Home » Article » Tuhan

Tuhan

Artikel ini ditulis oleh Hamid Fahmy Zarkasyi yang terbit pada 7 November 2012 di situs http://hamidfahmy.com/tuhan/. Penerbitan ulang di blog ini telah mendapat ijin dari perwakilan beliau. Penerbitan ulang di blog ini diedit sedikit dan dilengkapi dengan catatan kaki dengan tidak mengurangi pokok besar tulisan asli.

Hamid Fahmy Zarkasyi adalah putra ke-9 dari KH Imam Zarkasyi, pendiri Pesantren Modern Gontor Ponorogo. Riwayat pendidikan beliau adalah sebagai berikut: Kulliyatul Muallimin al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Gontor (1977), Fakultas Tarbiyah, Institut Pendidikan Darussalam (IPD) Pondok Modern Gontor (1982) untuk Sarjana. Kemudian gelar MA.Ed diperoleh dari Institute of Education and Research (IER), University of the Punjab, Lahore Pakistan (1986). Kemudian ia melanjutkan studi di Faculty of Art, Dept. Theology University of Birmingham, United Kingdom, 1996-1998 untuk gelar M.Phil-nya. Gelar Ph.D. di bidang Islamic Thought beliau dapatkan dari International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC-IIUM) Kuala Lumpur, Malaysia (2006). Beliau saat ini adalah Direktur INSIST (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization).

 =============================================

Pada suatu hari saya naik bus dari Aston ke Universitas Birmingham Inggris. Disamping saya duduk seorang bule yang agak kusut. Ia melirik buku teologi yang sedang saya baca. Dan tiba-tiba: Hi Mate![1] Ia menyapa dengan aksen khas Birmingham sambil senyum. Kemudian ia bertanya: Bisakah Tuhan menciptakan sesuatu yang Ia tidak dapat mengangkatnya?

Saya tahu konsekuensi jawabannya. Baik jawaban positif maupun negatif hasilnya sama yaitu “Tuhan tidak berkuasa”. Ini pasti pertanyaan seorang sekuler atau atheis, pikir saya.

Ia bertanya dan tidak perlu jawaban.[2] Untuk tidak memberi jawaban panjang kepadanya, saya melontarkan pertanyaan balik “Could you tell me what do you mean by God?” Benar saja sebelum menjawab pertanyaan saya dia sudah turun dari bus sambil meringis.

Pertanyaan apakah Tuhan bisa membuat lebih baik dari yang ada ini. pernah diajukan Peter Abelard.[3] Dia sendiri bingung menjawabnya. Pertanyaan Bule itu mungkin hasil adopsi dari Peter. Tapi yang jelas bukan dari pikirannya sendiri. Apa makna Tuhan baginya kabur. Bertanya tanpa ilmu akhirnya menjadi seperti guyonan atau bahkan plesetan.

Di Barat diskursus tentang Tuhan memang marak dan terkadang mirip guyonan. Presedennya karena teologi bukan bagian dari tsawabit (permanen) tapi mutaghayyirat (berubah). Layaknya wacana furu’[uddin][4] dalam Fiqih.[5] Ijtihad[6] tentang Tuhan terbuka lebar untuk semua.

Siapa saja boleh bertanya apa saja. Akibatnya, para teolog pun kuwalahan. Pertanyaan-pertanyaan rasional dan protes-protes teologis gagal dijawab. Teolog kemudian digeser oleh doktrin Sola Scriptura.[7] Kitab suci bisa dipahami tanpa otoritas teolog.

Sosiolog, psikolog, sejarawan, filosof, saintis dan bahkan orang awam pun berhak bicara tentang Tuhan. Hadis Nabi Idza wussida al-amru ila ghayri ahlihi fantadzir al-sa’ah, (Jika suatu perkara diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah waktu (kehancurannya) terbukti. Katholik pun terpolarisasi menjadi Protestan. Protestan menjadi Liberal[8] dan dari situ barangkali menjadi lahir apa yang disebut dengan modern atheism.

Apa kata Michael Buckley dalam At The Origin of Modern Atheism meneguhkan sabda Nabi. Atheisme murni di awal era modern timbul karena otoritas teolog diambil alih oleh filosof dan saintis. Pemikir-pemikir yang ia juluki “Para pembela iman Kristiani baru yang rasionalistis” seperti Lessius,[9] Mersenne,[10] Descartes,[11] Malebranche,[12] Newton[13] dan Clarke,[14] itu justru melupakan realitas Yesus Kristus.

