Home » Selected Contemplation » Mengapa Saya Tak Bisa Latah Ikut Merayakan Anugerah Nobel Perdamaian kepada Malala

Mengapa Saya Tak Bisa Latah Ikut Merayakan Anugerah Nobel Perdamaian kepada Malala

Artikel ini adalah terjemahan bebas beserta tambahan catatan pada endnotes tulisan Ivana Peric yang judul aslinya adalah “Why I Can’t Celebrate Malala’s Nobel Peace Prize” dari situs Middle East Revised. Fokus tulisan jurnalistik dan esai-esai Ivana Peric adalah representasi yang diwakilkan serta isu-isu yang terkait dengan Timur Tengah. Terbit ulang pada blog ini sudah mendapat ijin darinya.

_________________________________________________

Tersiar kabar bahwa anugerah Nobel Perdamaian diberikan kepada seorang India bernama Kailash Satyarthi dan seorang Pakistan bernama Malala Yousafzai disebabkan oleh perjuangan mereka melawan pengekangan hak anak dan remaja, termasuk hak memperoleh pendidikan. Kabar ini adalah kabar yang baik, dan bisa diartikan bahwa anugerah Nobel Perdamaian menjadi sesuatu yang waras digagas, selepas sebelumnya secara gak jelas anugerah ini jatuh ke tangan Barack Obama di tahun 2009 “atas kerja kerasnya memperkuat diplomasi dan kerjasama internasional di antara bangsa-bangsa”, dan juga dianugerahkan di tahun 2012 kepada Uni Eropa “karena selama enam dekade berkontribusi pada pemajuan perdamaian dan rekonsiliasi, demokrasi, dan hak asasi manusia di Eropa”.

Namun ada sesuatu yang membuat saya ragu. Bagaimana kita (Barat) selalu bisa menemukan “penjahat-penjahat” dari Timur, anak-anak yang menderita seperti Malala karena kejahatan para “penjahat-penjahat” ini (dalam kasus Malala adalah Taliban), namun kita selalu gagal mengenali partisipasi kita dalam menciptakan “penjahat-penjahat” tersebut? Bagaimana mungkin kita tidak pernah berbicara mengenai tindak jahat yang dilakukan pemerintah kita (Barat) terhadap anak-anak Pakistan, atau Syiria, atau Irak, atau Palestina, atau Yaman? Ambil misal serangan dengan pesawat tanpa awak (drone). Kicau George Galloway[i] tahun lalu dapat memberikan ilustrasi mengenai kemunafikan ini.[ii]

George Galloway Tweet

“Jikasanya Malala mati terbunuh di dalam serangan drone, media massa di UK pasti gak bakal ceritakan kisah Malala kepada kalian semua. #hipokrisiyang memuakkan”

Galloway benar. Kita tidak akan pernah tahu nama Malala jika Malala adalah korban dari tindak ugal-ugalan Barat. Tetapi, karena kisah pilu Malala bikin untung di dalam penciptaan narasi kebaikan Barat yang terkait dengan pengekangan yang dilakukan dunia Timur (di mana konteks mula terciptanya ‘pengekangan’ tidak dijlentrehkan secara gamblang), kita jadi tahu nama Malala. Hal ini serupa tulisan Assed Baig:[iii]

“Ini adalah kisah gadis pribumi yang diselamatkan oleh orang kulit putih. Diterbangkan ke UK, dunia Barat dapat merasa menjadi pahlawan sebab mereka toh berhasil meyelamatkan gadis pribumi dari kebar-baran orang-orang dari negerinya. Kisah ini adalah sebuah narasi historis yang rasis yang sudah dilembagakan. Jurnalis dan politikus pada berebut ngoceh bikin tulisan dan kasih komentar pada kisah Malala. Malala menjadi sebuah kisah gadis cilik lugu yang ditembak oleh orang-orang yang tidak beradab karena Malala menuntut hak pendidikan, dan kemudian datanglah satria yang menyelamatkan Malala. Tindak brutal dunia Barat, pengeboman kepada penduduk sipil, pendudukan, peperangan, menjadi terjustifikasi lewat kisah Malala, “Lihat, kan sudah kami bilang, inilah alasan kami (Barat) ikut campur di dalam perkara domestik sebuah negara: misi penyelamatan orang-orang yang tidak bersalah serupa Malala”

Masalahnya adalah ada ribuan anak-anak serupa Malala yang diakibatkan oleh aksi koboi Barat lewat peperangan yang tak pernah berakhir, intervensi, serangan drone, dsb. Di dalam acara “Last Week Tonight with John Oliver”, kita mendadak tersadar bagaimana pengetahuan kita mengenai serangan dengan drone adalah minim; baik tentang tujuan, sasaran, maupun hasilnya. Bahkan ada kalimat yang bisa membuat kita ngelus dada.

