Home » Selected Contemplation » Melihat Wajah Yesus (pbuh)

Melihat Wajah Yesus (pbuh)

Sudah agak lama sebenarnya saya hendak menulis tentang ini. Pertemuan saya dengan penggambaran tentang Yesus[i] atau (peng)imaji(an) Yesus atau perupaan Yesus sebenarnya dimulai ketika saya meneliti novelet karya Ernest Hemingway yang berjudul The Old Man and The Sea (1952) dengan pendekatan strukturalis yang melibatkan pembacaan semiotis[ii] di sekitar tahun 2004-an.

Novelet tersebut memang pantas disebut sebagai salah satu masterpiece Ernest Hemingway. Bukan melulu karena novelet itu enak dinikmati alur plotting dan kekuatan kohesi antarkalimat dan paragrafnya –maklum Hemingway dikenal dengan gaya tulis yang sederhana memikat berkat pengalaman kerja jurnalistiknya– namun juga karena novelet ini berhasil menggabungkan garis batas antara realitas dan fiksi sembari menyuarakan sembab ironi manusia; tentu harus dirujuk pada duka, luka, beban, dan sesal manusia di Barat akibat Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Jadi bagi saya saat itu ketika membaca novelet ini –sembari menganalisis simbol, tanda dan lapisan makna– sungguh merupakan pengalaman yang menyenangkan dan tak terlupakan.

Kembali pada apa yang hendak saya bahas di dalam tulisan ini.

Lewat novelet The Old Man and The Sea-lah saya mendapatkan kisah mengenai Katolik ala Kuba. Katolik ala Kuba berbeda dengan umumnya Katolik sebagaimana kita kenal. Di dalam Katolik Kuba ada kisah mengenai Virgin de la Cobre dan Yesus yang gambarannya adalah sebagai mulatto. Bagi masyarakat Kuba, sejarah penampakan Virgin de la Cobre dan Yesus sebagai mulatto diyakini telah pernah mendatangkan mukjizat dan lalu ditahbis masyarakat Kuba sebagai imaji sebenarnya dari Bunda Maria dan Yesus; berbeda dari gambaran yang lazim saya dapati di Indonesia.

Katolik versi Kuba ini, yang imaji Bunda Maria dan Yesus ditampilkan dalam bentuk Virgin de la Cobre dan Yesus yang mulatto, tidak disebut sebagai bidah atau sesat oleh gereja Katolik Roma karena sudah mendapatkan legitimasi sebagai Katolik khas-nya Kuba. Hal ini adalah sesuatu yang menarik bagi saya, jauh di luar dari apa yang selalu dikatakan mengenai monolit tafsir Katolik yang dikatakan selalu ‘sama persis’ dengan arahan Gereja Katolik [di] Roma.[iii]

Gambar Yesus Mulatto (Credit: Fakultät Wirtschafts- und Sozialwissenschaften, Universität Hamburg)

Gambar Yesus Mulatto (Credit: Fakultät Wirtschafts- und Sozialwissenschaften, Universität Hamburg)

Di dalam perjalanan waktu, saya kemudian bertemu dengan seseorang yang mengatakan melihat penampakan Yesus. Penampakan ini baginya adalah suatu mukjizat. Ia bercerita bahwa sebelumnya ia dalam keadaan putus asa menghadapi suatu masalah dan berbulan-bulan ia berdoa untuk mendapatkan pencerahan. Penampakan Yesus baginya adalah ia tafsirkan sebagai jawaban atas doanya. Ia merasa bahwa dengan penampakan itu mengandung arti bahwa problem yang tengah dihadapinya akan diangkat dan ia percaya dalam proses dimudahkan. Doanya telah terkabul, begitu ia menyimpulkan kisah yang ia sampaikan pada saya.