Dalam hal ini Newton tidak mau disalahkan, Trinitas telah merusak agama murni Yesus, katanya.  Descartes hanya percaya Tuhan filsafat, bukan Tuhan teolog, Lalu siapa yang bermasalah? Bisa kedua-duanya.

Ini membingungkan. Pernyataan eksplisit bahwa Yesus itu Tuhan memang absen dari Bible. Ia dipahami hanya dari implikasi, sebab bahasa Bible itu susah, kata Duane A. Priebe.[15] Konsep Tuhan akhirnya harus dicari dengan hermeneutik dan kritik terhadap teks Bible.

Akan tetapi malangnya kritik terhadap Bible (Biblical Criticism), bukan tanpa konsekuensi. Biblical Criticism, kata Buckley, justru melahirkan atheisme modern. Alasannya lugas dan logis. Ketika orang ragu akan teks Bible ia juga ragu akan isinya, akan kebenaran hakikat Tuhan dan tentang kebenaran eksistensi Tuhan itu sendiri. Hasil akhirnya adalah atheisme. Bukan hanya Biblenya yang problematik, tapi perangkat teologisnya tidak siap. Inilah masalah teologi.

Tapi atheisme modern bukan mengkufuri Tuhan, tapi Tuhan para teolog tuhan agama-agama. Yang problematik, kata Voltaire[16] bukan Tuhan tapi doktrin-doktrin tentang Tuhan. Tuhan Yahudi dan Kristen, kata Newton[17] problematik karena itu ia ditolak sains.

Bahkan bagi Hegel Tuhan Yahudi itu tiran dan Tuhan Kristen itu barbar dan lalim. Tuhan, akhirnya harus dibunuh. Nietzche[18] pada tahun 1882 mendeklarasikan bahwa Tuhan sudah mati. Tapi ia tidak sendiri. Bagi Feuerbach,[19] Karl Marx,[20] Charles Darwin,[21] Sigmund Freud,[22] jika Tuhan belum mati, tugas manusia rasional untuk membunuhNya. Tapi Voltaire (1694-1778) tidak setuju Tuhan dibunuh. Tuhan harus ada, seandainya Tuhan tidak ada kita wajib menciptakannya. Hanya saja Tuhan tidak boleh bertentangan dengan standar akal. Suatu guyonan yang menggelitik.

Belakangan Sartre[23] (1905-1980) seorang filosof eksistensialis mencoba menetralisir, Tuhan bukan tidak hidup lagi atau tidak ada, Tuhan ada tapi tidak bersama manusia. “Tuhan telah berbicara pada kita tapi kini Ia diam”. Sartre lalu menuai kritik dari Martin Buber[24] (1878-1965) seorang teolog Yahudi. Anggapan Sartre itu hanyalah kilah seorang eksistensialis. Tuhan tidak diam, kata Buber, tapi di zaman ini manusia memang jarang mendengar. Manusia terlalu banyak bicara dan sangat sedikit merasa. Filsafat hanya bermain dengan image dan metafora sehingga gagal mengenal Tuhan, katanya.

Itulah akibat memahami Tuhan tanpa pengetahuan agama, tulisnya geram. Filosof berkomunikasi dengan Tuhan hanya dengan pikiran, tapi tanpa rasa keimanan. Martin lalu menggambarkan “nasib” Tuhan di Barat melalui bukunya berjudul Eclipse of God. Saat Blaise Pascal[25] (1623-1662) ilmuwan muda brilian dari Perancis meninggal, di balik jaketnya ditemukan tulisan “Tuhan Abraham, Tuhan Ishak, Tuhan Yakub, bukan Tuhan para filosof dan ilmuwan.” Kesimpulan yang sangat cerdas. Inilah masalah bagi para filosof itu.

Begitulah, Barat akhirnya menjadi peradaban yang “maju” tanpa teks (kitab suci), tanpa otoritas teolog, dan last but not least tanpa Tuhan. Barat adalah peradaban yang meninggalkan Tuhan dari wacana keilmuan, wacana filsafat, wacana peradaban bahkan dari kehidupan publik. Tuhan, kata Diderot, tidak bisa jadi pengalaman subjektif.[26] Meskipun bisa bagi Kant[27] (1724-1804) juga tidak menjadikan Tuhan “ada”. Berpikir dan beriman pada tuhan hasilnya sama. Kant gagal menemukan Tuhan. Kant mengaku sering ke gereja, tapi tidak masuk. Ia seumur-umur hanya dua kali masuk gereja: waktu dibaptis dan saat menikah. Maka dari itu Tuhan tidak bisa hadir dalam alam pikiran filsafatnya.

