Home » Selected Contemplation » Charlie Hebdo dan Pelajaran Kebebasan Berekspresi

Charlie Hebdo dan Pelajaran Kebebasan Berekspresi

Charlie Hebdo memang menyebarkan kebencian dan mengajarkan rasisme, begitu kesimpulan dari tulisan Olivier Cyran di bulan Desember tahun 2013. Di dalam tulisan yang berjudul Charlie Hebdo, Pas Raciste? Si Vous Le Dites …” [Eng Transl], Cyran, pernah kerja di Charlie Hebdo dari 1992 hingga 2001, memberikan contoh dari pengalamannya tentang bagaimana takutnya Charlie Hebdo hanya ketika berurusan dengan Yahudi seperti dipecatnya Maurice Sinet (kartunis dengan nama pena Siné) di tahun 2008 dan kemudian dibawa di depan hukum. Sebaliknya, berulang kali Charbonniere —salah satu editor/kartunis yang mati dalam tragedi di Paris— hanya tertawa saja menanggapi protes penyebaran Islamofobia lewat majalah Charlie Hebdo.

Stephane Charbonnier, atau biasa disebut sebagai Charb, editor Charlie Hebdo yang ikut tewas dalam serangan bersenjata itu (Credit: Chapman/Sipa/Rex via DailyMail)

Stephane Charbonnier, atau biasa disebut sebagai Charb, editor Charlie Hebdo yang ikut tewas dalam serangan bersenjata itu (Credit: Chapman/Sipa/Rex via DailyMail)

Perancis dikenal lewat kehidupan bernegaranya yang menjunjung kebebasan. Kalimat dari filsuf besar Perancis, Voltaire, “saya akan bela mati-matian kebebasan kamu untuk menyatakan pendapatmu meski berbeda dengan apa yang saya yakini” sering dirujuk untuk menggambarkannya. Namun Alexandra Charoux, seniman yang kini tinggal di London, membantah hal ini. Perancis sekarang ini tidaklah seratus persen bisa dikatakan demikian. Sebagai contoh, di beberapa daerah di Perancis, perempuan muslim bisa dipaksa keluar dari sekolah jika tetap memakai jilbab —bukan hanya niqab sebagaimana selama ini yang lazim diberitakan— dan baru diperbolehkan lagi bersekolah ketika sudi melepas jilbabnya. Charoux juga beri contoh lain semisal adanya larangan demonstrasi pro-Palestina di Perancis.

Contoh lainnya dari ambiguitas kebebasan berekspresi di Perancis terjadi pada sebuah band rap Perancis, Sniper. Sniper dibawa ke pengadilan di tahun 2003 dengan tuduhan anti-Semit. Berturut kemudian, ada juga Richard Makela diseret ke pengadilan pada tahun 2006 dengan tuduhan penghinaan kepada negara Perancis, Napoleon, dan Jenderal de Gaulle. Dan yang terbaru, Dieudonne, komedian Perancis, ditangkap oleh pihak berwajib Perancis karena lewat Facebook menulis status yang dianggap mengolok tagar “je suis Charlie” dan tindakan ini disebut sebagai dukungan atas terorisme.

Kasus pembantaian terhadap kartunis Charlie Hebdo juga menyeret beberapa akademisi atau kolumnis yang peduli dengan imbas tragedi di Paris untuk urun komentar terkait dengan visualisasi Nabi Muhammad yang dilakukan majalah Charlie Hebdo. Semua nampaknya sepakat bahwa Charlie Hebdo bermasalah bukan karena “sekedar” satu dua kali membuat visualisasi Nabi Muhammad.[1] Beberapa kolumnis yang peduli pada kasus ini semisal Dalia Mogahed, Reza Aslan, Jacob Canfield, dan Sandip Roy menyoroti bagaimana Charlie Hebdo memang seakan kecanduan menyerang Islam dibanding, misalnya jika bicara satir agama, agama lain. Menggunakan istilah Deltombe yang dikutip Cyran, praktik berkeseringan mensatirkan minoritas Islam lewat pelecehan terhadap Nabi Muhammad adalah bentuk rasisme dan Islamofobia lewat penyalahgunaan kebebasan berekspresi yang absolut.

