Home » Article » Usia Khadija r.a. dan Aisyah r.a. Saat Itu

Usia Khadija r.a. dan Aisyah r.a. Saat Itu

[updated on 7 March 2016]

Tulisan ini akan berbicara tentang dua hal: usia Khadija r.a. ketika menikah dengan Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, dan usia Aisyah r.a. ketika menikah dengan Rasulullah.

Saya bukan seorang akademisi mutsolah hadist, atau ilmu telaah telisik hadist. Saya juga bukan seorang yang paham bahasa Arab serta bukan juga seseorang yang berkutat dengan kitab-kitab hadist. Saya hanyalah pembaca dan penelaah biasa yang dangkal pemahaman mengenai hadist.

Lepas dari pemahaman saya yang dangkal, saya sebagai muslim suka sekali membaca literatur Islam. Kesukaan saya membaca literatur Islam agak telat sebenarnya karena dimulai setelah saya beranjak dewasa. Biar bagaimanapun, minat pada sesuatu bisa dimulai kapan saja. Konon lebih baik telat mulai belajar sesuatu yang baik daripada tidak pernah meluangkan waktu untuk mempelajari sesuatu yang baik. Saya menulis ini dalam kapasitas saya sebagai awam dan tidak bisa menjelaskan secara daqiq. Bahwa saya, sekali lagi, bukan akademisi yang ahli di dalam ilmu telaah telisik hadist. Tulisan ini saya rangkai dalam perspektif pemahaman saya akan pilin diskursus.

Hal pertama yang akan saya bahas dalam tulisan saya kali ini adalah mengenai usia Khadija r.a. ketika menikah dengan Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Sebagaimana tercantum di situs muslim.or.id,[1] terdapat dua pendapat yang masyhur mengenai usia Khadija r.a. ketika menikah dengan Rasulullah saw. Pendapat pertama mengatakan bahwa waktu itu Khadija r.a. berusia 40 tahun[2] sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa Khadija r.a. waktu itu berusia 28 tahun.[3]Masalahnya adalah kedua riwayat yang menyatakan bahwa Khadija r.a. berusia 40 tahun dan 28 tahun adalah hadist matruk, atau yang ditinggalkan.

Berdasar sumber lain, majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun X/1427H/2006M yang disalin di situs almanhaj.or.id,[4] dinyatakan bahwa terdapat dua riwayat yang memberi informasi tentang berapa usia Khadija r.a. ketika menikah dengan Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Riwayat pertama dituturkan oleh Al Waaqidi yang menyatakan bahwa Khadija r.a. menikah dengan Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ di usia 40 tahun dan dari Ibnu Ishaaq dinyatakan bahwa Khadija r.a. kala itu berusia 28 tahun.

Meskipun almanhaj.or.id[5] menyatakan bahwa kedua riwayat tersebut tidaklah sahih atau valid namun mereka berpendapat bahwa riwayat dari Ibnu Ishaaq adalah kemungkinan besar lebih mengena dibanding riwayat dari Al Waaqidi.

Almanhaj.or.id memegangi pendapat Ibnu Ishaaq karena pernikahan Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dengan Khadija r.a. dikarunia enam orang anak sehingga kecil kemungkinan angka 40 sebagai usia Khadija r.a.[6] Walaupun demikian, bersikap hati-hati dalam perkara ini adalah hal yang penting. Memahami bahwa terdapat dua riwayat yang masyhur –meskipun bukan sahih – mengenai usia Khadija r.a. ketika dinikahi oleh Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah penting.

Jikasanya pendapat Ibnu Ishaaq dapat kita anggap lebih mengena dibanding riwayat Al Waaqidi maka darimanakah muncul narasi yang seakan-akan sudah terverifikasi bahwa Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ benar-benar menikahi Khadija r.a. dengan selisih usia yang terpaut jauh? Mengapa di dalam teks-teks populer, atau masyhur, selalu dinyatakan bahwa Muhammad  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menikah berselisih jauh usia dengan Khadija r.a.?

Kemudian mengenai pernikahan Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dengan Aisyah r.a.

Kisah pernikahan Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dengan Aisyah r.a. adalah kisah yang menarik. Menarik karena kisah ini seakan-akan menjadi senjata untuk menyerang figur Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Di beberapa negara Barat di mana telah berkembang wabah Islamophobia, pernikahan Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dengan Aisyah r.a. dijadikan cemoohan dengan pelabelan kepada Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sebagai seorang paedophile. Dasar para Islamophobis menjustifikasi label ini adalah karena Rasulullah s صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang waktu itu sudah tua menikah dengan Aisyah r.a. ‘yang dianggap’ masih terlalu kecil untuk menikah.

Pendapat yang menyatakan bahwa Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang saat itu berusia menikah dengan Aisyah r.a. berdasarkan pada beberapa hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang berderajat sahih serta Imam-imam lain serupa Imam Ahmad, Imam Nasaai, Imam Ath Thabarani.[7] Pendapat ini mengatakan bahwa Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang saat itu berusia lima puluhan tahun menikah dengan Asiyah r.a. pada usia sekitar 7 tahun dan bercampur pada saat Aisyah r.a. berusia 9 tahun.

Menarik sesungguhnya jika kita mengkaji bagaimana Maulana Muhammad Ali[8] memaparkan pandangannya mengenai penetapan usia Aisyah r.a. ketika menikah.[9]

Muhammad Ali di dalam buku kecilnya yang berjudul Prophet of Islam menyatakan pendapat bahwa usia Aisyah r.a. paling tidak adalah 9 atau 10 tahun pada saat dinikahkan dan bersama dengan Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ paling tidak pada saat berusia 14 atau 15 tahun.[10]Pendapat Muhammad Ali disandarkan pada kalkulasinya atas sirah mengenai peristiwa perintah berdakwah kepada Rasulullah saw., usia Aisyah r.a. saat hijrah, tahun turunnya surah Al Qamar, dan juga pembandingan dengan usia Fatima r.a. serta riwayat mengenai tahun pernikahan Aisyah r.a.

Pendapat Muhammad Ali mengenai usia Aisyah r.a. ketika bersama dengan Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah sekitar 14 atau 15 tahun juga nampaknya diikuti oleh T.O Shavanaz di dalam artikelnya yang berjudul “Was Ayesha A Six-Year-Old Bride? The Ancient Myth Exposed.”[11]Shavanaz mengajukan sembilan poin yang membantah riwayat bahwa Aisyah r.a. menikah pada usia 7 tahun dan bersama dengan Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ketika berusia 9 tahun. Secara singkat, Shavanaz mengkritik banyaknya hadist yang diriwayatkan oleh Hisham bin ‘Urwah mengenai pernikahan Aisyah r.a. sebagai tidak logis karena seakan-akan –masih menurut Shavanaz– ia bersendirian di dalam meriwayatkan kejadian ini. Tidak hanya berhenti sampai di situ. Shavanaz juga mengkritik bagaimana Hisham bin ‘Urwah memiliki masalah dalam hapalan ketika beranjak tua dan juga bermasalah ketika ia pindah ke Irak.[12]

Apa yang diargumenkan oleh Muhammad Ali dan kemudian dilanjutkan oleh Shavanaz menjadi semacam solusi sanggahan terhadap label pedophilia kepada Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Pendapat ini nampaknya turut pula diikuti oleh David Liepert di dalam artikelnya di Huffington Post.[13]

Bijak memilah argumen di dalam menjawab tuduhan negatif adalah penting bagi seorang muslim. Bukan karena reaktif terhadap Islamophobis lalu kemudian setiap ada ‘jawaban’ yang terdengar logis lalu dianggap benar, diyakini, dan lalu digunakan sebagai hujah. Apa yang diutarakan oleh Muhammad Ali dan juga Shavanaz –walaupun menampilkan bukti-bukti dan logis terdengar– adalah tidak tepat jika ditelusur berdasar pembandingan skriptur-skriptur Islam [dalam hal ini hadist dan kitab sirah] secara lengkap dan mendalam.

Lihatlah misalnya bantahan terhadap Shavanaz yang dilakukan oleh Umar Mansur Ar-rahimy. Ra-rahimy menunjukkan bahwa sembilan poin yang diajukan oleh Shavanaz di dalam menolak hadist-hadist sahih pernikahan Aisyah r.a. dengan Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah tidak tepat.

Ar-rahimy memberikan bukti-bukti bahwa Hisham bin ‘Urwah adalah periwayat hadist yang tsiqah (kokoh, terpercaya) serta bagaimana hadist mengenai pernikahan Aisyah r.a. dengan Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dicatat di dalam beberapa kitab hadist yang tidak hanya Bukhari dan Muslim saja dan juga Hisham tidak bersendirian di dalam meriwayatkan kisah ini.[14][15]Bukti-bukti yang diajukan oleh Ar-rahimy mengerucut pada sebuah kesimpulan bahwa Aisyah r.a. memang benar berusia 9 tahun ketika bersama dengan Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Apa yang terjadi di sebagian kalangan muslim di dalam menjawab labelisasi kepada Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sebagai paedophile dengan merujuk sumber ‘darimana saja’ selama terdengar logis adalah relatif wajar. Walaupun demikian, di dalam Islam diajarkan untuk tidak memakai sumber hujah yang tidak valid meski dalam rangka membela (atau mengabarkan kemuliaan) agama Islam kepada manusia. Jikalau kemudian terketahui bahwa pendapat Shavanaz adalah tidak benar lalu apakah tetap memakai argumen itu untuk menyanggah labelisasi kepada Muhammad  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sebagai paedophile?

