RT Kami

8 November 2014

RT kami berhasil mengumpulkan uang untuk membeli mobil minivan. Mobil ini diniatkan untuk memperlancar mobilitas pengurus RT jika ada acara di kelurahan atau jika ada acara besuk warga di rumah sakit di kota.

Sejak Ketua RT berganti dari Pak Bambang, mobil RT kami jadi sering dipakai. Dulu waktu Pak RT yang Baru nyalon jadi Ketua RT, ia bilang mau jual mobil itu. Pak RT yang Baru waktu nyalon bilang bahwa RT terlalu boros kalau piara mobil dan tidak pantes buat RT kami yang terletak di perumahan bersubsidi.

Ya, memang lidah tidak bertulang. Lambe iso lamis. ‘Contong kobong’, kojehe kancaku.

Sejak ketua RT kami berganti dari Pak Bambang, mobil minivan milik RT kami malah jadi kian sering dipakai. Ide hendak dijual sudah ditepis Pak RT. Katanya buat apa dijual jika RT memang butuh kemanfaatannya.

Ya, tiap hari mobil minivan kami dipakai Pak RT. Pak RT bilang bahwa mobil harus sering dipakai biar tidak mubazir, biar gak gampang rusak. Bahkan yang terbaru, Pak RT ngajak pergi seluruh anggota keluarganya ke acara sarasehan Ketua RT se-Indonesia di Semarang.

Ketika Bendahara RT protes mengapa Pak RT boyongan serumah untuk acara itu dengan memakai mobil RT, jawab Pak RT juga tak bisa disalahkan: Pak RT tak bisa fokus kerja kalau jauh dari keluarga.

=======================

15 November 2014

“Jangkrik!” Pak Wahyudi bercanda khas jawa timuran kepada Pak RT.
“Lha ada apa to Pak?” Timpal Pak RT.
“Lha iya to, Sampeyan dulu katanya bakal bikin susah pendatang baru masuk ke RT kita. Lha kemarin waktu kasih pidato di Jogja kok Pak RT malah undang-undang warga baru ke RT kita?” gugat Pak Wahyudi.
Pak RT dengan diplomatis menjawab: “Hormati saya. Saya yang lebih tahu tentang kurangnya jumlah warga di RT kita.”
“Lihat, kurangnya jumlah warga bikin iuran RT terkumpul hanya sedikit to?” Tambah Pak RT.

Pak RT mengambil napas dan lalu mulai lagi bicara:
“Pokoknya Pak Wahyudi lihat saja kerja saya. Jangan dulu dikomentari. Saya akan bawa RT ini jadi RT membanggakan.”

Pak Wahyudi tak bisa menyanggah. Ia tak cukup mental untuk membantah terlampau jauh. Ada rumor bahwa Pak RT didukung hampir semua warga RT dan ketua-ketua RT yang lain. Menuntut ajeg lidah Pak RT bisa berbahaya.

Plek. Pundak Pak Wahyudi ditepuk Pak RT.

“Saya pulang ke rumah dulu Pak!” kata Pak RT memecah solilokui batin Pak Wahyudi.

Terperanjat, Pak Wahyudi menjawab, “eh, ya Pak.”

Tak ada rumput bergoyang untuk dapat jawaban. Tinggal Pak Wahyudi di pos ronda.

Di kejauhan terdengar suara jangkrik bersahutan. Entah suara jangkrik beneran atau suara Pak RT sedang melatih kerik jangkrik-jangkriknya. Tak ada yang bisa ditanyai.

===========================

18 November 2014

Meski tidak jaman lagi punya pager dan tidak hendak mengupas Neo dengan ‘pager’-nya, tadi malam hapeku berbunyi “tit tit tit, tit tit tit ….”

Aku kaget. Rahmat sms kalau iuran RT naik tepat jam 12 tadi malam. Kata Rahmat, Pak RT mengabarkan keputusan naik besar iuran lewat kanal sms masal Mas Bowo, seksi apa-saja RT.

Di dalam sms Pak RT kepada warga itu, masih kata Rahmat, iuran terpaksa naik karena itu sudah jadi keputusan Pak RT.

Membaca sms dari Rahmat, aku kaget dan bingung. Kaget karena baru kali ini berita sepenting itu dikabarkan lewat sms dan bukan disampaikan secara langsung di rapat warga. Oh ya, rapat warga di RT kami diadakan sebulan sekali di pekan pertama atau kedua asal ketemu hari Minggu.

Aku juga bingung karena di sms yang dikirim Rahmat, alasan naik besar iuran RT adalah sudah jadi keputusan Pak RT.

Ku lalu telpon Rahmat. Aku hendak memastikan bahwa Rahmat tidak salah ketik. Masak alasan dari Pak RT terkait keputusan itu adalah karena sudah jadi keputusan Pak RT. Wah, kalau benar alasannya itu berarti beliau Pak RT menelurkan kebijakan karena beliau bisa bukan karena keadaan memaksa. Lha tapi kok Rahmat di sms bilang bahwa Pak RT ‘terpaksa’ mengeluarkan kebijakan itu? Tambah bingung aku.

Biar tidak penasaran dan agar jelas perkara, aku telpon Rahmat. Dan, … memang benar! Keputusan itu memang berbunyi demikian! Duh.

==========================

18 November 2014

“Pak RT, Pak RT!” Pak Jayus ketuk-ketuk pintu rumah Pak RT.
“Ya ada apa Pak?” jawab Pak RT.
“Mari masuk ke dalam rumah, silakan duduk dulu” tambah Pak RT.

Pak Jayus masuk dan lalu duduk. Pak Jayus tiba-tiba bertanya, “Pak RT pernah miskin?”
Kaget, Pak RT baru pertama kali mendapat pertanyaan seperti itu. Pak RT lalu teringat bagaimana bapaknya dulu bercerita betapa miskinnya keluarga kakeknya. Berkat usaha gigih bapaknyalah di dalam berjualan meubles Pak RT bisa menikmati masa kecil yang kecukupan. Malah lumayan terpandang.

Pak RT masih ingat ketika kawannya SD belum pada punya sepeda gowes, ia sudah dibelikan bapaknya. Waktu Pak RT masuk SMA-pun, ia sudah punya tunggangan pakai mesin sementara kawan-kawan lainnya belum banyak yang punya. Pak RT kaget sekali mengapa ia mendapat pertanyaan pendek susah jawab kayak gitu. Pak RT berpikir jangan-jangan Pak Jayus hendak mengetes kemampuan intelektualnya dengan pertanyaan yang wagu seperti itu.

Mencoba mengulur waktu sembari menakar motif pertanyaan Pak Jayus, Pak RT balik bertanya, “lha memangnya ada perlu apa kok Bapak Jayus ini mengajukan pertanyaan yang aneh seperti itu?”

“E, eh, …begini….e, begini lho Pak,” agak kikuk Pak Jayus menerangkan alasan ia bertandang ke rumah Pak RT dan lalu ujug-ujug bertanya kayak tadi.

Pak Jayus ini adalah warga lama di RT kami. Dari sisi ekonomi, ia bolehlah disebut kurang. Anaknya 4 dan ia hanyalah buruh pabrik tekstil di Palur, suatu wilayah 15 menit dari RT kami. Istri Pak Gayus, Bu Ana adalah seorang ibu rumah tangga biasa.

