Home » Selected Contemplation » Belajar dari Kisah dan Narasi Erich von Däniken

Belajar dari Kisah dan Narasi Erich von Däniken

Istilah yang dipakai oleh kubu Prabowo di dalam menggugat hasil Pilpres 2014 terhadap kemenangan Jokowi sungguhlah menarik. Istilah ini menarik bukan dalam konteks siapa yang berbohong dan siapa yang jujur dalam polemik kemenangan Jokowi namun istilah yang disingkat sebagai TSM ini melambungkan ingatan saya akan kisah dan narasi Erich von Däniken.

Di dalam tulisan ini saya membedakan istilah ‘kisah’ dengan ‘narasi’. Istilah ‘kisah’ saya nisbatkan kepada sepak terjang Erich von Däniken dan para penyokongnya di dalam menciptakan dan menguatkan kebohongan mengenai kunjungan ‘astronaut dari luar angkasa’ atau ancient aliens. Sedangkan istilah ‘narasi’ saya sematkan kepada isi atau content kebohongan cerita mengenai ‘astronaut dari luar’.

Lincoln pernah berkata bahwa kita bisa menipu semua orang dalam beberapa kesempatan dan kita juga bisa menipu kebanyakan orang dalam jangka waktu yang lama. Meskipun demikian, kita tidak bisa selamanya menipu semua orang sebab kelak akan ada sebagian orang yang dapat menyibak sebuah kebohongan.[i]Apa yang diucapkan oleh Lincoln mengena benar dengan apa yang digembar-gemborkan oleh Däniken lewat narasi Ancient Aliens-nya.

Namun sebelum memberangus narasi Däniken, ada hal yang dapat dipetik dari saga ini. Kisah Däniken mengajarkan kepada kita bahwa sebuah kebohongan dapat dipercayai banyak orang dan tahan lama jika dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif.

Saya adalah korban dari narasi Erich von Däniken yang dikoarkan lewat buku yang berjudul Nenek Moyang Kita Dikunjungi Astronaut Bintang Lain? yang terbit di tahun 70.[ii] Buku ini adalah terjemahan dari buku best-seller internasional dengan judul Chariots of the Gods? Unsolved Mysteries of the Past yang terbit di tahun 1968.

/amartapura.com/

/amartapura.com/

Erich von Däniken, yang tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang arkeologi dan astronomi, lewat buku Chariots of the Gods? Unsolved Mysteries of the Past berhipotesis bahwa nenek moyang kita pernah dikunjungi oleh astronot dari luar (alien, makhluk ekstraterestrial) sehingga mengalami lesatan kemajuan peradaban. Di dalam hipotesisnya yang ia tuturkan dalam bentuk dongeng, ia tak lupa menampilkan foto situs-situs peradaban kuno di seluruh dunia sehingga makin terdengar masuk akal-lah hipotesis yang ia ajukan.

Däniken sendiri sebenarnya tidak menulis buku itu secara terstruktur dan sistematis sebagaimana tercetak menjadi buku yang laris manis dengan nilai penjualan lebih dari 10 juta kopi[iii]di seluruh dunia itu. Narasi yang tersusun baik dan sistematis dapat tercipta berkat bantuan Wilhelm Roggersdorf yang di dalam cetakan buku itu tertera sebagai editor buku. Roggersdorf-lah yang membuang bagian-bagian tertentu dari draft awal Däniken yang dirasa bakal membuat narasi menjadi tidak pas.

Bagaimana buku Däniken menjadi buku yang laris manis tidaklah lepas dari momentum rilis yang pas. Saat itu dunia sedang dimabukkan oleh keberhasilan orkestrasi pendaratan manusia di bulan.

Pendaratan manusia di bulan sendiri hingga kini tetap menuai kontroversi. Kaum skeptik moon landing hingga sekarang masih saja tidak percaya adanya manusia yang berhasil mendarat di bulan selain hanyalah sebagai akal-akalan pemerintah Amerika Serikat di dalam memenangkan ‘pertarungan’ penguasaan luar angkasa melawan Uni Soviet.[iv]Kaum skeptik ini masih meragukan kebenaran pendaratan manusia di bulan meskipun NASA sudah menampik tuduhan pembohongan publik itu dengan menunjukkan bukti-bukti semisal bahwa bekas pendaratan manusia di bulan bisa dicek lewat teropong canggih yang kita miliki sekarang ini.

Kembali kepada nama Erich von Däniken. Jauh sebelum hipotesis Erich von Däniken, ada nama yang pantas disebut di dalam kronologi bagaimana buku Chariots of the Gods? Unsolved Mysteries of the Past menjadi sebuah best-seller dunia. Ia adalah Harry Martinson, seorang penyair Swedia. Harry Martinson pada tahun 1956 menerbitkan puisi panjang mengenai manusia dan petualangan luar angkasa dengan judul Aniara.

Sajak panjang Martinson, Aniara, menyuarakan harapan terhadap superioritas teknologi namun juga ada nada pesimisme di sana. Mungkin karyanya ini merupakan cerminan terhadap masa kecilnya yang pahit serta pengalamannya di dua perang terbesar umat manusia (Perang Dunia I dan II) dan ditambah nuansa kehidupan Eropa yang terbalut suasana Perang Dingin.

Aniara bercerita bahwa kemajuan teknologi manusia sudah begitu luar biasa sehingga ada pikiran untuk mencari planet lain untuk memulai kehidupan yang baru. Aniara tidak memiliki akhir bahagia sebab akhirnya petualangan umat  manusia di dalam mencari planet untuk memulai kehidupan dari awal ini berakhir tragis. Pesawat yang hendak mencari planet tempat tinggal yang baru –didera ketidakpastian sebab dalam perjalanan ada kabar bahwa bumi hancur– awaknya menghancurkan diri sendiri lewat perilaku liar dan lalu semuanya mati. Tidak ada manusia tersisa. Pesimisme memang nampak sekali.

