Home » Selected Contemplation » Presuposisi Linguistik dan Dongeng Sebelum Tidur

Presuposisi Linguistik dan Dongeng Sebelum Tidur

Di dalam berbahasa, setiap kalimat yang diciptakan mempunyai tafsiran yang rujukannya jelas melekat pada komponen penyusun kalimat dan berpilin dengan konteksnya sehingga menjadi masuk akal. Presuposisi linguistik menjadi jalan pemasukakalan sebuah kalimat yang diciptakan oleh seseorang (surface structure) dengan apa yang sebenarnya ada di dalam benak seseorang (deep structure: apa yang dirasakan, apa yang dipikirkan, kenangan, keyakinan, nilai-nilai dsb.) (cf. Roger Ellerton).

Informasi yang kita peroleh dari kalimat yang diciptakan seseorang belum tentu bisa menyibak apa yang dimaksudkan oleh pencipta kalimat. Dan tafsiran kita atasnya bisa jadi belum tentu sesuai dengan karep atau maksud sebenar darinya.

Di dalam berinteraksi dengan manusia lain, kadang apa yang diniatkan orang lewat kalimat yang ia buat salah kita maknai. Kesalahan memaknai kalimat kita oleh orang lain dikarenakan kita salah menyusun kalimat yang kita buat sehingga penerima kalimat kita-pun akan memasukakalkan kalimat yang kita buat berdasar apa yang ia terima dan bukan apa yang sebenarnya kita pikirkan.

Dari situlah kita bisa bercengkerama dengan geliat tutur Ade Armando dalam kalimat cuit “Allah kan bukan orang Arab.” Padankanlah kicau Ade Armando tersebut dengan contoh kalimat “Heli bukan orang Jawa.”

Kasus Ade Armando

Kalimat “Heli bukan orang Jawa” menjadi mungkin ditafsirkan lewat poin-poin berikut:
1. Ada “orang” yang namanya “Heli”
2. “Orang” itu macam-macam; ada “orang Jawa”, “orang Bugis”, “orang Saluan”.
3. Di antara macam-macam “orang”, “Heli” di dalam kalimat itu dinyatakan sebagai bukan “orang Jawa”.
4. Kalimat negasi itu besar kemungkinan muncul karena ada kalimat sebelumnya atau keyakinan sebelumnya bahwa “Heli adalah orang Jawa” sehingga butuh dinegasikan oleh pencipta kalimat.
5. Atau ia hendak memulai percakapan yang terkait dengan “Heli”

Walaupun kalimat “Heli bukan orang Jawa” bisa “ditafsirkan” seperti itu, namun kadang ketika kita “merasa” terjadi keganjilan “penafsiran” ketika kita (penerima kalimat) dan pencipta kalimat sama-sama mengenal satu-satunya “Heli” adalah “kucing” maka ada baiknya kita bertanya kepadanya apa karep-nya dia.

Bisa jadi ia mengenal dua “Heli”. Satunya adalah “Heli” si kucing yang sama-sama dikenal, mungkin pencipta kalimat mempunyai kenalan “orang” yang bernama “Heli” dan kita tidak kenal orang yang bernama “Heli” ini.

Ketika keganjilan munculnya kalimat tersebut dengan tiadanya presuposisi ini terjadi, bisa jadi pencipta kalimat menganggap kita tahu “Heli” ada yang manusia selain “Heli” si kucing yang sama-sama dikenal. Bisa jadi ia memang lagi kerasukan ketika “Heli” yang menjadi presuposisi dari kalimat itu adalah hanya “si kucing” dan tidak ada “Heli” manusia. Aneh bukan jika ada seseorang melahirkan sebuah kalimat untuk dipahami di dalam dunianya sendiri padahal ia tujukan kepada orang lain?

Contoh lainnya misalnya pada kalimat: “Heli adalah bukan anjing kudis”.
Kalimat ini mempunyai presuposisi linguistik yang bisa kita petakan agak kompleks misalnya:

1. “Heli adalah bukan anjing kudis” karena “Heli” pastilah “sesuatu yang bukan masuk di dalam kategori itu”.

