampai kebenaran dari apa-apa yang berada di tangannya (tanggung jawabnya)” [Ad-Diibaaj, penjelasan hadits no. 1846].

[7]     Kekufuran yang nyata/jelas yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah kekufuran yang didasari atas nash yang dapat menyebabkan seseorang keluar dari agama Islam (kufur akbar), secara yakin tanpa adanya kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat memalingkannya dari kekufuran tersebut. Vonis kufur ini tidak bisa dilakukan kecuali setelah ditegakkannya hujjah kepada pelaku (dan si pelaku paham dengan hujjah yang diberikan) serta terpenuhinya syarat-syarat pengkafiran. Syarat-syarat pengkafiran adalah mengetahui (dengan jelas), dilakukan dengan sengaja, tidak ada paksaan. Sebagai contoh, para ulama telah mengatakan kafir hukumnya orang yang menghina dan mencela syari’at Allah. Namun kekafiran tersebut tidaklah bisa langsung kita voniskan secara individu kepada setiap orang yang melakukannya. Barangkali saja orang tersebut tidak tahu bahwa apa yang dicelanya tersebut adalah syari’at Allah, atau mungkin ia melakukannya karena terpaksa/dipaksa. Jika keadaannya seperti itu, maka vonis kafir bagi orang tersebut tidaklah berlaku.

[8]     Sebagian orang menganggap bahwa yang dimaksudkan dengan “shalat” di sini adalahkinayah dari menegakkan hukum secara keseluruhan, sebagaimana hadits :

لو استعمل عليكم عبد يقودكم بكتاب الله، فاسمعوا له وأطيعوا

“Seandainya yang memerintah kalian seorang budak Habsyi berdasarkan Kitabullah, maka dengar dan taatilah” [HR. Muslim no. 1838].

Maka kita jawab : Pertama, Satu lafadh harus kita pahami sesuai dengan hakikatnya. Tidak boleh kita ubah lafadh hakiki dengan lafadh majaz (kinayah) kecuali setelah diterangkan kemusykilannya. Oleh karena itu, lafadh shalat di sini adalah lafadh yang hakiki, bukan majaz. Tidak ada penghalang sama sekali untuk memahaminya dengan makna hakiki. Kedua, Lafadh “Kitabulah” dalam hadits tersebut adalah lafadh yang muthlaq (yaitu lafadh yang mengandung pengertian umum pada jenisnya). Menegakkan Kitabullah itu secara dhahir mengandung makna menegakkan seluruh dari apa yang termaktub di dalamnya baik dalam masalah aqidah, hukum, akhlaq, dan yang lainnya. Dan hal ini tidaklah mungkin ada kecuali pada diri Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wasallam dan era Khulafaur-Rasyidin. Adapun setelah itu, maka hukum Islam tidaklah ditegakkan secara sempurna sampai dengan hari ini. Dan memang, bukanlah makna ini yang dimaui oleh syari’at. Makna menegakkan Kitabullah itu di-taqyid (dibatasi pengertiannya) dengan kata “shalat” sebagaimana hadits yang telah disebutkan. Dalam ilmu Ushul-Fiqh hal ini disebut Taqyid Munfashil. Jika ada dalil muthlaq dan muqayyad tentang satu hal yang mempunyai kesamaan sebab dan hukum, maka dalil muthlaq harus dibawa kepada dalil muqayyad (hamlul-muthlaq ‘alal-muqayyad wajibun) [silakan lihat kaidah ini dalam kitabIrsyaadul-Fuhuul oleh Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah]. Intinya, bahwa seorang pemimpin itu harus tetap didengar dan ditaati serta tidak boleh keluar (dari ketaatan) jika ia masih menegakkan shalat. Inilah barometer amali dari seorang pemimpin.

[9]     Perhatikan hadits berikut :

عَنْ جَابِر يَقُوْلُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

Dari Jabir radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Aku mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallambersabda : “Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat” [HR. Muslim no. 81, Abu Dawud no. 4678, dan yang lainnya].