Imajinasi Martinson sebelumnya mungkin kena pengaruh Ernst Kapp di dalam buku Grundlinien einer Philosophie der Technik (1877) mengenai filosofi teknologi di dalam berkehidupan. Teknologi –dan bukan dunia spiritualis mistis– yang dianggap akan bisa menyelamatkan manusia. Walaupun demikian, teknologi juga punya potensi menghancurkan manusia. Persis seperti Aniara-nya Martinson.

Kisah di dalam imajinasi Martinson mengingatkan kita pada cerita garapan Jon Spaihts dan Damon Lindelof yang dibesut sutradara Ridley Scott menjadi film yang berjudul Prometheus (2012).

Prometheus berkisah tentang adanya temuan arkeologis yang mengabarkan tentang nenek moyang umat manusia di planet antah berantah yang memiliki kecanggihan teknologi. Di dalam film ini, ada semacam keyakinan bahwa kecanggihan teknologi  yang dimiliki sesepuh umat manusia ini akan mampu membuat manusia jadi abadi. Tidak ada akhir kisah bahagia dalam film ini, mungkin mengekor kisah Aniara. Bila pun pada awalnya ada semacam harapan penemuan asal usul kemanusiaan dan optimisme akan hidup abadi, awak pesawat luar angkasa Prometheus kemudian hanyalah menemukan kengerian dan lalu kematian.

Kembali pada kisah Martinson yang dapat dianggap memberi salah satu peletak pondasi bagi kesuksesan narasi Ancient Aliens ala Erich von Däniken.

Aniara gubahan Martinson tidaklah muncul begitu saja. Masyarakat Barat pada tahun-tahun ditulisnya Aniara memang menghadapi keraguan atas keyakinan mereka. Bagi mereka agama dan nilai-nilai lama yang telah pernah mereka yakini seakan-akan gagal menjaga keberlangsungan kemanusiaan. Mungkin itulah sebab Martinson mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Ada semacam ‘jalan buntu’ dari optimisme keunggulan manusia lewat teknologi yang sebelumnya ia pegang. Mirip Aniara-nya, ada ironi di sana.

Masyarakat Barat di awal abad 20 dilanda kegalauan akan eksistensi kemanusiaan mereka. Perang Dunia I dan II seakan-akan meluluhlantakkan kepercayaan mereka terhadap agama dan nilai-nilai lama. Prolog dari kepedihan yang ditimbulkan oleh Perang Dunia sudah diperparah lewat menguatnya pengaruh psikoanalisis lewat tokohnya Sigmund Freud. Freud pada awal abad 20 memang berhasil menjungkalkan keyakinan masyarakat Barat terhadap agama dan di sisi lain sebuah semangat menciptakan jalan baru menuju kebahagiaan manusia.

Namun banyak orang yang tidak tahu kisah sebenarnya dari kehidupan Sigmund Freud. Freud yang dipercayai menciptakan semacam utopia baru akan pendefinisian ulang keberadaan manusia dus penawar akan eksistensi manusia sejatinya tidak sebahagia dan sehebat yang selalu dikisahkan orang-orang.

Banyak orang tidak tahu bahwa Freud tidak selalu berhasil menangani pasiennya[v] sebagaimana ia juga tidak berhasil mengatasi libidonya,[vi] pikiran falosentrisnya,[vii] kecanduannya untuk harus merokok (diamsalkan olehnya serupa pengganti masturbasi?), dan kebutuhannya akan kokain –entah untuk mengurangi sakit atas kanker di rahangnya[viii] atau memang ia belum menemukan kedamaian atas pikiran kesadaran dan ketidaksadarannya.[ix]Ada ironi di dalam jalan pencarian kebahagiaan yang ditawarkan Freud.

Masa itu memang masa yang penuh ketidakpastian bagi masyarakat Eropa. Wilayah mereka luluh lantak karena perang sedangkan agama mereka juga luluh lantak oleh arus pemikiran yang membongkar kesakralan agama yang sedang mencuat saat itu.[x] Darwinisme menguat bersamaan dengan kejayaan psikoanalisis Freudian. Ilmu pengetahuan yang di tataran praktisnya melahirkan teknologi memberikan semacam utopia bagi kegalauan manusia: sebuah agama baru – juru selamat baru atas potensi kehancuran manusia.

Däniken boleh dibilang ‘beruntung’ bukan hanya mendapatkan momen yang pas bagi terbit bukunya namun juga ia mendapatkan bantuan editor yang mendandani total penulisan draft dari bukunya itu. Tambahan pula, karya Däniken bisa menjadi sukses karena publik sudah siap mengapresiasi sebuah ide: hipotesis maupun imajinasi. Tidak ada resepsi yang massal kecuali sudah adanya bag of presuppositions dari publik. Inilah yang terjadi pada kisah kesuksesan buku karangan Däniken. Däniken tidak dilihat lagi sebagai mantan pencuri dan penipu namun dianggap seorang revolusioner dengan hipotesis yang memiliki nada tidak terlalu sumbang dengan ‘apa yang diingini’ publik saat itu: pelengkap narasi mengenai utopia.

Däniken di dalam bukunya bercerita bahwa nenek moyang kita memiliki peradaban yang luar biasa dan lebih maju teknologinya dibandingkan kita saat ini dan kemudian hancur karena berperang satu sama lain. Däniken di dalam hipotesisnya mengajak orang untuk percaya bahwa kemajuan yang telah dicapai nenek moyang kita dahulu adalah berkat kunjungan dari astronaut dari luar angkasa. Däniken membangun narasi bahwa dahulu nenek moyang kita hanyalah makhluk primitif yang kemudian mendapat kunjungan makhluk putih terang yang turun dari langit dan kemudian mengalami revolusi pengetahuan dan teknologi.

Däniken menunjukkan bukti-bukti pendukung hipotesisinya mengenai revolusi pengetahuan dan teknologi atas diri nenek moyang kita dahulu lewat dongeng argumentatif logis yang seakan-akan valid mengenai kebudayaan Puma Punku, Piramida Mesir, Kebudayaan Inca, Jet Tolima, Garis-garis Nazca, Relief Roket Pacal, Kisah Biblikal Penampakan Yehezkiel, Perang Nuklir di dalam Epos Mahabarata, Patung Gigantik di Pulau Paskah, Situs Baalbek di sebelah timur Lebanon, Bola Lampu bangsa Mesir Kuno. Sekali lagi, kunci pemerdaya awam dalam narasi versi Däniken adalah disusunnya dalam struktur yang halus dan sistematis.