Pak Jayus tinggal di ujung gang RT kami. Ia adalah warga yang baik dan rajin. Ia tidak pernah tidak mangguk jika berpapasan tetangga di jalan. Ia selalu aktif menyumbang tenaga saat ada tetangga punya gawe. Pak Jayus juga tak pernah absen rapat RT. Kalau tidak percaya bisa ditengok di buku presensi rapat RT yang dipegang Sekretaris RT, Pak Wisnu.

“Begini lho Pak” sambung Pak Jayus, “Anu, ini terkait dengan naik besaran iur RT. Kenaikan yang Pak RT titahkan sungguh memberatkan saya. Baru kali ini kenaikan besarnya di luar pakem. Sebenarnya Pak RT mau ada rencana apa sih kok grusa-grusu harus ambil kebijakan kayak gitu?” tuntut tanya Pak Jayus.

Pak RT menghela napas. Batin Pak RT, “mengapa sih warga selalu nyinyir melambai pada setiap kebijakan yang ia bikin. Bukankah agak aneh juga, ingat-ingat Pak RT, pintu rumah Pak Jayus ada stiker “manut penak”, eh lha kok ini sowan siang-siang dengan pertanyaan aneh dalam bentuk gugatan”. “Ah, yang begini ini adalah benih perlawanan otoritas yang ia pegang” … masih gumam Pak RT. Tapi Pak RT tidak mau bertindak gegabah menanggapi Pak Jayus. Pak RT meredamkan dirinya dengan berpikir positif. Toh, ia juga layak tenang karena ia adalah RT pilihan warga dan bukan tunjukan pak RW.

“Begini Pak Jayus, ini adalah salah satu kebijakan yang berat namun tetap harus saya ambil” jawab Pak RT dengan mimik serius. “Saya hendak membuat RT kita sejahtera dan unggul dibanding RT lain,” tambah Pak RT.
Lalu Pak RT melanjutkan paparannya. “Saya ada program mensejahterakan warga RT, kasih subsidi dari kas RT buat warga RT kita yang mau ke puskesmas. Juga, masih ingat to bahwa saya mau ini dan itu, di du du di da da, bla dan bla…. Itu janji saya ke warga sebelum terpilih jadi RT dan naiknya besar iur RT adalah niscaya. Kita semua harus berkorban di dalam mewujudkan kejayaan saya, eh, … RT kita ini.”

Pak Jayus hendak protes tapi takut kalau nanti susah ngurus ini itu. Takut distempel Pak RT sebagai warga yang gak bisa diajak maju, gak bisa move on.

Pak Jayus lalu hanya menimpali Pak RT begini: “Pak, khawatirnya nanti iuran-iuran lain juga bakal naik jika kebijakan naik besar iur ini tetap jalan. Kalau semua naik, kasihan anak istri dan saya, Pak.” Pak Jayus suaranya memelas.

Pak RT, antara hendak menenangkan warga atau entah hendak menjaga wibawa bahwa semuanya bisa ditangani olehnya, menjawab, “Tenang saja Pak Jayus, iuran-iuran lain saya jamin tidak bakal naik. Sekarang pulanglah, pegang kata-kata saya.”.

Pak Jayus pulang dengan hati yang riang, mirip gembiranya gembala Tasya. Namun keceriaan itu mendadak hilang saat Pak Jayus melintas di rumah Pak Isa. Di rumah Pak Isa, Bu Isa dan pengurus PKK RT lain sedang membahas besaran kenaikan iuran ibu-ibu PKK. Alasan ada rapat itu sederhana saja: disesuaikan dengan laju gairah program ke-RT-an, semua harus naik!

===========================

18 November 2014

Mantan bendahara RT colek Mas Nassirun, kawan maya luar kota, bunyinya:

“Ada koki yang juga jadi pencuci piring. Pestanya mana?”

Mantan bendahara RT mencolek kawan dunia mayanya dengan kalimat itu karena ada yang menyebarkan potret Pak RT sedang memakai celemek dan melayani semua tamu kayak di sebuah pesta …………. tidak lama sesudah itu juga ada yang menuduh bahwa Pak RT kami diumpamakan pencuci piringnya Pak RT yang lama gegara beberapa dokumen ke-RT-an pengurus sebelumnya banyak yang amburadul.

Nah, ironi dari “koki” dan “pencuci piring” ini adalah bagaimana Pak RT kami memang dikenal suka mengadakan pesta bagi anak-anak karang taruna. Seakan-akan “koki”, “pencuci piring” dan “pesta anak-anak karang taruna” adalah nature-nya beliau. Jadi memang wajar ditahbiskan pada beliau.

===========================

20 November 2014

Pak RT barusan sms mantan bendahara RT yang sekarang ada di Australia. Bunyi sms-nya: “krik, krik, krik …. Gawat Pak, warga besok mau demo ke depan rumah saya gara-gara kebijakan saya. Bagaimana nih?”

Jawab mantan bendahara RT: “kung kong kung kong”

==========================

20 November 2014

Band kesukaan Pak RT siang ini akan kolaborasi dengan pengamen ajaib, Tegar.

Dulu di RT kami, Tegar sempat jadi favorit anak-anak. Anak mantan bendahara RT-pun dahulu suka mendendangkan lagu milik Tegar: “aku yang dulu bukanlah yang sekarang”.

“Pesannya di iklan jelas, agar semua warga RT tegar. Dan iklan itu memang kebanyakan agar-agar; alasan yang bejibun supaya masuk di akal,” Celetuk seorang warga tetangga sebelah rumah Pak Fulan yang baru saja dipulasarakan menuruti instruksi Pak Gubernur.

===========================

20 November 2014

“Kau pikir gampang jadi ketua RT?” sebuah pesing masuk ke hape mantan bendahara RT.

Mantan bendahara RT lagi melamun. Ia terhenyak kecil ketika nada notif pesing mengusik lamunannya.

Acuh pada pesing, mantan bendahara RT melanjutkan lamunan yang tadi sempat digantung di awan.

“Aku rindu kalian”, bisiknya pada debu di meja sebuah foodshop kebab. Ia baru saja menikmati perih kangen, kebab, chicken ball, dan separuh latte. Ia sepertinya penaka kasmaran-nya Ebiet; “memahat awan dengan bayang-bayang”.

Mungkin Pink Floyd punya satu kalimat yang pas: “I wish you were here”. Mantan bendahara RT lagi ngelangut pada rumah nun jauh di sana. (Ia barusan juga bilang ke saya: “kalimatnya Pink Floyd boleh dipakai tapi konteks penciptaan dan pemaknaan lagu itu tidak kusukai!” Aku minta maaf padanya tentang ketidaktepatan tadi).

Tinggal separuh Latte dan meja yang tadi dipakai mantan bendahara RT. Ia tak tahu pulang ke mana. Bisakah kau sebut rumah jika kau tak kenal baunya?

========================

21 November 2014

“Pak RT orang Jawa?” tanya Pak Agus, guru SD di Karanganyar.
“Ya dong Pak. Bukankah nama saya berbau Jawa?” jawab Pak RT.
“Maaf, ada apa to Pak? Kok menanyakan sesuatu yang sudah jelas,” sambung Pak RT.
Pak Agus atau kerap dipanggil Pak Dhe Agus ini adalah salah satu sesepuh RT. Pembawaannya kalem bukan karena manipulatif tapi ia genuine. Tipikal Jawa saestu.
Pak Agus ini adalah tempat kami yang masih muda-muda untuk ngangsu ilmu. Pak Agus ini memang pandai ilmu urip dan tidak ndakik-ndakik dengan ilmu-ilmu sekolahan yang kian jaman malah menjadikan manusia tidak jadi uwong tapi malah jadi budak uang; tertipu dengan dialektika semu. “Urip itu murupi lan nguripi”, begitu kalimat pakem yang utama dari Pak Agus.