[10]    Sebenarnya kalimat { لَمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ اللّهُ} tidak hanya mempunyai arti : “tidak memutuskanhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah”. Akan tetapi ia mempunyai makna lebih umum, yaitu mempunyai arti “tidak berhukum dengan apa-apa yang diputuskan Allah”. Kalimat Lam Yahkum terjemahannya adalah “tidak berhukum”. Jadi ancaman pada ayat di atas lebih umum dari sekedar pada orang yang memutuskan hukum (hakim/penguasa), namun juga kaum muslimin yang tidak berhukum dengan hukum Allah.

[11]    Namun anehnya, mereka (yang memutlakkan kekafiran pada setiap orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah) cenderung mengkhususkan pada pemimpin/penguasa negara saja. Bukankah jika ada diantara ayah-ayah mereka yang membagi warisan tidak sesuai dengan syari’at Islam (sebagaimana hal ini umum terjadi di masa sekarang) dinamakan tidak berhukum atau memutuskan hukum selain dengan hukum Allah ?

[12]    Apabila tidak khawatir akan penjangnya pembicaraan, niscaya akan kami tuliskan semua yang kami ketahui dari perkataan para ulama dan mufassirin. Sebagai bahan rujukan, silakan dilihat pada Tafsir Ath-Thabari, Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Khazin (atauMukhtashar-nya), Tafsir As-Samarqandi, Al-Mufhim (oleh Abul-‘Abbas Al-Qurthubi), Tafsir Abi Su’ud, Ahkaamul-Qur’an (oleh Abu Bakr Al-Jashshash), Tafsir Al-Baidlawi, Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah (oleh Ibnu Abil-‘Izz Al-Hanafy), dan lain-lain.

[13]    Sesuai dengan kaidah dalam syari’at : Al-Yaqiinu laa Yuzallu bi-Syakk (sebuah keyakinan tidak hilang/berubah hanya karena keraguan).

[14]    Hadits ini merupakan puncak pendalilan yang paling jelas dalam masalah ini. Sekali lagiperlu kami tekankan bahwa ketaatan ini hanya pada hal yang ma’ruf. Apa yang kami jelaskan ini bukan untuk mendukung kemaksiatan yang telah dilakukan oleh sebagian pemimpin/penguasa. Kita tetap wajib melakukan amar ma’ruf nahi munkar sesuai dengan kemampuan menurut cara-cara yang telah digariskan oleh Sunnah.

TULISAN 3

Beberapa kalangan takfiriyyuun membawakan perkataan Asy-Syaikh Ahmad Syaakir rahimahullah dalam kitabnya, ‘Umdatut-Tafsiir[1] (4/156), untuk mengkafirkan para pemimpin/penguasa yang berhukum dengan selain yang diturunkan Allah ta’ala tanpa perincian. Hakekatnya mereka keliru dalam memahami perkataan beliau tersebut. Berikut akan saya bawakan perkataan Asy-Syaikh Ahmad Syaakir rahimahullah tersebut sebagai berikut :

وهذه الآثار- عن ابن عباس وغيره- مما يلعب به المضللون في عصرنا هذا، من المنتسبين للعلم ، وغيرهم من الجرآء على الدين : يجعلونها عذراً أو إباحة للقوانين الوثنية الموضوعة ، التي ضُرِبت على بلاد الإسلام.

وهناك أثر عن أبي مجلز، في جدال الإباضية الخوارج إياه، فيما كان يصنع بعض الأمراء من الجور، فيحكمون في بعض قضائهم بما يخالف الشريعة ، عمداً إلى الهوى ، أو جهلاً بالحكم.

والخوارج من مذهبهم أن مرتكب الكبيرة كافر، فهم يجادلون يريدون من أبي مجلز أن يوافقهم على ما يرون من كفر هؤلاء الأمراء، ليكون ذلك عذراً لهم فيما يرون من الخروج عليهم بالسيف.

وهذان الأثران رواهما الطبري: (12025،12026)، وكتب عليهما أخي السيد محمود محمد شاكر تعليقاً نفيساً جداً ، قوياً صريحاً؛ فرأيت أن أثبت هنا نص أولى روايتي الطبري، ثم تعليق أخي على الروايتين.

“Atsar-atsar dari Ibnu Abbas dan lainnya ini termasuk yang dipermainkan oleh orang-orang yang membuat kesesatan pada masa kita ini, dari kalangan ulama dan orang-orang yang berani memperalat agama. Mereka menjadikan atsar-atsar ini sebagai alasan atau pembolehan bagi hukum-hukum positif yang diberlakukan di negeri-negeri Islam.

