Home » Selected Contemplation » Siapakah yang Mau Mengalungkan Bel Itu?

Siapakah yang Mau Mengalungkan Bel Itu?

Tulisan ini adalah adaptasi dari tulisan Noor Huda Ismail, pakar isu terorisme Internasional, kontributor Washington Post, dan penulis buku Temanku, Teroris?, dengan judul asli “Da’wah bil Hal (Action Speaks Louder)”. Adaptasi terhadap tulisan ini dan publikasi di dalam blog ini telah disetujui olehnya. Tulisan ini pernah ia presentasikan di Masjid Westall dalam pengajian ahad pagi jamaah IMCV (Indonesian Muslim Community of Victoria) tanggal 21 September 2014.

==========================================

Salah satu pelajaran favorit saya ketika dulu ‘nyantri’ di Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki Solo adalah ‘mutholaah’. Secara sederhana, para santri sering menerjemahkan pelajaran ini menjadi hanya sebagai ‘bacaan’.

Namun, jika ditinjau dari ilmu shorof, tata bahasa Arab, kata ‘muthola’ah’ berasal dari kata dasar dasar ‘thola’a’ yang berada dalam ‘wazan’ (patern): fa’ala-yaf’alu-mufa’alatan yang berarti pula “muncul” atau “hadir”. Misalnya dalam Sholawat Badr, ada syair yang berbunyi: “thola’al badru alaina” yang berarti: “Telah muncul (hadir) sebuah bulan (Rosulullah SAW) kepada kita semua”.

Dengan latar belakang pemahaman seperti itulah setiap ada bacaan (dongeng) yang diberikan oleh ustad, saya sangat menikmati menelaahnya. Sering kali justru saya menjadikannya sebagai rujukan ketika saya harus menggambil sikap dalam hidup ini.

Dengan dongeng pula sekarang saya mengajarkan kepada kedua anak saya hal-hal baru atau sesuatu yang mereka takutkan dalam hidup mereka. Misalnya minggu lalu anak kedua saya perlu dibawa ke dokter gigi karena giginya bolong. Maka istri saya, membacakan kisah “Egi yang suka makanan manis tapi malas sikat gigi”. Setelah beberapa hari Salman merenung, akhirnya ia mengajak ibu nya ke dokter gigi.

“Aku tidak mau gigiku dimakan ulat” kata Salman.

Bagi saya dongeng yang dikemas dengan baik itu akan sangat efektif sebagai media untuk transformasi gagasan menjadi aksi. Saya kira, salah satu alasan kenapa budaya Amerika begitu mendominasi dunia adalah dongeng-dongeng yang mereka produksi secara professional lewat industri hiburan Hollywood.[1]

Nah, ustad saya yang gemar memberikan dongeng itu adalah ustad Mursyidi. Beliau alumni Ngruki yang kemudian memperdalam bahasa Arabnya di LIPIA Jakarta, sebuah lembaga pendidikan yang didanai langsung oleh pemerintah Saudi Arabia[2] dan konon sering dituduh sebagai agen Wahabi[3] di Indonesia oleh kalangan tradisionalis, walaupun Ulil Abshar Abdala, menantu dari kyai besar NU dari Jawa Tengah, KH Musthofa Bisri, yang mendirikan “Jaringan Islam Liberal” itu juga pernah belajar di sini, meskipun ia tidak lulus.[4]

Suatu saat, dengan bahasa Arab yang sangat fasih, ustad Mursyidi mendongeng kisah sekelompok tikus. Dalam dongeng ini, dikisahkan bahwa jamaah tikus harus mengambil sikap karena mereka menghadapi tantangan baru: pemilik rumah di mana mereka tinggal telah mengadopsi seekor kucing. Ia berwarna hitam, berkuku setajam silet, gigi seruncing tombak dan mata setajam kamera CCTV.