Apa yang diutarakan Däniken seakan memberi pelengkap bagi awam atas keping puzzle yang dicari dari hipotesis[xi] Darwin bahwa nenek moyang kita dulu adalah makhluk primitif sebangsa kera[xii]yang kemudian berkembang menjadi makhluk berpengetahuan. Däniken hanyalah menambahkan bagian dari teori Darwin -atau mengajukan dongeng yang agak sedikit berbeda- bahwa [r]evolusi ubah bentuk dan kemajuan peradaban nenek moyang kita tadi terjadi karena ada campur tangan astronaut dari luar angkasa.

Däniken memang ‘penipu yang beruntung’. Ia menjadi milyader gara-gara bukunya itu serta menginspirasi beberapa acara televisi semisal X-Files dan juga film serupa Prometheus. Däniken semakin ‘berjaya’ sebab stasiun televisi History Channel dan H2 dengan memasifkan pengaruh Däniken lewat seri dokumenter berjudul Ancient Aliens. Däniken mendapatkan penyokong narasi sehingga narasinya memiliki pengaruh yang masif. Jadilah semacam simbiosis antara Däniken dan penyokong-penyokong diseminasi narasi ini: sama-sama mendapat keuntungan finansial.

Dulu saya juga sempat berpercaya pada hipotesis yang diajukan oleh Däniken. Kala itu muncul imajinasi mengenai bila saja saya bisa bertemu dengan UFO[xiii] dan alien (atau makhluk ekstraterestrial – astronaut dari luar angkasa). Sebuah imajinasi yang ‘saat itu’ bagi saya merupakan sesuatu yang masuk di akal sebab presuposisi[xiv] saya mengenai realitas telah dicelupi narasi dari buku karya Däniken.

Narasi yang ditampilkan di dalam hipotesis Däniken terasa masuk di akal bagi saya saat itu bukan hanya disebabkan pengemasan kebohongannya yang terstruktur dan sistematis namun juga karena disokong oleh beberapa media massa sehingga berdampak masif di dalam pembangunan ‘realitas’. Dalam perjalanan waktu, kemudian saya sadari bahwa Däniken ternyata adalah pembohong yang lihai.[xv]

Chris White di dalam film refutasi berjudul Ancient Aliens Debunked (2012)[xvi] mematahkan narasi semu yang didongengkan oleh Däniken. Bukan hanya Chris White saja yang membongkar habis kebohongan narasi Däniken, sebut saja nama lain semisal Jason Colavito[xvii] – seorang antropolog lulusan Ithaca College, New York.

Benar kata Lincoln bahwa kebohongan yang disusun serapi mungkin suatu ketika akan terbantahkan oleh beberapa orang yang paham duduk perkara sebenarnya. Lepas dari benarnya kata Lincoln,[xviii] narasi Däniken mengenai astronaut dari luar angkasa yang mengunjungi nenek moyang kita mungkin akan terus bertahan di dalam pop culture kita sebagai sebuah pseudoscience bagi sebagian orang dan bagi sebagian lainnya akan diterima dan diyakini sebagai hasil kerja science. Narasi ini tidak akan mudah hilang sebab beberapa orang yang percaya menjadikannya sebagai sebuah ‘agama’ (atau cult) dan sesuatu yang membuat orang teguh berpercaya bisa berarti ladang bisnis yang tiada habis. Lagi-lagi kita berbicara mengenai ironi manusia: uang bisa mengabaikan penampilan kebenaran. Narasi ini akan bertahan sebab menjanjikan uang yang luar biasa besar.[xix]

Sebenarnya, ada hikmah yang bisa ditarik dari narasi kibul-kibulan Däniken. Menurut narasi ini, kita sekarang hanya dapat menyaksikan sisa-sisa peninggalan kehebatan pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi nenek moyang kita tanpa terwarisi ilmu pengetahuan disebabkan bencana yang diciptakan oleh nenek moyang kita sendiri: kerakusan, keinginan untuk jaya, dan lalu saling berperang menghancurkan peradaban yang telah mereka miliki. Lalu ada keterputusan peradaban dan sambung kemajuan ilmu pengetahuan. Sekali lagi, ada ironi di sana. Bahwa kehancuran manusia yang sudah maju teknologinya bisa saja terjadi dan potensinya malah semakin besar jika kerakusan tidak juga hilang dari dalam diri manusia.

Lalu samar-samar bersama closing tulisan ini terdengar lagu dari R.E.M. berjudul “Man on the Moon” (1992) yang berdendang tentang kegalauan yang muncul dari kebisingan narasi yang saling bentrok dalam benak mengenai benar tidaknya kisah pendaratan manusia di bulan, juga hal-hal lain. Di situlah mungkin seninya menjalani kehidupan sebagaimana Michael Stipe hendak katakan. Jika hendak merangkai kalimat lain dapatlah kita sederhanakan bahwa narasi-narasi yang ada adalah gabungan dari impian, kerakusan, manipulasi, utopia, atau persetan dengan itu semua: sebuah tontonan yang tidak perlu untuk dipusingkan. Bahkan arkeolog serius, seperti Kristina Killgrove, sudah mewanti-wanti mengenai kecenderungan yang buruk kebanyakan dari kita untuk suka pada narasi sensasional mengenai bantuan makhluk alien dari planet lain atas kehebatan peradaban kuno nenek moyang kita. Sadar bahwa hal buruk ini dimanfaatkan oleh beberapa arkeolog  gadungan di dalam menjual karya fiksi yang didaku sebagai ilmiah akan membuat kita lebih cerdas di dalam menerima narasi yang berseliweran dan disodorkan kepada kita walaupun seolah-olah nampak ilmiah. Inilah mungkin hikmah lain dari memahami kisah dan narasi milik Däniken.