Muridnya, Hermann Cohen[28] pun berpikir sama. “Tuhan hanya sekedar ide”, katanya. Tuhan hanya nampak dalam bentuk mitos yang tidak pernah wujud. Tapi anehnya ia mengaku mencintai Tuhan. Lebih aneh lagi ia bilang “Kalau saya mencintai Tuhan”, katanya, “maka saya tidak memikirkanNya lagi.” Hatinya ke kanan pikirannya ke kiri. Pikirannya tidak membimbing hatinya, dan cintanya tidak melibatkan pikirannya.

Tuhan dalam perhelatan peradaban Barat memang problematik. Sejak awal era modern Francis Bacon[29] (1561-1626) menggambarkan mindset manusia Barat begini: Theology is known by faith but philosophy should depend only upon reason. Maknanya, teologi di Barat tidak masuk akal dan berfilsafat tidak bisa melibatkan keimanan pada Tuhan.

Filsafat dan sains di Barat memang area non-teologis alias bebas Tuhan. Tuhan tidak lagi berkaitan dengan ilmu, dunia empiris. Tuhan menjadi seperti mitologi dalam khayalan. Akhirnya Barat kini, dalam bahasa Nietzche, sedang “menempuh ketiadaan yang tanpa batas”.

Tapi anehnya, kita tiba-tiba mendengar mahasiswa Muslim “mengusir” Tuhan dari kampusnya dan membuat plesetan tentang Allah gaya-gaya filosof Barat. Ini guyonan yang tidak lucu, dan wacana intelektual yang wagu. Seperti santri sarungan tapi di kepalanya topi cowboy Alaska yang kedodoran. Tidak bisa sujud tapi juga tidak bisa lari. Bagaikan parodi dalam drama kolosal yang berunsur western-tainment.

Konsep Tuhan dalam tradisi intelektual Islam tidak begitu. Konsep itu telah sempurna sejak selesainya tanzil.[30] Bagi seorang pluralis ini jelas supremacy claim. Tapi faktanya Kalam[31] dan falsafah tidak pernah lepas dari Tuhan. Mutakallim[32] dan faylosof juga tidak mencari Tuhan baru, tapi sekedar menjelaskan. Penjelasan al-Qu’ran dan Hadis cukup untuk membangun peradaban.

Ketika Islam berhadapan dengan peradaban dunia saat itu, konsep Tuhan, dan teks al-Qur’an sudah sangat jelas dan[33] tidak bermasalah. Hermeneutika allegoris Plato[34] maupun literal Aristoteles[35] pun tidak diperlukan. Hujatan terhadap teks dan pelucutan otoritas teolog juga tidak terjadi. Justru kekuatan konsep-konsepnya secara sistemik membentuk suatu pandangan hidup (worldview).

Islam tidak ditinggalkan oleh peradaban yang dibangunnya sendiri. Itulah sebabnya ia berkembang menjadi peradaban yang tangguh. Roger Garaudy[36] yang juga bule itu paham, Islam adalah pandangan terhadap Tuhan, terhadap alam dan terhadap manusia yang membentuk sains, seni, individu dan masyarakat. Islam membentuk dunia yang bersifat ketuhanan dan kemanusiaan sekaligus. Jika peradaban Islam dibangun dengan gaya-gaya Barat menghujat Tuhan itu berarti mencampur yang alhaq dengan yang albatil alias sunt bona mixtra malis. 

 ============

Endnotes

[1] Di dalam teks aslinya terketik “Hai Mike!”

[2] Lepas dari ber-husnudzon, terkadang memang ada penanya yang ‘hanya bermain-main saja’ bukan dalam konteks serius mencari jawaban. Silakan lihat ketika ia ditanya balik apa definisi ‘God’ dari pertanyaannya, ia tidak mau meneruskan percakapan. Ataukah sudah waktunya ia turun dari bus atau memang ia memang hanya iseng bertanya. Wallahu’alam.

[3] Peter Abelard salah satu peletak dasar adverbial theory of thought dan ada yang memasukkan dia dalam filosof aliran nominalism. Menurut nominalisme Abelard, memahami sebuah objek adalah menangkap objek tersebut sebagai sebuah mental image di dalam repositori pikiran. Lebih lanjut menurut Abelard, ‘sebuah kata’ tidaklah menandakan keterikatan dengan sebuah mental image atau sebuah konsep. Meskipun mental image bisa ditransferkan kepada orang lain sebagai sebuah pemahaman lewat ‘sebuah kata’ namun ‘sebuah kata’ tidaklah memiliki fitur universal yang sama pada setiap orang. ‘Sebuah kata’ hanya diniatkan sebagai media penuju pemahaman pada mental image dan bukan meniscayakan kepada materi yang sama. Sejatinya, materi-materi yang dirujuk dengan ‘sebuah kata’ hanyalah berbagi fitur saja namun berbeda secara riilnya. Jika demikian maka ke-ada-an sesuatu secara mutlak tidaklah pernah ada kecuali diwakili oleh ‘sebuah kata’. Di dalam pandangannya akan nominalisme inilah ia terlibat di dalam perdebatan penalaran mengenai ajaran Trinitas di dalam ajaran Kristen. Salah satu tulisannya membahas tentang makna Yesus sebagai Anak Tuhan, Yesus sebagai Anak Manusia, dan Yesus sebagai Firman.

