Home » Selected Contemplation » Hoax, Para Monyet, dan Wartawan

Hoax, Para Monyet, dan Wartawan

Berikut adalah tulisan Rusdi Mathari yang terbit di blog miliknya Rusdi Goblog – Karena Jurnalistik Bukan Monopoli Wartawan pada tanggal 12 Februari 2014. Rusdi adalah seorang wartawan yang tinggal di Jakarta. Penerbitan ulang pada blog ini dengan disertai komentar pada endnotes [dan sedikit adaptasi] telah mendapat ijin darinya.

____________________________________________________

Rusdi Mathari Hoax Para Monyet dan WartawanSeorang wartawan[1] menjuluki mereka yang suka menyebarkan informasi yang tidak jelas sumbernya sebagai the clicking monkeys, tapi celakanya para wartawan sering menjadi kumpulan monyet semacam itu. Mereka menulis apa saja yang dipungut dari sumber apa saja dan tidak jelas. Sebagian menulis tanpa malu dengan tak mencantumkan asal-usul sumbernya.

Teringatlah kita pada The Hoax. The Hoax adalah nama sebuah judul film drama yang dibuat 2005. Film itu berkisah tentang kisah hidup Clifford Michael Irving, reporter investigasi yang cukup terkenal di Amerika Serikat. Dia juga menulis beberapa buku. Antara lain biografi Howard Hughes, salah satu orang kaya di Amerika.

Buku itulah yang kemudian diangkat ke layar lebar meski belakangan diketahui, banyak yang ditulis oleh Irving di bukunya dihilangkan atau diubah dan tidak muncul di The Hoax.  Irving kesal dan menganggap film itu penuh kebohongan. Dia kemudian meminta agar namanya tidak dimunculkan di kredit film. The Hoax sejak itu menjadi terkenal. Bukan karena menarik untuk ditonton melainkan karena menjadi istilah baru untuk menyebut suatu kebohongan.

Sejak semalam media di Indonesia ramai memberitakan kabar tentang PM Singapura Lee Hsien Loong yang memutuskan untuk tidak berteman dengan Presiden SBY di Facebook. Lee dikabarkan juga menghilangkan tag foto SBY di album foto di Facebook-nya. Berita yang dikutip dari newnation.sg, media Singapura itu, mulanya hanya dikutip oleh satu media lalu seperti biasanya, media di sini beramai-ramai mengekor karena takut dianggap ketinggalan isu.

Sayangnya, berita itu adalah berita yang tak jelas kebenarannya. Tak ada verifikasi dari wartawan yang mengutip: apakah akun Lee di Facebook adalah benar miliknya, begitu juga dengan akun SBY. Kompas.com yang juga menyebarkan berita itu, pagi ini meralatnya dan menyebut akun SBY di Facebook yang dimaksud adalah halaman para pendukung [fanpage]. Artinya bukan akun pribadi SBY.

Berita semacam itu akan tetapi telanjur direspons publik kelas menengah ngehek di media sosial dengan berbagai reaksi di tengah [konon] memanasnya isu hubungan Singapura-Indonesia. Mereka yang mendaku melek informasi dan teknologi itu, rupanya lebih suka membaca judul berita dan tak merasa perlu untuk bercapek-capek mengecek kebenarannya; lalu menyebarkannya di media sosial agar dianggap paling awal tahu tentang sebuah informasi.

Beberapa hari sebelum isu soal Lee, SBY dan Facebook-nya itu, juga muncul berita berjudul “USA Takut Gempur NKRI. Ini Alasannya” di theglobal-review.com. Tulisan itu memuat pernyataan tiga jenderal di sebuah acara dialog yang kabarnya disiarkan oleh TV ABC 13 Texas tentang kekuatan militer Indonesia. Tulisan dari theglobal-review.com kemudian diunggah ke Facebook dan Twitter dengan berbagai komentar. Saya ikut membacanya, tapi tidak percaya dengan isi tulisan karena beberapa alasan jurnalistik.

Pertama, karena sejak awal tulisan tidak disebutkan kapan peristiwa dialog di TV ABC 13 Texas berlangsung. Kedua, theglobal-review.com tidak mencantumkan sumber tulisannya. Ketiga, saya sudah berusaha mencari tahu dengan mengakses situs TV ABC 13 Texas, tapi belum menemukan acara yang dimaksud oleh tulisan itu.

