Home » Article » Matematika 4×6, Susi, Habibi, Erfas, dan Teh

Matematika 4×6, Susi, Habibi, Erfas, dan Teh

Aku hingga kini belum menemukan indikasi adanya pengalihan sebuah isu dari keributan 4×6 sama dengan 6×4. Mungkin juga aku gak bakal menemukan sebab sekarang pengalihan isu kayaknya udah gak laku.

Kalaupun ada upaya manipulasi isu-pun, yang laku sekarang adalah membuat sebuah isu jadi bertele-tele demi oplah surat kabar atau bikin publik ribut sendiri padahal para dalang lagi sama-sama bancakan dan kedip-kedipan masa bodoh. Mungkin masalah sepele hitung 4×6 jadi berlarut-larut sebab bisa naikin oplah kalau urusan bancakan keknya gak nyambung untuk kisruh ini.

Ribut 4×6 ini melibatkan tokoh-tokoh utama yaitu Habibi (anak kelas 2 SD), Muhammad Erfas Maulana (kakak Habibi) dan guru Habibi –”sebut saja namanya Susi“.

Susi ini konon memberi pekerjaan rumah matematika pada Habibi sebanyak 10 soal penjumlahan berulang yang operasionalisasi pengerjaannya sesuai buku BSE Matematika, kata Mifta Nurdin di blog Kompasiana, dapat diubah bentuk menjadi bentuk perkalian. Jadi pada pembelajaran ini siswa diharapkan paham konsep perkalian sebagai penjumlahan berulang.

Mifta Nurdin kasih contoh bahwa

  • Bentuk 4 + 4 + 4 ditulis jadi 3 x 4
  • Bentuk 3 + 3 + 3 + 3 ditulis jadi 4 x 3

Apa yang ditulis Mifta Nurdin lewat tulisan dengan judul “Inilah Penjelasan Mengapa 6×4 dan 4×6 Berbeda” menjelaskan dengan bagus dan rapi apa-apa yang membuat 6×4 dan 4×6 berbeda.

Banyak yang menyalahkan Susi gara-gara ia menyalahkan delapan dari sepuluh soal PR milik Habibi muridnya. Padahal Habibi ini garap PR dengan bantuan kakaknya, Erfas. Lalu pantaskah Susi divonis bersalah? Perlukah hasil penilaian Susi atas PR Habibi dibawa ke MK seperti lagi tren seperti sekarang ini?

Sebuah surat kabar daring yang namanya kayak pekik pejuang 45 menampilkan profil Muhammad Erfas Maulana, kakak Habibi, sebagai mahasiswa cerdas. Walaupun jika dibaca beritanya secara cermat, argumen konklusif bahwa Erfas adalah cerdas sebenarnya amburadul gak karuan.

Si Erfas disebutkan pintar karena ber-IPK sekian dan sekian padahal di bagian lain di berita itu narasumber lain sebut bahwa sekian dan sekiannya itu adalah IPK minimal anak-anak yang kuliah di situ. Jadi Erfas ini meski disebut sebagai ‘tukang protes’ namun dipuji dengan panggilan cerdas dengan data yang tidak pas. Atau mungkin ia cerdas secara umum, mungkin itu maksud pengabar berita. Apapun, intinya seakan-akan dikabarkan bahwa Susi ini sedang lawan tanding sama Erfas, si mahasiswa cerdas. Jadi Susi dibuat nampak sebagai guru yang tidak cerdas karena menyalahkan jawaban PR milik Habibi yang dikerjakan Erfas.

Susi ini lagi apes. Aku bayangin sekarang dia kelu menggerutu: mimpi apa ya kemarin dulu?

Apesnya Susi kian bertambah. Sebabnya adalah berita nilai 20 yang didapat Habibi dikomentari orang-orang cerdas lainnya semisal dosen matematika dari universitas di Bandung, sebut saja namanya RR.

RR ini canggih. Karena RR memang orang pintar, dia menjelaskan kisruh penjumlahan berulang itu dalam bahasan mengenai sudut pandang: konsep dan konteks. Dulu aku belajar matematika gak pernah bicara konteks-konteksan, adanya contek-contekan. Penjelasan RR bikin aku kian bingung.

Kisah Susi dengan bolpen merahnya tambah ramai saat dosen matematika dari universitas yang lain di Bandung, inisial AM, nimbrung dalam perdebatan.

Menurut AM semua jawaban matematika bisa benar selama sahih argumentasinya. Nah, ini juga bahasa tingkat dewa. Dulu waktu sekolah madrasah saat aku masih belum mimpi kena mandi besar, sahih itu istilah yang dipakai di dalam hadist bukan di dalam matematika. Aku jadi tambah gagal paham mengapa matematika sekarang bisa masuk ke ilmu mustolah hadist.

