Home » Article » Telaah Su & Shit

Telaah Su & Shit

Parental Advisory Logo

Su di dalam bahasa Jawa artinya “indah”. Oleh sebab arti su adalah indah maka banyak orang Jawa memakai nama yang ada su-nya. Dan dalam kultur Jawa yang percaya kalo nama adalah doa maka saat kasih nama anaknya pake su diniatkan sebagai doa biar hidup anaknya indah.[1]

Dan dari pengetahuan itu kita juga bisa ngerti sengerti-ngertinya kenapa orang Jawa kasih nama sepasang keindahan pada wanita dengan “dua x su”. Pesannya jelas, dua benda itu memang indah.

Bicara su, bolehlah juga pelajari sejarah per­-asu­­-an atau per-anjing-an di dalam bahasa Jawa. Lho kaitannya su dengan “anjing” apa? Begini ceritanya.

Di dalam bahasa Jawa, “anjing” disebut dengan asu.

Anjing bisa disebut asu artinya “tidak indah; tidak baik” saya menduga karena ada pengaruh corak mazhab Syafi’i di Jawa juga pengaruh bahasa Latin yang merembes ke bahasa di pulau Jawa lewat kumpeni Belanda.

Anjing yang punya nama asli segawon dan kirik di Jawa bisa jadi kemudian mendapat predikat “tidak indah; tidak baik” karena di dalam mahzab Syafi’i –mazhab yang lazim diikuti di pulau Jawa- dibutuhkan tujuh kali cuci air dan salah satunya dicampur tanah jika sesuatu terkena air liurnya.

Segawon, atau kirik, di dalam mazhab Syafi’i adalah hewan yang bisa bikin najis sehingga ia “tidak indah; tidak baik”. Sehingga segawon atau “anjing” awalnya disebut mboten su atau ora su yang artinya “tidak indah”. Dalam bahasa Jawa, “indah” itu adalah “su” dan “tidak” di dalam bahasa Jawa bisa adalah mboten atau ora.

Ketika kumpeni Belanda masuk ke Jawa, orang Jawa mengenal awalan atau ater-ater (Jw.), “a” yang artinya “tidak”. Di dalam bahasa Jawa sendiri ater-ater “a” sudah ada sebelum pengaruh bahasa Latin lewat kumpeni Belanda. Arti “a” sebelum datang kumpeni adalah “mempunyai” atau “memakai”. Berkat pengaruh kumpeni Belanda-lah kemudian orang Jawa mengadopsi makna baru prefiks “a” dari bahasa Latin yang artinya “tidak”. Sejak itu kiranya muncul istilah “asu” untuk hewan “segawon” atau “kirik”.

Asu ini artinya ya tadi, “tidak indah; tidak baik” karena najis liurnya butuh usaha ekstra untuk pensuciannya.

Arti asu sebagai “tidak indah” dan punya asosiasi dengan anjing inilah yang kadang dipakai orang Jawa buat pisuhan atau mengumpat. Sederhana aja, kita ngumpat kalau nemuin sesuatu yang “tidak indah”. It’s as simple as that.[2]

Ini juga mengingatkan saya pada sejarah kata “shit” di dalam bahasa Inggris. Kata “shit” dipungut oleh buyutnya orang Inggris, Anglo-Saxon, dari bahasanya bangsa Viking yang artinya “hewan yang kena diare” dan gak ada kaitannya sama umpat-umpatan. Meski iya sih, kemudian dalam perjalanan waktu, dalam bahasa Inggris modern, kata ini bermakna sumpah serapah vulgar. Namun meski begitu, belum tentu kata “shit” hanya bisa berarti “feses” atau “ungkap cacian”. Bahasa yang dipakai akan selalu berkembang dan makna-makna baru bermunculan. “Shit” pada kalimat yang jadi inspirasi kalimat stiker “shit happens” dalam film Forest Gump tidak berarti “ada tai di sana” namun kalimat itu berarti “kadang sesuatu muncul di luar perkiraan”. Persis juga misalnya ungkapan “you are shitting me” di dalam film The Bucket List yang artinya juga bukan “kau memberakiku” sebab itu artinya “[ah] kau mengerjaiku”.

