Home » Selected Contemplation » Halal Haram dalam Kopi

Halal Haram dalam Kopi

Percayalah bahwa judul tulisan ini memang terinspirasi dari judul buku Yusuf Qaradhawi, Halal Haram dalam Islam. Buku Halal Haram dalam Islam sungguh menarik. Menarik sebab ia mengajak kita untuk “berpikir di dalam agama ini di dalam menerapkan dalil” sebagaimana Fiqih Sunnah-nya Sayyid Sabiq atau Nailul Authar-nya Syaukani. Kecuali tentu jika kita membacanya hanya lempang saja dan tidak memperhatikan proses mereka berargumentasi di dalam menetapkan sebuah hukum.

Buku-buku itu merangsang berpikir, mengajakmu berdialog, dan “melihat dan berinteraksi” Rasul saw. Buku-buku itu membuatmu belajar bagaimana Rasul saw. memberikan hukum atau solusi pada suatu kasus. Dari situlah kita tidak akan gegabah di dalam melihat sesuatu; tidak terburu-buru dalam menyusahkan diri sendiri atau menghakimi orang lain.

Apakah kemudian interaksi ini membuatmu menjadi fuqoha? Apakah setiap orang bisa dengan mudahnya menjadi fuqoha dengan hanya membaca kitab-kitab itu? Akan berlebihan jika punya pikiran dan berkata demikian. Untuk menjadi fuqoha diperlukan pengetahuan yang luar biasa mengenai Quran sebelum akhirnya pengetahuan tentang hadist. Tentu juga harus punya keahlian bahasa Arab dan bahkan ada syarat lainnya serupa ketersambungan guru hingga Rasul saw. Oleh karena itulah Al Albani yang memberikan pendekatan revolusioner di dalam memahami hadist kadang “ditembak” gegara beliau tidak mempunyai guru bersambung hingga Rasul saw. dan karena isu Wahhabi (bdk. Hamka) dan dituduh secara serampangan sebagai kurang kompeten karena kebetulan mengalami tanaqudh.

Metode Al Albani memang revolusioner. Beliau menggunakan kajian pustaka (library-based research) di dalam menyusun kitab-kitabnya dan bukan melalui metode talaqqi, atau face-to-face antara guru dengan murid. Library-based research di dalam penyusunan kitab yang sifatnya teologis bisa menjadi perdebatan yang ramai. Hal ini terjadi pada Al Albani yang dituduh tidak memiliki guru sehingga memunculkan sanggahan akan tuduhan tiadanya basis pemahaman dan ‘otoritasi ijazahan’ keilmuannya dan juga sanggahan atas tuduhan yang buruk atas Al Albani.

Tapi tulisan ini tidak hendak bicara lebih lanjut tentang itu. Tulisan ini mau bicara tentang kopi.

Berbicara tentang kopi selalu menarik. Kopi adalah minuman penghangat dan pembuat jaga. Ada sekte Kristen, Mormon atau Later-Day Saints Christian, yang mengharamkan kopi [juga teh] dan memilih menghangatkan diri dengan coklat hangat atau jahe. Intinya kopi itu haram bagi sekte ini meski ada kecualinya yaitu produk kafein. Kopi haram namun produk yang mengandung kafein, sebut misalnya Coke, konon bagi sebagian penafsir ajaran Mormon sebagai tidak haram.

Kopi di Jawa adalah minuman yang populer. Ya, kopi sangat populer di Jawa. Kopi menjadi populer karena di Jawa ada kebiasaan lek-lekan, angkringan (wedangan), dan cangkrukan. Ketiga aktivitas penting ini sering melibatkan kopi [atau kadang teh]. Karena tulisan ini ngobrolin tentang kopi maka nge-bahas tehnya disingkiri dulu meski nanti juga nyinggung-nyinggung tentang teh.

Lek-lekan atau ‘begadang kontemplatif’ di dalam dunia spiritual Jawa adalah sesuatu yang penting. Ia dilakukan oleh orang (atau beberapa orang) yang sedang mencari petunjuk. Lek-lekan tidak harus dilakukan di tempat yang wingit atau keramat sebab ia bisa dilakukan di dalam rumah saja. Entah dengan dzikir (yang Islam) atau dengan komat-kamit rapal Kejawen -yang saya tidak tahu- atau hanya diam saja merenung menunggu wangsit atau solusi datang.