Tidak hanya dosen, profesor di bidang astrofisika juga kasih pasal pertimbangan dakwaan pada Susi. Sebut nama inisialnya TJ. Profesor TJ bilang bahwa matematika adalah berkaitan dengan logika. Logika itu didasarkan penalaran dan enggak melulu kayak hitungan pake kalkulator. Pokoknya kesimpulannya dari berita itu adalah mengerjakan matematika tidak logis jika memakai kalkulator karena dengan kalkulator soal rumit matematika tiba-tiba terketahui hasilnya. Terlalu mistik mungkin. Jadi aku, yang lugu dalam matematika, dapat ambil kesimpulan bahwa kalkulator itu tidak logis. Kalau yang ini diwartakan di koran penunjuk mata angin.

Lalu ada juga yang kasih pendapat, lagi-lagi profesor, lewat perkuliahan dengan Twitter. Lewat Twitter, kisah Susi, Habibi, dan Erfas dikaji profesor dengan nama inisial IP menurut tinjauan budaya. Kali ini malah kultwitnya sudah berbicara mengenai hakikat matematika. Kalau yang beginian sudah masuk ilmu tasawuf –di Timur bilangnya kek gitu– atau ilmu filsafat –kalau orang Barat nyebut ilmu yang beginian. Aku malah jadi tambah kedodoran memahaminya.

Profesor IP bilang bahwa tidak ada kebenaran di dalam matematika sebab adanya hanya kesahihan. Aku tambah bingung. Dulu saat aku berhasil mengerjakan seluruh sepuluh soal dari Pak Sumardi, guru SD kelas 6 di SDN Kuripan 3 Karangawen Demak yang juga seorang pengkhotbah di Gereja Kristen Jawa Dusun Semengko, pasti dibilang ‘benar semua’ dan bukan ‘sahih semua’. Ternyata memang matematika jaman aku masih SD dengan matematika sekarang sudah berbeda. Jangan-jangan perubahan ini ada kaitannya dengan Perang Melawan Teror-nya Amerika. Mungkin aja. Atau Pak Mardi dulu salah mengomentari? Harusnya ‘sahih semua’ namun malah dipakai istilah ‘benar semua’? Atau mungkin istilah sahih terlalu islami bagi beliau? Atau bagaimana sih ini?

Dunia nampaknya telah banyak berubah, atau tepatnya matematika nampaknya telah banyak berubah sejak aku di kuliah tidak lagi belajar matematika secara khusus. Wih, … banyak istilah sudah masuk ke dalam matematika dan aku ketinggalan mengikutinya.

Masalah mungkin bisa tambah runyam bagi Susi. Salah satu orang penting di Kemendikbud sudah ikut berfatwa. Fatwanya adalah Dinas Pendidikan kudu menyelidiki kasus ini dan kasih teguran buat Susi. Susi dari nada berita yang diwartakan di koran pekik pejuang 45 nampaknya dituding gagal paham dengan manhaj kurikulum 2013 yang juga sudah dilatihkan kepada para guru. Susi harus di-drill lagi keknya.

Saat aku pikir kisah Susi, Habibi, dan Erfas bakal berhenti sampai di situ … eh, Profesor IP katanya mendebat Profesor YS mengenai ini. Katanya menarik bla bla bla.

Benar juga kata temanku. Memang akademisi pendidikan tinggi kadang membuat sesuatu yang sederhana menjadi menarik; menarik garis kulit di dahi. He he he ….

Susi, oh Susi … mimpi apa kamu malam sebelum kejadian itu Susi, Susi ….

Tapi apa ya begitu itu to?

Sik, sebentar, nanti dulu.

Jika contoh yang dikasih Mifta Nurdin adalah salin-tempel dari buku yang dipakai di sekolah-sekolah bahwa:

  • Bentuk 4 + 4 + 4 ditulis jadi 3 x 4
  • Bentuk 3 + 3 + 3 + 3 ditulis jadi 4 x 3

Maka sebenarnya tidak pas benar untuk menyalahkan Susi walaupun jawaban Habibi yang dibantu Erfas adalah juga benar.

Perhatikanlah lembar kertas pekerjaan rumah Habibi yang dipindai Erfas.

Merdeka.com via Didi Syafirdi

Merdeka.com via Didi Syafirdi

Ambil dua soal saja, soal nomor 1 dan soal nomor 2.

  • 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = 6 x 4 dan bukan 4 x 6 meskipun hasilnya sama-sama 24.
  • 6 + 6 + 6 + 6 + 6 + 6 + 6 = 7 x 6 dan bukan 6 x 7 meskipun hasilnya sama-sama 42.

Apa yang dilakukan Susi adalah sudah sesuai dengan buku resmi yang dipakai di sekolah-sekolah. Susi hanyalah mengikuti prosedur pengerjaan yang dicontohkan di buku dan ia ajarkan kepada Habibi, anak kelas 2 SD, sebagaimana aslinya. Susi tidak mau menyimpang karena bisa jadi Susi khawatir bila anak didiknya mengerjakan tidak sesuai dengan yang diajarkan di dalam buku bakal menjadi kesalahan dia. Cara lain yang bisa dilakukan di dalam pengerjaan –meski benar– bagi anggapan Susi adalah tidak tepat dipraktikkan dalam jawaban pekerjaan rumah siswanya.

