Home » Article » Tradisi Panjang nan Buruk dalam Memotret Afrika sebagai Benua Kumuh Sumber Penyakit

Tradisi Panjang nan Buruk dalam Memotret Afrika sebagai Benua Kumuh Sumber Penyakit

Judul asli artikel ini adalah “The Long and Ugly Tradition of Treating Africa as a Dirty, Diseased Place.” Artikel yang ditulis oleh Laura Seay dan Kim Yi Dionne ini pertama kali terbit di blog Monkey Cage pada tanggal 25 Agustus 2014. Monkey Cage adalah sebuah blog khusus dalam situs daring The Washington Post yang menyajikan isu-isu politik di Amerika Serikat dengan kontributor yang terdiri dari akademisi-akademisi yang berasal dari beberapa universitas di Amerika. Penerjemahan dan penerbitan ulang pada blog ini telah mendapatkan ijin dari kedua penulis.

____________________________________________________

Sampul majalah Newsweek pekan ini menampilkan gambar simpanse dengan kalimat “Pintu Belakang Buat Masuknya Ebola: Selundupan Daging Buruan Liar Bisa Sebabkan Epidemi di Amerika Serikat.” Tema sampul ini bermasalah oleh sebab beberapa alasan semisal sebuah fakta bahwa tidak ada peluang bagi selundupan daging buruan liar dapat menyebarkan virus Ebola dari Afrika ke Amerika. Meskipun praktik mengkonsumsi daging dari hewan liar hasil buruan sangat lazim di daerah yang sedang terjangkit Ebola, mayoritas masyarakat yang tinggal di daerah itu tidak makan daging simpanse. Bahkan, wabah Ebola yang barusan terjadi juga tidak terkait dengan konsumsi daging buruan liar.

Melenceng jauh dari pemberian informasi kepada publik akan isu kesehatan, penulis artikel itu dan keputusan editorial untuk menggunakan simpanse sebagai gambar sampul telah menempatkan Newsweek secara ajeg sebagai pernyaji gambaran orang Afrika sebagai makhluk liar dan benua Afrika sebagai tempat  kotor, penuh penyakit, dan perlu ditakuti. Lalu bagaimana dalam kajian ilmu sosial, tema sampul Newsweek disebut bermasalah?

Pengkategorian Bangsa-bangsa di Masa Kolonial

Orang-orang Eropa yang menjajah Afrika di akhir abad 19 merupakan bangsa yang secara budaya sangat terobsesi untuk mengklasifikasi dan mengkategorisasi alam. Petualangan ini turut berperan dalam perkembangan ilmu biologi modern (lih. Darwin dengan koleksi kumbangnya), namun di sisi lain juga mengarahkan kepada justifikasi yang tidak ada kaitannya dengan kajian ilmiah kecuali hanya dalam rangka proyek kolonialisasi.

Salah satu contohnya adalah ide yang dikembangkan oleh Frederick Coombs, penulis Coombs’s Popular Phrenology.[1] Di dalam buku ini, Coombs menguraikan sesuatu yang kemudian populer meskipun isinya ngelantur bahwa ukuran, bentuk, dan fitur fisik dari tengkorak seseorang menentukan kecerdasan seseorang. Coombs dan frenologis[2][3] lainnya memulai dengan sebuah asumsi bahwa orang-orang Eropa yang bukan berasal dari Eropa Utara atau Eropa Barat, alias Eropa Selatan dan orang kulit berwarna (hitam) dianggap kurang cerdas daripada orang-orang Eropa Utara yang berkulit lebih terang.

Tidaklah mengherankan, premis ngawur ini mengarahkan ‘ilmuwan-ilmuwan jaman Victoria’ saat itu kepada kesimpulan yang ngawur pula bahwa orang-orang yang mempunyai bentuk tengkorak mirip dengan tengkorak kera dianggap kurang cerdas dibanding orang-orang di Eropa Utara dan oleh sebab itulah mereka ini –yang bertengkorak bentuknya mirip kera- butuh untuk diberadabkan lewat kolonialisasi. Frenologis jaman Victoria mengembangkan tipologi yang pelik dan kompleks untuk menunjukkan bahwa benua Afrika dihuni oleh manusia yang berkepala mirip kera sehingga ‘belum beradab’, dan lalu ‘fakta’ ini menjadi justifikasi pesubjugasian[4] bangsa lain dalam proyek kolonialisasi.