Gambar Yesus ala Macedonia

Gambar Yesus ala Macedonia (Credit: GIRAUDON/ART RESOURCE, NY)

Kisah mengenai perupaan Yesus berkembang bersamaan dengan makin tertariknya saya dengan Kristologi. Sebagai seorang Muslim, saya diajari untuk menghormati dan memuliakan Yesus.[iv] Di dalam keyakinan saya juga diberitakan mengenai perbedaan penafsiran mengenai Yesus oleh Kristen Trinitarian. Tentu saja ketika saya menyebut Kristen Trinitarian berarti merujuk kepada Katolik dan segala jenis sekte Kristen yang ada di seluruh dunia yang memakai doktrin konsili Nicea mengenai kesama-dzatan Bapa di Surga (Allah) dengan utusan-Nya (Yesus) kecuali sekte Kristen Unitarian.[v]

Gambar Yesus ala Venice (Credit: SCALA/ART RESOURCE, NY)

Gambar Yesus ala Venice (Credit: SCALA/ART RESOURCE, NY)

Katolik dan Kristen Trinitarian berbeda dengan Kristen Unitarian.[vi] Kristen Unitarian memegang keyakinan bahwa Yesus adalah utusan-Nya (baca: manusia istimewa saja dan bukan Tuhan) yang tidak sama dzat dengan Bapa di Surga. Perbedaan akidah antara Kristen Trinitarian dengan Unitarian telah berlangsung sejak lama. Penetapan doktrin Trinitas sebagai doktrin resmi gereja Katolik Roma bisa dirunut sejarahnya pada Konsili Nicea. Lewat Konsili Nicea yang diakomodasi oleh Kerajaan Romawi di bawah kaisar Konstantin pada tahun 325 Masehi akhirnya ditetapkan bahwa Kristen Trinitarian adalah pihak yang benar dan Kristen Unitarian disebut sebagai praktik bidah.[vii]

Gambar Yesus ala India (Credit: beliefnetbuzz)

Gambar Yesus ala India (Credit: beliefnetbuzz)

Pandangan Kristen Unitarian mengenai ketidaksamaan dzat Bapa di Surga dengan Yesus hampir sama dengan apa yang diyakini oleh Muslim. Muslim dianggap rusak akidahnya jika tidak mempercayai Yesus sebagai utusan Allah. Hal ini didasari oleh tiangnya keimanan di dalam Islam salah satu pilarnya adalah mempercayai utusan-utusan Allah dan Yesus (atau ‘Isa di dalam tradisi Quranik) adalah salah satu utusan Allah.[viii]

Gambar Yesus ala Korea (Credit: beliefnetbuzz)

Gambar Yesus ala Korea (Credit: beliefnetbuzz)

Bahkan muslim mempunyai adab atau etika ketika menyebut nama Yesus yaitu dengan ‘alaihis salam (disingkat a.s.) atau di dalam bahasa Inggris sering dipakai istilah peace [and blessing] be upon him (disingkat pbuh). Walaupun ada kemiripan dengan Kristen Unitarian mengenai posisi Yesus, namun muslim tidak memakai narasi dan imaji mengenai Yesus sebagaimana yang ditampilkan di dalam empat Gospel (Matius, Yohanes, Lukas, Markus) kecuali tidak berbeda dengan apa yang disampaikan di dalam Quran dan Hadist sahih. Sejatinya sikap muslim untuk tidak serta merta menerima kisah mengenai Yesus juga bisa ditemukan argumennya berdasarkan kajian dari empat Gospel. Menurut teologian Kristen, kisah dan imaji Yesus berdasar empat Gospel [serta Gospel Thomas[ix] dan aprokrifa] sendiri adalah berbeda-beda.[x]

Gambar Yesus ala Ethiopia (Credit: beliefnetbuzz)

Gambar Yesus ala Ethiopia (Credit: beliefnetbuzz)