2. Dipilih kategori “anjing yang kudisan” untuk menyangkal “ke-bukan anjing yang kudisan-nya Heli”

3. Di antara banyak kategori yang bisa dipakai untuk merujukkan pada “Heli”, dipilihnya “anjing yang bukan kudisan” pasti bersebab ada kekhususan kategori tertentu: “anjing”

4. “Heli” dimasukkan ke dalam kategori “anjing” namun “Heli” bukanlah “anjing” yang “kudisan”.

“Heli adalah bukan anjing kudis” juga merupakan hal yang menarik bila saja ada yang berpendapat bahwa “Heli adalah bukan anjing kudis” diartikan hanya sebagai “Heli itu bukan anjing”. Ini cacat presuposisi. Ada penyangkalan yang tidak pas. Ini menjadi tidak masuk akal bila dianalisis konstruk niatan kalimatnya.

Bisakah “anjing” menjadi bukan sebuah kategori yang merujuk kepada “[hewan] anjing”? Bisa saja. “Anjing” akan memiliki arti yang tidak melulu merujuk kepada hewan anjing saat ada konvensi bahasa; metafor yang kokoh di dalam pemakaian istilah anjing.

Misalnya di dalam ungkapan “anjing menggonggong, kafilah berlalu”. Di dalam kalimat yang merupakan turunan dari ungkapan tersebut semisal: “Tidak usah pedulikan ocehannya; anjing menggonggong kamu tetap laksanakan idemu” mendapati pemaknaan yang sedikit berbeda dibandingkan dengan “anjing kudisan” tadi. Meskipun demikian, pemakaian ungkapan “ocehannya” yang disepadankan dengan “gonggongannya” meskipun bisa diartikan lepas dari “hewan anjing” namun pemilihan itu adalah bentuk derogatif, sebuah pilihan sarkasme dari pilihan mengenai “pengacuhan kritikan” orang lain. Pilihan “anjing mengonggong” tidak langsung merujuk kepada “anjing” namun ia tidak bisa menghilangkan jejak atau trace “anjing” di dalam istilah itu. Begitu juga ketika kita memakai ungkapan adaptatif dari lagu Beatles, “kerja siang malam membanting tulang seperti anjing”, yang merujuk pada “been working like a dog“.

Akan berbeda juga jika kita bicara “anjing” di dalam konteks kultur bahasa yang berbeda. Ketika penutur dan yang dituturi berasal dari kultur bahasa Jawa Tengah Semarang-an maka “anjing” bisa berarti tanda keakraban ketika saling dilemparkan untuk merujuk lawan bicara. Agak berbeda jikalau “anjing” dipakai oleh orang Betawi yang “tidak lazim” digunakan untuk merujuk lawan bicara sebagai bentuk keakraban. “Anjing” dalam bentuk “Anjrit” bagi orang Betawi adalah digunakan untuk mengumpat gembira, merasa sial namun “ya sudahlah” dan “anjing” di dalam “anjing lo!” adalah murni umpatan dan bukan bentuk keakraban.

Kedekatan antara penutur juga bisa mempengaruhi presuposisi linguistik. Jika dua orang kawan lawan yang mempunyai sejarah muda yang urakan bahkan ketika waktu berganti dan kedua pribadi mengambil jalan yang berbeda, satu masih tetap urakan sedangkan satunya lagi sudah kalem, maka percakapan di antara keduanya juga harus dipahami oleh orang ketiga (pendengar dari percakapan dua orang kawan lama ini) dengan keutuhan konteks masa lalu mereka.