Buku karangan Coombs bolehlah disebut sebagai karya yang mewakili semangat frenologi jaman Victoria, dan rasisme yang menjadi dasar dari buku Coombs telah berakar kuat di budaya-budaya bekas jajahan. Banyak orang-orang Barat pada masa itu diyakinkan oleh pendukung kolonialisme bahwa orang-orang dari kulit berwarna (orang kulit hitam) adalah orang yang “tidak beradab,” sangat butuh untuk disentuh kemodernan, kekristenan, dan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh orang-orang Barat. Semua hal dari Barat dianggap cocok disebarkan ke Afrika untuk membuat orang-orang kulit hitam ini ‘menjadi beradab’.

Laiknya norma-norma sosial yang berlaku, rasisme yang terlembagakan lewat ‘fakta’ bahwa tengkorak orang-orang Afrika yang bentuknya mirip tengkorak primata dibandingkan dengan ‘lazimnya’ bentuk tengkorak homo sapiens menjadi sesuatu yang ‘diyakini’ oleh publik; merasuk hingga ke dalam pop culture. Dan ini menjadi sesuatu yang berbahaya: muncul potret-potret orang-orang Afrika serupa ‘orang-orang liar mirip kera’. Gambaran-gambaran yang menunjukkan orang Afrika serupa kera menjadi sesuatu yang ‘lazim’. Di dalam pop culture, orang-orang Afrika ditampilkan di kartu pos,[5] film,[6] dan karya sastra[7] sebagai ‘jenis manusia yang tidak beradab’ yang tidak seperti para penjajahnya yang merupakan ‘jenis manusia yang beradab’.

Stereotipe ini bahkan merambah hingga buku anak-anak. Buku kartun bacaan anak-anak, Tintin au Congo,[8] bisa disebut sebagai salah satu contoh bagaimana penyajian ide rasisme ini. Di dalam buku kartun ini, orang-orang Congo yang sering bertatapan dengan Tintin nyaris tidak bisa dibedakan dengan kera besar dari Afrika Tengah. Orang-orang Afrika di dalam Tintin seri Babar ini digambarkan serupa dengan postur kera padahal kenyataannya jauh panggang dari api.

tintin4

/www.mondomix.com/blogs/

Seperti ditulis oleh sejarawan Sarah Steibock-Pratt,[9] gambaran orang-orang Afrika sebagai “orang-orang yang tidak beradab –bahkan kanibal– ada di dalam film-film sepanjang abad 20. Sejarah panjang bagaimana orang-orang kulit putih menganggap orang Afrika serupa dengan primata –mulai dari tidak beradab, berlarian liar di dalam hutan (padahal fakta sebenarnya bahwa kebanyakan orang Afrika tidak tinggal dekat hutan atau bersebelahan hidup dengan kera-kera di hutan) dan selalu mengancam orang kulit putih yang mendekat– masih belum juga berubah meskipun jaman sudah jauh berubah.

Othering atau Peliyanan

Coombs, orang-orang jaman Victoria dan orang-orang yang menciptakan karya-karya popular culture menjijikan terkait dengan penggambaran Afrika di dalam kajian budaya disebut melakukan praktik peliyanan. Peliyanan terjadi ketika di dalam sebuah grup (dalam kasus ini: orang-orang Eropa Utara) memperlakukan sekelompok orang-orang (di luar grup, dalam kasus ini: orang-orang Afrika dan juga orang-orang kulit berwarna yang lain) seolah-olah memiliki ‘kekurangan’ dengan pengidentifikasian kekurangan tersebut berdasar pada penampilan fisik, praktik budaya, atau norma-norma yang dimiliki.