Ketua jamaah tikus akhirnya menggumpulkan anggota jamaah tikus dalam sebuah rapat ‘dengar pendapat’ yang baru pertama kalinya mereka adakan. Meskipun mereka sama-sama tikus, ternyata mereka mempunyai cara pandang yang beragam dalam mensikapi tantangan baru ini. Namun mereka punya prinsip: “Boleh berbeda asal sopan”

Tiba-tiba muncul sebuah ide spektakuler muncul:

“Bagaimana kalau kita kalungi saja kucing itu dengan ‘klinthingan’ (bahasa jawa yang berarti bel kecil. Dalam bahasa Arab disebut “Jaros” ). Sehingga kita dapat mendeteksi secara dini kalau kucing itu mendekat ketika kita sedang beroperasi” kata seorang tikus dengan antusias.

“Iya betul sekali. Kita akan lari sebelum dia datang” jawab yang lain.

“Hore..hore..kita tetap akan kenyang. Ide yang sangat brilliant” sorak yang lain.

Tiba-tiba kebahagian mereka itu buyar ketika sang ketua jamaah tikus itu bertanya kepada para jamaahnya:

“Mani alladzi yu’aliq al jaros?” (Siapa yang akan mengalungkan klintingan (bel) itu?).

Cerita tikus ini mengajarkan kepada saya beberapa hal:

Pertama: Dalam hidup itu tidak ada yang tetap. Jamaah tikus yang tadinya hidup dalam ‘comfort zone’ (wilayah nyaman) yaitu ada makanan yang terus tersedia di dalam rumah harus menghadapi tantangan baru adanya kucing galak. Oleh karena itu, kalau kita mau tetap ‘eksis’ atau ‘relevance’ di dalam komunitas kita, tidak ada pilihan lain selain kelunturan kita untuk bisa berubah.

Saya jadi teringat ketika saya melamar istri saya dan ditanya oleh kakeknya waktu:

“Nak Huda sudah punya pekerjaan tetap?” Tanya beliau dengan sopan.

Saya paham mengapa pertanyaan ini penting disampaikan kepada saya karena saya tidak ada pekerjaan tetap sedangkan mereka semua punya. Beliau adalah seorang pegawai negeri dan mertua saya juga seorang pegawai negeri dan celakanya istri sayapun juga seorang pegawai negeri. Saya tidak kehilangan akal. Maka sayapun jawab:

“Saya tidak ada pekerjaan tetap mbah, tapi insyaAllah akan tetap bekerja. Saya juga tidak ada pemasukan tetap, tapi insyaAllah akan tetap ada masukan”

Saya ingat firman Allah: “ Dan tidaklah disetiap binatang melata dimuka bumi ini telah Aku (Allah) jamin rejekinya”

Justru saya khawatir para pekerja tetap itu malah akan melawan kodrat alam jika ingin bertahan hidup dengan baik.

Darwin mengingatkan kita bukunya The Origin of the Species dengan menulis:

“It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent that survives. It is the one that is most adaptable to change. In the struggle for survival, the fittest win out at the expense of their rivals because they succeed in adapting themselves best to their environment”

Kedua: Ide besar yang kita tuangkan dalam bentuk ceramah ataupun tulisan itu memang sangat penting tapi yang jauh lebih penting lagi adalah bagaimana kita melaksanakannya.

“If we walk the talk, people believe you” proverb mengingatkan.

Dalam mahfudhot (pepatah Arab) dikatakan: “Al Ilmu bila amalin ka syajari bila tsamarin” (Ilmu yang tidak diamalkan itu ibarat pohon (rindang) tapi tidak berbuah”.

Orang Jawa sering berceloteh: “Wah sampean kuwi Kyai Jarkoni” yang artinya: Kyai yang bisa mengajar tapi tidak bisa melakoni (apa yang ia ajarkan).

Al Qura’an mengumandangkan: “Kaburo maqtan ‘inda Allahi ma la taf’alun” (Sangatlah besar murka Allah melihat apa yang kita tahu tapi kita tidak melaksanakannya).

Para pendahulu kita telah memberikan contoh bahwa “karya nyata” mereka adalah “da’wah” mereka sesungguhnya yang sampai hari ini bisa dirasakan oleh tidak saja umat Islam tapi juga oleh umat yang lain.

