Home » Selected Contemplation » Riwayat Syi’ah dalam Shahihain

Riwayat Syi’ah dalam Shahihain

Tulisan ini disalin-tempel dari tulisan yang terbit di basweidan.com. Ditulis di Madinah pada 2 Shafar 1435 H oleh Sufyan bin Fuad Baswedan, M.A., Mahasiswa Doktoral Prog. Ilmu Hadits, Universitas Islam Madinah, sebagai tanggapan atas pernyataan Habib Rizieq Shihab yang mengatakan bahwa menyerang Syiah berarti juga menyerang Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Kemudian tulisan berikutnya adalah sambungan dari tulisan pertama ditambah satu artikel tulisan dari Anung Al Hamat, Ketua MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) DKI, yang terbit di bumisyam.com pada 12 September 2013 kemudian ditambah tulisan Bahrul Ulum, Peneliti pada Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS) Surabaya yang disalintempel dari AlFanarKu dengan judul “Menyoal Validitas Hadist Syiah” serta tulisan Mukhamad Ihsan yang diambil dari situs yang sama dengan judul “Metodologi Kritik Hadist dalam Pandangan Syiah Imamah.”

Ustad  Sufyan Fuad Baswedan

Ustad Sufyan Fuad Baswedan

=========================================

Alhamdulillah was shalaatu was salaamu ‘ala Rasuulillaah, ‘amma ba’du:

Sebelum memberikan tanggapan, alangkah baiknya jika kita merenungkan sejenak firman Allah berikut:

{وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ} [التوبة: 71]

Kaum mukminin dan mukminat satu sama lain saling menjadi wali. Mereka ber-amar ma’ruf nahi munkar, mendirikan shalat, membayar zakat, serta menaati Allah dan RasulNya. Merekalah yang kelak akan dirahmati Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa dan Bijaksana (At Taubah: 71).

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan sejumlah karakter yang dimiliki orang-orang beriman (baik laki-laki maupun perempuan). Pertama: bahwa mereka saling menolong, loyal, membela, dan melindungi sesama mukmin/muslim. Itulah kira-kira makna dari ‘saling menjadi wali’.

Kedua: mereka saling ber-amar ma’ruf nahi munkar. Artinya, yang mengetahui adanya suatu kema’rufan di antara kaum mukminin, menyampaikan hal tersebut kepada saudaranya sesama mukmin, agar lebih banyak orang yg berbuat ma’ruf. Sedangkan bila ada di antara mereka yang mengetahui adanya perbuatan munkar yg dilakukan oleh orang lain, maka ia mengingatkan, meluruskan, dan mencegah orang tersebut agar menghentikan kemunkarannya.

Inilah dua pijakan utama saya dalam menulis tanggapan berikut, yaitu sebagai bentuk amar ma’ruf nahi munkar, dan juga pembelaan terhadap Habib Rizieq sendiri!

Lho koq bisa begitu?

Ya. Bukankah Rasulullah kekasih kita semua menyuruh kita untuk membela saudara kita, baik ia sebagai pihak yg zhalim maupun yg dizhalimi?! Simaklah hadits berikut:

عن أنس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنْ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ. رواه البخاري (6952)

Anas bin Malik –radhiyallaahu ‘anhu- mengatkan bahwa Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, bersabda: “Tolonglah saudaramu (seiman) saat ia berbuat zhalim maupun terzhalimi”. Beliau lantas ditanya oleh seseorang:

“Wahai Rasulullah, aku akan menolongnya saat ia dizhalimi. Tapi bagaimana menurutmu jika ia yang berbuat zhalim, bagaimana aku menolongnya?

“Cegahlah –atau laranglah- ia dari perbuatan zhalim tersebut. Demikianlah cara menolongnya” jawab Rasulullah –shallaallaahu ‘alaihi wa sallam-.

(HR. Bukhari dlm Shahihnya, kitab al-ikraah, bab yg terakhir, hadits no 6952).

Hadits yg senada juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no 2584) dari sahabat Jabir bin Abdillah –radhiyallaahu ‘anhuma-.

Perlu diketahui, bahwa seseorang dinyatakan zhalim bila meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya (وضع الشيء في غير موضعه)[1]; demikian menurut mayoritas ahli bahasa. Selain itu, seseorang dinyatakan zhalim bila ia berbuat sesuatu terhadap milik orang lain, atau bertindak yang melampaui batas[2].

Termasuk perbuatan zhalim ialah tidak menganggap kafir orang yang mestinya dianggap kafir. Atau mengkafirkan orang yang semestinya tidak dikafirkan. Atau bersikap lunak terhadap kelompok yang mestinya disikapi keras. Atau sebaliknya. Karena itu semua berarti meletakkan sesuatu yang tidak pada tempatnya, dan termasuk tindakan melampaui batas, baik batas minimal maupun batas maksimal.

Nah, sebagai penutup mukaddimah ini, saya ajak pembaca untuk merenungkan dialog singkat yang penuh makna berikut. Dialog ini terjadi antara Abu Shalih Al Farra’ dengan Imam Yusuf bin Asbaath. Abu Shalih Al Farra’ pernah menceritakan sejumlah hal tentang fitnah khawarij yang ia dengar dari Wakie’ kepada Yusuf bin Asbaath. Maka Imam Yusuf bin Asbaath berkomentar: “Orang itu (Wakie’) memang mirip dengan gurunya –yaitu Hasan ibnu Hayy (yg terkenal berpemikiran khawarij)-!”.

“Apa kamu tidak takut jika ucapanmu ini termasuk ghibah?”, tanya Abu Shalih.

“Dasar lugu… memangnya kenapa?” sanggah Yusuf bin Asbaath. “Justru aku lebih berbakti kepada mereka (orang-orang yang terjebak dalam bid’ah) daripada orang tua mereka sendiri. Aku melarang orang-orang untuk mengikuti bid’ah yang mereka ciptakan, sehingga mereka tidak memikul dosa orang-orang tsb. Sedangkan orang yang memuji mereka justru lebih berbahaya bagi diri mereka” lanjut Yusuf bin Asbaath.[3]

Renungilah jawaban Imam Yusuf bin Asbaath yang demikian penuh makna ini…

Yang beliau bicarakan disini bukanlah orang biasa, akan tetapi seorang tokoh ahli hadits, ahli ibadah, ahli zuhud, dan luar biasa dalam banyak hal; akan tetapi ia memiliki pemikiran yang berbahaya. Ia berpendapat bolehnya memberontak dan mengangkat senjata kepada penguasa muslim yang berbuat zhalim yang tidak sampai ke tingkat kufur (murtad). Itulah bid’ahnya khawarij. Pemikiran tersebut cukup berbahaya walaupun yg bersangkutan sendiri tidak pernah mengangkat senjata secara langsung. Ia sekedar memberi dukungan dan keberpihakan terhadap mereka yang memberontak, alias membenarkan sikap kaum khawarij. Hal ini di mata para salaf merupakan bahaya besar, sebab seorang tokoh semacam Hasan bin Shalih bin Hayy yang demikian dikagumi banyak orang karena ilmu, kezuhudan, dan keshalihannya tsb akan banyak menyesatkan manusia melalui pemikirannya yang keliru tadi, bila tidak ada yang menjelaskan kekeliruannya tsb secara ilmiah. Yang dengan demikian, maka yang bersangkutan akan turut memikul dosa banyak orang yang mengikuti pemikirannya tersebut.

Apalagi bila ia kemudian dipuji-puji oleh tokoh lainnya, maka akan semakin banyak umat yang tersesat karenanya, sehingga semakin banyak dosa yang dipikul oleh si pencetus pemikiran tadi. Sebab Rasulullah ‘alaihis shalaatu was salaam bersabda:

وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ (رواه مسلم رقم 1017).

Siapa yang membikin suatu ajaran buruk dalam Islam, maka ia akan memikul dosanya dan dosa setiap orang yang mengamalkannya setelah itu; tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun (HR. Muslim dalam Shahihnya, no 1017).

Jadi, maksud saya menulis tanggapan ini ialah demi mengamalkan dalil-dalil yang saya sebutkan tadi, dan demi berbakti kepada Habib Rizieq Shihab –saddadahullaah- agar kekeliruan beliau sebagai tokoh yang dikagumi banyak orang, jangan sampai diikuti.

Baiklah, sekarang saya akan mulai menanggapi apa yang saya dapatkan dari statemen Habib Rizieq Shihab –yg selanjutnya saya singkat HRS-. Berikut ini adalah copas dari blog satuislam yg memberitakan secara singkat ceramah HRS saat merayakan haul kematian ibundanya di markas pusat FPI tanggal 1 Desember 2013 lalu. Dituliskan di sana sbb:

Sementara itu, menanggapi tudingan sekelompok takfiri yang mengkafirkan dirinya akhir-akhir ini hanya karena beliau tidak mau mengkafirkan semua penganut Syi’ah, Habib Rizieq menjelaskan bahwa dalam kitab-kitab hadis utama rujukan Ahlusunnah, banyak sekali perawi dari kalangan ulama Syi’ah. Karena itu jika Syi’ah dikafirkan, sama artinya akan banyak sekali hadis shahih Bukhari-Muslim yang mesti ditolak.

Lebih jauh Habib Rizieq menegaskan bahwa dirinya tidak sedang membela Syi’ah. Justru ia sedang membela Ahlusunnah
wal Jama’ah. “Orang yang mengkafirkan Syi’ah, berarti dia sedang menyerang (kitab shahih) Bukhari Muslim, ia menyerang periwayatan Bukhari Muslim. Ia sedang menghancurkan Ahlusunnah wal Jama’ah!”
[4] –selesai-

Dalam cuplikan di atas, ada beberapa poin yang perlu diperjelas agar tidak menjadi syubhat bagi orang awam.

Pertama: HRS mengatakan bahwa dirinya dikafirkan oleh kelompok takfiri karena tidak mau mengkafirkan semua penganut syi’ah.

Pertanyaannya: Siapa kelompok takfiri yang dimaksud? Bisakah HRS menyebutkan nama mereka satu persatu, atau minimal ciri-ciri mereka agar ucapan HRS bernilai ilmiah dan bukan sekedar melempar tuduhan?

Perlu diketahui, bahwa takfir (menjatuhkan vonis kafir) sesuai aturan dan secara proporsional, merupakan salah satu akidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Sebagai orang yang beriman, kita harus mengkafirkan SEMUA yang dikafirkan oleh Allah dan RasulNya. Baik dikafirkan dengan menyebut nama mereka, seperti kafirnya Fir’aun, Abu Jahal, Abu Lahab, Abdullah bin Ubay bin Salul dan lain-lain. Atau dikafirkan berdasarkan sifat-sifatnya, seperti kaum musyrikin secara umum, kaum Yahudi, kaum Nasrani, Majusi, dll. Ini yang pertama.

Yang kedua: perlu kita ketahui bahwa penjatuhan vonis kafir –alias takfir- ada dua macam. Takfir ‘aam dantakfir khaash. Pengkafiran secara umum dan pengkafiran secara khusus (personal/individu). Ketika ada yang mengatakan bahwa kelompok syi’ah itsna ‘asyariyah itu kafir karena mereka meyakini hal-hal yang membatalkan keislaman, seperti meyakini ketidakotentikan Al Qur’an yg ada hari ini, karena diotak-atik oleh para sahabat. Atau sikap ghuluw mereka terhadap ahli bait Nabi hingga menyematkan sifat-sifat uluhiyyah kepada mereka. Dan banyak hal lainnya…[5]

Nah, ketika ada yang mengatakan bahwa syi’ah adalah kelompok kafir, tidak berarti bahwa setiap orang yang diindikasikan syi’ah harus dikafirkan secara personal, dengan mengatakan si A, si B, si C dst kafir. Tidak demikian. Sebab yang seperti ini adalah takfir khaash yang hanya berhak dijatuhkan oleh para qadhi (hakim) atau ulama yg terkenal dengan kedalaman ilmunya serta kehati-hatian mereka dalam berfatwa, sebab menjatuhkan vonis kafir secara tertentu kepada seseorang memiliki konsekuensi hukum yang berat, seperti halalnya darah orang tersebut, terputusnya hubungan suami-istri, batalnya hak waris mewarisi, tidak halalnya sembelihan dia, dst. yang dibahas oleh para ulama dalam bab riddah (murtad) dalam kitab-kitab fiqih.

Di samping itu, untuk menjatuhkan vonis kafir secara tertentu kepada orang-perorang haruslah memperhatikan terpenuhinya beberapa hal dan ternafikannya beberapa hal pula, yaitu:

  1. Ybs haruslah akil baligh alias bukan anak kecil dibawah usia, atau tidak waras akalnya. Karena hukum syariat baru mengikat seseorang bilamana ia tergolong mukallaf, yaitu baligh dan berakal sehat.
  2. Ybs haruslah tahu bahwa perkataan/sikap/perbuatan/keyakinan tsb hukumnya kufur akbar, alias bukan orang yg jahil terhadap hal tsb karena baru masuk islam, atau belum sempat mempelajarinya karena udzur tertentu yang bisa diterima oleh syariat. Bukan semata-mata jahil karena tidak peduli dengan ajaran agama dan tidak mau belajar. Sebab yg demikian ini namanya bukan lagi jahil (tidak tahu) tapi mu’ridh alias berpaling dari agama (tidak mau tahu).
  3. Bila kekafiran tersebut berupa perkataan/sikap/perbuatan, maka hal tsb dilakukannya secara suka rela atas pilihan pribadi, tanpa ada paksaan. Sebab bila ia dipaksa utk berbuat/berkata kufur sedangkan hatinya tetap beriman; maka ia tidak dianggap kafir. Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Barangsiapa kafir terhadap Allah setelah beriman, maka ia mendapat murka Allah, kecuali bila dirinya dipaksa sedangkan hatinya tetap mantap dengan keimanan. Akan tetapi bila hatinya ikut merasa tentram dengan kekafiran tersebut, maka bagi mereka murka Allah dan siksa yg pedih” (An Nahl: 107).
  4. Adanya kesengajaan dalam perkataan/perbuatan/sikap kufur tersebut, dan bukan dilakukan karena kelalaian atau ketidak sengajaan.
  5. Jika yg melakukan/mengatakan kekufuran tadi tergolong orang yang layak berijtihad, maka harus dipastikan bahwa ia tidak memiliki syubhat yang mendorongnya berbuat/berkata kufur tsb. Jika Ybs masih memiliki syubhat (ta’wil), maka syubhat ini harus dihilangkan melalui penjelasan terlebih dahulu. Akan tetapi tidak semua pena’wilan bisa diterima dalam hal ini. Hanya pena’wilan yg memenuhi syarat saja yang bisa dianggap sebagai udzur. Yaitu pena’wilan yang bisa diterima secara bahasa walaupun maknanya lemah dalam konteks tersebut. Adapun penakwilan yg serampangan dan tidak bisa diterima secara bahasa, maka tidak dianggap sebagai udzur.

Kedua: HRS mengatakan [bahwa dalam kitab-kitab hadis utama rujukan Ahlusunnah, banyak sekali perawi dari kalangan ulama Syi’ah. Karena itu jika Syi’ah dikafirkan, sama artinya akan banyak sekali hadis shahih Bukhari-Muslim yang mesti ditolak.]

Pernyataan ini juga melahirkan beberapa pertanyaan:

  1. Berapakah jumlah perawi yg diklaim oleh HRS sebagai ulama syi’ah dalam kitab-kitab hadits utama rujukan Ahlussunnah tsb? Bisakah HRS menyebutkan angkanya? Perlu diketahui, bahwa Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani telah merangkum secara singkat biografi para perawi yang terdapat dalam kitab-kitab hadits utama rujukan Ahlussunnah, yaitu dlm kitab beliau yg berjudul Taqriebut Tahdzieb yang jumlahnya mencapai 8826 perawi. Dan ini belum seluruhnya.
  2. Apa saja yang dimaksud dengan kitab-kitab hadits utama rujukan Ahlussunnah tsb? Apakah semua kitab hadits yg ditulis oleh ulama ahlussunnah harus diperlakukan sebagai kitab rujukan? Kalau ini yang dimaksud maka keliru-lah dia. Sebab tidak ada kitab selain As Shahihain yang hadits-haditsnya otomatis shahih dan menjadi pijakan dalam beragama menurut Ahlussunnah. Selain As Shahihain tetap harus melewati verifikasi sanad, karena para ulama senantiasa meriwayatkan hadits dengan sanadnya, yang dari situ bisa dikenali manakah yg sahih, mana yg hasan, mana yg dha’if, batil, palsu, dst. Artinya, kalau dalam hadits yg diriwayatkan oleh selain Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dalam sanadnya terdapat perawi syi’ah rafidhah, maka hadits ini tidak bisa dijadikan alasan; sebab Ahlussunnah tidak menganggap harusnya menerima setiap hadits yg ada, namun hanya yg disepakati sebagai hadits-hadits yg maqbul (shahih atau hasan) saja, dan ini hanya berlaku secara umum dalam As Shahihain, adapun selain Shahihain maka tetap melalui verifikasi sanad.
  3. Tahukah HRS siapa sejatinya mereka yang dianggap sebgai perawi syi’ah tersebut? Adakah diantara mereka yang keyakinannya sama dengan keyakinan syi’ah itsna asyriah (rafidhah) hari ini, yang telah keluar dari Islam?

Ataukah HRS tidak memahami hakikat istilah syi’ah/tasyayyu’ yang sering dipakai oleh para ahli hadits dalam mengritik perawi tertentu, dan menganggap bahwa istilah tersebut sama dengan istilah syi’ah yang populer hari ini? Kalau memang demikian menurut HRS, maka saya bisa memaklumi kesalahan tersebut mengingat HRS bukanlah ahli hadits, dan tidak berlatarbelakang ilmu hadits.

Oleh karenanya, saya akan menjelaskan kerancuan pemahaman ini dalam beberapa poin:

Pertama: Istilah tasyayyu’ dan syi’ah yang digunakan oleh para ulama salaf dalam mengritisi perawi hadits, jauh berbeda dengan istilah syi’ah hari ini yang terkenal suka mencaci maki, melaknat dan memurtadkan sahabat Nabi… atau mereka yang kerap menuduh istri-istri Nabi dengan tuduhan keji, dan menisbatkan berbagaimacam kedustaan atas nama ahli bait kepada para sahabat.

Hal ini telah dijelaskan oleh Imam Adz Dzahabi (wafat 748 H) tatkala membahas biografi salah seorang perawi syi’ah yang haditsnya tercantum dalam Shahih Muslim. Perawi tsb bernama Aban bin Tighlab Al Kufy[6]. Imam Adz Dzahabi menyifatinya dengan kata-kata (شِيْعِيٌّ جَلْدٌ، لكنه صدوق، فلنا صدقه وعليه بدعته) artinya: Ia seorang syi’i tulen, akan tetapi shaduq (jujur). Maka kita ambil kejujurannya, dan biarkan dia menanggung akibat buruk bid’ahnya.

Beliau lantas menyebutkan bahwa Aban bin Tighlab ini dianggap tsiqah oleh Imam Ahmad bin Hambal, Yahya bin Ma’ien dan Abu Hatim Ar Raazi. Namun Ibnu ‘Adiy menyebutkannya dalam kitab Dhu’afa –yg berisi para perawi lemah-, dan mengatakan (وكان غاليا في التشيع) artinya, ia bersikap ghuluw dalam kesyi’ahannya (tasyayyu’). Sedangkan As Sa’dy menyifatinya dengan ungkapan (زائغ مجاهر), artinya: orang sesat yang menampakkan kesesatannya.

Lalu Imam Dzahabi berkomentar: “Boleh jadi kita bertanya-tanya: Bagaimana mungkin seorang ahli bid’ah dianggap tsiqah, padahal definisi tsiqah meliputi sifat ‘adaalah dan itqaan? Bagaimana mungkin seorang penganut faham bid’ah dianggap ‘aadil?[7]

(berikut ini saya nukilkan teks jawaban beliau beserta terjemahnya)

وجوابه ان البدعة على ضربين، فبدعة صغرى كغلو التشيع او كالتشيع بلا غلو ولا تحرُّف؛ فهذا كثير في التابعين وتابعيهم مع الدين والورع والصدق. فلو رُد حديث هؤلاء لذهب جملة من الاثار النبوية وهذه مفسدة بينة.  ثم بدعة كبرى كالرفض الكامل والغلو فيه والحط على أبي بكر وعمر – رضي الله عنهما – والدعاء إلى ذلك، فهذا النوع لا يحتج بهم ولا كرامة.
وايضا فما استحضر الان في هذا الضرب رجلا صادقا ولا مامونا بل الكذب شعارهم والتقية والنفاق دثارهم فكيف يقبل نقل من هذا حاله حاشا وكلا
فالشيعي الغالي في زمان السلف وعرفهم هو من تكلم في عثمان والزبير وطلحة ومعاوية وطائفة ممن حارب عليا – رضي الله عنه وتعرض لسبهم والغالي في زماننا وعرفنا هو الذى يكفر هؤلاء السادة ويتبرأ من الشيخين ايضا فهذا ضال معثر ولم يكن ابان بن تغلب يعرض للشيخين اصلا بل قد يعتقد بأن عليا أفضل منهما (ميزان الاعتدال 1/118).