Contoh. Saya dulu merupakan perokok berat dan beberapa kali minum bir ketika dulu masih kerja di sebuah universitas kecil swasta. Kebiasaan ini diketahui dan dibersamai oleh salah satu kawan. Di dalam perjalanan waktu, dua kebiasaan ini telah hilang dari diri saya sedangkan kawan saya ini masih tetap pada dua kebiasaan ini. Kemudian kami berpisah cukup lama dan lalu kawan lama ini menelepon saya. Ketika menelepon, kawan saya ini tahu bahwa saya sudah hilang dua kebiasaan itu: merokok dan minum bir. Ketika di telepon ia menyentil dengan “rokok, rokok, bir, bir” dan lalu saya menanggapi “sedap betul!” …. lalu kami tertawa untuk berikutnya saya bercerita bahwa menghindari kedua hal tersebut adalah kebahagiaan bagi saya, maka ini harus dirujukkan oleh orang ketiga kepada “konteks yang dipahami oleh penutur dan yang dituturi”. Percakapan ini akan “tidak pas” dilogikakan saat percakapan hanya didengar dan lalu dimaknai lepas dari konteks presuposisi penutur dan yang dituturi.

Contoh lainnya bisa kita rujukkan pada kisah fustun, fustun-nya Luthfi Hasan Ishaq. Ada banyak kemungkinan untuk menafsirkan percakapan itu. Apakah itu hanya sentilan sesama kawan lama mengenai “cewek yang cantik” yang mereka suka kagumi semasa waktu masa urakan dengan istilah di antara mereka berdua sebagai fustun? Ataukah ada kode “bercanda” sesama lelaki yang tidak harus menyarankan benak yang sama: satu mengarah ke masa dulu ketika masih urakan sedangkan satunya mengarah ke candaan yang dulu mereka sering kelakarkan? Atau bisa jadi memang sebagaimana media menggiringnya sebagai sesuatu yang pasti buruk dan jahat. Kita tidak tahu sebelum keduanya diberi ruang untuk menjelaskan itu.

Keganjilan di dalam presuposisi linguistik bisa terjadi jikasanya pencipta kalimatnya adalah “orang yang nyentrik.” Jika sudah ditanyakan mengapa seseorang memilih kalimat itu dan bukan kalimat lainnya namun jawabannya malah tambah menambah daftar kalimat membingungkan produk benaknya maka ini disebut ulah “orang yang nyentrik”.

Nyentrik itu adalah kata yang dipakai di dalam bahasa Jawa vernakular. Bentuk “nyentrik” ini adalah bentuk pengimbuhan “n+” pada bentuk kata dasarnya. Di dalam bahasa Jawa, selain pengimbuhan “n+” pada bentuk dasar untuk membuat sebuah kata menjadi kata sifat juga digunakan “ke+”. Misalnya “kethak” yang artinya “jitak” [kata kerja] bisa menjadi “kemethak” setelah ditambahi “ke”. Jadi “ke + ketak” = “kemetak” [kata sifat].

“Kemethak” artinya seseorang yang tingkah polahnya membuat gemes kita untuk menjitak. Sangat gemes deh. Pokoknya begitu. Bukan unyu-unyu sehingga ia layak diberi jitakan yang lembut namun sering bikin jengkel sehingga layak untuk mendapat penghormatan sebuah hadiah “dijitak”.

Bentuk imbuhan “ke” yang merubah sebuah kata menjadi kata sifat juga bisa dilihat mirip pengimbuhan “ke+an” di dalam bahasa Indonesia. Misalnya, “kekanakan” yang berbentuk dasar “[k]anak” [kata benda] kemudian mendapatkan imbuhan yang merubahnya menjadi kata sifat “kekanakan” atau “kekanak-kanakan”.

“Nyentrik” ini berasal dari kata “centric (Eng)”; “berada di pusat” yang mendapatkan imbuhan “n+”. Jadi kata “nyentrik” berarti “bersifat berada di pusat”. Jika kata ini digelarkan kepada seseorang berarti orang tersebut adalah “suka berada di pusat [perhatian]”. Nah, beberapa orang memang suka dan butuh untuk “nyentrik”. Semakin “nyentrik” maka [mungkin] ia berharap semakin terkenal. Atau bisa jadi ia kurang kasih sayang sehingga ia butuh selalu diperhatikan.