Sebagai contoh, ketika saya menyelesaikan S2 International Security di St Andrews University, Scotland saya baru paham bahwa Inggris mengadopsi konsep ‘waqaf’ (endowment), universitas seperti Oxford, Cambridge dan juga St Andrews sendiri dari sistem Jamiah Al Azhar di Cairo ketika perang salib.[5]

Ironisnya ketika saya ingin belajar di Al Azhar setelah dari Inggris saya sangat kecewa dengan apa yang saya lihat kondisi universitas ini dan juga kota Cairo yang terlihat berdebu dan kotor.

Hampir di semua dinding di Mesir itu menjadi kamar mandi. Salah satu ustad lulusan Al Azhar berseloroh: “Kullu jidar hamam” (semua tembok adalah WC). Maka saya mengurungkan niat saya untuk mendaftar di Al Azhar.

Inggris mulai mengenalkan sistem ‘social security’ (jaminan keamanan) ketika mereka belajar dari sistem ‘Baitul Mal wa Tamwil’ yang dikembangkan oleh khalifah Umar. Sistem ini mempunyai semangat berbagi kepada yang lebih lemah dan tertindas. Anthony Gidden dari LSE, London School of Economics menyebut konsep ini sebagai “Third Way”.[6]

Dalam konteks ini pula, konsep zakat dalam Islam dapat menjadi jawaban atas kegagalan kapitalisme dan komunisme dalam menawarkan sistem ekonomi manusia hari ini. Kita boleh kaya, namun ingat ada 2.5 % dari kekayaan kita itu kepada ‘mustahiq’ (orang yang berhak mendapatkan zakat).

Namun kenapa justru negara ‘kafir’ Barat seperti Australia yang ‘mencuri’ sistem ‘social justice’ dengan sistem pajak progresifnya?[7] Sehingga kita bisa lihat di sini bahwa jarak antara si kaya dan si miskin tidak lah jauh berbeda.

Gaji seorang ‘plumber’ atau tukang bangunan bisa setara bahkan melebihi gaji seorang dosen Monash? Pekerja ‘cleaning service’ bisa minum coffee latte sejajar dengan seorang pengacara?

Tetangga saya di Myriong St, Clayton, Kang Aad, diplomat muda cemerlang yang sedang S2 di Monash University bercerita: “Kalau saya mengantar anak saya kursus renang, saya bisa melihat para orang tua dengan memakai ‘baju kebesaran’ mereka masing-masing mulai dari pekerja kasar sampai bisnisman duduk bersampingan tanpa rasa risih”

Kenapa ini tidak terjadi di Saudi Arabia misalnya?

Ketika umroh dan haji saya menyaksikan kesenjangan yang luar biasa besar antara yang kaya dan miskin serta minimnya infrastruktur murah bagi masyarakat umum.

Ibadah Haji yang luhurpun harus bersaing dengan budaya konsumerisme yang akut di bumi ini. Jangan bayangkan bisa tinggal di hotel dekat Masjidil Haram jika kocek kita tidak tebal karena hotel-hotel mewah dengan brand-brand dari negara ‘kafir’ Barat seperti Hilton, InterContinental, Marriot dan lain-lain mengelilingi tempat suci umat Islam itu.[8]

Tidak sedikit mereka yang ziarah umroh dan haji itu lebih banyak menghabiskan waktu mereka ‘tawaf’ di mall di depan Masjidil Haram dari pada benar-benar tawaf mengelilingi Ka’bah.[9]

Ketika menjelang sholat Jumaat di Sport Center Monash Clayton, saya bertemu dengan salah satu mahasiswa kedokteran dari Saudi Arabia. Kebetulan saya masih ingat bahasa Arab sederhana yang saya pelajari di Ngruki dulu.

Maka kami pun berbincang dengan lebih leluasa dan sampailah pada sebuah pertanyaan ‘politik’ saya kepada mahasiswa ini.

“Kenapa sih di negara mu yang negara Islam itu terjadi perbedaan strata sosial yang sangat tinggi dan nyaris infrastruktur untuk masyarakat miskin itu terbatas?”