Jawabnya adalah bahwa bid’ah itu terbagi dua. Ada bid’ah sughra (kecil) seperti sikap tasyayyu’ yg ekstrim, atau tasyayyu’ yg tidak ekstrim dan tidak diiringi dengan penyimpangan keyakinan. Yang seperti ini banyak dijumpai di kalangan tabi’in dan tabi’it tabi’ien, akan tetapi mereka juga memiliki kualitas agama yang baik, sikap wara’ (hati-hati dan takut kpd Allah), serta kejujuran. Bila hadits mereka kita tolak, maka akan hilanglah sejumlah besar hadits Nabi, dan ini merupakan mafsadat yang jelas.

Kemudian ada pula bid’ah kubra (besar), seperti sikap rafdh secara total (bid’ahnya syi’ah rafidhah hari ini –pentj), rafidhah ekstrim, menghina Abu Bakar dan Umar –radhiyallaahu ‘anhuma-, dan mengajak orang untuk berpemahaman demikian (alias menjadi da’i rafidhah); maka yang seperti ini riwayatnya tidak menjadi hujjah dan tidak ada nilainya.

Lagi pula, saat ini aku tidak mengingat ada seorang pun dengan kriteria seperti ini (rafidhah) yang bersifat jujur dan bisa dipercaya, namun justru mereka terkenal sebagai tukang dusta, dan ahli bermuka dua dan bersikap munafik. Lantas bagaimana mungkin orang yg spt ini keadaannya bisa diterima riwayatnya? Sama sekali tidak mungkin.

Jadi, seorang syi’i ekstrim di zaman para salaf dan menurut definisi mereka, ialah orang yang mengritik dan mencaci Utsman, Zubeir, Thalhah, Mu’awiyah dan sejumlah kalangan yang memerangi Ali –radhiyallaahu ‘anhum-.Sedangkan syi’i ekstrim di zaman kita dan menurut definisi kita, ialah mereka yang mengkafirkan tokoh-tokoh tersebut dan bersikap bara’ (memusuhi) pula terhadap Abu Bakar dan Umar. Nah, orang seperti ini jelas sesat dan tergelincir. Sedangkan Aban bin Tighlab tidak pernah mengritik Abu Bakar dan Umar, namun boleh jadi ia sekedar meyakini bahwa Ali lebih mulia dari mereka berdua.

Sedangkan Ibnu Hajar Al ‘Asqalani (wafat 852 H) mengatakan:

التشيع في عرف المتقدمين هو اعتقاد تفضيل علي على عثمان وأن عليا كان مصيبا في حروبه وأن مخالفه مخطئ مع تقديم الشيخين وتفضيلهما وربما اعتقد بعضهم أن عليا أفضل الخلق بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم وإذا كان معتقد ذلك ورعا دينا صادقا مجتهدا فلا ترد روايته بهذا لاسيما إن كان غير داعية وأما التشيع في عرف المتأخرين فهو الرفض المحض فلا تقبل رواية الرافضي الغالي ولا كرامة

Istilah tasyayyu’ dalam pengertian para ulama terdahulu (salaf), maksudnya ialah meyakini bahwa Ali lebih afdhal dari Utsman, atau bahwa Ali senantiasa benar dalam semua peperangannya, dan bahwasanya pihak yang menyelisihinya adalah keliru; yang disertai dengan sikap mendahulukan Asy Syaikhain (Abu Bakar dan Umar) serta lebih memuliakan mereka di atas Ali. Boleh jadi ada sebagian dari kaum syi’ah (tempo dulu) yang menganggap Ali sebagai manusia paling mulia setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dan bilamana yang berkeyakinan seperti itu adalah seorang yang wara’, taat beragama, jujur, dan berangkat dari hasil ijtihad; maka hadits yang diriwayatkannya tidaklah ditolak semata-mata karena keyakinan tsb. Lebih-lebih bila ia tidak mengajak orang lain kepada pemikirannya.

Sedangkan istilah tasyayyu’ menurut pengertian ulama mutaakhkhirin (ulama setelah generasi salaf); maka maksudnya adalah rafidhah tulen. Maka seorang rafidhi ekstrem tidak bisa diterima riwayatnya, dan tidak bernilai sama sekali.[8]

Kedua: Imam Bukhari dan Imam Muslim sangat jarang meriwayatkan dari orang-orang syi’ah, kecuali dalam hadits-hadits yang tidak menjadi hujjah secara independen. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan:

البخاري يرى أن الانقطاع علة فلا يخرج ما هذا سبيله إلا في غير أصل موضوع كتابه كالتعليقات والتراجم

Imam Bukhari berpendapat bahwa terputusnya sanad merupakan ‘illah (cacat yg melemahkan suatu hadits). Oleh karenanya, ia tidak meriwayatkan hadits-hadits yang kondisinya seperti itu, kecuali bila hadits tersebut diluar topik utama kitab beliau, seperti hadits-hadits yang mu’allaq, atau perkataan yang beliau sisipkan di bawah judul-judul bab.[9]

Artinya, Imam Bukhari tidak meriwayatkan hadits dengan sanad bersambung dari beliau hingga Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, yang dalam sanad tersebut terdapat perawi rafidhi; dan tidak ada perawi lain yang menyertainya dalam riwayat tersebut; kemudian tidak ada hadits lain dalam bab yang sama.

Namun bila hadits yg dimaksud adalah hadits-hadits mu’allaq, atau sekedar perkataan sampingan yang beliau sisipkan di bawah judul-judul bab; maka ini tidak mengurangi nilai shahih Bukhari sama sekali. Sebab maksud utama penyusunan kitab ini adalah mengumpulkan hadits-hadits shahih yg bersambung sanadnya tentang Rasulullah dan ajaran beliau; sebagaimana yg dapat difahami dari judul asli shahih Bukhari itu sendiri, yaitu (الجامع المسند الصحيح المختصر من أمور رسول الله وسننه وأيامه).

Jadi, perkataan HRS: [jika Syi’ah dikafirkan, sama artinya akan banyak sekali hadis shahih Bukhari-Muslim yang mesti ditolak.] adalah perkataan yang batil. Batil karena syi’ah hari ini jauh berbeda dengan syi’ah tempo dulu. Para perawi syi’ah yg tercantum dalam shahihain adalah ‘manusia-manusia purba’ yg sudah punah sejak ratusan tahun lalu, menurut pengakuan Imam Adz Dzahabi dan Ibnu Hajar…. dan tentunya mereka lebih paham tentang rijaalul hadits daripada HRS.

Perkataan ini juga batil karena tidak ada hadits syi’ah rafidhah -syi’ah hari ini- yang diriwayatkan secara independen oleh Imam Bukhari dan Muslim. Sama sekali tidak ada.

Saya berani mengajak HRS untuk mubahalah dalam hal ini. Silakan buktikan jika ada perawi yang akidahnya seperti Khomeini, atau Kang Jalal, atau dedengkot rafidhah lainnya hari ini, yang haditsnya tercantum dalam Shahihain –dengan syarat yg telah dijelaskan oleh Adz Dzahabi dan Ibnu Hajar tadi-!!

Ketiga: [Lebih jauh Habib Rizieq menegaskan bahwa dirinya tidak sedang membela Syi’ah. Justru ia sedang membela Ahlusunnah wal Jama’ah. “Orang yang mengkafirkan Syi’ah, berarti dia sedang menyerang (kitab shahih) Bukhari Muslim, ia menyerang periwayatan Bukhari Muslim. Ia sedang menghancurkan Ahlusunnah wal Jama’ah!].

Ini sungguh aneh bin ajaib… dan ini adalah kesalahan fatal yang dibangun diatas kesalahan pertama, yaitu tidak bisa membedakan antara syi’ah tempo dulu (muslimin ahli bid’ah) dengan syi’ah hari ini (musyrikin munafikin).

Kalau HRS ingin membela ahlussunnah wal jama’ah, ya ikutilah cara-cara ulama Ahlussunnah yang menjelaskan kebatilan syi’ah dan kekufuran mereka. Bukan dengan bermanuver seperti itu… Lantas bagaimana jika yg mengkafirkan syi’ah rafidhah adalah Imam Bukhari sendiri? Apakah HRS akan mengatakan bahwa Imam Bukhari menyerang kitabnya sendiri dan menghancurkan Ahlussunnah wal Jama’ah???

Padahal dalam kitab beliau yang berjudul Khalqu Af’aalil ‘Ibaad (nas nomor 40), disebutkan:

قال أبو عبد الله: ما أبالي صليتُ خلف الجهمي والرافضي أم صليت خلف اليهود والنصارى؛ ولا يسلَّم عليهم ولا يعادون ولا يناكحون ولا يشهدون ولا تؤكل ذبائحهم

Abu Abdillah berkata: “Aku tidak membedakan apakah aku shalat bermakmum di belakang seorang Jahmi dan Rafidhi, ataukah bermakmum di belakang Yahudi dan Nashara. Mereka tidak boleh disalami, tidak boleh dibesuk ketika sakit, tidak boleh dinikahi (wanitanya), tidak dilayat jenazahnya, dan tidak boleh dimakan sembelihannya”.

Abu Abdillah adalah kun-yah atau sapaan akrab dari Imam Bukhari itu sendiri. Lihatlah bagaimana beliau menyamakan antara seorang jahmi dan rafidhi dengan orang kafir seperti yahudi dan nasrani!!! Dan itu beliau sebutkan dalam salah satu kitab tulisan beliau, bukan dinukil oleh orang lain.

Bukan hanya Imam Bukhari yang menganggap kafirnya Syi’ah Rafidhah (Syi’ah itsna ‘asyariyah/syi’ah di Iran, Irak, Lebanon, termasuk di Indonesia hari ini). Namun juga Imam Ahmad bin Hambal, yang dijuluki sebagai Imam Ahlussunnah wal Jama’ah.

Dalam Kitab As Sunnah (1/493-494), Abu Bakar Al Khallal meriwayatkan dengan sanadnya sbb:

عن عبدالله بن أحمد قال: سألت أبي عن رجل شتم رجلاً من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فقال: ( ما أراه على الإسلام )

Dari Abdullah putera Imam Ahmad, katanya: Aku bertanya kepada ayahku tentang seseorang yang mencaci salah seorang sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Maka kata ayah: “Menurutku ia tidak berada di atas Islam”.


وعن أبي بكر المروذي قال: سألت أبا عبدالله عن من يشتم أبا بكر وعمر وعائشة؟ قال: ( ما أراه على الإسلام )

Dari Abu Bakar Al Marrudzi, katanya: Aku bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad) tentang orang yangmencaci Abu Bakar, Umar dan Aisyah? Kata beliau: “Menurutku ia tidak berada di atas Islam”.

وعن إسماعيل بن إسحاق أن أبا عبدالله سُئل: عن رجل له جار رافضي يسلم عليه؟ قال: (لا، وإذا سلم عليه لا يرد عليه )

Dari Isma’il bin Ishaq, bahwa Abu Abdillah (Imam Ahmad) pernah ditanya tentang seseorang yang memiliki tetangga seorang rafidhi, bolehkah ia disalami? Kata beliau: “Tidak. Dan bila si rafidhi menyalaminya, jangan dijawab”.

Kalau yang mencaci salah seorang sahabat saja –belum sampai melaknat dan mengkafirkan- sudah dianggap bukan muslim lagi oleh Imam Ahmad, lantas bagaimana gerangan dengan mereka yang mengkafirkan seluruh sahabat Nabi selain beberapa gelintir saja???

Nah, kalau Imamnya Ahlussunnah wal Jama’ah saja mengkafirkan syi’ah rafidhah; pantaskah HRS yang mengaku sedang membela ahlussunnah wal jama’ah justru tidak mau mengkafirkan syi’ah; bahkan menganggap orang yang mengkafirkan syi’ah sedang menghancurkan Ahlussunnah wal Jama’ah?? Bukankah konsekuensinya berarti Imamnya Ahlussunnah wal jama’ah sedang menghancurkan Ahlussunnah wal Jama’ah ??!!

Mohon dijelaskan Bib, jangan bikin umat pusing dengan sikap antum!!


[1] Lihat: Mu’jam Maqa-yiesul Lughah oleh Ibnu Faris (3/468), Lisaanul ‘Arab oleh Ibnu Manzhur (12/373), Al Qomus Al Muhieth oleh Al Fairuzabadi (hal 1464), dan Taajul ‘Aruus oleh As Sayyid Murtadha Az Zabiedi (33/33).

[2] Lihat: Lisaanul ‘Arab (12/373) dan Taajul ‘Aruus (33/32-33).

[3] Dialog ini diriwayatkan dgn sanad yg bersambung oleh Imam Abu Ja’far Al ‘Uqaily dalam kitab Adh Dhu’afa’ Al Kabir (1/232) saat menceritakan biografi Hasan bin Shalih bin Hayy. Disebutkan pula oleh Adz Dzahabi, Ibnu Hajar Al Asqalani, dll.

[5] Untuk mengetahui apa saja keyakinan syi’ah itsna ‘asyariyah (rafidhah), yg dianut oleh mayoritas orang Iran, Hizbullah, dan sejumlah besar orang Irak hari ini; silakan merujuk ke kitab “Ushuul Madzhab Asy Syi’ah” oleh DR. Nashir bin Abdillah Al Qifaari. Kitab ini sarat dengan nukilan langsung dari literatur2 syi’ah.

[6] Lihat: Miezanul I’tidal 1/118.

[7] Maksud dari ‘adaalah (عدالة) ialah suatu perangai yang mendorong seseorang selalu bertakwa, menghindari dosa besar, dan menghindari hal-hal yang menodai norma kesopanan (muru-ah). Sedangkan maksud dari ‘itqaan artinya jago dalam menghafal dan meriwayatkan hadits.

[8] Tahdziebut Tahdzieb 1/93, oleh Ibnu Hajar Al Asqalani.

[9] Lihat: Hadyus Saari (muqaddimah Fathul Baari) 1/8, oleh Ibnu Hajar.

=========================

Riwayat Syi’ah dalam Shahihain 2

7 Desember 2013

Berikut ini adalah salah satu bukti bhw perawi syi’ah yg terdapat dalam shahihain bukanlah syi’ah yg kita kenal hari ini.

Dalam Shahih-nya (كتاب الإيمان، باب الدليل على أن حب الأنصار وعلي رضي الله عنهم من علامات الإيمان، وبعضهم من علامات النفاق، رقم 78) Imam Muslim meriwayatkan sbb:

 صحيح مسلم (1/ 86)
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، وَأَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، ح وَحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، وَاللَّفْظُ لَهُ، أَخْبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ، عَنْ زِرٍّ، قَالَ: قَالَ عَلِيٌّ: وَالَّذِي فَلَقَ الْحَبَّةَ، وَبَرَأَ النَّسَمَةَ، إِنَّهُ لَعَهْدُ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيَّ: «أَنْ لَا يُحِبَّنِي إِلَّا مُؤْمِنٌ، وَلَا يُبْغِضَنِي إِلَّا مُنَافِقٌ»

Imam Muslim mengatakan: Abu Bakr bin Abi Syaibah mengabarkan kepada kami, katanya: Waki’ dan Abu Mu’awiyah mengabarkan kpd kami dari Al A’masy;

Imam Muslim lantas meriwayatkan dari jalur lain, kata beliau: Yahya bin Yahya juga mengabarkan kepada kami -dan berikut ini adalah lafazhnya-, katanya: Abu Mu’awiyah mengabarkan kepada kami dari Al A’masy; (inilah titik temu dari kedua jalur tadi), dari ‘Adiy bin Tsabit dari Zirr bin Hubaisy, katanya: Ali berkata: “Demi (Allah) Dzat yang membelah biji dan menciptakan manusia; sungguh, Nabi yang buta huruf itu (maksudnya Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam) pernah mengikat janji kepadaku, bahwa tidak ada yg mencintaiku melainkan orang mukmin; dan tidak ada yang membenciku melainkan orang munafik” (HR. Muslim nomor 78).

Hadits ini sering dijadikan dalil oleh orang-orang syi’ah… dan memang ia adalah hadits shahih. Ahlussunnah mencintai Ali bin Abi Thalib secara baik dan benar, dan bisa dipastikan hanya Ahlussunnah yg mencintai Ali secara baik dan benar.

Nah, hadits ini diriwayatkan oleh seorang tabi’in bernama Adiy bin Tsabit, yang oleh Ibnu Hajar dalam Taqribut Tahdzieb (biografi no 4539) disebutkan sbb (ثقة رمي بالتشيع) artinya, “Dia tsiqah, namun tersangka berpemikiran syi’ah”. Sedangkan Adz Dzahabi dalam Al Kaasyif (biografi no 3758)  mengatakannya (ثقة لكنه قاص الشيعة، وإمام مسجدهم بالكوفة) artinya, “Dia tsiqah, tapi dia adalah tukang dongengnya syi’ah dan imam mesjidnya syi’ah di Kufah”.

Bahkan bila ditelaah lebih jauh, ternyata Imam Ad Daruquthni menyifatinya sebagai orang yg ekstrim dalam berpemahaman syi’ah (كان غاليا في التشيع), demikian pula dengan Ibnu Ma’ien yg mengatakan (شيعي مفرط) “orang syi’ah yg kebablasan”.

Tapi, dalam kitab dan bab yg sama, Imam Muslim telah meriwayatkan terlebih dahulu -sebelum meriwayatkan hadits di atas-, juga dari jalur ‘Adiy bin Tsabit, sbb:

 صحيح مسلم (1/ 85)
(75) وَحَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي مُعَاذُ بْنُ مُعَاذٍ، ح وَحَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ مُعَاذٍ، وَاللَّفْظُ لَهُ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ، قَالَ: سَمِعْتُ الْبَرَاءَ يُحَدِّثُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ فِي الْأَنْصَارِ: «لَا يُحِبُّهُمْ إِلَّا مُؤْمِنٌ، وَلَا يُبْغِضُهُمْ إِلَّا مُنَافِقٌ، مَنْ أَحَبَّهُمْ أَحَبَّهُ اللهُ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ أَبْغَضَهُ اللهُ» قَالَ شُعْبَةُ: قُلْتُ لِعَدِيٍّ: سَمِعْتَهُ مِنَ الْبَرَاءِ؟، قَالَ: إِيَّايَ حَدَّثَ

Zuhair bin Harb mengabarkan kepadaku, katanya: Mu’adz bin Mu’adz mengabarkan kepadaku ;

Demikian pula ‘Ubeidullah bin Mu’adz mengabarkan kepadaku -dan ini adalah lafazhnya-, katanya: Ayahku (Mu’adz bin Mu’adz) mengabarkan kepadaku (inilah titik temu kedua sanad tadi), katanya: Syu’bah mengabarkan kepada kami dari ‘Adiy bin Tsabit, katanya: Aku mendengar Al Bara’ (bin ‘Azib) meriwayatkan dari Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- yang bersabda TENTANG KAUM ANSHAR: “TIDAK ADA YG MENCINTAI MEREKA MELAINKAN ORANG MU’MIN, DAN TIDAK ADA YG MEMBENCI MEREKA MELAINKAN ORANG MUNAFIK. SIAPA YG MENCINTAI MEREKA MAKA ALLAH MENCINTAINYA, DAN SIAPA YG MEMBENCI MEREKA MAKA ALLAH MEMBENCINYA”. Syu’bah lantas bertanya kepada ‘Adiy bin Tsabit: “Apa kamu benar-benar mendengar hadits ini dari Al Bara’?”. Jawab ‘Adiy: “(Ya) Justru Al Bara’ yg menyampaikannya kepadaku”.

Lihatlah, bagaimana orang yg dinyatakan syi’ah ekstrim oleh Imam Ad Daruquthni dan Ibnu Ma’ien ini menyampaikan sebuah hadits yang menghancurkan madzhab syi’ah hari ini. Ya. Sebab syi’ah telah mengkafirkan seluruh sahabat Nabi -termasuk kaum Anshar- kecuali beberapa gelintir saja… spt Abu Dzar, ‘Ammar, Salman, dan Miqdad.

Ini membuktikan bahwa cap syi’ah atau tasyayyu’ yg sering dilabelkan kepada para perawi hadits dlm Shahihain tsb, tidak keluar dari apa yg telah dijelaskan oleh imam Adz Dzahabi dan Ibnu Hajar tsb.

Jadi, seorang imam syi’ah yang merangkap sebagai tukang dongeng mereka -artinya yg gemar menceritakan kepahlawanan dan hikayat-hikayat kaum syi’ah kepada para pengikutnya- di masa itu (1200 tahun silam), memang benar-benar sudah punah dan tidak pernah muncul lagi… karena jangankan imam syi’ah, keroco-keroco syi’ah yang masih ingusan saja hari ini sudah gemar melaknat, mencaci-maki, dan mengkafirkan seluruh sahabat Nabi. Apalagi imam-imamnya..!!??