Meski “asu” bagi orang Jawa dan “shit” bagi orang Bule punya konotasi negatif, tapi gak melulu kayak gitu.

Coba deh kamu maen ke Semarang dan dengarkan anak muda di sana saling menyapa. “Piye kabare, [A]Su!”  yang artinya “Bagaimana kabarnya, [A]Njing!” diucapkan ke sesama teman. Dulu aku pikir aku salah denger. Aku pikir su di ekor kalimat itu adalah [Manung]Sa, bahasa Jawa dari “manusia”, atau mungkin Sob[at]. Tapi ternyata memang Su dari kata Asu. Hebat, tidak ada yang marah karena di-anjing-anjing-kan. Tapi mau bikin kesimpulan bahwa anak muda Semarang saling meng-anjing-kan sesamanya, walah, malah aku bisa dituduh anti-Semarangisme.

Mari pindah ke tempat laen. Solo, ya, tempat aku lahir. Kalau kamu sempet maen ke Solo, dan pas beruntung, boleh jadi denger ada orang Solo ngobrol sama teman lainnya pakai istilah “ora asu-asunan” atau “jangan anjing-anjingan” kalau mau diterjemahin ke bahasa Indonesia.

Apakah asu-nya orang Semarang sama arti dengan asu-­­nya orang Solo? Kamu kecele atau tertipu kalau kamu pikir artinya sama dengan alasan Semarang dan Solo make bahasa Jawa yang sama.

Shit Happens - Life is Simple, It's just not Easy (Credit: eatlaughluv.com)

Shit Happens – Life is Simple, It’s just not Easy (Credit: eatlaughluv.com)

Dan kamu yang baru tau sedikit basa Jawa plus sedikit tahu English jangan ada pikiran kalo itu artinya “Jangan doggy style”. Itu penyimpulan yang norak. Aku kasih tahu aja, orang solo[3] gak bisa mraktikin itu. Kalau engga percaya, coba tanya aja Dokter Boyke.

Kalo denger orang Solo bilang ke temennya iki ora asu-asunan ini artinya “ini bukan bohongan” sedang jika ungkapannya aja asu-asunan maka artinya “jangan begitu [jangan bohong-bohongan (?); jangan akal-akalan (?)]”.[4] Ungkapan ini dipake sesama teman sebaya dan atau teman yang sudah akrab.

Persis kalau orang Bule makai kata Shit saat menyapa temannya “You look like shit, Man!”. Shit yang dipakai ini juga dipakai sesama teman yang deket sebagai tanda bahasa akrab-akraban. Ini artinya kurang lebih, “Kamu kok kucel banget sih!” dan bukan semena-mena diartikan “Kamu kayak tai”.

Nah, kalau kamu denger ada Bule bilang “Let’s get shit-faced” itu memang ada kaitannya dengan tai. Kok bisa? Maksudnya bagaimana? Kalimat itu artinya si Bule ngajak mabuk semabuk-mabuknya singga muntahnya nyorongin wajah di lubang toilet; wajah yang berubah jadi tai. Hi hi hi ….

Ayo bikin kesimpulan ngaconya yuk!

Gini, baik orang Jawa maupun orang Bule bisa saling mengakrabkan diri dengan istilah yang makna lazimnya adalah sesuatu yang “tidak indah”: su & shit. Tapi meski sama “nuansa” dalam hal make-make istilah, jangan coba-coba tukar pemakaian. Jangan karena merasa kamu orang Jawa dari Semarang dan sudah belajar bahasa Inggris, ketika ketemu Bule Australia lalu menyapa sok akrab, mengganti: “Howdy, Mate!” dengan “Howdy, Dog!”.