“Ada banyak korupsi di negara kami. Mereka menggunakan agama untuk menutupi nafsu serakah mereka. Jangan kaget kalau saya kasih tahu tetangga saya di Saudi Arab itu juga tidak sholat meskipun tinggalnya di negara Islam.[10] Brother, Islam itu masalah amal. Ada banyak orang Saudi di sini tapi mereka itu: “ka ghutsai fi sail” (bagai buih di lautan) karena mereka individualistik!” jawabnya.

Adzan Jumaat berkumandang. Diskusi singkat itupun terputus.

‘Brother’ dari Saudi ini benar bahwa yang penting dalam Islam itu adalah amal (karya). Di Indonesia, kita sering tidak bisa membedakan antara Arab dan Islam. Abu Jahal itu juga pandai berbahasa Arab. Tapi dia adalah pembenci Islam.[11]

Ketika saya memutar lagu-lagu Arab yang dinyanyikan oleh Nancy Agram di mobil saya, mertua saya pikir saya telah menjadi anak yang soleh. Padahal penyanyi asal Lebanon ini bukanlah seorang Muslim dan dia selalu berpakain minimalis ketika ia bernyanyi.[12]

Kita juga melihat sering kali yang lahir dari Islam itu justru dikembangkan oleh peradaban lain. Misalnya saja; salah satu pusat perkembangan bank syariah dunia pun bukan berada di Mekah atau Madinah, tetapi justru berada di London.[13] Maskapai penerbangan Inggris itu tidak menyimpan uangnya hanya di bank konvensional, namun juga di bank syariah.[14]

Di Singapore-lah gairah bank Syariah itu mendapatkan momentumnya.[15] Sehingga tidak heran, jika hari ini para marketing asuransi syariah yang berhasil di Indonesia itu kebanyakan adalah para agen Chinese yang bukan beragama Islam.

Sebagai refleksi penutup, Al Qur’an mengingatkan kita kembali dalam surat An Najm (53) ayat 39: “Wa lai sa lil insya ni illa ma sa’a. Wa inna sa’yahu saufa yuro” yang terjemahnya: dan bukanlah bagi manusia itu kecuali apa yang ia kerjakan (amal). Sesungguhnya, amalan mereka itulah yang akan dilihat (oleh Allah)”.

Ketika ide-ide tentang kembali kepada nilai-nilai Islam begitu nyaring dan sering didengungkan, lalu mengapakah kita tidak justru menekankan diri untuk memulai langkah perbaikan dengan aksi nyata memberi teladan dulu sehingga yang lain tergerak mengikuti tanpa perlu bentakan, khotbah keras, dan lain sebagainya? Tidakkah tampak bagaimana justru orang di luar Islam tidak segan mengadopsi nilai dan praktik Islami dalam kehidupan modern? Bukankah ketinggian dan kebagusan ajaran di dalam Islam telah membuat mereka yang bukan Islam jadi mempraktikkannya karena penghayatan dan bukan karena pemaksaan? Jadi berikan contoh teladan yang konkret agar penghayatan ajaran Islam, ketinggian dan kebagusannya, punya pengaruh bukan hanya kepada umat seiman namun juga menginspirasi umat lain untuk melirik kepada Islam.

Wallahu A’lamu bi showab.

===============================

Endnotes

[1] Menarik ketika Noor Huda Ismail memilih diksi “dongeng-dongeng” yang mungkin sepadan dengan fiction. Dalam kajian mengenai film-film hasil produksi Hollywood banyak analis justru mendapati bahwa film-film Hollywood meskipun berlabel “berdasarkan pada kisah nyata” justru kerap berfungsi sebagai alat propaganda sehingga fakta atau kisah nyata yang ditampilkan di dalam film justru sudah berbentuk fiksi atau dongeng; sudah dibuat dengan angle yang disesuaikan dengan tujuan propaganda. Lewat film-lah seringkali diseminasi ide atau indoktrinasi konsep atau katakanlah propaganda lebih efektif dilakukan (Jonah Goldberg, 2014; Julie Levesque, 2011; Danny Weil, 2012; Danny Schechter, 2002; Robert Fyne, 1997) dibandingkan [pada konteks-konteks tertentu] dengan teriak-teriak pengutukan dan atau aksi kekerasan.