Apakah ulama syi’ah spt ini masih kita jumpai hari ini?? Bisakah HRS mencontohkan seorang saja dari ulama syi’ah hari ini yg dengan sengaja dan sukarela menyebarluaskan keutamaan para sahabat Nabi tanpa bertakiyyah??

Yallah Bib, Ane tunggu tanggapan Ente…

=======================

Riwayat Syi’ah dalam Shahihain 3

7 Desember 2013

Berikut ini adalah bukti ketiga bahwa Syi’ah tempo dulu benar-benar berbeda dengan syi’ah hari ini, dan tidak ada kemiripannya sama sekali kecuali dari namanya saja.

Sebagai pemerhati hadits, tentu sosok Abdurrazzaq As Shan’ani bukanlah orang asing. Beliau adalah salah seorang ulama ahli hadits asal Yaman (Shan’a) yang haditsnya banyak terdapat dalam Shahihain, bahkan beliau menyusun kitab berjudul Al Mushannaf setebal 11 jilid dengan jumlah hadits dan atsar lebih dari 21000 butir !! alias lebih banyak dari gabungan antara shahih Bukhari dan shahih Muslim.

Bila kita perhatikan dan telaah biografinya, maka kita dapati bahwa Imam Ibnu Ma’ien (wafat 233 H), Imam Al ‘Ijly (wafat 261 H), Imam Al Bazzar (wafat 292 H), Imam Ibnu Hibban (wafat 354 H) dan Imam Abu Ahmad ibnu ‘Adiy (wafat 365 H) sepakat mengatakan bahwa Abdurrazzaq condong ke pemikiran syi’ah (كان يتشيع), dan hal ini memang dikenal pada sosok Abdurrazzaq, sehingga dalam Taqriebut Tahdzib-nya (no 4064), Ibnu Hajar menyimpulkan berbagaimacam kritikan dan pujian yg disematkan kepada Abdurrazzaq bin Hammam Ash Shan’ani tsb dalam untaian kalimat berikut:

(ثقة حافظ مصنف شهير، عمي فى آخر عمره فتغير ، و كان يتشيع) “Dia seorang yg tsiqah, hafizh, dan pengumpul hadits terkenal. Ia buta di akhir usianya, sehingga kualitas hafalannya menurun. Dan dia juga berpemahaman syi’ah (tasyayyu’)”.

Akan tetapi bila ditelaah lebih jauh, kita dapati dalam biografi Abdurrazzaq dalam kitab Tahdziebut Tahdzieb (jilid 18 hal 60) karya Al Hafizh Abul Hajjaj Al Mizzy (wafat 742 H), maka akan kita temui sbb:

قال عبد الله أيضا : سمعت سلمة بن شبيب يقول : سمعت عبد الرزاق يقول : والله ما انشرح صدرى قط أن أفضل عليا على أبى بكر و عمر ، رحم الله أبا بكر ورحم الله عمر ورحم الله عثمان ورحم الله عليا ، من لم يحبهم فما هو مؤمن، وقال : أوثق عملى حبى إياهم .

Abdullah bin Ahmad mengatakan: Aku mendengar Salamah bin Syabieb berkata: Aku mendengar Abdurrazaq mengatakan: “Demi Allah, aku tidak pernah merasa lapang dada untuk melebihkan Ali di atas Abu Bakar dan Umar. Semoga Allah merahmati Abu Bakar, semoga Allah merahmati Umar, semoga Allah merahmati Utsman, dan semoga Allah merahmati Ali. Sipa yang tidak mencintai mereka berarti bukanlah orang mukmin.

Abdurrazaq juga berkata: “Amalanku yang paling kuat adalah kecintaanku pada mereka”. Di halaman yang sama juga disebutkan:

وقال أبو الأزهر أحمد بن الأزهر النيسابورى : سمعت عبد الرزاق يقول : أفضل الشيخين بتفضيل على إياهما على نفسه ، و لو لم يفضلهما لم أفضلهما ، كفى بى أزرا أن أحب عليا ثم أخالف قوله . “

Sedangkan Abul Azhar Ahmad bin Azhar An Nisaburi mengatakan: aku pernah mendengar Abdurrazaq berkata: “Aku mengutamakan Syaikhain –yaitu Abu Bakar dan Umar- karena Ali menguatamakan mereka berdua di atas dirinya. Andai Ali tidak mengutamakan keduanya maka aku tidak mengutamakan mereka. Cukuplah celaan bagiku bila aku mencintai Ali kemudian menyelisihi pendapatnya. –selesai.

Subhanallah. Inilah potret satu dari sekian ulama Syi’ah yang hadistnya banyak tersebar dalam kitab-kitab rujukan Ahlussunnah seperti Shahihain dan sunan yang empat … adakah ulama Syi’ah hari ini yang berpendapat demikian? Inilah bukti bahwa Syi’ah tempo doeloe yang riwayatnya banyak terdapat dalam kitab-kitab hadist ahlussunnah memang sudah punah dan takkan pernah muncul lagi kecuali dalam khayalan HRS saja.

================

Riwayat Syi’ah dalam Shahihain 4

10 Desember 2013

Dalam tulisan saya sebelumnya, telah dijelaskan bahwa para perawi syi’ah yg ada dalam shahihain adalah orang-orang jujur, dan kalaupun ada diantara mereka yang sampai ke tingkat rafidhi, maka tetap saja mereka tidak sama dengan rafidhah hari ini; dan kalaupun ada yg sampai mencaci-maki sahabat Nabi, maka riwayat mereka dlm shahihain tidaklah berdiri sendiri, namun sekedar mutaba’at dan penguat bagi riwayat lainnya; sehingga sebenarnya yg menjadi pijakan adalah riwayat lain, bukan riwayat si Rafidhi tsb. Inilah yg difahami dari penjelasan Imam Adz Dzahabi dan Ibnu Hajar.

Dan saya berani mengajak Mubahalah kepada siapa saja yg bisa membuktikan bahwa dalam Shahihain terdapat hadits yg diriwayatkan oleh perawi syi’ah yg akidahnya spt syi’ah hari ini (rafidhah itsna ‘asyariyah, syi’ah khomeini, syi’ah hizbullat, syi’ah dajjaluddien laknat, dan semisalnya). Adapun dalam selain shahihain, maka tidak masuk dalam pembahasan, karena yg diterima semua haditsnya hanyalah shahihain menurut ijma’ kaum muslimin. Sedangkan yg lain bisa diterima bisa pula ditolak, tergantung keabsahan sanad dan matannya.

Kendatipun demikian, masih saja ada yg ingin membela syi’ah hari ini yg notabene adalah rafidhah alias itsna ‘Asyariyah, atau zanaadiqah (munafikin) berbaju muslim; dengan dalih bhw Ahlussunnah banyak meriwayatkan hadits dr orang-orang syi’ah, bahkan yg dijuluki Rafidhi sekalipun.

Mereka lantas mencontohkan spt ‘Abbad bin Ya’qub Ar Rawajini yg haditsnya tercantum dlm Shahih Bukhari. ‘Abbad bin Ya’qub memang seorang Rafidhi, namun banyak ahli hadits yg menganggapnya jujur dalam meriwayatkan hadits. Ini adalah tolok ukur penting yg tidak akan diabaikan oleh para ulama ahli hadits dari kalangan ahlussunnah. Pun demikian, Imam Bukhari tidak menjadikan hadits si ‘Abbad ini sebagai satu-satunya pijakan beliau, hal ini bisa dilihat jelas dengan mengutip hadits tersebut lengkap dgn sanadnya dalam Shahih Bukhari, yaitu sbb:

صحيح البخاري- طوق النجاة (9/ 156)

7534 – حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْوَلِيدِ ح و حَدَّثَنِي عَبَّادُ بْنُ يَعْقُوبَ الْأَسَدِيُّ أَخْبَرَنَا عَبَّادُ بْنُ الْعَوَّامِ عَنْ الشَّيْبَانِيِّ عَنْ الْوَلِيدِ بْنِ الْعَيْزَارِ عَنْ أَبِي عَمْرٍو الشَّيْبَانِيِّ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ الصَّلَاةُ لِوَقْتِهَا وَبِرُّ الْوَالِدَيْنِ ثُمَّ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Dalam kitab Tauhid, bab ke-48, hadits no 7534, Imam Bukhari mengatakan: “Sulaiman mengabarkan kepadaku, katanya: Syu’bah mengabarkan kepada kami, dari Al Walid (ح)[1]

‘Abbad bin Ya’qub Al Asadi juga mengabarkan kepada kami, katanya: ‘Abbad ibnul ‘Awwam mengabarkan kepada kami, dari Asy Syaibani, dari Al Walid ibnul ‘Aizaar (inilah titik temunya), dari Abu ‘Amru Asy Syaibani, dari Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu, bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Amalan apakah yg paling afdhal?”

“Shalat pada waktunya, berbakti kepada orang tua, kemudian Jihad fi sabilillah”, jawab Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Bila diperhatikan, maka dlm sanad tersebut Imam Bukhari meriwayatkan hadits pertama kali dari Sulaiman, yaitu Sulaiman bin Harb bin Bajiel Al Azdy yg merupakan salah seorang imam Ahlussunnah. Sulaiman bin Harb meriwayatkannya dari Syu’bah, yang juga meruapakan salah seorang imam Ahlussunnah. Syu’bah meriwayatkannya dari Al Walid, yaitu Al Walid ibnul ‘Aizaar bin Huraits Al ‘Abdy Al Kufy, yang tergolong tsiqah. Nah, sampai titik ini, sanadnya shahih dan perawinya tidak ada yg tersifati dengan bid’ah apa pun.

Barulah kemudian Imam Bukhari meriwayatkan hadits tsb dari jalur berbeda yg padanya terdapat Si Rafidhi ‘Abbad bin Ya’qub Ar Rawajini tsb. Artinya, keberadaan sanad yg kedua ini hanyalah sebagai mutaabi’ (pengikut) bukan sanad utama yg menjadi pijakan satu-satunya. Ini jelas sekali bagi orang yg faham musthalah hadits.

Lebih dari itu, matan hadits Ibnu Mas’ud ini sebelumnya telah diriwayatkan  oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya sebanyak dua kali, dengan sanad lain yg tidak ada padanya si perawi Rafidhi tsb.

Yang pertama ialah kitab Mawaqietus Shalah, bab yg keempat, no 527:

صحيح البخاري- طوق النجاة (1/ 112)

527 – حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ هِشَامُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ الْوَلِيدُ بْنُ الْعَيْزَارِ أَخْبَرَنِي قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَمْرٍو الشَّيْبَانِيَّ يَقُولُ حَدَّثَنَا صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ وَأَشَارَ إِلَى دَارِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي بِهِنَّ وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي.

Ini adalah hadits yg sama namun dengan sanad yg berbeda, Imam Bukhari meriwayatkannya dari Abul Walied Hisyam bin Abdil Malik -, dari Syu’bah, dari Al Walid ibnul ‘Aizaar dst.

Sedangkan yg kedua ialah pada kitab Al Jihad was Siyar, bab yg pertama, no 2782:

صحيح البخاري- طوق النجاة (4/ 14)

2782 – حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ صَبَّاحٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَابِقٍ حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ مِغْوَلٍ قَالَ سَمِعْتُ الْوَلِيدَ بْنَ الْعَيْزَارِ ذَكَرَ عَنْ أَبِي عَمْرٍو الشَّيْبَانِيِّ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى مِيقَاتِهَا قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَسَكَتُّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي.

Ini adalah hadits yg sama namun dengan sanad yg berbeda, Imam Bukhari meriwayatkannya dari Al Hasan bin Shabbah, dari Muhammad bin Sabiq, dari Malik bin Mighwal, dari Al Walid ibnul ‘Aizaar dst.

Dari sini, jelaslah bahwa riwayat ‘Abbad bin Ya’qub tidaklah menjadi hujjah dengan sendirinya, karena ia telah didahului oleh tiga sanad yg shahih yg semuanya tidak mengandung seorang syi’ah pun.

Bahkan dalam sanad yg kedua, guru langsung imam Bukhari adalah Al Hasan bin Shabbah, yg oleh Adz Dzahabi dinyatakan (أحد الأعلام، قال أحمد: ثقة، صاحب سنة، وقال أبو حاتم: صدوق له جلالة عجيبة ببغداد) artinya: “Salah seorang tokoh. Imam Ahmad mengatakan: Dia tsiqah dan seorang ahlussunnah. Sedangkan Abu Hatim mengatakan: Dia shaduq, dan memiliki kehormatan luar biasa di Baghdad”.[2]

Oleh karenanya, ketika membahas para perawi dlm Shahih Bukhari yg mendapat kritikan dari ulama lainnya –yg salah satunya adalah Si ‘Abbad ini-, Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan:

فتح الباري – ابن حجر (1/ 412(

عباد بن يعقوب الرواجني الكوفي أبو سعيد رافضي مشهور إلا أنه كان صدوقا وثقة أبو حاتم وقال الحاكم كان بن خزيمة إذا حدث عنه يقول حدثنا الثقة في روايته المتهم في رأيه عباد بن يعقوب وقال بن حبان كان رافضيا داعية وقال صالح بن محمد كان يشتم عثمان رضي الله عنه قلت روى عنه البخاري في كتاب التوحيد حديثا واحد مقرونا وهو حديث بن مسعود أي العمل أفضل وله عند البخاري طرق أخرى من رواية غيره

Abbad bin Ya’qub Ar Rawajini Al Kufi, Abu Said. Dia seorang Rafidhi yg terkenal, akan tetapi ia jujur (shaduq) dan dianggap tsiqah oleh Abu Hatim. Al Hakim mengatakan bahwa konon Ibnu Khuzaimah bila meriwayatkan hadits darinya mengatakan: “Seorang yg tsiqah dalam hal meriwayatkan, namun muttaham[3] dalam pemahamannya, yaitu Abbad bin Ya’qub mengabarkan kepada kami…”. Adapun Ibnu Hibban mengatakan: “Dia adalah seorang rafidhi yg menyerukan ajarannya”. Sedangkan Shalih bin Muhammad mengatakan: “Dia konon mencaci Utsman radhiyallaahu ‘anhu”.

Setelah menukil berbagai pendapat tadi, Ibnu Hajar lantas berkomentar: “Al Bukhari meriwayatkan sebutir hadits darinya dalam kitab at Tauhid, secara maqrun (alias dirangkai dgn perawi lainnya), yaitu hadits Ibnu Mas’ud tentang amal apakah yg paling afdhal. Dan hadits Ibnu Mas’ud ini memiliki jalur-jalur lainnya dalam Shahih Bukhari, dari riwayat selain ‘Abbad.[4]

Dari sini, jelaslah bahwa riwayat ‘Abbad bin Ya’qub tidak berdiri sendiri. Dan ‘Abbad –walaupun dianggap rafidhi- tidaklah sama dengan rafidhah hari ini yg tukang dusta dan ahli taqiyyah (bermuka dua). Ia walaupun mencaci Utsman, tetap tidak keluar dari Islam, karena tidak memiliki akidah yg sama dengan syi’ah hari ini yg mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi.

Jadi, separah apa pun julukan rafidhi yg disematkan kepada para perawi hadits dalam kitab-kitab utama rujukan Ahlussunnah, spt Al Kutubut Tis’ah (Shahihain, Sunan yg empat, plus Muwaththa’ Malik, Musnad Ahmad, dan Sunan Ad Darimi), tetap saja mrk tidak dianggap sbg orang-orang murtad karena meyakini bhw Al Qur’an yg ada tidak otentik lagi, atau meyakini kafirnya para sahabat Nabi, atau meyakini kema’shuman 12 Imam sebagaimana yg diyakini oleh Syi’ah hari ini.

Jelas ini sesuatu yg mustahil ditemukan pada para perawi yg dicap rafidhi tersebut. Sebab Imam Nasa’i adalah Imam yg paling akhir wafatnya dari para penyusun Al Kutubut Tis’ah tadi. Beliau wafat tahun 303 H. Berarti guru-gurunya adalah orang-orang yg wafat sebelum beliau. Sedangkan syi’ah yg berkembang hari ini adalah Syi’ah itsna ‘Asyariyah yg meyakini kema’shuman 12 Imam, dan berikut ini adalah silsilah ke-12 imam Syi’ah beserta tahun kematian mereka masing-masing[5]:

  1. أميرُ المؤمنين عليُّ بنُ أبي طالب (ت/ 40 هـ) وقبره في النجف الاَشرف . 2. الاِمامُ الحسَنُ بن علي (المجتبى) (ت/50 هـ) وقبره في البقيع. 3. الاِمامُ الحسين بن علي سيدُ الشهداء (ت/ 61 هـ) وقبره في كربلاء. 4. الاِمامُ عليُّ بن الحسينُ بن علي زينُ العابدين (ت/ 94 هـ) وقبره في البقيع. 5. الاِمامُ محمدُ بن علي باقرُ العلوم (ت/114 هـ) وقبره في البقيع. 6. الاِمامُ جعفرُ بنُ محمد الصادقُ (ت/ 148 هـ) وقبره في البقيع. 7. الاِمامُ موسى بنُ جعفر الكاظمُ (ت/ 183 هـ.) وقبره في الكاظمية. 8. الاِمامُ عليُّ بن موسى الرضا (ت/ 203 هـ. ق) وقبره في خراسان. 9. الاِمامُ محمدُ بن علي الجوادُ (ت /220 هـ ق) وقبره في الكاظمية. 10. الاِمامُ عليُّ بن محمد الهادي (ت /254 هـ ق) وقبره في سامراء. 11. الاِمامُ الحسنُ بنُ علي العسكريُ (ت/ 260 هـ. ق) وقبره في سامراء. 12. الاِمامُ محمدُ بنُ الحسن المعروف بالمهديِّ، والحجة ـ عجَّل الله فرجَه الشريف ـ وهو الاِمامُ الثاني عشر، وهو حيٌّ حتى يظهر بأمر الله .
  1. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (w. 40 H), kuburannya di Najaf.
  2. Imam Al Hasan bin Ali (Al Mujtaba) (w. 50 H), kuburannya di Baqi’.
  3. Imam Al Husein bin Ali, Sayyidusy Syuhada’ (w. 61 H), kuburannya di Karbala’.
  4. Imam Ali bin Husein Zainul ‘Abidien (w. 94 H), kuburannya di Baqi’.
  5. Imam Muhammad bin Ali (Al Baqir) (w. 114 H), kuburannya di Baqi’.
  6. Imam Ja’far bin Muhammad (Ash Shadiq) (w. 148 H), kuburannya di Baqi’.
  7. Imam Musa bin Ja’far (Al Kazhim) (w. 183 H), kuburannya di Al Kazhimiyah.
  8. Imam Ali bin Musa (Ar Ridha) (148- 203 H), kuburannya di Khurasan.
  9. Imam Muhammad bin Ali (Al Jawwad) (195- 220 H), kuburannya di Al Kazhimiyah.
  10. Imam Ali bin Muhammad (Al Hadi) (212- 254 H), kuburannya di Samurra’.
  11. Imam Al Hasan bin Ali Al Askari (232- 260 H), kuburannya di Samurra’.
  12. Imam Muhammad bin Hasan (Al Mahdi) (yg menurut Syi’ah berumur 5 tahun ketika Bapaknya meninggal, dan akan muncul di akhir zaman nanti) (255-? H).

Nah, bila diperhatikan, maka Imam yg kesebelas ini baru lahir tahun 232 H, sedangkan Imam terakhir mereka baru lahir th 255 H, ini semua menurut literatur syi’ah sendiri[6]. Sedangkan mayoritas perawi yg dicap syi’ah atau bahkan rafidhah sekalipun -yg terdapat dalam kitab-kitab hadits Ahlussunnah- sudah banyak yg wafat sblm tahun 255 H. Contohnya ‘Abbad bin Ya’qub Ar Rawajini yg wafat th 250 H. Jadi, mana mungkin dia memiliki akidah yg sama dengan Rafidhah hari ini (yg meyakini kema’shuman 12 Imam, termasuk Al Mahdi), sedangkan dia keburu mati sblm imamnya dilahirkan???

Contoh lainnya ialah Sulaiman bin Qarm bin Mu’adz, Abu Dawud Adh Dhabbi yg menurut Adz Dzahabi wafat antara tahun (161-170 H).[7]

Orang ini juga dianggap syi’ah oleh sejumlah ahli hadits, seperti Abu Dawud yg mengatakan (كان يتشيع)  “Dia konon berpemahaman syi’ah”. Demikian pula oleh Ibnu ‘Adiy yg mengatakan (وتدل صورة سليمان هذا على أنه مفرط فى التشيع) “Gambaran akan pribadi Sulaiman ini menunjukkan bahwa ia kebablasan dalam tasyayyu’-nya”. Sedangkan Al Hakim mengatakan bahwa (غمزوه بالغلو فى التشيع) “Mereka mengritiknya karena sikap ghuluw-nya dalam tasyayyu’”. Adapun Ibnu Hibban, maka beliau lah satu-satunya yg mencap Sulaiman bin Qarm sebagai Rafidhi ekstrim dengan mengatakan (كان رافضيا غاليا فى الرفض) “Dia adalah seorang rafidhi yg ekstrim”.