Lek-lekan ini agak rusak makna spiritual-nya ketika televisi ada dan tayangan bola dini hari kian merebak. Tayangan tivi dan lalu siaran langsung pertandingan bola membuat ritual lek-lekan menjadi terganggu. Banyak niatan lek-lekan malah kemudian tergoda -melenceng niat awalnya- oleh godaan siaran langsung bola. Begitulah kemajuan jaman bisa menggoda sesuatu yang bahkan diembel-embeli “spiritual”. Sehingga kemudian istilah lek-lekan menjadi hilang nuansa spiritualnya dan berubah menjadi begadang dengan niatan apapun.

Lek-lekan Menonton Bola (credit: ayomaju.info)

Lek-lekan Menonton Bola (credit: ayomaju.info)

Angkringan (Wedangan atau nge-HIK)* adalah kegiatan bersosial laki-laki Jawa di malam hari lewat berkumpul minum wedang [dan kadang plus makan] di warung tradisional pinggir jalan khas Solo-Klaten-Yogyakarta. Aktivitas ini bukan hanya memperkuat jejaring sosial atau perkawanan di antara laki-laki Jawa namun juga kerap menjadi pemantik intelektual. Ia menjadi perangsang intelektual karena dari kumpul-kumpul minum kopi di warung wedang ini kemudian pembicaraan serius kadang terjadi. Oleh karena itulah ada acara di stasiun TV swasta di Solo menggunakan konsep wedangan di dalam sebuah acara obrolan interaktif santai dengan tema serius yang diberi nama “Jagongan Pasar Gede”. Pesan yang timbul dari acara ini mungkin berbunyi bahwa bincang tema yang serius tidak melulu harus dihadirkan lewat format acara yang terlalu kaku.

Gerobak Wedangan (credit: Sulung Lahitani Mardinata)

Gerobak Wedangan (credit: Sulung Lahitani Mardinata)

Kalau cangkrukan berkaitan dengan aktivitas ronda laki-laki Jawa sebagai bagian dari sistem keamanan lingkungan. Setiap laki-laki digilir untuk berjaga di sebuah pos ronda (cangkruk). Cangkrukan ini penting. Saking pentingnya, ketidakaktifan seorang laki-laki dari cangkrukan bisa membuat seseorang terpencilkan; dianggap anti-sosial atau sombong. Cangkrukan sendiri tidak hanya diramaikan oleh mereka yang wajib jaga pos ronda namun juga oleh laki-laki yang kebetulan longgar waktu di malam hari. Nah, di dalam aktivitas inilah kopi menjadi minuman yang disuguhkan untuk membuat peronda tetap alert; waspada.

Cangkruk (credit: KisahPanda)

Cangkruk (credit: KisahPanda)

Karena kopi begitu dekatnya dengan orang Jawa maka muncul macam-macam variasi di dalam menikmatinya. Ada kopi yang biasa lazimnya diminum yaitu dicampur hanya gula, ada kopi plus gula dan susu, ada kopi yang dicampur gula dan diberi arang kayu, ada kopi yang dicampur gula dan air jahe, ada kopi yang dicampur gula dengan sedikit garam, dan ada juga kopi yang dinikmati dengan diborehkan di rokok kretek.

Sejarah kopi sendiri sudah unik apalagi dengan urusan “pengharaman”-nya di dalam sejarah manusia menjadikan kisah kopi kian unik. Ada sejarawan percaya bahwa kopi menjadi sebab Revolusi Perancis dapat terjadi. Dari perbincangan hingga larut dini hari ditemani kopi di kedai kopi serta pamflet yang disebar di kedai-kedai kopi, beberapa revolusioner Perancis bisa sebarkan rumor negatif tentang monarki dan lalu berhasil ganyang monarki Perancis yang konon dianggap tak becus mengurus rakyat.

Apa yang terjadi di Perancis mungkin yang membuat “pengharaman” kopi di kedai kopi di Inggris pernah diberlakukan. Alasannya politis: bisa potensial mengganggu stabilitas kerajaan. Kenapa bisa begitu? Lha kalau oposan monarki melakukan hal yang sama dengan kaum revolusioner di Perancis, monarki bisa tumbang. Maka ide “pengharaman” [kedai] kopi di ibukota waktu itu muncul di masa Raja Charles II. Ada ketakutan bahwa kumpul-kumpul hingga larut malam karena bisa pada tahan begadang sebab kopi akan bisa menyulut ide pergerakan oposan yang tidak diinginkan.

