Home » Selected Contemplation » Bahasa Indonesia Langgam Jepun dan Straya

Bahasa Indonesia Langgam Jepun dan Straya

[Tulisan berikut ini adalah satir yang ditulis sebagai kritik terhadap usaha pelanggamjawaan pembacaan skriptur Quran. Pembacaan skriptur Quran adalah aktivitas yang bernilai ritual dan bukan profan serta ada kaidah-kaidah ketat yang membersamainya sehingga niat untuk ‘memperkaya’ variasi lewat pelanggamjawaan adalah tidak pas. Tulisan ini menunjukkan bahwa pada bahasa-bahasa ‘biasa’ saja pendialekan kepada lidah lokal (baca: pembumian) disebut sebagai variasi namun bukan sebagai sesuatu yang layak disebut sebagai standar. Pelanggamjawaan dan lalu pemberian nama sebagai ‘gaya baca langgam Nusantara’ terhadap skriptur yang nilainya ritual sudah tidak tepat dari kajian bahasa-bahasa ‘biasa’ apalagi pada konteks bahasa skriptur yang bernilai ritual. Pemberian nama dan usaha standarisasi lewat lembaga resmi dan niatan kontes atau perlombaan di dalam kajian budaya bisa disebut sebagai usaha standarisasi; pelabelan atau penamaan berarti penyengajaan untuk memulai sesuatu sebagai berbeda. Niatan untuk berbeda bisa diamsalkan dengan bahasa Indonesia yang diniatkan beda dengan langgam Jepun dan Straya sebagaimana termaktub di dalam tulisan ini. Ketika niatan ini mendapatkan justifikasi maka yang muncul adalah ‘banyak standar’ dan banyak standar sangat berpeluang menimbulkan kekacauan. Saat kekacauan bisa dihindari, dalam bahasan ini adalah ‘cara baca Quran’ atau ’tilawah’ atau ‘mengaji’, mengapa bersemangat mengundangnya? Bukankah cara baca yang sebisa mungkin mendekatai cara baca skriptur sebagaimana lidah pengucap bahasa itu justru lebih baik? Justru model yang begini menjadikan Rasulullah saw., yang berlidah Arab dan Quran diturunkan dalam bahasa Arab (intonasi, langgam, kaidah kekhususan baca adalah Arab Quranik), sebagai pancang pegangan baca standar dan ini justru lebih baik?]*

========================

Bahasa Inggris adalah bahasa yang paling lambat perkembangannya di dunia. Jumlah penuturnya pun kian menyusut. Usaha-usaha yang dilakukan oleh pemerintah Inggris untuk membuat standarisasi bahasa Inggris lewat tes serupa IELTS[i] adalah usaha yang sia-sia. Bahasa Inggris yang terstandarkan salah satunya dengan tes IELTS adalah langkah yang salah di dalam menjaga eksistensi bahasa Inggris.  Bahasa butuh berkembang dan standarisasi lewat salah satu dialek yaitu dialek yang berterima bagi warga London adalah langkah yang terbukti salah.

Pernyataan yang menyatakan bahwa bahasa memiliki nuansa sendiri-sendiri, kekhasan sendiri-sendiri, baik ekspresi tulis maupun ekspresi tutur semisal dibahas oleh Mario Pei[ii] adalah konyol. Bahasa butuh dikontekstualisasikan sesuai dengan di mana bahasa tersebut dipakai. Jadi seharusnya pemerintah Inggris tahu mengenai ini. Mereka itu adalah bangsa yang kurang pandai di dalam menjaga eksistensi dan mengembangkan jangkauan bahasa mereka.

Mario Pei (credit: NIAF MileStones)

Mario Pei (credit: NIAF MileStones)

Coba saja sekiranya tes IELTS tidak perlu dicetuskan sebagai standarisasi bahasa Inggris, pastilah bahasa Inggris akan berkembang dengan sangat pesat. Tidak perlu ada yang namanya Academic English dan pembakuan yang norak itu. Semua bahasa haruslah tidak perlu ada baku-bakuan.