Di dalam Khatolik dia pernah didakwa sebagai penyebar bidah karena pikiran-pikirannya mengarah kepada Pelagianisme, Arianisme, dan Nestorianisme.

Rujukan:

http://www.abelard.org/abelard/abelard2.htm#charges-against-abelard2

http://plato.stanford.edu/entries/abelard/

http://www.iep.utm.edu/abelard/

[4] Furu’uddin adalah masalah cabang-cabang di dalam perkara syari’at (bukan perkara akidah).

Rujukan: http://www.konsultasisyariah.com/menyikapi-perbedaan-pendapat-ulama/

Syari’at adalah semua aturan yang Allah turunkan untuk para hamba-Nya, baik terkait masalah aqidah, ibadah, muamalah, adab, maupun akhlak. Baik terkait hubungan makhluk dengan Allah, maupun hubungan antar-sesama makhluk. (Tarikh Tasyri’ Al-Islami, Manna’ Qathan, hlm. 13).

Rujukan: http://www.konsultasisyariah.com/apa-itu-syariah/

[5] Fiqih adalah hukum-hukum syari’at

Rujukan: http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-islam.html

[6] Ijtihad artinya kurang lebih pengambilan pendapat berkenaan dengan fiqih dikarenakan dalil persisnya tidak didapati dari Quran maupun Hadist.

Rujukan:

http://muslim.or.id/manhaj/kegagalan-islam-liberal-dalam-memahami-ijtihad.html

http://almanhaj.or.id/content/3058/slash/0/orang-awam-antara-taklid-dan-ijtihad/

http://abumundzir.wordpress.com/2009/04/19/perselisihan-adalah-rahmat/

[7] Pandangan bahwa keselamatan dirujuk hanya pada apa yang tertera di dalam skriptur Bible. Jikalau tidak ada di dalam skriptur Bible maka tidak mengikat kepada seorang pemeluk keyakinan Kristiani. Berbeda dengan keimanan Kristen Protestan, di dalam teologi Katholik pandangan ini dianggap tidak tepat karena keselamatan tidak hanya karena menurut pada apa yang ada di dalam skriptur Bible saja namun juga pada apa yang difatwakan Gereja [lewat para teolog yang diberi otoritas].

Rujukan: http://www.theopedia.com/Scripture_alone

[8] Kalimat di dalam teks asli tulisan ini: “dan al-Syiah itu barangkali lahirnya apa yang disebut dengan modern atheism” saya ubah sedikit menjadi “dan dari situ barangkali menjadi lahir apa yang disebut dengan modern atheism”.

[9] Leonardus Lessius adalah salah satu teolog Jesuit yang pernah terlibat di dalam perdebatan mengenai predestinasi di dalam teologi Kristen. Kontribusinya di dalam pemikiran Kristen lebih banyak kepada bidang ekonomi, terutama di dalam tulisannya mengenai ‘just price’. Pemikiran darinya yang populer misalnya bahwa kitab apapun yang ditulis tanpa panduan Roh Kudus dapat menjadi Kitab yang Sakral di dalam pengajaran Kristen asalkan kitab tersebut terbuktikan kemudian tidak terselisihi oleh Roh Kudus [inspirasi ke-Kudus-an dapat muncul terkemudian]. Pengaruh lainnya di dalam kajian teologi Kristen adalah ia menyeret pemikiran atheis dari ranah teologis ke dalam kajian filosofis.

Rujukan:

http://www.newadvent.org/cathen/09192a.htm

http://pubman.mpdl.mpg.de/pubman/item/escidoc:1773305:1/component/escidoc:1773304/scholia%20JMM.pdf

http://sacredpage.wordpress.com/2012/01/26/review-at-the-origins-of-modern-atheism-by-michael-buckley/

[10] Marin Marsenne adalah matematikawan yang juga terlibat di dalam debat teologi Kristen. Marsenne ambil posisi membela keyakinan Ortodoks dengan membedakan ke-hakikat-an benda yang hanya diketahui oleh Tuhan dan fitur faktawi benda yang bisa ditangkap oleh manusia. Dunia bisa dipahami dengan logika namun ke-hakikat-annya tidak bisa terdedah seluruhnya oleh akal. Pemahaman dunia lewat akal dengan eksperimen dan observasi adalah perlu demi kemajuan manusia.