“Pak RT boleh pakai kaos sesuka hati ketika di luar rumah. Benar begitu Pak RT?” tanya Pak Agus.
“Benar. Lalu ada apa ya Pak?” tanya Pak RT menyelidik.

“Boleh apakah diartikan ‘baik-baik’ saja dilakukan?” Pak Agus mutar-mutar khas orang Jawa.
Pak RT yang orang Jawa kelihatannya mulai paham ular-ular mbulet khas Jawa yang dilontarkan Pak Agus.
“Begitu ya begitu namun bukan berarti bebas begitu” bisik lirih Pak RT.

“Benar. Punika leres Pak RT. Meski Pak RT bisa bebas melakukan apa saja namun Pak RT sekarang ini menjabat sebagai Pak RT. Hargai jabatan yang diamanahkan warga dengan cara yang pas. Masak Pak RT mau pakai kaos bolong-bolong saat cangkrukan dengan warga?” lontar Pak Agus.
“Menjadi uwong yang genuine itu ngepaskan yang harus dipaskan dan bukan bebas sesuai mau sendiri. Melu total imam pas sembahyang nika pas tapi di luar sholat banyak dinamika yang mungkin imam tak paham. Artinya pendapat imam bisa dipakai, saged dimodifikasi, bisa digantung, bisa juga ditolak saat ada pendapat lain lebih baik. Itu contohnya.” imbuh Pak Agus.

“Oh. Njih, kula paham sapunika Pak Agus”, sahut Pak RT.

Malam itu tidak begitu dingin. Di gardu jaga cuman ada Pak RT, Pak Agus, Mas Bowo sedang Pak Budi absen kerna masuk angin. Seperti biasa, tugas ronda bapak-bapak di RT kami dilakukan dengan melewatkan malam memelototi TV sambil kadang-kadang keliling menjangkahi gang RT.

Malam itu mereka asyik menonton TV. Kebetulan di berita sedang ditayangkan betapa mengasyikannya jalan-jalan acara keluarga dengan naik pesawat kelas ekonomi.

=========================

29 November 2014

Pak RT nampak gelisah. Pasalnya, perut kembungnya belum juga sembuh. Sudah macam-macam obat Pak RT cobai. Tablet untuk kembung, kapsul ini dan itu, puyer a maupun b, bahkan obat tetes dan injeksi dubur sudah dicoba namun kembung tak juga minggat dari lambung. Bagi Pak RT, sakit ini agak aneh. Belum pernah ia mengalami kembung tak berkesudahan. Karena sakitnya gak karuan dan tak juga sembuh, Pak RT sempat curiga bahwa ini bisa jadi kerja pertenungan. Well, Pak RT berusaha menyingkirkan perkara klenik dari kembungnya. Namun setelah dipikir dengan seksama dan serius, Pak RT ogah mengaitkannya dengan ulah santet dukun. Sederhana sejatinya kesimpulan Pak RT: masak dukunnya engga mbo-iz, nyantet cuman bikin kembung aja. Gak cucuk ma nyaurnya ama jin.

By the way bus way yang mau diganti dari Eropa kata Nobita, tiba-tiba di dalam duduk termenung Pak RT ingat Pak Jayus. Pak RT pernah dengar bahwa Pak Jayus, warga yang pernah keras menegurnya perkara harus naiknya iuran RT tanpa alasan uang jelas, terkenal pintar memberikan resep herbal untuk mengobati beberapa penyakit. Pak RT mendadak dangdut, senang gak ketulungan, seakan dapat wangsit bahwa kembung akan segera dapat digusur dari perut.

Singkat cerita, Pak RT ketemu Pak Jayus dan lalu konsultasi mengenai perut kembungnya. Pak Jayus lalu meraba-raba tubuh Pak RT, ya pokokmen kayak sinshe gitu, dicekel jamah gelangan tangan, tengkuk, telinga dan kemudian muncullah semacam fatwa: Ngapunten Pak RT, kalau Bapak pengin cepet sembuh maka Pak RT harus nyudo ngabab; mengurangi tebar bau mulut.

Pak RT kaget, tidak percaya, syak, merasa dikadalin, dibuayain, juga dikomodoin Pak Jayus. “Mosok to Pak?” dengan nada sedikit meninggi Pak RT menggugat fatwa Pak Jayus. Pak Jayus yang sangat suka lagu “Sailing” dari Christopher Cross mengutip kalimat yang ada di lagu itu dalam menjawab protes Pak RT. Ia bilang “just you wait and see, believe me”.

Pak RT pulang dari rumah Pak Jayus dengan pikiran setengah percaya setengah tidak dengan ucapan Pak Jayus. Ia pulang ke rumah sambil mendendangkan lagu Led Zeppelin, “The Song Remains The Same”.

===================================

10 Januari 2015

Pak RT beberapa bulan ini sedang tidak mood untuk memberikan wejangan langsung kepada warga. Beberapa kali pertemuan warga, Pak RT hanya membuka rapat untuk bilang bahwa Seksi Pencerahan Warga-lah yang akan mewakili beliau. Tak ada yang protes dengan gaya Pak RT di dalam rapat untuk mewakilkan semuanya kepada Seksi Pencerahan Warga. Warga sudah agak capek kasih protes ke Pak RT karena ujung-ujungnya tetap tidak digubris oleh Pak RT.

Pak Sekretaris RT beberapa bulan lamanya tidak nampak di acara rapat warga. Harap dimaklumi, Pak Sekretaris RT memang sudah agak uzur. Rapat RT selalu diselenggarakan pada malam hari pada waktu ‘keramat’ 19.30 atau 20.00 WIB karena beri waktu bagi warga muslim yang taat salat tepat waktu untuk kerjakan salat Isya.

Pak RT sekarang memang kini lebih banyak diam kecuali hanya rutinitas bicara membuka dan nutup rapat RT. Selebihnya selalu diwakilkan kepada Seksi Pencerahan Warga.

Lho ada to Seksi Pencerahan Warga?

Hanya di RT kamilah Seksi Pencerahan Warga ada. Sebenarnya, pembentukan Seksi Pencerahan Warga memang sempat menimbulkan kontroversi. Bukan hanya nomenklaturnya yang tak lumrah namun juga karena seksi ini adalah hasil pecahan dari Seksi Lain-lain; sesuatu yang gak urgent dipecah namun manut dawuh-nya Pak RT akhirnya dipecah.
Seksi Lain-lain menjadi Seksi Lain dan Seksi Pencerahan Warga. Seksi Lain tetap dengan nama aslinya sedangkan Seksi lain (l kecil) berubah menjadi Seksi Pencerahan Warga.

Seksi Pencerahan Warga ini diniatkan sebagai seksi yang bakal mengurusi sesuatu yang dasar-dasar dan bukan sesuatu yang berat-berat. Perkara yang berat hanya akan ditangani oleh Seksi Lain (huruf besar). Seksi Pencerahan Warga diplot mengurusi hal-hal dasar dan [kelihatannya untuk] mewujudkan kondisi tercerahkannya warga.

