Home » Selected Contemplation » 33 Tokoh Sastra, Sebuah Kejahatan Kultural

33 Tokoh Sastra, Sebuah Kejahatan Kultural

Tulisan ini adalah tulisan karya A.S. Laksana yang pernah terbit di kolom Ruang Putih pada Koran Jawa Pos Minggu, 19 Januari 2014. Terbit ulang di blog ini merujuk pada aturan ‘fair use‘ dan diambil dari blog pribadi A.S. Laksana, Ruang Berbagi. A.S. Laksana adalah instruktur menulis, kolumnis, pegiat sastra dan budaya, serta penulis yang produktif. Dua belas cerpen A.S. Laksana yang terbit dalam antologi cerpen Bidadari yang Mengembara (2004) mendapatkan gelar Buku Sastra Terbaik 2004 oleh majalah Tempo.

____________________________________________________________

Ada satu adegan dalam novel Il Postino, karya penulis Cile Antonio Skarmeta, yang selalu saya ingat. Suatu hari Komite Sentral Partai Komunis mengirimkan telegram menunjuk penyair Pablo Neruda sebagai kandidat presiden untuk pemilu tahun 1970. Itu penunjukan yang membikin Neruda cemas. Mario Jimenez, tukang pos yang mengantarkan telegram, memperhatikan perubahan paras muka si penyair.

“Tentu menakjubkan untuk ditunjuk,” kata Neruda, “tapi apa jadinya kalau aku menang?”

“Tentu saja anda pasti terpilih, Don Pablo. Semua orang kenal anda. Di rumah, ayah saya cuma punya satu buku dan itu karangan anda.”

“Lalu kenapa?”

“Apa maksud anda dengan ‘Lalu kenapa’? Ayah saya buta huruf dan ia menyimpan salah satu buku anda. Artinya, kita pasti menang.”

Pada tahun 1970, anda tahu, Partai Komunis Cile akhirnya menunjuk Salvador Allende sebagai kandidat presiden dan ia memenangi pemilihan yang demokratis. Namun kekuasaannya tak bertahan lama.  Amerika dan CIA menggulingkannya. Pablo Neruda terpilih sebagai pemenang Nobel Sastra tahun berikutnya dan dalam novel itu digambarkan bagaimana rakyat Cile berpesta, bahkan di warung-warung kecil, untuk menyambut kemenangan penyair kebanggaan mereka.

Saya setia menyimpan gambaran seperti itu dalam benak, yakni bahwa suatu hari semua orang Indonesia akan berpesta merayakan kemenangan penulis Indonesia. Saya membayangkan situasi yang riuh rendah menyambut prestasi yang memang membanggakan.

Sampai saat ini belum ada situasi semacam itu dan saya tetap menyimpan gambar tersebut di dalam benak saya. Memang ada keriuhan di awal tahun ini, tetapi itu keriuhan yang memalukan dalam sastra, yakni terbitnya buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.

Sejumlah teman melancarkan petisi dan pernyataan sikap menolak buku itu dan membacakannya hari Jumat lalu di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, tempat di mana buku tersebut diluncurkan. Mereka menyebut buku itu berpotensi menyesatkan publik, mencederai integritas dan moral ahli sastra dan sastrawan serta masyarakat Indonesia, dan dapat menjadi preseden buruk.

Olok-olok di media sosial juga ramai. Seseorang menulis di twitter: “33 tokoh sastra = 32 + Denny JA. Yang 32 bisa siapa saja.” Saya sepakat.

Jadi, untuk memilih 32 nama, para penyusun buku itu bisa berdebat tiga hari tujuh malam dan bila perlu berendam sampai pagi pada malam terakhir di sebuah sendang di kaki gunung. Yang sudah pasti adalah satu nama: Denny JA.

Dan satu nama inilah yang pada akhirnya menjadi biang keriuhan. Denny adalah seorang warga negara yang memiliki hasrat besar untuk diakui sebagai pelopor di bidang apa saja yang ia geluti. Ia konsultan politik yang urusan utamanya membuat publik melihat bahwa elektabilitas kliennya makin meningkat. Anda bisa juga menyebut bahwa usahanya adalah melakukan rekayasa untuk membentuk persepsi orang tentang kliennya. Dengan kata lain, ia serupa orang yang berdagang ular dan membuat publik yakin bahwa ularnya paling ganas.

Pertanyaannya, kenapa nama Denny JA bisa ada di dalam daftar tokoh sastra paling berpengaruh? Oh, tentu saja karena Denny menghendaki hal itu dan ia memiliki uang untuk mewujudkan keinginannya. Dan untuk itu ia hanya memerlukan orang-orang yang sudi bekerja mewujudkan keinginannya. Dan orang-orang itu adalah yang kemudian disebut Tim 8. Mereka terdiri atas Jamal D. Rahman, Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Berthold Damshauser, Nenden Lilis Aisyah, Joni Ariadinata, Ahmad Gaus, dan Maman S. Mahayana.

Saya yakin ini adalah proyek yang sudah ada dalam rancangan Denny sejak awal, sejak terpikir olehnya untuk menerbitkan buku kumpulan puisi, yang ia sebut puisi-esai. Ketika menerbitkan buku itu, 2012, Denny meminta beberapa nama besar dalam sastra Indonesia—Sapardi Djoko Damono, Ignas Kleden, dan Sutardji Calzoum Bachri—untuk membuat tulisan mengiringi buku kumpulan puisinya. Kurang lebih seperti seorang penganten imut minta diiringi oleh para raksasa. Saya tahu satu orang lagi yang juga dia minta menulis ulasan tentang puisi-puisinya dan orang ini menyampaikan kritik keras. Tulisan itu tidak dipakai, tetapi si penulis tetap dibayar.