Perlu diketahui bahwa Ibnu Hibban dikenal sbg ulama yg terlalu keras dalam mengritik para perawi. Namun kalaulah Sulaiman bin Qarm ini kita anggap sebagai Rafidhi, maka tetap saja dia bukanlah Rafidhah Itsna ‘Asyariyah yg meyakini kema’shuman 12 Imam tsb. Sebab dia sudah keburu wafat sebelum Imam yg kesembilan hingga kedua belas lahir ke dunia ini.

Lagi pula, hadits Sulaiman bin Qarm dalam Shahih Muslim juga tidak menjadi pijakan utama, namun sekedar sebagai mutabi’ saja. Berikut ini penjelasannya:

صحيح مسلم – عبد الباقي (4/ 2034)

# 2640 حدثنا عثمان بن أبي شيبة وإسحاق بن إبراهيم قال إسحاق أخبرنا وقال عثمان حدثنا جرير عن الأعمش عن أبي وائل عن عبد الله قال جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال * يا رسول الله كيف ترى في رجل أحب قوما ولما يلحق بهم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم المرء مع من أحب \ 1 \ # 2640 حدثنا محمد بن المثنى وبن بشار قالا: حدثنا بن أبي عدي ح وحدثنيه بشر بن خالد أخبرنا محمد يعنى بن جعفر كلاهما عن شعبة ح وحدثنا بن نمير حدثنا أبو الجواب حدثنا سليمان بن قرم جميعا عن سليمان عن أبي وائل عن عبد الله عن النبي صلى الله عليه وسلم * بمثله

Dalam Shahihnya (kitab Al Birr wash Shilah, bab ke-50, hadits no 2640), Imam Muslim meriwayatkan hadits dari dua jalur utama. Jalur yg pertama dengan rangkaian perawi sbb:

Utsman bin Abi Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim, dari Jarir, dari Al A’masy, dari Abu Wa-il, dari Abdullah (bin Mas’ud), bahwa Nabi bersabda:… al hadits.

Sedangkan jalur kedua merupakan kumpulan dari 3 sanad, yaitu:

  1. Muhammad bin Mutsanna dan Muhammad bin Basysyar, dari Ibnu Abi ‘Adiy (ح)
  2. Bisyir bin Khalid, dari  Muhammad bin Ja’far; keduanya (yakni Ibnu Abi ‘Adiy dan Muhammad bin Ja’far) meriwayatkannya dari Syu’bah (ح)
  3. Ibnu Numeir, dari Abul Jawab, dari Sulaiman bin Qarm; semuanya (artinya Syu’bah dan Sulaiman bin Qarm) dari Sulaiman (Al A’masy), dari Abu Wa-il, dst…. sebagaimana yg sebelumnya.

Nah, jelaslah bahwa Sulaiman bin Qarm sekedar mutabi’ (pengikut) saja dan tidak menjadi pijakan Imam Muslim dalam meriwayatkan hadits di atas. Sebab Imam Muslim menyandingkan riwayat Sulaiman bin Qarm tsb dengan riwayat dua perawi lainnya yg bukan syi’ah, yaitu Jarir (bin Abdul Hamid Adh Dhabbi) dan Syu’bah bin Hajjaj.

Mungkin sementara ini dulu yg bisa saya sampaikan terkait syubhat yg sering dilontarkan pihak syi’ah, bahwa orang-orang Rafidhah yg ada dlm kitab-kitab hadits Ahlussunnah adalah spt Rafidhah hari ini, sehingga bila Rafidhah hari ini dianggap kafir, maka konsekuensinya ada orang kafir dalam kitab-kitab hadits Ahlussunnah…

Semoga penjelasan ini dapat membuka mata mereka, dan menepis syubhat dari hati sebagian Ahlussunnah yg –mungkin- termakan syubhat murahan kaum syi’ah tsb.

Kesimpulannya:

Perawi yg sering dituding sebagai syi’ah/syi’ah ekstrim oleh sebagian ahli hadits, tidak keluar dari kondisi berikut:

Pertama: Tudingan tsb tidak benar dan tidak terbukti, sehingga otomatis kesyi’ahan si perawi tidak bisa diterima.

Kedua: Tudingan tsb benar, akan tetapi ia bukanlah syi’ah yg meyakini ke-imaman 12 orang yg ma’shum, atau meyakini kafirnya Abu Bakar dan Umar, atau meyakini ketidakotentikan Al Qur’an; sebagaimana syi’ah hari ini. Karena konsekuensi dari keyakinan tsb mereka harus dikafirkan dan tidak mungkin hadits seorang kafir bisa diterima, apa pun alasannya.

Ketiga: Tudingan tsb masih diperselisihkan kebenarannya. Alias menurut sebagian ulama si perawi memang demikian, namun menurut yg lain tidaklah demikian. Kalaulah Imam Bukhari/Muslim termasuk pihak yg meragukan keabsahan tudingan tsb, maka tidak bisa dikatakan bhw mereka meriwayatkan dari Syi’ah. Namun bila keduanya meyakini kebenaran tudingan tsb –dan ini perlu pembuktian dari ucapan mereka sendiri-, maka tetap saja ia bukanlah syi’ah yg kita kenal hari ini, dan hal tsb telah ditegaskan oleh para ulama dan terbukti secara ilmiah dlm tiga artikel sblmnya.

Ini juga berlaku bagi mereka yg dijuluki Rafidhi oleh sebagian salaf, yaitu yg sampai memaki sebagian sahabat; akan tetapi ahlussunnah tetap mensyaratkan adanya sifat jujur pada diri si perawi tsb, yg hari ini sudah tidak ada lagi. Kemudian kalaupun ada di antara para rafidhah tadi yg haditsnya termaktub dalam Shahihain, maka terbukti bahwa hadits mrk bukanlah pijakan satu-satunya, namun sekedar mutabi’ yg keberadaannya atau ketidak beradaannya tidak akan mempengaruhi keabsahan hadits tsb, menurut kaidah musthalah hadits.

Di samping itu, penting untuk kita ketahui bahwa penggunaan julukan Rafidhi oleh para salaf memiliki makna khusus yg berbeda dengan penggunaan ulama yang datang kemudian. Hal ini bisa difahami dari penjelasan Ibnu Hajar dlm Muqaddimah Fathul Baarinya (1/459) sbb:

والتشيع محبة عليٍّ وتقديمه على الصحابة. فمن قدمه على أبي بكر وعمر فهو غال في تشيعه، ويطلق عليه رافضي؛ وإلا فشيعي، فإن انضاف إلى ذلك السب أو التصريح بالبغض فغال في الرفض. وإن اعتقد الرجعة إلى الدنيا فأشد في الغلو.

Tasyayyu’ artinya mencintai Ali dan mendahulukannya di atas para sahabat. Barang siapa mendahulukan Ali di atas Abu Bakar dan Umar, maka dia ekstrim dalam tasyayyu’nya, dan disebut juga Rafidhi. Namun bila tidak demikian, maka disebut Syi’i. Bila disamping itu dia juga mencaci dan menyatakan kebenciannya terhadap para sahabat, maka dia ekstrim dalam kerafidhahannya. Dan bila ia meyakini raj’ah (hidup kembalinya para imam utk melampiaskan dendam kpd musuh2-nya), berarti ia lebih ekstrim lagi.

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa perawi yg tergolong syi’ah ada 4 macam:

  1. Syi’ah biasa: yaitu yg sekedar melebihkan Ali di atas para sahabat, tanpa mencaci maki seorang pun dari mereka.
  2. Syi’ah ekstrim/Rafidhah: yaitu yg melebihkan Ali di atas Abu Bakar dan Umar, tanpa mencaci maki mereka berdua.
  3. Rafidhah ekstrim: yaitu yg melebihkan Ali di atas mereka berdua dan mencaci maki para sahabat.
  4. Rafidhah super ekstrim: yang meyakini Ali akan kembali hidup untuk melampiaskan dendam kpd musuh-musuhnya, seperti Abu Bakar, Umar, Aisyah, dan Hafshah.

Inilah yg dapat difahami dari klasifikasi Al Hafizh Ibnu Hajar ttg penggunaan istilah syi’ah/tasyayyu’ dan rafidhah yg sering dipakai para ahli hadits di masa salaf. Kendatipun demikian, kita mendapati adanya golongan kelima yg disebut berpemahaman tasyayyu’, yaitu yg tasyayyu’nya sangat ringan seperti Abdurrazzaq bin Hammam As Shan’ani, yg bahkan tidak melebihkan Ali di atas Utsman. Dan banyak pula perawi-perawi lain yg seperti itu.

Perlu diketahui pula, bahwa tidak ada satu riwayatpun dalam Shahihain dari jalur perawi yg disepakati sebagai Rafidhi, yang riwayatnya mendukung bid’ah mereka. Akan tetapi yg kita jumpai hanyalah riwayat-riwayat dalam masalah lain yg tidak ada sangkut pautnya dengan penyimpangan akidah mereka. Dalam hal ini, Imam Adz Dzahabi menjelaskannya dengan sangat ilmiah sbb:

مسألة كبيرة، وهي: القدري والمعتزلي والجهمي والرافضي، إذا عُلم صدقُه في الحديث وتقواه، ولم يكن داعياً إلى بدعته، فالذي عليه أكثر العلماء قبول روايته، والعمل بحديثه. وتردّدوا في الداعية، هل يؤخذ عنه؟ فذهب كثير من الحفاظ إلى تجنب حديثه وهجرانه، وقال بعضهم: إذا علِمنا صدقَه وكان داعية، ووجدنا عنده سُنَّةً تفرد بها، فكيف يسوغ لنا ترك تلك السنة؟ فجميع تصرفات أئمة الحديث تُؤذِن بأن المبتدع إذا لم تُبِح بدعتُه خروجَه من دائرة الإسلام، ولم تُبِح دمَه، فإن قبول ما رواه سائغ. وهذه المسألة لم تتبرهن لي كما ينبغي، والذي اتضح لي منها أن من دخل في بدعةٍ، ولم يُعدَّ من رؤوسها، ولا أمعن فيها، يقبل حديثه. سير أعلام النبلاء  7/154

Ada sebuah masalah besar, yaitu: Seorang penganut faham Qadariyah, Mu’tazilah, Jahmiyah, danRafidhah; jika ia diketahui sebagai orang yg jujur dalam berkata, dan memiliki ketakwaan; dan ia bukanlah da’i yg mengajak orang lain kepada bid’ahnya; maka menurut mayoritas ulama riwayatnya dapat diterima dan haditsnya boleh diamalkan. Akan tetapi mayoritas ulama tersebut ragu terhadap mereka yg tergolong da’i-da’i ahli bid’ah, apakah boleh diambil haditsnya? Banyak dari huffazhul hadits yang memilih untuk menjauhi dan meninggalkan riwayat mereka. Sedangkan sebagian lainnya mengatakan: Bila kami telah mengetahui kejujurannya dan ia tergolong da’i ahli bid’ah, dan padanya terdapat suatu sunnah (hadits) yang tidak ada pada selainnya; maka bagaimana bagaimana mungkin kita boleh menerlantarkan sunnah tersebut?

Jadi, sikap seluruh imam ahli hadits menunjukkan bahwa selama kebid’ahan si perawi tidak mengeluarkannya dari Islam dan tidak menghalalkan darahnya; maka riwayatnya tetap boleh diterima.

Masalah ini masih belum terbukti secara memuaskan bagiku, akan tetapi yg jelas bagiku dalam masalah ini ialah: bahwa siapa saja yg terjerumus dalam bid’ah, namun tidak dianggap sebagai tokohnya, dan tidak terlalu menggeluti bid’ahnya; maka haditsnya bisa diterima.[8]

Keempat: Boleh jadi tudingan bid’ah tersebut memang benar, akan teapi si perawi telah bertaubat darinya. Contohnya ialah cap rafidhi yg disematkan kpd perawi Shahih Muslim yg bernama Harun bin Sa’ad Al ‘Ijly. Hal ini dinyatakan oleh As Saaji (w. 507 H), Ibnu Hibban (w. 354 H) dgn ungkapan: (كان يغلو في الرفض) “Dia konon bersikap ekstrim dalam kerafidhahannya”. Sedangkan Imam Ahmad mengatakan (أظنه يتشيع) “Kukira dia bertasyayyu’”. Sedangkan Ibnu Ma’ien menganggapnya (كان من غلاة الشيعة) Dia termasuk syi’ah ekstrim.[9]

Akan tetapi tuduhan bahwa dia seorang rafidhi ekstrim tsb dinafikan oleh Adz Dzahabi yg mengatakan:

وَقَدْ شَذَّ ابْنُ حِبَّانَ – كَعَوَائِدِهِ – فَقَالَ: لا تَحِلُّ الرِّوَايَةُ عَنْهُ، كَانَ غَالِيًا فِي الرَّفْضِ، وَهُوَ رَأْسُ الزَّيْدِيَّةِ مِمَّنْ كَانَ يَعْتَكِفُ عِنْدَ خَشَبَةِ زَيْدٍ الَّتِي هُوَ مَصْلُوبٌ عَلَيْهَا وَكَانَ دَاعِيَةً إِلَى مَذْهَبِهِ.

قُلْتُ: لَمْ يَكُنْ غَالِيًا فِي رَفْضِهِ، فَإِنَّ الرَّافِضَةَ رَفَضَتْ زَيْدَ بْنَ عَلِيٍّ وَفَارَقَتْهُ، وَهَذَا قَدْ رَوَى لَهُ مُسْلِمٌ.

Ibnu Hibban berpendapat nyeleneh –sebagaimana biasanya-, dengan mengatakan: “Harun ini tidak halal riwayatnya. Dia bersikap ekstrim dalam kerafidhahannya, dan dia adalah tokoh Zaidiyah yg kerap beri’tikaf di tiang kayu tempat penyaliban Zaid bin Ali, dan dia tergolong da’i-nya zaidiyah”.

Adz Dzahabi lantas berkomentar: “Ia bukanlah seorang yg ekstrim dalam kerafidhahannya, sebab kaum Rafidhah justru menolak (keimaman) Zaid bin Ali, dan memisahkan diri darinya. Sedangkan orang ini haditsnya diriwayatkan oleh Muslim”.[10]

Di samping itu, kita mendapati bahwa Qutaibah (w. 276 H) –yang hidup sebelum Ibnu Hibban dan As Saaji dan lebih dekat dengan zaman si perawi,  sehingga lebih mengetahui tentangnya-, telah menukil sebuah sya’ir yang disusun oleh Harun bin Sa’ad Al ‘Ijly tsb, yang menunjukkan bahwa ia telah bertaubat dari kerafidhahannya, yaitu sbb:

ألم تر أن الرافضين تفرقوا … فكلهم في جعفر قال منكرا

فطائفة قالوا إمام ومنهم … طوائف سمته النبي المطهرا

ومن عجب لم أقضه جلد جفرهم … برئت إلى الرحمن ممن تجفرا

برئت إلى الرحمن من كل رافض … بصير بباب الكفر في الدين أعورا

Tidakkah kau perhatikan bahwa kaum rafidhah telah berpecah

                        Dan mereka semua mengatakan kemunkaran terhadap Ja’far

Ada kelompok yang menganggapnya sebagai Imam

                        Dan diantara mereka menyebutnya sebagai Nabi yg suci

Diantara keajaiban yg tak habis kupikirkan adalah Jilid Jafr mereka[11]

                        Aku berlepas diri kepada Allah dari yg meyakini Jafr tsb[12]

Aku berlepas diri kepada Allah dari setiap rafidhi

                        Yg buta sebelah mengenai pintu kekafiran terhadap dien.

Bait-bait ini jelas menunjukkan bahwa ia telah berlepas diri dari keyakinan kaum Rafidhah dan menyifati apa yg mereka nisbatkan kepada Ja’far As Shadiq sebagai kemunkaran. Karenanya, Ibnu Hajar mengatakan ttg Harun ini sbb: (صدوق رمي بالرفض، ويقال: رجع عنه) “Dia shaduq dan dicap sebagai rafidhi, dan dikatakan bhw ia telah rujuk darinya”.[13]

Lagi pula, Harun bin Sa’ad Al ‘Ijly digolongkan oleh Adz Dzahabi kedalam mereka yg wafat antara tahun 141-150 H. Konsekuensinya, dia wafat sebelum lahirnya imam syi’ah yg ke-9, sehingga secara logika ia tidak mungkin berkeyakinan spt syi’ah imamiyah itsna ‘asyariyah hari ini, lha wong imam-imam yg ada di zamannya saja belum genap berjumlah 12!!

Di samping itu, satu-satunya hadits yg diriwayatkan oleh Imam Muslim dlm Shahihnya, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dgn bid’ah syi’ah, sebab hadits tsb diriwayatkan dari jalur Humeid bin Abdurrahman, dari Hasan bin Shalih, dari Harun bin Sa’ad, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah secara marfu’ dgn lafazh:

ضِرْسُ الْكَافِرِ، أَوْ نَابُ الْكَافِرِ، مِثْلُ أُحُدٍ وَغِلَظُ جِلْدِهِ مَسِيرَةُ ثَلَاثٍ

Geraham atau taring seorang kafir (di Neraka) besarnya seukuran gunung Uhud, sedangkan ketebalan kulitnya sejauh perjalanan tiga hari.[14]

Anehnya lagi, Ibnu Hibban yg mengatakan bhw Harun bin Sa’ad ini tidak halal riwayatnya, juga menggolongkannya sebagai perawi yg tsiqah dalam kitab Tsiqat-nya[15], dan bahkan meriwayatkan hadits ini dari jalur yg sama dalam Shahihnya (16/532-no 7487), sbb:

7487 – أخبرنا أحمد بن علي بن المثنى، قال: حدثنا إسحاق بن [ص:533] إبراهيم بن أبي إسرائيل المروزي، قال: حدثنا حميد بن عبد الرحمن، عن الحسن بن صالح، عن هارون بن سعد، عن أبي حازم، عن أبي هريرة، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  «ضرس الكافر، أو ناب الكافر مثل أحد، وغلظ جلده مسيرة ثلاث»

Nah, ini menunjukkan bahwa sikap Ibnu Hibban ini memiliki dua kemungkinan:

Pertama, beliau lupa dengan perkataannya sehingga terjadilah kontradiksi.

Kedua, beliau berubah pikiran dari yg semula menganggap riwayatnya tidak halal, lalu men-tsiqah-kannya dan meriwayatkan haditsnya dlm kitab Shahih, dan inilah yg nampaknya lebih rajih karena didukung dengan periwayatan haditsnya.

Wallaahu a’lam.

Sufyan Fuad Baswedan

Madinah, 8 Shafar 1435 H.

________________________
Endnotes

[1] Ini adalah simbol yg digunakan oleh ahli hadits untuk pindah dari satu sanad ke sanad berikutnya pada hadits yg sama. Setelah simbol ha’ ini, maka perawi berikutnya adalah guru langsung dari si penulis kitab, yg dalam hal ini adalah Imam Bukhari rahimahullah.

[2] Lihat: Al Kaasyif no 1038.

[3] Secara bahasa artinya tertuduh, dan di sini maksudnya tertuduh sbg ahli bid’ah atau orang sesat.

[4] Hadyus Saari muqaddimah Fathul Baari 1/412.

[5] Nama-nama beserta tahun wafat mereka saya ambil dari bbrp situs syi’ah, salah satunya adalah:http://www.imamhussain.org/howseholdd/6vie.html dan yg lainnya.

[6] Lihat di: http://www.almuwail.com/alaskarysera.htm

[7] Lihat: Tariekh Al Islam 4/400.

[8] Dinukil dari Siyar A’laamin Nubala’ (7/154).

[9] Lihat biografinya dlm kitab: Tahdziebut Tahdzieb dan Ikmal Tahdziebul Kamal.

[10] Dinukil dari Taariekhul Islam (3/997).

[11] Dalam kitab Al Irsyad (hal 247), Al Ihtijaj (2/372), Kasyful Ghummah (2/381), dan literature syi’ah lainnya disebutkan sbb:

عن الصادق عليه السلام: علمنا غابرٌ ومزبورٌ ونَكْتٌ في القلوب ونَقْرٌ في الأسماع. وإن عندنا الجفر الأحمر والجفر الأبيض ومصحف فاطمة عليها السلام. وإن عندنا الجامعة فيها جميع ما يحتاج الناس إليه. فسئل عن تفسير هذا الكلام فقال: أما الغابر فالعلم بما يكون، وأما المزبور: فالعلم بما كان، وأما النكت في القلوب فهو الإلهام والنقر في الأسماع: حديث الملائكة، نسمع كلامهم ولا نرى أشخاصهم، وأما الجفر الأحمر: فوعاء فيه سلاح رسول الله صلى الله عليه وآله، ولن يخرج حتى يقوم قائمنا أهل البيت، وأما الجفر الأبيض: فوعاء فيه توراة موسى وإنجيل عيسى وزبور داود وكتب الله الأولى، وأما مصحف فاطمة عليها السلام ففيه ما يكون من حادث، وأسماء كل من يملك إلى أن تقوم الساعة. وأما الجامعة: فهي كتاب طوله سبعون ذراعاً أملاه رسول الله صلى الله عليه وآله من فلق فيه وخط علي بن أبي طالب عليه السلام بيده، فيه والله جميع ما يحتاج الناس إليه إلى يوم القيامة، حتى أن فيه أرش الخدش والجلدة ونصف الجلدة.