Peliyanan memiliki konsekuensi yang jelas; sebagai misal, media internasional yang melakukan peliyanan terhadap kisah yang terjadi di Somalia di awal tahun 90-an justru mengarahkan publik dunia pada kesalahan identifikasi dan penyederhanaan masalah dari dinamika konflik yang terjadi di sana.[10] Bukannya berusaha memahami situasi sosial masyarakat Somalia, malah media massa Internasional memotret konflik yang terjadi sebagai perang antarklan yang melibatkan orang-orang yang tidak beradab dan sudah saling membenci dan bermusuhan sejak jaman dahulu kala. Representasi atau petampilan yang keliru ini mengarahkan kebijakan yang salah dan tidak efektif selama dua dekade sebagai respon atas krisis yang terjadi di Somalia.

Pilihan Newsweek untuk memajang gambar simpanse untuk menyodorkan cerita tidak sahih mengenai penyakit di Afrika adalah contoh klasik dari peliyanan. Hal ini sengaja dibuat untuk menunjukkan bahwa imigran dari Afrika yang ‘tidak beradab’ –yang ‘suka makan kera’, padahal tidak–  perlu ditakuti karena dapat membawa penyakit mematikan ke daratan Amerika Serikat.

Tulisan yang ada di Newsweek adalah tradisi jurnalistik yang buruk sebagaimana Howard French menyebutnya sebagai “Jurnalisme Ooga-Booga”[11], suatu praktik penggambaran yang melenceng dan tidak manusiawi tentang Afrika. Jika Anda belum sempat membaca liputan di dalam Newsweek, berikut adalah satu ringkasan, yang dibuat oleh Siddharta Mitter lewat akun Twitter-nya:

 Twitter

Penyingkapan Fakta dan Kengawuran Newsweek

Klaim yang paling ngawur dari cerita yang disajikan oleh Newsweek adalah pada kalimat berikut ini:

…. ada risiko tambahan –namun diabaikan oleh kebanyakan media massa dan publik– mengintai di dalam kargo [penerbangan trans-Atlantik] daging hewan buruan liar terkontaminasi dengan virus dan diselundupkan ke Amerika Serikat

Alasan pengabaian risiko ini sebenarnya dilandasi bukti yang valid bahwa kemungkinan penyebaran bahaya ini mendekati nol alias nyaris mustahil terjadi.

Tidak ada ilmuwan yang menemukan bukti yang kuat bahwa Ebola dapat menyebar dari hewan langsung ke manusia[12] kecuali lewat kelelawar buah sebagai semangnya dan tidak melalui simpanse.[13] Penelitian yang intensif di bulan Mei dan November 2007 ketika wabah Ebola merebak di Republik Demokratik Kongo menunjukkan bahwa:[14]

Merunut pada kejadian penularan awal dari manusia ke manusia, nampak jelas bahwa, di bulan Mei, korban pertama yang diduga sebagai sumber awal wabah Ebola membeli kelelawar yang baru saja diperoleh dari buruan. Dari sini dapatlah direkonstruksi bahwa penularan dari manusia ke manusia bermula dari kejadian sesudah itu. Temuan ini menunjukkan bahwa urutan penularan wabah Ebola bermula dari konsumsi kelelawar buah yang mengandung virus Ebola baru kemudian menginfeksi manusia.

Begitu juga dengan laporan dari Guardian yang bersumber dari temuan sekelompok ilmuwan yang mengadakan penelitian serius menemukan bahwa sumber terjadinya epidemi Ebola yang sekarang sedang mewabah bermula dari “seorang bayi yang mengadakan kontak dengan kelelawar yang terinfeksi virus Ebola.”[15]

Meskipun primata yang bukan manusia –semisal hewan yang dipampang di sampul majalah Newsweek– ada ditemukan mengandung virus Ebola, daging ‘tikus tebu’ yang dijual di Bronx tidak ada satu pun yang terbukti mengandung virus Ebola [Catatan Pinggir: mengapa tulisan di Newsweek memakai istilah “daging hewan buruan liar” atau bushmeat dan seakan-akan dibedakan dengan [wild] game [meat] padahal kedua istilah sama-sama merujuk pada daging yang diperoleh dari perburuan atas hewan liar untuk dikonsumsi].[16]