Saya ingat, sebelum muncul di theglobal-review.com, saya pernah membaca tulisan itu  di salah satu akun Facebook seorang teman. Teman itu meneruskan tulisan yang muncul di halaman pendukung Power of Islamosphere, dan saya kira wartawan theglobal-review.com memungut apa adanya [copy paste] dari sana dan tanpa malu tidak mencantumkan sumber aslinya. Mereka tampaknya bukan saja malas tapi juga tak beretika.

Desember 2011, pernah juga muncul berita tentang ulama yang melarang perempuan makan pisang karena katanya dikuatirkan akan membuat mereka terangsang secara seksual. Berita yang kali pertama dimuat oleh Bikya Masr, sebuah media online dari Mesir itu dilahap oleh Tempo.co yang dicomot dari Daily Mirror, koran gosip dari London; dan berdasarkan berita yang ditulis oleh Tempo.co itu, pengguna media sosial kemudian menjadikannya bahan olok-olok.

Saya tidak tertarik dengan berita itu, hingga Made Tony Supriatma men-tag saya di Facebook tentang kebohongan berita perempuan dilarang memakan pisang itu. Dia awalnya hanya mendengar dari radio di Amerika yang mengundang Rush Limbaugh, konservatif republikan dalam sebuah talkshow. Di acara itulah, Limbaugh mengoceh tentang seorang ulama yang melarang kaum perempuan menyentuh buah pisang sembari dengan girang membuat ejekan-ejekan.

Sambil mengesankan berita itu benar, Limbaugh menyebutkan sumber beritanya berasal dari Bikya Masr. Berita itu lalu disiarkan oleh FoxNews, jaringan TV berita terbesar di Amerika yang dimiliki oleh konglomerat media Rupert Murdoch, yang dikenal konservatif dan sangat bias.

Made mencoba mencari tahu kebenaran berita itu, dan dia sampai pada kesimpulan: sumber berita tentang pisang itu tidak jelas sama sekali. Celakanya, berita itu telanjur disebarkanluaskan-ulang oleh media-media konservatif [menurut Made memang sangat anti terhadap Islam] untuk memajukan agenda anti-Islam mereka, kendati Bikya Masr belakangan mengakui keteledoran mereka.

Di Facebook, Made yang tinggal di Amerika mengkritik dan menyayangkan media sekelas Tempo tidak melakukan kontrol jurnalistik yang ketat dan lebih tertarik pada gosip.  “… berita ini adalah slander terhadap Islam dan umat Islam. Untuk saya, persoalannya menjadi mendesak karena media Indonesia sendiri memuatnya. Sangat tidak sehat untuk jurnalisme dan untuk hubungan sosial di Indonesia.” Begitulah kata Made dan tidak lupa dia menyertakan tautan tulisan di addictinginfo.org[2] yang membantah kebohongan berita  yang disebarkan oleh FoxNews.[3][4]

November tahun lalu menyusul isu “Jilbab Hitam” yang antara lain mempersoalkan kelakuan wartawan Tempo, Daru Priyambodo, Pemimpin Redaksi Tempo.co menulis artikel menarik berjudul “The Clicking Monkeys.” Menurut [teman] Daru: the clicking monkeys adalah julukan untuk orang yang dengan riang gembira mengklik telepon selulernya untuk menyebarluaskan hoax ke sana-kemari, me-retweet, atau mem-posting ulang di media sosial. Mereka seperti kumpulan monyet riuh saling melempar buah busuk di hutan. Agar tidak ketahuan lugu, biasanya mereka menambahkan kata seperti: “Apa iya benar info ini?” atau “Saya hanya retweet lhoo.”

Saya sepakat dengan Daru, tapi di sini, mereka yang disebut sebagai the clicking monkeys celakanya justru banyak berasal dari kalangan wartawan.[5] Mereka itulah wartawan pemalas, yang atas nama roda industri pemberitaan dan kebebasan pers, memungut informasi apa saja tanpa perlu mengukurnya dengan standar dan etika jurnalistik lalu mengemasnya menjadi berita dan menyebarkannya tanpa malu.