Rujukan: http://www.britannica.com/EBchecked/topic/376410/Marin-Mersenne

[11] Rene Descartes atau Renatus Cartesius adalah peletak cara berpikir yang dimulai dengan keraguan (methodic doubt) terhadap segala sesuatu untuk mencapai pengetahuan. Ia terkenal dengan ungkapannya cogito, ergo sum (aku berpikir, sebab itulah aku mewujud). Apa yang dimaksud oleh Descartes adalah membangun filosofi mengenai dunia dari meragukan semua yang telah ada meskipun sudah diyakini dan disepakati secara turun temurun. Gaya berpikirnya, yang kemudian disebut gaya Cartesian, dapat diringkas sebagai berikut: 1. meragukan ajaran yang baku karena sesuatu yang disepakati ahli kemudian bisa terbukti keliru, 2. meragukan pengetahuan empiris karena pengetahuan yang disandarkan pada pengalaman empiris bisa salah karena tercemari ilusi inderawi, mimpi, juga halusinasi, 3. Pengetahuan berdasarkan hitungan matematis tidak selalu benar karena sering orang ternyata salah menghitung angka-angka di dalam mengambil kesimpulan.

Gaya berpikir ala Descartes seperti itu menyulut manusia untuk melepaskan diri dari doktrin Gereja supaya menjadi pribadi yang mendefinisikan baik-tidaknya sesuatu dengan berpikir sendiri. Lepas dari itu, Descartes percaya sesuatu yang di dalam proses berpikir manusia adalah pengecoh. Pengecohan adalah bukan sempurna dan ketidaksempurnaan itu digeret oleh setan. Dus, Tuhan itu ada karena jika jika ada tonggak penanda sempurna sesuatu maka berarti ada pemancang tonggak kesempurnaan itu.

Rujukan:

http://plato.stanford.edu/entries/descartes/#TheConPasDea

http://www.britannica.com/EBchecked/topic/158787/Rene-Descartes/43354/Meditations

http://www.rep.routledge.com/article/DA026SECT5

http://www.britannica.com/EBchecked/topic/378410/methodic-doubt

[12] Nicolas Malenbranche dikenal dengan pemikirannya yang memadukan pandangan teologis Thomas Aquinas dan Rene Descartes. Ia berpandangan bahwa jika hakikat objek tidak bisa tersepakati (terketahui?) oleh manusia yang membicarakan pengalamannya bersama objek itu maka manusia melihat objek di luar dirinya bukan karena ke-hakikat-an objek itu namun karena ada perantaraannya agar terpahami sebagai pengetahuan bersama. Menurut Malenbranche, ini terjadi lewat perantaraan ide yang diberikan oleh Tuhan.

Rujukan:

http://plato.stanford.edu/entries/malebranche/

http://oregonstate.edu/instruct/phl302/philosophers/malbranche.html

[13] Isaac Newton adalah seorang matematikawan dan fisikawan yang menentang ajaran Trinitas di dalam doktrin Gereja namun tidak pernah secara terang-terangan. Newton berpendapat bahwa Tuhan itu Esa dan sekaligus ada di mana-mana. Kehadiran Tuhan di mana-mana bukan hanya secara virtual namun juga secara substansial sebab, masih menurut Newton, kekuasaan Tuhan tidak bakal ada jika hadirnya tanpa substansi. Newton juga berpandangan bahwa hal-hal yang bisa dijelaskan prinsip kerjanya secara teknis-mekanis di alam semesta ini adalah terletak pada kuasa Tuhan bukan berarti bahwa kuasa Tuhan bergantung pada teknik-mekanis itu. Ia berpandangan bahwa fenomena yang terjadi di alam semesta yang bisa dijelaskan teknik-mekanisnya bukan berarti tidak adanya Tuhan namun karena Tuhan memang berkuasa demikian.

Rujukan:

http://plato.stanford.edu/entries/newton-philosophy/

http://isaacnewtonstheology.files.wordpress.com/2013/06/heretic.pdf

[14] Adam Clarke, seorang teolog Methodist, dikenal dalam pandangannya yang dianggap bidah mengenai kedudukan sejak semulanya Yesus Kristus sebagai Anak Tuhan sebagaimana ada di dalam konsep Trinitas. Clarke berpendapat bahwa tidak ada satu pun ia temui dukungan skriptural di dalam Bible mengenai posisi Anak Tuhan kecuali keadaan diciptakan kemudian oleh Bapa.