Saya sudah memikirkan hal ini sejak lama. Mengapa “That’s very kind of you” secara baku memiliki intonasi standar yang berbeda dan juga cara baca yang berbeda dibandingkan kalimat di dalam bahasa Indonesia yang memiliki arti yang sama “Kamu baik sekali”. Di dalam bahasa Inggris, intonasi standar “That’s very kind of you” tidak dibunyikan secara datar sebagaimana pembunyian “Kamu baik sekali”. Belum lagi bunyi “kind of” yang dibunyikan menyambung (linking) dan berbeda jikalau keduanya dipisah menjadi “kind” dan “of”. Ada aturan pembunyian yang berbeda ketika ada vowel seperti itu. Ribet, tidak praktis, dan standarisasi adalah rubbish! Harusnya “That’s very kind of you” yang memiliki arti sama dengan “Kamu baik sekali” bisa dibunyikan dengan intonasi ala bahasa Indonesia. Tidak ada perlu menukik menanjak di tengah lalu menurun di tengah. Inilah yang membuat saya yakin mengapa bahasa Inggris tidak bisa berkembang pesat.

Oleh karena itulah, sebagai salah satu wujud bakti saya kepada tanah air, bahasa Indonesia yang sudah berkembang sangat pesat tidak perlu diadakan pembakuan yang monolit. Pembakuan monolit gaya berterima London ala IELTS adalah salah dan konyol. Itu menyalahi kodrat bahasa yang arbitrari, mana suka. Bahasa tidak perlu konvensi, ini teori yang benar. Bahkan jikalau ada konvensi, haruslah jangan ada satu konvensi. Harus ada banyak konvensi sehingga penyebarannya kian meluas dan orang lebih mudah belajar suatu bahasa. Saya ada ide untuk membuat bahasa Indonesia langgam[iii] Jepun dan Straya.[iv]

Ide saya ini adalah ide yang hebat. Saya harus akui ini. Ini adalah suatu cara yang akan membuat bahasa Indonesia yang sudah berpenutur banyak dan sudah berkembang luas di seluruh dunia akan kian mantap perkembangannya. Ide hebat saya ini justru mendapatkan momentumnya bersamaan dengan argumen orang-orang yang bodoh mengenai keharusan membaca Quran dengan dialek Arab dan pelaguan khas Arab. Mereka yang ngotot ini termasuk tidak pintar; kurang mengkaji bagaimana bahasa di dunia tetap bertahan dan tetap tidak berubah. Ketika mengikuti ribut masalah cara baca Quran di Indonesia, saya tertawa dengan misalnya argumen Ustad Nara Ar Raji Rahmata Rabbi di dalam tulisannya yang berjudul “7 Penjelasan yang Mencerahkan …”.[v] Ustad yang ngajinya kurang canggih ini bicara di dalam tulisannya tentang kaidah “sadduz zariah” dan variasi yang ada di Timur Tengah masih dalam koridor “maqamat syarqiah”. Ustad yang satu ini seakan-akan hendak mengajari cara baca Quran sebaiknya sedekat mungkin dengan cara bahasa Arab dilagukan di dalam membaca Quran. Memangnya Quran diturunkan di dalam bahasa Arab? Quran itu dari Allah. Allah itu Tuhan Semesta Alam. Mengapa harus dibaca sebagaimana ia diturunkan? Pendapat kukuh untuk membaca Quran sedekat mungkin dengan kelaziman bahasa Arab-nya Nabi saw. dan para sahabat r.a. dibaca dan dibunyikan adalah bentuk keganjilan! Ini syadz!

Orang Jenius sedang Merintis Pembelajaran Bahasa Indonesia Langgam Straya

Orang Jenius sedang Merintis Pembelajaran Bahasa Indonesia Langgam Straya kepada Bule Straya.

Yang membuat saya tambah jengkel adalah pendapat Ustad Nara AR Raji Rahmata Rabbi ini mirip dengan pendapat Ustad Abu Robbani.[vi] Malah, Ustad Abu Robbani mengutip dalil yang menurut banyak orang adalah hadist lemah. Saya kian malas saja mendengarnya. Amalan kok memakai hadist lemah sebagai sandaran justifikasinya. Hadist lemah itu hanya boleh dipakai di dalam amalan bid’ah hasanah dan bukan di dalam mempertahankan sesuatu yang sudah berlangsung lama padahal dibutuhkan adanya inovasi baru; penyegaran. Saya melihat kedua Ustad ini masih terhegemoni oleh budaya Arab, –whatever that may mean– mereka berdua ini sok Arab, ke-arab-arab-an. Mungkin saja mereka ini terlalu sentimentil untuk meniru sedekat mungkin bagaimana Quran dibaca oleh Rasulullah saw. dengan para sahabat beliau saw. Buat apa beragama itu harus sentimentil? Konyol ah!