Di dalam Archeology of Knowledge (1969),[16]Foucault memberikan semacam manual di dalam membongkar segala macam polemik di dalam suatu diskursus atau wacana. Pada pelabelan pedophile kepada Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ kita lupa bahwa istilah pedophile sendiri harus kita pahami ‘bukan hanya dalam konteks definisi sekarang namun juga bagaimana sejarah munculnya istilah itu’ dan ‘bilamanakah diterapkannya hanya pada suatu diskursus atau dipencilkan hanya pada satu diskursus beserta subjektivitas yang mungkin terkait dengan pemencilannya’.

Foucault (Credit: shehadistan.com)

Foucault (Credit: shehadistan.com)

Jika paedophilia menurut ilmu psikologi didefinisikan sebagai sebuah kelainan psikologis orang dewasa yang menyukai seseorang berusia 13 tahun atau kurang[17]maka kita harus bijak melihat istilah ini secara dalam kerangka diskursus historis. Di dalam diskursus historis mengenai paedophilia kita tidak boleh meninggalkan lanskap istilah-istilah diskursif yang terlibat di dalam diskursus mengenai paedophilia dan lalu membandingkannya dengan kisah Aisyah r.a. dengan Rasulullah صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Dalam penyingkapan pilin kacau diskursus ala Foucault, maka pertanyaan-pertanyaan yang harus diajukan mengenai istilah diskursif paedophilia misalnya adalah:

  • Adakah perbedaan pendefinisian dewasa tidaknya seseorang di dalam sejarah? Dalam konteks ini, apakah bisa ditelusur secara historis bagaimana revolusi industri – kebutuhan tenaga kerja – revolusi pendidikan untuk mensuplai tenaga kerja – pemarkaan usia sekolah – penandaan usia sekolah + usia dewasa dianggap normal menikah … turut berperan di dalam menentukan kapankah seorang manusia disebut sebagai anak usia sekolah dengan seseorang yang pantas menikah? Bagaimanakah pengaruh kapitalisme yang ‘dominan namun luput’ dari diskursus mengenai paedophilia yang mungkin saja telah membentuk struktur masyarakat dalam praktik persekolahan sebagai sistemisasi penyediaan tenaga kerja dan kemudian berlangsung secara lama sehingga muncul persepsi ‘normalnya usia layak menikah’ adalah pada usia sekian dan sekian? Adakah kapitalisme berperan yang mungkin bisa dikaitkan secara langsung (atau tidak langsung) dengan lahirnya diskursus paedophilia dan perubahan persepsi tentang umur layak menikah? Bagaimanakah teknisisme mengejawantah di dalam rekrutmen terstruktur akan kebutuhan tenaga kerja menciptakan sekolah dan pemilahan tahapan-tahapan usia?

“Ideally, what should be said to every child, repeatedly, throughout his or her school life is something like this: ‘You are in the process of being indoctrinated. We have not yet evolved a system of education that is not a system of indoctrination. We are sorry, but it is the best we can do. What you are being taught here is an amalgam of current prejudice and the choices of this particular culture. The slightest look at history will show how impermanent these must be. You are being taught by people who have been able to accommodate themselves to a regime of thought laid down by their predecessors. It is a self-perpetuating system. Those of you who are more robust and individual than others will be encouraged to leave and find ways of educating yourself — educating your own judgements. Those that stay must remember, always, and all the time, that they are being moulded and patterned to fit into the narrow and particular needs of this particular society.” Doris Lessing, The Golden Notebook

  • Orang mendefinisikan bagaimana usia di bawah umur secara historis dan kultural. Adakah misalnya perbedaan definisi usia ‘sudah cukup umur’ dengan ‘belum cukup umur’ berhubungan badan secara historis dan juga kultural di seluruh dunia? Mengapakah ditentukan bahwa usia yang disukai sebagai 13 dan atau di bawahnya sebagai objek kesukaan orang dewasa paedophile dan bukan misalnya 14 atau 15 atau 16? Bagaimanakah sikap masyarakat ‘Barat modern’ menanggapi pernyataan Stephen Fry bahwa “gadis usia 14 tahun yang berhubungan badan dengan bintang rock [yang jauh lebih tua] tidak menyebut diri mereka sebagai korban [akibat dimanfaatkan secara seksual oleh bintang rock sehingga implikasinya juga tidak pas bagi orang lain menyebutnya sebagai korban pemanfaatan seksual]”?
  • Apakah istilah pedophilia muncul sejak awal sejarah manusia ataukah baru mulai diperkenalkan di dalam ilmu psikologi baru pada abad 19? Bagaimanakah istilah pedophilia definisinya berubah bersamaan dengan waktu dan bagaimanakah diseminasi konsep ini di dalam ilmu psikologi? Apakah definisi paedophilia mempunyai keberterimaan statis semenjak awal diperkenalkan ataukah mengalami perubahan di dalam perjalanan waktu di dalam ilmu psikologi? Apakah ada posisi skeptis dan atau pembanding di dalam diskursus paedophilia? Apakah ada yang dilewatkan dari diskursus tentang paedophilia dan apakah ada diskursus yang ditautkan dari diskursus paedophilia [spesifik hanya dalam konteks keilmuan psikologi]?
  • Bagaimanakah masyarakat kemudian menerima istilah paedophilia, sebuah kelainan seksual, dalam rentang waktu yang berbeda-beda di dalam masyarakat yang memiliki perbedaan budaya serta konsep mengenai ‘dewasa’, ‘kecil’, ‘cukup umur untuk menikah’, ‘belum pantas untuk menikah’ sebagaimana misalnya dikatakan oleh Christian Smith.[18]
  • Bagaimanakah masyarakat umum melihatnya sebagai natural (baca: tidak ribut) pada kisah pernikahan buyut dari artis terkenal Lionel Richie, J.L Brown dengan Volenderver, usia 50 dengan 15 tahun di tahun 1800-an yang terkuak pada sebuah acara televisi pencarian lajur nenek moyang yang berjudul “Who Do You Think You Are?” with Lionel Richie? Bagaimanakah juga mengenai catatan sejarah yang menyebutkan bahwa Gereja Katolik menyatakan bahwa perempuan usia 12 tahun boleh dan sah menikah tanpa ijin orang tuanya di abad 12 (John Noonan, “The Power to Choose” Viator 4 (1973), hlm. 419–434)? Lalu bagaimanakah penilaian atas tradisi the walking marriage (zuo hun) di dalam tradisi suku Musuo di China sebagai unik dan bukan evil ketika perempuan mulai menikah [meski bebas namun lazim boleh] pada usia 13 tahun? Lalu bagaimanakah dengan kenormalan kisah legalitas pernikahan gadis usia di atas 7 tahun (atau di bawah 12 tahun) di abad 17-nya Inggris dan usia 13 tahun di abad 19-nya Perancis (Vern Leroy Bullough, “Age of Consent”, Encyclopedia of Children and Childhood in History and Society)? Atau bila hendak membandingkan dengan usia perkawinan di Indonesia di awal abad 20, novel Sitti Nurbaja (1922, 1960: 20) bisa memberikan informasi bahwa usia 12 tahun adalah usia normal pernikahan.
  • Bagaimanakah sebuah diskursus evilisasi Islam lewat labelisasi kepada Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sebagai seorang paedophile tidak berlaku misalnya dalam sejarah Eropa ketika lima abad sesudah pernikahan Aisyah r.a. dengan Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ terjadi pernikahan Raja John dari Inggris yang berusia 33 tahun dengan Isabella of Angouleme yang berusia 12 tahun.[19]Juga misalnya melekatkan istilah paedophilia bisa saja di dalam Bible mengenai pernikahan Maryam dan Yusuf[20] dan teks Talmudic.[21]Apakah di dalam tafsir Biblikal maupun Talmudic terdapat perubahan tafsir mengenai wanita yang dianggap sudah dewasa bersamaan dengan perubahan waktu (mis. Imamat 15 dan Bilangan 31: 7, 17-18)? Mengapa ada ‘pemisahan’ satu kisah (Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dengan Aisyah r.a.) dengan kisah-kisah lain yang ada di dalam sejarah manusia. Adakah motif yang tampak dari pengucilan kisah pernikahan Asiyah r.a. dengan Rasulullah saw. terhadap kisah-kisah lain di dalam pelabelan paedophilia? Mengapakah kisah Rasulullah صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ digembar-gemborkan dengan penilaian yang sifatnya presentisme sedangkan kisah lainnya dikembalikan sesuai konteks sejarahnya?
King John 1199-1216 (Credit: Englishmonarchs.co.uk)

King John 1199-1216 (Credit: Englishmonarchs.co.uk)

  • Bagaimanakah kemudian persepsi masyarakat mengenai pernikahan orang yang dianggap ‘dewasa’ dengan orang yang berusia ‘sama dengan atau kurang dari 13 tahun’ berubah bersamaan dengan waktu dan pemahaman tentang ini sebagaimana studi McCartan K?[22]Apakah ini ada keterkaitannya dengan munculnya istilah paedophilia di dalam psikologi sebagai kelainan psikologis dan kemudian istilah ini mengalami penyebaran semenjak saat itu dan lalu diyakini sebagai ‘suatu norma yang diterima’?
  • Bagaimanakah sebuah kejadian yang terjadi di suatu tempo di masa lain diletakkan di dalam pengertian dan pemahaman historis? Adakah sesuatu yang dianggap normal pada suatu waktu di masa lampau adalah sesuatu yang normal? Adakah gejolak yang timbul dari sebuah kejadian yang menandakan bahwa hal demikian adalah ‘menyimpang’ ataukah ‘biasa saja’? Apakah ada gejolak pada pernikahan dengan beda usia seperti pernikahan Aisyah r.a. dengan Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ saat itu? Adakah pernikahan dengan usia yang seperti itu sejaman dengannya? Bagaimanakah manusia beda jaman menerima, mempersepsikan, dan lalu menafsirkan suatu kejadian dalam konteks ini pernikahan Aisyah r.a. dengan Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ?