“Kini kita mendapat pernyataan resmi dari pejabat resmi yang menyatakan bahwa mereka punya hak khusus untuk membunuh siapa saja, di manapun di seluruh dunia, kapan pun, dengan alasan berdasarkan bukti yang tidak perlu diutarakan ke publik, lewat prosedur eksekusi yang rahasia dan diperintahkan lewat pejabat yang dirahasiakan namanya. Ini menakutkan saya.” Kalimat ini meluncur dari mulut Rosa Brooks, professor di Universitas Georgetown dan mantan pejabat Pentagon di bawah pemerintahan Obama, ketika menjelaskan kebijakan Amerika Serikat mengenai serangan menggunakan drone dalam dengar pendapat di kongres Amerika Serikat tahun kemarin.

Foto di bawah ini adalah foto ukuran raksasa yang terdapat di provinsi Khyber Pakhtunkhwa (KPK), dekat dengan barat laut perbatasan Pakistan dengan Afganistan yang dibuat oleh sekumpulan pekerja seni dari Pakistan, Amerika Serikat, dan beberapa negara yang dikomandoi oleh seniman Perancis JR. Para pekerja seni ini menciptakan gambar-gambar ukuran besar di banyak tempat dengan harapan operator drone Amerika Serikat akan melihat wajah manusia korban-korban kebiadaban mereka di daerah-daerah yang sering jadi target serangan drone.

/photo via notabugsplat/

Hal-hal seperti itulah yang tidak pernah ditampilkan di media-media massa utama. Kisah pilu nyata lain adalah cerita mengenai Abeer Qassim Hamza al Janabi, gadis Irak berusia 14 tahun, yang diperkosa ramai-ramai oleh lima tentara Amerika Serikat dan kemudian dibunuh di Yusufiyah (Irak) di tahun 2006. Gadis ini diperkosa dan dibunuh selepas kedua orang tuanya dan saudarinya yang berusia 6 tahun bernama Hadeel Qasim Hamza lebih dulu dibunuh. Dan tahu tidak, “dianggap beda” dengan kisah Malala, Abeer kala itu hendak berangkat ke sekolah sebelum terjadi serangan Amerika Serikat namun dicegah ayahnya karena khawatir akan keselamatan putrinya itu.[iv]

Abeer Qassim Hamza al-Janabi

Dan sementara dunia Barat bertempik sorak dan kasih tepuk tangan renyah kepada Malala (dan mereka memang harus begitu bukan?), saya risau dan galau bahwa sorak sorai dan aplaus mereka didasari oleh alasan yang salah, atau perspektif yang keliru. Tampak sekali bahwa Barat ingin mewujudkan agenda yang mereka inginkan dan memuluskan kebijakan yang mereka ciptakan. Oleh sebab itulah pandangan Malala mengenai Islam sangat jarang dikutip secara penuh di media-media massa. Malala menggunakan keyakinannya sebagai kerangka ajaran bahwa Islam menggariskan bahwa pendidikan adalah sesuatu yang penting dan bukan Islam adalah agama yang menjustifikasi kekerasan, namun hal-hal beginian gak berguna bagi kisah Malala yang diinginkan Barat dan anugerah Nobel Perdamaian untuknya. Hal ini tidak cocok, pokoknya begitu.[v]

Jadi, pikiranku berkecamuk gak karuan mendengar kisah Malala dan anugerah Nobel Perdamaian untuknya. Banyak hal yang bikin aku galau. Kita (Barat) sudah memulai lagi kampanye untuk perang yang baru, dan upacara penyerahan Nobel Perdamaian itu terasa konyol jika kita mau melihat foto berikut.

/photo by A. McConnell, UNHCR/

Laki-laki dalam foto di atas adalah Ahmad, usia 102 tahun. Ia adalah pengungsi Syiria. Ia berkata: “Orang-orang pada bilang padaku jika Tuhan menambah kasih sayang-Nya, Tuhan akan kasih tambahan umur buatku. Tapi aku malah berharap agar Tuhan mengurangi kasih sayang-Nya terkait dengan pemberian umur yang panjang. Aku tidak mau hidup lebih lama lagi hanya untuk melihat negaraku hancur berkeping-keping.”

Tentu saja kita tidak boleh lengah dan meremehkan usaha penciptaan perdamaian dunia, namun saat usaha tersebut dilakukan dalam rangka mencari keuntungan, berdimensi tunggal, ditunggangi oleh agenda-agenda terselubung dan disarukan oleh kemunafikan – maaf, aku ogah ikut latah merayakannya.