Seberapa mengancamkah penyelundupan daging kelelawar buah sebagai sumber penularan virus Ebola yang mungkin masuk ke daratan Amerika Serikat? Sumber referensi yang dipakai oleh Newsweek pada kasus penyelundupan daging ke Amerika Serikat tidak satu pun menyebutkan bahwa daging kelelawar buah masuk ke dalam temuan selundupan. Bahkan, tidak ada satu pun temuan daging kelelawar buah yang ditemukan berasal dari Afrika yang diselundupkan lewat bandara Charles de Gaulle.[17][18]

Virus Ebola yang menular dari hewan ke tubuh manusia adalah kejadian yang sangat, sangat langka bahkan di daerah-daerah di mana beberapa hewan yang diduga mengandung virus Ebola banyak ditemukan ini tidak pernah dilaporkan terjadi; bandingkan dengan kekhawatiran penularan virus Ebola dari hewan ke manusia yang dibayangkan dapat terjadi di Amerika Serikat –sebuah konteks di mana, apalagi, tidak adanya daging kelelawar buah diperjualbelikan– hal ini adalah tidak hanya menyesatkan, namun juga ngawur tak karuan.

Newsweek tidak sendirian di dalam menyampaikan berita menakutkan mengenai wabah Ebola ini.[19] Newsweek juga bukanlah pionir di dalam mewartakan berita dengan menimpakan tuduhan ancaman penyebaran virus Ebola kepada imigran Afrika lewat penyelundupan daging buruan liar. Sebelumnya koran di Inggris[20] dan Swedia[21] lebih duluan menerbitkan berita dengan menggiring tuding jari pada tersangka yang sama: imigran Afrika.

Beberapa Catatan Politik dan Sejarah terkait Imigran dan Wabah Penyakit di Amerika Serikat

Ada pengaitan yang ajeg antara imigran dan wabah penyakit di dalam masyarakat Amerika Serikat. The Immigration Act atau Undang-undang Keimigrasian tahun 1891 dengan jelas menyatakan haram masuknya ke daratan Amerika bagi  “orang-orang yang menderita penyakit menular atau berbahaya menjijikan.” Lalu seratus tahun kemudian dapat pula dirujuk bagaimana pengungsi-pengungsi Haiti yang terbukti positif HIV diperlakukan seperti tahanan di pangkalan angkatan laut Guantanamo Bay – meskipun lima tahun sebelumnya sudah terbuktikan bahwa virus HIV tidak dengan mudahnya tertularkan kepada manusia lain. Di tahun 2003 saat epidemi SARS terjadi, Pecinan (Chinatown) di daerah New York diidentifikasi sebagai satu daerah yang berpotensi menulari SARS padahal tidak ada satu pun kasus SARS terjadi di sana.[22]

Khusus kepada pemberitaan tentang Ebola, terbitan di blog Monkey Cage sebelumnya juga menyoroti bagaimana penebaran ketakutan tanpa dasar yang sahih yang didengungkan oleh mantan dokter yang sekarang menjadi anggota dewan perwakilan Amerika Serikat untuk negara bagian Georgia, Phil Gingrey, berbunyi bahwa anak-anak migran yang berasal dari Meksiko punya kemungkinan terkontaminasi virus Ebola – dan juga “penyakit lainnya yang berbahaya” dan “penyakit yang tidak lazim di negara Amerika Serikat.”[23]