Berdasarkan beberapa poin di atas, pernikahan Aisyah r.a. berusia sekitar 9 tahun dan Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sekitar 50 tahun [menurut pendapat valid yang ditarik dari argumen-argumen Ar-rahimy], dapat dan memang harus dianggap sebagai normal ketika kita melihatnya sesuai kondisi saat itu. Ketika melihatnya menggunakan perspektif sekarang maka pernikahan seseorang yang berusia 9 tahun dengan seseorang yang berusia 50 tahun adalah ‘tidak normal.’ Di sinilah permainan diskursus terjadi. Secara definitif, istilah paedophilia dilekatkan di dalam diskursus ‘kelainan seksual’ dan ‘usia 13 tahun’ saja secara nonhistoris dan non-intertekstual kepada kejadian pernikahan antara Aisyah r.a dengan Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Tulisan ini tadi dimulai dengan kisah Khadija r.a. dengan Rasulullah bukan tanpa alasan. Saya khawatir bahwa kisah selisih umur 15 tahunan antara Khadija r.a. dengan Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang bersandar pada riwayat yang kurang kuat adalah bentuk ‘sanggahan tersembunyi’ yang sejatinya tidak tepat.

Seakan-akan ‘pemercayaan’ pada kisah bahwa Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang berusia 25 tahunan saat menikahi Khadija r.a. yang jauh lebih tua usianya (40 tahunan) sebagaimana kisah matruk tersebut menjadi hujah penyanggah ‘paedophile tidak bisa menyukai (lalu menikahi) wanita yang lebih tua’. Ada yang salah dengan keterjebakan pola pikir demikian karena menuruti sulutan labelisasi Rasulullah  صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sebagai paedophile. Keadaan ini terjadi karena argumen dimulai dari diskursus ‘paedophilia’ dan bukan dari kekompleksan pilin diskursus ‘paedophilia yang kemudian disebut demikian’ dan ‘apa yang bukan phaedophilia’.

Dengan memakai manual ala Foucault mengenai ruwet diskursus dan bagaimana menyingkapnya, maka bakal tampaklah hal yang jelas. Pelabelan paedophile kepada Rasulullah saw., jika hendak berbicara adil dan objektif, memang sebuah upaya untuk menampakkan Islam sebagai sesuatu yang jahat dan menakutkan; sebuah agama yang mengajarkan paedophilia.

Peletakan pengertian paedophilia dalam konteks waktu kini tidak bisa selalu tepat dipakai menilai sesuatu yang terjadi di masa lalu. Ada hal-hal tertentu yang bisa berubah bersamaan dengan waktu: perspektif, objektivitas, persepsi, subjektivitas; tak ada yang steril dari perubahan karena tempa pilin diskursus. Bagi Foucaut, esensialisme adalah sesuatu yang absurd. Dus, karena istilah paedophilia sebagai sebuah ‘kelainan seksual’ dengan definisi spesifik ada dan berlaku sekarang ini maka kepantasan seseorang yang ‘sudah cukup umur’ untuk menikah baiknya jadi pertimbangan di dalam menikah di masa sekarang.

Dan mungkin jika kembali kepada apa yang ada di dalam skriptur Islam sendiri tidak ada perintah untuk menikah pada usia tertentu jadi mengapa bersikeras melakukan pernikahan di abad 21 yang sudah dicelupi pemahaman mengenai diskursus paedophilia –yang oleh masyarakat disebut sebagai ‘perilaku menyimpang’– dengan ‘seseorang yang dianggap belum cukup umur’? Demikian.

Wallahu’alam.

Creative Commons License
Usia Khadija r.a. dan Aisyah r.a. Saat Itu by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

========================

Endnotes

[1] Yulian Purnama. 5 November 2013. “Pernikahan Rasulullah dengan Khadija Radhiallahu’anha.” Web. Diakses 1 September 2014 dari:

http://muslim.or.id/sejarah-islam/pernikahan-rasulullah-dengan-khadijah-radhiallahuanha.html

[2] Berdasarkan riwayat yang dikeluarkan Ibnu Sa’ad dalam Ath Thabaqah:

أخبرنا محمد بن عمر، أخبرنا المنذر بن عبد الله الحزامي، عن موسى بن عقبة عن أبي حبيبة، مولى الزبير قال: سمعت حكيم بن حزام يقول: تزوج رسول الله صلى الله عليه وسلم خديجة وهي ابنة أربعين سنة، ورسول الله صلى الله عليه وسلم ابن خمس وعشرين سنة

“Muhammad bin Umar (Al Waqidi) menuturkan kepadaku, Al Mundzir bin Abdillah Al Hizami menuturkan kepadaku, dari Musa bin ‘Uqbah, dari Abu Habibah maula Az Zubair, ia berkata: aku mendengar Hakim bin Hizam mengatakan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menikah dengan Khadijah ketika Khadijah berusia 40 tahun sedangkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berusia 25 tahun”. Riwayat ini lemah karena Muhammad bin Umar (Al Waqidi) statusnya matruk.

[3] Berdasarkan riwayat yang dikeluarkan Ibnu Sa’ad dalam Ath Thabaqah:

أخبرنا هشام بن محمد بن السائب، عن أبيه، عن أبي صالح عن ابن عباس قال: كانت خديجة يوم تزوجها رسول الله صلى الله عليه وسلم ابنة ثمان وعشرين سنة

“Hisyam bin Muhammad bin As Sa-ib menuturkan kepadaku, dari ayahnyam dari Abu Shilah dari Ibnu ‘Abbas ia berkata: Khadijah berusia 28 tahun ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menikahinya”. Riwayat ini juga lemah karena Hisyam bin Muhammad bin As Sa-ib statusnya matruk.

[4] Anonim. 17 Maret 2004. “Pernikahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.” Web. Diakses 1 September 2014 dari:

http://almanhaj.or.id/content/486/slash/0/pernikahan-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam/

[5] Saya tidak mendapati siapa sebenarnya penulis artikel tersebut.

[6] Perhatikan juga banyak kisah di sekitar Rasulullah saw. adalah disandarkan pada riwayat yang lemah atau bahkan palsu sebagaimana juga di situs muhammadiyah.or.id nyatakan sebagai sanggahan mengenai ‘fitnah’ kepada kisah Muhammad saw. dengan Khadija r.a.

(cf. http://www.muhammadiyah.or.id/id/13-content-37-det-nabi-muhammad.html)

[7] Umar Mansur Ar-rahimy. 7 Januari 2014. “Hadist Pernikahan Aisyah dengan Rasulullah.” Web. Diakses 1 September 2014 dari:

http://umar-arrahimy.blogspot.com.au/2014/01/hadits-pernikahan-aisyah-dengan.html

Teks tulisan Ar-rahimy adalah sebagai berikut:

Ibnu Abdil Barr (463H) rahimahullah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Aisyah radhiyallahu ‘anha di Mekah dua tahun sebelum hijrah, ini adalah pendapat Abu Ubaidah. Sedangkan yang lainnya berkata: Tiga tahun sebelum hijrah, dan saat itu Aisyah berumur enam tahun. Ada yang berpendapat: Tujuh tahun.

Dan Rasulullah mulai serumah dengan Aisyah ketika di Madinah saat umurnya sembilan tahun, aku tidak mengetahui adanya perselisihan ulama akan hal ini. [Al-Istii’aab fii ma’rifatil Ashhaab 4/1881]

Imam An-Nawawy (676H) rahimahullah mengatakan: Riwayat yang paling banyak adalah enam tahun, dan untuk meyatukan kedua riwayat itu; bahwa umur Aisyah pada waktu itu enam tahun beberapa bulan, memasuki umur tujuh tahun. [Syarh Sahih Muslim 9/207]

Al-‘Ainiy (855H) rahimahullah berkata: Ulama berselisih tentang umur Aisyah waktu mulai berumah tangga bersama Rasulullah. Al-Waqidiy berkata: Umurnya enam tahun. Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas: Umurnya tujuh tahun. Dan yang paling benar adalah  umurnya saat itu Sembilan tahun, karena Rasulullah menikahinya tiga tahun sebelum hijrah, dan Rasulullah wafat saat umurnya delapan belas tahun. [‘Umdatul Qaariy syarh sahih Al-Bukhariy 17/34]

Hadits yang menyebutkan umur Aisyah saat dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diiriwayatkan oleh Aisyah sendiri.

Dan yang meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha: (1) Urwah bin Az-Zubair Al-Madaniy (94H), (2) Al-Aswad bin Yaziid Al-Kuufiy (74H), (3) Abu Salamah bin Abdurrahman Al-Madaniy (94H), (4) Abdullah bin Abi Mulaikah Al-Makkiy (117H), (5) Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr Ash-Shiddiiq Al-Madaniy (106H), (6) Abdul Malik bin Umair Al-Kuufiy (136H), (7) Abu ‘Ubaidah bin Abdillah bin Mas’ud Al-Kuufiy (180H), (8) Yahya bin Abdirrahman bin Haathib Al-Madaniy (104H).