Dari Ja’far As Shadiq AS katanya: “Kami diajari Ghabir, Mazbuur, Naktun fil quluub dan Naqrun fil asmaa’. Dan kita memiliki Jafr Merah, Jafr Putih, dan Mushaf Fatimah. Kita juga memiliki Al Ja-mi’ah yang di dalamnya ada semua yg dibutuhkan manusia”. Beliau ditanya ttg penafsiran dari ucapan tsb, maka jawabnya:

Ghabir adalah ilmu tentang apa yang akan terjadi.

Mazbuur adalah ilmu tentang apa yg telah terjadi.

Naktun fil quluub adalah ilham.

Naqrun fil asmaa’ adalah pembicaraan para malaikat. Kami dapat mendengar ucapan mereka walau tidak melihat sosok mereka.

Jafr merah adalah suatu wadah yg berisi senjata Rasulullah dan ahli bait beliau.

Jafr putih adalah suatu wadah yg berisi Tauratnya Musa, Injilnya Isa, Zaburnya Dawud, dan kitab-kitab Allah yg terdahulu.

Mushaf Fatimah berisi peristiwa2 yg akan terjadi, dan nama-nama setiap orang yg akan berkuasa hingga hari kiamat.

Al Ja-mi’ah adalah sebuah kitab sepanjang 70 hasta yang didiktekan oleh Rasulullah SAW, dan ditulis oleh Ali AS. Demi Allah, padanya terdapat semua yg dibutuhkan manusia hingga hari kiamat, termasuk denda bagi yg melukai, dan bagi sekali cambukan dan setengah kali cambukan.

Dicopas dr situs syi’ah: http://www.al-shia.org/html/ara/books/lib-hadis/mahdi-76/fs9_2.htm

[12] Disebutkan oleh Ibnu Qutaibah dlm Ta’wil Mukhtaliful Hadits hal 71.

[13] Taqribut Tahdzieb no 7227.

[14] HR. Muslim no 2851.

[15] Lihat: Ats Tsiqaat (7/579, biografi nomor 11557).

===========================

Bukhari Meriwayatkan dari Perawi Syi’ah?

oleh Anung Al Hamat

Ustad Anung Al Hamat

Ustad Anung Al Hamat

Pada tanggal 1 September 2013 ketika penulis menjadi salah satu narasumber dalam acara bedah buku di Masjid Baitul Makmur Solo Baru Jateng, ada salah satu peserta bedah buku yang mengajukan pertanyaan; Apakah Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari kalangan Syi’ah? Dan beberapa hari kemudian penulis mendapat SMS mengajukan pertanyaan yang hampir sama permasalahannya yaitu benarkah di antara para perawi Imam Bukhari ada kalangan Syi’ah? Rupanya permasalahan ini perlu mendapat tanggapan dan inilah latar belakang perlunya permasalahan ini diangkat sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh khalayak pembaca.

Jika yang dimaksud dengan perawi syi’ah di sini adalah perawi yang mencela, membenci dan mengkafirkan Abu Bakar dan Umar sebagaimana yang ada dalam statemen-statemen mereka dalam buku-bukunya. Maka perawi tersebut harus ditolak dan perawi tersebut tidak akan didapatkan baik dalam Shahih Bukhari maupun Shahih Muslim.

Ibn Hajar berkata; “(perawi) yang kesyi’ah-syi’ahan menurut pemahaman ulama terdahulu adalah meyakini Ali bin Abi Thalib lebih utama dibandingkan dengan Utsman bin Affan, dalam peperangannya Ali adalah yang benar dan lawannya yang keliru dengan tetap meyakini kekhilafahan Abu bakar dan Umar. Atau dari mereka ada yang meyakini bahwa Ali adalah sosok yang terbaik sesudah Rasulullah saw. Jika keyakinan tersebut berangkat dari sikap seorang perawi yang wara’, agamis, jujur dan mujtahid maka riwayatnya tidak ditolak. Terlebih perawi tersebut tidak mengajak kepada bid’ahnya. Adapun definisi tasyayyu’ (kesyi’ah-syi’ahan) dalam versi ulama generasi akhir adalah murni penolakan terhadap para khalifah; Abu Bakar, Umar dan Utsman. Maka periwayatannya tidak bisa diterima’. (Tahdzib at Tahdzib 1/18).

Imam Dzahabi berkata; “Bid’ah itu ada dua jenis; bid’ah kecil seperti ekstrimnya tasyayyu’ (kesyi’ah-syi’ahan) atau bisa juga kesyi’ah-syi’ahan yang tidak ekstrim.   Maka hal ini banyak terjadi pada kalangan tabi’in dan tabi’ tabi’in, akan tetapi mereka tetap merupakan sosok yang agamis, wara’ dan jujur. Jika hadits mereka ditolak maka akan banyak yang hilang dari hadits-hadits nabi saw dan tentunya ini merupakan kerusakan yang besar.

Kemudian yang kedua adalah bid’ah yang besar seperti menolak kekhilafahan Abu Bakar dan Umar secara total, bersikap ekstrim dan melaknat keduanya. Maka periwayatannya tidak bisa menjadi hujjah dan tidak ada kemuliaan bagi mereka. Kalangan ini menjadikan dusta sebagai syi’arnya dan taqiyah serta kemunafikan sebagai selimutnya. Bagaimana bisa keadaan mereka yang seperti ini bisa diterima. Jelas tidak bisa. Kalangan Syi’ah ekstrim pada masa dulu adalah kalangan yang memperbincangkan dan mencela Utsman, Zubair, Thalhah, Mu’awiyah serta kalangan yang berseteru dengan Ali radhiallahu ‘anhu.

Adapun Syi’ah ekstrim pada masa kini adalah kalangan yang mengkafirkan para sahabat tersebut dan menolak kekhilafahan Abu Bakar dan Umar. Maka ini merupakan murni kesesetan”. (Mizan al I’tidal; 1/5-6). Selain menyebutkannya dalam Mizan al I’tidal, Imam Dzahabi menyebutkannya agak panjang lebar dalam bukunya yang lain yaitu Siyar A’lam an Nubala.

Jika yang dimaksud perawi syi’ah itu adalah kalangan yang mengutamakan Ali atas Utsman atau atas Abu Bakar dan Umar –radhiallahu ‘anhu- sekalipun tanpa mencela serta tetap menerima kekhilafan mereka dan tidak mengkafirkan mereka. Maka akan ditemukan hadits mereka dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Periwayatan mereka diterima selama mereka dikenal dengan sosok yang jujur, hafal dan amanah. Ibn Hajar sendiri sudah menyusun dan menyebutkan nama-nama perawi Bukhari yang tertuduh Syi’ah dalam kitabnya ‘al Hadyu as Sari Muqaddimah fath al Baari’. Sebuah buku sebagai pengantar dalam memahami Syarh Shahih Bukhari.

Begitu juga dengan para penulis kontemporer yang telah menulis buku tentang konsep Bukhari dan Muslim dalam berinteraksi dengan para perawi syi’ah.   Di antara judul buku yang bisa dijadikan referensi adalah;

a. Konsep Imam Bukhari Dalam Periwayatannya Dari Ahli Bid’ah Dalam Bukunya Al Jami’ as Shahih; Syi’ah Sebagai Sampel. Karya Karimah Sudani. Diterbitkan oleh Maktabah ar Rusyd Riyad.

b. Konsep Bukhari-Muslim Dalam Periwayatannya Dari Kalangan Syi’ah, Uniiversitas Alu al Bait, 2000.

c. Konsep Mengkritik Menurut Ahli Hadits karya Muhammad al umari, Dar an Nafais, Amman, 2000. Judul buku yang sama bisa juga dilihat dalam buku karya Akram al Umari.

Dengan demikian para ulama terlebih khusus Imam Bukhari masih meriwayatkan dari ulama yang tasyayyu’ tentunya selama mereka jujur, hafal, wara’ dan amanah. Hal ini mencerminkan sikap para ulama kita yang mau mengambil kebenaran dari mana saja datangnya selama sesuai dengan kaidah-kaidah kebenaran.

Untuk memperkuat pernyataan ini bisa dilihat sosok yang bernama Ubaidullah bin Musa bin Badzam (w 219H). Dalam mengomentari kondisi beliau, Imam Dzahabi berkata; Beliau Tsiqah, salah seorang tokoh meskipun di atas tasyayyu’ dan kebid’ahanya”. Ibn Hajar berkata; Beliau tsiqah dan sosok yang tasyayyu’ (kesyi’ah-syi’ahan). Dalam pernyataan lainnya; Termasuk pembesar di antara guru-guru Bukhari. Beliau mendengar dari sebagian ulama yang belum dikeluarkan oleh Bukhari. Abu Hafs Umar bin Syahin dikenal dengan sosok yang sangat ketat dan teliti dalam memberikan penilaian, beliau menyatakan; “(Ubaidullah bin Musa) adalah sosok yang tsiqah”.

Ibn mandah sendiri memasukan Ubaidullah dalam jajaran perawi Bukhari dalam bukunya Tasmiyatul Masyayikh Rawa ‘Anhum al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al Bukhari Fi Kitabihi al Jami’ as Shahih.  Hal ini bisa dilihat dalam manuskrip Idaarah al Makhthuthaat wal maktabaat di kementrian wakaf Kuwait dengan no 1530. Demikian juga al Kalabadzi menyebutkannya dalam bukunya Rijal Shahih al Bukhari dan Ibn Thahir dalam bukunya al Jam’u Baina Rijaal as Shahiihain.

===============================

Menyoal Validitas Hadist Syiah

oleh Ustadz Bahrul Ulum

Di beberapa media, Ketua Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rahmat, menyatakan bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah terletak pada hadits. Jika hadits Sunni paling besar berasal dari sahabat nabi seperti Abu Hurairah, sedang hadits Syiah berasal dari Ahlul Bait (Keluarga Nabi Muhammad SAW).

Pernyataan ini sepintas lalu nampak benar, padahal sebenarnya mengandung kekeliruan. Pada kenyataannya, hadits Syiah yang diakui berasal dari Ahlul Bait perlu ditelisik kebenarannya.

Berdasar ilmu jarh wa ta’dil hadits-hadits Syiah mengandung banyak kecacatan. Yang paling menonjol yaitu jalur periwayatannya tidak memenuhi kriteria hadits yang sahih. Hal ini diakui oleh ulama mereka seperti Muhammad bin Hasan Al Hurr Al Amili dalam kitabnya Wasa’il Syi’ah. Ia mengatakan bahwa hadits shahih adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang penganut imamiyah yang adil dan kuat hapalannya di seluruh tingkatan periwayatan. Namun setelah menelisik kitab-kitab hadits seperti Al-Kafi, Tahdzib al-Ahkam, Man La Yadluruhu al-Faqih, ia kemudian mengakui bahwa kriteria itu tidak bisa diberlakukan terhadap kitab-kitab tersebut. Jika hal itu diberlakukan maka seluruh hadits Syi’ah tidak ada yang shahih karena ulama Syi’ah jarang sekali menyatakan status keadilan seorang perawi. Mereka hanya menyatakan status tauthiq (terpercaya), yang sama sekali tidak berarti perawi itu adil. Al Amili menambahkan bahwa para ahli ilmu di kalangan mereka mengakui jika perawi Syiah tidak bisa dinilai adil, karena perawi yang dianggap kafir dan fasiq dimasukkan sebagai perawi terpercaya. (Lihat Wasa’il Syi’ah, juz 30 hal 260)

Akibat dari kelemahan tersebut banyak sekali kontradiksi dalam hadits-hadits Syiah, termasuk menyangkut masalah akidah yang penting. Kontradiksi ini akibat dari tidak adanya usaha membedakan antara hadits shahih dan dhaif. Salah satu ulama Syiah yang mengeluh adalah Muhammad bin Hasan At Thusi, karena setiap hadits pasti ada hadits lain yang berlawanan. (Muhammad bin Hasan At-Thusy, Tahdzibul Ahkam, juz I, hal 45).

Karenanya banyak di antara ulama Syiah sendiri yang meragukan ketsiqahan perawi mereka. Dampaknya, mereka ragu apakah periwayatan tersebut berasal dari para Imam atau tidak. Sebab pada faktanya, banyak hadits-hadits palsu yang isinya mustahil dinyatakan oleh para Imam. Jika memang Imam benar mengatakannnya, namun perawinya tidak bisa dipercaya, atau jika perawinya bisa dipercaya, tetapi tidak bisa dilakukan pembuktian karena sanadnya terputus, dan perawi-perawinya majhul, tidak dikenal orangnya maupun statusnya.

Hal ini bisa dimaklumi karena para perawi Syiah banyak yang tinggal di Kufah, sedang para imam Syiah, khsususnya Imam Baqir dan Imam Ja’far Shadiq, yang periwayatannya paling banyak dinukil, tinggal di Madinah yang notabena Ahlu Sunnah. Yang tinggal di Kufah hanya para Imam setelahnya seperti Musa Al Kazhim, atau Hasan Al Askari yang tidak banyak dinukil oleh Syiah.

Apalagi masyarakat Kufah yang Syiah juga dikenal sebagai kelompok yang tidak bisa dipercaya. Hal ini diakui sendiri oleh Imam Ali Ridha. Diriwayatkan dari Musa bin Bakr al-Wasithi katanya, Abu al-Hasan (Imam Ali ar-Ridha) berkata: “Kalau saya mengklasifikasikan Syi’ahku, pasti aku tidak akan mendapati mereka kecuali orang-orang yang mengaku saja (yaitu mencintai Ahl al-Bait). Kalau aku akan menguji mereka pasti aku tidak akan temui kecuali orang-orang yang murtad. Kalau aku mau membersihkan mereka (dari dakwaan mereka) tentu tidak akan tinggal walaupun seorang dari seribu. Kalau aku mau menyelidiki keadaan mereka (yang sebenarnya) pasti tidak akan tinggal dari kalangan mereka kecuali aku dapati mereka sambil berbaring di atas sofa-sofa (dengan sombong) mengatakan bahwa kami adalah Syi’ah Ali sedangkan Syi’ah Ali yang benar yaitu orang yang perbuatannya membenarkan kata-katanya”. (al-Kulaini ar-Raudhah min al-Kafi juzl. 8 hal. 228)

Berdasar keterangan tersebut, klaim Syiah yang mengatakan bahwa haditsnya berasal dari Ahlul Bait, masih perlu dipertanyakan. Kemungkinan terjadinya penisbatan tanpa ada persambungan kepada Imam Ja’far atau Imam Baqir sangat mungkin. Sebagai contoh sebagaimana yang dilakukan oleh Jabir Al Ju’fi, salah satu perawi Syiah yang banyak meriwayatkan hadits dari para Imam. Ia meriwayatkan tujuh puluh ribu hadits dari Al Baqir, dan meriwayatkan seratus empat puluh ribu hadits dari Imam lainnya seperti Imam Ja’far. (Al Hurr Al Amili, Wasa’il Syi’ah, juz XX, hal 151)

Ironisnya, dengan jumlah hadits sebanyak itu, ternyata Jabir hanya sekali menemui Imam Baqir dan belum pernah bertemu Imam Ja’far. Hal ini dinyatakan oleh Imam Ja’far ketika ditanya tentang Jabir. “Demi Allah aku hanya melihat dia menemui ayahku sekali saja, dia belum pernah masuk menemuiku sama sekali.” (Ibnu Amr, Rijalul Kisyi, hal 196)

Selain itu Syiah juga tidak memiliki standar untuk penilaian hadits atau riwayat. Sedangkan kontradiksi yang ada pada riwayat-riwayat mereka begitu banyak. Dalam hal ini Al Faidh Al Kasyani menyatakan: “Kita lihat mereka berbeda pendapat dalam sebuah masalah, hingga mencapai dua puluh pendapat, tiga puluh pendapat atau lebih, bahkan aku bisa mengatakan tidak ada masalah furu’ yang tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya, atau dalam masalah lain yang terkait.” (Al Faidh Husein Al-Khasani, Al Wafi, Muqaddimah, hal 9)

Dari penjelasan tersebut dapat kita ketahui bahwa sesungguhnya kitab-kitab hadits Syiah, yang menyertakan sanad di dalamnya, masih terdapat banyak kontradiksi di dalamnya. Hal ini menunjukkan bahwa kitab-kitab tersebut sengaja dibuat oleh orang-orang yang tidak mendalami ilmu hadits. Hal seperti ini tidak akan terjadi pada ulama Sunni yang memiliki metodologi yang mapan dalam masalah ini.

===================================

Metodologi Kritik Hadist dalam Pandangan Syiah Imamah

oleh Ustadz Muhammad Ikhsan

 

PENDAHULUAN

Al-Sunnah adalah salah satu sumber tasyri’ penting dalam Islam. Urgensinya semakin nyata melalui fungsi-fungsi yang dijalankannya sebagai penjelas dan penfasir al-Qur’an, bahkan juga sebagai penetap hukum yang independen sebagaimana al-Qur’an sendiri. Itulah sebabnya, di kalangan Ahl al-Sunnah, menjadi sangat penting untuk menjaga dan “mengawal” pewarisan al-Sunnah ini dari generasi ke generasi. Mereka –misalnya- menetapkan berbagai persyaratan yang ketat agar sebuah hadits dapat diterima (dengan derajat shahih ataupun hasan). Setelah meneliti dan membuktikan keabsahan sebuah hadits secara sanad, mereka tidak cukup berhenti hingga di situ. Mereka pun merasa perlu untuk mengkaji matannya; apakah ia tidak syadz atau mansukh –misalnya-. Demikianlah seterusnya, hingga mereka dapat menyimpulkan dan mendapatkan hadits yang dapat dijadikan sebagai hujjah.

Di samping Ahl al-Sunnah –sebagai salah satu kelompok Islam terbesar-, ternyata Syiah Imamiyah –sebagai salah satu kelompok Syiah terbesar- juga memiliki perhatian khusus terhadap al-Sunnah. Namun mereka memiliki jalur sanad dan sumber khusus dalam menerima al-Sunnah yang berbeda dengan sanad dan sumber Ahl al-Sunnah. Ini tentu saja tidak mengherankan, sebab Syiah Imamiyah memiliki pengertian tersendiri tentang al-Sunnah. Maka perbedaan ini tidak pelak lagi kemudian memunculkan perbedaan antara Ahl al-Sunnah dengan mereka dalam persoalan keaqidahan maupun kefikihan.[1]

Oleh karena itu, tentu menjadi menarik untuk mengetahui lebih jauh metodologi khas Syiah Imamiyah dalam melakukan kritik hadits. Dan itulah yang secara singkat akan dibahas dalam tulisan ini.

 

Definisi al-Sunnah Menurut Syiah Imamiyah

Sebagaimana telah disinggung, Syiah Imamiyah memiliki batasan dan definisi tersendiri tentang al-Sunnah. Intinya, al-Sunnah menurut mereka adalah “Perkataan, perbuatan dan taqrir dari al-Ma’shum.”  Dan al-Ma’shum dalam pandangan Syiah Imamiyah tidak hanya terbatas di kalangan para nabi dan rasul. Para imam mereka juga termasuk dalam kategori ini. Bahkan pada sebagian kelompok ekstrem Syiah, ada memandang bahwa kedudukan para imam jauh berada di atas para nabi dan rasul kecuali Rasulullah saw.[2]

Muhammad Ridha al-Muzhaffar –salah seorang ulama kontemporer Syiah- menjelaskan,

Al-Sunnah menurut kebanyakan fuqaha’ adalah “perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi”…Akan tetapi menurut (Syiah) Imamiyah –setelah meyakini bahwa perkataan al-Ma’shum dari kalangan Ahl al-Bait setingkat dengan perkataan Nabi saw sebagai sebuah hujjah yang wajib diikuti oleh para hamba- memperluas batasan al-Sunnah menjadi sesuatu yang mencakup perkataan, perbuatan dan taqrir setiap al-Ma’shum (dari Ahl al-Bait). Sehingga al-Sunnah dalam terminologi mereka adalah “perkataan, perbuatan dan taqrir al-Ma’shum.”

Rahasia di balik itu semua adalah karena para imam dari kalangan Ahl al-Bait tidaklah sama dengan para perawi dan ahli hadits yang meriwayatkan dari Nabi –hingga perkataan mereka baru dapat dijadikan hujjah jika mereka ‘tsiqah’ dalam periwayatannya. Mereka adalah orang-orang yang ditunjuk oleh Allah Ta’ala melalui lisan Nabi-Nya untuk menyampaikan hukum-hukum yang bersifat realita. Maka mereka tidak mungkin menetapkan hukum, kecuali jika hukum-hukum realita itu memang berasal dari Allah Ta’ala apa adanya. Dan itu semua (diperoleh) melalui jalur ilham –seperti Nabi melalui jalur wahyu-, atau melalui periwayatan (imam) ma’shum sebelumnya.