By the way, kebetulan yang terpilih sebagai penjabat Seksi Pencerahan Warga adalah Pak Wildan. Sekedar tambahan informasi yang gak begitu penting tapi relevan dengan jargon “tak kenal maka tak sayang”, Pak Wildan ini sarjana lulusan luar negeri (bukan sekolah negeri / publik) yang sudah malang melintang di dunia mentoring adik-adik yang butuh bimbingan belajar. Bahasa kerennya: guru les.

Pak Wildan ini orangnya baik hati dan tidak sombong. Hal lain yang tidak begitu penting tapi relevan dengan “mencoba mengenal supaya makin sayang”, adalah bahwa Pak Wildan ini juga tidak gengsian. Pernah ia terlihat naik becak bareng dengan Pak RT ketika ngurus berkas ke-RT-an di kelurahan. Jadi sudahlah tepat jika ia didaulat untuk jadi penjabat Seksi Pencerahan Warga; bisa nyambung dan dekat dengan Pak RT serta pengalaman jadi guru les adalah modal untuk mencerahkan warga.

Hal pertama yang kami, warga RT, ingat dari aksi pertama Pak Wildan ini adalah mengubah Program “kurun waktu matikan TV warga dengan ikhlas”. Program ini mulai berlaku sejak 2013 maka kemudian dikenal dengan Program Ikhlas 2013. Program Ikhlas 2013 adalah program yang sudah diberlakukan di seluruh Kabupaten kami. Program yang digagas oleh Bupati kami ini idenya adalah agar anak-anak sekolah “dipaksa” terhibur dengan PR sebab TV ‘wajib’ dimatikan pada kurun waktu 7 malam hingga 7 pagi.

Program ini awalnya mendapat kritikan pedas dari Komnas Anak. Sebab Program ini membuat kebebasan Anak untuk mendapat hiburan dikekang oleh kewajiban mengerjakan PR. Masuk akal memang, semua Komnas yang kami kenal memang selalu masuk akal ketika mengkritik apapun. Bagaimanapun, kebijakan Bupati akhirnya tetap dilaksanakan. Komnas seringkali hanya kuat mengkritik pemerintah dan tak kuasa merubah keadaan bila dibandingkan dengan kritikan yang ditujukan kepada suatu perusahaan atau individual.

Balik kepada Pak Wildan …..

Ketika baru saja menjabat, Pak Wildan menghentikan “Program Ikhlas 2013” itu. Alasannya juga masuk akal: membebani orang tua untuk memastikan remote TV masih ada dan nyala baterainya singga tombol power bisa dipencet tepat pada waktunya. Pak Wildan bilang bahwa orang tua seharusnya tidak dibebani dengan urusan seperti itu. Biarlah anak bebas mau nonton TV atau mengerjakan PR. Jangan dipaksa lewat pengkondisian TV harus mati pada jam tertentu. Itu menyalahi prinsip ESQ yang memang jadi idola Pak Wildan. Tak boleh ada pemaksaan; semua harus dibebaskan.

Gebrakan Pak Wildan ini mendapat dukungan dari Pak RT. Meski harus menyelisihi program yang warga sudah mulai terbiasa menjalankannya, tetaplah digariskan bahwa “Program Ikhlas 2013” ditiadakan dari RT kami. Penghapusan program ini terjadi tanpa riak di minggu pertama. Pada minggu kedua, masalah mulai muncul, ada anak tahu mengenai hapusnya “Program Ikhlas 2013”. Berita menyebar, lalu beberapa anak nagih hak nonton TV. Lazimnya anak-anak, mereka lebih suka nonton TV daripada mengerjakan PR.
Pada minggu keempat setelah penghapusan “Program Ikhlas 2013”, beberapa warga mulai protes. Mereka meminta Pak Wildan memulakan lagi “Program Ikhlas 2013”. Karena desakan warga, akhirnya Pak Wildan menerapkan lagi program tersebut.
Pak Wildan sehabis itu mendapat pujian dari banyak warga karena membuat keputusan bijak: menerapkan kembali sesuatu yang dicabutnya. Pak Wildan memang sejak saat itu terlihat kerap bercerita bagaimana tidak kakunya dia mengenai kebijakan; fleksibel istilahnya.
Bicara Pak Wildan dan kebijakannya yang lain, baru-baru ini di RT kami terjadi diare massal gegara kebijakan Pak Wildan.

Lho bagaimana bisa Seksi Pencerahan Warga terlibat di dalam kasus diare massal?

Begini ceritanya.

Sebagaimana tadi sudah kami ceritakan, Pak Wildan-lah yang sering mengisi inti acara rapat RT. Pak RT sudah beberapa kali dalam rapat RT warga hanya membuka dan nutup rapat RT sedangkan inti rapat diserahkan ke Pak Wildan.
Kita semua tahu apa saja biasanya yang jadi inti dari rapat RT: 1) wejangan singkat ke-RT-an, 2) info terbaru dari RW, Kelurahan, atau Kabupaten, dan 3) terkadang rencana-agenda RT ke depan.
Seminggu yang lalu di rapat RT, Pak RT ijin tidak bisa hadir. Beliau ada acara menghadiri perkawinan kenalan di Surabaya. Semuanya kemudian dipasrahkan kepada Pak Wildan. Malam itu, Pak Wildan mbuka rapat RT sudah dengan lincahnya. Ya iyalah … kan sudah terbiasa jadi juru bicaranya Pak RT dalam rapat sebelumnya. Lalu di bagian inti rapat, Pak Wildan ngasih wejangan yang sumber rujukan dan catatannya merupakan dawuh dari Pak RT.

Wejangan itu isinya kurang lebih himbauan kepada semua warga RT untuk membelikan “tablet” buat anak-anak mereka. Tablet ini kata Pak RT, disampaikan lewat Pak Wildan dalam rapat malam itu, akan bisa menambah pengetahuan anak-anak.

Kami ingat bahwa saat itu Pak Rahmad bertanya kepada Pak Wildan mengenai “tablet” apakah yang dimaksudkan oleh Pak RT dan belinya di mana. Pak Wildan saat itu memang memeriksa catatannya dan mengaku agak bingung juga dengan istilah “tablet” yang dimaksud Pak RT.

Karena “tablet” ini digambarkan Pak RT –lewat Pak Wildan– bakal bisa bikin anak-anak jadi pintar maka warga yang malam itu hadir mendesak Pak Wildan untuk beri penjelasan lebih jauh. Ya tadi, itu barangnya seperti apa dan belinya di mana.
Pak Wildan kami ingat dua kali memeriksa catatannya dan tidak menemukan detil mengenai istilah “tablet” ini. Karena didesak Pak Rahmad dan warga lainnya mengingat khasiat dahsyat “tablet” ini, Pak Wildan mencoba beberapa kali menelepon Pak RT. Tapi tidak ada jawaban.

Kemudian Pak Wildan muncul dengan kebijakannya. “Begini saja, karena Pak RT tidak bisa saya hubungi saat ini untuk memberikan kejelasan tentang tablet yang dimaksud … maka saya yakin kalau yang dimaksud dengan dengan tablet adalah tablet Djong Tzu Chien. Saya sering mengantar Pak RT beli ini di toko obat Cina. Saya yakin, Pak RT bisa pintar karena rajin minum tablet ini”. … Kemudian Pak Wildan meneruskan: “lha bagaimana jika besok saya belikan demi kepentingan warga semua? Saya suka urun tangan buat warga lho!” begitu terusnya.
Malam itu kami ingat ada 20-an warga pesan tablet itu kepada Pak Wildan. Dua hari berikutnya, terjadilah diare massal itu …. Yang kena diare adalah anak-anak usia sekolah di RT kami yang meminum “tablet” yang dibelikan Pak Wildan.