Perkembangan terbaru dari kisah Charlie Hebdo adalah bagaimana Francine Prose, yang pernah dua kali menjabat sebagai Presiden PEN (Asosiasi Penulis) American Center, menulis sebuah artikel yang menyatakan kejijikannya terhadap pemberian Freedom of Expression Courage Award oleh PEN Amerika untuk para kartunis Charlie Hebdo. Dalam tulisannya di The Guardian dengan judul “I admire Charlie Hebdo’s courage. But it does not deserve a Pen award” yang terbit pada 28 April 2015, Prose menulis sebagai berikut

“I was horrified by the tragic murders at the Charlie Hebdo office; I have nothing but sympathy for the victims and survivors. I abhor censorship of every kind and I despise the use of violence as a means of enforcing silence. I believe that Charlie Hebdo has every right to publish whatever they wish. … But that is not the same as feeling that Charlie Hebdo deserves an award. As a friend wrote me: the First Amendment guarantees the right of the neo-Nazis to march in Skokie, Illinois, but we don’t give them an award. The bestowing of an award suggests to me a certain respect and admiration for the work that has been done, and for the value of that work and though I admire the courage with which Charlie Hebdo has insisted on its right to provoke and challenge the doctrinaire, I don’t feel that their work has the importance – the necessity – that would deserve such an honor.”

kemudian ia memberikan alasan mengapa Charlie Hebdo bermasalah

“Our job, in presenting an award, is to honor writers and journalists who are saying things that need to be said, who are working actively to tell us the truth about the world in which we live. That is important work that requires perseverance and courage. And this is not quite the same as drawing crude caricatures and mocking religion. … The bitterness and rage of the criticism that we have received point out how difficult people find it to think with any clarity on these issues and how easy it has been for the media – and our culture – to fan the flames of prejudice against Islam. As a result, many innocent Muslims have been tarred with the brush of Islamic extremism. … The narrative of the Charlie Hebdo murders – white Europeans killed in their offices by Muslim extremists – is one that feeds neatly into the cultural prejudices that have allowed our government to make so many disastrous mistakes in the Middle East. And the idea that one is either “for us or against us” in such matters not only precludes rational and careful thinking, but also has a chilling effect on the exercise of our right to free expression and free speech that all of us – and all the people at PEN – are working so tirelessly to guarantee.”

Sikap Prose tersebut juga didukung oleh anggota PEN yang lain serupa Peter Carey, Michael Ondaatje, Teju Cole, Rachel Kushner, Taiye Selasi dan 28 penulis lainnya. Mereka, sebagaimana argumen Prose, juga merasa bahwa Charlie Hebdo sangat tidak pantas memperoleh penghargaan itu. Di dalam surat keberatan mereka dinyatakan bahwa

“Power and prestige are elements that must be recognized in considering almost any form of discourse, including satire. The inequities between the person holding the pen and the subject fixed on paper by that pen cannot, and must not, be ignored.

To the section of the French population that is already marginalized, embattled, and victimized, a population that is shaped by the legacy of France’s various colonial enterprises, and that contains a large percentage of devout Muslims, Charlie Hebdo’s cartoons of the Prophet must be seen as being intended to cause further humiliation and suffering.

Our concern is that, by bestowing the Toni and James C. Goodale Freedom of Expression Courage Award on Charlie Hebdo, PEN is not simply conveying support for freedom of expression, but also valorizing selectively offensive material: material that intensifies the anti-Islamic, anti-Maghreb, anti-Arab sentiments already prevalent in the Western world.”