Belum lagi misalnya berbicara mengenai aspek-aspek lain dari ‘kemanusiaan dan pandangan politis’ Yesus. Pertanyaan apakah Yesus pernah menikah yang bukan merupakan pertanyaan yang tabu diajukan oleh Muslim mendapat sandaran pada kajian ilmiah yang saling terpisah oleh Karen L. King dari Harvard Divinity School[xi] dan Barbara Thiering.[xii]Juga pertanyaan apakah Yesus dulu adalah seorang pasifis ataukah ikut terlibat di dalam revolusi sosial di kerajaan Romawi dengan cara yang tidak moderat adalah kajian kontroversial mengenai kisah hidup sesungguhnya berdasar penelusuran sejarah.[xiii] Begitu juga dengan pertanyaan lain sekitar the lost years of Jesus.[xiv] Oleh karena itulah sikap muslim di dalam berhati-hati serta selektif menerima kisah dan figur Yesus berdasar Gospel justru menjadi kian terjustifikasi.

Wajah Yesus ala BBC yang merupakan rekonstruksi berdasarkan tengkorak seorang Yahudi sejaman dengan masa Yesus hidup (Credit: BBC)

Wajah Yesus ala BBC yang merupakan rekonstruksi berdasarkan tengkorak seorang Yahudi sejaman dengan masa Yesus hidup (Credit: BBC)

Perjalanan waktu mengantarkan saya pada kisah lain dari penggambaran Yesus lewat temaram cetakan wajah pada The Shroud of Turin. Kisah tentang The Shroud of Turin atau Kain Kafan Turin sampai pada saya gegara ada sebuah tautan daring melaporkan hasil riset terbaru ketika saya, kalau saya tidak salah ingat, sedang mencari literatur yang saya butuhkan untuk salah kajian saya di bidang sastra dan budaya.[xv]Laporan ini menyatakan bahwa berdasarkan penelitian dari sekitar seribu makam berusia sejaman dengan masa Yesus, tidak diketemukan bukti adanya satu pun fragmen kain kafan yang mirip dengan Kain Kafan Turin. Temuan ini kian menguatkan dua penelitian terpisah sebelumnya dengan metode penanggalan karbon (carbon dating) mengenai usia Kain Kafan Turin yang menyatakan bahwa kain kafan tersebut tidak berasal dari masa sekitar Yesus hidup.[xvi]

The Shroud of Turin (Credit: EPA)

The Shroud of Turin (Credit: EPA)

Selang beberapa waktu lamanya, saya mendapati kisah lain mengenai perupaan Yesus. William Mos[e]ley, seorang pendakwah dan aktivis pemberdayaan Kristen Afro-Amerika, mempunyai hipotesis bahwa Yesus sejatinya berkulit lebih gelap dibandingkan tradisi penggambaran yang selama ini dibuat oleh orang kulit putih.[xvii] Orang-orang kulit putihlah yang memanipulasi imaji Yesus sesuai gambaran ras mereka. Imaji Yesus sebagai kulit putih justru sengaja digunakan untuk kian menambah mitos keunggulan kulit putih dibandingkan ras-ras lain. Mosley mengajukan hipotesis bahwa –kurang lebih– Yesus kemungkinan besar memiliki sedikit garis keturunan ras kulit hitam sehingga Yesus berkulit agak gelap dan bukan berkulit putih sebagaimana depiksi standar yang diterima sekarang ini.[xviii]Bahkan gambaran bahwa Yesus berambut panjang agak sedikit bergelombang sebenarnya malah diragukan. Pendapat yang kuat malah mengindikasikan bahwa Yesus kemungkinan berambut lebih pendek daripada yang selama ini sering ditampilkan.[xix]Sebagaimana telah dipahami oleh pengkaji sejarah kekristenan, perupaan Yesus memang berubah-ubah sangat berbeda dari waktu ke waktu.[xx]

Wajah Yesus tanpa jenggot dan berambut pendek ala Kristen Awal di Spanyol berdasarkan ukiran pada piring berasal dari abad keempat (Credit: FORVM MMX project)

Wajah Yesus tanpa jenggot dan berambut pendek ala Kristen Awal di Spanyol berdasarkan ukiran pada piring berasal dari abad keempat (Credit: FORVM MMX project)