Lagian, bukankah setan (yang nampak ataupun tidak, yang menampakkan ujud asli atau menyaru, yang berasal dari golongan manusia atau jin) akan selalu berusaha membisikkan hal-hal yang menggoyahkan keteguhan dan bikin was-was adalah nyata ada (cf. QS 114: 6)?

Creative Commons License Belajar dari Kisah dan Narasi Erich von Däniken by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

==============================

Endnotes

[i] “It is true that you may fool all of the people some of the time; you can even fool some of the people all of the time; but you can’t fool all of the people all of the time.”

[ii] Erich von Däniken. 1970. Nenek Moyang Kita Dikunjungi Astronaut Bintang Lain?. Penerbit Arth. 237 halaman.

[iii] Data per Agustus 2014. Baca juga tulisan Paul F. Hoye dan Paul Lunde dengan judul “Piri Reis and the Hapgood Hypotheses” (Aramco World Magazine, Vol. 31, Number 1, January/February 1980) yang menjabarkan bagaimana narasi UFC (Unidentified Flying Chariots) oleh Däniken yang salah satu pilarnya dibangun dengan temuan peta Piri Reis adalah murni dongeng fiksi non-faktual.

[iv] Bill Kaysing adalah orang pertama yang menuduh bahwa NASA mengakali orang di seluruh dunia mengenai pendaratan manusia di bulan lewat bukunya We Never Went to the Moon: America’s Thirty Billion Dollars Swindle yang terbit di tahun 1974. Kemudian ada nama Marcus Allen yang bersikeras bahwa masalah yang dimiliki NASA dalam mengirimkan manusia di bulan dan lalu kembali dalam keadaan selamat adalah tidak semudah mengirimkan pesawat tanpa awak untuk mendarat di bulan.

Tuduhan pemalsuan pendaratan manusia di bulan mendapat dukungan yang kuat dari publik ketika jaringan televisi Fox menayangkan acara “Conspiracy Theory: Did We Land on the Moon?” pada tahun 2001.

Keraguan publik akan otentisitas pendaratan manusia di bulan agak sedikit menyurut manakala di tahun 2004 Martin Hendry dan Ken Skeldon dari University of Glasgow memberikan ceramah yang membantah tuduhan kebohongan yang dilakukan oleh NASA di dalam orkestrasi pendaratan manusia di bulan setelah sebelumnya NASA pada 14 Februari 2001 tetap bersikeras lewat sebuah maklumat bahwa pendaratan manusia di bulan adalah bukan tipu muslihat.

Beberapa skeptis hingga kini masih saja tidak percaya adanya kemungkinan manusia benar-benar mendarat di bulan di tahun 1969. Kaum skeptik menyorot bahwa pendaratan manusia di bulan dan juga mengembalikannya dengan selamat [ingat: keraguan bukan pada pendaratan pesawat atau robot di bulan] kecil kemungkinan dapat terjadinya hal demikian menimbang pada banyak faktor.

Meskipun demikian, tuduhan yang berisi keraguan mengenai kebenaran pendaratan manusia di bulan mendapat pukulan yang berat oleh pendapat-pendapat dari Peter Bassett, celotehan Glenn Beck, argumen dari editor dan jurnalis The Telegraph Richard Holt, serta munculnya film dokumenter pada tahun 2003 yang agak menyudutkan kaum skeptik pendaratan manusia di bulan berjudul “The Truth Behind the Moon Landings: Stranger than Fiction.”

Kemudian muncul hal yang mengejutkan dan kembali menyudutkan kebenaran Moon Landing. Batu yang diperoleh dari perjalanan Moon Landing Neil Armstrong pada tahun 1969 terbukti palsu.

Dari sisi politik dan sejarah perlombaan pengarungan luar angkasa, pendaratan manusia di bulan adalah sesuatu yang historis-faktual dan dapat ‘dibuktikan’ secara ilmiah.

Ketika tahun 60-an dalam suasana Perang Dingin Amerika Serikat kalah bertubi-tubi dengan Uni Soviet berkenaan dengan kemajuan penjelajahan ke luar angkasa, program penggegasan pendaratan manusia di bulan oleh J.F.K merupakan krusial bagi kemenangan perebutan supremasi. Argumen paling kuat mengenai urgensi Amerika Serikat memenangkan Perang Dingin lewat kemenangan penguasaan lomba pengarungan luar angkasa dapat dirujukkan kepada video dokumenter karya Bart Sibrel berjudul “A Funny Thing Happened on the Way to the Moon” (2001).

Uni Soviet melesat duluan meninggalkan Amerika Serikat namun Uni Sovet kemudian berhasil disalip oleh Amerika Serikat karena kegagalan pengembangan roket pendorong N-1.

Kegagalan tersebut disebabkan oleh banyak faktor di antaranya ketidakmelimpahan dukungan finansial pemerintah Uni Soviet, tidak terpisahnya program militer dengan program keluarangkasaan sehingga ada kekisruhan budgetting, pengembangan pesawat luar angkasa yang lebih canggih ditangani biro yang berbeda dan saling bersaing, kematian pemimpin program luar angkasa uni Soviet (Korolev), dan ada sedikit perbedaan prioritas di pucuk pimpinan Uni Soviet antara pengembangan senjata rudal antarbenua untuk supremasi militer dengan keperkasaan lewat keberhasilan kemampuan penjelajahan luar angkasa (cf. Leonard David, Marcus Lindroos, Dwayne A. Day, Charles P. Vick, Andrew Chaikin).

Walaupun demikian, ada juga yang menganggap bahwa Uni Soviet juga manipulatif di dalam keberhasilan Vostok 1 dengan kosmonot Yuri Gagarin sebagai bagian dari memenangkan Perang Dingin lewat propaganda keberhasilan menempatkan manusia pertama di luar angkasa (cf. David Percy & Mary Bennett, 2001, Dark Moon: Apollo and the Whistle-Blowers via Mary Bennett, “What Happened on the Moon? An Investigation into Apollo”, 2000).