Setelah terbitnya buku tersebut, pelbagai kegiatan diadakan, di antaranya lomba menulis resensi, lomba penulisan puisi esai, pembacaan puisi, dan sebagainya. Berbagai artikel kampanye puisi esai terbit di Jurnal Sajak dan majalah sastra Horison. Setelah itu muncul juga buku-buku kumpulan puisi esai yang kebanyakan diterbitkan oleh Jurnal Sajak. Ini semacam pekerjaan propaganda untuk menggemparkan dan mempengaruhi kesadaran publik tentang kelahiran puisi-esai, sebuah “genre baru sastra Indonesia” (itu klaim yang disebutkan di sampul bukunya), dengan Denny JA sebagai pelopornya.

Kampanye terus berlanjut. Kelima puisi Denny yang ada dalam kumpulan itu difilmkan. Dalam situsweb tentang puisi esai, yang saya yakin didanai oleh Denny JA, kita akan menjumpai keterangan: “puisi-puisi esai karya Denny JA ini juga ditransformasikan ke dalam film di mana penulisnya, Denny JA, menggaet sineas kenamaan Hanung Bramantyo sebagai co-produser.” Selain difilmkan, diproduksi juga video klip pembacaan puisi oleh Putu Wijaya, Sutardji Calzoum Bachri, Niniek L Karim, Sudjiwo Tedjo, dan Fatin Hamama.

Jadi, penerbitan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh tidak lain adalah kelanjutan belaka dari propaganda-propaganda yang sudah dilakukan sebelumnya, yang sekarang kita tahu tujuannya: ialah mengukuhkan nama Denny JA sebagai seorang pelopor dalam kesastraan Indonesia. Karena itulah, mau tidak mau, nama Denny harus masuk, sebab itu missi utama proyek penerbitan buku ini. Jika namanya tidak dimasukkan ke dalam daftar, saya kira Denny tidak akan membatalkan proyek tersebut. Atau bisa saja mencari operator-operator lain, jika ia tetap menghendaki dirinya disebut sebagai tokoh sastra paling berpengaruh. Mungkin ia bisa mengalihkan proyeknya kepada Masyarakat Sastra Kulon Kali atau Penggiat Sastra Kolong Jembatan atau Jemaat Sastra Kantong Semar, untuk membuat pengkajian tentang tokoh-tokoh sastra paling berpengaruh dan menerbitkan buku sembari menunjukkan kerendahan hati dalam pengantar dengan mencantumkan frase: “tidak dimaksudkan sebagai karya ilmiah.

Apakah Denny melakukan kejahatan dalam hal ini? Saya tidak ingin mengatakan sejauh itu. Ia saya kira hanya ingin menunjukkan bahwa jalan untuk menjadi tokoh sastra bisa dibangun dengan cara mudah, semudah ia meningkatkan elektabilitas para politisi yang menjadi kliennya—asal uangnya ada. Menurut saya kejahatan yang cukup berat dalam proyek “33 Tokoh Sastra” ini adalah Jamal D. Rahman melakukan manipulasi dan mencatut nama Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dan menjadikannya alat legitimasi untuk pekerjaan nista yang ia lakukan bersama teman-temannya di TIM 8. Itu jika pengakuan Maman S. Mahayana, salah satu anggota tim, bisa dipercaya.

Dalam pernyataannya kepada situsweb Teras Lampung, Maman menyampaikan: “Disebutkan dalam e-mail, ‘Kegiatan ini secara formal dilaksanakan oleh PDS HB Jassin. PDS HB Jassin telah memberikan mandat kepada Jamal D. Rahman untuk mengoordinasi kegiatan dimaksud.’”

Itu klaim yang ditolak oleh Ariany Isnamurti, Kepala Pelaksana Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Secara tegas ia menyampaikan bahwa dirinya ataupun PDS HB Jassin tidak pernah memberikan penghargaan sedemikian besar kepada ke-33 orang tersebut. “Kegiatan ini sama seperti kegiatan peluncuran buku pada umumnya. Kami hanya fasilitator tempat kegiatan dan buku-buku yang dibutuhkan oleh tim 8 sebagai bahan riset/penelitian,” tuturnya.

Dengan semua yang saya sampaikan dalam tulisan ini, saya hanya ingin menghargai protes teman-teman yang meminta buku itu ditarik peredarannya. Beberapa teman mengatakan apakah tidak lebih baik buku itu dianggap sebagai sebuah proyek lucu-lucuan saja, atau sebagai sebuah guyon kere dari seseorang yang memiliki banyak uang. Saya pikir tidak bisa begitu. Ini sebuah proyek ambisius. Sesuatu yang didesain secara sungguh-sungguh dan untuk itulah Denny JA mengeluarkan dana. Mungkin saja buku itu nanti akan didiskusikan di 20 atau 30 atau 50 kampus di seluruh Indonesia—Denny punya uang untuk membiayai panitia-panitianya. Mungkin juga ia diupayakan untuk dibawa ke Frankfurt Book Fair 2015, di mana Indonesia menjadi tamu kehormatan.

Semua kemungkinan itu sangat bisa dilakukan, sebab terbukti Denny mampu membiayai pelbagai ikhtiar propagandanya. Saya bahkan mendengar bahwa tidak lama lagi akan diterbitkan buku baru yang memuat perdebatan tentang tokoh berpengaruh ini. Sekiranya buku semacam itu benar-benar diterbitkan dan tulisan ini akan disertakan karena membahas buku tersebut, saya menyatakan menolak.

Saya tidak ingin punya sangkut paut, dalam bentuk apa pun, di dalam ikhtiar-ikhtiar propaganda dan pemberian legitimasi dan upaya memanipulasi kesadaran publik. Menurut saya yang telah mereka lakukan adalah salah satu bentuk kejahatan kultural.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s