Bicara kopi seringkali tidak bisa lepas dari bicara teh. Orang yang suka kopi biasanya suka teh dan begitu juga sebaliknya. Tentu dengan kadar kesukaan yang berbeda-beda. Bisa saja seseorang suka teh sama besarnya dengan suka kopi namun bisa jadi condong lebih suka kepada salah satu di antaranya. Tidak ada dalil mengenai harus [berusaha] adil untuk menyukai kopi atau teh. Jadi semua sah-sah saja.

Nah, dari sinilah masalahnya bisa muncul. Di dalam dunia yang semakin sesak dengan kerakusan kapitalisme problem bisa muncul. Maka sudah sering diingatkan bahaya “cinta uang”. Di dalam Islam misalnya diajari supaya berlatih untuk “membuang uang di jalan Tuhan”. Sholat atau ritual wajib ingat Tuhan dikaitkan dengan sedekah. Dilatih agar tiap yang bersholat untuk tidak terikat dengan uang. Bahkan ada yang “membaca” penafkahan harta adalah “sebagian besarnya” dan bukan “sebagian kecilnya” saja. Hal yang sama juga misalnya kita dapati di dalam agama-agama lain.

Uang memang bisa menjadi pangkal kejahatan dan ini bisa disambungkan pada kisah yang potensial bisa terjadi pada kopi.

Bagaimana jika kemudian produsen teh karena rakus untuk menguasai para peminum air seduh kemudian mensponsori banyak penelitian yang dibutuhkan untuk membuat kopi begitu buruk? Hal yang sama bisa dibalik pada bagaimana mukjizat vitamin C bisa ditelusur pada kisah Linus Pauling dengan penelitian akan barokahnya vitamin C dosis tinggi.

Vitamin C dosis tinggi susah didapat lewat cara natural. Cara yang mudah dan murah adalah lewat vitamin C buatan. Dari sinilah ada tuduhan bahwa kapitalisme dan saintis saling bekerja sama di dalam mencari keuntungan di dalam kisah Linus Pauling, seorang periset, dengan perusahaan farmasi pembuat vitamin C buatan. Tidak hanya mendapatkan sponsor atas riset-risetnya dari produsen vitamin C buatan, Pauling konon terus berkibar lewat endorsement pabrik-pabrik vitamin C buatan. Penuduh adanya kongkalikong itu menyebut bahwa kita, awam, rakyat, menjadi, katakanlah, semacam korban. Meskipun demikian, tuduhan tidak validnya hasil riset Pauling kecuali hanya untuk mengusung kepentingan penjualan vitamin C dosis tinggi buatan pabrik farmasi kemudian terbantahkan ketika riset-riset terbaru menunjukkan bahwa temuan Pauling adalah benar. Pun biar demikian, tuduhan main matanya pabrik farmasi Vitamin C buatan dengan Pauling sebagai pelopor ‘terobosan’ riset mengenai vitamin C dosis tinggi buatan tidak mereda.

Hal yang sama juga dituduhkan oleh para produsen dan penikmat rokok terhadap industri farmasi pencipta “smoking cessation devices”. Alat pengganti rokok tembakau ini digadang-gadang sebagai solusi bagi para perokok sebab rokok sangat berbahaya tiada tara bagi kesehatan siapa saja sebagaimana banyak ilmuwan ternama kelas dunia tanpa henti menerbitkan laporan-laporan penelitian tentang buruknya rokok yang kemudian menjadi pancang standar ilmuwan-ilmuwan seluruh dunia. Para pecandu rokok yang tergabung pada beberapa organisasi anti antirokok mengajukan argumen bahwa kongkalikong ini nyata-nyata ada meski suara mereka tidak terdengar kencang.***

Sebagaimana kisah vitamin C buatan dosis tinggi dan rokok, tuduhan adanya main mata antara pemilik modal atau pebisnis besar junk food dan soft drink dengan saintis di dalam ‘memelintirkan’ riset-riset tentang junk food dan soft drink yang buruk bagi kesehatan karena menimbulkan ‘gemuk yang tidak sehat’** juga muncul. Pemilik-pemilik modal yang menguasai industri tersebut bermain mata dengan saintis untuk tidak menyalahkan epidemi obesitas dan penyakit lainnya HANYA dari produk mereka namun karena faktor-faktor yang lain. Padahal kedua produk itu, junk food dan soft drink, memang terbukti buruk bagi kesehatan.

