Home » Selected Contemplation » Horison Makin Mendung: Tentang Buku ’33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh’

Horison Makin Mendung: Tentang Buku ’33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh’

Akmal Nasery Basral, penulis artikel ini, adalah seorang sastrawan dan wartawan yang lahir di Jakarta. Karya-karya Akmal di antaranya adalah cerpen Legenda Bandar Angin (Koran Pikiran Rakyat, 7 Oktober 2006), Parlemen Undercover: Kisah-kisah Sontoloyo Wakil Rakyat Negeri Indosiasat (Ufuk, 2008), Sang Pencerah (Mizan Pustaka, 2010), Batas: Antara Keinginan dan Kenyataan (Qanita, 2011), dan Tadarus Cinta Buya Pujangga (Salamadani, 2013). Sekarang ia menjadi salah satu pengajar pada Akademi Literasi dan Penerbitan Indonesia (ALINEA) Ikapi Pusat. Terbit ulang tulisan ini bersumber dari mizan.com via teraslampung.com yang terbit pada Januari 2014. Terbit ulang pada blog ini telah mendapat restu dari Akmal Nasery Basral.

______________________________

Sehari setelah Natal 2013 saya menerima telpon dari kawan saya Ariany Isnamurti, Kepala Pelaksana Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin. Riny, nama panggilan Ariany, menanyakan alamat rumah saya untuk pengiriman sebuah buku baru yang akan dirilis 3 Januari 2014 di kantornya disertai pesan, “Teman-teman mengharapkan mas Akmal datang sebagai peserta aktif dalam diskusi setelah peluncuran buku,” katanya di ujung telepon.

“Untuk bahan diskusi mas Akmal baca saja pengantar yang ditulis Jamal (D. Rahman) pada buku yang akan kami kirim,” katanya.

Dua hari setelah itu sebuah buku setebal 734 halaman tiba di rumah saya. Pada sampul kiri atas tertera tulisan: Jamal D. Rahman dkk. Yang disebut “dkk” ternyata tujuh orang, yakni Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Ahmad Gaus, Berthold Damshäuser, Jamal D. Rahman, Joni Ariadinata, Maman S. Mahayana, Nenden Lilis Aisyah. Mereka menamakan diri Tim 8.

selera literer: 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Judul yang membawa saya teringat sejenak pada karya ikonik Martin Seymour Smith,  The 100 Most Influential Books Ever Written: The History of Thought from Ancient Times to Today (1998).  Pada daftar Smith–seorang penyair, penulis biografi dan kritikus sastra asal Inggris–terdapat The Koran (Al Qur’an, no. 26) yang mengundang perdebatan tentang apakah kitab suci bisa digolongkan ke dalam “buku yang pernah ditulis” seperti dalam pengertian Smith.

Sebelum membaca pengantar Jamal, pemimpin redaksi majalah sastra Horison, saya lebih dulu memindai daftar isi secara cepat–sebuah kegiatan praktis yang bisa memberikan gambaran awal isi buku. Nama-nama familiar langsung terbaca: Kwee Tek Hoay, Marah Rusli, HAMKA, Armijn Pane, Amir Hamzah, HB Jassin, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Iwan Simatupang, Sutardji Calzoum Bachri, Goenawan Mohamad, Remy Silado, Emha Ainun Nadjib, Afrizal Malna, Denny JA …

Hah? Denny JA? Pengamat politik yang gencar beriklan tentang keampuhan metode surveinya itu?

Untuk beberapa detik saya merasa terserang absent minded. Apakah saya tidak salah baca? Atau buku ini yang salah cetak? Saya baca untuk kedua kalinya dengan perlahan: tetap tidak ada perubahan aksara di sana. Dan ini menimbulkan rasa penasaran luar biasa di benak, sehingga saya putuskan untuk membaca lebih dulu bagian yang beranak judul “Penggagas Puisi Esei” dan ditulis oleh Ahmad Gaus itu (h. 647-663).

Salah satu poin yang ditulis Gaus–pengajar mata kuliah Bahasa, Sastra, dan Kebudayaan di Swiss German University (SGU) Tangerang, Banten, adalah pengakuannya bahwa kumpulan puisi esai Denny JA Atas Nama Cinta (2012) telah memengaruhi sejumlah penulis untuk mengekor dengan gaya puisi esai yang sama. Gaus mencatat sembilan buku yang terpengaruh oleh Denny JA sampai akhir 2013.

Dan siapakah pengekor yang menempati urutan pertama? Tak lain buku Ahmad Gaus sendiri yang berjudul Kutunggu Kamu di Cisadane (2012), dengan kata pengantar oleh Jamal D. Rahman. Lalu dari delapan buku sisanya, nama Jamal kembali muncul, biasanya sebagai pemberi kata pengantar, selain beberapa nama anggota Tim 8 lain seperti Acep atau Nenden. Artinya satu hal jelas sudah: Denny JA memang berpengaruh secara personal kepada anggota Tim 8.

Usai membaca pemaparan Gaus, alih-alih teryakinkan oleh argumentasinya yang mempostulatkan bahwa “puisi esai merupakan pembaruan dari puisi yang lazim dikenal selama ini” (h. 653), intuisi saya bereaksi membentuk sebuah imajinasi visual seakan-akan menyaksikan seorang shaman sedang merapal mantra pengundang badai. Bayangkan, perasaan itu terjadi bahkan tiga hari sebelum fajar tahun baru menyobek horison!  Mendadak saya begitu ingin  3 Januari 2014 cepat datang, dan saya akan hadir untuk menjadi saksi mata dari sebuah “sejarah sastra”.

