Home » Selected Contemplation » Sang Sastrawan

Sang Sastrawan

Artikel yang pernah terbit di Jawa Pos, 16 Februari 2014 pada kolom Ruang Putih ini adalah karya Kukuh Yudha Karnanta. Terbit ulang pada blog ini mengikut kaidah ‘fair use‘. Versi yang terbit ulang di blog ini diambil dari notes Facebook Kukuh Yudha Karnanta.

_________________________________

Salah satu fenomena dalam sastra Indonesia kekinian adalah tren ‘modus-menjadi-sastrawan’ yang sesungguhnya mengindikasikan terjadinya perubahan kondisi ‘kealaman’, model produksi, maupun modus-eksistensi seorang penulis. Kontroversi masuknya nama Denny JA dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, misalnya, merupakan salah satu peristiwa terkini yang bisadiajukan sebagai contoh: bagaimana bisa seorang intelektual-politik yang biasa bergulat dengan statistik ujug-ujug ditahbiskan menjadi sastrawan setara, katakanlah, Pramoedya Ananta Toer dan Goenawan Muhammad? Mungkin jawabannya adalah, “Mengapa tidak?”

Jika dicermati, fenomena Denny JA bukan satu-satunya peristiwa tren-menjadi-sastrawan. Beberapa nama seperti Nova Riyanti Yusuf, novelis yang juga anggota DPR, Andrea Hirata yang mengaku tak pernah menulis karya sastra sebelumnya namun novel pertamanya lantas menjadi best seller hingga mancanegara, adalah contoh betapa dinamisnya arena sastra Indonesia kekinian. Fenomena Denny J.A menjadi masalah—kalau memang layak disebut masalah—karena label ‘sastrawan’ yang disematkan kepadanya, bukan sekadar ‘penulis-puisi’. Artinya, masalah tersebut muncul dari asumsi bahwa label ‘sastrawan’ mensyaratkan adanya suatu pengakuan atau legitimasi tertentu yang berbeda dan lebih tinggi dari sekadar ‘novelis’ atau ‘penulis-puisi’.

Sosiolog-seni asal Perancis, Pierre Bourdieu, menyebut bahwa menjadi sastrawan merupakan proses kompleks yang terjadi dalam lingkup tertentu yang ia sebut sebagai ‘arena’. Seseorang yang menulis dan mempublikasikan puisi tidak secara otomatis menjadi sastrawan, karena status ‘sastrawan’ sesungguhnya diberikan oleh pihak-pihak tertentu yang ada dalam arena sastra. Arena sastra, ujar Bourdieu (2010: 22), adalah “tempat bagi pergulatan-pergulatan di mana yang dipertaruhkan adalah kekuasaan untuk mengimposisi atau memaksakan definisi dominan tentang tentang penulis…taruhan utama dalam pergulatan sastra adalah monopoli legitimasi sastra.” Hal itu secara konkret ditunjukkan oleh pergulatan antara penulis muda dan penulis senior yang sudah terkonsekrasi yang mana penulis muda relatif belum memiliki legitimasi dan sedang berusaha memburu legitimasi; di saat yang sama, penulis senior berusaha mempertahankan legitimasi dan posisi yang ia miliki dalam arena tersebut. Perburuan atas legitimasi tersebut adalah praktik sastra, suatu praktik yang di dalamnya terakumulasi modal dan strategi-strategi tertentu yang berimplikasi pada perubahan struktur arena. Sastra, dan seni pada umumnya, tidak lagi dipahami sekadar wilayah artistik, melainkan juga politik, yang mekanismenya pun tidak jauh berbeda dengan politik pemerintahan. Jika dalam politik pemerintahan pencapaian tertinggi adalah siapa yang menjalankan amanat ‘konstitusi’, maka dalam sastra pencapaian itu adalah siapa yang berhak meraih legitimasi dan konsekrasi (pengakuan).