Jauh sebelum itu Myriam Francois-Cerrah, seorang juru debat anti Islamofobia Eropa, telah memberikan perspektif yang senada. Ia mengatakan bahwa Charlie Hebdo lewat kartun-kartunnya telah membuat citra muslim di Perancis mempunyai stereotip yang sangat buruk dan membuat kehidupan muslim di Perancis menjadi susah. Stereotip buruk tentang muslim bertambah parah ketika kebanyakan warga yang muslim di Perancis adalah keturunan Afrika Utara yang selama ini diperlakukan sebagai warga negara kelas dua seperti diutarakan oleh Adam Shatz. Majalah ini juga seakan lupa bahwa tradisi satire lazimnya, seperti dikatakan oleh penulis dan jurnalis Inggris Will Self, adalah sindiran kepada yang berkuasa dan tidak lazim atau elok digunakan untuk berterusan menyerang yang “lemah” atau minoritas.[2]

Tragedi Charlie Hebdo juga menautkan polemik tradisi visualisasi Nabi Muhammad dengan blasphemy (penistaan agama). Tapi bagaimana sebenarnya pandangan Islam di dalam menghukumi visualisasi Nabi Muhammad?

Di dalam tradisi Islam lewat imam empat mahzab kecuali Imam Malik, penggambaran manusia dan hewan (taswir) adalah dilarang. Bagi Imam Malik, penggambaran manusia dan hewan selama tidak dalam bentuk yang utuh adalah diperbolehkan. Pandangan Imam Malik dapat dilihat pada bagaimana Nouman Ali Khan menggunakan* visualisasi manusia atau hewan tanpa wajah, tanpa hidung, setengah badan, atau tanpa punya leher di dalam dakwah lewat media sosial. Pada saat kamera foto dan perekam video ditemukan –sesuatu yang tidak ada di jaman Imam empat mazhab- ulama modern terbagi menjadi dua pendapat utama. Pendapat pertama menghukumi sama dengan hukum taswir. Pendapat kedua, seperti dipegang oleh Muhammad Bakhit al-Muti’i dan Yusuf Qaradhawi, membolehkan dengan alasan bahwa foto dan video hanyalah menangkap bayangan dari makhluk ciptaan Tuhan.

Dalam persebaran Islam ke negara-negara lain, pendapat Imam empat Mazhab mengenai taswir tidaklah langsung berterima. Ada rentang proses penyampaian semua pendapat dari Imam empat mazhab (termasuk tentang taswir) dengan mulai masuknya Islam di suatu wilayah. Hal ini belum termasuk keberterimaan pada semua pendapat dari setiap Imam. Oleh sebab itulah, beberapa karya seni di dalam sejarah kadang ditemukan variasi praktik taswir.

Inilah yang membuat tulisan Profesor Christian Grueber dari University of Michigan yang berjudul “The Koran does not forbid images of the prophet” tentang taswir khususnya penggambaran Nabi Muhammad di dalam tradisi Islam menjadi kurang pas. Grueber, meskipun mengajukan argumennya berdasarkan ceceran dokumentasi penggambaran Nabi Muhammad di sepanjang peradaban dan wilayah Islam, “bermain-main” dengan pemahamannya akan tradisi Islam terkait taswir dengan meluputkan pandangan empat Imam dalam perkara taswir.

Grueber menunjuk bahwa pandangan tentang larangan menggambar Nabi Muhammad adalah [dapat dirujuk] pada [fatwa dari teroris] Taliban. Grueber kelihatannya sengaja membuat konklusi misleading bahwa muslim yang memegangi fatwa tentang taswir adalah sebagai pengikut [teroris] Taliban dan tidak ada sangkut pautnya dengan tradisi Islam awal. Ini menjadi sesuatu yang tidak pas dan malah bisa mengkotakkan muslim yang memegang pendapat empat Imam sebagai sama dengan Taliban yang oleh Barat dicap sebagai teroris.

