Home » Selected Contemplation » Pergerakan dan Ransum

Pergerakan dan Ransum

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan, atau bahasa kerennya adalah KBBI Daring, ransum memiliki dua arti. Salah satu artinya adalah catu makanan; jumlah makanan tertakar yang diberikan kepada penduduk [manusia] atau ternak.

Sebelum bicara ransum, seperti biasa, intermezzo dulu.

Online di dalam bahasa Indonesia terterjemahkan menjadi “dalam jaringan” atau disingkat menjadi “daring”. Bagi saya, istilah daring ini agak gimana gitu. Bayangin aja jika kalimat “aku mau online’ kita ubah menjadi lebih ngIndonesia dengan kalimat “aku mau daring”. Nah, kalau istriku biasanya sudah langsung nimpalin: “Papa memang sudah biasa garing”. Bah meleset jauh kan? Sedang jika mau pakai bahasa gado-gado Ind-lish semisal “Dia itu daring person” untuk bilang “Dia itu suka ng-online” juga bermasalah sebab daring sendiri di dalam bahasa Inggris punya arti “suka berpetualang”. Mungkin nyambung juga sih, “berpetualang di internet?” … ha ha …

Kembali ke ransum makanan.

Bicara pergerakan tidak boleh melupakan perkara makanan. Konon berhasil tidaknya perjuangan bukan saja karena tekad yang kuat namun juga persiapan logistik perut juga harus siap.

Gerakan mahasiswa tahun 66 contohnya. Di tahun 66 ketika Sukarno dituntut tiga tuntutan yeng terkenal itu, para mahasiswa bisa tahan ngendon di tempatnya dan teriaknya kenceng karena ada nasi bungkus di sana. Entah siapa yang menyediakan nasi bungkus itu namun dari penuturan beberapa orang, nasi itu dikasih rakyat yang peduli pada perubahan selepas Sukarno belum juga beri kepastian ekonomi dan keamanan.

Yang lebih bikin semangat bagi para mahasiswa 66 adalah tulisan yang distaples di bungkusan nasi itu yang bunyinya kurang lebih: “Selamat berjuang Kakak – Fulanah (Depok)”. Sudah kenyang, semangat tambah terbakar. Terkepung dan ada rumor keadaan kian gawat, terpaksalah Sukarno ngreken “surat gaib” Supersemar tentu dengan bumbu kisah ditodong tiga jenderal.

Begitu juga jika kita menengok pada kisah medan Timur di Perang Dunia II. Benar sih, kalau mereka yang suka lihat film atau suka main game kebanyakan diceritakannya adalah perang di medan Barat: Battle of Britain dan D-Day in Normandy. Sebenarnya kalau mau eyel-eyelan, bilakah Hitler mulai pontang-panting menjaga moril pasukannya untuk tetap jaya di Eropa, ada yang punya argumen kalau kekalahan di medan Timur-lah yang bikin tentara Jerman koyak semangatnya. Sebab selepas serangan gagal ke Rusia ini, tentara Jerman mengalami kemunduran moral. Penyebab gagalnya invasi ke Rusia? Tak ada ransum makanan dan gilanya suhu musim dingin di Rusia.

Hitler ini memang agak kurang ajar di Perang Dunia II. Sudah salaman sama Stalin untuk tak saling agresi, bagi-bagi wilayah incaran dan medan perang, lha kok Hitler diam-diam masuk ke Rusia. Awalnya berhasil masuk ke beberapa kota. Itu untuk sementara sebelum musim dingin Rusia yang ganas datang dan pasok makanan terhambat, tentara merah Rusia berhasil pukul balik tentara Jerman. Pergerakan tentara Jerman mandeg bahkan terpukul mundur hingga ke Berlin! Tapi ya itu, kita kebanyakannya dicekokin narasi Barat kalau yang memenangkan perang melawan Hitler adalah Inggris + Amerika Serikat. Rusia? Salah sendiri Rusia dari dulu gak pinter bikin film dan game. Produk pop culture memang ampuh untuk mencekoki otak kebanyakan.

Bicara perut, memang benar perkara perut itu perkara yang utama. Makanya ada orang bijak bilang, yang bisa sedikit dimodifikasi, kalau orang sudah kelaparan maka ia bisa meninggalkan Tuhan. Masuk akal juga. Orang lapar bisa bikin setan bisik-bisik ngelakuin kejahatan; lupa Tuhan.

Tiada Kekuatan dalam Pergerakan tanpa Ransum; Kajian Historis (credit foto: siperubahan.com)

Tiada Kekuatan dalam Pergerakan tanpa Ransum; Kajian Historis (credit foto: siperubahan.com)

Oleh karena itu membuat rakyat tidak kelaparan adalah prinsip utama dibandingkan mengejar dulu pertumbuhan ekonomi, indeks intelektual, gedung-gedung tinggi. Itulah kesederhanaan dari seni memerintah. Karena kadang sesuatu yang flashy kayak gitu malah bisa banyak kekacauan saat yang penting dilupakan. Kalau di kitab Tao Te Ching dikatakan Pemerintah harus bisa membuat rakyat “menganggap makanan mereka manis; pakaian mereka indah; rumah mereka tempat istirahat yang tenang dan nyaman; dan kerja bakti mereka sebagai sumber kesenangan hidup.” (terjemah bebas Pasal LXXX).