Maka tidak perlu heran, bila orang seperti Benedict Anderson, profesor di Universitas Cornell yang menulis banyak buku tentang Indonesia pun, mengaku frustasi membaca media-media terbitan Indonesia; dan keprihatinannya itu tentulah bukan hoax.

========================================

Endnotes

[1] Yang dimaksud oleh Rusdi Mathari di sini adalah teman dari Daru Priyambodo. Di dalam tulisan di kolom tempo.co dengan judul “The Clicking Monkeys”, Daru bercerita bahwa ia memiliki teman yang menjuluki para penyebar berita hoax yang lugu dengan sebutan clicking monkey.

Di dalam tulisannya, Daru berbicara mengenai hoax yang tersebar lewat media sosial lewat para monyet yang secara lugu meng-klikbagi-kan berita yang secara sepintas sahih namun sebenarnya berisi info palsu dan kadang malah membahayakan banyak orang.

[2] Jika tertarik mengenai hoax-hoax yang pernah berseliweran di media massa (koran dan majalah) resmi dan media sosial maka silakan kunjungi juga situs hoaxes.org atau hoax-slayer.com.

[3] Publikasi atau penciptaan hoax juga merambah tidak hanya lewat media massa aras utama namun juga terjadi pada Wikipedia dan film-film Hollywood.

Saya masih ingat bahwa salah satu teman dari teman saya pernah menautbagikan sebuah artikel hoax dari Wikipedia dengan judul “ABC Orbais”. Di dalam artikel yang agitatif, provokatif, dan nirreferensi ini dikisahkan mengenai segala tindak politis salah satu kubu di parlemen di Indonesia mengusung agenda terselubung mengembalikan kekuasaan Orde Baru. Ironisnya, ia masih saja bersikeras mengenai keakuratan dan kevalidan artikel hoax itu ketika saya tegur. Ia nampaknya berkeyakinan bahwa Wikipedia tidak mungkin mengandung hoax karena Wikipedia sudah punya ‘nama besar’. Teman saya lupa bahwa Wikipedia hingga kini memang mempunyai masalah di dalam kesahihan artikelnya sebagaimana Tom Simonite mengulasnya secara apik. Wikipedia adalah ensiklopedia terbuka yang mengandalkan ‘voluntary labor’ dari crowded and leaderless contributors sehingga malah menjadikannya rawan artikel yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Simonite menyebut artikel seperti itu sebagai bentuk vandalisme. Inilah sebab mengapa tulisan ilmiah atau akademik mengharamkan pemakaian Wikipedia sebagai referensi.

Dan tentang artikel itu ada kejadian lucu. Selepas pada tanggal 4 Oktober 2014 tulisan “ABC Orbais” ditendang keluar dari Wikipedia, pada tanggal 5 Oktober 2014 tulisan yang sama muncul di blog gratisan WordPress.

Kisah mengenai bagaimana Wikipedia bisa juga menjadi ajang penyebar hoax dapat juga dibaca dalam artikel tentang ‘Bicholim Conflict’ yang bertahan nangkring di Wikipedia selama lima tahun sebelum akhirnya terketahui sebagai hoax.

Film bisa juga menyebarkan narasi yang tidak pas dan kadang memutarbalikkan fakta dari apa yang sebenarnya terjadi. Film telah lazim menjadi semacam alat propaganda; penyebar hoax. Tulisan mengenai bagaimana film menjadi alat penyebar kebohongan (hoax) dapat misalnya dibaca pada tulisan Lynda M. Martin yang menyorot putar balik fakta tragedi kemanusiaan di Somalia dalam film Black Hawk Down, artikel Shibli Zaman yang menyingkap bagaimana kisah pembunuhan Dracula digambarkan dengan sangat menyesatkan di dalam film Dracula Untold, dan bagaimana film Zero Dark Thirty yang bercerita mengenai kisah pembunuhan Osama bin Laden oleh anggota Navy Seal Team 6 yang dimulakan oleh artikel ‘suangat’ panjang hasil wawancara seorang wartawan dengan The Shooter (pseudonim) dalam majalah Esquire dan lalu dilengkapi dengan sumber-sumber lain ternyata mengalami masalah konsistensi sebagaimana disingkap oleh Rupert Cornwell dalam independent.co.uk.