Meski, meskipun kamu punya pengetahuan budaya Barat yang bagi bule anjing adalah sahabat terbaik manusia[5] dan punya argumen kalau kamu orang Semarang yang nyapa temennya dengan “Su” namun EnglishSemarangan[6] itu adalah praktik campur bahasa yang seasu-asunya.[7] Bule engga bisa ngasu-ngasukke (menganjing-anjingkan) orang karena bagi bule, sebaik apapun anjing itu tetaplah anjing dan sebaik apapun teman [yang manusia] tetaplah tidak sama dengan anjing.

Dan, tahu gak?  “Seasu-asunya” dalam bahasa Bule bukan “dogish” tapi justru bisa agak dipaksain dipadanin sama “shitty“. Nyambung kan, “su” dan “shit“-nya?[8]

=============================

Endnotes

[1] Orang Jawa percaya bahwa nama adalah doa. Di dalam tradisi Jawa, jikalau ada anak yang masih kecil terlalu sering sakit-sakitan sehingga ada kekhawatiran maut menjemput maka biasanya diadakan upacara selamatan dan mengganti nama anak menjadi “Slamet”. Kadang tidak mengganti nama seluruhnya menjadi “Slamet” namun cukup menambahkan nama di depan dengan “Slamet”.

Orang Jawa percaya bahwa penggantian nama menjadi “Slamet” yang artinya “selamat” adalah bentuk upaya pendoaan agar si anak selamat dari maut sebagaimana tiap orang akan memanggil anak itu –yang diartikan secara tidak langsung juga ikut mendoakan- keselamatan si anak.

[2] Meskipun demikian, orang Jawa juga kadang mengumpat tidak dengan menggunakan bentuk utuh dari kata “Asu” namun dalam singkatan kata “Asu” yaitu “Su!”.

Jadi jangan salah duga bahwa Anda sedang dipuji ketika ada orang Jawa marah kemudian melempari Anda dengan ucapan atau gredumel (gerundel): “Su!”. Karena percayalah bahwa “Su” yang diucapkan oleh orang Jawa itu bukanlah diniatkan memuji Anda sebagai “indah”.

Begitu juga terjadi ketika ada orang Jawa yang separuh hati [atau memang hendak bercanda – nah inilah susahnya memahami orang Jawa] di dalam mengumpat dengan mengucapkan “As” kemudian ia jeda barang sejenak untuk ditambahi “u” atau tidak.

Kadang seorang Jawa hendak mengatakan “Asu” tapi tidak sampai hati melengkapi “As” untuk kemudian ditambahkan “u” sehingga yang keluar dari mulut adalah “As” ditambah “em” sehingga menjadi “Asem!” atau ditambah “taga” sehingga jadi “Astaga” atau ditambah “taghfirullah” sehingga kemudian menjadi “Astaghfirullah”.

Bisa jadi juga memang kemudian di tengah penggalan ucapan “As” yang memang niat awalnya mengumpat namun kemudian tersadar bahwa umpatan itu “tidak layak” maka kemudian diteruskan menjadi berbentuk istighfar; “Astaghfirullah”.

Bedakan dengan orang Jawa yang merasa kecut hati atau dongkol dalam nada bercanda mengucapkan dengan ringan ucapan “Asem”. “Asem” atau “Asam (Ind.); Tamarind (Eng.)” memang tumbuhan yang lazim di Jawa dan kekecutan hati diserupakan oleh orang Jawa dengan kecut asemnya Asam.

[3] Huruf s kecil.

[4] Di Solo juga ada satu variasi dari ungkapan “asu-asunan” ini yaitu “kirik plastik”. Mengapa bisa muncul bentuk “kirik” atau “anjing (Ind.)” dan “plastik” yang artinya “anjing [yang terbuat dari] plastik”?

Begini, bahasa Jawa di dalam perulangan kata kemudian ditambahi akhiran –an, sama prinsip dengan bahasa Indonesia. Contoh yang paling nakal dari bentuk ini dapat Anda simak di dalam lagu grup pop dangdut PMR yang berjudul “Judul-judulan”.

Ketika “asu-asunan” DAPAT diartikan sebagai “anjing mainan” dan bukan “anjing beneran” maka “kirik plastik” dianggap berarti sama.