[2] LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) pusatnya di Riyadh Saudi Arabia dan memang didanai oleh pemerintah Saudi Arabia.

http://www.ustsarwat.com/0.php?id_berita=68

[3] Istilah Wahabi sering dipakai sebagai istilah derogatori kepada metodologi kajian Islam yang dinisbatkan kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.

Istilah derogatori terhadap ‘puritanisme’ Islam yang digaungkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ini sering disalah duga – atau lebih tepatnya distigma– sebagai berikut (Ali Musri, 2008, “Apa Itu Wahabi”; Ali Musri, 2014, “Wahhabi antara Dogma dan Fakta”):

  • mengingkari kitab-kitab mazhab yang empat.
  • mengatakan bahwa manusia semenjak enam ratus tahun lalu sudah tidak lagi memiliki ilmu.
  • mengaku sebagai mujtahid.
  • mengatakan bahwa perbedaan pendapat antara ulama adalah bencana.
  • mengkafirkan orang yang bertawassul dengan orang-orang saleh (yang masih hidup -ed).
  • jika mampu akan runtuhkan kubah yang ada di atas kuburan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • jika mampu akan ganti pancuran ka’bah dengan pancuran kayu.
  • mengharamkan ziarah kubur.
  • mengkafirkan orang bersumpah dengan selain Allah.

Bahkan selain itu juga dituduh dengan salah duga seperti itu, Wahabi juga kadang dikait-kaitkan dengan ajaran atau doktrin yang mendorong terorisme sebagaimana misalnya diungkapkan oleh Said Aqil Siradj (2012; 2014). Sejatinya Wahabi tidaklah seperti sering disalahdugakan sebagai jamaah takfir (Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily via Abu Mushlih, 2009), disalahdugakan pemboleh bom bunuh diri padahal malah penentang (Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin via Abu Mushlih, 2009), disalahpahami sebagai jamaah yang menyamakan jihad dengan terorisme (Abu Mushlih, 2009; Zainal Abidin, 2009), kadang disebut sebagai sekumpulan orang yang gegabah di dalam perkara bidah padahal berkebalikan dengan itu (Shalih Al Fauzan via Yulian Purnama, 2014; Muhammad Abduh Tuasikal, 2008; Ubaid Al Jabiri via Yhouga Pratama, 2014), sering dianggap tidak memiliki toleransi beragama padahal tidak seperti itu (Muhammad Abduh Tuasikal, 2013), kerap dianggap sebagai monolith dan kaku padahal tidak seperti itu (Muhammad Arifin Badri, 2008; Dobdob, 2010), selalu dituduh tidak peduli kepada Palestina dan pro kepada Zionis padahal tidak demikian (Abu Yazid, 2009; Abdurrazaq bin Abdil Muhsin Al Abbad Al Badr, 2014), kerap dituduh sebagai manifestasi ajaran yang dimulai dari perkataan rasulullah saw. tentang tanduk setan padahal tidak benar demikian (Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja, 2012; Dobdob, 2011), kadang dituduh tidak mencintai nabi Muhammad saw. karena menolak merayakan maulid nabi saw. (Didik Suyadi, 2008; Raehanul Bahraen, 2014; Sufyan Basweidan, 2014), menyelisihi pemerintah setempat di dalam berhari raya padahal tidak seperti itu (Dobdob, 2010), sering dituduh penyebab pecahnya kekhalifahan Turki (Abul Harits as-Salafy, 2006; Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi, 2014; Abu Abdurrohman, 2012), dan kerap disalahtuduh sebagai penafi perkataan imam yang empat (Muslim Al Atsari, 2011).

[4] Ada perbedaan versi mengenai rekam jejak studi Ulil Abshar Abdalla. Di dalam tulisan ini dikatakan bahwa Ulil tidak lulus dari LIPIA dan bersesuaian dengan pewartaan dari sumber-sumber lain (Saad Saefullah, 2012; Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi, 2011) sedangkan di tempat lain disebutkan bahwa Ulil Abshar Abdalla lulus dari LIPIA dan mendapat gelar sarjana dari Fakultas Syariah LIPIA (Heru Margianto, 2011; Feronika, t.t.).

