Home » Selected Contemplation » Hukuman Mati dan Kisah Buhul

Hukuman Mati dan Kisah Buhul

Hukuman mati di beberapa negara Arab adalah “wajar” karena hukuman di sana mengenal adanya capital punishment (hukuman mati). Di negara2 Arab tersebut, pangeran bisa kena hukuman mati dan rakyat biasa (tak harus presiden) bisa membatalkan hukuman mati.

Di beberapa negara, hukuman mati hingga kini masih berlaku. Ada yang memakai suntikan, tembakan, gantungan sebagai varian dari bagaimana hukuman mati itu dilaksanakan.

Jaman dulu juga ada hukuman mati dengan diminta meminum racun, dipenggal dengan guillotine, dimasukkan ke ruang gas, atau dengan kursi listrik.

Socrates, Filsuf Yunani yang Dihukum Mati dengan Meminum Racun Ramuan Hemlock (credit: John Potter and Steve Roushakes, newschoolva.com)

Socrates, Filsuf Yunani yang Dihukum Mati dengan Meminum Racun Ramuan Hemlock (credit: John Potter and Steve Roushakes, newschoolva.com)

Di Perancis, saat hukuman mati dengan guillotine berlaku, keluarga terhukum mati akan membayar kepada pengeksekusi supaya pisau penggal kepala tajam sehingga kematian yang cepat dapat terjadi.

Ekesekusi guillotine di depan publik yang terakhir diberlakukan di Perancis terhadap pembunuh berdarah dingin Eugène Weidmann, 17 Juni 1939  (credit: rarehistoricalphotos.com)

Eksekusi dengan guillotine di depan publik yang terakhir diberlakukan di Perancis terhadap pembunuh berdarah dingin Eugène Weidmann, 17 Juni 1939 (credit: rarehistoricalphotos.com)

Untuk eksekusi dengan regu tembak, terpidana mati menghadapi hukumannya dengan ditembak tepat pada jantungnya. Jika regu tembak gagal membunuh seketika maka komandan regu tembak akan memakai pistol untuk menembak kepala terpidana sehingga kematian bisa dipastikan segera.

Kursi listrik di Amerika Serikat dihapuskan dari daftar cara eksekusi terpidana mati karena keseringan hukuman ini tidak segera mematikan si terpidana. Terpidana eksekusi dengan kursi listrik sebelum mati justru tersiksa dengan sengatan listrik berulang kali dan daging kadang terbakar sebelum akhirnya meninggal. Eksekusi dengan kursi listrik hanya diterapkan di Amerika Serikat dan Filipina. Hingga 2006, metode eksekusi dengan kursi listrik masih dipakai di Amerika Serikat sedangkan di Filipina eksekusi dengan kursi listrik berakhir di tahun 1976. Di Amerika Serikat, metode suntik mati dipakai sebagai gantinya karena dianggap lebih manusiawi meskipun di beberapa negara bagian masih ada opsi bagi terpidana untuk diberikan hukuman mati lewat kursi listrik. Di dalam hukuman suntik mati, terpidana diikat di sebuah ranjang untuk kemudian diberi beberapa suntikan mulai dari suntikan penenang hingga suntikan yang menghentikan detak jantungnya. Intinya, dimatikan pelan-pelan tapi pasti matinya.

Kursi listrik buah karya Harold P. Brown dan Thomas Alva Edison yang dipakai untuk mengeksekusi terpidana mati lewat kursi listrik pertama William Kemmler di tahun 1890 (credit: newworldencyclopedia.org)

Kursi listrik buah karya Harold P. Brown dan Thomas Alva Edison yang dipakai untuk mengeksekusi terpidana mati lewat kursi listrik pertama William Kemmler di tahun 1890 (credit: newworldencyclopedia.org)

Di dalam peperangan, disertir bisa dihukumi mati sebagaimana pengkhianat negara juga bisa dihukumi mati sebagaimana hukuman ini masih lazim dipraktikkan oleh beberapa negara.

Negara-negara besar seperti China dan Amerika Serikat bahkan negara kita, Indonesia, masih memberlakukan hukuman mati dengan definisi sebab pelanggaran yang berbeda. Di Indonesia, hukuman mati dilakukan dengan hukum tembak.

Grafik pelaksanaan hukuman mati di seluruh dunia pada tahun 2012 (credit: The Guardian)

Grafik pelaksanaan hukuman mati di seluruh dunia pada tahun 2012 (credit: The Guardian)

Grafik hukuman mati di Amerika Serikat dan komparasi dengan negara lain hingga 2012. Jumlah hukuman mati di Cina dikabarkan lebih dari semua negara di dunia namun data yang pasti tidak bisa didapat oleh organisasi abolisionis internasional (credit: Richard Johnson and Jonathon Rivait via National Post)

Grafik hukuman mati di Amerika Serikat dan komparasi dengan negara lain hingga 2012. Jumlah hukuman mati di Cina dikabarkan lebih dari jumlah semua negara di dunia namun data yang pasti tidak bisa didapat oleh organisasi abolisionis internasional (credit: Richard Johnson and Jonathon Rivait via National Post)

Hukuman mati di hadapan regu tembak pada tahun 1962 terhadap pimpinan DI/TII yang disebut sebagai pemberontak oleh negara muda yang diprokalamasikan oleh Sukarno, Republik Indonesia, dengan Darul Islam yang diproklamasikan oleh Kartosuwiryo. Kisah Kartosuwiryo dan Darul Islam-nya sungguh menarik disimak lewat buku berjudul

Hukuman mati di hadapan regu tembak pada tahun 1962 terhadap pimpinan DI/TII yang disebut sebagai pemberontak. Kartosuwiryo waktu itu bersaing dengan negara muda yang diproklamasikan oleh Sukarno, Republik Indonesia, di tahun 1945. Meskipun mendapat dukungan yang lumayan luas di beberapa wilayah di Indonesia, Kartosuwiryo akhirnya kalah oleh Sukarno. Kisah Kartosuwiryo dan Darul Islam-nya sungguh menarik disimak lewat buku berjudul “Darul Islam: Sebuah Pemberontakan” karya C. Van Dijk. Foto: “Untuk memastikan Kartosuwiryo mati, komandan Regu menembak Kartosuwiryo dari jarak dekat menggunakan pistol” (photo credit: erteerwe.com)

Namun dari kisah hukuman mati yang ada di seluruh dunia ….. hukuman mati di negara-negara Arab di”frame” oleh beberapa media sebagai barbarik lalu seakan mengarah pada Arab yang kejam dan syariah itu buruk.

Statistik bunuh diri di Jepun dibandingkan dengan beberapa negara maju lainnya. Karl Andersson , penulis Swedia yang kini berdomisili di Jerman, percaya bahwa tradisi harakiri (seppuku) yang meninggikan nilai bunuh diri tercermin dari tingginya tingkat bunuh diri di Jepang (credit: Karl Andersson via karlandersson.se)

Statistik bunuh diri di Jepun dibandingkan dengan beberapa negara maju lainnya. Karl Andersson , penulis Swedia yang kini berdomisili di Jerman, percaya bahwa tradisi harakiri (seppuku) di Jepun yang memuliakan bunuh diri saat seseorang gagal tercermin dari tingginya tingkat bunuh diri (credit: Karl Andersson via karlandersson.se)

Perlu pula diberikan catatan tambahan. Untuk negara Jepun, jika being a proud Japanese melibatkan pembelajaran dan peninggian values dari harakiri maka ia adalah bisa ditafsirkan sebagai penghukuman mati pada pribadi yang gagal lewat konstruk penghukuman yang beroperasi secara kultural.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s