Yang repot dari “nyentrik” adalah ketika keseringan menabrak norma bersama dan menyakiti kebanyakan orang. Kecuali penghuni Mangunjayan atau nJurug atau sedikit delusional atau ada sedikit kelainan syaraf, polah kepradah seperti ini bisa dikasuskan. Sekali lagi, ia bisa dimaafkan bila ia penghuni Mangunjayan atau nJurug.

Untuk menjadi penghuni Mangunjayan atau nJurug syaratnya cukup ketat. Salah satunya ia tidak mungkin membuat akun media sosial dan aktif berinteraksi dengan orang-orang. Kalau sedikit delusional, biasanya kadang ia ndleming (atau meracau) yang kita tidak pahami. Orang delusional mempunyai “dunia-dunia” yang tidak gathuk dengan “dunia-dunia” yang lazim; ketika positif kadang malah menjadi inventor ketika negatif ia bisa merusak. Nah, kalau yang mengalami sedikit kelainan syaraf, bisa keadaan “nyentrik” itu terlalu sering terjadi.

Sedikit kelainan syaraf misalnya terjadi pada penderita Tourette syndrome. Penderita sindrom ini bisa tiba-tiba meletupkan kalimat tidak senonoh di luar kesadarannya. Penderita ini juga perlu dikasihani karena hingga kini penderitanya sering mengalami pemencilan dari lingkungan sekitar karena kurang dimengerti publik sebagai sebuah kelainan syaraf. Atau misalnya mengalami gangguan syaraf dalam memproses logika berbahasa yang disebut dengan mixed receptive-expressive language disorder.

Mixed Receptive-expressive Language Disorder (Credit: Shrimp Graphic)

Credit: Shrimp Graphic

Kembali lagi pada imbuhan “n+” di dalam bahasa Jawa. Imbuhan “n+” bisa kita temui di dalam pengubahan kata menjadi kata sifat atau kata kerja yang biasanya diawali dari konsonan “c”. Bentuk tidak standar yang menginfeksi bahasa Indonesia standar seperti “nyuci” [kata kerja], “nyium” [kata kerja], “nyantri” [kata sifat] adalah pengaruh bahasa Jawa. Walau demikian tidak semua kata berawalan “c” bisa diimbuhi “n+”. Tidak kita dapati misal bentuk “nyinta”.

Tapi bahasa Indonesia itu tidak melulu dipengaruhi oleh bahasa Jawa yang kebetulan penuturnya banyak di Indonesia di dalam perkara “n+” ini. Pengaruh bahasa lain semisal bahasa Betawi juga ada karena kelaziman [kepopuleran] pemakaian dan atau justifikasi terkanunkan lewat kamus.

Di dalam bahasa Jawa yang kasar, “mulut” adalah “cocot” atau di dalam ilmu senyawa sering disebut dengan “Karbondioksida + T”. Sedangkan di dalam bahasa Betawi, “mulut” adalah “bacot”. Bentuk “bacot”-lah yang merupakan entri resmi di dalam kamus bahasa Indonesia. Dan orang Jawa yang berusaha berbahasa Indonesia [atau ber-Betawi-an] secara kagok akan memilih bukan bentuk “banyak nyocot” namun “banyak mbacot” untuk menggelari orang yang “banyak berbicara membuat kuping panas”. Bentuk “cocot’ hanya dikenal di dalam bahasa Jawa dan bukan di dalam bahasa Indonesia atau bahasa Betawi.

Maklum, orang Jawa sudah dari sananya melafalkan “b” sebagai “mb” dan untuk berubah perlu banyak latihan meski banyak orang malas berlatih karena ini tidak merubah arti. Poliglot yang fasih bisa merubah moda berbahasanya sesuai bahasa yang sedang digunakan dan nyaris lenyap bahasa lidah aslinya, tentu karena latihan.