Newsweek mengabarkan bahwa potensi terjadi wabah Ebola di Amerika Serikat kian meninggi sedangkan jika mau merujuk pada hasil penelitian mengenai wabah penyakit, orang-orang yang dianggap punya potensi mengidap suatu penyakit epidemik akan dapat perlakuan buruk.[24] Dalam kasus ini, giring duga mengarah pada imigran Afrika yang tinggal di Bronx (juga di beberapa wilayah lain di Amerika Serikat tentunya) sebab Newsweek memberitakan bahwa mereka ini sebagai pengkonsumsi dan penjual bushmeat (dan jangan minta Newsweek menunjukkan sebuah bukti bahwa mereka mendapati jual beli bushmeat di daerah imigran Afrika di Amerika Serikat karena mereka tentu tak punya bukti). Reaksi negatif yang mungkin dapat timbul dari ketakutan yang diciptakan akan Ebola ini di antaranya termasuk sikap xenophobic; jijik atau takut pada suatu kelompok masyarakat. Dan terkait dengan ini, kajian atas sikap publik yang dilakukan oleh Jens Hainmueller dan Daniel Hopkins menunjukkan bahwa prasangka dan etnosentrisme yang disulut oleh pemberitaan semodel yang diwartakan Newsweek akan memprovokasi publik pada tindak pengetatan di bidang imigrasi walaupun didasari oleh berita yang ngawur.[25]

Berita di dalam Newsweek dapat menambah nasib apes stigmatisasi kepada imigran Afrika. Sekarang ketambahan diduga penyebar Ebola, imigran Afrika padahal sudah banyak menderita oleh timbunan prasangka buruk dibandingkan imigran-imigran dari benua lainnya. Berdasarkan penelitian psikologi yang dilakukan oleh Jason Faulkner dkk.,[26] ditemukan bahwa pemanipulasian asal benua dari sebuah grup yang dijadikan ‘placebo’ kelompok imigran –yang aslinya Timur Afrika diubah menjadi Asia Timur lalu dimanipulasi lagi menjadi berasal dari Eropa Timur– menghasilkan perubahan atau perbedaan sikap pada populasi.

/washingtonpost.com/blogs/monkey-cage/wp/2014/08/25/

/washingtonpost.com/blogs/monkey-cage/wp/2014/08/25/

Penyebaran narasi yang terlalu menakutkan mengenai Ebola yang dilakukan oleh media-media massa populer dapat memberikan efek yang tak main-main akan pengetahuan dan sikap orang terhadap Ebola. Meskipun belum ada laporan Ebola di Amerika Serikat, jajak pendapat yang baru saja dilakukan oleh Harvard School of Public Health menunjukkan bahwa 39 persen responden yakin akan terjadi wabah Ebola di Amerika Serikat dan lebih dari seperempat responden khawatir bahwa mereka atau seseorang di keluarga mereka dapat tertulari Ebola dalam waktu yang dekat.[27][28] Jajak pendapat serupa yang dilakukan oleh Reason-Rupe memberikan hasil bahwa 4 dari 10 responden menyatakan bahwa wabah Ebola besar kemungkinan bakal terjadi.[29] Dua hasil jajak pendapat yang dilakukan di Amerika Serikat ini menunjukkan bagaimana rakyat Amerika Serikat sudah teracuni ketakutan yang berlebihan mengenai risiko kena infeksi Ebola.

Sejarah panjang pengaitan imigran dan wabah penyakit di Amerika Serikat dan pengaruh problematis yang ditimbulkannya terhadap para imigran harusnya membuat kita segera tersadar adanya potensi praktik peliyanan imigran yang berasal dari Afrika yang masuk ke Amerika Serikat di dalam gegap gagap meluasnya wabah Ebola di Barat Afrika. Penyebaran narasi ketakutan mengenai risiko penularan Ebola yang nyaris mustahil terjadi di satu sisi tidak berguna di dalam konteks penanggulangan penyebaran wabah Ebola sedang di sisi lain malah kian menambah penderitaan orang-orang yang diliyankan.

_________________________________________________

Endnotes

[1] Buku ini dapat dibaca secara daring lewat situs archive.org.

[2] Frenologi: ilmu yang mempelajari karakter manusia berdasarkan bentuk fisiknya.

[3] Tokoh-tokoh frenologis yang sepaham dengan Coombs dapat dirujuk pada artikel ilmiah Patrick Brantlinger. “Victorians and Africans: The Genealogy of the Myth of the Dark Continent”. Critical Inquiry. Vol. 12, No. 1. (Autumn 1985). pp. 166-203.

