Home » Uncategorized » Pangkon

Pangkon

Di dalam filosofi Jawa, ada istilah “yen dipangku mati”. Saya kembali ingat pada filosofi ini ketika kawan lempar komentar di sebuah media sosial Abu Furqon Hardi Witono menyentil lewat status Facebooknya dengan meme yang ia buat dengan Microsoft Paint, dengan aksara Jawa: PANGKON.

Selugu-lugunya orang Jawa yang berpolitik, filosofi ini pasti diketahui. Filosofi ini diambilkan dari piwulang atau pengajaran yang termaktub dari aksara Jawa. Bahwa setiap aksara Jawa yang mendapatkan pangkon maka akan mati. Hal yang sama juga di dapati di dalam huruf Arab. Di dalam huruf hijaiyah, setiap huruf konsonan yang mendapat sukun akan mati.

Di dalam aksara jawa, aksara “pa” ketika dipangku (diberi pangkon) akan dibaca “p” dan bukan “pa” lagi. Vokal-nya akan hilang. Hilang suaranya. Ia mati.

Pangkon (credit: corjong.net)

Pangkon (credit: corjong.net)

Belajar dari filosofi inilah maka kita bisa mendapati bahwa sangat jarang seseorang yang memiliki sense of Javaneseness sejati akan terang-terangan menyatakan penakhlukan atau intimidatif kepada lawannya atau siapapun yang potensial menjadi lawan.

Me-pangku tidak bisa hanya dimaknai memberikan paha untuk sandaran duduk (lihat bentuk “pangkon” di atas) namun juga ngudhang atau memuji; meng-umbulke (meninggikan, membuat senang hati), meng-uja (memberi kenikmatan) adalah strategi orang Jawa di dalam bernegosiasi dan memenangkan konflik dengan membuat potensi bahaya menjadi terlena. Jadi jangan juga heran mengapa pejuang kemerdekaan kita yang nJawani atau sense of Javaneseness-nya tinggi, tidak terlalu frontal menentang Belanda atau Jepang. Kalau frontal-pun, habis itu ya kooperatif. Tarik ulur seelegan mungkin. Beda kisahnya dengan pejuang-pejuang dari kultur budaya lain. Sukarno beda dengan Sutan Syahrir, misalnya. Menarik bukan, betapa indahnya Indonesia itu?

Nah, pangkon inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Belanda di dalam meringkus Diponegoro. Diponegoro adalah pejuang tanah Jawa (Tengah dan Timur + Yogyakarta) yang menentang Belanda di dalam perang 5 tahun dan bikin Belanda banyak keluar biaya. Tanam Paksa timbul karena Belanda tekor gara-gara Perang Jawa. Uang harus masuk kas yang defisit, begitu niat dari kebijakan ini.

Belanda mengundang Diponegoro dengan bujuk rayu yang memikat. Dipuji sebagai pemimpin rakyat yang dihormati dan Belanda gak perlu lagi untuk musuh-musuhan dengan Pangeran Jawa yang dipuji Chairil Anwar ini, pada saat hari raya Idul Fitri, suasana lebaran, Diponegoro diajak ramah tamah; dipangku; dijamu ngobrol dan mungkin makan-makan. Karena Diponegoro adalah Jawa banget, ya, Diponegoro mah orangnya kayak gitu, ia terima ajakan makan-makan rekonsiliasi ini. Dan dari situlah duka Diponegoro dimulai. Perang Jawa LEBAR; SELESAI. Mungkin dari sinilah istilah LEBARAN mendapatkan kisah mulanya. Idul Fitri adalah momen LEBAR-nya, SELESAI-nya perang orkestrasi keberanian Pangeran Jawa melawan Belanda.

Dari kisah pangkon dan Diponegoro ini, ada beberapa hal yang menarik. Secara filosofis makna dari “Pangkon” adalah meletakkan gerombolan yang sebelumnya berpotensi vokal, berbahaya … menjadi hilang kevokalannya. Diponegoro bisa jadi kena jebak gegara pangkon ini. Ia lupa bahwa Belanda sudah selalu belajar filosofi lokal untuk bikin kuasa kuat. Dan filosofi khas Jawa, pangkon ini, berbeda dengan Mein Kampf ala Hitler yang gak ambil pusing dengan bagaimana menakhlukkan lawan atau Machiavelli yang secara pragmatis lebih suka pemimpin yang ditakuti; karena lebih efektif menerapkan kebijakan, ketimbang pemimpin yang disayangi. Juga orang Jawa tidak bermufakat dengan gaya Nero yang urakan karena dikit-dikit ia undang makan dan suruh Locusta kasih racun ke hidangan. Tidak perlu. Filosofi Jawa itu mengajari “halus di dalam menekuk hati; meredakan potensi vokal.” Oleh sebab itulah negosiasi orang [baca: politikus] Jawa itu “tidak mengenal kekerasan namun justru bisa sangat efektif di dalam membuat lawan loyo”. Tentu dikecualikan jika lawan sudah paham filosofi ini sejak awal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s