Lebih lanjut, arena sastra tidak bersifat fix dan tunggal, melainkan fluid dan mendua. Di sinilah tarik-menarik antara kepentingan pasar dan kepentingan seni-untuk-seni terjadi. Bourdieu (2010: 17) menjelaskan prinsip legitimasi dan situasi ‘kemenduaan’ arena sastra tersebut melalui apa yang disebut prinsip hierarki heteronom, yakni pengakuan yang didasarkan pada kesuksesan sebagaimana dapat diukur dari indeks-indeks angka penjualan, yang mendudukkan penulis pada posisi subjek yang patuh pada hukum yang berlaku di arena kekuasaan dan ekonomi. Dalam arena ini, prestasi seorang penulis bukan pada seartistik apa karya yang dibuat, melainkan selaris apa karya sastraitu diserap oleh pasar. Tetralogi LaskarPelangi, novel ‘Islami’ Ayat-ayat Cinta, atau bacaan gaul Dea Lova, misalnya, berada dalam sub-arena ini.

Di saat sama, arena sastra juga memiliki prinsip hierarki otonom yakni derajat konsekrasi spesifik (prestise kesusasteraan atau artistik) yakni derajat pengakuan yang diterima oleh mereka yang mengakui tidak ada lagi kriteria yang legitimasi dan otonominya didasarkan dari hukum-hukum pasar. Prinsip yang berlaku adalah prinsip sastra untuk sastra: sejauh mana karya yang dihasilkan menawarkan kebaruan atau setidaknya upaya pembaruan gagasan dan estetika dalam sastra. Novel Hubbu atau Cala Ibi, puisi-puisi GunawanMuhammad dan Sutardji, mungkin penjualannya tak selaris karya-karya di atas, namun mereka yang tersebut terakhir inilah yang disebut ‘sastrawan’, bukan lagi‘penulis novel’ atau ‘penulis puisi’.

Pertanyaannya, bagaimanakah sastrawan yang legitimit itu? Siapa pula yang berhak memberikan legitimasi itu? Apakah harus seorang penulis mendapat legitimasi dan untuk apa?

Status atau legitimasi ‘kesastrawanan’ seorang penulis menjadi hal krusial sebab melalui definisi itulah seorang penulis mendapatkan konsekrasi atau derajat pengakuan yang memberinya peluang untuk meraih posisi tertentu di arena sastra tersebut. Dalam bahasa Bourdieu (2011: 193), hal tersebut disebutnya sebagai “tiket masuk yang sifatnya kurang lebih absolut.” Bourdieu (2010: 35) mengklasifikasikan legitimasi dalam arena sastra menjadi tiga jenis legitimasi yakni: (1) legitimasi spesifik,yaitu pengakuan yang diberikan oleh sekelompok seniman kepada seniman lain—legitimasi yang setara dengan seni untuk seni,yang otonom dan cukup-diri; (2) legitimasi borjuis; legitimasi yang berkesesuaian dengan selera borjuis yang diberikan fraksi-fraksi dominan dalam kelas dominan atau alat-alat (institusi) negara;(3) legitimasi populer, yaitu konsekrasi yang diberikan oleh pilihan-pilihan konsumen umum atau audien-massal. Ketiga prinsip legitimasi di atas sekaligus menunjukkan posisi serta relasi arena sastra dengan arena lainnya. Arena sastra memiliki struktur dan tingkat otonomi tertentu yang ditunjukkan dengan agen-agen yang memberikan legitimit spesifik, namun di saat sama, intervensi kaum borjuis pada legitimasi-borjuis yang merepresentasikan pengaruh dari arena kekuasaan; serta legitimasi-populer dari audiens massal yang mengarah pada ruang sosial dalam arti seluas-luasnya, menunjukkan sifat ‘mendua’ yang dikandung arena sastra.