Kalau bicara rokok, bagi saya sendiri, rokok adalah tidak baik. Dulu saya adalah perokok dan saya telah berhenti merokok sejak lama. Saya bisa bilang bahwa rokok tidak baik sebab selepas berhenti saya merasakan tubuh saya lebih segar. Buat penambah kian bersyukurnya saya telah dapat berhenti merokok, saya bisa merujuknya pada industri sepakbola. Kalau rokok tidak berbahaya untuk kesehatan mengapa bisnis yang menghasilkan keuntungan miliaran dollar, yakni sepakbola, merasa harus ribut jikalau pemainnya ketahuan merokok. Pelaku bisnis sepakbola lebih suka memiliki pemain yang bagus dan paru-parunya prima. Paru-paru prima bisa diperoleh jika seseorang menghindari rokok.

Memang benar bahwa beberapa pelatih dan atlet di sepakbola dan olahraga lain tetap merokok namun mereka tahu bahwa merokok bisa berpengaruh pada performance permainan meski sedikit berbeda dengan argumen Wenger -seorang perokok ringan- mengenai tidak selalu terpengaruhnya performance pemain karena rokok ketika membela pemainnya yang ketahuan merokok. Argumen milik Wenger ini serupa dengan argumen beberapa olahragawan yang punya kebiasaan merokok.  Sebut misalnya atlet lompat tinggi Afrika Selatan Hestrie Cloete. Atlet ini kukuh pendapat bahwa kebiasaan merokok hanya berpengaruh pada paru-paru [dan kelancaran aliran darah] dan tidak terlalu berpengaruh pada organ lainnya. Untuk kasus Wenger, he just defends his players and of course himself. He always does.

Kembali lagi ke kopi.

Kembali Lagi Ke Kopi (credit: causekups.com)

Kembali Lagi Ke Kopi (credit: causekups.com)

Jika kemudian laporan-laporan penelitian yang diterbitkan oleh ilmuwan-ilmuwan menyatakan bahwa kopi berbahaya bagi kesehatan tanpa kita tahu bahwa ilmuwan-ilmuwan ini dibayar oleh produsen teh yang rakus hendak menyingkirkan kopi dari mulut orang-orang, maka cerita tentang kopi bisa berubah sesuai dengan judul tulisan ini.

Perkara yang haram dalam Islam yang benar-benar sudah jelas adalah yang jelas-jelas dikatakan eksplisit di dalam Quran atau hadist, atau menuruti kaidah hukum yang lain bahwa “yang najis pasti haram” sedangkan “yang haram belum tentu najis”. Ambil contoh sutra bagi laki-laki.

Sedangkan koridor penentuan haram lainnya adalah “sesuatu yang buruk”. Di sinilah “sesuatu yang buruk” menjadi sesuatu yang konfigural; bisa berubah bersamaan dengan waktu. Kopi bisa jadi di suatu saat akan dihukumi haram bukan karena kelalaian para fuqoha yang sebelumnya tidak mengharamkannya namun karena fuqoha ‘dibohongi’ oleh kongkalikong kapitalisme dengan saintis. Riset-riset yang bermunculan dari persekongkolan melawan kopi semuanya berkesimpulan bahwa ‘kopi adalah buruk’. Oleh karena itulah saya jadi teringat bagaimana Majelis Ulama Indonesia -sebagaimana disampaikan oleh Ustad Dr. Lukman Hakim, saintis dari MUI yang juga President of the World Halal Food Council– berusaha dengan keras untuk terus menerus mengawasi perkara halal dan haram ini supaya bisa tetap independen dan selalu meluruskan niat.

