Home » Selected Contemplation » Denny JA dan Potensi Keterjungkirbalikkan Sejarah

Denny JA dan Potensi Keterjungkirbalikkan Sejarah

Ditulis oleh T Agus Khaidir, tulisan ini pernah dimuat di Harian Analisa, hlm. 7, tanggal 16 Februari 2014. T Agus Khaidir adalah wartawan Harian Tribun Medan dan seorang cepenis yang karya-karyanya telah terbit di beberapa media massa lokal maupun nasional seperti dua di antaranya adalah “Ziarah Lebaran” (Media Indonesia, 27 Juli 2014) dan “Mawar Hitam dan Pendendang Buta” (Harian Waspada, 21 September 2014). Terbit ulang dengan sedikit adaptasi ini telah mendapat ijin darinya. Versi tulisan ini adalah versi yang disalin-tempel dari blog milik T Agus Khaidir, Sekeranjang Tulisan Sekeranjang Ide.

_________________________________

Pascahantaman “tsunami” caci maki, anggota Tim 8 “tiarap”. Tim ini, terdiri dari Acep Zamzam Noor, Agus R Sarjono, Ahmad Gaus, Bertold Damhuser, Jamal D Rahman, Joni Ariadinata, Maman S Mahayana, dan Lilis Nenden Aisyah, sebelumnya telah memancing kehebohan.

kredit T Agus Khaidir

via T Agus Khaidir

BERDASARKAN enam kriteria, yaitu: (1) seberapa penting karya dan/atau pemikirannya; (2) karya dan/atau pemikirannya memberikan inspirasi bagi sastrawan berikutnya; (3) karya dan/atau pemikirannya berdampak luas, berskala nasional, sehingga melahirkan semacam gerakan, baik yang berkaitan dengan sastra maupun dengan kehidupan sosial budaya yang lebih luas; (4) karya dan/atau pemikirannya membuka jalan bagi munculnya tema, gaya, pengucapan baru yang jejaknya dapat dikembalikan pada tokoh tersebut; (5) karya dan/atau pemikirannya menjadi semacam monumen; dan (6) karya dan/atau pemikirannya menjadi semacam pemicu lahirnya pemikiran tentang kebudayaan, kemasyarakatan, bahkan kebangsaan; mereka memilih 33 nama dan menyebutnya sebagai “Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia”.

Kehebohan mencuat, karena di antara ke-33 nama ini, mencuat empat nama yang jadi perdebatan. Mereka adalah Denny JA, Wowok Hesti Prabowo, Ayu Utami, dan Helvy Tiana Rosa. Namun dibanding silang pendapat terkait tiga nama terakhir (di mana banyak yang menggugat tapi tidak sedikit yang membela), riuh-rendah perihal keberadaan Denny JA dalam daftar itu jauh lebih dahsyat. Boleh dikata, “pembela” Denny hanya Tim 8. Itu pun cuma Ahmad Gaus -dan belakangan Jamal D Rahman.

Pembelaan Gaus cukup militan dan mengharukan. Tak cukup berperang kata di Twitter dan Facebook, Gaus menuliskan puncak pembelaannya lewat satu tulisan panjang. Tapi alih-alih meredam suara sumbang, tulisan berjudul “Seputar Heboh Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh: Siapa Yang Mendanai Program Ini?” yang dimuat di blog pribadinya http://ahmadgaus.wordpress.com, justru membuat ia dan Denny JA kian tersudut.

Tulisan ini dimulai dengan kalimat yang seolah-olah mengesankan kebenaran. “Tentang pertanyaan mengapa nama Denny JA masuk ke dalam daftar itu, jawaban saya adalah, justru aneh kalau nama dia tidak masuk. Sebab, dialah yang paling fenomenal dengan puisi esainya sekarang ini. Denny JA adalah wakil kontemporer dari dinamika sastra dalam 3 tahun terakhir.”