Rujukan:

http://www.ccel.org/ccel/clarke

http://acc.roberts.edu/NEmployees/Hamilton_Barry/40-2%20Hamilton.htm

http://www.theopedia.com/Adam_Clarke

[15] Duane A. Priebe adalah salah satu teolog Kristen Lutheran. Salah satu pemikirannya adalah menjadi pengikut Yesus bukanlah berarti harus menjadi murid Yesus sebab pengikut Kristen di abad pertama tidak dinamai sebagai murid Yesus namun disebut sebagai pengikut Yesus. Priebe juga mengikut doktrin teologis Athanasius.

Rujukan:

http://www.wartburgseminary.edu/template_CampusCommunity.asp?id=211

http://erikullestad.blogspot.com.au/2009/06/great-commission.html

[16] Francois-Marie Arouet, atau dikenal dengan nama pena Voltaire, adalah salah satu filsuf yang bermain-main dengan doktrin Trinitas. Kalimatnya: ‘Anak Tuhan disebut sama dengan anak manusia, anak manusia sama dengan Anak Tuhan. Tuhan, atau disebut Bapa, dikatakan sama dengan Yesus Kristus, Si Anak; Si Anak disebut sama dengan Tuhan, Bapa-nya. Bagi mereka yang tidak percaya, ajaran ini memang membingungkan namun tidak demikian bagi orang Kristen yang percaya tanpa mempertanyakannya’. Lebih jauh, Voltaire juga menyindir ketidakjelasan prosedur pemeriksaan teks Skriptur untuk disepakati sebagai bagian Bible yang diterima atau Bible yang tertolak (apokrifa) di dalam Konsili Nicea.

Rujukan: http://www.positiveatheism.org/hist/quotes/voltaire.htm

[17] Newton meski dibesarkan di dalam lingkup Katolik Anglikan yang ketat namun kemudian ia dikenal sebagai pemeluk Unitarian.

[18] Friedrich Nietzche adalah filsuf yang dikenal dengan ungkapannya: God is Dead (Tuhan Mati). Sejatinya apa yang diajarkan Nietzche adalah nihilisme bentuk lain. Ia melihat bahwa bermacam-macam pendekatan yang dimunculkan di dalam mencari truth menjadikan kekaburan nilai kehidupan. Nietzche menolak kehadiran Tuhan karena ke-ada-an Tuhan menjadikan pendekatan pencarian truth mereferensikan Tuhan sebagai pancang penghakiman benar tidaknya suatu pendekatan. Nietzche bukanlah filsuf yang percaya Tuhan itu ada, kalimatnya God is Dead adalah sejak semula ia dalam pemikirannya itu memang tidak mengakui adanya Tuhan dan bukan diartikan bahwa Tuhan itu ada lalu Nietzche bunuh. Pernyataannya God is Dead adalah juga semacam ejekan kepada filsuf-filsuf sejamannya yang saling ribut mencari truth dengan merujuk kepada pendekatan pandangan yang dianggap berkenan bagi Tuhan.

Rujukan:

http://www.richmond-philosophy.net/rjp/back_issues/rjp14_samuel.pdf

http://plato.stanford.edu/entries/nietzsche/

http://www.theguardian.com/commentisfree/belief/2012/feb/07/political-message-nietzsche-god-is-dead

[19] Ludwig Andreas Feuerbach selain mengkritisi bagaimana agama menjadikan Tuhan menjadi ada sekaligus abstrak karena ke-ada-annya seakan-akan termanifeskan hanya benar menuruti tiap agama mendefinisikannya, ia juga penentang keras doktrin Trinitas. Bagi Feuerbach, ajaran Trinitas merupakan kebingungan antara konsep politeisme dan monoteisme yang menjadikan delusi pemikiran teologis.

Rujukan: http://www.marxists.org/reference/archive/feuerbach/works/essence/ec24.htm

[20] Karl Marx adalah peletak sejati dari atheisme. Bagi Marx, agama adalah fenomena dan bukan realitas. Agama bagi Marx adalah sebuah bentuk ekspresi dari kegagalan manusia di dalam mencapai kehebatannya. Marx berkata bahwa agama adalah opium bagi manusia.Di dalam masyarakat yang tidak mengenal mata uang kertas, maka pengunjukkan uang kertas sebagai alat tukar bernilai tertentu adalah tertolak. Di dalam masyarakat yang tidak mengakui Tuhan, menurut Marx, maka subjektivitas seseorang di dalam merepresentasikan Tuhan adalah tertolak. Oleh sebab itulah hanya apa yang riil secara material –dan bukan sesuatu yang abstrak- adalah yang riil menurut cara berpikir Marx.