Dari situlah saya kemudian menemukan artikel tulisan Ronald Goetz yang berjudul “Finding the Face of Jesus”. Tulisan ini terbit di majalah Christian Century edisi 21-28 Maret 1984 halaman 299. Di dalam artikel ini Goetz, seorang profesor di bidang teologi dan etika Kristen di Elmhurst College, menjelaskan sebab terjadinya perbedaan imaji Yesus. Di dalam sejarah Kristen, tidak pernah ada imaji Yesus yang ‘resmi’. Gambar-gambar Yesus yang beredar adalah hasil kreasi dari para seniman dan teologian yang mengekspresikan tafsiran mereka akan figur Yesus. Goetz memang mengatakan bahwa praktik ini dilematis. Di satu sisi imaji Yesus dirupakan bebas sesuai keinginan seniman pembuatnya. Dan ini masih menurut Goetz, adalah semacam idolatry yang sebenarnya tidak disukai di dalam ajaran Kristen –semacam dosa. Di sisi lain, penciptaan imaji Yesus adalah sesuatu yang tak terhindarkan sebagai usaha merekonstruksi masa lalu untuk dihadirkan ke dalam masa kini. Pesan utama Goetz di dalam tulisannya itu, meski dilematis, yang paling penting adalah mengapresiasi apa yang telah Yesus lakukan dan jasanya bagi kemanusiaan dan bukan ribut tentang bagaimana rupa sebenarnya Yesus.

Dari perjalanan mencari dan memahami imaji Yesus, saya kemudian menuliskan semuanya di dalam artikel pendek yang sedang Anda baca ini. Teringat saya kepada seseorang yang mengatakan bahwa ia melihat penampakan Yesus, dan ia meyakini bahwa itu pertanda mukjizat. Justru kemudian lewat tulisan ini dapat dipahami kegelisahan saya mengenai kisah itu. Bisatah dikatakan bahwa ia benar-benar melihat Yesus ataukah ia hanya melihat repositori imaji yang sudah ia simpan di dalam otaknya sehingga bisa tetiba muncul dalam keadaan sesak dan hampa asa? Wajah siapakah yang ia lihat kalau bukan wajah yang ia yakini sebagai wajah Yesus saja? Ataukah seseorang yang bercerita melihat penampakan Yesus, saat kejadian itu, sedang mengalami efek eksperimen ala Project Blue Beam[xxi] yang oleh maniak teori konspirasi disebutkan sebagai upaya NASA menciptakan bayangan di langit dengan alat canggih penyembur gambar?

Ataukah juga bisa dihipotesiskan bahwa John Hick dulu membuat ajaran pluralisme yang salah satu poinnya adalah semua agama sama karena menyembah Tuhan yang sama namun imaji-Nya saja yang berbeda adalah karena John Hick -sebelumnya seorang teologian Kristen- berangkat dari penelusurannya akan imaji Yesus yang berbeda-beda di berbagai tempat dan era? Benar bahwa John Hick menyatakan bahwa landasan hipotesisnya adalah filsafat Kantian, namun tidakkah kisah imaji Yesus di dalam tradisi keyakinannya adalah pre-text yang sempurna bagi presuposisinya? Bahwa John Hick mencari imaji Yesus dan ia gagal mendapati imaji yang tetap?

Ataukah jika terjadi second coming Yesus sebagaimana diyakini oleh umat Kristen dan juga Muslim –tentu dengan narasi yang berbeda[xxii]– baik umat Kristen maupun umat Muslim tidak akan mengenalinya karena imaji yang ‘diyakini’ padahal imajinatif adalah imaji-imaji Yesus yang kini dipakai secara jamak?

