Home » Selected Contemplation » Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh?! Taik Kucing!

Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh?! Taik Kucing!

Esai ini adalah esai yang dibuat oleh Saut Situmorang selepas dipolisikan ke Polres Jakarta Timur, Indonesia, bersebab pasal ‘pencemaran nama baik’. Di Facebook Saut beri komentar “jangan mau berdamai dengan bajingan” ketika menanggapi bincang panas antara Fatin Hamama -yang dituding sebagai makelar proyek diseminasi puisi-esai Denny JA – dengan Sutan Iwan Soekri Munaf yang menjadikan sulutan pasal pencemaran nama baik. Tagar yang dipakai oleh Saut Situmorang di dalam perlawanan terhadap Fatin Hamama serta Denny JA lewat media sosial kemudian adalah #bajingan.

Saut Situmorang adalah esais dan penyair kelahiran Tebing Tinggi, Sumatera Utara yang kini tinggal di Yogyakarta. Buku dan antologi puisi atas namanya adalah sebagai berikut: Saut Kecil Bicara dengan Tuhan (Bentang, 2003), Catatan Subversif (Buku Baik, 2004), Cyber Graffiti: Polemik Sastra Cyberpunk (Jendela dan Yayasan Multimedia Sastra, 2004),  otobiografi ([sic], 2007), dan Politik Sastra ([sic], 2009). Saut Situmorang bersama istrinya Katrin Bandel adalah penentang keras keberadaan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang mendudukkan mereka berdua berhadapan seteru dengan Denny JA. Saut dan Katrin tidak sendirian di dalam menyuarakan ketidaksetujuan terhadap penokohan Denny JA dalam buku dimaksud. Aliansi Pecinta Sastra Malang, Komoenitas Lesehan Keboedajaan Ciputat, Maman S. Mahayana (bagian dari Tim 8), Puthut Ea (Sastrawan Yogyakarta), Nuruddin Asyhadie dkk., Ahmadun Yosi Herfanda, Kurnia Effendi, Sihar Ramses Simatupang, dan Chavcay Syaifullah termasuk di dalam satu suara terkait dengan penerbitan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.

Saut sebelum ‘terjerat’ kasus buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh [dengan Katrin, istrinya] telah sebelumnya dikenal di dunia sastra Indonesia karena memiliki kepedulian yang tinggi terhadap arah laju sastra Indonesia yang menunjukkan gejala kepada kokohnya oligarki sastra lingkar Goenawan Mohamad (cf. Suyitno), kini kian tak bisa menghindar dari kapitalisme (cf. Sapardi Djoko Damono, Saut Situmorang), tampak jelasnya budaya feodalisme dalam sastra Indonesia (cf. Rusli Marzuki Saria via Leon Agusta), adanya politik sastra [dan indorsmen nilai kebudayaan] yang berjejaring dengan komunitas Eropa (cf. Katrin Bandel), dan ajegnya politik kanonisasi di dalam dunia sastra Indonesia (cf. Saut Situmorang).

Klaim pengusung Denny JA sebagai tokoh yang berpengaruh di dalam sastra Indonesia lewat puisi-esai adalah kurang solid. Jika argumen ‘utama’ yang dipakai sebagai landasan pengukuhan ketokohan yang berpengaruh atas Denny JA di bidang sastra adalah terobosan baru di dalam genre sastra lewat puisi-esai [puisi yang dihiasi dengan catatan kaki] maka tulisan Justin Evans dengan judul “Poetry, Footnotes, Fiction & Outright Lies”, Katrin Bandel dengan tulisan “Beberapa Catatan Atas Judul ‘33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh‘”, dan Leon Agusta “Mempersoalkan Legitimasi Puisi-Esai” dapat dijadikan basis meragui klaim pentahbisan Denny JA. Sedangkan bila argumen kedua yang sensasional dari kisah Denny JA adalah terkait dengan statistik yang ditera dari dunia maya dari fenomena puisi-esai Denny JA maka tulisan Sahlul Fuad yang berjudul “Membongkar Statistik Puisi Esai Denny JA” dapat dijadikan acu sanggahan.