Rujukan: http://www.ewtn.com/library/Theology/ATHEMARX.HTM

[21] Charles Darwin sering dianggap banyak orang sebagai salah satu peletak dasar atheisme. Sejatinya tidak begitu tepat demikian adanya. Darwin memang meragukan juga kebenaran agama Kristen dan Bible sebagaimana ia juga dalam keadaan bingung menafsirkan adanya berbagai macam agama. Benar juga bahwa Darwin mengajukan sebuah hipotesis yang berusaha menjelaskan adanya variasi makhluk hidup yang ada. Akan tetapi, banyak yang tidak mengira bahwa sejatinya Darwin adalah seorang Agnostik. Darwin terus mencari jawaban mengapa ada asal muasal keanekaragaman makhluk hidup sebagaimana ia temukan di dalam perjalanannya.

Rujukan:

http://www.update.uu.se/~fbendz/library/cd_relig.htm

http://www.darwinproject.ac.uk/entry-8837

[22] Sigmund Freud adalah seorang peletak atheisme dan dianggap awam sebagai peletak dasar psikoanalisis. Freud sejatinya penuh kontroversi karena hipotesisnya tentang analisis kejiwaan berlandaskan pada asumsi-asumsi yang dibangunnya sendiri. Freud meyakini bahwa konsep Tuhan adalah pemenuh kebutuhan ketidakmampuan manusia di dalam menghadapi alam. Tuhan, menurut Freud, adalah ilusi yang dibuat sendiri oleh manusia. Yang unik dari hipotesis-hipotesis yang diajukan Freud mengenai bagaimana memahami pikiran manusia adalah bagaimana Freud sering berubah-ubah di dalam merumuskan satu hipotesis ke hipotesis lainnya. Selain itu, yang ironis dari mitos tentang kehebatan Freud adalah bagaimana Freud bukanlah seorang psikolog yang selalu berhasil menyembuhkan gangguan kejiwaan pasien.

Rujukan:

http://www.iep.utm.edu/freud/

Nova: Season 14, Episode 15 – Freud Under Analysis (17 Februari 1987)

http://www.jcrt.org/archives/03.2/metcalf.shtml

[23] Jean-Paul Sartre dianggap sebagai peletak dasar filsafat eksistensialis. Menurut Sartre, manusia adalah menjadi dirinya sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Manusia tidak terikat apapun dan punya kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya. Bagi Sartre, jika Tuhan ada dan kemudian menciptakan manusia yang selalu bergantung padaNya secara total pada setiap saat maka manusia tidaklah bisa dianggap menjadi bagian yang terpisah dari Tuhan. Dengan demikian ia menolak ide adanya Tuhan.

Rujukan:

http://epublications.marquette.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1154&context=phil_fac

http://www.esjrr.org/2014/02/stergiou-sartre-concept-of-god.html

[24] Martin Buber adalah seorang Yahudi yang merupakan penyumbang pemikiran eksistensialis-yang-bukan-atheis dan ia juga ambil peranan di dalam pergerakan pemikiran Zionis. Bagi Buber, Tuhan itu ada dan cara mendekati Tuhan yang dibuat dalam perspektif Tuhan yang dianggap satu denga manusia-lah yang membuat cara memahami Tuhan menjadi rumit. Manusia menjadi berbeda-beda memahami Tuhan karena perjalanan tiap manusia di dalam mengalami pengalaman personal dengan Tuhan juga berbeda-beda.

Rujukan: http://www.iep.utm.edu/buber/#SH3b

[25] Blaise Pascal mengajukan kepercayaan Tuhan menurut kacamata pragmatis. Bagi Pascal, bahkan jikalau diasumsikan bahwa Tuhan adalah sulit dibuktikan namun kepercayaan kepada adanya Tuhan memiliki keuntungan yang lebih banyak dan berguna di dalam kehidupan dibandingkan mengambil risiko menyesal kemudian.

Rujukan: http://www.iep.utm.edu/pasc-wag/

[26] Di dalam teks asli terketik: sobyektif

[27] Emmanuel Kant berpandangan bahwa tidak adanya metode yang bisa disepakati bersama untuk membuktikan keberadaan Tuhan maka keyakinan akan keberadaan Tuhan adalah sesuatu yang sifatnya subjektif. Keyakinan akan adanya Tuhan dibutuhkan untuk mewujudkan Kebaikan Hakiki. Posisi Kant mengenai Tuhan tidak begitu jelas namun secara umum Kant tidak menutup diri terhadap posibilitas Keilahian sebagaimana tersirat di dalam karya-karyanya.