Berpusing mengenai wajah Yesus tidaklah pas karena akan tiba masanya ketika masanya tiba. Dus, lewat tulisan ini justru saya hendak bercerita bahwa seeing is not always believing. Imaji atau apapun yang tetiba nampak, bisa jadi hanyalah repositori dari imaji dalam benak yang tiba-tiba menyeruak di kala sepi atau sedang disorientasi. Ataukah fenomena munculnya imaji –meski disadari sebagai imajiner– dari repositori benak sendiri bisa kemudian secara sah disebut sebagai mukjizat? Seperti mau sepakat saja dengan pragmatisme di dalam beriman sebagaimana dirintis dasar argumennya oleh William James: “selama bermanfaat buat kamu, nyata atau tidak, zonder peduli sesat atau tidak sesat, maka sah-sah saja untuk percaya.” Penaka sebuah uji coba sebuah obat yang kemudian diputuskan tidak pentingnya lagi mana tablet yang asli dan mana yang merupakan tablet pengontrol uji (placebo), semua dipakai –dan sementang disebut benar– gegara keduanya berguna ketika ada efek bagus yang nampak walau efek bagus itu hanya bersebab efek sugestif positif psikologis.

Dari berbagai imaji Yesus yang ada, saya menengok balik pada seseorang yang dulu bercerita tentang pengalamannya melihat ‘penampakan’ Yesus. Pertanyaan ini terus terngiang: imaji Yesus hasil kreasi seniman yang manakah yang tersimpan di benaknya dan lalu muncul ketika ia sembab bergulat saat itu?

Demikian.

Clayton, Victoria, Australia – 28 April 2015

Ditulis untuk Bunda Susmiyati tercinta di Semarang

__________________________________

Endnotes

[i] pbuh (peace be upon him), demikian salutasi atas penyebutan nama beliau seterusnya disampaikan di dalam tulisan ini.

[ii] Dipa Nugraha Suyitno. 2006. Structural Analysis on The Old Man and The Sea – A Novel by Ernest Hemingway. (click here for full text).

[iii] Silakan baca tulisan Maria Ruiz Scaperlanda, “Our Lady of Charity” (2007).

[iv] Nama Yesus dieja dan dilafazkan berbeda-beda seiring dengan kerja terjemahan dan perbedaan mudah lidah mengucapkan. Nama ‘Yesus’ adalah transliterasi di dalam bahasa Indonesia dari nama Jesus (Lat.). ‘Nama-nama’ lain yang dipakai untuk merujuk tokoh yang sama adalah Iesous (Gr.), Jason (Rom.), Jeshua, Joshua, atau Jehoshua (Hbr.),  dan ‘Isa (Arbc.) (cf. Maas, A. (1910). Origin of the Name of Jesus Christ. In The Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company)

[v] Di dalam bahasa Indonesia istilah trinitas kadang ditransliterasikan sebagai tritunggal.

[vi] Sebagai rujukan kontemporer mengenai Kristen Unitarian, bisa dibaca misalnya buku terbitan Unitairan Universalist Association yang berjudul Engaging Our Theological Diversity (2005).

Tokoh Unitarian yang terkenal misalnya adalah Isaac Newton, Ralph Waldo Emerson, Charles Darwin, Linus Pauling, empat Presiden pertama Amerika Serikat (John Adam, John Quincy Adams, Millard Fillmore, William Howard Taft), Ram Mohan Roy. Benar bahwa Teori Evolusi disandarkan pada buku tulisan Darwin dan dijadikan sumber rujukan bagi atheism. Namun kurang tepat ketika menyebut Darwin sebagai seorang atheis (cf. John van Wyhe. (2011). “Was Charles Darwin an Atheist?”); sebuah amar bagi mereka supaya berhati-hati mengatakan bahwa Darwin mengajarkan atheisme.

[vii] White, James R. “What Really Happened at Nicea”. Charlotte, North Carolina: Christian Research Institute.

James R. White adalah akademisi senior di College of Christian Studies, Grand Canyon University dan merupakan (adjc.) Profesor di Golden Gate Baptist Theological Seminary dan Faraston Theological Seminary.