Terdapat atsar Ibnu Mijlaz tentang perdebatan beliau dengan kaum Khawaarij Ibadliyah tentang perbuatan para penguasa dzalim yang menghukumi dalam sebagain keputusan mereka dengan sesuatu yang menyelisihi syari’at, dikarenakan hawa nafsu atau kejahilan atas hukum kasus tersebut.

Kaum Khawarij berpendapat orang yang melakukan dosa besar telah kafir. Mereka mendebat Abu Mijlaz dengan tujuan agar ia menyepakati pendapat mereka yang mengkafirkan para penguasa tersebut, sehingga hal tersebut dapat menjadi alasan bagi mereka untuk memerangi para penguasa tersebut. Kedua atsar ini diriwayatkan oleh Ath-Thabariy (no. 12025 & 12026). Saudara saya, Mahmud Muhammad Syakir telah mengomentarinya dengan sebuah komentar yang sangat bagus, kuat, lagi jelas. Aku pikir baik kiranya untuk menetapkan/membawakan di sini riwayat pertama dari dua riwayat Ath-Thabariy, lalu komentar saudaraku terhadap dua riwayat tersebut..”.

Lalu Asy-Syaikh Ahmad Syaakir rahimahullah membawakan riwayat Abu Mijlaz tersebut dan setelah itu berkata :

فكتب أخي السيد محمود؛ بمناسبة هذين الأثرين ما نصه :

اللهم أني أبرأ إليك من الضلالة

وبعد ؛ فإن أهل الريب والفتن ممن تصدّروا للكلام في زماننا هذا، قد تَلَمَّس المعذرة لأهل السلطان في ترك الحكم بما أنزل الله،وفي القضاء في الدماء والأعراض والأموال بغير شريعة الله التي أنزلها في كتابه، وفي اتخاذهم قانون أهل الكفر شريعة في بلاد الإسلام؛ فلما وقف على هذين الخبرين، اتخذهما رأياً يرى به صواب القضاء في الأموال والأعراض والدماء بغير ما أنزل الله، وأن مخالفة شريعة الله في القضاء العام لا تكفر الراضي بها

“Lalu saudaraku As-Sayyid Mahmuud telah menuliskan komentar berkaitan dengan dua atsar tersebut. Dan berikut teksnya :

‘Ya Allah, aku berlepas diri kepadamu dari kesesatan.

Wa ba’d : Sesungguhnya orang-orang yang ragu dan pembawa fitnah dari kalangan orang-orang yang mengeluarkan perkataan di jaman kita ini, telah memberikan alasan/pemakluman bagi sulthaan untuk meninggalkan hukum yang diturunkan Allah, dalam masalah memutuskan (perkara) darah, kehormatan, dan harta; bukan dengan syari’at yang diturunkan Allah dalam kitab-Nya. Dan juga memberikan alasan/pemakluman bagi mereka dalam menjadikan undang-undang orang-orang kafir sebagai syari’at yang berlaku di negeri Islam. Ketika ia menemukan kesesuaian dengan dua atsar ini, ia menjadikan keduanya sebagai dasar pendapat akan benarnya keputusannya yang tidak berdasarkan syari’at Allah dalam masalah harta, kehormatan, dan darah. Dan bahwasannya penyelisihan terhadap syari’at Allah dalam keputusan hukum yang umum, tidaklah menyebabkan kekafiran orang yang meridlainya dan orang yang melakukannya…” [selesai].

Kira-kira itulah potongan perkataan yang sering dikutip kaum takfiriy, terutama takfiriydalam negeri.