Kian menarik, perspektif mengenai manipulasi Uni Soviet di dalam keberhasilan Vostok 1 terbantahkan misalnya lewat tulisan dari situs NASA dan tulisan tentang beberapa hal mengenai Vostok 1 dari James Oberg.

Pencapaian Amerika Serikat dengan mendaratkan manusia di bulan berhasil didiseminasikan secara kuat lewat kalimat berulang-ulang semisal “we choose to go to the moon in this decade and do the other things, not because they are easy, but because they are hard” dalam pidato J.F.K dan ucapan oleh astronaut Neil Armstrong “That’s one small step for [a] man [is] one giant leap for mankind.”

Dengan repetisi kekuatan narasi pendaratan manusia di bulan saat itu [bahkan hingga kini] berhasil meminggirkan kejayaan Uni Soviet yang sejatinya telah berturut-turut pada tahun 60-an mencatatkan pencapaian hebat di dalam pengembangan program luar angkasanya.

Amerika Serikat-lah yang berhasil ‘menggoreng’ pendaratan manusia di bulan dengan jargon bombastis sehingga tercangkok kesadaran kolektif di publik bahwa Amerika Serikat-lah yang memenangkan periode perlombaan pengarungan luar angkasa di masa Perang Dingin.

Kunci pencurian momen kemenangan narasi bahwa Amerika Serikat-lah yang paling jagoan dibandingkan Uni Soviet adalah pidato J.F.K mengenai “memilih proyek yang susah [dan bukan yang gampang sebagaimana ‘sebenarnya telah berhasil duluan’ dilakukan Uni Soviet di dalam pengarungan luar angkasa] yaitu mendaratkan manusia di bulan” yang diputar ulang terus menerus.

Meskipun kisah pendaratan manusia di bulan bisa dikaitkan dengan diskursus propaganda perang psikologis pada Perang Dingin, namun secara ilmiah perkembangan terbaru dari usaha-usaha peraguan terhadap kisah pendaratan manusia di bulan mengalami pukulan balik ketika Robert A. Braeunig membuat tulisan analitis mengenai kemungkinan pendaratan manusia di bulan mulai dari perhitungan trajektori translunar juga bagaimana sabuk Van Allen bisa dihindari oleh Apollo 11.

[v] Malah jika kita jeli pada kisah Freud, Freud hanya menampilkan sedikit sekali kasus yang berhasil ia tangani dari ‘kemungkinan’ banyak kasus yang gagal ia tangani atau malah ia buat tambah buruk keadaannya namun tidak ia ceritakan kepada publik kecuali kasus Dora dan Wolf Man.

Ada juga yang berpendapat bahwa bagaimana sejatinya psikoanalisis Freudian adalah aktivitas  pencangkokan ‘kenyataan’ bawah sadar lewat sesi terapi kepada para pasiennya. ‘Kenyataan’ bawah sadar yang seakan-akan digali dari bawah sadar seseorang kerapkali adalah sesuatu yang secara random bisa terjadi pada siapapun (cf. Frederick Crews (ed.), Unauthorized Freud: Doubters Confront a Legend). Pasien digarap untuk menemukan solusi dengan melihat ‘kesalahan’ ada pada diri sendiri di dalam menginterpretasi orang lain di dalam perjalanan hidupnya. Cara seperti ini ada yang menyebutnya serupa pseudoscience.

Sebagai perkenalan dengan penjelasan mengapa Freud dianggap hanya bermain-main dengan metanarasi bawah sadar manusia adalah bisa diacu pada tulisan Peter Gay dengan judul Freud: A Life for Our Time, esai dari Frank Cioffi dengan judul “Freud and the Idea of a Pseudo-Science”, buku karya Frank Cioffi dengan judul Freud and the Question of Pseudoscience, dan tulisan pedas namun cerdas dari Florence Rush di jurnal Feminism and Psychology (1996, 6: 260) dengan judul “The Freudian Coverup”.

Alasan Sigmund Freud tetap menjadi tonggak bagi ilmu psikologi adalah sumbangsih Sigmund Freud di dalam ilmu psikologi (khususnya psikoanalisis) dalam menggairahkan kembali kajian ilmu psikologi yang waktu itu tidak mengalami perkembangan yang berarti. Namun perlu dicatat bahwa dari segi kevalidan metodologi yang Freud jabarkan di dalam tulisan-tulisannya adalah pseudoscience saja (cf. Frank J. Sulloway. 2007. “Psychoanalysis and Pseudoscience: Frank J. Sullivan Revisits Freud and His Legacy” dalam T. Dufresne (ed.). Against Freud: Critics Talk Back. (hlm. 48-69). Stanford, CA: Stanford University Press). 

Film dokumenter yang membahas perjalanan Sigmund Freud dan teori psikoanalisis-nya dapat disaksikan lewat Freud Under Analysis – PBS Nova” (1987).

[vi] Freud menyembunyikan perselingkuhannya –yang kemudian akhirnya diketahui publik– dengan Minna Bernays.

[vii] Freud dibabat kaum feminis mengenai ini (cf. buku karya Kate Millet dengan judul Sexual Politics).

[viii] Freud memang akhirnya mati menderita karena kanker rahang atas mulutnya.

[ix] Bahkan ada yang berpendapat bahwa beberapa teori psikoanalisisnya adalah produk dari pengalamannya di dalam mengkonsumsi kokain (cf. Jürgen vom Scheidt, Psyche XXVII, 1973. “Sigmund Freud and Cocaine”, hlm. 385-430).

[x] Misalnya lewat revivalisasi buah pikiran Darwin dan ‘kejayaan’ psikoanalisis Freudian.