[4] Menarik juga bagaimana berita hoax sangat sering terjadi bahkan di Amerika Serikat. Berita-berita hoax ini kerap sengaja dibuat oleh media massa resmi dengan tujuan memuluskan manuver atau kebijakan politis sebagaimana dibahas oleh Charles C. W. Cooke di dalam artikel yang berjudul “Lying about School Shootings”.

[tambahan 21 Juli 2015]

Begitu juga mengenai agenda politik dan stigma mengenai kebijakan penanganan virus Ebola di sebuah surat kabar besar di Amerika Serikat sebagaimana dikuak oleh dua orang akademisi yang concern terhadap isu-isu stigmatisasi dalam artikel berjudul “The Long and Ugly Tradition of Treating Africa as a Dirty, Diseased Place.”.

[5] Fenomena wartawan yang [sengaja?] tidak jeli di dalam mewartakan sesuatu misalnya dapat dilihat pada tulisan Tarli Nugroho yang berjudul “Menunggu Penjelasan ‘Koran Tempo’” yang mempertanyakan bagaimana Koran Tempo dan lalu diterbit ulang di tempo.co telah dengan ‘ceroboh’ memberitakan ‘pengakuan salah satu anggota Tim Mawar’ sehingga menampilkan betapa tidak elegannya rekam jejak salah satu kandidat dalam Pilpres 2014 (bdk. Rusdi Mathari, “Obor Rakyat, Kuasi Berita dan Bintang Porno”).

Tulisan lain yang menyorot bagaimana Tribun News dan Kompas.com telah membuat pemberitaan mengenai tes keperawanan bagi siswi SMA di Prabumulih menjadi ganjil dan malah membuat sensasi yang tidak pas dengan kenyataan dapat disimak dari situs melekmedia.org dengan judul “Di balik Pemberitaan Wacana Tes Keperawanan”.

Masih mengenai bagaimana wartawan tidak pas di dalam memberitakan sesuatu, dapat misalnya disimak bagaimana Beasiswa LPDP dibuat tampak ‘kemaruk’ oleh sebuah tulisan wartawan The Jakarta Post dapat diikuti lewat tulisan Dipa Nugraha yang berjudul “Saga di dalam Polemik LPDP”. Begitu juga misalnya bagaimana surat kabar yang sama memberitakan berita yang serampangan mengenai latihan kapal perang China sebagaimana dibongkar oleh Rory Medcalf di the interpreter dengan artikel berjudul “China’s naval exercise: …”.

Menarik juga bagaimana Rusdi Mathari juga membongkar mitos, atau hoax, tentang salah satu kandidat dalam Pilpres 2014 yang dulu diberitakan berasal dari keluarga miskin dan bahkan pernah digusur rumahnya sebanyak empat kali sebagaimana tempo.co mengutipnya dari Luhut Binsar Panjaitan.

Rusdi Mathari lewat tulisan dengan judul “Solo dan Manusia yang Berubah” menunjukkan bahwa ada sisi-sisi yang tidak tepat dari reportase tentang Jokowi dalam tempo.co itu. Tentu saja Rusdi mengemasnya dengan telusuran yang memadai dan objektif tentang bagaimana Jokowi telah merubah Solo serta sisipan mengenai kisah [seorang?] manusia yang telah berubah.

Contoh lain mengenai berita ngawur dari media massa “besar” daring contohnya juga diulas dalam sebuah artikel oleh Adie Sachs dengan judul “Berita Palsu Tempo Jadi HL Kompasiana, PDIP Tidak Klaim”.

[tambahan 21 Juli 2015]

Contoh lain dari bagaimana media massa bisa sangat terlibat di dalam propaganda ketika konflik terjadi misalnya dapat dibaca pada analisis Victor Mambor mengenai opini rasis terhadap masyarakat asli Papua di dalam artikel berjudul “Media Massa, Rasisme Struktural, dan Legitimasi Kekerasan di Papua” serta ulasan IndonesianHoaxes mengenai ISIS yang doyan makan manusia di dalam tulisan yang berjudul “ISIS Bunuh Sandera Lalu Sajikan Dagingnya untuk Sang Ibu!”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s