Sangka baik, ini bukan berarti Susi menolak adanya cara lain di dalam mengerjakan soal pekerjaan rumah itu. Gonta-ganti kurikulum sudah cukup bikin guru-guru pada tepar jadi meminimalkan risiko pengajaran bidah dari manhaj kurikulum yang sedang berlaku adalah tindakan pragmatis dan mungkin perlu. Patuh textbook adalah kaidah yang dipakai para guru. Kritik, vokal, dan dikit nyimpang bisa berisiko. Jadi Susi hanya secara bawah sadar memang terlatih oleh kultur kepatuhan pada sistem kurikulum yang berubah-ubah dan doktrin standardisasi pendidikan yang rigid. Kepatuhan sempurnanya harusnya dipuji karena menandakan keberhasilan dari didik kultur institusi. Atau bagaimana?

Habibi, yang diwakili Erfas, juga tidak salah. Argumen 4 x 6 = 6 x 4 adalah benar. Tidak usah diperdebatkan dengan cara ribet bahwa 4 x 6 tidak sama dengan 6 x 4 dengan menunjuk contoh ukuran foto, atau angka 6 dan 4-nya sudah diberi embel-embel satuan-satuan tertentu. Masalah 4 x 6 = 6 x 4 yang diperbincangkan dalam pindaian Erfas hanyalah angka saja. Kecuali jika isu 4 x 6 dengan 6 x 4 memang hendak dibikin undang-undangnya … ya ribut yang mbulet memang perlu. Kalau enggak ada gontok-gontokan pastilah bikin undang-undang setengah hari sudah jadi dan engga perlu numpuk-numpuk tanda tangan padahal engga kelar-kelar mbahasnya kan?

Permintaan Erfas kepada Susi untuk mempertimbangkan nilai 20-nya Habibi adalah kesantunan yang patut ditiru. Ada baiknya Susi, Habibi, dan Erfas duduk satu meja. Susi kasih Habibi pekerjaan rumah ulang dengan wejangan: “garap sendiri ya seperti yang sudah Ibu ajarkan, cara yang diajarkan Kak Erfas nanti boleh dipakai kapan-kapan ketika waktunya tiba. Kak Erfas sudah benar kasih jawabannya namun Ibu pingin kamu kerjakan sesuai contoh.”

Masalah Susi, Habibi, dan Erfas hanyalah masalah sepele dan tidak pas jika memenuhi laman surat kabar serta media sosial dan kemudian menjadi kisah berseri. Kita engga lagi ada rencana mau bikin sinetron dari ini kan?

Demikian.

Loh, judul di atas kan ada kata ‘teh’. Lalu mana teh-nya? Lha ini sedang aku minum.

==================================

Ide cerita:

Mifta Nurdin. 23 September 2014. “Inilah Penjelasan Mengapa 6×4 dan 4×6 Berbeda”. Blog Kompasiana. (Yang unik adalah meskipun Nurdin menjabarkan apa yang diperolehnya dari buku BSE [kutip Solopos?] namun ia di dalam tulisannya malah juga ikut terjebak pada debat kusir ‘esensi’ beda 6×4 dan 4×6).

Fariz Fardianto. 22 September 2014. “Bela Adiknya Soal PR Matematika, Erfas Dikenal Suka Protes'”Merdeka.com.

Fariz Fardianto. 22 September 2014. “Selain Tukang Protes, Erfas Dikenal Mahasiswa yang Cerdas”Merdeka.com.

Ya’cob Billiocta. 22 September 2014. “Penjelasan Dosen Matematika Soal PR Anak SD Hebohkan Facebook”Merdeka.com.

Didi Syafirdi. 22 September 2014. “Ini Kata Dosen Matematika ITB Soal PR Matematika Anak Kelas 2 SD”. Merdeka.com via Yahoo! News Indonesia.

Yunanto Wiji Utomo. 22 September 2014. “Ini Beda antara 4×6 dan 6×4 Menurut Profesor Lapan”Kompas.com.

Nadya Isnaeni. 24 September 2014. “Heboh 4×6 atau 6×4”Liputan6.com.

Iwan Pranoto via @mfahmia275. 22 September 2014. “Kasus 4×6 – 6×4: Tinjauan Budaya dari Sisi Matematika (by @iwanpranoto)Chirpstory.com.

Iwan Pranoto via @mfahmia275. 22 September 2014. “Memahami Situasi Perkalian (oleh @iwanpranoto)”Chirpstory.com.

Lia Harahap. 22 September 2014. “Kemendikbud Minta Disdik Tegur Guru Salahkan PR Matematika Siswa”Merdeka.com.

Dipa Nugraha. t.t. “Wawancara Solilokui Mendalam: Pengalaman Pribadi Waktu Masih SD di SD Kuripan 3 Desa Kuripan, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah”. 

 

Creative Commons License
Matematika 4×6, Susi, Habibi, Erfas, dan Teh by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s