Bahasa itu unik. Pengaruh mempengaruhi terjadi di antara bahasa yang ada di dunia. Walaupun demikian, tidak semua bahasa lantas manasuka untuk dimodifikasi atau dikanunkan varian barunya. Kecuali memang usaha itu adalah usaha memprofankan sebuah bahasa yang menjadi sandar ritual.

Praktik pemakaian imbuhan juga merupakan bagian dari “dunia penciptaan” yang bisa masuk di dalam penafsiran. Ketika sebuah kalimat muncul dari seseorang yang berlatarbelakang Jawa disampaikan kepada penerima kalimat berlatarbelakang Jawa di dalam situasi formal berbahasa Indonesia maka tafsirannya bisa macam-macam. Justru itulah peliknya bahasa dan berbahasa namun itulah yang membuat perhubungan sesama manusia menjadi penuh dinamika juga berkah.

Bayangkan betapa “kakunya” dunia jika moda berkomunikasi kita adalah telepati. Di dalam telepati setiap orang bisa membaca pikiran masing-masing. Jika setiap orang bisa membaca pikiran masing-masing, kita bisa bayangkan “betapa garingnya” dunia sebagaimana betapa tidak asyiknya jika kebaikan dan keburukan yang dilakukan oleh orang di dunia ini sudah langsung berimbas kepada panjang hidungnya, seperti kisah pinokio, atau bau tubuhnya, seperti kata seorang ulama.

Pinokio Susah untuk Berbohong karena Setiap Kebohongan Langsung Mendapatkan Ganjaran Berupa Hidung yang Memanjang (credit: disneyinternational.com)

Pinokio susah untuk berbohong karena setiap kebohongan yang dilakukannya akan langsung mendapatkan ganjaran berupa hidung yang memanjang. Jika manusia mempunyai ‘kelebihan’ seperti ini maka manusia akan susah menyembunyikan hasrat rakusnya atau kepalsuannya yang membuat dunia jadi monoton. Jika itu terjadi, pahala dan dosa jadi absurd nilainya dan tiada tantangannya. Kejahatan dan kebaikan menjadi proses yang sekali lihat, sekali tebas (credit: disneyinternational.com)

Jika kebohongan adalah disepakati sebagai “buruk” maka tiap kita akan otomatis tidak mau BERNIAT berbohong karena tak mau hidungnya menjadi panjang atau tubuhnya menjadi bau. Otomatis tidak ada pejabat yang berbohong kepada rakyat dan semua nafsu hasrat dunia yang kadang dicapai lewat bohong karena kejujuran bakal menggagalkan keterpilihannya sebagai penjabat yang bisa memenuhi hasrat dunia. Semua lempang saja.

Dunia justru menjadi menarik karena kondisi itu tidak ada. Semua bisa berpotensi berbohong dan terus menyembunyikan kebohongan atau bertobat dari kebohongan dan justru karenanya setiap orang kemudian jadi saling membutuhkan di dalam saling menasehati tentang adanya kejujuran; orang jujur atau kebohongan; pembohong. Dari situlah kemudian konsep pahala atas kejujuran dan dosa atas kebohongan mendapatkan tempatnya. Dan dari situlah menjadikan kita merasa butuh orang lain, merasa daif dari segala potensi keburukan dari diri kita maupun dari orang lain yang muncul lewat “bahasa dan berbahasa”. Dari situlah kemudian kita menjadi lebih manusia yang bukan cuman daging dan darah.

Bahasa adalah dilema dari kemanusiaan kita. Ia menjadi alat untuk menyampaikan pesan kita kepada orang lain namun di sisi lain ia kadang mengkhianati keseluruhan maksud dari pesan yang kita sampaikan. Bahasa menjadi sesuatu yang membatasi kita. Ia menjadi penjara dari keluasan dan kedalaman pesan yang hendak kita beberkan. Membatasi ruang gerak kita, ia, dalam tataran tertentu, adalah otoriter.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s