Berdasarkan ini, maka penjelasan mereka terhadap hukum bukan termasuk dalam kategori periwayatan al-Sunnah atau ijtihad dalam menggali sumber-sumber tasyri’, akan tetapi karena merekalah sumber hukum (tasyri’) itu sendiri. [3]

Penjelasan ini menunjukkan bahwa perkataan para imam yang ma’shum, baik yang diperoleh melalui jalur ilham atau jalur lainnya (dikenal dengan istilah ilmuhadits)[4], maupun yang diriwayatkan dan diwariskan dari imam ma’shumsebelumnya dari Rasulullah (ilmu mustauda’), termasuk dalam bagian al-Sunnah yang kedudukannya sederajat dengan al-Sunnah yang berasal dari Rasulullah saw.

Bahkan lebih dari itu, Syiah Imamiyah juga meyakini bahwa tidak ada perbedaan antara perkataan yang diucapkan sang imam saat ia masih kanak-kanak maupun yang diucapkannya pada usia kematangan akalnya. Sebab, -menurut mereka-  para imam itu tidak mungkin melakukan kesalahan, sengaja ataupun tidak, sepanjang hayat mereka. Itulah sebabnya, salah seorang ulama kontemporer Syiah mengatakan,

“Sesungguhnya keyakinan akan kema’shuman para imam telah membuat hadits-hadits yang berasal dari mereka serta-merta menjadi shahih, tanpa harus mempersyaratkan adanya persambungan sanad sampai Rasulullah saw, sebagaimana yang dipersyaratkan di kalangan Ahl al-Sunnah.”[5]

Ini karena “perkataan para imam itu adalah perkataan Allah, perintah mereka adalah perintah Allah, ketaatan pada mereka adalah ketaatan pada Allah, kedurhakaan pada mereka adalah kedurhakaan pada Allah. Mereka itu tidak mungkin berbicara kecuali dari Allah dan wahyu-Nya.”[6]

Mereka juga meyakini bahwa ilmu mustauda’ yang melalui jalur pewarisan dari imam ma’shum sebelumnya itu terbagi menjadi dua: (1) kitab-kitab yang mereka warisi dari Rasulullah[7], dan (2) ilmu yang mereka terima secara lisan dari beliau saw. Pembagian ini kemudian mengantarkan kita untuk memahami inti aqidah mereka –dan merupakan rukun penting agama mereka-,  yaitu bahwa Rasulullah saw hanya menyampaikan sebagian syariat dan menyembunyikan yang lainnya untuk kemudian dititipkan kepada Imam ‘Ali.‘Ali radhiayyallahu ‘anhu kemudian memperlihatkan sebagiannya semasa ia hidup, dan menjelang kematiannya barulah ia menitipkannya kepada al-Husain, putranya. Demikianlah seterusnya, setiap imam memperlihatkan sebagian “warisan” itu sesuai kebutuhan zamannya, hingga akhirnya mata rantai keimamahan itu berakhir pada sang imam yang dinanti (al-Muntazhar).[8]

Dengan demikian, pengetahuan tentang keshahihan dan kelemahan sebuah hadits –dalam pandangan Syiah Imamiyah– harus melalui jalur para imam yangma’shum.  Selain dari mereka tidak mungkin melakukan itu, meskipun ia adalah seorang ‘alim yang berilmu tinggi. Al-Sunnah al-Nabawiyah –bagaimanapun juga- membutuhkan imam yang ma’shum untuk menjelaskan mana yang shahih, dan menyingkirkan yang palsu.[9]

Satu catatan penting yang harus ditegaskan di sini adalah bahwa SyiahImamiyah telah mempersempit cakupan al-Sunnah dengan batasan yang mereka yakini. Berdasarkan definisi dan penjelasan ulama mereka tentang al-Sunnah, maka periwayatan al-Sunnah –dalam madzhab Syiah- hanya dimungkinkan melalui jalur Ahl al-Bait. Dan itupun tidak semua Ahl al-Bait, sebab hanya yang mempunyai predikat ma’shum saja yang dapat melakukannya. Dan itu berarti hanya terbatas pada “para imam yang dua belas” saja, dan bahwa yang pernah bertemu Rasulullah saw dari mereka hanyalah ‘Ali radhiyallahu ‘anhu.[10]

Pertanyaannya adalah: apakah Amirul mu’minin, ‘Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sanggup menyampaikan seluruh al-Sunnah itu kepada semua generasi, padahal ia tidak menyertai Rasulullah saw di setiap waktu? Bukankah Rasulullah saw pernah melakukan perjalanan jauh, lalu menugaskan ‘Ali sebagai ‘khalifah’ nya di Madinah –seperti dalam perang Tabuk-? Bukankah ‘Ali juga pernah melakukan perjalanan jauh, sementara Rasulullah tinggal di Madinah? Belum lagi apa yang terjadi di dalam kehidupan rumah tangga Nabi saw, sangat tidak mungkin ‘Ali mengikuti semua itu.

Kita juga mengetahui dari sejarah bahwa Islam menyebar ke berbagai wilayah, dan penyebaran itu tidak melalui jalur Ali ibn Abi Thalib. Dengan demikian, menjadi sangat sulit dipahami pernyataan mereka yang menyatakan bahwa Rasulullah saw hanya menyampaikan ilmu itu (baca: risalah Islam) kepada seorang pria yang termasuk Ahl al-Bait beliau.[11]

Di samping itu, ada hal lain yang sangat kontradiktif dalam pernyataan para ulama Syiah. Seperti diketahui dalam definisi mereka tentang al-Sunnah, bahwa perkataan para imam Syiah itu memiliki kedudukan yang sama dengan perkataan Nabi saw. Sebab para imam itu juga menerima “ilmu” dari Allah melalui jalur ilham, sebagaimana Nabi menerimanya dari jalur wahyu. Tapi Imam al-Shadiq dan Imam al-Ridha –dua diantara imam mereka- seringkali mengatakan,

“Sesungguhnya kami tidak pernah berfatwa kepada manusia berdasarkan pendapat kami sendiri. Sesungguhnya jika kami berfatwa kepada manusia dengan pendapat kami sendiri, niscaya kami akan termasuk orang yang binasa. Namun (kami memberi fatwa kepada mereka) berdasarkan atsar-atsar dari Rasulullah saw, yang kami wariskan dari generasi ke generasi. Kami menyimpannya seperti manusia menyimpan emas dan perak mereka.”[12]

Pernyataan ini –sebagaimana pernyataan-pernyataan beberapa tokoh Syiah lainnya- menunjukkan bahwa –menurut mereka- para imam itu tidak lebih sebagai perawi dari Rasulullah saw. Tentu saja ini kontradiktif dengan penjelasan ulama Syiah lainnya bahwa para imam itu memang benar-benar diangkat oleh Allah untuk menyampaikan hukum Allah langsung yang diperoleh melalui jalur ilham, bukan sekedar menerimanya dari imam ma’shumsebelumnya.[13]

Sikap Syiah Imamiyah Terhadap Teks-teks Hadits Mereka

Sikap para ulama Syiah dalam memandang dan menyikapi teks-teks hadits mereka sendiri, ternyata berbeda. Secara umum pandangan dan sikap yang berbeda ini terwakili dalam 2 kelompok besar, yaitu al-Ikhbariyyun dan al-Ushuliyyun.[14]

Kelompok al-Ikhbariyyun adalah kelompok Syiah Imamiyah yang melarang ijtihad dan mencukupkan diri dengan mengamalkan “khabar-khabar” (baca: teks-teks hadits) yang terdapat dalam empat kitab hadits mereka; al-Kafi, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, al-Tahdzib dan al-Istibshar. Tidak hanya itu, mereka memandang bahwa apa yang terkandung dalam keempat kitab itu qath’iberasal dari para imam, dan karena itu, mereka tidak perlu melakukan penelitian lebih lanjut tentang sanadnya. Demikian pula membagi hadits-hadits dalam kitab-kitab itu menjadi shahih, hasan, dha’if, dan sebagainya, sama sekali tidak perlu. Mengapa? Sebab semuanya shahih belaka. Mereka juga menggugurkan dalil ijma’ dan ‘aqli. Ilmu Ushul fiqih tidaklah shahih, karena itu tidak perlu dipelajari. Intinya mereka mencukupkan diri dengan khabar-khabar yang terdapat dalam rujukan utama mereka. Karena itu mereka disebut juga al-Akhbariyah, sebuah penisbatan kepada al-akhbar (khabar-khabar).

Tokoh-tokoh kelompok ini diantaranya adalah al-Kulainy (w. 329 H) penulis al-Kafy, Ibnu Babawaih al-Qummy (w. 382 H), penulis Man La Yahdhuruhu al-Faqih,dan al-Mufid (w. 413 H), penulis Awa’il al-Maqalat.

Sedangkan kelompok al-Ushuliyyun adalah mereka yang memandang perlunya ijtihad, dan bahwa landasan hukum itu terdiri dari al-Qur’an, al-Sunnah, ijma’ dan dalil ‘aqli. Mereka juga meyakini bahwa hadits-hadits yang terdapat dalam keempat kitab pegangan itu, sanadnya ada yang shahih, hasan, dan dha’if. Oleh karena itu, diperlukan sebuah kajian terhadap sanadnya pada saat akan diamalkan atau dijadikan landasan hukum.

Tokoh-tokoh kelompok ini antara lain adalah: al-Thusy (w. 460 H), penulis al-Istibshar, al-Murtadha yang dianggap menyusun Nahj al-Balaghah, Muhsin al-Hakim, al-Khu’iy dan al-Khumainy (Khomeni).

Perbedaan ini bahkan sampai pada tingkat keluarnya fatwa keharaman untuk shalat di belakang satu sama lain, dan bahkan saling mengkafirkan satu sama lain.[15] Meskipun keduanya masih termasuk dalam kelompok Imamiyah Itsna ‘Asyariyah.

Perpecahan ini diduga memuncak ketika salah seorang ulama hadits mereka, Muhammad Amin al-Astarabady (w. 1033H) melemparkan tuduhan dan tikaman kepada  kelompok mujtahidin Syiah, yang kemudian membuatnya membagi kelompok Syiah menjadi ‘Akhbary dan mujtahid. Tidak hanya itu, ia juga memprovokasi pengikutnya untuk menyerang ilmu Ushul fiqih dan mencukupkan diri dengan hadits-hadits mereka.[16]

Awal Munculnya Pembagian Derajat Hadits dan Perhatian Terhadap Sanad di Kalangan Syiah

Perbedaan antara kelompok al-Ikhbariyyun dan al-Ushuliyyun ini nampaknya sudah lama terjadi. Jauh sebelum masa al-Astarabady. Namun di era al-Astarabady-lah perbedaan ini berubah menjadi permusuhan yang sangat sengit antara keduanya. Sebagai bukti misalnya –bahwa perbedaan ini sudah lama ada-, pandangan kelompok ­al-Ushuliyyun kemudian menyebabkan lahirnya ide pembagian hadits menjadi shahih, hasan, muwatstaq, dan dha’if di kalangan Syiah. Ulama Syiah pertama yang mengeluarkan ide ini adalah Ibnu al-Muthahhir al-Huliyy (w. 726H).[17] Itu artinya, awal mula munculnya pemikiran untuk memberikan “nilai” kepada sebuah hadits di kalangan Syiah adalah sekitar abad 7 Hijriyah. Dan ini bertepatan dengan “serangan” Ibnu Taimiyah terhadap Syiah Imamiyah dalam bukunya, Minhaj al-Sunnah. Salah satu kritik penting Ibnu Taimiyah adalah rendahnya perhatian dan pengetahuan Kaum Syiah terhadap ilmu ar-Rijal.[18]

Hal ini diakui sendiri oleh ulama mereka, al-Hurr al-‘Amily (w. 1104 H). Ia mengakui bahwa penyebab Kaum Syiah mulai meletakkan istilah shahih, hasandan dha’if untuk hadits mereka serta memperhatikan sanad, adalah kritik yang ditujukan oleh Ahl al-Sunnah kepada mereka. Ia mengatakan,

“Salah satu faidah penyebutan (sanad) adalah…untuk membantah tuduhan ‘orang awam’ –maksudnya Ahl al-Sunnah- terhadap Syiah, bahwa hadits mereka tidak ‘mu’an’an’ dan hanya sekedar dinukil begitu saja dari kitab-kitab para pendahulu mereka.”[19]

Bahkan ia sendiri (al-‘Amily) memastikan bahwa pembagian derajat hadits yang dilakukan oleh Ibnu al-Muthahhir itu sepenuhnya adalah upaya untuk meniru Ahl al-Sunnah. Ia mengatakan,

“Mushthalah baru itu sesuai dan sama dengan i’tiqad dan mushthalah ‘orang awam’[20]. Bahkan setelah diteliti, memang sepenuhnya diambil dari kitab-kitab mereka.”[21]

Penjelasan ini setidaknya menyimpulkan beberapa hal:

Pertama, sanad-sanad yang sekarang kita temukan dalam riwayat-riwayat mereka itu disusun belakangan, lalu kemudian ditempelkan pada tekas-teks hadits yang diambil dari kitab pendahulu mereka.

Kedua, perhatian terhadap kritik sanad di kalangan Syiah baru muncul belakangan –setidaknya sejak abad ketujuh Hijriyah-. Itupun muncul demi menjaga madzhab mereka dari kritik Ahl al-Sunnah.

Ketiga, upaya penulisan ilmu Mushthalah Hadits versi Syiah –seperti yang diakui sendiri oleh ulama mereka- sepenuhnya hanya meniru apa yang telah dituliskan oleh “orang-orang awam” (baca: Ahl al-Sunnah).

Keempat, ini menunjukkan bahwa sejak awal pemunculan Syiah hingga –setidaknya- abad ketujuh Hijriyah, para ulama Syiah menerima sepenuhnya hadits-hadits yang terdapat dalam kitab-kitab mu’tamad mereka, tanpa melakukan kritik terhadap sanad, apalagi matan.

KRITIK SANAD DAN MATAN MENURUT SYIAH IMAMIYAH

Sebagaimana juga Ahl al-Sunnah, Syiah Imamiyah juga memiliki metode kritik sanad dan matan yang khas, meskipun dalam beberapa bagian nampak sama dengan metode kritik sanad dan matan yang dianut oleh Ahl al-Sunnah.

Metode Kritik Sanad Syiah Imamiyah

Dalam hal ini yang akan dipaparkan adalah klasifikasi perawi, kajian al-rijal, serta kajian seputar persambungan dan perputusan sebuah sanad dalam sudut pandang Syiah Imamiyah.

Klasifikasi Perawi di Kalangan Imamiyah

Adapun terkait dengan klasifikasi perawi sebuah hadits yang dapat diterima, dalam pandangan Syiah Imamiyah dapat dikatakan hampir sama dengan klasifikasi yang selama ini dikenal dan dipegangi oleh para ulama hadits Ahl al-Sunnah. Diantara klasifikasi seorang perawi yang maqbul menurut mereka adalah:

  1. Islam
  2. Baligh 
  3. Berakal
  4. ‘Adil
  5. Dhabith
  6. Sebagian besar ulama Imamiyah menambahkan syarat “iman”.

Yang dimaksud “iman” di sini adalah bahwa seorang perawi haruslah seorang penganut madzhab Imamiyah Itsna ‘Asyariyyah.[22] Bahkan tidak hanya sekedar penganut madzhab Imamiyah, sang perawi haruslah menerima riwayat itu dari para imam. Al-Thusy mengatakan,

“Setelah diteliti dengan cermat, jelaslah bahwa tidak semua riwayat yang diriwayatkan oleh seorang ‘imamiyah’ dapat diamalkan secara mutlak. (Sebab yang boleh diamalkan) hanyalah riwayat-riwayat yang diriwayatkan dari para imam –alaihissalam- dan dituliskan oleh murid-muridnya.”[23]

Karena itu, jika seorang penganut Imamiyah meriwayatkan hadits dari salah seorang Ahl al-Bait yang tidak termasuk dalam kategori imam, maka haditsnya pun tidak dapat diamalkan. Dengan kata lain, tidak semua Ahl al-Bait dapat dijadikan sebagai jalur periwayatan, sebab tidak semua dari mereka itu berstatus sebagai imam. Itulah sebabnya, riwayat yang disampaikan oleh keturunan Fathimah r.a melalui al-Hasan r.a –misalnya- tidak dapat diterima. Bahkan yang melalui jalur al-Husain r.a sekalipun. Al-Thusy –misalnya- menolak riwayat Zaid ibn Ali Zain al-‘Abidin.[24]

 Lalu bagaimana sikap mereka terhadap riwayat yang berasal dari Ahl al-Sunnah? Sebagian ulama Syiah[25] membolehkan hal ini dengan beberapa ketentuan:

  1. Hadits itu diriwayatkan dari para imam yang ma’shum.
  2. Tidak menyelisihi riwayat yang dituliskan oleh para ulama Syiah.
  3. Tidak menyelisihi amalan yang selama ini ada di kalangan mereka.

Salah satu yang melandasi pandangan ini adalah apa yang diriwayatkan Ja’far al-Shadiq bahwa ia mengatakan,

“Jika kalian mengalami suatu perkara yang tidak kalian temukan hukumnya dalam apa yang diriwayatkan dari kami, maka lihatlah dalam apa yang mereka (kaum awam atau Ahl al-Sunnah -pen) riwayatkan dari Ali a.s, lalu amalkanlah ia.”

 Oleh sebab itu, sebagian kelompok Syiah juga mengamalkan apa yang diriwayatkan oleh beberapa perawi Ahl al-Sunnah,-seperti Hafsh ibn Ghiyats, Ghiyats ibn Kallub dan Nuh ibn Darraj- dari para imam madzhab Imamiyahsesuai dengan syarat tersebut di atas.[26]

Adapun terkait dengan kajian al-rijal dari sudut al-jarh dan al-ta’dil, maka dalam tradisi hadits Syiah, ke’adalahan seorang perawi dapat ditetapkan dengan salah satu dari dua hal: (1) tautsiqat khashshah, atau (2) tautsiqat ‘ammah. Tautsiqatpertama adalah sebuah pemberian rekomendasi untuk satu atau dua perawitanpa adanya suatu predikat khusus untuk mereka. Sedangkan yang kedua adalah pemberian rekomendasi untuk sekelompok orang dengan batasan dan predikat khusus dan tertentu.[27]

Salah satu contoh tautsiqat khashshah –menurut mereka- adalah jika salah seorang imam ma’shum atau salah satu ulama terdahulu[28] memberikan rekomendasi akan ketsiqahan seorang perawi. Maka dalam kondisi semacam ini, ketsiqahan orang itu harus ditetapkan tanpa banyak komentar.

Ja’far al-Subhany mengatakan,

“Metode-metode seperti ini adalah termasuk metode yang dapat menetapkan ke’tsiqah’an seorang perawi tanpa perlu komentar lagi. Ini adalah metode-metode khusus yang dapat menetapkan ke’tsiqah’an individu tertentu. Dan ada pula metode-metode umum yang disebut dengan ‘tautsiqat ‘ammah’, yang dengannya ke’tsiqah’an sekelompok perawi dapat ditetapkan…”[29]

 Adapun tautsiqat ‘ammah yang dijadikan sandaran penting dalam madzhab Syiah Imamiyah terdiri dari beberapa kelompok berikut:

Pertama, Ashhab al-Ijma’. Mereka adalah kelompok yang disepakati (ijma’) keshahihan semua riwayat yang datang dari mereka. Rincian mereka adalah 6 orang dari murid-murid al-Baqir, 6 orang dari murid-murid al-Shadiq, dan 6 orang dari murid-murid Musa al-Kazhim.[30]

Banyak dari kalangan generasi awal –dan juga belakangan- Syiah Imamiyahyang meyakini bahwa keshahihan semua riwayat yang berasal dari kelompok ini juga mencakup semua hadits meski diriwayatkan dari orang yang fasik dan melakukan pemalsuan hadits.[31] Inilah yang kemudian menyebabkan sebagian mereka membenarkan semua riwayat kelompok ini, meskipun mengandung hal-hal yang jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam, seperti keyakinan bahwa al-Qur’an telah diselewengkan, sikap ghuluw terhadap para imam, dan yang lainnya. Hal ini jelas merupakan akibat dari peremehan mereka terhadap upaya penelitian yang mendalam terhadap al-Rijal dan juga sanad hadits-hadits mereka.

Kedua, Masyayikh al-Tsiqat. Mereka adalah beberapa orang –yaitu Muhammad ibn Abi ‘Umair, Shafwan ibn Yahya, dan Ahmad ibn Muhammad ibn Abi Nashr al-Bizanty- yang tidak meriwayatkan dan memursalkan sebuah hadits kecuali dari perawi yang tsiqah.[32] Namun ada sebagian ulama Syiah yang kemudian tidak mengakui ini sebagai sandaran, dengan alasan sebagian dari mereka telah dituduh berdusta dan membuat hadits palsu, bahkan dianggap keluar dari akidah Imamiyah. 