Hadits Urwah bin Az-Zubair, dari Aisyah.

Yang meriwayatkan dari Urwah: (1) Hisyam bin Urwah Al-Madaniy (145H), (2) Az-Zuhriy Muhammad bin Muslim Al-Madaniy (125H), (3) Abdullah bin ‘Urwah Al-Madaniy.

Hadits Hisyam bin Urwah, dari Urwah, dari Aisyah.

Yang meriwayatkan dari Hisyam: (1) Ali bin Mushir Al-Kuufiy (189H), (2) Abu Usamah Hammaad bin Usaamah Al-Kuufiy (201H), (3) Sufyan Ats-Tsauriy Al-Kuufiy (161H), (4) Wuhaib bin Khaalid Al-Bashriy (165H), (5) Abu Mu’awiyah Muhammad bin Khazim Al-Kuufiy (295H), (6) ‘Abdah bin Sulaiman Al-Kuufiy (187H), (7) Isma’il bin Zakariya Al-Khulqaaniy Al-Kuufiy (194H), (8) Abdurrahman bin Abi Az-Zinaad Al-Madaniy (174H), (9) Ja’far bin Sulaiman Adh-Dhuba’iy Al-Bashriy (178H), (10) Hammaad bin Zayd Al-Bashriy (179H), (11) Hammaad bin Salamah Al-Bashriy (167H), (12) Jariir bin Abdul Hamiid Al-Kuufiy (188H), (13) Sufyan bin ‘Uyainah Al-Kuufiy (198H).

1) Hadits Ali bin Mushir, dari Hisyam, dari Urwah, dari Aisyah.

Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhariy (256H) rahimahullah dalam kitabnya “Ash-Shahiih” 5/55 no.3894:

قال: حَدَّثَنِي فَرْوَةُ بْنُ أَبِي المَغْرَاءِ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: «تَزَوَّجَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ، فَقَدِمْنَا المَدِينَةَ فَنَزَلْنَا فِي بَنِي الحَارِثِ بْنِ خَزْرَجٍ، فَوُعِكْتُ فَتَمَرَّقَ شَعَرِي، فَوَفَى جُمَيْمَةً فَأَتَتْنِي أُمِّي أُمُّ رُومَانَ، وَإِنِّي لَفِي أُرْجُوحَةٍ، وَمَعِي صَوَاحِبُ لِي، فَصَرَخَتْ بِي فَأَتَيْتُهَا، لاَ أَدْرِي مَا تُرِيدُ بِي فَأَخَذَتْ بِيَدِي حَتَّى أَوْقَفَتْنِي عَلَى بَابِ الدَّارِ، وَإِنِّي لَأُنْهِجُ حَتَّى سَكَنَ بَعْضُ نَفَسِي، ثُمَّ أَخَذَتْ شَيْئًا مِنْ مَاءٍ فَمَسَحَتْ بِهِ وَجْهِي وَرَأْسِي، ثُمَّ أَدْخَلَتْنِي الدَّارَ، فَإِذَا نِسْوَةٌ مِنَ الأَنْصَارِ فِي البَيْتِ، فَقُلْنَ عَلَى الخَيْرِ وَالبَرَكَةِ، وَعَلَى خَيْرِ طَائِرٍ، فَأَسْلَمَتْنِي إِلَيْهِنَّ، فَأَصْلَحْنَ مِنْ شَأْنِي، فَلَمْ يَرُعْنِي إِلَّا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضُحًى، فَأَسْلَمَتْنِي إِلَيْهِ، وَأَنَا يَوْمَئِذٍ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ»

‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menikahiku saat aku berusia enam tahun, lalu kami tiba di Madinah dan singgah di kampung Bani Al-Harits bin Khazraj. Kemudian aku menderita demam hingga rambutku menjadi rontok. Setelah sembuh, rambutku tumbuh lebat sehingga melebihi bahu. Kemudian ibuku, Ummu Ruman datang menemuiku saat aku sedang berada dalam ayunan bersama teman-temanku. Ibuku berteriak memanggilku lalu aku datangi sementara aku tidak mengerti apa yang diinginkannya. Ibuku menggandeng tanganku lalu membawaku hingga sampai di depan pintu rumah. Aku masih dalam keadaan terengah-engah hingga aku menenangkan diri sendiri. Kemudian ibuku mengambil air lalu membasuhkannya ke muka dan kepalaku lalu dia memasukkan aku ke dalam rumah itu yang ternyata di dalamnya ada para wanita Anshar. Mereka berkata: “Mudah-mudahan memperoleh kebaikan dan keberkahan dan dan mudah-mudahan mendapat nasib yang terbaik”. Lalu ibuku menyerahkan aku kepada mereka. Mereka merapikan penampilanku. Dan tidak ada yang membuatku terkejut melainkan keceriaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Akhirnya mereka menyerahkan aku kepada beliau dimana saat itu usiaku sembilan tahun“.

2)  Hadits Abu Usamah, dari Hisyam, dari Urwah, dari Aisyah.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim (261H) rahimahullah dalam kitabnya “Ash-Shahiih” 2/1038 no.1422:

قال: حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، ح . وحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، قَالَ: وَجَدْتُ فِي كِتَابِي عَنْ أَبِي أُسَامَةَ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: «تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِسِتِّ سِنِينَ، وَبَنَى بِي وَأَنَا بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ»

3)  Hadits Sufyan Ats-Tsauriy, dari Hisyam, dari Urwah, dari Aisyah.

Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhariy dalam kitabnya “Ash-Shahiih” 7/17 no.5133:

قال: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزَوَّجَهَا وَهِيَ بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ، وَأُدْخِلَتْ عَلَيْهِ وَهِيَ بِنْتُ تِسْعٍ، وَمَكَثَتْ عِنْدَهُ تِسْعًا»

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwasanya; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menikahinya saat ia berumur enam tahun, dan ia digauli saat berumur sembilan tahun. Dan Aisyah hidup bersama dengan beliau selama sembilan tahun.

4)  Hadits Wuhaib dari Hisyam, dari Urwah, dari Aisyah.

Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhariy dalam kitabnya “Ash-Shahiih” 7/17 no.5134:

قال: حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ، حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزَوَّجَهَا وَهِيَ بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ، وَبَنَى بِهَا وَهِيَ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ» قَالَ هِشَامٌ: وَأُنْبِئْتُ «أَنَّهَا كَانَتْ عِنْدَهُ تِسْعَ سِنِينَ»

5)  Hadits Abu Mu’awiyah dan ‘Abdah bin Sulaiman, dari Hisyam, dari Urwah, dari Aisyah.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya “Ash-Shahiih” 2/1039 no.1422:

قال: وحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، أَخْبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، ح . وحَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ، وَاللَّفْظُ لَهُ، حَدَّثَنَا عَبْدَةُ هُوَ ابْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: «تَزَوَّجَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ، وَبَنَى بِي وَأَنَا بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ»

6)      Hadits Isma’il bin Zakariya, dari Hisyam, dari Urwah, dari Aisyah.

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur (227H) rahimahullah dalam kitabnya “As-Sunan” 1/145 no.515:

قَالَ: نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ زَكَرِيَّا، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: «تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا ابْنَةُ سِتِّ سِنِينَ، وَبَنَى بِي وَأَنَا ابْنَةُ تِسْعِ سِنِينَ»

7)  Hadits Abdurrahman bin Abi Az-Zinaad, dari Hisyam, dari Urwah, dari Aisyah.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (241H) rahimahullah dalam kitabnya “Al-Musnad” 41/360 no.24867:

قال: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَتْ عَائِشَةُ: ” تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا ابْنَةُ سِتِّ سِنِينَ بِمَكَّةَ، مُتَوَفَّى خَدِيجَةَ، وَدَخَلَ بِي وَأَنَا ابْنَةُ تِسْعِ سِنِينَ بِالْمَدِينَةِ “

8)  Hadits Ja’far bin Sulaiman, dari Hisyam, dari Urwah, dari Aisyah.

Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy (303H) rahimahullah dalam kitabnya “As-Sunan Al-Kubraa” 5/170 no.5347:

قال: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ النَّضْرِ بْنِ مُسَاوِرٍ الْمَرْوَزِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: «تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِسَبْعِ سِنِينَ، وَدَخَلَ عَلَيَّ لِتِسْعِ سِنِينَ»

9)  Hadits Hammaad bin Zayd, dari Hisyam, dari Urwah, dari Aisyah.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud (275H) rahimahullah dalam kitabnya “As-Sunan” 2/239 no.2121:

قال: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، وَأَبُو كَامِلٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: «تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا بِنْتُ سَبْعٍ». قَالَ سُلَيْمَانُ: أَوْ سِتٍّ وَدَخَلَ بِي وَأَنَا بِنْتُ تِسْعٍ ” .

