Home » Selected Contemplation » Denny JA, King Maker yang Tak Pernah Salah

Denny JA, King Maker yang Tak Pernah Salah

Tulisan ini adalah salin-tempel dari tulisan Irwan Bajang yang terbit pada 6 Januari 2014 di blog pribadi Irwan Bajang, irwanbajang.com. Irwan Bajang adalah seorang penulis, blogger, dan Pemimpin Redaksi Indie Book Corner, Yogyakarta. Terbit ulang di blog ini telah mendapat ijin darinya.

=====================

Seno Gumira Ajidarma adalah seorang cerpenis dan jurnalis. Ia pernah menerbitkan buku Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara.  Di buku itu, Seno sedang ingin memberi sebuah solusi, bahwa sastra bisa menjadi cara ungkap akan fakta yang ada, fakta yang tabu disampaikan secara jurnalistik di era Orde Baru. Orde Baru menekan jurnalis dan media dengan represi. Jika mengancam, tangkap jurnalisnya, bubarkan medianya. Maka selain menampung kegelisahan para jurnalis, Seno ingin bilang bahwa sastra bisa menjadi solusi yang aman, sebab sastra—dengan caranya sendiri—lebih bisa menyentuh dan memperingati. Atau dengan alasan yang gampang, jika Suharto marah, seorang bisa berlindung dengan berujar, ini kan fiksi, Jendral.

Tentu saja maksud saya tak sesederhana itu. Ada banyak dimensi lain dalam dunia sastra yang bisa dipakai untuk membuat sebuah kritik. Memuat sebuah keluh kesah dan protes sekaligus. Jurus yang ditawarkan Seno tak semuanya terbukti aman. Dengan menulis fiksi satire, meskipun fiksi, seorang sastrawan bisa tetap diciduk, dibuang dan dipenjarakan. Sastra adalah cara lain berbicara tentang fakta. Di antara garis batas fakta dan fiksi itulah sastra bermain dengan cara yang unik. Dengan cara sastra.

Meskipun menulis cerpen dan lebih banyak berangkat dari temuan kerja jurnalistiknya di lapangan, cerpen Seno tetap tidak bisa disebut “Cerpen Jurnalistik”. Kumpulan cerpen Saksi Mata, Penembak Misterius tetaplah kumpulan cerpen, bukan kumpulan cerpen jurnalistik. Jurnalistik tetaplah jurnalistik dan cerpen tetaplah cerpen. Setahu saya, belum ada juga kritikus yang melakukan percobaan kritik dan menghasilkan sebuah genre “sastra baru” dari dua obyek tulisan tersebut. Dan saya rasa memang tak perlu ada. Karena Seno adalah cerpenis ketika menulis cerpen, dan ia adalah jurnalis ketika membuat tulisan jurnalistik. Kedua identitas itu berbeda dan tak bisa disatukan.

Hal ini senada dengan kemunculan dan populernya jurnalisme sastrawi. Jurnalisme ini tak bisa disebut sastra, meskipun ia mengkombinasikan tulisan jurnalistik dengan gaya penulisan sastra. Dua hal ini tidak sama. Kecuali kita membuat generalisasi ngawur tentang jurnalisme campur sastra, seperti kita mencampur bensin dengan oli, lalu memberi label baru “bensin oplosan”.

Penjelasan ini bagi saya cukup untuk menjelaskan di mana letak perbedaan karya nonsastra dan sastra. Termasuk esai dan puisi. Esai berjalan dengan caranya sendiri, ditulis dengan standar dan kaidah esai. Begitu pula dengan puisi. Menggabungkan puisi dan esai bisa saja dilakukan. Namun esai adalah esai, dan puisi adalah puisi.

Dalam karya sastra terdapat unsur fakta yang dibicarakan dengan cara fiksi, ini adalah kelebihan yang dimiliki sastra, sekaligus kekurangannya. Bagaimanapun sastra tak bisa dijadikan rujukan sahih atas sebuah fakta yang terjadi. Berbeda dengan karya jurnalistik, berbeda juga dengan karya esai yang cenderung beropini dengan menghadirkan rujukan referensi. Sekali lagi, puisi adalah puisi dan esai tetaplah esai. Fiksi sebagai landasan utama karya sastra tak lantas membuatnya hanya berisi imaji kosong yang datang tanpa alasan. Bukankah mustahil sebuah fiksi tak mungkin muncul begitu saja tanpa ada persentuhan si penulis dengan fakta di sekelilingnya?