Ulil dikenal sebagai tokoh Islam Liberal di Indonesia yang juga merupakan pembiak komunitas yang bernama Jaringan Islam Liberal. Jaringan Islam Liberal mengukuhkan dirinya sebagai sekumpulan akademisi muslim yang tidak mau terikat kepada kaku ijtihad dan mengutamakan rasionalisasi agama [?], membebaskan diri dari [segala jenis?] penafsiran tekstual dan mengajukan manhaj religio-etik di dalam penafsiran skriptur, mengakui kerelatifan kebenaran, membebaskan diri dari keterikatan pada suatu agama, berperspektif sekuler, antiteokrasi, menolak pengikatan diri kepada dogma dan menekankan pada kebebasan dan pembebasan individual (Jaringan Islam Liberal, t.t., “Tentang JIL“). Beberapa kali Ulil Abshar nampak radikal di dalam pemikirannya seperti misalnya ia menukil pendapat Al Suyuthi mengenai jumlah surat di dalam Al-Quran yang dipegang kaum muslim sekarang hilang dua surat (dalam Ade Armando, Ihsan Ali Fauzi, & Farid Gaban, 2007) meskipun nukilannya itu dalam konteks yang berbeda, menyanggah kaum orientalis, kemudian ditelaah dan dibantah oleh Ahmad Orphan (2010). Meskipun terlihat kontroversial radikal karena kerap menyerang MUI, pandangan Ulil Abshar mengenai perbedaan pendapat menunjukkan nuansa moderat [karena Islam ala JIL memang memberi kebebasan dan pembebasan seluas-luasnya pada semua bentuk tafsir agama] seperti terlihat pada salah satu tulisannya tentang toleransi internal di dalam umat Islam serta sekulerisasi negara (Ulil Abshar Abdalla, 2011) namun yang demikian itu mendapat kritik semisal oleh Abi Syakir (2011).

Yang unik dari apa yang disampaikan Noor Huda Ismail adalah bagaimana Ulil yang pernah ditempa di sekolah yang bernuansa purifikasi Islam malah setelah mengenyam celup edukasi Barat justru kemudian membebaskan diri dari ‘pakem’ Islam.

[5] Hingga kini saya belum menemukan sumber referensi mengenai ini. Meskipun benar bahwa Oxford mengenal dan mempraktikkan sistem Endowment namun bukti mengenai pengadopsian konsep tersebut dari khazanah Islam atau kebetulan mirip dengan praktik waqaf dalam Islam hingga publikasi tulisan Noor Huda Ismail di blog saya ini belum saya dapati.

[6] Saya belum memahami tata urut sebab akibat di dalam paragraf ini. Konsep The Third Way adalah konsep demokrasi sosialis yang merupakan titik tengah antara politik sayap kanan dan sayap kiri. Jaminan sosial ala demokrasi sosialis yang digali oleh Anthony Giddens sebenarnya lebih merujuk pada pengembangan pemikiran Marxis (Niall Dickson, 1999, “UK Politics What is The Third Way”). Jikapun ada persamaan dengan konsep jaminan sosial yang dikumandangkan Giddens di dalam [salah satu negara] Islam maka secara garis besar bisa dirujuk kepada tulisan Giddens mengenai sistem jaminan sosial yang dikembangkan oleh Gaddafi, pemimpin Libya (Giddens, 2006, “The Colonel and His Third Way”) dan saya belum mendapati kronologi urutan seperti yang diajukan di dalam paragraf itu: konsep Islam dipelajari Inggris dan Giddens membakukan praktik tersebut di dalam terma The Third Way.

[7] Klaim mencuri di sini menjadi debatable. Jika merujuk kepada sejarah perkembangan diskursus pajak [lih. Mis. Australia] kecuali hendak mengklaim pada universalitas ide maka diskursus konsep pajak dengan konsep zakat adalah serupa tapi tak sama walaupun mungkin di permukaan boleh dimirip-miripkan di dalam konteks distribusi kemakmuran.