10) Hadits Hammaad bin Salamah, dari Hisyam, dari Urwah, dari Aisyah.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitabnya “Al-Musnad” 43/404 no.26397:

قال: حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ مُوسَى، قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: ” تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَفَّى خَدِيجَةَ، قَبْلَ مَخْرَجِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ بِسَنَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثٍ، وَأَنَا بِنْتُ سَبْعِ سِنِينَ، فَلَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ جَاءَتْنِي نِسْوَةٌ وَأَنَا أَلْعَبُ فِي أُرْجُوحَةٍ، وَأَنَا مُجَمَّمَةٌ، فَذَهَبْنَ بِي، فَهَيَّأْنَنِي وَصَنَعْنَنِي، ثُمَّ أَتَيْنَ بِي رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَنَى بِي وَأَنَا بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ ”

Aisyah berkata; “Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku setelah Khadijah wafat dan dua tahun atau tiga tahun sebelum kepergian beliau ke Madinah. Sementara aku sedang berumur tujuh tahun. Ketika kami datang ke Madinah, para wanita mendatangiku sementara aku sedang bermain-main di Urjuhah dan rambutku masih turun di antara telingaku. Lalu mereka membawaku pergi dan mempersiapkanku serta menghiasiku. Mereka membawaku kepada Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau mulai membangun keluarga denganku ketika aku berumur sembilan tahun.”

11) Hadits Jariir, dari Hisyam, dari Urwah, dari Aisyah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud (316H) rahimahullah dalam kitabnya “Musnad Aisyah” no.34:

قال: حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى، ثنا جَرِيرٌ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا بِنْتُ سَبْعِ سِنِينَ، وَبَنَى بِي وَأَنَا بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ .

12) Hadits Sufyan bin ‘Uyainah, dari Hisyam, dari Urwah, dari Aisyah.

Diriwayatkan oleh Imam Asy-Syafi’iy (204H) rahimahullah dalam kitabnya “Al-Musnad” hal.275:

قال: أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ: «تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا بِنْتُ سَبْعِ سِنِينَ، وَبَنَى بِي وَأَنَا بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ»

Sufyan bin ‘Uyainah berkata: Hadits ini adalah salah satu hadits terbaik yang diriwayatkan Hisyam dari bapaknya. [Musnad Al-Humaidiy 1/273 no.233]

Hadits Az-Zuhriy, dari Urwah, dari Aisyah.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya “Ash-Shahiih” 2/1039 no.1422:

قال: وحَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزَوَّجَهَا وَهِيَ بِنْتُ سَبْعِ سِنِينَ، وَزُفَّتْ إِلَيْهِ وَهِيَ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ، وَلُعَبُهَا مَعَهَا، وَمَاتَ عَنْهَا وَهِيَ بِنْتُ ثَمَانَ عَشْرَةَ»

‘Aisyah; “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menikahinya ketika dia berusia tujuh tahun, dan dia diantar ke kamar beliau ketika berusia sembilan tahun, dan ketika itu dia sedang membawa bonekanya, sedangkan beliau wafat darinya ketika dia berusia delapan belas tahun.”

Hadits Abdullah bin Urwah, dari Urwah, dari Aisyah.

Diriwayatkan oleh Al-‘Ijliy (261H) rahimahullah dalam kitabnya “Ats-Tsiqaat” 2/455:

قال: حَدثنَا أَبُو مُسلم حَدثنِي أبي حَدثنَا أَبُو دَاوُد الْحَفرِي عَن سُفْيَان عَن إِسْمَاعِيل بن أُميَّة عَن عبد الله بن عُرْوَة عَن عُرْوَة عَن عَائِشَة قَالَت تزوجنى رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم وَأَنا بنت سِتّ سِنِين وَدخل بِي وانا بنت تسع سِنِين وَبنى بِي فِي شَوَّال . فأى نِسَائِهِ كَانَ احظى عِنْده مني ؟

‘Aisyah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahiku saat aku berumur enam tahun, menggauliku saat aku berumur sembilan tahun, dan mulai berumah tangga bersamaku di bulan Syawal. Maka istri Rasulullah yang manakah yang lebih beruntung dariku?

Hadits Al-Aswad, dari Aisyah.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya “Ash-Shahiih” 2/1039 no.1422:

قال: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، وَإِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَأَبُو كُرَيْبٍ، قَالَ يَحْيَى، وَإِسْحَاقُ: أَخْبَرَنَا، وقَالَ الْآخَرَانِ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنِ الْأَسْوَدِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: «تَزَوَّجَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ بِنْتُ سِتٍّ، وَبَنَى بِهَا وَهِيَ بِنْتُ تِسْعٍ، وَمَاتَ عَنْهَا وَهِيَ بِنْتُ ثَمَانَ عَشْرَةَ»

Hadits Abu Salamah bin Abdurrahman, dari Aisyah.

Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy dalam kitabnya “As-Sunan” 6/131 no.3379:

قال: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ سَعْدِ بْنِ الْحَكَمِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَمِّي، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ، قَالَ: أَخْبَرَنِي عُمَارَةُ بْنُ غَزِيَّةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: «تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ، وَبَنَى بِهَا وَهِيَ بِنْتُ تِسْعٍ»

Hadits Ibnu Abi Mulaikah, dari Aisyah.

Diriwayatkan oleh Ishaaq bin Raahawaih (238H) rahimahullah dalam kitabnya “Al-Musnad” 3/1033 no.1784:

قال: أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، نا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنِ الْأَجْلَحُ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزَوَّجَهَا وَهِيَ بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ وَدَخَلَ بِهَا وَهِيَ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ .

Hadits Al-Qasim bin Muhammad, dari Aisyah.

Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraniy (360H) rahimahullah dalam kitabnya “Al-Mu’jam Al-Kabiir” juz 23, hal.22 dan 28, no.52 dan 69:

عن سُفْيَان، عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: ” تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ، وَبَنَى بِي وَأَنَا بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ، وَبَنَى عَلَيَّ فِي شَوَّالٍ، فَأَيُّ نِسَائِكُمْ كَانَ أَحْظَى مِنِّي؟

Hadits Abdul Malik bin Umair dari, Aisyah.

Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraniy dalam kitabnya “Al-Mu’jam Al-Kabiir” 23/29 no.74:

قال: حَدَّثَنَا أَبُو مُسْلِمٍ الْكَشِّيُّ، ثنا سَهْلُ بْنُ بَكَّارٍ، ثنا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: ” أُعْطِيتُ خِصَالًا مَا أُعْطِيَتْهَا امْرَأَةٌ: مَلَكَنِي وَأَنَا بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ، وَأَتَاهُ الْمَلَكُ بِصُورَتِي فِي كَفِّهِ فَنَظَرَ إِلَيْهَا، وَبَنَى بِي وَأَنَا بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ، وَرَأَيْتُ جِبْرِيلَ وَلَمْ تَرَهُ امْرَأَةٌ غَيْرِي، وَكُنْتُ أَحَبَّ نِسَائِهِ إِلَيْهِ، وَكَانَ أَبِي أَحَبَّ أَصْحَابِهِ إِلَيْهِ، وَمَرِضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرْضَتَهُ وَلَمْ تَشْهَدْهُ غَيْرِي وَالْمَلَائِكَةُ “

Aisyah berkata: Aku diberi beberapa hal yang tidak diberikan kepada wanita lain: Aku dinikahi oleh Rasulullah saat aku berumur enam tahun, Rasulullah didatangi malaikat dalam bentuk rupaku di telapak tangannya kemudian Rasulullah melihatnya, Rasulullah mulai hidup berumah tangga bersamaku saat aku berumur sembilan tahun, aku melihat Jibril dan tidak pernah dilihat oleh wanita selainku, aku adalah wanita yang paling dicintai Rasulullah, bapaku adalah sahabatnya yang paling ia cintai, dan Rasulullah sakit dan tidak ada yang menyaksikannya selain aku dan para Malaikat.

Hadits Abu ‘Ubaidah, dari Aisyah.

Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy dalam kitabnya “As-Sunan Al-Kubraa” 5/170 no.5349:

قال: أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْثَرُ، عَنْ مُطَرِّفٍ وَهُوَ ابْنُ طَرِيفٍ الْكُوفِيُّ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ، قَالَ: قَالَتْ عَائِشَةُ: «تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِتِسْعِ سِنِينَ، وَصَحِبْتُهُ تِسْعًا»

Hadits Yahya bin Abdiirahman bin Haathib, dari Aisyah.

Diriwayatkan oleh Abu Ya’laa (307H) rahimahullah dalam kitabnya “Al-Musnad” 8/132 no.4673:

قال: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَامِرِ بْنِ زُرَارَةَ الْحَضْرَمِيُّ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ زَكَرِيَّا بْنِ أَبِي زَائِدَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حَاطِبٍ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «تَزَوَّجَهَا وَهِيَ بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ، وَبَنَى بِهَا وَهِيَ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ. زَوَّجَهَا إِيَّاهُ أَبُو بَكْرٍ»

Wallahu a’lam!

[8] Maulana Muhammad Ali adalah seorang Ahmadiyah. Bagi saya, Ahmadiyah adalah bukan bagian dari mainstream Islam sebagaimana juga Syiah. Pandangan saya mengenai kedua sekte ini adalah merujuk kepada fatwa banyak ulama. Jikalau ada tulisan-tulisan saya yang mengutip pendapat dari kaum Syiah (mis. pada tulisan saya tentang demokrasi, tulisan saya mengenai ISIS) maka saya merujuk dalam konteks –yang anggap saja– serupa jikalau saya menulis tentang ‘melihat dan lalu menilai sesuatu’ (mis. tentang Sastra) saya kadang memakai pendapat dari si fulan ini dan itu. Ini tidak lantas diartikan bahwa pasti saya mengekor pendapat mereka semua. Kutipan pendapat dari mereka adalah sebagai ‘bandingan’. Wallahu’alam wallahu musta’an.