Dari polemik itu dan bagaimana inisiator ide baca Quran langgam Jawa salah mendiseminasikan langkah dan kurang gencar berdalil itulah muncul ide brilian saya ini. Saya tidak suka kejumudan dan saya anti sentimentil sehingga bagi saya mudah untuk berpikir jernih merumuskan dua langgam baru untuk bahasa Indonesia ini. Tentu hujah saya adalah demi kemajuan bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia langgam Jepun yang saya gagas ini punya dua kaidah: intonasi meninggi di akhir kalimat dan melafalkan “r” pada setiap “l” yang ditemui. Saya merasa bahwa Jepun harus menjadi proyek inisiatif dari langgam ini karena Jepun “dekat” dengan kita dan Jepun adalah negara yang sudah maju. Kecerdasan saya membuat ide pen-Jepun-an bahasa Indonesia sulit untuk ditolak. Argumen saya kuat, Jepun bisa mudah berbahasa Indonesia sesuai konteks lidah dan tenggorokan kita maka orang Jepun semuanya akan bilingual: pintar bahasa Jepun dan pintar bahasa Indonesia ala cengkok mereka.

Bahkan saya berharap  dan punya visi bahwa di masa mendatang mereka akan bisa membuat kamus bahasa Indonesia langgam Jepun dengan IPA transcriptionnya merubah “l”-nya bahasa Indonesia kita dengan “r” (orang Jepun susah melafalkan “l”; “l” tidak ada di dalam alfabet bahasa mereka). Lebih canggih lagi, saya yakin kelak dorama mereka akan bisa rilis dengan dua bahasa: bahasa Jepun dan bahasa Indonesia langgam Jepun. Pokoknya saya ini bersyukur menjadi orang yang dianugerahi otak yang cemerlang hingga sampai punya bayangan futuristik semulia ini.

Orang Brilian bersama Anaknya Rifqi Abdillah sedang Menjajaki Penciptaan Bahasa Indonesia Langgam Desis Ular

Orang Brilian bersama Anaknya Rifqi Abdillah sedang Menjajaki Penciptaan Bahasa Indonesia Langgam Desis Ular

Saya pun sudah bisa membayangkan bagaimana kontes debat berbahasa Indonesia akan lebih sering dilakukan di Jepun karena begitu mudahnya bahasa Indonesia bagi lidah mereka dengan penerapan ide saya ini. Tentu saya juga tidak akan protes atau kaget bila intonasi bahasa Indonesia langgam Jepun ini tidak ada huruf “l” dan berintonasi meninggi di akhir kalimat. Ada berkahnya, akan makin banyak homofon di dalam bahasa Indonesia terdengar di langgam mereka ini. Misal, “martil” dan “martir” yang artinya “pemukul dari besi” untuk “martil” dan “orang yang mati dalam memperjuangkan kebenaran agama” untuk “martir” di dalam bahasa Indonesia langgam Jepun ini akan berhomofon menjadi “martir”. Demikian nanti saya harus mulai terbiasa dengan teman-teman Jepun yang menancapkan paku di tembok dengan “martir”.  Begitu juga saya juga tak perlu bingung jika orang-orang Jepun dengan bahasa Indonesia langgam Jepun mereka ini di dalam dorama bilingual –yang bisa saya ganti pakai opsi di remote DVD, saya pilih “Indo lgm Jep”- menawarkan teman-temannya untuk “makan kikir”. Otak cerdas saya sudah bisa langsung memproses makna dari “makan kikir” sebagai “makan daging [kenyal] pada kaki kerbau, sapi, atau kambing” dan bukan sebagai “makan alat dari besi baja yang bergerigi dipakai untuk meratakan sesuatu”.[vii] Kefasihan berbahasa Indonesia tidaklah boleh dirujuk kepada penutur asli bahasa Indonesia; orang Jepang dengan dipakainya ide bahasa Indonesia langgam Jepun harus dianggap fasih berbahasa Indonesia. Tidak boleh ada hegemoni –whatever this may mean– bahasa Indonesia ala orang Indonesia di dalam berbahasa Indonesia. Ini juga berlaku dengan pengakuan intonasi (lagu tutur) bahasa Indonesia langgam Jepun. Semua sah.