[viii] Di dalam Islam ada yang namanya Rukun Iman. Salah satu bagian dari Rukun Iman ini adalah keyakinan mengenai adanya utusan-utusan Allah untuk mengajari manusia untuk mengenal Tuhannya. Sandaran mengenai Rukun Iman ini sepanjang pengetahuan saya adalah hadist sahih yang diriwayatkan oleh ‘Umar r.a. (cf. Yazid bin Abdul Qadir Jawas. 2006. “Syarah Hadist Jibril tentang Islam, Iman dan Ihsan (2)” dalam As-Sunnah Edisi 03/Tahun X/1427H/2006M) sedangkan nama utusan-utusan itu sebagian tertampilkan di dalam Quran sedang sebagian besar lainnya cukup diketahui banyak jumlahnya saja (cf. Ummu Ziyad. 2008. “Iman kepada Rasul”).

Mengenai perbedaan pandangan ‘tradisi Kristen awal’ dengan ‘tradisi Kristen kini’ serta pandangan Islam mengenai Yesus misalnya dapat dibaca dalam tulisan “Finding the Jesus of Islam in Early Christianities” karya Camilla Morrison. Perhatikan pula bahwa Bible Barnabas tidak dipakai sebagai rujukan. Sebagian besar akademisi Muslim maupun Kristen melihat bahwa Bible Barnabas tidak layak dipakai sebagai rujukan ilmiah di dalam pembicaraan mengenai Yesus di dalam tradisi Kristen dan Islam.

Mengenai perbedaan perspektif mengenai Yesus di dalam tradisi Yahudi dengan tradisi yang diterima Kristen misalnya dapat dibaca di dalam tulisan Claudia Setzer yang berjudul “The Historical Jesus” terbit di Tikkun Magazine, A Bi-Monthly Jewish Critique Of Politics, Culture, and Society (San Fransisco, California) edisi July 17, 1995 No. 4, Vol. 10; Pg. 73. Di dalam tulisan akademis ini, Claudia Setzer membandingkan bagaimana posisi Yesus di dalam sejarah tradisi Yahudi berbeda dengan apa yang dijadikan keyakinan Kristen.

Studi serius dari beberapa pakar tradisi Judeo-Kristian mengenai sejarah kepercayaan dan praktik umat Kristen awal yang kemudian “bermutasi” kepada penyembahan kepada Yesus dan penyepadanan Yesus dengan Bapa di Surga bica dibaca pada kumpulan makalah yang dibukukan berjudul The Jewish Roots of Christological Monotheism (Carey C. Newman, James R. Davila, & Gladys S. Lewis (eds.), 1999, Leiden, Boston, Koln: Brill).

Kisah hidup Yesus memiliki berbagai macam variasi misalnya dapat diselusuri lewat film dokumentasi dari National Geographic yang berjudul “Secret Lives of Jesus.” Meski film dokumentasi ini berdasar saluran National Geographic bersifat on demand namun ia bisa disimak di saluran berbagi video YouTube.

[ix] Bagi sebagian sekte Kristen, Gospel Thomas adalah diterima dan bukan termasuk gnostik atau apokrifa.

[x] Lihat misalnya  Felix Just, (2013) “The four Gospels: Some Comparative Overview Charts” untuk memahami perbedaan konteks penulisan kisah Yesus dari tiap Gospel. Sedangkan perbedaan perupaan Yesus misalnya dapat dibaca secara singkat lewat tulisan Meeks, Wayne A. (April 1998). “What Can We Really Know about Jesus?”.

[xi] cf. Jonathan Beasley. (10 April 2014). “Testing Indicates “Gospel of Jesus’s Wife” Papyrus Fragment to be Ancient”.

[xii] Barbara Thiering menulis buku Jesus The Man (1992) yang didasarkan atas penyelidikan atas naskah-naskah kuno Gnostik atau apokrifa. Thiering menyimpulkan bahwa Yesus memiliki hubungan khusus dengan Maria Magdalena. Apa yang disimpulkan oleh Thiering mendapatkan kritikan karena dianggap terlalu mengedepankan naskah-naskah kuno yang ditolak oleh literature standar kekristenan.