Ketiga, disamping ketiga nama di atas, ada pula beberapa nama yang dikenal tidak meriwayatkan hadits kecuali dari orang-orang yang tsiqah. Mereka diantaranya adalah Ahmad ibn Muhammad ibn Isa, Ja’far ibn Basyir al-Bajaly, Muhammad ibn Ismail al-Za’farany, dan Ahmad ibn Ali al-Najasyi.[33] Namun sebagaimana sebelumnya, ada juga ulama Syiah yang tidak menyepakati ini.

Satu hal penting lain yang juga perlu disebutkan secara singkat di sini adalah sebab-sebab penetapan al-jarh terhadap seorang perawi. Seperti Ahl al-Sunnah, sebab-sebab al-jarh Syiah Imamiyah diantaranya adalah:[34]

  1. Akidah yang batil. Tentu yang dimaksud adalah jika sang perawi bukanlah pengikut Imamiyah.
  2. Cacatnya ke’adalahan perawi, seperti jika ia melakukan dosa besar dan terus-menerus melakukan dosa kecil.
  3. Hafalan yang buruk.
  4. Jika seorang perawi banyak meriwayatkan dari perawi-perawi yang dhu’afa dan majhulun.
  5. Jika perawi itu berasal dari kalangan Bani Umayyah, kecuali jika ia seorang pengikut Imamiyah.

Namun yang menjadi tanda tanya adalah bahwa mereka tidak menganggap keyakinan bahwa al-Qur’an yang ada saat ini telah diubah dan dikurangi sebagai salah satu sebab jarh bagi seorang perawi. Al-Mufid –salah seorang ulama mereka- mengakui ini dengan mengatakan,

“(Penganut Imamiyah) telah bersepakat bahwa para imam yang sesat itu[35] telah menyeleweng dalam banyak penyusunan al-Qur’an dan mereka telah menyimpang dari apa yang diturunkan (oleh Allah) dan sunnah Nabi saw. Sementara Mu’tazilah, Khawarij, Zaidiyah, Murji’ah dan Ahl al-Hadits telah berijma’ menyelisihi Imamiyah.”[36]

Ini adalah pengakuan penting bahwa semua kelompok Islam tidak terjebak dalam kesesatan yang dialami kelompok Imamiyah. Tidak mengherankan jika al-Thusy mengakui bahwa banyak penulis mereka yang menganut dan meyakini hal-hal sesat semacam itu. Perlu diketahui pula, bahwa ulama kontemporer Syiah yang giat menyerukan upaya  taqrib (pendekatan) Sunnah-Syi’ah dalam menyikapi tuduhan tahrif al-Qur’an terbagi menjadi 4 kelompok:

  1. Mengingkari keberadaan paham ini dalam kitab-kitab mereka,  menampakkan seolah-olah mengkafirkan pelakunya, bahkan berusaha melekatkan tuduhan ini pada kitab-kitab Ahl al-Sunnah.
  2. Mengakui keberadaannya dan berusaha memberikan alasan (justifikasi).
  3. Mengakui secara terang-terangan dan berusaha memberikan argumentasi (hujjah) untuknya.
  4. Menampakkan seolah-olah mengingkari hal ini, namun diam-diam menetapkannya dengan secara sembunyi-sembunyi.[37]

Kajian ‘al-Rijal’ di Kalangan Imamiyah

Harus diakui bahwa para ulama Imamiyah juga memiliki upaya untuk menjelaskan kondisi semua perawi yang terdapat dalam berbagai referensi hadits mereka dari sisi ketsiqahan dan kedha’ifannya. Kalangan Imamiyahmengaku bahwa awal penyusunan referensi dalam bidang ini di kalangan mereka telah dimulai pada abad 2 H. Mereka beranggapan bahwa kitab ‘Ubaidullah ibn Abi Rafi’[38]  sebagai karya pertama mereka dalam bidang ini. Padahal ‘Ubaidullah ini sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan madzhab Imamiyah.

Penulisan ilmu ini menurut mereka terus berlanjut hingga abad 4 H. Namun –seperti pengakuan mereka- tidak ada satu pun karya dalam bidang ini yang sampai pada mereka, kecuali yang ditulis pada abad 4 dan 5 H. karya-karya itulah yang kemudian menjadi rujukan penting mereka selanjutnya. Diantaranya:

  1. Rijal al-Kisysyi, karya Muhammad ibn Umar yang lebih dikenal dengan al-Kisysyi (w. 340H). Ia hidup semasa dengan al-Kulainy (w. 329H), dan termasuk tokoh tsiqah penting di kalangan mereka.
  2.  Fihris al-Najasyi, karya Abu al-Abbas Ahmad ibn ‘Ali ibn al-Abbas yang lebih dikenal dengan al-Najasyi (w. 450H).
  3. Rijal Ibn al-Ghadhairy, karya Ahmad ibn al-Husain al-Ghadhairy (w. 412). Judul buku ini sebenarnya adalah Kitab al-Dhu’afa’.Isinya memuat perawi-perawi dha’if. Penulisnya bahkan mendha’ifkan banyak ulama dan perawi Imamiyah dengan alasan sikap ghuluw yang ada pada diri mereka. Tidak mengherankan jika kemudian ulama Syiah berbeda pendapat tentang validitas penisbatan buku ini pada Ibn al-Dhafairy setelah mereka sepakat bahwa ia adalah seorang yang tsiqahdalam pandangan mereka.[39] Belakangan, Ja’far al-Subhany membenarkan penisbatan kitab ini kepada Ibn al-Dhafairy. Namun jarh dan tadh’ifnya tidak dapat diterima, dengan alasan kesimpulannya tidak didasarkan pada persaksian dan riwayat, melainkan hanya didasarkan pada ijtihad pribadinya.[40]

Masih ada karya lain dalam bidang ini di kalangan Syiah. Namun karya-karya itu dianggap sebagai sumber sekunder. Namun ada satu hal yang penting untuk dicatat, bahwa masih banyak perawi majhul tersebar dalam sanad-sanad referensi Syiah, terutama Ushul al-Kafi karya al-Kulainy. Ini berarti bahwa karya-karya mereka dalam bidang al-rijal belum mencakup semua perawi yang ada dalam rujukan hadits Imamiyah. Lebih dari itu, al-Bahrany (w. 1186H) –salah seorang ulama Imamiyah- mengakui bahwa jika semua aturan al-jarh wa al-ta’dilditerapkan pada sanad-sanad yang bertebaran dalam kitab-kitab hadits mereka, maka itu akan membatalkan banyak sekali hadits-haditsnya.[41]

Bersambung dan Terputusnya Sanad Menurut Syiah Imamiyah

Syiah Imamiyah juga menekankan tentang keharusan adanya persambungan sanad kepada imam yang ma’shum. Meski sanad itu kemudian tidak bersambung kepada Nabi saw, sebab perkataan imam itu sendiri adalah hujjahdan sunnah sehingga tidak perlu dipertanyakan dari mana ia mengambilnya.[42] Tetapi jika sanad itu bersambung kepada Nabi saw tanpa perantaraan seorang imam, maka hadits semacam ini tidak dapat diterima. Ini disebabkan oleh:

  1. Keyakinan Syiah Imamiyah bahwa pengetahuan akan keshahihan sebuah hadits sepenuhnya hanya diketahui melalui jalur para imam.
  2. Karena Rasulullah saw telah menyembunyikan sebagian syariat dan hukum kepada para imam untuk kemudian disebarkan jika saatnya tepat nanti.[43]

Syiah Imamiyah juga meyakini bahwa sanad-sanad hadits mereka semuanya bersambung kepada para imam melalui perantara kitab-kitab al-Ushul[44] yang ada pada mereka. Namun dalam buku-buku lain –yang juga merupakan rujuan penting mereka- terdapat pengakuan ‘berbahaya’ yang menyatakan bahwa sanad-sanad kitab-kitab itu sebenarnya terputus. Tidak hanya itu, al-Thusy misalnya mengakui bahwa banyak dari penyusun kitab-kitab al-Ushul itu yang meyakini ‘madzhab yang batil’.[45] Dalam al-Kafy (1/104) disebutkan,

“Sesungguhnya para ulama kami meriwayatkan dari Abu Ja’far dan Abu ‘Abdillah a.s, dan (saat itu) taqiyyah sangatlah kuat, sehingga mereka menyembunyikan kitab-kitab mereka (yang menyebabkan kitab-kitab itu) tidak diriwayatkan dari mereka. Maka ketika mereka semua meninggal, kitab-kitab itupun sampai ke tangan kami. Salah seorang imam mengatakan, ‘Sampaikanlah ia, karena ia adalah kebenaran’.”

Pertanyaan pentingnya adalah, siapakah yang menjamin bahwa dalam kondisitaqiyyah dan ketakutan itu, kitab-kitab yang kemudian sampai kepada mereka itu telah menjadi sasaran tangan-tangan jahat yang ingin menyesatkan kaum Syiah dengan cara menambahkan riwayat-riwayat palsu yang dinisbatkan kepada Ahl al-Bait?[46] Salah satu indikasi akan hal itu adalah banyaknya nash-nash Syiah yang menyentuh hal paling disucikan oleh kaum muslimin, al-Qur’an al-Karim.[47]

Seorang ulama Syiah, al-Muhaqqiq al-Qummy mengatakan,

“Riwayat-riwayat yang ada dalam kitab-kitab kami menunjukkan bahwa para pendusta dan pemalsu telah memainkan peran mereka dalam kitab-kitab ulama kami, dan bahwa mereka telah memasukkan (hal-hal baru) kedalamnya.”[48]

Al-Sayyid Abu Thalib al-‘Alawy al-Hasany mengatakan,

“Sesungguhnya banyak sanad-sanad Itsna ‘Asyariyah (Imamiyah –pen) yang didasarkan pada nama-nama yang sebenarnya tidak memiliki wujud. Saya mengetahui  dari para perawi mereka yang banyak meriwayatkan (hadits) ada yang menghalalkan pembuatan sanad-sanad palsu untuk riwayat-riwayat yang terputus jika sampai ke tangannya. Bahkan ada diantara mereka yang mengumpulkan riwayat-riwayat Birisjamhur, lalu menisbatkannya kepada para imam dengan sanad-sanad yang ia buat sendiri. Ketika ia ditanya tentang itu, ia hanya menjawab, ‘Sandarakanlah hikmah itu kepada yang memilikinya.’”[49]

Bukti lain akan adanya peran “tangan-tangan jahat” terhadap kitab-kitab hadits Syiah Imamiyah adalah sebagai berikut:

  1. Kitab al-Kafy yang disusun oleh al-Kulainy. Syekh Husain ibn Haidar al-Kurky al-‘Amily (w. 1076H) menyatakan bahwa kitab ini terdiri dari 50 kitab lengkap dengan sanad yang semuanya bersambung pada para imam.[50] Sementara ulama awal Syiah, al-Thusy (w. 360H) menyatakan bahwa kitab al-Kafy hanya terdiri dari 30 kitab dengan semua periwayatannya.[51] Ini menunjukkan bahwa antara abad 5H hingga abad 11H, al-Kafymengalami pertambahan sebanyak 20 kitab –padahal setiap kitab mencakup puluhan bab, dan setiap bab mencakup sekumpulan hadits-! Maka Hasyim Ma’ruf –juga seorang ulama Syiah kontemporer- tidak punya pilihan selain mengakui bahwa kaum ekstrem telah memasukkan dan merusak hadits-hadits para imam yang terdapat dalam al-Kafy dan yang lainnya.[52]
  2. Kitab Tahdzib al-Ahkam, yang disusun oleh al-Thusy. Agha Bazruk al-Taherany dan Muhsin al-‘Amily menyatakan bahwa jumlah hadits kitab ini mencapai 13590 hadits.[53] Sedangkan al-Thusy sendiri dalam bukunya yang lain, ‘Uddah al-Ushul, menyebutkan bahwa jumlah hadits Tahdzib-nya adalah sekitar 5000-an hadits. Atau dengan kata lain, jumlah maksimalnya tidak mencapai 6000 hadits. Ini menunjukkan bahwa dalam beberapa kurun waktu saja, jumlah hadits Tahdzib bertambah lebih dari satu kali lipat.

Bukti-bukti ini sesungguhnya semakin menguatkan bahwa pada dasarnya SyiahImamiyah pada awalnya –dan mungkin hingga kini- tidak memiliki perhatian yang cukup besar untuk mengkaji sanad-sanad hadits mereka. Seperti telah  dijelaskan sebelumnya, ulama Imamiyah –dalam hal ini al-‘Allamah al-Huliyy- baru ‘tersentak’ untuk mengkaji untuk mengkaji sanad ketika Ibnu Taimiyah menuliskan bukunya, Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah yang mengkritik kurangnya perhatian Syiah akan sanad. Metode tashhih dan tadh’if yang kemudian digagas oleh al-‘Allamah al-Huliyy jika diterapkan pada hadits-hadits Syiah akan ‘membabat habis’ kebanyakan hadits mereka, dan hanya menyisakan sedikit saja. Ini diakui oleh Syekh Yusuf al-Bahrany, salah seorang ulama mereka.[54]

Ulama Syiah lain, Syekh Muhammad Baqir al-Majlisy (w. 1111H)[55] telah mendha’ifkan sebagian besar hadits-hadits yang ada dalam kitab al-Kafy dalam kitabnya, Mir’at al-‘Uqul. Namun anehnya, ia mengatakan,

“Kita sesungguhnya tidak membutuhkan sanad keempat kitab al-Ushul ini. Dan bila kita menyebutkan sanadnya, maka itu hanya sekedar untuk ‘tabarruk’ (mencari berkah) dan meneladani sunnah para salaf.”[56]

Pengakuan lain datang dari Syekh Abu al-Hasan al-Sya’rany yang menyatakan,

“Sesungguhnya mayoritas hadits-hadits ushul yang terdapat dalam al-Kafy tidaklah shahih sanadnya, akan tetapi ia menjadi pegangan dan landasan dikarenakan kandungan matannya, dan kesesuaiannya dengan ‘akidah yang benar’ (maksudnya akidah Imamiyah –pen). Dan (untuk hadits yang semacam ini) sanad tidaklah perlu diperhatikan.”[57]

Penjelasan-penjelasan ini menunjukkan bahwa hingga kini pun, kajian sanad hadits Syiah Imamiyah masih menyisakan banyak pertanyaan yang perlu untuk dijelaskan.

Metode Kritik Matan Syiah Imamiyah

Secara umum, dalam hal ini, Syiah Imamiyah melakukan kritik matan dengan 4 cara –yang juga sebenarnya diakui dan digunakan oleh Ahl al-Sunnah-, yaitu:

  1. Menimbang matan hadits dengan al-Qur’an
  2. Menimbangnya dengan al-Sunnah
  3. Menimbangnya dengan ijma’
  4. Menimbangnya dengan akal sehat.

Akan tetapi, dalam prakteknya banyak hal-hal musykil yang kemudian menjadi pembeda antara Ahl al-Sunnah dan Syiah dalam melakukan kritik matan. Hal itu akan dijelaskan sebagaimana berikut.

Pertama, menimbangnya matan hadits kepada al-Qur’an.

Para imam Syiah telah menyatakan kewajiban memaparkan hadits-hadits yang diriwayatkan dari mereka kepada al-Qur’an. Maka yang sesuai dengan al-Qur’an, itulah yang benar. Namun jika hadits itu menyelisihi al-Qur’an, maka ia tidak bisa dijadikan pegangan. Imam al-Ridha mengatakan,

“…Maka janganlah kalian menerima (riwayat) dari kami yang menyelisihi al-Qur’an. Sebab jika kami menyampaikan sesuatu pada kalian, kami tidak menyampaikan kecuali yang sesuai dengan al-Qur’an dan al-Sunnah…Maka jika datang kepada kalian orang yang menyampaikan hadits yang menyelisihi itu, maka tolaklah! Sebab setiap perkataan dari kami itu akan disertai dengan hakikat dan cahaya, dan sesuatu yang tidak ada hakikat dan cahayanya, maka itu adalah perkataan syetan.”[58]

Namun yang menjadi masalah adalah –seperti telah disinggung sebelumnya-, bahwa Syiah Imamiyah sendiri meragukan keabsahan al-Qur’an yang ada sekarang ini. Hanya sebagian kecil dari kalangan al-Ushuliyyun dan al-Ikhbariyyun yang meyakini bahwa al-Qur’an yang ada saat ini selamat dari tahrif(penyelewengan), dan bahwa Allah telah menjaganya dari tangan-tangan jahat yang akan merubahnya. Oleh sebab itu, mereka –yang meyakini kesucian al-Qur’an ini- memandang bahwa al-Qur’an adalah sumber pertama dalam tasyri’,dan bahwa hadits-hadits yang terdapat dalam kitab-kitab hadits mereka ada yang shahih dan tidak.

Maka menghadapi kenyataan ini, kalangan Syiah yang meyakini adanya tahrifpada al-Qur’an pun menjadi dilematis. Betapa tidak, terlalu banyak hadits dari para imam mereka yang memerintahkan untuk merujuk pada al-Qur’an dan bahwa ia adalah sumber pertama dalam tasyri’ yang tidak mengalami tahrif dan perubahan. Akibatnya, mereka terpaksa memilih pandangan yang menyatakan bahwa para imam itu memerintahkan mereka untuk berpegang pada al-Qur’an yang ada di hadapan kita saat ini, meskipun telah diselewengkan –menurut mereka- hingga datangnya al-Qa’im al-Mahdy yang akan mengeluarkan al-Qur’an yang shahih yang dikumpulkan oleh Imam ‘Ali r.a.

Syekh al-Mufid (w. 413H) menyatakan,

“Sesungguhnya hadits-hadits yang shahih dari para imam kami a.s (yang menunjukkan) bahwa mereka memerintahkan untuk membaca apa yang ada dalam mushhaf (al-Qur’an) dan tidak melampaui batas, baik dengan menambah atau menguranginya, hingga datang al-Qa’im a.s yang akan membacakan al-Qur’an (yang benar –pen) sesuai dengan yang diturunkan Allah Ta’ala dan dikumpulkan oleh Amirul mukminin.”[59]

Dan yang harus diingat adalah bahwa masalah terjadinya tahrif dan pengurangan dalam al-Qur’an hampir dapat dikatakan telah menjadi ijma’ Syiah terdahulu, kecuali 4 orang yang tidak meyakininya. Mereka adalah Ibnu Babawaih al-Qummy (w. 382H), al-Syarif al-Murtadha (w. 436H), al-Thusy (w. 460H), dan al-Fadhl ibn al-Hasan al-Thibrisy (w. 548H). Dan menurut DR. Nashir al-Qifary, sebagian besar ulama dan pemikir Syiah Imamiyah kontemporer telah mulai meyakini ‘sterilitas’ al-Qur’an dari berbagai tahrif dan bahwa ia adalah sumber tasyri’ pertama. Salah satunya misalnya yang ditunjukkan oleh Sayyid Murtadha al-Radhawy dalam bukunya al-Burhan ‘ala ‘Adam Tahrif al-Qur’an.Hanya sangat disayangkan, karena buku ini justru berusaha melekatkan tuduhan tahrif ini melalui jalur Ahl al-Sunnah. Yaitu bahwa Ahl al-Sunnah-lah yang mengada-ada terhadap Syiah dalam hal ini.[60]

Kedua, menimbangnya dengan al-Sunnah.

Syiah Imamiyah memandang bahwa al-Sunnah merupakan sumber tasyri’ kedua setelah Kitabullah, dan hal ini disepakati oleh semua kaum muslimin.[61] Namun sebagaimana telah dijelaskan pula, bahwa definisi al-Sunnah menurut Syiah adalah perkataan, perbuatan dan penetapan al-ma’shum.

Oleh sebab itu, sang imam mempunyai hak untuk mengkhususkan dalil al-Qur’an yang umum, atau tindakan semacamnya. Atau dengan kata lain, sang imam –karena ia ma’shum-, maka posisinya sama dengan Nabi saw yang tidak berbicara kecuali berdasarkan wahyu.[62]

Akan tetapi mereka kemudian dibuat bingung oleh banyaknya perbedaan riwayat antara satu imam dengan imam lainnya. Bagaimana jika perkataan imam yang datang kemudian berbeda dengan perkataan imam yang datang sebelumnya? Al-Thusy bahkan menggambarkan bahwa tidak ada satu riwayat pun, melainkan ada riwayat lain yang menyelisihinya. Bahkan –ia juga mengakui- kesimpangsiuran ini membuat sebagian pengikut Imamiyah keluar dan meninggalkan madzhab ini.[63]

Al-Thusy sendiri mencoba mengompromikan perbedaan ini dengan mengatakan, bahwa perbedaan itu disebabkan karena sebagian imam harus melakukantaqiyyah demi menyelamatkan diri. Bahkan dalam kitab al-Kafy, ditemukan nash dari imam mereka yang justru memerintahkan untuk menampakkan pertentangan pendapat antara imam bila berhadapan dengan orang banyak.[64] Akibatnya, ulama Syiah menjadi bingung untuk membedakan, mana perkataan yang diucapkan karena taqiyyah, dan mana yang tidak. Sehingga lahirlah prinsip bahwa “segala yang menyelisihi kaum awam (baca: Ahl al-Sunnah) itulah jalan petunjuk.”[65]

Ketiga, menimbangnya dengan ijma’.