Kepandaian saya membuat saya bukan pintar mencetuskan sebuah ide namun juga bagaimana ide ini didiversifikasikan, kian dijamakkan –whatever this may mean. Saya juga menggagas dimunculkannya bahasa Indonesia langgam Straya. Ciri khas dari bahasa Indonesia langgam Straya di dalam konsep distinktif saya adalah intonasi yang b erbeda dengan intonasi yang kita kenal di dalam bahasa Indonesia yang dipakai di Indonesia dan dihilangkannya ‘konsonan gabungan’ khas di dalam bahasa Indonesia (kh, ng, ny, sy). Bahasa Indonesia harus dibumikan dengan bahasa Inggris Straya.  Semakin membumi semakin baik.

Orang Pandai sedang Berapi-api Menunjukkan Cengkok Bahasa Indonesia Langgam Straya di Salah Satu Kampus Ternama di Straya

Orang Pandai Selepas Diseminasi Serius Sedang Diminta Lagi Menunjukkan Prototip Cengkok Bahasa Indonesia Langgam Straya di Salah Satu Kampus Ternama di Straya

Mengapa saya sampai berpikir secanggih ini? Sebabnya saya sering melihat orang Straya kesulitan melafalkan konsonan gabungan itu. Daripada mereka harus susah payah mengucapkan “menyanyi” sebagai lazimnya bahasa Indonesia yang kita tuturkan mendingan mereka kita buat mudah belajar bahasa Indonesia harus disesuaikan dengan lidah dan tenggorokan mereka. “Menyanyi” sangat sah dan baku untuk diucapkan sebagai “men” + “yan” + “yi”. Itu untuk cara baca.

Dan ini juga ada niatan politis. Saya bosan mendengar televisi di Straya akhir-akhir ini bilang bahwa Jakarta ada hambatan komunikasi dengan Canberra. Ide ini adalah solusi untuk mengeratkan hubungan Jakarta-Canberra yang saya curigai karena pemakaian bahasa yang terlalu berbeda. Bahasa Indonesia kita dan nanti bahasa Indonesia langgam Straya akan tidak jauh berbeda sehingga besar kemungkinan kemesraan akan mudah direngkuh.

Lalu bagaimana dengan intonasi? Saya bisa kasih contoh “Benar?” di dalam bahasa Indonesia yang kita pakai harus bisa dibakukan sesuai nuansa “Really?”-nya mereka. Dus, cara bacanya “Benar?” haruslah melengking meninggi di ekor dan bukan datar sebagaimana lazim kita ucapkan.

Persis sebagaimana bayangan saya dengan bahasa Indonesia langgam Jepun, saya sudah bisa bermimpi bahwa orang-orang Straya akan memiliki bahasa Indonesia langgam Straya yang baku dan kita tidak boleh protes. Juga saya harus sudah pula harus mengantisipasi jikalau ada orang Straya yang ditegur oleh country mate-nya karena ketahuan berbicara bahasa Indonesia di Straya dengan langgam dan cara orang Indonesia sebagai sok ke-indonesia-indonesiaan. Bahasa Indonesia itu bukan milik orang Indonesia. Ia menjadi berkah bagi bumi untuk menjadi bahasa yang terpandang dan memiliki variasi baku yang harus banyak.

Saya sudah harus antisipatif pada pernyataan itu. Saya akan cekoki petinggi-petinggi bahasa di Straya –tentu juga sama akan dengan di Jepun–supaya jangan ada komen-komen negatif mengenai bahasa Indonesia harus merujuk kepada tuturan di Indonesia. Bahasa Indonesia di Straya yang harus ikut aturan Straya. Begitu pokoknya. Dengan antisipasi yang saya doktrinkan kepada petinggi-petinggi bahasa di Straya –juga Jepun- kejadian konyol mengenai bahasa Arab di dalam pelaguan Quran seperti terjadi di Indonesia saya jamin tidak akan terjadi. Kefasihan berbahasa Indonesia yang dirujukkan kepada bagaimana bahasa Indonesia dituturkan oleh kita, penutur asli, adalah kurang kerjaan. Titik.