[xiii] Pandangan yang menyatakan bahwa Yesus mengajarkan revolusi sosial lewat jalur tanpa kekerasan bisa dirujuk pada buku Jesus and the Nonviolent Revolution (2014) karya Andre Trocme. Tulisan yang menjelaskan sisi Yesus yang agak keras berdasarkan kajian Biblikal misalnya bisa dibaca pada tulisan David C. Sim, Profesor Teologi dari Asutralian Catholic University, dengan judul “Jesus as a Role Model in the Gospel of Matthew” (2010). Aneka rupa pengimajian Yesus sebagai pribadi yang terlibat aktif di dalam gerakan politik di masanya dan juga kemungkinan bersikap agak radikal misalnya bisa dibaca pada tulisan Nil Guillemette, “Jesus, Politics, and Violence” (1987), di jurnal Landas Vol. 1, No. 1. Sedangkan sisi imbang antara Yesus yang pasifis namun juga tidak menolak kekerasan asalkan memang diperlukan, dapat dirujuk pada tulisan David C. Sim di dalam Jurnal HTS Teologiese Studies/Theological Studies Vol. 67 No. 1 tahun 2011 dengan judul “The pacifist Jesus and the violent Jesus in the Gospel of Matthew”. Buku yang menunjukkan bahwa Yesus terlibat sangat aktif di dalam gerakan politik di wilayah Palestina di bawah kekuasaan Romawi saat itu dapat dirujuk pada Jesus and the Politics of Roman Palestine (2013) karya Richard A Horsley.

Agak sedikit melebar, buku yang membahas bagaimana pesan Yesus ditampilkan di dalam justifikasi peperangan ‘holy wars‘ lewat tafsir atas ajaran Yesus bisa dibaca misalnya di dalam buku The Jesus Wars: How Four Patriachs, Three Queens, and Two Emperors Decided What Christians Would Believe For The Next 1,500 Years” karya Philip Jenkins.

[xiv] Masa-masa kehidupan Yesus yang tidak terceritakan di dalam Gospel dari setelah usia 12 tahun hingga dimunculkan kembali oleh para penulis Gospel ketika berusia 30 tahun. Di dalam buku yang berjudul The Lost Years of Jesus (1984), Elizabeth Clare Prophet mengajukan bukti-bukti bahwa besar kemungkinan Yesus menghabiskan waktunya dan bisa jadi mendapat pengaruh pengajaran dari dunia Timur; India, Nepal, dan Tibet.

“Huge gap” di dalam kisah biografi Yesus di dalam tradisi Kristen, yakni bermula dari kisah Yesus bersunat pada usia hari kedelapan dan kemudian tiba-tiba muncul pada usia tiga puluhan tahun, pada penelitian naskah kuno terbaru oleh beberapa akademisi Biblikal menguak bahwa Yesus menikah dan bahkan mempunyai anak. Akan tetapi, hasil penelitian dari teks Syriac oleh Professor Barrie Wilson dan Simcha Jacobovici yang dituangkan ke dalam buku The Lost Gospel ini mendapatkan kritikan karena dianggap sumber teks kuno bertanggal abad keenam selain bukanlah teks yang benar-benar baru ditemukan juga merupakan teks yang mengandung tradisi lama yang sudah dikenal di dalam kekristenan mengenai teks-teks yang di luar teks kanon Biblikal sebagaimana kritikan Dr. Robert Cargill.

[xv] Berita hasil riset itu adalah laporan oleh Mati Milstein bertanggal 17 Desember 2009 dengan judul “Shroud of Turin not Jesus’, Tomb Discovery Suggests” di National Geographic. Artikel yang dapat memberikan pemahaman dasar mengenai sejarah dan polemik Kain Kafan Turin dapat dibaca pada tulisan Charles Freeman, “The Origins of the Shroud of Turin” yang terbit di History Today Volume 64, Issue 11 November 2014. Di dalam salah satu paragraf penutupnya, Freeman membuat sentilan sebagai berikut:

“Can one get any closer to where the Shroud may have been woven and painted? Ulm and Augsburg, in southern Germany, were important centres where enormous numbers of fustians, cloth in which linen and cotton threads were woven together, were produced each year. With so much cotton in the workshops it is hardly surprising that some fibres might have drifted onto the Shroud while the flax was being spun or woven. This is consistent with the cotton fibres that Raes and the radiocarbon laboratories found in small quantities on their samples. The mendicant orders (the Franciscans and Dominicans), both well represented in this area, appear to be at the forefront of blood stained images and there are many accounts of the Quem Queritis ceremonies from German monasteries. The model for the Christ lying on the tomb with his arms crossed may also have derived from the sculptured Holy Graves first known in the Rhineland, while the use of calcium carbonate in gesso is only known north of the Alps. So there is scope for further research to confirm or rule out the possibility that this was originally a commission for a church or monastery in southern Germany. Later, here or in northern France, the grave-cloth that we now know as the Turin Shroud achieved a status that allowed it to be recognised by the Church as an appropriate subject for veneration.”

[xvi] Hingga kini Kain Kafan Turin masih saja merupakan artifak yang kontroversial karena pihak Gereja Katolik Roma masih bersikeras bahwa kain kafan itu adalah kain kafan yang dipakai untuk membungkus tubuh Yesus sedangkan penyelidikan historis dan ilmiah tidak senada dengan klaim itu. Berdasar hasil banyak penelitian ilmiah yang saling terpisah belum juga ditemukan bukti valid bahwa kain tersebut memang berasal dari masa yang sama dengan masa Yesus hidup (lihat misalnya “The Real Face of Jesus”, history.com).

[xvii] William Mosley. (1987). What Color was Jesus? Michigan: African American Images.

[xviii] Bandingkan juga dengan pendapat Mark Goodacre berikut ini: “There is absolutely no evidence as to what Jesus looked like,” he says. “The artistic depictions down the ages have total and complete variation, which indicates that nobody did a portrait of Jesus or wrote down a description, it’s all been forgotten.” (dalam “So What Colour was Jesus” (2004), BBC News Online Magazine). Gambaran Yesus yang dibuat sebagaimana kebutuhan hegemonis terhadap bangsa lain atau kebutuhan politis dapat dibaca pada rintisan tulisan yang berjudul “An ‘Oath of the Ancestors’ and an Undermining of the ‘White God'” pada situs daring Universität Hamburg.

[xix] Ibid.

[xx] Bandingkan misalnya D. Moody Smith, “Painting a Portrait of Jesus” (2007) dalam Biblical Archaeology Review, March/April 2007; Mike Fillon, “The Changing Face of Jesus”; Nick Pryer, “Is this the first ever portrait of Jesus?” (2011). Untuk pemahaman yang lebih komplit mengenai wajah-wajah atau perimajian Yesus di dalam sejarah kekristenan, silakan baca buku karya Frederick Buechner yang berjudul The Faces of Jesus: A Life Story (2005).

[xxi] “ala Project Blue Beam” karena bagi maniak teori konspirasi, Project Blue Beam justru hendak menciptakan imaji di langit dengan semburan gambar di dalam menciptakan era baru antiKristus. Bagaimana jika kemudian yang terjadi adalah sebaliknya? Bahwa jikasanya teknologi ada maka justru bisa digunakan untuk memanipulasi gambar penampakan di langit dengan rupaan Yesus.

[xxii] Turunnya Yesus untuk kali kedua ke dunia bagi Muslim adalah pokok keyakinan. Di dalam narasi Islam, turun kali keduanya Yesus adalah justru menjadi pemimpin antisalib (cf. Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz et al, “Fatwa No 6263”; Muhammad Abduh Tuasikal, “Turunnya Nabi Isa di Akhir Zaman” (2010)). Perlu dipahami bahwa antisalib berbeda dengan antiChrist. Untuk memahami arti Christ (atau Kristus) yang berasal dari Christos, silakan rujuk Ensiklopedia Katolik mengenai asal kata ini (cf. Maas, A. (1910). Origin of the Name of Jesus Christ. In The Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company).

6 thoughts on “Melihat Wajah Yesus (pbuh)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s