Jaman Victoria atau ‘Victorian Era’ dimulai pada saat ratu Victoria mulai naik tahta (20 Juni 1837) dan berakhir pada saat mangkatnya (22 Januari 1901). Hal penting yang terjadi pada masa Victoria adalah makin meluasnya daerah jajahan Inggris dan revolusi industri.

[4] penakhlukan, penjajahan, perendahan

[5] lih. artikel hasil kajian representasi orang Afrika disepadankan dengan hewan pada kartu pos dari 1893-1917 karya Mellinger (Wayne Martin Mellinger. 1992. “Postcards from the Edge of the Color Line: Images of African Americans in Popular Culture, 1893-1917.” Symbolic Interaction, 15(4): 413-433)

[6] Berdasar hasil kajian Dunn, film-film buatan Amerika Serikat dan Inggris berusaha menyebarkan ide legitimasi kolonisasi atas jajahan di daerah Afrika Barat. Film-film tentang Afrika dibuat sebagai alat penyemaian ide justifikatif akan tindak penjajahan terhadap bangsa yang ‘tidak beradab’ di daerah Afrika (Kevin Dunn. 1996. “Lights … Camera…Africa: Images of Africa and Africans in Western Popular Films of the 1930s.” African Studies Review Volume 39, Issue 1, April 1996, pp. 149-175).

[7] Lihat misalnya dalam novel yang berjudul Heart of Darkness (1899), Joseph Conrad menggambarkan penduduk Afrika sebagai tidak beradab, terbelakang. Novel ini mendapat kecaman keras dari penulis Nigeria, Chinua Achebe, karena dianggap menyebarkan rasisme (cf. Cedric Watts. 1983. “A Bloody Racist: About Achebe’s View of Conrad.” The Yearbook of English Studies, Vol. 13., Colonial and Imperial Themes Special Number (1983). pp. 196-209).

[8] lih. mis. pada laman blog Samarra.

[9] Dalam buku The Lions in the Jungle: Representations of Africa and Africans in American Cinema. 2009. Rochester, NY: University of Rochester Press. Bandingkan juga dengan dedah praktik produksi popular culture sebagai bagian dari kerja propaganda politik subjugatif dalam buku Africans and the Politics of Popular Culture (Toyin Falola & Augustine Agwuele (eds.). 2009. NY: Boydell & Brewer, University of Rochester Press).

[10] Kasus ini terkaji di dalam artikel ilmiah karya Catherine Besteman. 1996 (2009). “Representing Violence and ‘Othering’ Somalia”. Cultural Anthropology, Volume 11, Issue 1, pp. 120-133, February 1996.

[11] Ooga booga atau oogabooga adalah sinonim dari ebonics. Ebonics mengandung makna “kegagalan di dalam menyajikan sesuatu secara baik dan runtut” (cf. urbandictionary.com). Jadi “Jurnalisme Ooga Booga” adalah praktik jurnalistik yang asal bikin sajian berita tanpa data-data yang akurat.

[12] lih. Herwig Leirs et al. 1999. “Search for the Ebola Reservoir in Kikwit, Democratic Republic of Congo: Reflections on Vertebrate Collection”. Journal of Infectious Diseases. Volume 179, Issue Supplement 1: S155-S163.

[13] lih. Eric M. Leroy et al. 2005. “Fruit Bats as Reservoirs of Ebola Virus.” Nature 438, 575-576 (1 December 2005).

[14] Eric M. Leroy, Alain Epelboin, Vital Mondonge, Xavier Pourrut, Jean-Paul Gonzalez, Jean-Jacques Muyembe-Tamfum, and Pierre Formenty. “Human Ebola Outbreak Resulting from Direct Exposure to Fruit Bats in Luebo, Democratic Republic of Congo, 2007.” Vector-Borne and Zoonotic Diseases. December 2009, 9(6): 723-728. doi:10.1089/vbz.2008.0167

[15] John Vidal. 24 Agustus 2014. “Ebola: Research Team Says Migrating Fruit Bats Responsible for Outbreak”. The Guardian.