Meskipun Kembung sehingga Tertampak di Foto Berperut Buncit, Orang Pintar sedang Serius Menjajaki Bahasa Indonesia Langgam Sendratari Ramayana

Meskipun Kembung sehingga Tertampak di Foto Berperut Buncit, Orang Pintar Tetap Semangat dalam Menjajaki Bahasa Indonesia Langgam Sendratari Ramayana

Saya sadar bahwa saya jenius. Apa yang saya tuliskan di atas adalah bukti kejeniusan saya dan bagaimana saya memanfaatkan kejeniusan saya di dalam mengusulkan sebuah ide agar bahasa Indonesia di dalam berkembangnya bisa mempunyai banyak variasi baku, baik langgam (intonasi) hingga berlanjut pada penciptaan homofon dan penghapusan beberapa konsonan. Ide-ide jenius haruslah mendapatkan apresiasi. Para pembaca tulisan ini harus mengapresiasi ide ini sebagai orisinil dan demi kebaikan bahasa Indonesia. Siapapun yang tidak setuju kepada ide ini haruslah belajar lagi ilmu bahasa. Demikian.

*Saya tambahkan karena ada Ustad yang tadi malam khawatir awam akan bingung menangkap maksud tulisan ini dan hal itu saya tafsirkan sebagai penyaranan pemberian catatan tambahan tersebut atas tulisan ini.

_________________________

Endnotes

[i] IELTS (International English Language Testing System) adalah tes standardisasi kemahiran berbahasa Inggris yang dirujukkan pada bahasa Inggris standar sebagaimana dirumuskan oleh Cambridge English Language Assessement. IELTS sebelum menjadi seperti sekarang ini sudah mulai dirintis tahun 1913 bernama Certificate of Proficiency in English examination dengan merujuk pada bahasa Inggris baku berterima London dan di dalam perjalanan waktu menjadi IELTS seperti sekarang ini sejak 1989. Dengan adanya IELTS, bahasa Inggris justru kian jelas disebarkan di seluruh dunia dan tidak gampang goyah meskipun ada variasi-variasi berbahasa Inggris di seluruh dunia karena semua variasi menjadi inferior di hadapan kebakuan IELTS. Beberapa bahasa utama di dunia juga memiliki tes standardisasi. Sebut contohnya DELF (Diplôme D’études en Langue Française) untuk bahasa Perancis dan Nihongo Nouryoku Shiken untuk bahasa Jepang. Sepanjang saya tahu, bahasa Quranic juga memiliki kebakuan yang berbeda bahkan dengan bahasa Arab yang dipakai oleh orang Arab. Standarisasi ini membuat sesuatu meskipun memiliki variasi tetaplah semua dirujuk kepada patokan yang dibuat. Yang unik adalah bahasa Inggris yang juga dipakai di Amerika Serikat memiliki persaingan dengan bahasa Inggris yang ada di tanah asalnya. Tapi persaingan ini memang diniatkan sebagai persaingan “mencari kemenangan” pengaruh dan Amerika Serikat butuh untuk unggul dan ‘pisah’ dari Inggris.
Berikut adalah contoh pelafalan standar di dalam bahasa Inggris dan intonasinya. Di dalam video ini dijelaskan bahwa bahasa Inggris adalah [sebagaimana bahasa lainnya] memiliki langgam khusus dan aturan baca kata-kata di dalam sebuah kalimat (linking). Kesembarangan di dalam mempraktikkan ini – kecuali kesalahan awam – bisa menimbulkan kesalahan arti; kadang bisa dimaknai kasar padahal maksudnya afirmatif saja.

[ii] Seorang ahli bahasa Internasional yang dikenal dengan buku-buku karyanya dengan gaya tulis yang mengasyikkan di dalam menjelaskan ilmu bahasa.

[iii] Di dalam tulisan ini, “langgam” yang semula hanya diniatkan sebagai “intonasi dan cara pelafalan” sebagaimana berkembang di dalam tulisan ini bisa mengarah kepada “lebih dari itu”. Silakan Anda baca hingga selesai.

[iv] Jepun = Jepang; Straya = Australia

[v] Nara Ar Raji Rahmata Rabbih. 21 Mei 2015. “7 Penjelasan yang Mencerahkan tentang Al Quran Langgam Jawa”. Fimadani.com. Diakses 23 Mei 2015.

[vi] Abu Robbani. 22 Mei 2015. “Generasi Rabbani: Generasi Penerus Quran” – Safari Dakwah Australia, Westall Mosque, Clayton.

[vii] Arti kata-kata di dalam bahasa Indonesia dirujukkan kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Diakses 23 Mei 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s