Esai ‘pedas’ ini diambil dari Jurnal Underground Boemipoetra versi daring yang terbit pada 22 Oktober 2014 dan telah mendapat ijin dari Saut Situmorang untuk diterbit-ulangkan di blog ini.

_________________________

kredit Saut Situmorang via Jurnal Boemipoetra

kredit Saut Situmorang via Jurnal Boemipoetra

1. Sitor Situmorang tidak masuk dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Alasan Tim 8 penyusun buku (Jamal D Rahman dkk) karena Sitor “tinggal di luar negeri”. Lha, mayoritas dari nama-nama yang masuk buku tersebut bukan cumak tidak tinggal di dalam negeri Indonesia bahkan tinggal di luar planet Bumi tapi kok bisa masuk yaaa?! Ckckck…

2. Kritikus Sastra asal Belanda, A Teeuw, tidak masuk dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Alasan Tim 8 penyusun buku (Jamal D Rahman dkk) karena A Teeuw adalah “orang asing”, bukan warganegara Indonesia. Lha, salah satu dari Tim 8 penyusun buku yaitu Berthold Damshauser adalah orang asing asal Jerman, bukan warganegara Indonesia dan BUKAN Indonesianis apalagi Ahli Sastra Indonesia tapi kok bisa jadi salah satu penyusun buku yaaa?! Ckckck…

3. Taufiqk Ismail itu “pengaruh”nya di dunia Sastra Indonesia di mana sih?! Apa dia menghasilkan para epigon yang meniru gaya menulisnya? Bukankah majalah sastra HORISON justru jatuh reputasinya sejak berada dalam pimpinannya?!

4. Arief Budiman itu “pengaruh”nya di dunia Sastra Indonesia di mana sih?! Apa tulisan-tulisan prosanya tentang Sastra Indonesia memang termasuk genre Kritik Sastra? Apa tulisan-tulisan tersebut memang mempengaruhi cara penulisan Kritik Sastra di Indonesia? Apa skripsinya sendiri yang tentang Chairil Anwar itu memang bisa dikategorikan sebagai Kritik Sastra, bahkan sebagai sebuah studi sastra akademis?!

5. Abdul Hadi WM itu “pengaruh”nya di dunia Sastra Indonesia di mana sih?! Apa dia menghasilkan para epigon yang meniru gaya menulisnya? Apa tulisan-tulisan prosanya menyumbangkan pemikiran baru kepada diskursus Sastra Indonesia Kontemporer?

6. Sutardji Calzoum Bachri menghasilkan “jalan baru estetika puisi”?! Jalan baru macam apa itu? Apakah Mantra memang tidak ada sebelum Sutardji Calzoum Bachri menulis puisi? Bukannya Sutardji Calzoum Bachri yang melakukan plagiarisme atas estetika Mantra kalok kita mau mempercayai Kredo Puisinya itu?! Apa “puisi” Sutardji Calzoum Bachri bukan cumak sekedar variasi dari nonsens yang kita kenal sebagai “puisi mbeling” itu? Kalok Sutardji Calzoum Bachri memang benar menemukan “jalan baru estetika puisi”, dengan cara “melepaskan kata dari tirani makna”, kok sajak-sajak yang ditulisnya sejak tahun 1990an sampek sekarang justru merupakan sajak-sajak yang Memberhalakan Makna? Bahkan saking berlebihan pemberhalaannya, menjadi mirip pseudo-doa kaum koruptor waktu disumpah di pengadilan! Kenapa perubahan gaya menulis dari gaya menulisnya di tahun 1970-1980an tidak dibicarakan?! Benarkah sajak -sajak nonsens Sutardji Calzoum Bachri yang terkumpul dalam buku O Amuk Kapak adalah Puisi Sufi? Jangan-jangan cumak puisi “Suka Uang Freedom Institute” doang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s