Home » Selected Contemplation » Puisi, Catatan Kaki, Fiksi & Kebebasan Membuat Rekaan

Puisi, Catatan Kaki, Fiksi & Kebebasan Membuat Rekaan

Tulisan ini adalah sebuah argumen urgensi catatan kaki, kutipan-kutipan, dan epigraf di dalam puisi-puisi Justin Evans yang terbit di dalam buku Hobble Creek Almanac (2013). Hobble Creek Almanac (2013) cukup mendapat sorotan di majalah sastra Pegasus dan jurnal ulasan sastra daring The Museum of Americana. Hobble Creek Almanac disebut mampu mengaburkan garis batas antara fakta dan fiksi serta dianggap relatif berhasil sebagai puisi dengan teknik gubah puisi yang jarang dipakai yaitu dengan catatan kaki. Justin Evans adalah sastrawan Amerika yang kini tinggal di Nevada. Karya-karyanya semisal dalam wujud buku tipis (chapbook) Four Way Stop (2005), Gathering Up the Scattered Leaves (2006), Working in the Birdhouse (2008), Friday in the Republic of Me (2013) dan buku Town for the Trees (2011) serta Sailing This Nameless Ship (2014). Tulisan yang judul aslinya “Poetry, Footnotes, Fiction, and Outright Lies” ini diambil dan diterjemahkan atas ijin Justin Evans dari blog miliknya Name This Place – Navigo Navis Sine Nomine.

============================

Puisi pada hakikatnya adalah bahasa. Puisi dapat disebut sebagai sisi artistik dari bahasa. Menengok bagaimana puisi diciptakan, puisi tetaplah sebuah fiksi, atau paling tidak, pasti punya elemen fiksi. Benar bahwa puisi dapat menggambarkan kejadian-kejadian sebenarnya, namun puisi cenderung tersusun dalam bentuk gaya bahasa (metafora, simile, dsb.) juga hiperbola dan perekaan kejadian, dan karena itulah telah beralih rupa -pada kadar tertentu- menjadi karya yang fiktif. Jadi jika puisi adalah fiksi, dan berkelindan dengan apa yang hendak saya bicarakan di dalam tulisan saya ini, maka saya perlu untuk beri argumen mengapa saya memakai catatan-catatan kaki di dalam buku puisi saya yang terbaru, Hobble Creek Almanac.[i]

Catatan kaki biasanya dipakai di dalam dokumen yang menggunakan sumber rujukan dan diniatkan dalam rangka menciptakan suatu kualitas cerminan keadaan sebenarnya, handal faktual, dan terpercaya. Begitu juga pada puisi. Puisi bergantung pada epigraf[ii] untuk memberikan sumber rujukan informasi dan kegayutan isi atau maksud yang ada di dalam puisi. Dan meski beberapa penyair telah mulai menggunakan halaman khusus penjelas citasi di dalam memberikan penjelasan lebih jauh dan juga pemberi cahaya pemahaman atas puisi-puisi mereka, bahkan di antara mereka, begitu setiti[iii] semisal T.S. Eliot lewat catatan kaki asli ia tempelkan terhadap puisi gubahannya “The Wasteland”.[iv] Tujuanku adalah mengikuti jejak langkah para penulis cerita fiksi yang telah menggunakan catatan kaki dan kutipan-kutipan fiktif yang berguna melengkapi keutuhan jalan cerita karya mereka. Kita bisa mengambil contoh sebuah novel yang baru saja terbit karya Tim O’Brien dengan judul In the Lake of the Woods. Di dalam novel ini, Tim O’Brien melakukan sesuatu yang fenomenal dengan mengaburkan garis batas antara fakta dan rekaan, sampai-sampai para pembaca benar-benar terkecoh batas antara mana fakta dan mana fiksi.

Di bukuku, aku menggunakan catatan kaki, kutipan-kutipan, dan epigraf berselang-seling dengan kadar relatif sama. Yang pertama dan yang utama adalah hasratku untuk menceritakan kisah nyata, kejadian sebenarnya yang benar-benar pernah terjadi. Aku merasa bahwa aku berhutang kepada para pembaca untuk memberikan dasar pemahaman akan puisiku, atau paling tidak, penampilan permulaan pemahaman. Ada kejelasan kisah yang kuceritakan ulang, khususnya saat aku membicarakan kejadian yang terjadi 150 tahun yang lalu. Apakah aku berharap pembacaku akan menilik citasi-citasi ini? Mungkin, namun mereka akan kecewa jika berharap terlalu banyak kepada citasi-citasi ini sebab beberapa di antaranya adalah fiksi. Lalu mengapa mencantumkan catatan kaki fiksi di dalam suatu manuskrip? Ya elah, mengapa terlalu serius kepada hal-hal seperti ini pada sebuah buku puisi? Sebut saja, misalnya, kontinuitas narasi dalam puisiku. Aku suka pada ide mengenai kekonsistenan, dan jika catatan kaki berguna di dalam membantu kepercayaan diri di dalam memahami puisi yang mereka baca, maka catatan kaki akan, dalam konteks puisi-puisi persona,[v] membantu visualisasi karakter atau persona di dalam puisi menjadi semakin nyata di dalam benak para pembaca. Dengan begitu, bakal ada gambaran yang sangat jelas antara puisi-puisi yang aku niatkan untuk menampilkan sejarah (atau kejadian sebenarnya) dan persona,[vi] dengan bagian-bagian dari bukuku di mana narator mengantarkan sebuah narasi atas puisiku. Ada tidaknya catatan kaki memberikan perbedaan yang krusial.