Syiah –sebagaimana juga Ahl al-Sunnah- memandang ijma’ sebagai salah satu sumber tasyri’ dalam Islam. Hanya saja, terminologi ijma’ dalam pandangan mereka berbeda dengan terminologi ijma’ menurut Ahl al-Sunnah. Ibn al-Muthahhir al-Huliyy mendefinisikan ijma’ menurut Syiah dengan mengatakan,

“Ijma’ itu hanya menjadi hujjah bagi kita jika ia mencakupi perkataan sang (imam) yang ma’shum. Maka jama’ah apapun, sedikit atau banyak, jika perkataan imam termasuk dalam perkataan mereka, maka ijma’nya menjadi hujjah karenanya (perkataan imam –pen), bukan karena kesepakatan mereka.”[66]

 Tentu menjadi jelas, bahwa ijma’ semacam ini tentu tidak memiliki arti, sebab tetap saja yang menjadi dasar penetapannya adalah ada-tidaknya perkataan imam ma’shum dalam ijma’ tersebut. Mereka sebenarnya tidak mengakui ijma’ sebagai hujjah. Yang menjadi hujjah tetaplah perkataan imam yang ma’shum.Pengakuan bahwa ijma’ adalah hujjah bagi mereka hanyalah pengakuan kosong belaka.[67] Sebagai contoh, jika Imam al-Jawad –yang ‘menjabat’ sebagai imam saat ia berusia 7 tahun- mengeluarkan sebuah pendapat, maka pendapatnya itulah yang menjadi hujjah, meskipun ummat Islam sedunia menyelisihi apa yang ia katakan.[68]

Keempat, menimbangnya dengan akal.

Secara umum, Syiah Imamiyah juga mengakui akal sebagai sumber tasyri’keempat. Dan yang dimaksud dengan akal di sini adalah “hukum-hukum yang digali sendiri oleh akal”, seperti keharusan menolak semua kemudharatan, dan menghukumi jahatnya memberikan hukuman tanpa penjelasan.[69]

Akan tetapi akal tidaklah dapat berdiri sendiri tanpa adanya dalil dari al-Qur’an, al-Sunnah dan ijma’ –dengan semua definisi dan keyakinan mereka tentang ketiga sumber itu-. Bahkan dengan semua keyakinan mereka tentang ketiga sumber itu, mereka sebenarnya tidak akan pernah menimbang hadits-hadits mereka dengan akal sehat, sebab pada akhirnya semua bergantung pada riwayat-riwayat yang ada dalam kitab-kitab al-Ushul mereka. Syekh al-Mufid menggambarkan tentang “tidak berfungsinya” akal menghadapi teks-teks hadits Imamiyah,

“Seandainya ia (maksudnya imam mereka yang masih kanak-kanak) mengatakan sebuah perkataan yang tidak ada seorang manusia pun sepakat dengannya, itu sudah cukup untuk menjadi hujjah dan dalil.”[70]

Intinya, bahwa Syiah Imamiyah tidak terlalu memfungsikan rambu-rambu kritik matan tersebut. Sebab, seandainya mereka memfungsikan rambu yang keempat saja –menimbang dengan akal sehat-, maka –seperti kata DR. al-Qifary- mereka akan menemukan begitu banyak matan-matan hadits yang jelas kedustaannya atas Islam; baik karena menyerang Kitabullah, memerangi sunnah Nabi saw, mengkafirkan generasi terbaik ummat ini, dan menyebutkan akidah-akidah yang tidak ada dalam al-Qur’an. Ini saja sudah cukup untuk mempertanyakan hadits-hadits mereka.[71]

PENUTUP

Melalui kajian singkat ini setidaknya kita dapat melihat –meskipun tidak secara terperinci- bahwa secara garis besar memang ada persamaan antara Ahl al-Sunnah dan Syiah Imamiyah secara khusus dalam proses melakukan kritik terhadap sanad dan matan. Meskipun kemudian dalam penerapannya terdapat perbedaan yang sangat jauh antara keduanya. Sebagai contoh, jika Ahl al-Sunnah sejak awal menjadikan sanad sebagai salah satu pijakan utama dalam menerima hadits, maka Syiah justru ‘terlambat’ untuk menyadari itu. Bahkan, -seperti diakui oleh ulama mereka sendiri- perhatian terhadap sanad itu muncul bukan karena memang hal itu penting, akan tetapi sekedar untuk memunculkan ‘pembelaan’ di hadapan Ahl al-Sunnah.

Akhirnya, masih banyak hal yang perlu dijawab oleh kalangan Syiah Imamiyahterkait dengan hal ini. Semoga kelak ada sebuah kesadaran untuk benar-benar mendasarkan keberagamaan dan ketaatan pada Allah dengan landasan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Awa’il al-Maqalat fi al-Madzahib al-Mukhtarat: Luthfullah al-Shafy. Al-Mathba’ah al-‘Ilmiyyah Qum. Cetakan pertama 1398 H.
  2. Bihar al-Anwar al-Jami’ah li Durar Akhbar al-A’immah al-Athhar: Muhammad Baqir al-Majlisy (w. 1111 H), Mua’assasah al-Wafa’ Beirut. Cetakan kedua 1983 M.
  3. Da’irah alMa’arif al-Syi’iyyah: Hasan al-Amin. Dar al-Ta’aruf li al-Mathbu’at, Beirut. Cetakan keempat 1989 M.
  4. Al-Fahrasat: Muhammad ibn al-Hasan al-Thusy. Al-Mathba’ah al-Haidariyah, Nejef. Cetakan kedua 1960 M.
  5. Al-Imam al-Shadiq: Muhammad Abu Zahrah. Dar al-Fikr al-‘Araby, Kairo. T.t.
  6. Al-Istibshar fi Ma Ikhtalafa min al-Akhbar: Abu Ja’far Muhammad ibn al-Hasan al-Thusy (w. 460 H). Dar al-Adhwa’, Beirut. Cetakan kedua 1992 M.
  7. Al-I’tiqadat: Abu Ja’far Muhammad ibn Babawaih al-Qummy (w. 381 H). Cetakan Iran 1320 H.
  8. Kulliyat fi ‘Ilm alRijal: Ja’far al-Subhany. Dar al-Mizan Beirut. Cetakan pertama 1990 M.
  9. Lu’lu’ah alBahrain fi al-Ijazat wa Tarajum Rijal al-Hadits: Yusuf ibn Ahmad al-Bahrany (w. 118 6H). Tahqiq: Muhammad Shadiq Bahr al-Ulum. Dar al-Adhwa’ Beirut. Cetakan kedua 1986 M.
  10. Ma’a ‘Ulama’ alNajf: Muhammad Jawab Mughniyah. Dar al-Jawad Beirut 1984 M.
  11. Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyah fi Naqdh Kalam al-Syi’ah wa al-Qadariyah: Taqiyy al-Din Ahmad ibn Taimiyah. Tahqiq: DR. Muhammad Rasyad Salim. Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo. Cetakan kedua 1989 M.
  12. Miqyas al-Hidayah fi ‘Ilm al-Dirayah: ‘Abdullah al-Mamqany (1351 H). Tahqiq:  Muhammad Ridha al-Mamqany. Mu’assasah Alu al-Bait, Beirut. Cetakan pertama 1991 M.
  13. Mir’at al-‘Uqul fi Syarh Akhbar Ali al-Rasul (Syarah kitab al-Kafy): Muhammad Baqir al-Majlisy (w. 1111 H). Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran. Cetakan kedua 1363 H.
  14. Nasy’at Ulum al-Hadits wa Mushthalahihi: DR. Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib. Kulliyat Dar al-‘Ulum, Universitas Kairo 1965 M.
  15. Qawa’id al-Hadits: Muhyi al-Din al-Musawy al-Gharify. Dar al-Adhwa’, Beirut. Cetakan kedua 1986 M.
  16. Raudhah al-Jannat fi Ahwal al-‘Ulama’ wa al-Sadat: Muhammad Baqir al-Khawansary (w. 1313 H). Al-Mathba’ah al-Haidariyah 1950 M.
  17. Tarikh al-Imamiyah wa Aslafihim min al-Syi’ah: DR. Abdullah Fayyadh. Mu’assasah al-A’lamy li al-Mathbu’at, Beirut. Cetakan ketiga 1986 M.
  18. Tautsiq al-Sunnah Baina al-Syi’ah al-Imamiyah wa Ahl al-Sunnah: Ahmad Haris Suhaimi. Dar al-Salam, Mesir. Cetakan pertama 2003 M.
  19. Al-Syi’ah Hum Ahl al-Sunnah: DR. Muhammad al-Tijany al-Samawy. Mu’assasah al-Fajr, London. Cetakan pertama 1993 M.
  20. Ashl al-Syi’ah wa Ushuluha: Muhammad Husain Alu Kasyif al-Ghtha’. Dar al-Adhwa’ Beirut. Cetakan pertama 1991 M.
  21. Al-Ushul al-‘Ammah li al-Fiqh al-Muqaran: Muhammad Taqiy al-Hakim. Dar al-Andalus. Cetakan kedua 1989 M.
  22. Ushul Fiqih: Muhammad Ridha al-Muzhaffar. Dar al-Nu’man, Nejef. Cetakan kedua 1967 M.
  23. Ushul al-Kafy wa Furu’uh: Muhammad ibn Ya’qub al-Kulainy (w. 329 H). Dar al-Adhwa’, Beirut. Cetakan pertama 1399 H.
  24. Ushul Madzhab alSyi’ah al-Imamiyah al-Itsnay ‘Asyariyah: DR. Nashir ibn Abdillah ibn Ali al-Qifary. Jami’ah al-Imam Muhammad ibn Su’ud al-Islamiyah. Cetakan pertama 1993 M.

Endnotes

[1] Tautsiq al-Sunnah, hal. 7-8

[2] Ibid., hal.143

[3] Ushul al-Fiqh 3/61-63

[4] Seperti melalui kedatangan malaikat padanya. Lih. Mir’at al-‘Uqul 4/288.

[5] Tarikh al-Imamiyah hal. 158

[6] Al-I’tiqadat hal. 106. Lih. Ushul Madzhab al-Syi’ah 1/308. Perhatikan kata “wahyu-Nya”, apakah ini berarti wahyu diturunkan kepada mereka?? Anehnya, Syekh al-Mufid –salah seorang ulama mereka- menyatakan bahwa siapa yang meyakini hal itu, maka ia telah kafir. Lih. Awa’il al-Maqalat hal. 76, sebagaimana dalam Tautsiq al-Sunnah hal. 145

[7] Dalam kitab Ushul al-Kafi (1/296) –misalnya- tertulis sebuah bab berjudul “Bab yang menjelaskan tentang shahifah, al-Jufr, al-Jami’ah dan Mushaf Fathimah ‘alaihasalam.” Penyusun kitab Bihar al-Anwar bahkan menulis sebuah bab dalam kitabnya (26/117-132) dengan judul “Bab (yang menunjukkan bahwa) para imam alaihimussalam mempunyai kitab yang berisi nama-nama penghuni surga dan nama-nama pengikut serta musuh mereka.” Lih. Tautsiq al-Sunnah, hal. 145

[8] Lih. Ushul Madzhab al-Syi’ah 1/316; Alu Kasyif al-Ghitha’, Ashl al-Syi’ah wa Ushuluha, hal.162

[9] Tarikh al-Imamiyah hal. 139; Al-Syi’ah Hum Ahl al-Sunnah hal. 119.

[10] Lih. Al-Ushul al-‘Ammah li al-Fiqh al-Muqaran hal. 174

[11] Lih. Minhaj al-Sunnah 5/63;  Tautsiq al-Sunnah hal. 151

[12] DR. Al-Tijany dalam bukunya Al-Syi’ah Hum Ahl al-Sunnah merujukkan perkataan ini ke Ma’alim al-Madrasatain 2/302.

[13] Tautsiq al-Sunnah hal. 153

[14] Ibid., hal. 154. Lih juga Da’irah al-Ma’arif al-Syi’iyyah 1/94.

[15] Ma’a ‘Ulama al-Najf al-Asyraf, hal. 74

[16] Da’irah al-Ma’arif al-Syi’iyah, 1/94

[17] Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa ide ini dimulai oleh Ahmad ibn Thawus, guru dari Ibnu al-Muthahhir, yang kemudian dilanjutkan oleh muridnya. Lih. Da’irah al-Ma’arif al-Syi’iyyah, 3/119. Ibnu al-Muthahhir sendiri adalah ulama Syiah yang dibantah oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam bukunya Minhaj al-Sunnah.

[18] Tautsiq al-Sunnah, hal. 157

[19] Lih. Wasa’il al-Syi’ah 20/100, sebagaimana dalam Tautsiq al-Sunnah, hal.157

[20] Mereka nampaknya selalu menyebut Ahl al-Sunnah dengan istilah al-‘Ammah (orang awam). pen

[21] Lih.. Wasa’il al-Syi’ah 20/100. Menurut DR. Nashir al-Qifary dalam Ushul Madzhab al-Syi’ah (1/388), pengeksposan “Musthalah Hadits” ini nampaknya hanya sekedar sebuah upaya taqiyyah untuk menutupi nilai-nilai ekstrem (ghuluw) yang terdapat dalam aqidah mereka. “Mushthalah” ini kemudian berfungsi saat kritik diarahkan kepada mereka, maka mereka pun mengatakan bahwa dalam periwayatan kami pun ada istilah shahih ataupun dha’if. Fenomena ini –menurutnya- dapat dilihat dalam tulisan-tulisan ulama Syiah kontemporer, seperti Syekh Ja’far al-Subhany dalam al-Wahhabiyah fi al-Mizan, hal. 27.

[22] Lih. Miqyas al-Hidayah 2/25. Dalam Qawa’id al-Hadits hal. 27-28 bahkan disebutkan bahwa mayoritas ulama Syiah menolak periwayatan non-Imamiyah secara mutlak.

[23] Lih.  Al-‘Uddah karya al-Thusy, sebagaimana dinukil dari al-Imam al-Shadiq, Syekh Abu Zahrah, hal. 379. Syarat ini juga dikuatkan oleh ulama Syiah lainnya, seperti Alu Kasyif al-Ghitha’, Muhammad Taqiyy al-Qummy, DR. al-Fayyadh dan DR. al-Tijany al-Samawy. Tapi anehnya, Syekh Hasyim Ma’ruf –salah seorang ulama Syiah juga- menyatakan bahwa syarat ini tidak diakui oleh satu pun ulama Imamiyah, baik yang terdahulu maupun sekarang. Lih. Tautsiq al-Sunnah, hal. 160.

[24] Lih. al-Istibshar 1/125.

[25] Diantaranya adalah al-Thusy. Lih. Tautsiq al-Sunnah, hal. 160.

[26] Miqyas al-Hidayah 2/26, dan Nasy’at Ulum al-Hadits  hal. 473. Secara spesifik, al Majlisy dalam Bihar al-Anwar (2/214) menyatakan bahwa tidak boleh merujuk pada periwayatan penyelisih Syiah, kecuali periwayatan yang mendukung dan menguatkan eksistensi madzhab Syiah.

[27] Tautsiq al-Sunnah, hal. 164.

[28] Seperti al-Barqy, al-Kusysyi, Ibn Qaulawaih, al-Thusy dan yang lainnya.

[29] Lih. Kulliyat fi ‘Ilm al-Rijal, hal. 151-157.

[30] Tautsiq al-Sunnah hal. 165.

[31] Lih. Qawa’id al-Tahdits, hal. 38, dan Kulliyat ‘Ilm al-Rijal, hal. 186.

[32] Lih. Kulliyat fi ‘Ilm al-Rijal, hal. 205.

[33] Ibid., hal. 275.

[34] Lih. Miqyas al-Hidayah, 2/307.

[35] Maksudnya para khalifah dan sahabat Rasulullah, pen.

[36] Awa’il al-Maqalat, hal. 49.

[37] Lih. Ushul Madzhab al-Syi’ah 3/992.

[38] Beliau adalah seorang tabi’in senior dan juru tulis ‘Ali ibn Abi Thalib r.a yang menulis nama-nama sahabat yang mendukung ‘Ali dan turut serta dalam peperangan yang dipimpinnya di Bashrah, Shiffin, dan Nahrawan.

[39] Lih. Qawa’id al-Tahdits, hal. 204.

[40] Lih. Kulliyat fi ‘Ilm al-Rijal, hal. 93.

[41] Lih. Lu’lu’ah al-Bahrain, hal. 47.

[42] Lih. Tautsiq al-Sunnah, hal. 173-174.

[43] Lih. Ashl al-Syi’ah wa Ushuluha, hal. 165, dan  al-Syi’ah Hum Ahl al-Sunnah, hal. 119. Namun –lagi-lagi- Syekh Hasyim Ma’ruf menyatakan bahwa keharusan persambungan sanad pada seorang imam tidak pernah dikatakan oleh Syiah Imamiyah, sejak dulu maupun sekarang. Lih. Al-Mabadi’ al-‘Ammah hal. 235 dimana ia membantah Syekh Abu Zahrah dalam masalah ini.

[44] Kitab-kitab al-Ushul adalah kitab-kitab dimana para penyusunnya mengumpulkan hadits-hadits yang mereka riwayatkan dari imam ma’shum atau dari orang yang meriwayatkan dari imam tersebut. Lih. Qawa’id al-Hadits, hal. 98-99.

[45] Lih. Kulliyat fi ‘Ilm al-Rijal, hal. 70.

[46] Lih. Tautsiq al-Sunnah, hal. 175.

[47] Lih. Ushul Madzhab al-Syi’ah, 1/387.

[48] Al-Qawanin, 2/222.

[49] Al-Hur al-‘Ain, hal. 153, sebagaimana dalam Tautsiq al-Sunnah, hal. 176.

[50] Lih. Raudhat al-Jannat, 6/114.

[51] Lih. Al-Fahrasat, hal. 161.

[52] Lihat dalam bukunya, al-Maudhu’at, hal. 253, sebagaimana dalam Tautsiq al-Sunnah, hal. 177.

[53] Lih. Al-Dzari’ah, 4/504, sebagaimana dalam Tautsiq al-Sunnah, hal. 177.

[54] Lih. Lu’lu’ah al-Bahrain, hal. 47.

[55] Salah satu karya pentingnya yang menjadi rujukan Syiah Imamiyah adalah Bihar al-Anwar. Kitab ini ditulis tanpa sanad. Penulisnya mengatakan jumlah kitab ini ada 25 jilid, namun ulama Syiah yang datang kemudian menambahkan kitab-kitab lain yang bukan merupakan karya al-Majlisy. Hingga dalam cetakan terbaru kitab ini jumlahnya mencapai 110 jilid! Kitab ini sendiri mengandung banyak serangan terhadap Islam, al-Qur’an, sahabat Nabi, bahkan Ahl al-Bait. Lih. Tautsiq al-Sunnah, hal. 200, dan Mas’alah al-Taqrib 1/275.

[56] Sebagaimana dalam al-Imam al-Shadiq, hal. 459, yang menukil dari Rasa’il Abi al Ma’aly.

[57] Disebutkan dalam pengantarnya terhadap kitab Syarh Jami’ ala al-Kafy karya al-Mazindarany. Sebagaimana dinukil dalam Ushul Madzhab al-Syi’ah, 1/245.

[58] Ushul al-Kafy, 1/121, dan Al-Maudhu’at, hal. 284-285.

[59] Ara’ Haula al-Qur’an, hal. 134.

[60] Lih. Mas’alah al-Taqrib, 1/89-90. al-Qifary juga menjawab tuduhan tersebut dalam buku yang sama, dan juga dalam Ushul Madzhab al-Syi’ah, 3/1053.

[61] Lih. Al-Syi’ah fi al-Mizan, hal. 319.

[62] Lih. Ushul Fiqh, 3/61.

[63] Lih. Tahdzib al-Ahkam, 1/53.

[64] Al-Majlisy mengatakan ini adalah hadits shahih. Lih. Mir’at al-‘Uqul, 1/217.

[65] Lih. Al-Hada’iq al-Nadhirah, 1/5, sebagaimana dalam Tautsiq al-Sunnah, hal. 210.

[66] Tahdzib al-Wushul ila ‘Ilm al-Ushul, hal. 142 sebagaimana dalam Fiqh al-Syi’ah, hal. 61

[67] Lih. Ushul Madzhab al-Syi’ah, 1/404.

[68] Lih. Fiqh al-Syi’ah, hal. 61.

[69] Lih. Tautsiq al-Sunnah, hal. 216.

[70] Awa’il al-Maqalat, hal. 142.

[71] Lih. Ushul Madzhab al-Syi’ah, 1/399.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s