Warga nggruduk ke rumah Pak RT dan menganggap Pak RT memberikan informasi yang mencelakakan warga. Usut punya usut … Pak Wildan-lah yang salah menerjemahkan “tablet” yang dimaksud Pak RT.

“Tablet” yang didawuhkan Pak RT untuk dibeli warga buat anak-anak mereka adalah “Tablet yang merupakan computer kecil; semacam PDA” dan bukan “tablet obat”. Tablet Djong Tzu Chien yang dibelikan Pak Wildan adalah obat buat mengatasi keluhan Pak RT akan ambein. Pak RT tidak nyaman duduk di kursi kesayangannya semenjak ia punya ambein dan obat itu sangatlah manjur. Selama ini Pak RT jika minta dianter atau nitip Pak Wildan untuk beli tanpa bilang itu untuk apa karena Pak RT merasa malu punya ambeien.

O alah, Pak Wildan, Pak Wildan ……

==============================

13 Januari 2015

Pak RT kemarin sempat mengundang cibiran.

Pak Budi yang badannya gendut dipilihnya jadi kepala hansip yang baru.

Banyak yang membela Pak RT karena tidak ada pilihan lain kecuali Pak Budi.

Tapi beberapa warga menuding bahwa Pak RT terpaksa menuruti permintaan Mama-nya.

Oh ya, Mama-nya Pak RT tinggal di kampung kami. Pak Budi dulu adalah sopirnya Mama-nya Pak RT yang kemudian tidak dipakai lagi karena terlalu gendut.

Percaya tidak kalau berdasar riset, banyak sopir yang terlalu gendut yang diberhentikan? Masih berdasar riset juga, alasan ndoro kaya memberhentikan sopir yang kegendutan adalah khawatir orang akan bingung menilai sopir. Aturan yang dipegang para ndoro adalah sopir tak boleh terlihat lebih makmur dari mereka. Gendut itu -secara umum- dianggap sebagai tanda kemakmuran.

Jadi rumor yang paling sahih adalah Pak RT mengajukan Pak Budi yang gendut karena Mama Pak RT masih merasa tak enak karena dulu memecat Pak Budi karena kegendutan. Mamanya Pak RT hendak menebus rasa bersalah yang dulu.

Tak mau ribut dengan si Mama -tapi tak gentar rame dengan warga- Pak RT mengangkat Pak Budi sebagai kepala hansip di RT kami.

Berita terbaru, Pak Dhe Mamad -kepala perhansipan kelurahan- menegur keras pemilihan Pak Budi itu.

Tentu saja, Pak RT berkomentar: “kita serahkan pada peraturan yang ada. Biarkan Pak Mamad yang nanti menimbang kelayakan Pak Budi”.

Kita tak boleh menyalahkan Pak RT karena beliau niatnya adalah tak mau ribut dengan Mama-nya dan komentar beliau adalah bentuk pemahaman beliau untuk menenangkan warga. Jadi demikian beliau malah memenangkan hati dua pihak: Mama dan warga RT.

=============================

18 Februari 2015

Dulu, dulu sekali … saat kampanye pemilihan Ketua RT, kandidat yang kalah selalu dituding sebagai kandidat yang didukung oleh sekumpulan penjahat dan pengemplang duit kas RT.

Bahkan salah satu warga pendukung Ketua RT yang jadi sekarang, Pak Kimar Menular, membuat poster yang ditempelkan di tembok-tembok rumah warga berisi gambar beberapa warga pendukung kuat kandidat yang kalah dengan disertai tulisan: sekumpulan penjahat, koruptor, dan ha ha dan hi hi juga hu hu.

Ternyata Ketua RT yang baru tidak seperti yang diharapkan oleh para pendukungnya di masa kampanye pemilihan ketua RT dulu.

Para pesakitan hati ini, dulu pendukung Ketua RT yang jadi kini, mulai mencari-cari kalimat yang pas untuk menebus kontribusi mereka di dalam menyebarkan mimpi-mimpi yang indah.

Awalnya mereka terkaget-kaget dengan langkah-langkah Pak RT di masa awal jabatannya. Dimulai dari “lho kok gitu?”, lalu muncul kalimat “ah, Pak RT hanya shakes the things up” kemudian disusul “lho kok gini sih?” hingga akhirnya dengan berani mereka menyatakan diri sebagai mantan pecinta, eks-fans, bekas relawan fanatikus.

RT kami menjadi ramai. Ramai dengan orang-orang sakit hati dan kecewa tak terperi. Banyak janji kampanye menguap seperti bensin terpapar sinar matari.

Dua hal yang kini bikin RT kami ramai coretan tembok adalah perkara pembubaran PKK dan masalah kerjasama dengan PARTONO.

Tembok-tembok di RT kami pada dicoreti dengan tulisan SAVE PKK. Pak RT ingin menghapus PKK RT karena Pak RT percaya bahwa konon PKK membuat domestifikasi perempuan menjadi terlembagakan.

Di tembok-tembok RT kami juga muncul corat-coret SAVE ESEMMU. Coretan ini muncul karena Pak RT tidak begitu mendukung usaha anak muda di RT kami yang sudah berlangsung beberapa tahun di dalam membuat gerobak serbaguna bermesin. Kekecewaan sehingga muncul coretan itu sebab Pak RT baru saja menyetujui kerjasama pembuatan gerobak sampah buatan PARTONO dari RT lain. Meskipun Pak RT bilang kalau gerobak PARTONO akan dibuat di RT sendiri dengan koordinatornya adalah Pak Hendro -tetangga mepet tembok rumah Pak RT- namun warga mempermasalahkan mengapa bukan ESEMMU saja yang dikuatkembangkan malah ambil buatan PARTONO. Ada rasa harga diri yang terusik karena gerobak sampah buatan PARTONO tidak lebih bagus dari gerobak serbaguna buatan RT kami. Alasan Pak RT dalam memutuskan kerjasama itu juga sukar dicari justifikasinya.

Keributan dan hawa panas di RT kami sebenarnya juga membuat coret SAVE ESEMMU jadi punya tafsir lain. Save katanya artinya “jaga”, atau kalau ingin terdengar ngaktivis ya terjemahnya “selamatkan”. Kalau ESEMMU bisa diartikan “senyum riangmu”. Jadi lepas dari hiruk pikuk dan pekik gugat terhadap Pak RT, beberapa orang menyelipkan nasehat pelintiran dari SAVE (Gerobak Serbaguna) ESEMMU menjadi SAVE ESEM KAMU. Tetaplah optimis dan jaga senyum riang kamu. Begitu kiranya.

(Ssst, … ini barusan bocor di saat saya dapat giliran ronda. Ada beberapa warga yang suka maisir lagi pasang sejumlah rupiah mengenai berapa lama Ketua RT dapat bertahan. Ah, ada-ada saja …. )

=================================
7 Maret 2015

Sudah agak lama Pak RT tidak berbaur dengan warga.

Pak RT memang sengaja menarik diri dari kumpul-kumpul sama warga pasalnya ada beberapa hal yang menggelisahkan beliau.