[xi] Hipotesis yang diajukan Darwin mengenai Random Mutation dan Natural Selection sejatinya telah ‘mulai’ mendapat keraguan dari misalnya Eric Bapteste (ahli biologi evolusi dari Pierre and Marie Currie University) dan Michael Rose (ahli biologi evolusi dari University of California) mengenai bagan ‘tree of life’ yang dianggap mewakili narasi hipotesis evolusi. Keraguan atas hipotesis yang diajukan oleh Darwin sebenarnya juga telah diungkapkan sendiri oleh Darwin (cf. Stephen C. Meyer, Darwin’s Doubt). Patut pula untuk dipahami bahwa di masyarakat Barat modern, tentangan terhadap ‘teori’ Darwin telah mulai berkembang sebagaimana gerakan kaum Creationist dan di luar kaum Creationist muncul juga banyak ilmuwan skeptis yang mulai meninggalkan ‘teori’ Darwin sebab mulai runtuhnya argumen pendukung kesahihan ‘teori’ Darwin (cf. John West (Center for Science and Culture), dll.).

Jika tertarik mempelajari bagaimana teori evolusi mengalami banyak sanggahan dari temuan dan argumentasi ilmiah maka buku semisal Evolution: A Theory in Crisis karya Michael Denton dapat diacu. Artikel mengenai bagaimana kacaunya teori Darwin di hadapan temuan ilmiah terbaru sehingga teori Darwin harus dimodifikasi agar sesuai dengan temuan-temuan terbaru misalnya dapat dirujuk pada pengaitan microevolution dengan macroevolution karya ilmiah David N. Reznick dan Robert E. Ricklefs yang berjudul “Darwin’s Bridge between Microevolution and Macroevolution” dalam jurnal Nature, 12 Februari 2009, volume 457, hlm 837-842.

Secara umum, hipotesis Darwin mengenai evolusi mengalami evolusi yang luar biasa dan terus menerus berubah mengikuti perkembangan temuan ilmu pengetahuan terbaru. Perubahan yang terus menerus dari ‘teori’ evolusi inilah yang menyebabkan jumlah skeptik ‘teori’ evolusi kian bertambah seperti misal dapat dibaca lewat artikel karya tulis John Michael Fischer yang berjudul “Debunking Evolution: Problems between the Theory and Reality; the False Science of Evolution” atau tulisan yang ringan [sebagai pengantar] namun dalam perspektif Islam dapat dirujuk pada tulisan Zameelur Rahman yang berjudul “The Theory of Biological Evolution and Islam”.

Agak sedikit melebar dari isu ini, Sören Lövtrup bersikeras bahwa Lamarck-lah yang lebih tepat disebut sebagai peletak dasar teori evolusi di dalam bukunya yang berjudul Darwinism: The Refutation of A Myth.

Dapat pula ditambahkan bahwa hipotesis evolusi Darwin turut ambil peranan besar bagi Freud dalam mengembangkan psikoanalisis Freudian. Ritvo membuktikan pengaruh besar Darwin kepada Freud dengan bukti-bukti bahwa Freud memuji-muji Darwin begitu tingginya sebagai ‘the great Darwin’ dan beberapa kali Freud merujuk kepada hipotesis evolusi Darwin di dalam tulisannya (cf. Lucille B. Ritvo, Psychoanalytic Quarterly. 1974. “The Impact of Darwin on Freud”. 43: 177-192).

[xii] Sebangsa kera namun bukan kera. Di dalam hipotesis Darwin, manusia berkembang evolutif dari makhluk sebangsa kera sehingga menjadi manusia modern seperti sekarang.

[xiii] Kisah mengenai UFO haruslah dipahami sebagai fenomena yang unik. Ada beberapa hipotesis yang muncul mengenai UFO mulai dari ‘cangkokan’ bawah sadar mengenai ilusi adanya astronaut dari luar angkasa hingga segala penampakan yang tidak teridentifikasi dianggap sebagai penampakan makhluk terestrial sebagaimana pernah terjadi dengan ilusi optik fotografis mengenai flying rods. Pada kasus-kasus lain, laporan mengenai UFO adalah kemudian terbuktikan sebagai kesalahan penglihatan atas menara suar, flares, balon udara, pesawat jenis baru yang merupakan eksperimen rahasia militer, pesawat yang tidak lazim (drone) yang teridentifikasi di laporan-laporan awal para saksi mata sebagai ‘pesawat alien’.

Catatan lain yang menarik tentang kemungkinan adanya planet lain yang layak huni serupa bumi dan kemungkinan makhluk selain manusia di alam semesta ini  adalah penafsiran teks Quran surat 42 ayat 29 sebagaimana didapati pada tafsir Muhammad Asad (Muhammad Asad. 2003. The Message of the Quran. London: The Book Foundation. hlm. 449) dan secara implisit mungkin bisa juga dirujuk pada Yusuf Ali (Abdullah Yusuf Ali. 1938. The Quran: Text, Translation, and Commentary. Beirut: ad-Dar al-‘Arabiyah. hlm. 1314). Namun tafsir Muhammad Asad sedikit bermasalah karena ulama menganggap tafsiran karangannya banyak mengandung hal-hal karangannya sendiri (cf. Khaleel Muhammad. 2005. “Accessing English Translations of the Qur’an”. Middle East Quarterly, Spring 2005, Volume XII, No 2, hlm. 58-71; Fatwa Komite Tetap Lembaga Pusat Fatwa dan Riset Ilmiah, Jilid Ketiga, Nomor Bagian 3, hlm. 294) sebagaimana hal yang sama terdapati pada tafsir edisi awal Yusuf Ali (cf. Fatwa Darul IFTA Fatwa 857/57).

Ada juga sebagian lain yang menisbatkan fenomena UFO ini kepada Jin sebagaimana fatwa Muhammad Ibn Adam dari Darul Iftaa, Leicester, UK. Fatwa mengenai fenomena UFO sebagai pengalaman kontak bukan dengan makhluk ekstraterestrial namun dengan makhluk ekstradimensional (sebangsa Jin) dapat dibandingkan dengan hipotesis yang diajukan Gordon Creighton dalam tulisan yang berjudul “The True Nature of the ‘UFO Entities'”Flying Saucer Review, Vol. 29, No 5 atau hipotesis Jacques Vallee dalam buku yang berjudul Dimensions: A Case Book of Alien Contact .