[9] Maulana Muhammad Ali dalam Zaid Aziz. Tanpa Tanggal. “Age of Aisha (ra) at time of marriage.” Web. Diakses 1 September 2014 dari:

http://www.muslim.org/islam/aisha-age.htm

[10] Ibid

[11] T.O. Shavanaz. Maret 1999. “Was Ayesha A Six-Year-Old Bride? The Ancient Myth Exposed.” The Minaret . Web. Diakses 1 September 2014 dari:

http://www.ilaam.net/Articles/Ayesha.html

[12] Ibid

[13] David Liepert. 29 Januari 2011. “Rejecting the Myth of Sanctioned Child Marriage in Islam”. Web. Diakses 1 September 2014 dari:

http://www.huffingtonpost.com/dr-david-liepert/islamic-pedophelia_b_814332.html

[14] Umar Mansur Ar-rahimy. 7 Juni 2011. “Pernikahan Aisyah dengan Rasulullah.” Web. Diakses 1 September 2014.

Bantahan terhadap tulisan Shavanaz oleh Ar-rahimy dapat dibaca sebagai berikut ini:

Allah berfirman yang artinya:  Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (al-Hujuraat:6)

Setelah meneliti syubhat (argument lemah) yang dipaparkan penulis dan melihat langsung buku asli yang dijadikan rujukan, kami menyimpulkan bahwa argumen yang ia sebutkan berlandaskan beberapa faktor: 1) Sengaja melencengkan kandungan buku-buku turas Islam sesuai hawa nafsunya. 2) Atau ia salah faham dengan maksud para ulama dalm buku-buku mereka (jahlun murakkab). 3)Tidak akurat dalam menukil perkataan ulama, dan cuma menukil apa yang sesuai dengan hawa nafsunya. 4) Mengklaim sesuatu tanpa dasar/bukti.

….

BUKTI #1: PENGUJIAN TERHADAP SUMBER

Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq!!!!

Jawaban:

Riwayat Hisyam bin Urwah terdapat dalam shahih Al-Bukhari dan Muslim, sunan Abu daud, An-nas’I, dan Ibnu Majah, Musnad Ahmad dan banyak lagi yang lain.

Hisyam meriwayatkan dari bapaknya (Urwah bin Az-zubair) dari Aisyah, Rasulullah mengawini (akad nikah) nya ketika berumur 6 tahun, mulai hidup bersama ketika berumur 9 tahun, dan mendampingi Rasulullah selama 9 tahun. (Ini salah satu lafadz dari Imam Al-Bukhari).

Dan salah satu lafadz dari Imam Muslim : “Rasulullah wafat ketika Aisyah berumur 18 tahun”.

Memang kebanyakan perawi yang meriwayatkan hadits ini dari Hisyam adalah orang ‘Iraq; akan tetapi dalam Musnad Imam Ahmad, At-Thabaqat Ibnu Sa’ad, dan Mu’jam Al-Kabir At-Tabrany menyebutkan bahwa Abdul Rahman bin Abi Az-Zinad Al-Madany (orang Madinah) juga meriwayatkan hadits ini dari Hisyam.

Dalam Musnad Al-Humaedy, Sufyan Ats-Tsaury Al-Kufy (salah seorang yang meriwayatkan dari Hisyam) mengatakan: Hadits ini adalah salah satu hadits terbaik yang diriwayatkan Hisyam dari Bapaknya.

Ingatan Hisham sangatlah jelek dan riwayatnya setelah pindah ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya!!!!

Jawaban:

Selain Ya’qub bin Syaibah dan satu riwayat dari Imam Malik, sebagian besar ulama sepakat bahwa Hisyam adalah tsiqah (haditsnya kuat) tanpa pengecualian. Diantara ulama yang menerima periwayatan Hisyam secara mutlak adalah Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Al-‘Ijly, Abu Hatim, Wahb, Ibnu Hibban, Al-Aswad, Ibnu Hajar dan Az-Zahaby. (Lihat Tahdzib At-Tahdzib)

Imam Az-Zahabi dalam “Mizanu al-I`tidal” dan “Siyar A’lam” sangat memuji riwayat Hisyam dan membantah pendapat Ya’qub dan riwayat dari Imam Malik.

Ibnu Hajar dalam Tahdzib At-Tahdzib mengatakan: Alasan Ya’qub menolak riwayat Hisyam sewaktu di Iraq, karena Hisyam ketika ke Irak untuk yang ke tiga kalinya, Ia terkadang menjatuhkan (tidak menyebutkan) gurunya ketika meriwayatkan hadits yang tidak secara langsung ia peroleh dari bapaknya.

Oleh karena itu Ibnu Hajar dalam kitabnya “At-Taqrib” (ringkasan dan kesimpulan dari Tahdzib At-Tahdzib) mengklaim bahwa Hisyam adalah tsiqah, faqih (ahli fiqh) dan terkadang melakukan tadlis (menjatuhkan perantara antara dia dengan gurunya ketika meriwayatkan hadis yang tidak ia terima langsung dari gurunya)

Imam Az-Zahabi dalam “Mizanu al-I`tidal” memang mengakui adanya sedikit penurunan pada hafalan Hisyam di akhir usianya. Akan tetapi beliau mengganggap bahwa perubahan itu wajar saja dan tidak mempengaruhi periwayatannya. Olehnya itu di awal biografi hisyam beliau mengatakan bahwa Hisyam adalah salah satu ulama besar (al-A’lam), hujjah (rujukan ketika ada perselisihan dlm riwayat), dan seorang Imam (dalam periwayatan). Bahkan Az-Zahabi menggelarinya syek Islam.

Kesimpulan: Riwayat Hisyam tidak jelek. Penulis tidak amanah dan tdak bisa dipercaya ketika menukil dari Ibnu Hajar dan Az-Zahabi  !!!!.

Seharusnya minimal 2 atau 3 orang harus mencatat hadist serupa juga!!!!

Jawaban:

Untuk menerima suatu hadits, ulama tidak menyaratkan perawinya harus lebih dari satu orang. Selama ia tsiqah, apapun yang ia riwayatkan akan diterima selama tidak menyalahi riwayat orang yang lebih kuat dan tsiqah.

Akan tetapi dalam hadits ini Hisyam tidak sendiri meriwayatkan dari bapaknya (Urwah bin Az-Zubair); Imam Az-Zuhry (dalam shahih Muslim, Musnad Ahmad, Mushannaf Abdul Razaq, Sunan Al-Kubra An-Nasa’I, Mu’jam Al-Kabir At-Thabrany, dan Syarh As-Sunnah Al-Bagawy) juga meriwayatkan dari Urwah.

Dan yang meriwayatkan dari Aisyah bukan cuma Urwah saja; Al-Aswad bin Yazid An-Nakha’I (dalam shahih Muslim), Abu Salamah bin Abdul Rahman (dalam Sunan An-Nasa’i), Ibnu Abi Mulaikah (dalam Sunan Al-Kubra An-Nasai dan Mu’jam Al-Aushat At-Thabarany), Al-Qasim bin Muhammad dan Abdul Malik bin Umaer (dalam Mu’jam Al-Kabir At-Thabarany), dan Yahya bin Abdul Rahman (dalam Musnad Abu Ya’la), mereka juga meriyatkan hadits ini dari Aisyah.

Dan bukan cuma Aisyah yang menceritakan kisah ini; Abdullah bin Mas’ud (dalam Sunan Al-Kubra An-Nasai dan Mu’jam Al-Kabir At-Thabarany) juga meriwayatkannya.

Kesimpulan: Hisyam tidak sendiri meriwayatkan kisah ini !!!!

BUKTI #2: MEMINANG

Menurut Thabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad), Aisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun.

Jawaban:

Dalam shahih Muslim memang disebutkan riwayat bahwa Aisyah dipinang pada usia 7 tahun.

Imam An-Nawawy mengatakan: Riwayat yang paling banyak adalah 6 tahun, dan untuk meyatukan kedua riwayat itu; bahwa umur Aisyah pada waktu itu 6 tahun beberapa bulan, memasuki umur 7 tahun. [Syarh Sahih Muslim 9/207]

At-Thabari mengatakan: ”Semua anak Abu Bakr (4 orang) dilahirkan pada masa jahiliyah dari 2 isterinya”

Jawaban:

            Penulis tidak akurat dalam menukil dari At-Thabary !!! ; Imam At-Thabary mengatakan :

حدث علي بن محمد عمن حدثه ومن ذكرت من شيوخه قال : تزوج أبو بكر في الجاهلية قتيلة (ووافقه على ذلك الواقدي والكلبي قالوا : وهي قتيلة ابنة عبدالعزى بن عبد بن أسعد بن جابر بن مالك بن حسل بن عامر بن لؤي)، فولدت له عبد الله وأسماء . وتزوج أيضا في الجاهلية أم رومان بنت عامر بن عميرة بن ذهل بن دهمان بن الحارث بن غنم بن مالك بن كنانة (وقال بعضهم : هي أم رومان بنت عامر بن عويمر بن عبد شمس بن عتاب بن أذينة بن سبيع بن دهمان بن الحارث بن غنم بن مالك بن كنانة)، فولدت له عبدالرحمن وعائشة . فكل هؤلاء الأربعة من أولاده ولدوا من زوجتيه اللتين سميناهما في الجاهلية [تاريخ الطبري (2/  351)]

Ali bin Muhammad meriwayatkan dari para gurunya bahwa Abu Bakr kawin dengan Qutailah bint Abdul Uzza pada masa Jahiliyah, dari rahimnya lahir Abdullah dan Asma. Dan pada masa jahiliah, juga kawin dengan Ummu Rumman bint Amir, melahirkan Abdul Rahman dan Aisyah. Jadi keempat anak Abu Bakr lahir dari kedua istrinya yang dinikahi pada masa Jahiliyah. (demikian secara ringkas)

Jadi riwayat Imam At-Thabary tidak menunjukkan kalau Aisyah lahir di masa Jahiliyah. Dan penulis tidak paham atau sengaja tidak paham !!!!!