Urusan perut itu penting; atau malah salah satu yang terpenting.

Lihat saja bagaimana Sultan Agung dari Mataram gagal menakhlukkan Belanda di Batavia pada serangan di bulan Oktober 1628 dan juga serangan kedua pada Mei 1629. Keduanya gagal karena ransum makanan dikacaukan VOC. Gudang logistik; lumbung makanan dibakar oleh Belanda.

Nah, bicara VOC ini juga menarik. Belanda memang benar lewat perusahaan multinasional tertua kedua di dunia, VOC, datang ke Indonesia pada abad 17-an. Namun Belanda bukan datang sebagai “murni negara” karena VOC ini hanyalah “quasi negara” dalam bentuk resmi perusahaan dagang. Posisi VOC waktu itu ya kayak perusahaan sekarang dengan satpam-satpam bersenjata; kita sebutnya serdadu kompeni. VOC resmi dibubarkan dan Belanda ambil alih kekuasaan di Indonesia itu baru tahun 1799.

Jadi kalau mau ambil gampang, sebagian Nusantara dijajah Belanda baru tahun 1799. Di beberapa daerah lain, Belanda tidak atau katakan saja belum punya kekuasaan apa-apa kecuali hanyalah mitra dagang saja. Sebut saja misalnya di Aceh. Belanda baru mengencingi kemerdekaan dan kedaulatan negara penyangga Aceh pada tahun Maret 1873. Baru pada tahun 1914 dianggap Aceh bisa dikendalikan Belanda -tentu gerilya masih terus terjadi di sana.

Begitu juga Bone, Gowa, Luwu baru pada 1910-an bisa dikuasai oleh Belanda. Sumba dan Alor baru bisa ditakhlukkan juga sekitaran tahun 1910-an. Begitu juga beberapa daerah lain di Nusantara.

Jadi kalimat “kita dijajah Belanda 300-an tahun” adalah salah dan sebuah penghinaan. Yang merupakan fakta adalah “perusahaan Belanda datang berdagang di Indonesia sejak abad 17”. Kurang tepat kalau bilang bahwa Belanda “sudah menjajah Indonesia sejak tahun 1603” ketika VOC dapat izin dagang di Banten.

Balik lagi ke makanan dan pergerakan. Maaf kebanyakan intermezzo.

Suharto menang lawan pemberontakan PKI juga bisa dikaitkan dengan urusan ransum makanan. Pemberontakan “tergesa-gesa PKI” pun gagal gara-gara nasi bungkus atawa ransum makanan. Sebagian pasukan utama di bawah kendali Letkol Untung, pasukan Yon 530, yang berjaga posisi di sekitaran Monas kelaparan karena nasi bungkus tidak juga datang hampir seharian. Letkol Untung, atau katakanlah PKI, lupa memikirkan ransum. Buih di benak mereka ini adalah “revolusi pasti berhasil” tapi lupa masalah ransum makanan.

Alkisah, Suharto berhasil membujuk pasukan Yon 503 yang kelaparan ini untuk kembali ke pangkalan dan bergabung dengannya. Lalu kita tahu kelanjutan kisah berikutnya. Pemberontakan “tergesa-gesa PKI” tertumpas. Tentara juga manusia. Tak ada ransum makanan, mana tahan? Nah.

Kisah nasi bungkus juga menjadi bagian yang menarik dari kisah perpolitikan kita. Salah satu pemimpin nasional kita bisa menjabat ke posisinya sekarang konon gara-gara modal nasi bungkus (dan konon juga hape) yang diberikan kepada pasukan cyber-nya. Mungkin juga nasi bungkusnya ada staplesan tulisan: “Selamat berjuang, mari turun tangan lawan kebangkitan Bad Guys. Cemungud!”

Jadi jangan pernah menyepelekan nasi bungkus; catu makanan; suplai makanan.

Jadi jika semisal ada cerita kalau pergerakan atau demo mahasiswa batal gara-gara ada isu nasi bungkusnya menyebabkan kanker; tidak layak makan karena diisukan mengandung beras plastik, jangan salahkan mereka jika mereka urung. Salahkan kita yang berharap terlalu banyak pada perjuangan tanpa nasi bungkus yang memadai; tanpa adanya ransum. Memangnya bisa berteriak kenceng tanpa makanan?

Bukankah tentara TNI dulu bisa bertahan gerilya melawan Belanda karena rakyat bersedia menyediakan makanan tiap kali para tentara ini singgah ke desa-desa? Bayangkan jika tentara TNI kita kelaparan dan hanya punya bedil saja. Saya yakin mereka akan sulit melakukan penyergapan kepada Belanda dengan semangat membara dan teriak suangattt kenceng: MERDEKA!! dan bedil cetar membahana. Dan mungkin saja mereka tak mau menyebut kata MATI setelah MERDEKA di dalam teriak permulaan penyergapan karena ada harapan dan makanan cukup buat esok hari atau mungkin terlalu panjang untuk teriak MERDEKA ATAU MATI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s