Bantahan fenomena UFO sebagai penampakan entitas dari luar bumi (ekstraterestrial) juga dapat dirujuk pada tulisan lain Jacques Vallee yang terbit di Journal of Scientific Exploration, Vol 4, No 1 dengan judul “Five Arguments Against the Extraterrestrial Theory [Origin of Unidentified Flying Objects].”

Bagi muslim, sikap berhati-hati dalam isu ini adalah penting sebagaimana sudah diingatkan di dalam surat 3 ayat 7 dan surat 49 ayat 6.  Sesuatu yang samar dapatlah menjadi alat pengelabuhan dan fitnah di antara manusia. Wallahu’alam.

Pengantar mengenai kehati-hatian pada isu serupa ini misal merujuk kepada esai ilmiah oleh Barry R. Harker dengan judul “Artificial Life: The Revival of Mysticism in Science” dan esai dari Ibnu Taimiyah yang diterjemahkan oleh Dr. Abu Ameenah Bilal Philips dengan judul “Demonic Visions” dari kitab Eedah ad-Dalaalah fee ‘Umoom ar-Risalah, volume 19 Majmoo’ Al-Fataawaa atau volume 35 dari Majmoo’ Al-Fataawaa dan tulisan Ibnu Taymeeyah, Al-Furqaan Bayna Awliyaa ar-Rahmaan wa Awliyaa ash-Shaytaan yang berbicara mengenai ‘penampakan Jin’.

Dalam konteks mencoba bersikap hati-hati mengenai fenomena ini, istilah UFO sendiri adalah istilah yang sebenarnya sudah sesuai. UFO adalah singkatan dari Unidentified Flying Object atau Objek Terbang tidak Dikenal. Ada istilah lain selain UFO yang juga mulai populer. Istilah lain tersebut adalah USO (Unidentified Submerged Object atau Objek Menyelup tidak Dikenal).

Baik UFO maupun USO mempunyai kata kunci ‘tidak Dikenal’. Penggunaan istilah tidak dikenal merupakan pilihan yang berhati-hati di dalam mendefinisikan sesuatu yang masih samar kepastian deskripsiannya.

Berkaca pada itu semua, problem yang dimiliki publik atas isu ini adalah:

1. Tercipta kesadaran bawah sadar kolektif bahwa memang ada alien yang bentuknya dan teknologinya demikian dan demikian dari diseminasi fakta delusional yang bersumber dari pseudoscience Däniken.

Nama lain yang dapat disebut memperkuat narasi Däniken selain Mortinson adalah Kenneth Arnold lewat kesaksiannya yang bombastis akan flying saucer di beberapa media massa.

Turut ambil peran di dalam penciptaan cultural expectation adalah majalah FATE yang diterbitkan Raymond A. Palmer. Majalah ini  berhasil menciptakan sensansi pop culture dan kemudian membentuk imajinasi publik mengenai UFO. Di Amerika Serikat, pembangunan imajinasi publik turut pula diramaikan oleh peran contactee movement yang diprovokasi oleh George Adamski lewat buku Flying Saucers Have Landed (1953).

Di dalam kajian budaya, kesadaran bawah sadar kolektif yang mereferensikan segala penampakan tidak terjelaskan sebagai UFO (yang alien-is) disebut sebagai cultural expectation [on terrestrial beings] (cf. “Where Are All the UFO’s”, 1996). Kesadaran ini dipupuk lewat konsistensi gempuran narasi mengenai UFO dan alien lewat media massa dan produk-produk pop culture.

2. Setiap kali ada fenomena yang ‘tidak terjelaskan’ dengan mudah oleh awam atau ‘belum terjelaskan’ maka awam akan  membuat kesimpulan sebagai “selalu fenomena UFO (yang alien-is).”

Istilah UFO yang mulanya merujuk kepada unidentified sebagai kata kuncinya menjadi kabur karena awam sudah terjejali akan konsep yang mencekoki mereka mengenai UFO adalah selalu terkait dengan alien.

Jikalau awam bersabar di dalam penyibakan fenomena yang ‘belum dikenal’ oleh ilmuwan yang kompeten dan serius maka awam akan mendapati penjelasan yang masuk akal dan ilmiah (solidly proven and scientifically validated) tentangnya.

Banyak fenomena di semesta alam yang masih misterius bagi ilmuwan hingga saat ini dan belum terjelaskan secara padu oleh para ilmuwan sebagaimana ledakan Tunguska dan cahaya di atas bukit Hessdalen. Semua butuh waktu sebelum ditemukan penjelasan ilmiahnya. Kerap hal-hal baru butuh waktu untuk pengkajian dan pemunculan kesimpulan. Perhatikan sejarah kasus flying rods (cf. History Channel – “Monster Quest – Unidentified Flying Creatures”, 2008), Alien skulls of Peru yang menjadi dasar buku karya Steven Greer, Hidden Truth, Forbiden Knowledge (2006) lalu menjadi film dokumenter “Sirius”, 2013 (cf. Sean Patterson, 2013), crystal skulls yang menjadi inspirasi film “Indiana Jones and The Kingdom of the Crystal Skulls,” 2008 (cf. Chris White – “Ancient Aliens Debunked”, 2012), dll.

Mengenai pendapat skeptis mengenai isu UFO yang telah menjadi bisnis manipulatif serta dipenuhi dengan kesaksian-kesaksian palsu dapat dirujuk misalnya kepada  pendapat dari Richard Feynman, Robert Sheaffer,  Sharon Hill, Steve RoseJohn Franch, studi mengenai Heaven’s Gate oleh Paul Kurtz dan situs penjelas mengenai circle crop semisal circlemakers.org dan film dokumenter “UFOs Under Investigation – UFOs, Lies & Videotape” (2004).

Mengenai fenomena-fenomena yang natural namun belum terjelaskan menjadi selalu dimaknai sebagai UFO (yang pasti alien-is) karena secara bawah sadar awam telah tercemari imaji dan narasi mengenai UFO dapat dirujuk kepada film dokumenter “Where Are All the UFO’s” (1996). Di dalam film ini diturutkan bagaimana laporan penampakan UFO berubah-ubah sesuai dengan kemajuan teknologi manusia. Berubahnya laporan penampakan UFO yang semakin modern -jauh modern dari teknologi manusia terkini- muncul sebab sudah ada narasi yang tercangkokkan di alam bawah sadar bahwa alien selalu berteknologi ‘lebih’ canggih dari teknologi manusia terkini.