Sutardji Calzoum Bachri memuji Denny JA dalam satu tulisannya yang berjudul Satu Tulisan Pendek atas Lima Puisi Panjang.  Tulisan ini ia alamatkan pada buku Atas Nama Cinta yang menghimpun 5 “Puisi Esai” karya Denny JA . Bagi saya, puisi esai adalah puisi pintar. Yang dengan berbagai data, fakta, argumentasi, bisa memberikan kepintaran bagi pembacanya untuk memahami dan menghayati persoalan-personal yang terkait dengan masalah atau konflik sosial.”

Bukan hanya Sutardji yang membahas puisi esai dengan catatan yang panjang dan serius. Ada puluhan sastrawan—yang kalau bisa atau mau disebut senior—menulis untuk mengapresiasi tulisan Denny JA. Puluhan nama lain bisa kita temukan di lomba resensi yang digelar untuk buku ini. Beberapa tulisan tersebut juga dimuat di Jurnal Sajak yang terbit setiap setiap bulan, diasuh oleh para penyair Indonesia. Juga tentu saja banyak puisi esai ditulis di sana oleh penyair. Semua tulisan tersebut muncul dalam waktu yang sangat pendek. Tak lebih dari setahun.

Sapardi bahkan menulis, Dalam kelima sajak yang dimuat dalam buku ini, Denny mengklasifikasikan semua itu dalam masalah diskriminasi. Setidaknya, itulah yang menjadikan gagasan dan karangan yang diberinya label Puisi Esai penting untuk dicatat dalam perkembangan puisi kita.”  Sebuah pujian yang mengharukan sekaligus bombastis. Penggalan akhir kalimat ini terpampang di sampul depan buku Atas Nama Cinta. Dan dalam waktu yang singkat, dengan caranya, Denny sudah berhasil menjadi sorotan—setidaknya bagi yang mau menyorotnya—dan bukunya menjadi ramai dibicarakan.

Denny JA bukan penyair, bukan juga sastrawan yang lama berproses dan dikenal di wilayah sastra. Tapi respons yang muncul atas karyanya lahir begitu deras dari para ‘begawan’ sastra Indonesia. Denny JA adalah sebuah fenomena sastra.

Tidak alamiah. Oh, tentu saja.

Saya ingat, sekitar tahun 2009, ada seorang penulis muda yang menerbitkan buku dan dia ngotot ingin mendapat endorsement dari Sapardi dan Sujiwo Tejo. Hanya endorsement  singkat. Mungkin satu dua kalimat pujian yang bisa ia taruh di sampul belakang puisinya sebagai alat promosi. Saya sudah bilang, mereka pasti sibuk dan tidak ada waktu untuk membaca puisi tersebut. Tapi karena kawan saya ini ngotot dan saya diminta membantu, maka saya harus memenuhinya. Sekaligus saya ingin membuktikan omongan saya. Saya penuhi permintaan  kawan saya ini. Saya kirim pesan di Facebook untuk Sapardi dan pesan singkat dari ponsel saya ke Sujiwo. Diawali dengan perkenalan diri dan menawarkan puisi kawan saya itu, saya meminta kesediaan Sapardi untuk membaca dan memberi komentar. Tebakan saya tidak meleset: maaf saya sedang sibuk banyak sekali pekerjaan. Sujiwo Tedjo? Tidak menjawab. Baiklah, terima kasih.

Dalam perkembangan sastra terbaru, setiap hari muncul banyak penulis baru, penulis yang bahkan sangat punya potensi untuk dibicarakan. Tapi fenomena sehat itu tak pernah terjadi. Dalam dunia puisi misalnya, ada Indrian Koto, Thendra BP, Ragil Sukriwul, Dea Anugrah, Rozi Kembara, Halim Bahriz,  Mario Lawi (dan beberapa deret nama yang saya tahu lainnya). Mereka menulis dengan ciri dan gaya masing-masing dan punya kecenderungan kuat. Kenapa karya mereka tidak diulas sedemikian rupa? Tidak diperhatikan banyak orang seperti memperhatikan Denny JA yang baru saja muncul? Sehebat apa tulisan Denny JA ini, tiba-tiba muncul dan mendapat tempat, dibicarakan dan bahkan mendapat legitimasi genre baru sastra Indonesia dari banyak pihak?

Dalam kariernya, Denny JA populer karena seringkali berhasil memprediksi kemenangan calon pemimpin dalam pilkada atau atau pemilu, sejak 2004. Ia adalah orang yang berani mengiklankan prediksinya di media nasional, bahkan 10 hari menjelang pencoblosan.  Denny JA diberi label King Maker oleh banyak media. Ia membantu kemenangan presiden dua kali (2004, 2009), 23 gubernur dari 33 propinsi seluruh Indonesia dan 51 bupati/walikota.  Ia memenangkan semua pemilu presiden langsung yang pernah ada di Indonesia ini. Ia memenangkan lebih dari 60% gubernur seluruh Indonesia. Melalui enterpreneurship-nya, ia membuat pekerjaan “konsultan politik” menjadi profesi baru yang sangat berpengaruh bagi politik nasional. Dengan prestasi prestisiusnya ini, hampir semua partai politik besar memakai jasa survei opini publik untuk hasil pemilihan yang maksimal.