Oh ya, saya nulis ini karena dari dulu saya suka kopi. Dulu saya menikmati kopi sembari merokok karena kopi dapat mengurangi bau nikotinnya mulut dan lidah -meski keringat dan tangan tak mungkin hilang bau nikotinnya. Saya percaya bahwa rokok itu tidak baik -mungkin karena paparan ‘fakta’ njijiki yang tersebar luas mengenai keburukan rokok?- dan lalu saya berusaha untuk berhenti untuk merokok hingga akhirnya berhasil berhenti. Percaya saya akan buruknya rokok tentu selepas saya mengkaji argumen-argumen dari situs internasional anti antirokok tentang tidak terlalu bahayanya rokok yang menurut saya adalah kurang masuk di akal. Pun, argumen mengenai ‘tidak begitu buruknya rokok’ telah dibabat dengan riset-riset yang menunjukkan bahwa rokok memang benar-benar buruk bagi kesehatan. Tambahan pula, di saat saya ‘yoyo’ berhenti merokok, Majelis Tarjih Muhammadiyah lewat fatwa NO. 6/SM/MTT/III/2010 mengharamkan rokok, dan ini kian menambah motivasi saya.

Petualangan saya dengan rokok saya usahakan mandeg tentu lewat berpikir tadi dan mungkin karena bantuan kopi saat lek-lekan, saya mendapatkan wangsit -atau katakanlah petunjuk- untuk berhenti merokok. Dan, selepas berhenti merokoklah saya merasa lebih nyaman dengan diri saya dan dengan orang sekitar. Bahkan ada berkah tersembunyi dari usaha saya berhenti merokok dan lalu berhasil. Paru-paru saya dinyatakan sudah bersih untuk bisa lolos berangkat studi ke sebuah universitas ternama di Straya: Monash University. Alhamdulillah.

Saya memulai tulisan ini dengan kitab-kitab fikih yang bicara mengenai cara begini dan begitu dan juga tentang halal dan haram, boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Begitulah saya kemudian teringat kepada kisah kopi, lalu vitamin C, lalu rokok. Semoga saja, teman begadang saya ini, tidak disiriki kemanfaatannya di dalam begadang saya oleh produsen teh -atau mungkin minuman-minuman energi lain pengganti kopi atau turunan kopi- sehingga muncul publikasi-publikasi yang njijiki banyaknya tentang keburukan kopi disponsori oleh mereka ini untuk menggasak produsen kopi. Bisa saja toh?

Semoga tidak terjadi yang demikian.

Endnotes

* HIK adalah warung wedangan pinggir jalan khas Klaten-Yogyakarta yang dipercayai bermula dari ide Mbah Pairo warga Cawas Klaten yang berdagang wedang di daerah Yogyakarta sekitar tahun 1950-an walaupun sejatinya warung serupa HIK-nya Mbah Pairo tampaknya sudah dikenal lama di Jawa Timur. HIK kemungkinan mendapatkan namanya dari kata “hek” atau minum (China). Meski demikian ada juga yang berpendapat bahwa HIK adalah akronim dari “Hidangan Istimewa Kampung.”

Nama lain warung wedangan atau HIK adalah angkringanAngkringan bisa merujuk kepada model awal warung wedangan yang ‘tempat jualannya’ nangkring di bahu penjual namun bisa juga merujuk kepada para pembeli yang menikmati minum dan makannya sembari nangkring.

Natives at Meal - East Java (Credit: ?)

Gerobak Angkring “Natives at Meal – East Java” (Credit: ?)

Duduk Nangkring (credit: djengsrie kopja)

Duduk Nangkring (credit: djengsrie kopja)

Dulu HIK berciri jualan nasi bungkus + gorengan + sagon + kacang + wedang kopi, teh, jahe + lampu titir (senthir). Warung HIK biasa buka sesudah ashar sebelum maghrib dan tutup menjelang subuh.

Lampu Senthir (credit: arifgiyanto.com)

Lampu Senthir (credit: arifgiyanto.com)

Beberapa warung HIK kini telah berubah menjadi modern. Menu menjadi lebih variatif dan lampu senthir berganti lampu neon. Bahkan di beberapa tempat, HIK tidak lagi hanya satu gerobak. Cahaya benderang neon dan dua hingga empat gerobak disambung serta minuman sachet plus mi instan telah merubah HIK menjadi seakan bukan “kampung” lagi dan bukan lagi bisnis bertahan hidup dari susahnya bertani ketika kekeringan melanda sebagaimana kisah Mbah Pairo. HIK telah menjadi bisnis jualan wedang dan makanan yang serius.