[8] Pandangan mengenai lanskap di sekitaran Mekah dan hotel-hotel lainnya dapat dirujuk pada tulisan Agus (2008, “Ketika Hotel-hotel di sekitar Masjidil Haram Dibongkar”). Perlu diketahui pula bahwa di sekitar masjidil haram ada lebih dari 90 hotel dengan kepemilikan hotel bermacam-macam bangsa [investor] (cf. Booking.com)

[9] Masuk akal jika analoginya diumpamakan dengan ‘waktu resmi ibadah tawaf’ yang kalah dengan waktu senggang untuk berputaran di kota Mekkah (bdk. juga mis. sholat lima waktu dengan waktu senggang kegiatan di luar ritual ibadah sholat).

[10] Jangan heran sebab di manapun juga tidak selalu orang Islam pasti bertekun ibadah. Rujukan hadist tentang ini adalah iman bisa naik bisa turun dst. dll.

[11] Tidak pas menganggap bahwa semua orang Arab pasti Islam atau semua yang fasih berbahasa Arab adalah Muslim (lih. Endnote 12).

[12] Jangan kaget pula jika Islam di Jazirah Arab bukan satu-satunya agama. Perhatikan juga bahwa di jazirah Arab ada Kristen Ortodoks Syiria, Katolik Ortodoks Yunani, Majusi (Zoroastrian), Yahudi, Kristen, dan devian dari mainstream Sunni (mis. Syiah, Druze). Lebanon sendiri adalah negara sekuler berbahasa resmi Arab di jazirah Arab yang memiliki jumlah pemeluk agama Kristen yang banyaknya lebih dari 40% dari total penduduk dan hampir berimbang dengan jumlah Muslim (cf. Wikipedia, “Religion in Lebanon”).

[13] Bank Islami modern adalah Dubai Islamic Bank yang berdiri di tahun 1975 sedangkan di UK (khususnya London) baru sekitar tahun 2000-an ada wacana pengembangan Bank Islami di London. Dorongan akan kebutuhan Bank Islami di London disebabkan jumlah umat muslim di London meningkat sangat pesat pada tahun-tahun tersebut. Bank Islami kemudian menjadi niscaya dimunculkan karena potensi nasabahnya luar biasa dan juga ada keinginan kuat dari akademisi ekonomi Islam di UK untuk memfasilitasi keinginan ini (Waseem Ahmad, 2008, “Islamic Banking in The United Kingdom: Opportunities and Challenges”). Perkembangan Bank Islami di UK sendiri sangat menggembirakan karena UK membuka diri kepada bank-bank Islami dari luar UK untuk membuka cabang di UK (cf. Harry Wilson, 2013, “Britain to be the first non-Muslim country to launch sharia bond”).

[14] Tidak hanya maskapai penerbangan Inggris, beberapa perusahaan di UK juga mulai menaruh sebagian uangnya di bank Islami karena bank Islami lebih tahan terhadap moneter dibanding bank konvensional. Sebagian tetap disimpan di bank konvensional karena bunga di bank konvensional lebih tinggi dibanding bagi hasil ala bank Islami. Jadi perusahaan-perusahaan ini ‘bermain aman di bank Islami sembari tetap berharap untung di bank konvensional’ dengan menaruh uang di dua tempat.

[15] Secara demografis, Singapore memiliki 4 agama dengan pemeluk di atas 10 persen yakni Buddha, Kristen, Islam, dan Tao (cf. Wikipedia, “Religion in Singapore”). Bank Islami di Singapore baru didirikan sebagai ‘cabang’ dari Development Bank of Singapore (DBS) dengan nama The Islamic Bank of Asia pada tahun 2007. Pemunculan bank lokal Islami di Singapore lewat The Islamic Bank of Asia oleh DBS selain dikarenakan pangsa pasar Muslim yang besar dan menjanjikan juga karena sudah mulai ada bank-bank dari luar Singapore yang menawarkan produk Islami (kavkazcenter.com, 2007, “1st Islamic Bank in Singapore”).

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s