Pada situasi ‘arena yang mendua’ dan ragam legitimasi inilah setidaknya fenomena Denny JA bisa dipahami secara lebih proporsional. Sebagai pendatang baru dalam arena sastra Indonesia, Denny JA ingin segera mendapat legitimasi-spesifik. Untuk itu, dia melakukan apa yang disebut Bourdieu “mereka (pendatang baru) harus menegaskan keberbedaan (distingsi) mereka, membuatnya diketahui dan diakui, serta mencetak nama untuk diri mereka sendiri. Untuk itu mereka me[ng]upayakan penekanan cara-cara berpikir dan doksa baru, menyuarakan kerancuan, keburaman, dan ketidaktepatan ortodoksi.” Puisi-esai yang ditawarkan Denny JA dalam antologi puisi Atas Nama Cinta, terlepas dari kritik atas konsep estetika terhadapnya, adalah heterodoksa atau wacana tandingan yang dilancarkan untuk menentang doksa atau wacana umum tentang konvensi puisi di Indonesia. Adapun kritik seperti yang dilancarkan para penentangnya adalah ortodoksa atau wacana yang direproduksi demi mempertahankan doksa yang ada oleh agen-agen yang lebih dulu mapan dalam arena sastra. Dalam hal inilah Denny JA sesungguhnya sedang berada dalam pertarungan simbolis, yakni praktik relasi kuasa yang dijalankan melalui wacana, dengan teknik berbahasa dan berdiplomasi yang tak selalu tersadari. Pertanyaannya, siapakah Denny JA berani bertarung dalam arena sastra? Apa yang memampukan dia bertarung dalam arena di mana keterampilan berbahasa dan berpikir secara artistik itu menjadi syarat utamanya?

Arena sastra adalah arena kekuatan sekaligus arena pergulatan yang bertujuan mentransformasi atau mempertahankan relasi kekuatan yang sudah ada: masing-masing agen melibatkan kekuatannya (modalnya) yang telah ia perolehdari pergulatan sebelumnya lewat strategi-strategi yang orientasinya bergantung pada posisi masing-masing dalam relasi kekuatan tadi, artinya dengan modal spesifiknya. Dalam hal ini Denny JA secara cerdik memainkan dan‘berhasil’, untuk sementara, mengkonversi modal-modal yang ia miliki. Dengan keterbatasan modal spesifik yang berlaku dalam arena sastra khususnya konvensi puisi, Denny JA mengkonversi modal sosial berupa intelektual politik yangmemiliki banyak akses dan jaringan, modal ekonomi berupa materi yang didapat dari profesi sebagai surveyor, ke dalam modal simbolik berupa klaim ‘sastrawan’ yang didapat dari sastrawan sekelas Jamal D Rahman, Acep Zamzam Noor, Agus R Sarjono, Ahmad Gaus, Berthold Damshäuser, Joni Ariadinata, Maman S Mahayana, dan Nenden Lilis Aisyah, yang dengan apriori boleh disebut sebagai tokoh sastra ‘legitimit’ dan tergabung dalam Tim 8 perumus isi buku tersebut. Nama Pusat Dokumentasi HB Jassin, salah satu institusi sastra yang terpandang yang ‘dipilih’ sebagai penerbit buku itu, seakan semakin menegaskan betapa sah dan validnya legitimasi tersebut.

Dengan pembacaan sastra sebagai suatu arena di atas, sesungguhnya tidak ada yang perlu diherankan pada fenomena Denny JA. Sang pendatang baru itu bisa dikatakan sadar potensi dan dengan sangat cerdik meracik strategi yang memungkinkan dirinya meraih apa yang penulis-puisi lain susah payah memperjuangkannya. Apa yang bisa dimaknai dari fenomena itu adalah betapa arena sastra Indonesia menunjukkan gejala deotonomisasi. Kini tidak lagi dibutuhkan modal spesifik dan rute proses kreatif yang berliku untuk menjadi sastrawan, melainkan modal sosial dan ekonomilah yang memegang peranan penting. Dalam ruang sosial yang mana sumber nilai dan kuasa tak lagi terpusat melainkan tersebar, siapapun tampaknya boleh dan bisa mendaku diri, dengan modus apapun, sebagai sastrawan. Pertanyaan yang masih belum bisa terjawab adalah, jika Denny JA rela menukar modal ekonomi sedemikian besar hanya untuk mendapat modal simbolik berupa klaim ‘sastrawan’, bukan tidak mungkin ada agenda lain yang ia rancang demi merekonversi dan memfungsikan modal simbolik itu untuk kepentingan lainnya yang entah apa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s