======================================

Endnotes

[i] George Galloway adalah politikus Inggris yang kontroversial. Kehidupan politiknya yang telah berlangsung selama 25 tahun serupa roller coaster; kadang naik kadang turun. Dia jadi satu-satunya anggota yang dikeluarkan dari Partai Buruh karena terlalu keras menyerang kebijakan campur tangan pemerintah Inggris di Perang Irak meskipun ia bukanlah satu-satunya politikus yang mencederai kebijakan itu. Gaya politik Galloway memang terkenal slengekan dan tidak takut berdebat bila berkenaan dengan tudingan-tudingan miring atas dirinya. Meskipun banyak tuduhan miring di dalam karir politiknya namun ia masih tetap bisa bertahan hingga sekarang di kancah perpolitikan Inggris (cf. Andy Mcsmith. 31 Maret 2012. “George Galloway: The Political Rebel with a Cause”. The Independent)

[ii] Kisah petualangan Barat di Afghanistan dapat dibandingkan dengan sumber-sumber lain mengenai bagaimana dan mengapa peperangan di Afghanistan menjadi penting untuk “harus” dilakukan lewat tautan-tautan berikut ini: Syaikh Abdussalam, Community Showcase, Cage Africa; David Ray Griffin, 2010. “Did 9/11 Justify the War in Afghanistan?”; Michel Chossudovsky, 2010. “The War is Worth Waging: Afghanistan’s Vast Reserves of Minerals and Natural Gas”

[iii] Assed Baig di dalam tulisan berjudul “Malala Yousafzai and the White Savior Complex” (2013) yang terbit dalam The Blog Huffington Post daring memaparkan bagaimana narasi tentang Malala memang sengaja dirajut oleh media massa dan politikus Barat. Assed Baig, seorang jurnalis internasional yang fokus masalah radikalisme dan terorisme di daerah Pakistan, Kashmir, Somalia, Libya, dan Palestina, di dalam artikelnya yang kemudian sebagian paragrafnya dikutip oleh Ivana Peric, juga mengajak semua untuk berkontemplasi bahwa:

“Sakit gila heroisme orang-orang Barat (Western Savior Complex) justru telah membajak pesan yang diingini Malala. Orang-orang Barat-lah yang lebih banyak membunuh gadis-gadis di Afghanistan dibanding orang-orang Taliban. Barat-lah yang menghancurkan akses kepada pendidikan atas gadis-gadis Afghanistan lewat rudal-rudal mereka dibandingkan peluru-peluru orang Taliban. Barat-lah yang merusak pendidikan di seluruh dunia dibandingkan para ekstremis lakukan. Jadi jangan bikin kami tambah mual dengan pesan-pesan sok merasa benar dan penyematan diri sendiri sebagai penyelamat lewat cerita-cerita bahwa Barat menjatuhkan bom-bom di Afghanistan untuk menyelamatkan gadis-gadis serupa Malala”.

Bandingkan juga dengan kisah gadis Pakistan korban perang lainnya yang bernama Nabila Rehman. Kisah Nabila Rehman diabaikan oleh media-media massa besar dunia sebab Nabila berteriak lantang mengenai kegilaan tindakan militer Amerika Serikat di Afghanistan sementara Malala yang berteriak lantang mengenai “kejahatan” Taliban di Afghanistan yang terjadi atas dirinya yang menginginkan kesetaraan hak berpendidikan digegapgempitakan dan dirayakan (bdk. Murtaza Hussain. 1 November 2013. “Malala and Nabila: Worlds Apart”. Opinion Al Jazeera; Vishal Manve. 13 Oktober 2014. “A Tale of Two Pakistani Girls: Malala Yousafzai and Nabila Rehman”dnaindia.com; Jihad Al-Jabban. 11 Mei 2013. “Nabila’s Plea: The Case Against Congressional Apathy”The World Post at huffingtonpost.com).

[iv] Acara TV yang memotret dengan berani mengapa Amerika Serikat tidak sahih berargumen ketika terjun ke Irak adalah berikut: CBC – The Fifth Estate – The Lies that Led to War

[v] Tulisan yang menunjukkan bahwa pesan-pesan Malala dipersempit atau dibajak hanya dalam rangka menjustifikasi segala tindakan Barat dapat dibaca pula lewat tulisan Ben Norton. Ben Norton adalah penulis lepas dan seorang aktivis kemanusiaan. Lewat tulisannya, Ben Norton menunjukkan bahwa publik dunia dihibur oleh ‘dimunculkannya’ pernyataan Malala mengenai pentingnya pendidikan bagi siapa saja namun pendapat Malala mengenai kejahatan peperangan dengan drone dan betapa kapitalisme menghancurkan dunia dan sosialisme sebagai salah satu solusinya ‘disembunyikan’ oleh media massa. Ben Norton menampilkan fakta-fakta bagaimana Amerika Serikat (Barat) ‘bermain-main’ dengan kisah Malala berjudul “The (Socialist) Malala Yousafzai the US Media Doesn’t Quote” (2014) dapat diakses lewat blog pribadinya. Tulisan Ben Norton mengenai bagaimana media massa hanya mengambil bagian-bagian tertentu dari pesan Malala selama menguntungkan agenda-agenda Barat ini telah diterbitulangkan di enam situs daring.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s