[5] Oleh sebab itulah bule kadang marah kalau kita cerita bahwa sebagian dari orang Solo suka membantai anjing buat bikin makanan yang disebut dengan “Sate Jamu”. Bagi bule, makan anjing adalah tindakan yang engga punya etika perikehewanan dengan sobat terbaik manusia; anjing.

Sate Jamu adalah makanan yang dibuat dari daging anjing. Istilah lain yang dipakai orang Solo untuk menyebut Sate Jamu adalah Sate Jamu RT-RW atau Sate RT-RW. Dahulu istilah “Sate Jamu” yang kerap bikin pengunjung kota Solo “tertipu” untuk mencicipi tanpa tahu bahwa sate jamu terbuat dari anjing, pernah diinstruksikan oleh Pak Jokowi untuk diubah menjadi Sate Hug-hug atau Sate Guk-guk ketika beliau menjabat sebagai walikota Solo. Namun bersamaan dengan waktu -apalagi setelah Pak Jokowi mentas dari Solo- istilah Sate Jamu kembali lagi marak dipakai dan istilah Sate Hug-hug atau Sate Guk-guk jadi mulai jarang dipakai.

Jadi kalau kamu bule, merasa bule, atau manusia yang engga tega makan daging anjing … ndak usah mampir ke warung di kota Solo yang ada tulisannya Sate Jamu karena, trust me deh, engga mungkin warung itu nusukin herbal medicine -katakanlah daun-daunan- kemudian dipanggang di atas api. Ingat, Sate Jamu itu bukan Sate Vegetarian.

[6] Semarangan di dalam bahasa Jawa memiliki dua arti: (1) ala Semarang, bergaya Semarang; (2) (Jw. Solo) Permainan bola yang dilakukan oleh anak-anak di Jawa dengan hanya memakai satu gawang dengan minimal 3 orang pemain yang saling berkompetisi di mana pencetak gol akan dihadiahi menjadi kiper.

[7] Istilah “sak asu-asune” adalah istilah “agak kasar namun bersifat lelucon” yang dipakai di dalam bahasa Jawa. Istilah ini pernah dipakai oleh Gus Mul di dalam surat terbukanya kepada Anang di dalam sebuah frase “pembodohan seasu-asunya” dalam blognya (terbit juga di Harian Jogja daring). Gus Mul mengadopsi istilah dari bahasa Jawa tersebut ke dalam bahasa Indonesia dengan pas karena surat itu memang sengaja ditujukan kepada Anang yang memang orang Jawa dan tahu makna istilah itu.

Di dalam bahasa Jawa, lazimnya istilah “sak asu-asune” atau “seasu-asunya” dipakai untuk mengumpat kepada seseorang yang berperilaku sangat tidak punya perasaan atau suka melanggar peraturan. Ketika orang Jawa menyebut seseorang dengan “sak asu-asune wong” maka yang dimaksud adalah kurang lebih “orang yang benar-benar bangsat” dan bukan “seanjing-anjingnya orang” kecuali jika makna anjing adalah kembali kepada makna dasar yaitu “tidak indah”.

Jadi kalau make makna dasar dari “asu” untuk dimahfumi makna “orang yang benar-benar bangsat” sebagai “orang yang kelakuannya tidak indah; tidak patuh kaidah” maka bisa aja sih disebut pas.

[8] Tulisan ini sedianya saya niatkan untuk terbit di salah satu situs daring yang garing. Namun nampaknya karena tidak sesuai dengan gaya dan konten yang dimaui oleh redaksi sehingga tertolak. Pun, dalam perkembangan saya mencermati situs daring yang garing tersebut, saya mencermati terlalu banyak “asap” ideologis di sana, baik asap beneran maupun kendali kekang yang miring kekiri(k)-kiri(k)an, yang membuat saya ya jadi “tidak menggebu dan malah hilang nafsu” untuk berkelindan dengan situs daring yang garing itu.

Creative Commons License
Telaah Su & Shit by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

One thought on “Telaah Su & Shit

  1. Pingback: Telaah Su & Shit | Community

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s