Silakan rekan-rekan membaca dengan pelan dan cermat perkataan Asy-Syaikh Ahmad Syaakir dan Mahmuud Syaakir rahimahumallah di atas, terutama kalimat yang saya garis bawahi. Perkataan beliau berdua di atas sangatlah jelas dan tidak sesuai dengan keinginan para takfiriy itu yang ingin menghukumi orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah tanpa adanya perincian. Berikut analisanya :

  1. Perhatikan perkataan maksud Asy-Syaikh Ahmad Syaakir di awal mengenai alasan membawakan perkataan saudaranya dalam masalah ini, yaitu : adanya sekelompok orang yang menjadikan atsar Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa[2] dan yang semisalnya sebagai alasan atau pembolehan bagi hukum-hukum positif yang diberlakukan di negeri-negeri Islam. Jelas kita sepakat dengan perkataan beliau ini, karena atsar Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa memang tidak dijadikan para ulama sebagai alasan diberlakukannya hukum positif  atau pembolehannya. Diterapkannya hukum positif tetap dilarang, haram, dan termasuk dosa besar. Hanya saja, dalam masalah pengkafirannya, itu perlu perincian. Inilah yang dijelaskan para ulama Ahlus-Sunnah, dulu hingga sekarang.
  2. Begitu juga dengan maksud pembicaraan Asy-Syaikh Mahmuud Syaakirrahimahullah, yaitu ditujukan pada golongan yang ia sebut di awal pembicaraannya :
  3. Orang yang telah memberikan alasan/pemakluman bagi sulthan untuk meninggalkan syari’at Allah.
  4. Orang yang telah memberikan alasan/pemakluman bagi orang-orang yang menjadikan undang-undang orang-orang kafir sebagai syari’at yang berlaku di negeri Islam.

Ini sama dengan konteks perkataan Asy-Syaikh Ahmad Syaakir rahimahullah. Baik kondisi pertama maupun kedua adalah diharamkan. Atsar Ibnu Mijlaz bukan dalil bagi sulthan boleh meninggalkan syari’at Allah dan/atau menjadikan undang-undang kafir sebagai gantinya.

  1. Di akhir perkataan Asy-Syaikh Mahmuud Syaakir rahimahullah menyimpulkan (tidak tertulis dalam kutipan diatas) :

 فمن احتج بهذين الأثرين وغيرهما في غير بابهما، وصرفهما إلى غير معناهما، رغبة في نصرة سلطان، أو احتيالاً على تسويغ الحكم بغير ما أنزل الله، وفرض على عباده؛ فحكمه في الشريعة حكم الجاحد لحكم من أحكام الله: أن يستتاب، فإن أصر وكابر وجحد حكم الله، ورضي بتبديل الأحكام؛ فحكم الكافر المصر على كفره معروف لأهل هذا الدين

“Maka barangsiapa yang berhujjah dengan dua atsar ini dan yang lainnya bukan pada tempatnya, dan memalingkan pada yang bukan maknanya dalam rangka mendukung sulthaan/penguasa, atau bersiasat untuk membolehkan berhukum dengan selain hukum Allah dan mewajibkan hal tersebut pada hamba-hamba-Nya, maka hukumnya menurut syari’at Islam adalah seperti hukum orang yang mengingkari hukum Allah : diminta kepadanya untuk bertaubat. Apabila ia terus melakukannya, sombong, mengingkari hukum Allah, dan ridlaa dengan pengantian hukum (selain hukum Allah); maka hukum orang kafir yang senantiasa berada dalam kekafirannya telah diketahui oleh orang yang memahami agama ini” [selesai – ‘Umdatut-Tafsiir, 4/158].

Nampak bahwa orang yang disinggung syaikh sebagai orang yang salah berdalil dengan atsar Abu Mijlaz dan dihukumi kafir itu adalah orang yang membolehkan (istihlaal), mengingkari, dan ridlaa dengan selain hukum Allah. Ini jelas telah disepakati oleh ulama akan kekafirannya.

  1. Perkataan Asy-Syaikh Mahmuud Syaakir tersebut, selain dibawakan oleh Asy-Syaikh Ahmad Syaakir rahimahumallah dalam kitab ‘Umdatut-Tafsiir, juga ada dalam kitabTafsir Ath-Thabariy. Beliau (Mahmuud Syaakir) berkata kalimat yang tertulis pada no. 3 :

…….فحكم الكافر المصر على كفره معروف لأهل هذا الدين. واقرأ كلمة أبي جعفر بعد ص: 358 ، من أول قوله: “فإن قال قائل”. ففيه قول فصل.