Grueber tampaknya harus mengkaji penjelasan Dalia Mogahed mengenai tradisi taswir; atau mungkin Grueber harus teliti lagi mempelajari fiqih Islam. Seperti Dalia Mogahed dan Reza Aslan senada katakan bahwa penghindaran depiksi secara visual adalah bagian dari penghormatan kepada Nabi Muhammad dan kekhasan ajaran Islam mengenai ikonoklastis (mencegah pemberhalaan imaji). Atau jika mengikuti derap irama hukum taswir di dalam tradisi Islam, menggambar manusia dan hewan saja tidak boleh apalagi menggambar Nabi Muhammad.[3][4][5]

Tragedi di Paris atas Charlie Hebdo menjadi pelajaran bagi kita semua –bukan hanya Perancis– tentang risiko kebebasan berekspresi tanpa batas apalagi jika kemudian disalahgunakan untuk mengagitasi mereka yang minoritas atau liyan. Risiko bara yang disulut justru semakin besar, seperti tragedi yang terjadi pada Charlie Hebdo.

Cartoon atas Absurdnya Kebebasan Absolut yang Diusung Majalah Charlie Hebdo (Credit: Ruben Bolling)

Kartun yang menyindir absurdnya kebebasan absolut yang diusung Charlie Hebdo (Credit: Ruben Bolling)

Dalam masyarakat kita ada filosofi yang disebut dengan tepa slira atau tenggang rasa. Ajaran untuk tenggang rasa inilah yang mengajari kita untuk saling menjaga perasaan masing-masing; tidak sembarangan berpendapat apalagi jika menyangkut identitas ke-SARA-an. Dan pada penyataan Presiden Jokowi terkait tragedi itu dapat kita saksikan kewaskitaan ajaran tepa slira­. Beliau menyampaikan hujatan beliau kepada aksi pembantaian itu sembari mengingatkan kepada semua untuk tahu batasan di dalam berekspresi baik lewat tulisan maupun lewat gambar. Dan bukankah, sebagaimana nasehat Nouman Ali Khan, Nabi Muhammad sendiri selama hidupnya sering sekali diejek oleh orang lain sampai-sampai diabadikan di dalam Quran dan demikian itu tidak lantas diselesaikan dengan sembarang main hantam?[6]

========================

Terbit di Opini Harian Joglosemar, 19 Januari 2015 dan bisa diakses lewat tautan ini. Versi di dalam laman ini adalah versi pembaruan per tanggal 1 Mei 2015.

Revisi
*
Nouman Ali Khan kemudian terketahui oleh saya, penulis, tidak menggunakan visualisasi sebagaimana ternyatakan di dalam tulisan itu namun ada pegiat dakwah yang memvisualisasikan ceramah Nouman Ali Khan di dalam bentuk kartun yang diunggah di YouTube dan ditaut di beberapa kanal sosial media. Demikian koreksi atas tulisan tersebut di atas.

Endnotes

[1]  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ demikian salutasi seterusnya diberikan pada beliau di dalam tulisan ini.

[2] Bandingkan juga dengan tulisan wartawan senior Rusdi Mathari di dalam blognya yang diberi judul “Serangan untuk Lelucon Charlie Hebdo”.

[3] Pada kasus tertentu seperti kedaruratan, mainan anak, kepentingan yang lebih besar semisal medis, pendapat tentang taswir ada yang bersikap lunak. Pelarangan praktik taswir inilah yang membuat tradisi kaligrafi di dalam tradisi Islam menjadi kuat dan pesat.

[4] Bandingkan juga dengan tulisan Juman Rofarif mengenai kebijaksanaan mengapa depiksi visual Nabi Muhammad saw. lebih baik dihindari dalam tulisannya yang berjudul “Menggambar Rasulullah”

[5] Bandingkan juga di dalam tradisi Yahudi dan Kristen jika menuruti “fatwa” di dalam Konsili Elvira mengenai penggambaran rupa figur-figur suci. Tengok juga imbas yang terjadi jikalau depiksi dilakukan sebagaimana dikupas oleh Ronald Goetz ketika berbicara tentang depiksi Yesus (pbuh) (“Finding the Face of Jesus”, 1984). Silakan baca juga tulisan saya mengenai melihat wajah Yesus (pbuh).

[6] Beliau merujuk pada QS Al Muzzammil: 10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s