Sebuah perasaan lain sempat menyelinap di hati saya, terutama menyangkut Jamal dan Joni Ariadinata, yang dengan mereka–selain puluhan sastrawan lain–saya sempat menghabiskan waktu beberapa hari pada Maret 2013 di Sumatra Barat, untuk mengikuti Deklarasi Hari Sastra di SMA 1 Birugo, Bukittinggi.

Mereka tak pernah sekalipun keceplosan menceritakan tentang penulisan buku ini. Bahkan ketika pada satu malam tinggal saya, Joni, dan Fadli Zon–yang juga anggota dewan redaksi Horison–mengisi puncak malam dengan berkaraoke di Aie Angek Cottage tempat kami menginap, Joni yang punya cengkok suara bagus dalam menyanyikan lagu-lagu Melayu itu pun lebih banyak memberikan komentar tentang novel terbaru saya Tadarus Cinta Buya Pujangga, yang memang pada siang hari sebelumnya sempat diperkenalkan kepada hadirin bersama kumpulan puisi terbaru D. Zawawi Imron Mengaji Bukit Mengeja Danau.

Kalau dipikir lagi sekarang, agak “kesal” juga saya–dalam arti positif bukan negatif–mengapa sampai tak mendengar selentingan adanya proses penulisan sepenting itu. Apalagi kalau diingat bahkan dengan Riny Isnamurti,   pada akhir Nopember 2013 selama beberapa hari, kami menghabiskan waktu bersama mengikuti acara Perhimpunan Sastrawan Budayawan Negeri Serumpun yang diikuti peserta lima negara berbahasa Melayu dan dua peninjau dari Italia.

Jadikah saya datang ke PDS HB Jassin pada 3 Januari? Sayangnya tidak.  Jadwal peluncuran buku yang bersamaan dengan akhir musim liburan pendek anak sekolah, membuat saya harus mendahulukan libur bersama dengan ketiga putri saya. Dari luar kota saya mencoba memantau perkembangan diskusi melalui media sosial. Dan “mantra pengundang badai” yang disisipkan dalam buku tebal karya Tim 8 itu pun menunjukkan keampuhannya dengan cepat: badai kontroversi langsung datang dan terus membesar sampai sekarang.

“Kekesalan” saya sebelumnya juga mendadak sirna begitu membaca wall Facebook penulis dan mantan wartawati senior Linda Djalil yang menginformasikan bahwa penyair Taufiq Ismail bersama istri sedang bertandang ke rumahnya. Salah satu poin ucapan Taufiq–salah seorang pengampu Horison–adalah bahwa dia pun tak pernah tahu tentang proyek buku itu yang dikomandani Jamal, yang disebut Linda sebagai “anak didik” Taufiq di majalah sastra itu.

Syahdan, penyair dan aktor kawakan Aspar Paturusi juga mengirimkan pesan pendek kepada Taufiq menyatakan kegalauannya menyangkut posisi majalah Horison yang ikut terkena getah. Sebab selain Jamal, Joni pun anggota dewan redaksi majalah itu, seperti halnya Agus R. Sarjono yang baru mundur pada 2013. Syahdan pula, kerisauan Aspar dijawab Taufiq dengan menyatakan pesan sedih bahwa ini merupakan masa ujian bagi Horison sebagai institusi.

Intensitas badai itu kian terasa mencambuk dengan Surat Terbuka Cecep Syamsul Hari, Redaktur Pelaksana Horison, yang menyatakan mengundurkan diri dari majalah sastra legendaris itu dengan “satu alasan, dan satu-satunya alasan” adalah terkait dengan terbitnya buku tersebut. Cecep mengumumkan sikapnya dalam situswww.sastradigital.com yang dikelolanya pada 16 Januari 2014.

Satu per satu dari 33 tokoh sastra dalam buku ini pun menyuarakan semacam keberatan. Goenawan Mohamad menyatakan tak layak terpilih, karena pengaruhnya saat masih berkecimpung di majalah Tempo sebagai jurnalis mungkin ada, tapi sekarang tidak lagi.  Dengan humor satirnya yang khas, GM mengatakan tak pernah bercita-cita sebagai sastrawan berpengaruh karena cita-citanya dulu adalah sebagai “juara (lari) marathon, meskipun itu cita-cita yang pasti gagal.”

Remy Silado yang dikenal sebagai sastrawan mbeling, dan salah seorang  “paling urakan” dari daftar itu, juga menyatakan keinginan untuk “mencabut diri saya dari ke-33 tokoh tersebut.”

Saat “Paus Sastra” HB Jassin masih hidup–di buku ini Agus Sarjono memperkenalkan Jassin dengan istilah baru sebagai “Pengacara Sastra Indonesia Modern–beliau pernah pasang badan di pengadilan untuk melindungi Ki Panji Kusmin (nama samaran) penulis cerpen Langit Makin Mendung yang mendulang kontroversi dahsyat menyusul publikasi di Majalah Sastra (Tahun VI. No. 8, Edisi Agustus 1968).  Entah bagaimana sikap Jassin seandainya kini menghadapi “horison makin mendung” yang memayungi ranah sastra tanah air. Akankah Jassin tetap akan pasang badan demi kebebasan ekspresi, yang kali ini digunakan Tim 8?

Menarik ditunggu kelanjutan badai kontroversi buku ini, karena sejumlah penggiat sastra yang menamakan diri Tim 17, yang antara lain dimotori penyair Saut Situmorang, sudah pula mengibarkan bendera penentangan terbuka terhadap Tim 8, yang diikrarkan di PDS HB Jassin, tempat yang sama dengan buku itu diluncurkan dua pekan sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s