Untuk apa Denny JA masuk ke ranah sastra? Kenapa Denny tidak hanya menjadi orang yang—misalnya—membuat penghargaan sastra, bikin perhelatan sastra yang besar dan acara lain yang bisa membuat banyak orang sastra berterimakasih padanya? Bukankah Denny adalah entrepreneur sukses selain juga adalah pesohor politik? Kekayaannya tidak akan habis hanya gara-gara mendanai acara semacam itu.  Jaringan politisi dan bisnisnya tentu juga akan banyak mendukung kegiatan itu jika Denny mau.

Kenapa Denny JA harus masuk di ranah penciptaan? Penciptaan sebuah karya. Apa pentingnya? Untuk apa Denny menjadi penyair, masih kurangkah jumlah penyair di Indonesia? Mungkin Denny sedang bermain di wilayah bisnis dan politik. Mungkin sastra hanyalah jalan. Dalam karier dan bargaining position  di dunia politik plus entrepreneurship, hal ini sangat penting bagi Denny JA.

Denny JA seperti pengakuannya dalam sebuah tulisan di Jurnal Sajak—di mana Acep Zamzam Noor menjadi Editornya—ia sedang melakukan branding. Membuat sebuah alamat bagi karyanya. Ia mengadakan survei terhadap puisi-puisi yang tayang di koran nasional, sample penelitianya adalah orang-orang yang diminta membaca dan menilai puisi Indonesia. Hasilnya, puisi Indonesia susah dipahami, terlalu tinggi di awang-awang. Lalu Denny membuat genre baru, persis di dunia bisnis; mencari diferensiasi produk, promosi dan marketing adalah ujung tombaknya. Ia memilih banyak nama yang bisa memacu majunya sebuah brand yang ia luncurkan. Produk barunya adalah Puisi Esai.

Jika iklan sampo antiketombe dibintangi oleh gadis terkenal di TV, cantik dan berambut indah, maka iklan rokok diwakilkan pada lelaki petualang yang perkasa. Karena Denny JA memiliki produk puisi/sastra, maka ia juga harus mencari artis-artis yang tepat; penyair terkenal, dramawan, sutradara, penyair, kritikus. Merekalah yang harus dijadikan simbol dan brand ambassador.Tak lupa juga alih media menuju film, teater, lukisan, dan tentu saja dengan artis yang berbeda. Ini adalah cara bisnis dan promosi produk yang tepat.

Hasilnya? Tentu saja sangat memuaskan. Denny adalah businessman yang tangguh. Sepuluh bulan sejak 7 Januari 2013, sejak diluncurkannya, http://www.puisi-esai.com telah diklik lebih dari 7 juta kali. Tentu saja ini bisa menjadi catatan “kuantitatif”—meminjam bahasa survei dan penelitian—berapa jumlah manusia yang berkunjung dan datang membaca sajaknya. Tidak alamiah? Tentu saja! Dengan membeli sebuah akun sajak dengan follower lebih dari satu juta, Denny JA mendekatkan karyanya kepada generasi paling terbaru, dengan cara yang sangat baru. Ia memperkenalkan karyanya lewat twitter, langsung dari genggaman tangan hampir semua manusia dan remaja kelas menengah Indonesia. Kemudahan akses untuk membaca puisi itu melalui jaringan twitter, ponsel pintar, dan internet adalah langkah pengenalan produk yang paling banyak dipakai para pengusaha di dunia.

Didukung popularitas seperti itu, tak heran jika banyak orang berlomba mengikuti sayembara yang dia adakan. Honor 50 juta adalah angka yang mencengangkan.

Seorang peresensi buku di koran membutuhkan lebih dari 100 kali dimuat untuk memperoleh honor sebesar hadiah lomba itu. Artinya, si tukang resensi tersebut harus membaca dan menulis lebih dari 100 buku dan dimuat lebih dari dua tahun tanpa bolong di rubrik resensi sebuah koran. Itupun kalau dimuat dan tidak ada saingan yang berarti. Itupun kalau koran tidak sedang punya berita atau iklan penting lain dan tidak menggusur rubriknya. Seperti nasib puisi, cerpen yang bisa tiba-tiba kosong karena digusur konten lain secara mendesak.  50 juta adalah angka yang menggiurkan bagi para peresensi. Maka ramailah hajatan itu.