Pertama, jangkrik piaraan beliau pada mati karena lupa pakan. Ini jadi isu besar bagi warga. Bayangkan, sempat ada selentingan bagaimana Pak RT bisa ngayomi dan ngeyemi warga RT kalau perkara jangkrik saja tidak becus. Jangkrik saja ditelantarkan padahal tiap hari dipakai buat ngusir tikus dan teman merenung mencari solusi buat masalah warga saja bisa terlantar dan lalu mati.
Kalau begitu Pak RT tidak ngopeni dan nguponi.
Kalau begitu Pak RT yang dulu bilang kalau jangkrik sumber ketenangannya dan teman merenung kala malam, jadi bencana bagi warga. Matinya jangkrik berarti Pak RT gak bisa merenung lagi. Dus, masalah ke-RT-an akan macet tidak digagas solusinya.

2. Dua kambing salah satu warga yang suka cari makan di halaman tetangga RT kami, sudah pada titik yang membuat panik warga. Banyak tanaman rusak dan dikhawatirkan kehijauan RT akan rusak oleh rusaknya tanaman-tanaman warga oleh dua ekor kambing itu. Ini masalah yang berat, menggundahkan, menggalaugulanakan.
3. Stabilitas besar iuran kumpulan pokok di dalam kelaziman suatu RT yang ada di RT kami lagi terganggu.
PKK ngotot menaikkan iuran. Air Swadana juga ngotot perlu naik. Iuran wajib ronda juga diusulkan naik. Iuran wajib RT mungkin akan ikutan naik, tapi Pak RT belum kasih ancer2 mau setuju ikutan naik atau tidak. Masih rumor.

Keadaan memang agak kurang terkendali di RT kami akhir-akhir ini.

Pusing. Parasetamol, Ibuprofen, Aspirin sudah gak mempan lagi.

Bahkan retreat Pak RT ke rumahnya yang lain juga belum juga menampakkan hasil yang positif bagi Pak RT dan keteduhan yang pernah akrab di RT kami.

Pak RT-pun ketika menyerahkan sebagian kekuasaannya -sebut saja begitu- pada salah satu warga baru, Pak Kebut, malah mengundang cela lanjut kasak kusuk warga.

Ada yang bilang Pak RT bikin aturan sendiri di luar aturan resmi RT-lah, ada yang bilang Pak RT sudah seperti orang mbingungi lah. Macem-macem pokoknya.

Bahkan saat Pak RT mencoba mencari pengganti dari hewan langenan yang pada mati, jangkrik-jangkrik yang dulu, dengan hewan lain … ada saja warga yang mencibir Pak RT.

Kata mereka para pencibir ini, mengapa gak jangkrik lagi aja kan bisa kerik-kerik kala malam dan bisa ngusir tikus. Lha sekarang kok malah beli hewan yang cerewet saat pagi datang namun diam saat malam. Apa gak salah tuh Pak RT? Begitu kata beberapa warga RT kami.

Maklum, pilihan hewannya selain njomplang karakternya yang mana karakter itu dibutuhkan Pak RT untuk membantu beliau kontemplasi kala malam tiba. Tambahan juga, lha lalu tikus di rumah Pak RT bagaimana kisahnya? Hewan yang dipilih kok gak misalnya kucing yang bisa nangkep tikus dan bisa ngeong saat malam datang sih? Begitu kata mereka.

Serba salah memang Pak RT akhir-akhir ini. Bahkan refreshing ke sawah gak pakai sepatu, maksudnya untuk terapi untuk dekat dengan alam, supaya bisa lebih tenang, diartikan dengan sinis oleh sebagian warga RT.

Mereka nyinyir melambai bilang harusnya Pak RT pijat relaksasi aja bukan panas-panasan di terik matahari kena lumpur. Masak sekelas Pak RT masih mainan lumpur? Gak takut kulit beliau yang sudah cerah gegara tambah aura jabatan RT jadi rusak? Warga khawatir itu karena harga losiyen Citr* yang mangir, kesukaan beliau, lagi mahal. Trus kaitannya apa? Warga nyinyir ini percaya kalau kulit Pak RT sampai busik karena kena lumpur lalu harga losiyen Citr* lagi mahal maka biaya yang dikeluarkan Pak RT untuk memantaskan kembalinya kulit dari kebusikan akan mahal. Biaya mahal berarti nambah pikiran. Nambah pikiran berarti jadi tidak fokus ngurus RT. Nah! Yah, kalau didengar sih, lumayan masuk akal juga cara mikir nyinyirer ini.

Pak RT memang sedang jadi sorotan. Saya sebagai salah satu warga yang melaporkan ke warga RT tetangga lewat rilis fesbukiyyah saja kadang ora tega, ora tegel, melu mbribik.

Sudah itu saja? Enggak.

Masalah dua ekor kambing yang sudah merusak dan dikhawatirkan kian merusak kehijauan RT juag membuat Pak RT pusing.

Bayangkan saja. Putusan warga untuk menyembelih dua ekor kambing dan juga telah disetujui Pak RT, kini jadi masalah.

Dibilang sepele ya sepele, mau dibilang berat ya berat.

Dua ekor kambing ini kebetulan milik Pak Toni. Lha Pak Toni ini gak ridlo kalau dua ekor kambing disembelih atas pertimbangan perikekambingan. Kata Pak Toni sih kambing itu juga makhluk hidup, gak pas kalau diputuskan disembelih gara-gara cuman makan daun-daun tanaman warga. Gak pantas sampai seekstrem itu kata Pak Toni.

Kalau mau disembelih sih gak masalah namun mbok ya kalau memang misalnya untuk hajat akikahan. Lha gur cuman perkara kehijauan RT kok lalu didramatisir.

Pak Toni sih memang bikin anyel karena mbelain dua ekor kambingnya dengan dalil lain -selain perkekambingan- yaitu sumbangan ia kepada kotak kesripahan warga.

Ya ia sih bilangnya kurang lebih, kalau ia aja peduli sama sripahnya warga, masak gara-gara perkara tanaman warga RT dan Pak RT mau nyripahi dia?

Ruwet bukan?

Karena pusing gak ketulungan, Pak RT butuh dijauhkan dari sorotan warga. Begitu pikir orang dekat Pak RT yang tidak bisa disebutkan namanya.

Ini masa kritis bagi Pak RT. Siaga satu. Pikir orang dekat Pak RT yang tidak bisa disebutkan namanya.

Ia lalu ambil inisiatif.

Ia bisiki si Dlogok -kebetulan ia dipanggil dlogok karena istilah dlogok adalah istilah yang dipakai dipakai di kampung kami kepada sesuatu atau seseorang yang membuat kesal atau jengkel, si Dlogok suka kayak gitu- agar bikin distraksi, buat atraksi, sirkus, akrobat buat warga agar engga terus-terusan bikin poster “Pak RT di mana kamu” (ingat, tulisan poster adalah “Pak RT” dan bukan “Dinda”, kalau Dinda, tanyakan Katon saja karena ia dulu pernah kayak gitu juga).

Orang dekat Pak RT yang tidak bisa disebutkan namanya ini bilang ke si Dlogok untuk bikin tadi, atraksi: ontran-ontran. Masalah bumbu gegap gempita, si Dlogok gak usah khawatir, semua sudah diatur.