Puisi yang ditulis Denny JA, disebutnya puisi esai, dipuji Gaus sebagai terobosan baru dalam sastra Indonesia. Genre baru puisi yang lahir atas dasar pemikiran bahwa puisi-puisi Indonesia mutakhir makin sukar dipahami dan membuatnya jadi berjarak dengan masyarakat. Maka dibuatlah puisi-puisi renyah dengan catatan kaki yang mengular.

Lalu esainya di mana? Apakah karena adanya catatan kaki itu? Jika ditilik lebih jauh, keberadaan catatan-catatan kaki ini sesungguhnya tidak banyak berguna. Hanya genit-genitan mengesankan kesokpintaran, sebab sekiranya pun dihapus, tak akan membawa dampak apa-apa pada pembacaan puisi-puisi itu.

Paling menggelikan adalah ocehannya perihal popularitas. Gaus membandingkan hit blog puisi esai (http://www.puisi-esai.com) dengan viewer “Matahariku”, lagu Agnes Monica yang tayang di laman http://www.youtube.com. Dan menurut Gaus, hit (dalam hal blog disebut “trafik”) terhadap puisi Denny, lebih besar dari lagu Agnes. Trafik pada blog Denny menyentuh angka 7 juta hanya dalam kurun waktu setahun (tepatnya 7.502.981 pada tahun 2012), sedangkan angka 7.030.607 juta view untuk video lagu Agnes, baru tercapai setelah dipampangkan di laman tersebut selama 5 tahun (video ini diposting sejak 15 Mei 2008).

Data ini mutlak. Tapi saya pikir sama sekali tak membuat argumentasi Gaus jadi meyakinkan. Kenapa? Perkara memperbandingkan hit hemat saya sangatlah nisbiah. Parameter pembandingannya rancu. Puisi dan lagu. Aih, kenapa Gaus tidak membandingkannya dengan video gol Zlatan Ibrahimovich sekalian? Hingga pekan pertama Februari 2014, video gol Ibra ke gawang Tim Nasional Inggris pada laga persahabatan internasional yang terpilih sebagai FIFA Puskas Award 2013 sebagai goal of the year  ini “baru” menghasilkan 2,148,992 viewer.

Pertanyaan penting lain, mengapa orang membuka blog Denny dan apa alasan menonton Agnes di Youtube? Saya akan jawab pertanyaan mengenai Agnes lebih dahulu. Setidaknya ada dua sebab: (1) menyukai Agnes, dan (2) membenci Agnes. Namun yang menyukai maupun membenci, sama sama bermaksud mencermati lagu tersebut. Penyuka untuk menikmati, sedangkan pembenci mencari kelemahan lagu, lalu mencacinya.

Mengapa blog Denny JA dibuka? Banyak kemungkinan yang saya duga tak semuanya benar-benar bertujuan untuk mencermati puisi puisi itu. Barangkali untuk melihat syarat lomba (beberapa waktu lalu Denny menyelenggarakan lomba menulis puisi esai berhadiah cukup besar). Atau memang semata demi meningkatkan hit dan trafik. Metode yang juga dipakai dalam mendapatkan angka tinggi yang menunjukkan popularitas dalam survei. Siapa tahu?

Ada sejumlah kejanggalan data pula dari blog ini. Secara teoretis teknis, blog dengan trafik tinggi akan memiliki pagerank tinggi pula. Dengan trafik 7.502.981 pada tahun 2012, 4.173.741 tahun 2013 dan 563.363 akhir Januari 2014, akan membuat pagerank situs blog Denny JA berada di jajaran 100 besar di Indonesia. Kenyataannya tidak demikian. Pada mesin pelacak pagerank, http://www.prchecker.info/ dan http://www.mypagerank.net/, situs http://www.puisi-esai.com sama-sama menghasilkan 1/10. Sebagai pembanding, http://www.kompas.com dan http://www.detik.com memperoleh 6/10, sedangkan http://www.facebook.com 9/10 dan http://www.twitter.com 10/10.