Buktinya, Ibnu Hajar dalam kitabnya “Al-Ishabah” mengatakan Aisya lahir 4 atau 5 tahun setelah Rasulullah diutus (setelah era jahiliyah).

Imam Al-Baehaqi dalam kitabnya “Sunan Al-Kubra” menukil perkataan Imam Ahmad bahwasanya Aisya lahir setelah ayahnya masuk Islam. Demikian pula pendapat Az-Zahaby dalam kitanya “Siyar A’lam An-Nubala”.

BUKTI # 3: Umur Aisyah jika dihubungkan dengan umur Fatimah

Menurut Ibn Hajar, ”Fatima dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi saw berusia 35 tahun… Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah”

Jawaban:

Penulis tidak akurat dalam menukil perkataan Ibnu Hajar!!!

Ibnu Hajar mengatakan:

اختلف في سنة مولدها ؛ فروى الواقدي عن طريق أبي جعفر الباقر قال : قال العباس : ولدت فاطمة والكعبة تبنى والنبي صلى الله عليه وسلم ابن خمس وثلاثين سنة . وبهذا جزم المدائني .

ونقل أبو عمر عن عبيد الله بن محمد بن سليمان بن جعفر الهاشمي ؛ أنها ولدت سنة إحدى وأربعين من مولد النبي صلى الله عليه وسلم وكان مولدها قبل البعثة بقليل نحو سنة أو أكثر . وهي أسن من عائشة بنحو خمس سنين . [الإصابة في تمييز الصحابة (8/  54)]

“Kelahiran Fatimah diperselisihkan, menurut Al-Abbas; ”Fatimah dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam berusia 35 tahun”.

Sedangkan menurut Ubaedillah bin Muhammad Al-Hasyimy; “Fatimah lahir ketika Rasulullah berumur 41 tahun, kelahiran Fatimah setahun atau lebih sebelum Rasulullah diutus, dan Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah”.

(Demikian secara ringkas kutipan dari Al-Ishabah).

Kesimpulan: Sesuai pendapat Ubaedillah, Rasulullah diutus ketika berumur kurang lebih 42 tahun; 13 tahun kemudian hijrah ke madinah ketika berumur 55 tahun; 2 tahun sebelum hijrah Rasulullah melamar Aisyah yg berumur 6 tahun dan Rasulullah berumur 53 tahun. Aisyah lahir ketika Rasulullah berumur kurang lebih 47 tahun. Jadi perbedaan umur Aisyah dan Fatimah sekitar 5 tahun.

BUKTI #4: Umur Aisyah dihitung dari umur Asma’

Menurut Abdur Rahman ibn Abi Zannad: ”Asma lebih tua 10 tahun dibanding Aisyah”

Menurut Ibn Kathir: ”Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah]”

Jawaban:

Pendapat kedua ulama di atas tidak bisa dibandingkan dengan riwayat Imam Bukahri dan Muslim yang kesahihannya disepakati oleh ummat khususnya ahli Hadits.

Oleh karena itu Imam Az-Zahabi mengatakan:

كانت أسن من عائشة ببضع عشرة سنة . [سير أعلام النبلاء (2/  288)]

“Asma lebih tua dari Aisya 13-19 tahun (bidh’I ‘asyarah).”

Kata bidh’I artinya 3-9. Jadi Imam Az-Zahabi tidak memastikan selisih umur Asma dan Aisya.

BUKTI #5: Perang BADAR dan UHUD

Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar.

Jawaban:

Kisah yang disebutkan dalam shahih Muslim tidak terjadi di medan perang Badar, tapi terjadi saat Rasulullah beserta pasukan hendak meninggalkan Madinah menuju Badar. Ini bisa dipahami dari dalam kisah tersebut dimana seseorang meminta izin kepada Rasulullah untuk diikutsertakan dalam perang Badr. [Sahih Muslim 5/200 no. 4803]

Oleh karena itu Imam An-Nawawy ketika mensyarah hadits tersebut mengatkan: perkataan Aisyah: حتى إذا كنا بالشجرة ”ketika kita mencapai Syajarah”, kemungkinan Aisyah hadir bersama orang-orang yang mengantar keberangkatan Rasulullah, atau kata “kita” maksudnya orang muslim yang hadir waktu itu. [Syarh sahih Muslim 12/199]

”Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, Orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. [pada hari itu,] Saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb].”

Jawaban:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab sahihnya 4/33 no. 2880.

Anas bin Malik wafat tahun 92H atau 93H di usianya yang ke 103 (lihat Tahdzib At-Tahdzib). Berarti waktu hijrah Anas berusia 10 tahun, ini menunjukkan bahwa Anas pun tidak mengikuti perang Uhud karena umurnya baru 13 tahun.

Ibnu Hajar ketika mensyarah hadts ini mengatakan: Saya tidak melihat (dari hadts ini) penyebutan secara jelas kalau para wanita ikut berperang (mengangkat senjata). Oleh karena itu Ibnu Al-Munir mengatakan: kemungkinan maksudnya (Imam Al-Bukahri dengan باب غزو النساء وقتالهن مع الرجال “bab peperangan wanita bersama laki-laki”) adalah mereka membantu mereka secara tidak langsung (yang sedang perang dgn mengambilkan anak panah dan lain-lain), atau mereka itu sekedar memberi minum kepada perajurit yang terluka dan membalas serangan jika terdesak. [Fathul Bary 6/78]

Pendapat ini juga didukung oleh Al-‘Aeny dlm Umdatul Qari (syarah shahih Al-Bukhary)

Jadi menurut saya, kejadian yang disaksikan Anas terjadi setelah perajurit kembali ke Madinah. Atau Anas ikut ibunya (Ummu Sulaim) dalam perang Uhud sekalipun tidak cukup umur seperti Aisyah karena mereka cuma membantu saja dan tidak ikut perang secara langsung.

Beda halnya dengan Ibnu Umar, tidak diizinkan oleh Rasulullah karena ia ingin ikut secara langsung di medan perang mengangkat senjata melawan orang musyrik. Sedangkan untuk kartegori ini tidak diizinkan kecuali yang berusia 15 tahun ke atas.

Atau, keikutsertaan Aisya pada perang Uhud untuk mendampingi Rasulullah. Dan kita ketahui kebiasaan Rasulullah mengundi para istrinya yang akan mendampingi ketika bepegian. Dan ternyata undian Aisyah yang naik, dan berhak mendampingi Rasulullah pada perang Uhud sekalipun tidak cukup usia.

Wallahu a’lam !!!

BUKTI #6: Surat al-Qamar (Bulan)

Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah (The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985)

Jawaban:

Syekh Muhammad Sayyid At-Thanthawy (mantan syekh azhar) dalam tafsirnya “Al-Wasith” mengatakan: bahwa kejadian terbelahnya bulan terjadi sekitar 5 tahun sebelum hijrah.

Demikian pula pendapat As’ad Humad dalam kitabnya “Aesar At-Tafasiir”. Ini adalah pendapat Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 6/632 kitab المناقب bab 27 ” سؤال المشركين …” .

Ibnu ‘Asyur dalam tafsirnya mengatakan: ayat pertama surah Al-Qamar turun sebagai saksi terjadinya pembelahan bulan dimasa Rasulullah mu’jizat yang diminta oleh orang Musyrik.

Kemudian mengatakan: kebanyakan ahli tafsir yang terdahulu atau yang belakangan mengatakan bahwa kejadian pembelahan bulan terjadi setelah awal surah al-Qamar turun, atau beberapa waktu sebelum ayat tersebut turun.

Kesimpulan: Surah 54 (al-Qamar) turun sekitar 5 tahun sebelum hijrah dan bukan 8 tahun. Berarti umur Aisya pada waktu itu 3 tahun.

Jariyah berarti gadis muda yang masih suka bermain (Lane’s Arabic English Lexicon). Jadi, Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi).

Jawaban:

Dalam kamus Kontemporer Arab Indonesia oleh Atabik Ali menejemahkan kata جارية “jariyah” sebagai berikut:

Jariyah: Amah : budak perempuan

Jariyah: Khadimah: pelayan perempuan

Jariyah: Imra-atun zinjiyah: wanita negro

Jariyah= Shabiyah= Gadis kecil.

Dan dalam kamus Arab Indonesia oleh Prof.DR.H. Mahmud Yunus, menerjemahkan kata صبية “Shabiyah” = kanak-kanak yang belum cukup umur.

Kesimpulan: Anak yang berumur 3 tahun bisa disebut “jariyah” atau “sibyah” dalam bahasa Arab. [Lihat lisan Al-‘Arab 14/449]

BUKTI #7: Terminologi Bahasa Arab

Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata bikr dalam bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun.

Jawaban:

Dalam kamus Kontemporer Arab Indonesia oleh Atabik Ali menejemahkan kata بكر “bikr” = wanita yang hamil pertama kali.

Bikr = ‘Adzraa’ = perawan, gadis.

Dan dalam kamus Arab Indonesia oleh Prof.DR.H. Mahmud Yunus, menerjemahkan kata “bikr”: anak dara, perawan, gadis.