Maka, dimulailah atraksi itu. Warga RT kami sekarang sibuk bicara si Dlogok bahkan ada yang kebawa hingga mimpi. Memang atraksinya sungguh ramai sehingga jauh lebih berkesan dari Tersandung atau Tukang Lulur Naik Gaji. Menarik, tidak monoton, dan bukan muncul di satu laman facebook akun salah satu warga karena buanyak warga yang sudah menghiasi laman facebooknya dengan atraksi si Dlogok.

Magnificent! Splendid! Awesome!

Sementara itu di tempat retreatnya, jauh dari sorot mata kejam dan penuh tagih warga RT, di sana ada seorang laki-laki baik yang dipaksa menjadi seseorang yang bukan dirinya. Ia menangis tanpa air mata.

Kering dan sepi sekali di sana.

Tidak ada suara jangkrik. Jangkrik-jangkrik telah mati dan tak hendak dibeli lagi.

Ia, sendiri sedari mula hingga kini.
Sembari sorot kamera pada ruang tempat Pak RT sendiri itu kian menjauh dari layar fesbukiyyah ….

Ada diputar Van Tomiko, Yesterday and Today.

Kira-kira, siapakah teman bagi dia yang meringsut dan kesepian itu? Adakah doa penonton di sana?
Kemarin doa.
Kini masih adakah doa itu?

========================================

10 April 2015

“Berbakti itu banyak caranya,” begitu kata Pak RT pada Mas Bowo.

“Kamu mijitin Ibumu itu berbakti. Kamu nuangin minum pada kosong gelas Ibumu itu juga berbakti. Kalau tak berbakti pada Ibumu lalu di mana balas budi atas lahirmu di dunia?”, demikian tambah Pak RT.

Mas Bowo manggut-manggut. Manggut-manggut adalah gerak kepala naik turun pelan-pelan sebagai tanda paham dan atau persepakatan. Kalau terlalu cepat itu bukan manggut-manggut tapi disko trippin’ xtc. Kalau geleng-geleng itu trance tahlilan; tahlilan namun sudah sampai kepada trance. Kalau pelan-pelan geleng kanan geleng kiri itu SKJ 88. Angguk dan geleng kepala itu ada seni dan filosofinya. Gak boleh sembarangan.

Mas Bowo tahu tentang itu. Sebagai petugas serba kegiatan, Mas Bowo juga harus tepat berperilaku di depan Pak RT. Segala tindak tidak boleh salah. Harus cermat ditakar dan dinalar.

Pak RT kasih nasehat berbakti pada Ibu kepadanya, Mas Bowo harus memberi tanda paham dan sepakat. Tidak boleh berontak atau membantah pada Pak RT.

Lagian, batin Mas Bowo, nasehat Pak RT tidak ada salahnya. Nasehatnya sungguh baik dan Pak RT juga pernah terlihat mencontohkan apa yang sekarang beliau nasehatkan padanya.

Pak RT lalu meneruskan nasehatnya. Pak RT sebenarnya orangnya cuek habis seperti Lupus minus permen karetnya. Kalau lagi males ngobrol atau gak ada jawaban yang pas dari pertanyaan apapun kepadanya, warga RT sudah hapal bagaimana Pak RT kerap gemar pendek berceloteh: “emangnya saya pikirin?”

Justru itulah yang membuat beberapa warga di RT kami kagum pada Pak RT. Para fan Pak RT ini adalah yang sejak semula konsisten mendukung sepak terjang Pak RT. Kalau di Jawa ada istilah madhep mantep nderek Pak RT. Kalau di Amrik, Om Ros bilangnya: “right or wrong is my choice” (edit dikit).

Sore itu Mas Bowo ditimbali (dipanggil) Pak RT karena ada hal penting yang hendak Pak RT tugaskan padanya. Lampu pojokan gardu ronda mati. Mas Bowo yang mantan pengelola radio memang selalu dipercaya Pak RT untuk urusan yang berbau teknis. Apa pasal, dulu Pak RT pernah bilang bahwa pengelola radio pasti bisa menangani semua hal yang berbau teknis, rupa-rupa kegiatan, apapun pokoknya.

Mas Bowo tidak menyangka kalau perkara ganti lampu bisa mendapatkan bonus wejangan (nasehat) dari Pak RT.

Tapi engga apa-apalah, bisik batin Mas Bowo. Gak ada ruginya mendapat nasehat dari seseorang yang telah berjuang keras hingga bisa menjadi ketua RT padahal beliaunya adalah warga baru. Wis gak papa-lah, gumam Mas Bowo.

Nasehat berikutnya dari Pak RT adalah jangan berteriak-teriak jika membangunkan orang dari tidurnya, engga baik. “Bangunkan dengan menjawil atau membisiki yang hendak dibangunkan” begitu kata Pak RT. Tambah Pak RT, “kalau kamu membangunkan orang tidur dengan teriak-teriak, orang yang tidur ketika bangun malah kadang jadi malas.” “Kok bisa?” Sambung Pak RT. “Sebab seakan-akan yang dibangunin adalah orang yang tidak bisa bangun untuk kebutuhannya sendiri; bangun untuk aktivitas berikutnya. Jika memang tidak ikhlas membangunkan orang dari tidurnya, maka gak usah teriak-teriak. Biarin saja ia tidur terus hingga bangun sendiri, tentu ada kecualinya,” Pak RT melanjutkan, “kecuali jika keadaan berbahaya atau darurat.”

Nah, untuk bagian ini, Mas Bowo tahu bahwa Pak RT sedang menyindir dengan maksud baik kepada Ibunya yang kebetulan saat itu juga sedang maen ke rumah Pak RT.

Pasalnya, si Ibu ini sering teriak-teriak di depan warga RT kami saat menegur kesalahan sepele Pak RT tiap-tiap maen ke rumah Pak RT. Si Ibu ini selalu teriak-teriak hingga kedengeran beberapa warga yang isinya pasti ada kalimat: “kamu itu anakku, kamu itu nurut aja semua yang aku katakan. Kamu harus nurut kayak petugas bendera pada komandannya.”

Bayangin, bayangin saja bagaimana perasaan Pak RT dipermalukan begitu tanpa Ibunya sadar tindakan buruk itu. Jadi teringat nasehat psikolog tentang pantangan meneriaki anak (meskipun dalam rangka menasehati) di depan kawan-kawannya. Akibatnya buruk bagi anak. Mungkin saja sengaja Pak RT menasehati Mas Bowo perkara bangun tidur itu dengan suara agak dikerasin sebagai bentuk “protes halus” pada si Ibu bahwa kebiasaan teriak-teriak itu tidak baik.

Apapun dan bagaimanapun, Mas Bowo pokoknya manggut-manggut sepakat aja.

Tiba-tiba Pak RT berkata kalau ia sudah lega mengeluarkan uneg-unegnya. Nah, Mas Bowo kian yakin bahwa percakapan dari awal hingga akhir itu bukan tentang matinya lampu di pojok gardu jaga. Biasanya Pak RT cukup perintah saja lewat sms. Dan tadi, Pak RT gak biasanya serius kasih-kasih nasehat kayak gini. Kali ini Pak RT ilang gaya nge-Lupus-nya.

Karena Pak RT tampaknya sudah selesai dengan apa yang dikehendaki dari pemanggilan unik ini, tahu diri, Mas Bowo pamit pulang. Di dalam perjalanan pulang, Mas Bowo teringat sajak Chairil Anwar yang sentimentil berjudul “Aku” sebagai protes pada orang tuanya kemudian ditafsirkan jadi sajak perjuangan selepas pernah diubah judulnya oleh salah satu editor terbitan menjadi berjudul “Semangat”.