Selain itu, karya Denny JA dibuat dalam bentuk film, puisi-puisi esai karya Denny JA dalam buku Atas Nama Cinta juga dibuatkan video pembacaan puisi, video klip yang melibatkan para sastrawan—dan budayawan—Putu Wijaya , Sutardji Calzoum Bachri, Niniek L Karim , Sujiwo Tejo, dan Fatin Hamama. Luar biasa. Tidak alamiah? Tentu saja. Mana ada dalah sejarah sastra Indonesia sebuah karya diapresiasi segegapgempita begini. Pernahkah karya Chairil Anwar, penyair paling populer di Indonesia diapresiasi sehebat dan sesemarak ini? Tidak mungkin. Untuk hajatan besar semacam ini, dibutuhkan banyak sekali dana. Tak ada orang yang mau gratis untuk membuat hajatan besar apresiasi seorang tokoh. Pun jika tokoh itu adalah tokoh pujaannya.

Kemunculan Buku 33 Tokoh Paling Sastra Berpengaruh di Indonesia dalam buku karya Jamal D Rahman dkk., ini menuai ribut dan polemik baru awal tahun. Denny JA melalui pengaruh Puisi Esainya masuk dan sejajar dengan nama-nama seperti Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Rendra, Taufiq Ismail dan nama lainnya. Jika salah satu kriterianya adalah berpengaruh—yang diartikan juga pada bagaimana respons publik akan sebuah karya/nama—maka Denny JA tentu bukan nama yang salah. Paparan kegiatan yang diadakan untuk karya Denny ini sudah lebih dari sebuah kata berpengaruh. Denny JA sangat berpengaruh bahkan melebihi semua sastrawan yang pernah ada di Indonesia, jika tolok ukur ini dilihat dari jumlah buku yang terbit, ulasan, resensi dan kritik yang timbul karenanya. Pengaruhnya sangat besar sehingga membuat nama-nama di atas menyiapkan panggung, memberi ulasan dan dibaptis memilik sebuah genre khusus dalam dunia sastra paling kontemporrer; Puisi Esai. Ini baru namanya pencapaian!

Denny JA sebagai entrepreneur telah berhasil dan sukses memperkenalkan produknya. Maka mari kita ingat dan kembalikan, di mata Denny JA, sastra bukan lagi hal suci seperti yang dibayangkan oleh banyak sastrawan yang bergiat di dalamnya. Bukan tempat para pemikir berhati lembut yang peka situasi sosial lalu menulisnya dengan cerpen, puisi, atau novel yang layak didiskusikan. Sastra juga bukan pula jurnalis yang tak bisa menulis berbeda dengan ideologi media tempat ia bekerja. Bukan. Sama sekali bukan. Sastra bukan cara yang paling pas untuk membedah karut-marut kondisi sosial negeri ini. Bukan, bukan sama sekali.  Sastra bagi Denny JA adalah panggung hiburan, meja bisnis. Siapa saja bisa ia minta jadi brand ambassador produk Puisi Esai yang ia luncurkan. Ia bisa memilih siapa saja, mendepak kapan saja, seperti kapan saja iklan provider seluler bisa mengganti artisnya dengan yang paling populer.

Denny tidak sedang menjual apapun. Tidak pula [ia] berbisnis di dunia perbukuan yang kasihan dan kacau. Ia tidak mengharapkan uang dari jualan bukunya, bahkan Denny tak punya targetan mega best seller, biaya promosi yang ia keluarkan sudah sangat berlebihan. Tidak mungkin mengejar break even point dalam satu atau dua tahun. Denny mempromosikan buku puisi, bukan tutorial lolos UAN atau ujian STAN. Belum ada sejarah buku puisi melampaui buku-buku populer tersebut. Saya tahu Denny JA juga paham akan hal itu. Ia tidak berjualan buku. Ia sedang berjualan produk lain di balik bingkai Puisi Esainya.

Denny sedang membuat image pada rekan bisnis dan klien perusahaan konsultan politiknya. Mungkin ia hanya ingin bilang pada mereka: Hei, lihat, dunia sastra, kebudayaan, film dan puisi aja udah bisa kumasukin dalam waktu sekejap. Masih ragu bekerja sama dengan saya?

Kenapa ramai orang menyalahkan Denny JA? Ia hanyalah seorang yang sedang berbisnis. Itu haknya. Ia businessman, ia konsultan politik dan produknya adalah jualanan jasa. Mari kita anggap para punggawa sastra kita tak lebih dari sekadar artis iklan minuman kesehatan. Denny JA punya produk yang menjanjikan dan artis [sastrawan] kita mungkin sedang butuh uang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s