[16] Beda secara kasar istilah antara bushmeat dengan game meat /  wild game [meat] adalah jika bushmeat daging diperoleh untuk murni tujuan konsumsi sebagaimana didapati di beberapa negara Afrika sedangkan wild game adalah daging yang diperjualbelikan sebagai hasil dari perburuan untuk sport atau hiburan sebagaimana lazim terjadi di beberapa negara Eropa.

[17] Adalah bandara yang terletak di sebelah Timur Laut Paris. Merupakan bandara terbesar di Perancis dan tersibuk nomer dua di Eropa setelah bandara Heathrow London. Bandara ini juga jadi salah satu gerbang udara barang dari Afrika menuju Eropa dan Amerika Serikat.

[18] lih. Chaber, A.-L., Allebone-Webb, S., Lignereux, Y., Cunningham, A. A. and Marcus Rowcliffe, J. (2010), “The scale of illegal meat importation from Africa to Europe via Paris.” Conservation Letters, 3: 317–321. doi: 10.1111/j.1755-263X.2010.00121.x

[19] lih. mis. artikel tulisan Daniel W. Drezner, profesor di bidang politik internasional di Tufts University, yang menyoroti bagaimana epidemi Ebola dibuat oleh beberapa penulis sebagai sesuatu yang lebih menakutkan daripada keadaan yang sebenarnya (Daniel W. Drezner. 15 Agustus 2014. “Scare-mongering about Ebola is not such a great idea”. The Wahington Post).

[20] mis. di dalam surat kabar Daily Mail, Andrew Malone melaporkan bahwa perdagangan daging kera di beberapa pasar di Inggris dapat menyebabkan penyebaran virus Ebola (Andrew Malone. 2 Agustus 2014. “Secret Trade in Monkey Meat that Could Unleash Ebola in UK: How an Appetite for African Delicacies at British Market Stalls May Spread Killer Virus”. Daily Mail).

[21] http://www.dn.se/debatt/insmugglat-regnskogskott-kan-sprida-ebola-till-sverige/

[22] Di dalam artikel ilmiah yang ditulis oleh Laura Eichelberger, pada saat wabah SARS merebak di tahun 2003 terjadi penciptaan diskursus di ranah publik yang menstigmatisasi daerah Pecinan di kota New York sebagai daerah yang dicurigai sebagai penyebar SARS meskipun selama tahun 2003 tidak terdapat penduduk Pecinan yang terjangkit SARS. Stigmatisasi ini menunjukkan adanya mitos salah keyakinan atau persepsi kultural publik yang mengasosiasikan etnis China sebagai sumber penyakit (Laura Eichelberger. 2007. “SARS and New York’s Chinatown: The Politics of Risk and Blaming during an Epidemic of Fear”. Social Science & Medicine, Volume 65, Issue 6, September 2007, pp. 1284-1295).

[23] Kim Yi Dionne. 15 Juli 2014. “Why West African Governments Are Struggling in Response to Ebola”. Monkey Cage – The Washington Post.

[24] Jason Faulkner et al. 2004. “Evolved Disease-Avoidance Mechanisms and Contemporary Xenophobic Attitudes”. Group Processes & Intergroup Relations. Vol 7(4): 333-353.

[25] Jens Heinmueller & Daniel J. Hopkins. Mei 2014. “Public Attitudes Toward Immigration.” Annual Review of Political Science, Vol. 17: 225-249.

[26] Jason Faulkner et al. 2004. “Evolved Disease-Avoidance Mechanisms and Contemporary Xenophobic Attitudes”. Group Processes & Intergroup Relations. Vol 7(4): 333-353.

[27] Dalam teks aslinya: in the next year

[28] Harvard School of Public Health / Social Science Research Solution. 21 Agustus 2014. “Poll Finds Many in U.S. Lack Knowledge about Ebola and Its Transmission”.

[29] cf. Emily Ekins. 21 Agustus 2014. “40 Percent of Americans Say an ebola Outbreak is Likely in US City”. Reason.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s