Rujukan: http://plato.stanford.edu/entries/kant-religion/

[28] Cohen berpandangan bahwa kekuatan utama manusia adalah akal. Bagi Cohen, Tuhan yang masuk akal adalah Tuhan yang bisa diterima oleh akal oleh manusia di belahan bumi manapun. Oleh sebab itulah ia beranggapan bahwa ajaran Yahudi mengenai monotestik-lah yang merupakan ajaran yang benar. Masih menurut Cohen, kecintaan kepada filsafat adalah bagian dari kecintaan kepada Tuhan sebagaimana tradisi Yahudi.

Rujukan:

http://plato.stanford.edu/entries/cohen/

http://www.bu.edu/mzank/Michael_Zank/mjth.html

[29] Seorang filsuf yang mempercayai bahwa Tuhan itu ada dan ke-ada-an Tuhan tidaklah bisa disingkap oleh akal manusia kecuali hanya pada apa yang diberitahukan Tuhan lewat Skriptur. Skriptur adalah apa yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk mengetahui Tuhannya. Bacon juga percaya bahwa kajian filsafat tidak boleh dicampur dengan kajian ketuhanan karena akan menghancurkan manusia sendiri.

Rujukan:

http://sydney.edu.au/science/hps/early_modern_science/publications_and_preprints/Gascoigne_The_Religious_Thought_of_Francis_Bacon.pdf

http://plato.stanford.edu/entries/francis-bacon/

[30] wahyu diturunkan

[31] Pemikiran di dalam perkembangan Islam yang berbicara mengenai prinsip teologi yang dicari lewat argumen, diskursus, dan debat. Ilmu Kalam dianggap dimulakan oleh kaum Mu’tazilah.

Rujukan: http://almanhaj.or.id/content/3429/slash/0/pengertian-aqidah-ahlus-sunnah-wal-jamaah/

[32] Para pengagung ilmu kalam.

[33] Tambahan dari saya = “sudah sangat jelas dan”

[34] Plato yang gaya berpikirnya kemudian disebut dengan Platonisme memiliki pengaruh yang luar biasa kepada teolog-teolog Kristen awal terutama misalnya Santo Agustinus. Di antara banyak pemikiran Plato adalah pendapat Plato bahwa Yang Real memiliki banyak tingkatan tergantung bagaimana tiap manusia melihat The Real sesuai dengan pengetahuannya. Pemikiran Plato mengenai dualisme ‘dianggap’ juga mempengaruhi pemikiran di dalam teologi Kristen bahwa roh itu baik namun daging itu jahat.

Rujukan:

http://www.ccel.org/s/schaff/encyc/encyc09/htm/ii.cxxxiii.htm

http://www.epm.org/blog/2013/Jun/12/christoplatonism

http://www.iep.utm.edu/pla-thei/

http://www.anselm.edu/homepage/dbanach/platform.htm

[35] Aristoteles [atau Aristotle sebagaimana terketik di teks aslinya] adalah filsuf Yunani selain Plato yang mempunyai pengaruh begitu besar kepada perkembangan teologi Kristen di masa-masa awal. Pemikiran Aristoteles salah satunya adalah mengenai eudaimonia. Eudimonia manusia dapat tercapai ketika manusia mampu menyadari siapa dirinya dan mengaktualisasikan kapasitas kemanusiaannya.

Rujukan: http://plato.stanford.edu/entries/aristotle/

[36] Roger Garaudy besar di dalam lingkungan Katolik. Ketika dewasa, ia hendak menggabungkan pemikiran Marx dengan Katolik namun gagal. Di dalam perjalanan waktu ia mengaku telah masuk Islam karena ia melihat Islam adalah agama yang lebih baik. Meskipun demikian, yang dimaksud Garaudy dengan Islam dalam sebuah wawancara adalah Islam yang menggabungkan agama Kristen dan Yahudi menjadi bagian yang integral. Garaudy mungkin masih ingin saja, meskipun sudah melihat opsi yang tersisa bagi kenyamanan panjang lelah pencariannya, untuk tidak meninggalkan Kristen dan Yahudi. Masih ada yang menggantung di sana.

Rujukan:

http://www.ihr.org/jhr/v18/v18n4p31_Okeefe.html

http://www.independent.co.uk/news/obituaries/roger-garaudy-veteran-of-the-resistance-who-later-became-a-holocaust-denier-7879645.html

http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?languagename=en&BookID=14&View=Page&PageNo=1&PageID=1208

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s