Pun halnya di mesin pelacak peringkat, http://www.alexa.com. Hingga pekan kedua Februari 2014, blog milik Denny JA ini masih berada pada peringkat 18.491 di Indonesia dan 1,489,569 di dunia. Bandingkan, misalnya, dengan situs web Harian Analisa, http://www.analisadaily.com yang  menempati peringkat 2.697 di Indonesia dan 133.645 di dunia. Padahal trafik [Harian] Analisa tidak sedahsyat http://www.puisi-esai.com.

Jika saya tidak keliru, semakin besar angka, semakin tinggi popularitas situs tersebut. Sebaliknya semakin rendah, semakin buruk posisinya di dunia maya. Di Alexa, pendekatannya terbalik. Semakin kecil angka, semakin populer.

Lalu pertanyaannya, dari mana datangnya trafik besar yang akan ternyata tak nyambung dengan pagerank dan pemeringkatan ini? Apakah Ahmad Gaus bisa memberi penjelasan?

Kini lebih satu bulan polemik berkecamuk. Di samping berbagai kecaman di laman-laman pertemanan sosial, baik lewat kritik cerdas maupun yang nyinyir membongkar dugaan kecurangan Tim 8 (terutama Ahmad Gaus dan Jamal D Rahman), reaksi juga mencuat dalam berbagai bentuk []. Ada yang berdemonstrasi. Ada yang berencana membuat buku tandingan. Ada yang membuat pengakuan. Ahmadun Yosi Herfanda, Sihar Ramses Simatupang, Chavcay Syaifullah, dan Kurnia Effendi, empat sastrawan yang pernah menulis puisi esai, menyebut latar belakang penulisan itu adalah semata pesanan Denny JA melalui telangkai kelas beratnya, Fatin Hamama. Konon, atas permintaan khusus, Ahmadun dibayar Rp 10 juta.

Ada juga yang membuat petisi. Ditandatangani Saut Situmorang, Dwicipta, Eimond Esya, Faruk HT, Nuruddin Asyhadie, dan Wahyu Adi Putra Ginting, isi petisi ini adalah “mendesak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional untuk mengambil langkah tegas pada buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh hingga ke bentuk pelarangan edar secara permanen, sesuai mekanisme dan prosedur yang ada, termasuk hukum, apabila hasil pengujian menunjukkan adanya kesalahan fatal metode pemilihan dan isi buku tersebut.”

Seorang kawan menuliskan pendapatnya di salah satu status yang jadi diskusi di linimasa akun Facebook saya. Intinya, dia menganggap buku ini sampah belaka. Menurut dia, Umbu Landu Paranggi, Wiji Thukul, dan Seno Gumira Ajidarma, tiga tokoh besar sastra Indonesia yang dipinggirkan Tim 8 dari daftar itu, sudah mendapatkan tempat di hati masyarakat.

Dia benar. Tapi perlu digarisbawahi. Masyarakat yang mana? Pertama tentu masyarakat sastra, yakni mereka yang paham sastra atau setidak-tidaknya pernah membaca karya sastra. Kedua, masyarakat sekarang. Bagaimana dengan masyarakat generasi kemudian? Buku merupakan dokumentasi dan alangkah celaka jika 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh mereka baca. Di sekolah-sekolah pula. Dan sejarah akan terjungkirbalikkan. Saya membayangkan anak-anak dan cucu kita tidak tahu lagi siapa Umbu, siapa Thukul, siapa Kho Ping Hoo, siapa Seno Gumira, siapa Kuntowijoyo, Umar Kayam, Ahmad Tohari, Hamsad Rangkuti, Martin Aleida, terlebih-lebih para sastrawan yang sejak lama (dengan berbagai cara) memang sengaja dipinggirkan dan coba dilupakan macam Agam Wispi, Hr. Bandaharo, dan Putu Oka Sukanta. Mereka hanya akan mengenal Denny JA. Aduh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s