Kutipan-kutipan adalah perangkat lain, khususnya di dalam puisi, yang dipakai oleh para penyair dalam rangka mencoba memberikan landasan pemahaman pemaknaan kepada pembaca, secara singkat kurang lebih seolah-olah penyair mengatakan: “dari sinilah awal mula inspirasi puisi ini berasal”. Kutipan yang dipakai sebagai epigraf sebenarnya hendak menunjukkan asal mula inspirasi berawal. Beberapa penyair suka memakai epigraf namun ada juga penyair yang tidak suka memakai epigraf. Aku sendiri menyukai pemakaian epigraf, dan mungkin saja penyair lain benci memakai epigraf namun memilih memakai catatan tambahan di halaman terakhir dari manuskrip karya puisi mereka: jika aku tidak dapat memahami bagian tertentu dari puisi yang sangat esensial, lalu mengapa tidak dikomunikasikan di dalam puisi itu? Di dalam puisiku, aku benar-benar mengutip ucapan-ucapan orang lain dan karya lain, sedangkan kutipan-kutipan lainnya aku karang sendiri. Sekali lagi, aku niatkan teknik gubah seperti ini dalam rangka memberikan gambaran utuh yang hendak aku cangkokkan ke dalam benak pembaca. Hal ini adalah bagian dari teknik gubah dari karyaku dalam rangka menampilkan keutuhan gambaran kepada pembaca dan tidak mengharuskan bahwa semua kutipan adalah akurat  dan benar ada di dalam sejarah. Lagian, tadi sudah aku katakan bahwa aku menciptakan sebuah karya fiksi. Jadi apa perlu diperkarakan jika aku mengutip dari buku yang tidak pernah ada, atau mengutip ucapan yang tidak pernah diucapkan oleh seseorang, atau bahkan menciptakan karakter-karakter yang bisa aku “kutip” ucapannya? Toh akhirnya berkenaan dengan bukuku pilihannya cuman dua, diapresiasi sebagai sebuah karya sastra atau tidak. Dan perlu diketahui bahwa bagaimana aku membuat puisi dengan perangkat-perangkat teknik gubah ini adalah sesuatu yang aku garap sangat serius, meski mungkin hal ini bagi pembaca bukanlah sesuatu yang penting-penting amat.[vii]

===========================

Endnotes

[i] Justin Evans. 2013. Hobble Creek Almanac. CA: Aldrich Press. Buku kumpulan puisi dari Justin Evans yang menceritakan kisah sebuah kota kecil Springvalle, Utah. Puisi-puisi Justin Evans di dalam buku kumpulan puisi ini sengaja bercatatan kaki. Puisi-puisi yang ada di dalam  Hobble Creek Almanac bercerita mengenai bukan hanya sejarah kota itu namun bagaimana Justin Evans dibesarkan dan memiliki ikatan emosional dengan kota itu.

[ii] Epigraf atau epigraph adalah kutipan atau keterangan sebelum badan puisi sesudah judul yang dapat memberikan basis pemahaman di dalam pembacaan dan pemaknaan puisi.

[iii] setiti(Jw.), cermat, teliti, precise (Eng.)

[iv] bdk. Maman S Mahayana, “Posisi Puisi, Posisi Esai”, menengok pemakaian catatan kaki atau catatan tambahan pada karya puisi di Indonesia.

[v] persona poem atau dramatic monologue, sebuah puisi di mana penyair bermonolog sebagai persona rekaan.

[vi] lih. catatan kaki 5. Persona, dalam konteks ini, adalah karakter yang direka di dalam puisi.

[vii] Maksudnya adalah penggunaan catatan kaki, epigraf, atau catatan tambahan di akhir manuskrip pada puisi adalah pilihan personal dari tiap penyair. Beberapa penyair sengaja memilih melengkapi puisi mereka dengan perangkat gubah puisi dalam bentuk-bentuk catatan kaki, epigraf, dan atau catatan tambahan di akhir manuskrip dalam niatan mengkomunikasikan sebuah gambaran utuh dari puisi yang mereka buat. Perangkat gubah puisi ini juga bukan sesuatu yang remeh-temeh kecuali terkait dengan pemberian gambaran utuh sebagai dasar membaca dan memahami sebuah puisi kepada pembaca. Jadi, puisi dan perangkat-perangkat ini adalah satu puisi dan bukan dua entitas yang berbeda. Dus, memahami apa yang dikatakan oleh Justin Evans, sebuah puisi walaupun diberi perangkat penggubahan dalam bentuk catatan kaki, epigraf, dan atau catatan tambahan tetaplah disebut sebagai puisi dan bukan sebuah genre baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s