Yah, kadang yang kita butuhkan hanya manggut-manggut saja sembari berbisik geli: “oh ngono to?!? (O alah ternyata kayak gitu to?!?).”

==================================

12 April 2015

Malam itu Pak RT ikut angkrukan di gardu jaga. Entah mengapa tiba-tiba dengan mata berkaca-kaca ia memulai cerita yang memecah sepi kami zonder suara jangkrik.

“Lalu Petruk disadarkan oleh saudaranya, Gareng, untuk mengembalikan jimat yang kebetulan jatuh ke tangannya. Demi kebaikan bersama, begitu nasehat Gareng.

Malam itu adalah malam yang penuh rahmat, bagi Petruk dan rakyat di negeri itu. Doa-doa telah dikabulkan sehingga semua bakal tenang dan kembali pada rutinitas yang membosankan. Tapi memang begitulah cerita dan kisah spektakuler menemukan jalan peleraian.

Justru, justru nubuah bahwa ia serupa ibnu Maryam (pbuh) menjadi tergenapi. Apakah di Getsemani ia (pbuh) tetap nekat puputan singga sirna semua? Tidak. Ia (pbuh) menghindari tumpah darah atau kemungkinan terjadi hal buruk yang lebih besar meski sebelumnya sudah menyiapkan senjata siap baku pedang. Ia (pbuh) korbankan dirinya.

Maka akan serupa ia yang berkata: tidak berterusan berkuasa tidak bakal bikin frambosia. Kalimat yang konon diperoleh dari pendongeng dan penulis handal serta karismatis. Saat itu keadaan begitu mencekam. Ia maju dan menyatakan menyerahkan dirinya. Begitulah semuanya akan kembali normal.”

=======================

22 Mei 2015

Emka Akinun Najab, biasa dipanggil Cak Nun, kyai kondangan di Kabupaten kami, pergaulannya sangat luas karena beliau berani untuk luwes; atau malah kadang terlalu luwes.

Dari pergaulan yang sangat luas itulah ada keuntungan bisa didapat. Beliau bisa kemudian mempunyai banyak informasi. Valid atau tidak, pokoknya informasi. Penyimak harus mikir sendiri, memilah sendiri. Dan itu gayengnya dari beliau.

Berulang-ulang beliau bilang gak boleh saling menghakimi. Sesama murid kok ngasih rapo[r]t? Pasal ini tentu juga beliau pahami juga berlaku pada pengajaran beliau. Beliau tidak pernah mengklaim bahwa semua dari beliau benar. Yang penting terhibur semuanya. Itu salah satu prinsip beliau.

Nah, bicara tentang Pak RT kami yang cetha-cetha ra patiya cetha, Cak Nun menyinggung ini semua di pengajian yang dihelat belum begitu lama di dekat RT kami.

Kata Cak Nun, Pak RT kami ini mengkhawatirkan bagi ke-RT-an kami semua. Cak Nun engga terang-terangan menyebut nama RT kami dan nama penjabat Ketua RT kami, namun kami tahu siapa Ketua RT yang beliau singgung dan RT mana yang sedang beliau bicarakan.

Masih khawatir Cak Nun, Pak RT ini kurang pas untuk terus-terusan memimpin RT kami dengan gaya ajeg seperti ini. Semua bisa bubrah karena banyak keputusan-keputusan dan celotehan beliau yang kurang pas. Belum lagi banyak perangkat RT yang bikin kebijakan meresahkan warga. Semua bisa kian runyam dan ini tidak baik. Tentu dikecualikan jika beliau kian memperbaiki sikap ketergantungan dan keapatisan terhadap keputusan-keputusan perangkat RT yang diterapkan kepada warga.

Bicara ganti Pak RT, Cak Nun bilang agak susah.

Benar sih kalau Cak Nun berdoa agar Pak RT dapat segera dilepaskan beban-beban yang menghimpitnya bagi kebaikan bersama. Tapi Cak Nun juga bilang ada masalah baru yang bakal dihadapi jika jalur konstitusi normal diambil. Kurang lebih begitu.

Apa ya semua siap kalau Wakil Ketua RT yang jadi ganti Pak RT? Banyak sesepuh RT yang kurang cocok dengan Wakil Ketua RT sehingga kita ini seperti nemu jalan buntu. Mau ngganti Ketua RT apa sudah siap risiko jika dipegang Wakil Ketua RT-nya? Nah, dalam sekali kelakar serius Cak Nun ini.

Memang Cak Nun ini sangat luar biasa di dalam menasehati kita hal-hal yang membuat kita untuk berpikir lebih dalam dan bertindak lebih hati-hati. Mungkin karena begawan ini sudah merasakan tempaan beda jaman di kisaran elit-elit yang rakus, yang konyol, yang berkuasa, yang kebetulan ketiban pulung sehingga berkuasa.

Cak Nun mengajak kita berpikir, berdoa, dan berharap-harap cemas akan masa depan kita semua. Beliau tahu bahwa jemari kapitalis pengincar tanah lahan di RT kami makin menggurita lewat bonekanya (baca: Pak RT kami) yang juga tak tahu mau apa dan bagaimana mau ke mana.

Berdoa dan percaya pada kekuasaan Tuhan. Menjadi manusia. Menjadi manusia yang tidak terburu ingin perubahan namun juga tak anti perubahan. Begitu kurang lebih nasehat ala begawannya. Lha wong Ketua RT yang menjabat 32 tahun saja bisa turun tanpa jatuh lebih banyak korban lagi bersebab beliau turun gunung mlebu kandang raja? Beliau ini, paling tidak pada bagian ini, lebih fasih untuk menasehati bagaimana bersikap dan mungkin bertindak pada keadaan seperti sekarang ini.

Bukankah beliau ini yang mengademkan Pak Harto, mantan Ketua RT kami, supaya resign sehingga terhormat bagi beliau dan tidak mengambil jalan mogol dan kekerasan supaya tetap berkuasa saat itu 17 tahun yang lalu? Bukankah “ora dadi presiden ora patheken” adalah khas Jawa Timuran yang besar jadi beliau celupkan pada Pak Harto yang tidak menguasai gaya lengser model itu?

Lepas dari itu, Ralph Waldo Emerson pernah bilang kurang lebih nothing is useless. Yang bergerak karena punya idealisme dan cita, bergeraknya tidak pernah sia. Yang berdoa dan menahan diri karena menghindari Wakil Ketua RT pegang kendali untuk tidak bergerak juga tidak sia. Semua energi positif ini tidak sia.

Semua butuh proses. Perubahan itu bisa cepat bisa lambat. Yang buruk adalah terburu-buru ingin perubahan. Mutung jika perubahan tak kunjung datang. Misuh-misuh di media sosial karena merasa sendirian.

Kita ini merasakan semua. Semua, baik yang masih bertahan dengan pembelaannya kepada Pak RT maupun mereka yang sejak semula memang gak suka dengan Pak RT merasakan hal yang sama. Kita semua patut ketar-ketir. RT kita ini tidak bisa disangkal memang mengalami krisis. Tujuh belas tahun sudah sejak kita terlalu berlebihan bergembira ketika Jenderal Yang Sumeh itu memutuskan mundur di tengah jalan, mungkin sembari tersenyum mbatin: “mbok pikir ngurus negara kuwi gampang? Delengen, bakal luwih cetha jamanku, Le.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s