Kesimpulan: Selama perempuan itu masih perawan berapapun umurnya (anak-anak atau dewasa, sudah baliq atau belum) sah saja disebut “bikr” dalam bahasa Arab . [Lihat Taaj Al-‘Aruus 10/239]

BUKTI #8. Teks Qur’an

Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti itu !!!

Jawaban:

Allah berfirman yang artinya: “Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), Maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid …”. (Ath-Thalaq:4)

Dari ayat diatas ulama berkesimpulan, bolehnya menikahi perempuan yang belum haid. (mafhum mukhalafah dari ayat tersebut).

Ibnu Hajar berkata:

قول الله تعالى {واللائي لم يحضن} فجعل عدتها ثلاثة اشهر قبل البلوغ أي فدل على أن نكاحها قبل البلوغ جائز [فتح الباري لابن حجر – دار المعرفة (9/  190) باب انكاح الرجل ولده الصغار]

Petunjuk Qur’an mengenai perlakuan anak Yatim juga valid diaplikasikan ada anak kita sendiri sendiri !!!

Jawaban:

Pada ayat sebelumnya Allah berfirman yang artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. (QS.4: 3)

Ayat ini menunjukkan bolehnya kawin dengan perempuan anak yatim yang balig maupun yang belum. Bahkan kata yatim lebih cocok untuk yang belum balig.

BUKTI #9: Ijin dalam pernikahan

Seorang wanita harus ditanya dan diminta persetujuan agar pernikahan yang dia lakukan menjadi syah (Mishakat al Masabiah, translation by James Robson, Vol. I, p. 665)

Jawaban:

Ibnu Rusdy dalam kitabnya “bidayah al-mujtahid” mengatakan: Jumhur ulama –kecuali yang melenceng- sepakat bahwa seorang ayah boleh memaksa (tidak meminta persetujuan) anak gadisnya yang belum balig untuk dinikahkan. Dengan dalil hadits pernikana Aisyah.

Imam An-Nawawy ketika mensyarah hadits “umur perkawinan Aisyah” mengatakan: Hadits ini jelas menunjukkan bolehnya seorang ayah mengawinkan anak gadisnya yang masih kecil tampa seizinnya; karena anak kecil tidak bisa dimintai izin, dan kakek sama hukumnya dengan ayah, … dan umat Islam sepakat akan hal ini. Apabila anak itu sudah baliq, ia tidak bisa membatalkan perkawinan tersebut menurut Imam Malik, Asy-Syafi’I, dan semua Fuqaha Al-Hijaz …

Dan ketahuilah bahwasanya Imam Asy-Syafi’I dan para sahabatnya mengatakan: Dianjurkan agar ayah dan kakek tidak mengawinkan anak perawannya sampai ia balig dan hendaknya dimintai izin, agar tidak menyerahkannya kepada suaminya sementara ia tidak senang.

Adapun yang mereka katakan ini tidak menyalahi hadits Aisyah, karena maksud mereka; tidak mengawinkannya sebelum balig jika tidak ada keuntungan jelas yang dikhawatikan tdak tercapai jika perkawinannya ditunda seperti kisah Aisyah. Jika demikian, maka dianjurkan untuk melaksanakan perkawinan tersebut (sebelum balig) karena seorang ayah diperintahkan untuk mengambil keuntungan untuk anaknya jangan sampai kehilangan. [lihat syarah sahih Muslim 9/206]

Ibnu hajar mengatakan, Al-Mahlab mengatakan: Ulama sepakat bahwa seorang ayah boleh menikahkan anak gadisnya yang masih kecil perawan sekalipun belum bisa disetubuhi. (lihat fathul bari dan Nailul Authar oleh Asy-Syaukani)

Adapun hadits Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Tidk boleh menikahkan perawan kecuali dimintai persetujuan”. (shahih Al-Bukhary)

Jumhur mengatakan yang dimaksud perawan dalam hadits tersebut adalah khusus yang sudah balig.

Kemudian, persetujuan seorang perawan ketika mau dinikahkan cukup dengan cara diam. (shahih bukahri, muslim dan yang lainnya; lanjutan hadits Abu Hurairah di atas)

Akan tetapi, menikahkan anak gadis dengan pasangannya yang sesuai umur sangat dianjurkan kecuali ada manfaat lain. Dalilnya:

Hadits Buraidah, Abu Bakr dan Umar melamar Fatimah, Rasulullah mengatakan: Ia masih kecil. Kemudian dilamar oleh Ali, maka Rasulullah menikahkannya. (Sunan An-Nasai: dengan sanad yang hasan)

Ulama mengatakan: dari hadits di atas ada 2 kemungkinan:

  1. Ketika dilamar Abu Bakr dan Umar, Fatimah masih kecil belum mampu berhubungan badan, dan ketika dilamar Ali, Fatimah sudah mampu.
  2. Rasulullah melihat perselisihan umur Abu Bakr dan Umar dengan Fatimah sangat jauh berbeda.

Kesimpulan:

Seorang bapak boleh menikahkan anak gadisnya yang masih kecil (sekalipun masih bayi) selama tidak ada bahaya tapi tidak boleh berhubungan kecuali setelah mampu (balig). Akan tetapi jika perkawinan tersebut akan menimbulkan kerusakan, maka hal itu terlarang. Allah berfirman: “Dan Allah tdk meyukai kerusakan”. (Al-Baqarah:205) Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al-Maidah:64; Al-Qashash:77). Rasulullah bersabda:  لا ضرر ولا ضرار , artinya: jangan melakukan kerusakan kepada saudaramu, dan jangan membalas kerusakan dengan kerusakan.

Dianjurkan penyesuaian umur kedua mempelai supaya perkawinannya langgeng, kecuali ada manfaat lain.

Sebaiknya mematuhi aturan pemerintah, selama tidak bertentangan dengan syari’at dan tidak bertentangan dengan manfaat yang lebih akurat. Allah berfirman yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. (An-Nisa:59). WALLAHU A’LAM.

Pandangan lain dari bantahan atas penyangkalan kevalidan hadist pernikahan Aisyah r.a. dengan Rasulullah saw. bisa dibaca misal lewat tulisan Abu Al-Jauzaa’ beserta tanggapannya di dalam komentar yang muncul di tulisan itu. Judul tulisan Abu Al-Jauzaa’ adalah “Umur Pernikahan ‘Aisyah – Studi Sanad Hadist” yang terbit di blog dengan nama yang sama dengan nama penulisnya pada November 2008.

[15] Dalam bentuk argumen kontemplatif yang tidak terlalu ditautkan dengan penjelasan Ar-rahimy yang sungguh lengkap, perhatikan misalnya bagaimana Myriam Francois Cerrah di dalam artikelnya yang berjudul “The Truth about Muhammad and Aisha”. Cerrah di dalam artikelnya mengajak Islamophobis untuk mengkaji secara lebih objektif kisah pernikahan Muhammad saw. dengan Aisyah r.a.

Sedikit catatan terhadap artikel Cerrah adalah notasinya mengenai usia Muhammad saw. dengan Khadija r.a. yang berselisih 15 tahun (Bandingkan dengan paragraf awal tulisan ini).

Myriam Francois Cerrah. 17 September 2012. “The Truth about Muhammad and Aisha”. Web. Diakses 1 September 2014 dari:

http://www.theguardian.com/commentisfree/belief/2012/sep/17/muhammad-aisha-truth

[16] Michel Foucault. 1969. The Archeology of Knowledge (trans. A.M.S Smith). London & New York: Routledge.

Bandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Reeser. Reeser nampaknya menggunakan metodologi yang mirip dengan apa yang diutarakan oleh Foucault di dalam menyingkap sebuah diskursus. Ia di dalam bukunya mencoba menguak berbagai perselisihan pendapat di dalam diskursus mengenai ‘apakah yang dimaksud dengan [gender] maskulinitas’ (Todd W. Reeser. 2010. Masculinities in Theory: An Introduction. UK: Wiley-Blackwell. hlm. 51).

Bandingkan juga apa yang dilakukan oleh Aveling di dalam mendedah diskursus pemikiran Shahnon Ahmad (Harry Aveling. 2000. Shahnon Ahmad: Islam, Power, and Gender. Bangi, Selangor: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia).

[17] cf. Paedophilia (lihat section F65.4). 1993. “The ICD-10 Classification of Mental and Behavioural Disorders Diagnostic criteria for research World” World Health Organization/ICD-10. Web. Diakses 1 September 2014 dari:

http://www.who.int/classifications/icd/en/GRNBOOK.pdf

Sebagai pembanding, berikut taut unduhan data per Juli 2015 mengenai batas usia minimum tanpa consent orangtua di seluruh dunia yang berbeda-beda:

data-O7FpU (1)

[18] Christian Smith. 2010. What Is a Person?: Rethinking Humanity, Social Life, and the Moral Good from the Person Up. University of Chicago Press. hlm. 419.

[19] Loc cit. Myriam Francois Cerrah.

[20] cf. http://www.newadvent.org/cathen/08504a.htm

[21] Sanhedrin 54b, 55b; Kethuboth 11b; Yebhamoth 11b.

[22] McCartan K. 2004. “’Here There Be Monsters’: the public’s perception of paedophiles with particular reference to Belfast and Leicester”. Med Sci Law 44 (4): 327–42. doi:10.1258/rsmmsl.44.4.327

2 thoughts on “Usia Khadija r.a. dan Aisyah r.a. Saat Itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s