“……maka hukum orang kafir yang senantiasa berada dalam kekafirannya telah diketahui oleh orang yang memahami agama ini. Dan bacalah perkataan Abu Ja’far (Ath-Thabariy) setelah halaman 358 dari awal perkataannya : ‘Dan apabila ada orang yang berkata’; maka padanya (yaitu perkataan Abu Ja’far) terdapat perkataanfinal” [Tafsiir Ath-Thabariy, 10/348].

Perikataan final apa yang dimaksudkan oleh beliau ?. Berikut perkataan Abu Ja’far Ath-Thabariy rahimahumallah yang dimaksud :

فإن قال قائل: فإن الله تعالـى ذكره قد عمّ بـالـخبر بذلك عن جميع من لـم يحكم بـما أنزل الله, فكيف جعلته خاصّا؟ قـيـل: إن الله تعالـى عمّ بـالـخبر بذلك عن قوم كانوا بحكم الله الذي حكم به فـي كتابه جاحدين فأخبر عنهم أنهم بتركهم الـحكم علـى سبـيـل ما تركوه كافرون. وكذلك القول فـي كلّ من لـم يحكم بـما أنزل الله جاحدا به, هو بـالله كافر, كما قال ابن عبـاس…..

”Apabila ada yang berkata : ”Sesungguhnya Allah ta’ala menyebutkan ayat ini bersifat umum bagi setaip orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah, bagaimana engkau bisa menjadikan ayat ini khusus (berlaku pada orang Yahudi) ?”. Maka kita katakan : ”Sesungguhnya Allah menjadikan keumuman tentang suatu kaum yang mereka itu mengingkari hukum Allah yang ada dalam Kitab-Nya, maka Allah mengkhabarkan tentang mereka bahwa dengan sebab mereka meninggalkan hukum Allah mereka menjadi kafir. Demikian juga bagi mereka yang tidak berhukum dengan hukum Allah dalam keadaan mengingkarinya, maka dia kafir sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ’Abbas….” [Tafsir Ath-Thabari, 10/358].

Jadi bukan sekedar dhahir berhukumnya saja sehingga menyebabkan kekafiran, tapi karena adanya pengingkaran.

Walhasil, pendalilan mereka untuk mengkafirkan orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah secara mutlak tanpa perincian, dengan membonceng perkataan Asy-Syaikh Ahmad Syaakir dan Asy-Syaikh Mahmuud Syaakir rahimahumallah tidak tepat.

Wallaahu a’lam.

Ini saja yang dapat dituliskan, semoga ada manfaatnya.

Untuk memperjelas, silakan baca juga artikel yang berkaitan :

  1. Shahih Atsar Ibnu ‘Abbas : Kufrun Duuna Kufrin – Menjawab Sebagian Syubhat Takfiiriyyuun.
  2. Posisi Al-Hafidh Ibnu Katsir dalam At-Tahkim ‘alal-Qawaaniin – Menjawab Sebagian Syubhat Takfiriyyuun.
  3. Tidak Berhukum dengan Syari’at yang Diturunkan Allah.
  4. Syubhat QS. At-Taubah ayat 31.
  5. Syubhat Takfiriy : QS. Al-An’am Ayat 121.
  6. QS. An-Nisaa’ Ayat 65 Sebagai Dalil Pengkafiran Orang yang Berhukum dengan Selain yang Diturunkan Allah ?.
  7. Kafirnya Seorang Haakim atau Penguasa Tidaklah Melazimkan Kebolehan Keluar Ketaatan dan Mengangkat Senjata Kepadanya.

[abul-jauzaa – 15012013 – 01:00 – perum ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor].

[1]      Pembaca bisa baca via Google Books di :

http://books.google.co.id/books?id=hxB5IvvhkGIC&pg=PT155&lpg=PT155&dq=%D9%85%D9%85%D8%A7+%D9%8A%D9%84%D8%B9%D8%A8+%D8%A8%D9%87+%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B6%D9%84%D9%84%D9%88%D9%86&source=bl&ots=qWhKt3DHBS&sig=TyuBdieDDf6u2QIHHyMZFSRvAOk&hl=id&sa=X&ei=Fw_0UNSvCYzMkgXd6IH4CQ&redir_esc=y

[2]      Mengenai bahasan atsar Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa ini, silakan baca artikel: Shahih Atsar Ibnu ‘Abbas : Kufrun Duuna Kufrin – Menjawab Sebagian Syubhat Takfiiriyyuun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s