Salah Satu Warung HIK di Kota Solo (credit: pasargedhe)

Salah Satu Warung HIK Berlampu Neon di Kota Solo (credit: pasargedhe)

Tidak hanya itu. Mungkin suatu ketika HIK telah menjadi sesuatu yang sangat urban dan obrolan penjual dengan pembeli khas HIK telah juga lenyap. Dan memang sudah mulai terjadi di beberapa HIK yang berkonsep modern. Di tempat yang modern penjual dengan pembeli dibatasi dalam bingkai transaksi mulut dan perut, di sana …hanya ada cerita para pembeli dalam lingkar kecil. Penjual telah sibuk dengan bisnisnya; dengan dagangannya. Benar, modernitas memang kemudian membuat sekat seperti pada kisah HIK.

“Wedangan Tak Lagi Remang-remang” (credit: JIBI/SOLOPOS/Fetty Permatasari)

Di dalam HIK yang modern, penjual menjadi orang asing. Tidak seperti HIK di masa lalu, kini pembeli yang datang sendirian tidak mendapati lagi penjual yang enak diajak ngobrol -atau katakan- mau memulai mengajak cakap. Ada etika baru, modernitas menggusur budaya HIK. Penjual punya jarak dengan pembeli. Dan yang beginian mengingatkan kita pada kisah pembeli di sebuah kafe yang nyaman dan bercahaya gerlap dalam cerpen Hemingway. Pembeli itu kesepian dan kemudian meracau gak karuan.

** gemuk tidak sehat berbeda dengan gemuk karena perawakan.

*** Ada yang berargumen bahwa tembakau di masa lalu justru dijadikan sirup dengan dosis yang tepat -agar tidak keracunan- dipakai untuk menyembuhkan batuk kering, mabuk perjalanan, dan diare sehingga menyatakan bahwa tembakau berbahaya disebut sebagai keliru.

Ada juga yang beranggapan bahwa riset yang dijadikan rujukan mengenai berbahayanya tembakau bagi kesehatan adalah riset-riset terhadap rokok modern bergabus dan bersaos ‘kimia tertentu’ dan bukan rokok tradisional semisal kretek. Rokok kretek, rokok yang dibakar berbunyi ‘kretek, kretek’ ketika cengkehnya terbakar, dibuat pertama kali oleh Djamari pada abad 19. Penambahan cengkeh pada tembakau membuat rokok lebih wangi dan diyakini dapat mengobati sakit batuk.

Untuk pemakaian tembakau sebagai sirup (obat), saya melihatnya justru berkelindan dengan ‘efek baik’ yang diklaimkan atas rokok dengan kisah opium. Dulu opium dijual secara bebas. Bersamaan dengan berjalannya waktu, opium tidak boleh dijual secara bebas karena kemudian diketahui bahwa efeknya yang mencandukan tidak pas untuk dijual secara bebas. Kini opium masih dipakai di bidang kesehatan namun dengan pengawasan yang ketat.

Obat Batuk Anak Mengandung Opium (credit: Ephemeral Scraps via photopin cc)

Obat Batuk Asma Mengandung Opium (credit: Ephemeral Scraps via photopin cc)

Walaupun ada yang masih persisten bahwa kisah jahat rokok yang merujuk pada riset-riset medis Barat nampaknya meluputkan riset mengenai rokok kretek namun belajar dari kisah opium dan hasil dari riset-riset terkini yang membuktikan bahwa tembakau (dalam wujud rokok) selain berbahaya juga adiktif maka saya bisa sepakat melihat bahwa tembakau di dalam wujud dibakar lewat rokok adalah tidak baik untuk kesehatan baik ditambahi cengkeh atau tidak. Lagian, bukankah semua rokok kretek sekarang sudah ‘tersentuh kimia pabrik’ serta tidak ada riset mengenai efek positif serta tidak mencandukan rokok kretek yang tak kena sentuhan pabrik? Benar begitu? Ataukah penelitian nano teknologi -artinya rokok dibuat dengan model lain- bisa menghapuskan kalimat “ada bahaya di dalam tembakau” seperti yang digarap oleh Dr. Gretha Zahar? Sampai sejauh manakah risetnya dan keberterimaan di dunia medis dicapai?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s