Oleh sebab itulah di dalam film itu dicetuskanlah istilah cultural expectation. Di dalam tulisan lain mengenai fenomena UFO sebagai fenomena yang bersifat ekspektasi budaya, Steven Novella dalam “UFOs: The Psychocultural Hypothesis” (2000) menyebut perubahan laporan ‘saksi-saksi’ akan fenomena ‘objek’ UFO sepanjang sejarah sebagai bentuk fenomena psikokultural.

Lain dengan telisik mengenai evolusi pelaporan UFO sepanjang sejarah, Kimberley Ball di dalam esai sebagai bagian dari disertasi-nya mengenai folklore dengan judul “UFO Abduction Narratives and the Technology of Tradition” (2010, Cultural Analysis, Vol. 9, 2010) menyorot bagaimana laporan atau narasi mengenai kontak para saksi dengan alien sebagai bentuk modernisasi folklore.

3. Menarik juga jikalau merunut kepada kisah yang diletupkan oleh Däniken bersokongan dengan diseminasi narasi mengenai ancaman dari alien.

Ketika Amerika Serikat telah unggul di dalam perlombaan menguasai luar angkasa melawan Uni Soviet maka potensi penciptaan narasi keunggulan lain yang dimiliki Amerika Serikat di dalam ‘penguasaan’ data tentang makhluk ekstraterestrial atau alien juga signifikan dalam mengontrol kepatuhan publik (Bandingkan juga narasi yang beredar di internet mengenai ide perdamaian dunia lewat penciptaan ‘musuh bersama’ dan Amerika Serikat bisa potensial memimpin menangkal musuh dalam bentuk alien sebagaimana pernah digaungkan oleh Ronald Reagan, presiden Amerika Serikat, dan juga lewat kisah-kisah yang dinisbatkan kepada presiden Amerika Serikat lainnya namun dibabat oleh Jason Colavito dalam tulisannya “Review of Hangar 1: UFO Files S01E01 ‘Presidential Encounters'”).

Publik dengan demikian merasa selalu dalam gelimang galau benak tentang ‘banyak sekali ancaman,’ ‘banyak sekali ketidaktahuan,’ ‘konspirasi dan cover-up,’ dan kebingungan-kebingungan dari kontradiksi yang ada.

Di dalam propaganda politik ada istilah yang disingkat menjadi FUD. FUD atau Fear, Uncertainty, and Doubt yang disebarkan kepada publik akan membuat publik mudah dikontrol dan diarahkan. Kisah yang menarik mengenai pemakaian FUD di dalam memanipulasi publik misalnya dapat dirujuk kepada penggegapgempitaan narasi mengenai ‘perlunya’ Saddam Hussein dijungkalkan (cf. CBC “The Fifth Estate – The Lies that Led to the War”, 2007).

Metanarasi bahwa bumi ‘bisa jadi’ terancam dari aliens yang menyerang dan lalu menguasai umat manusia -dalam propaganda hegemoni Amerika Serikat- akan menguntungkan jika digaungkan terus-menerus lewat pop culture. Faktual atau tidak bukanlah sesuatu yang penting sebab yang penting adalah tercapainya agenda dan terjaganya hegemoni.

Hal  ini akan menciptakan FUD bahwa ada semacam ‘potensi musuh bersama’ terhadap umat manusia yang ‘tidak teridentifikasi jelas’ seperti apanya. Ini menempatkan sebuah ‘cangkokan’ pemahaman bawah sadar bahwa juru selamat yang ada tersisa adalah pengetahuan dan kekuatan [yang dimiliki Amerika Serikat].

FUD-lah yang membuat publik di alam bawah sadarnya selalu merasa takut, tidak pasti, dan ragu mengenai banyak hal. Dalam keadaan seperti inilah, siapapun yang menyodorkan narasi sama secara terus-menerus secara TSM yang akan pelan-pelan menjadi keyakinan publik.

Tulisan ilmiah mengenai gubrak gedubrak ‘teori konspirasi’ adalah semacam perang permainan pikiran dan malah sebuah racun psikologis di antara pilihan percaya atau tidak percaya dapat dirujuk kepada tulisan ilmiah tiga akademisi dari University of Kent, Canterbury, UK (M.J. Wood, K.M. Douglas, R.M. Sutton) yang terbit di jurnal Social Psychological and Personality Science di bulan Januari 2012 dengan judul “Dead and Alive: Beliefs in Contradictory Conspiracy Theories.

[xiv] Semacam referensi pengetahuan yang mendasari konstruk kepada pemahaman atas pengetahuan berikutnya.

[xv] Ini juga sebuah ironi dari tidak telitinya saya membaca sejarah sepak terjang Däniken sebelum menjadi penulis Chariots of the Gods? Unsolved Mysteries of the Past. Padahal di dalam buku terjemahan yang diterbitkan oleh Penerbit Arth sudah diberikan riwayat singkat rekam jejak Däniken yang selain pernah ditahan karena pencurian ia juga lebih dari sekali tertuduh sebagai seorang penipu sebelum akhirnya menerbitkan buku best-sellernya itu.

[xvi] Film ini dapat juga disaksikan lewat jejaring sosial berbagi video YouTube.

[xvii] Colavito memiliki situs resmi yang ia dedikasikan sebagian besarnya untuk menyanggah keyakinan pendukung Ancient Aliens yang telah menjadi semacam cult – keyakinan. Silakan kunjungi situsnya lewat link ini.

[xviii] Inilah ironi dan paradoks dari kehidupan di mana Barat dan Timur sudah menjadi sebuah kampung kecil. Ketersambungan Barat dan Timur lewat televisi dan dunia maya berimplikasi juga pada makin masifnya pengaruh ‘penguasa’ media massa mainstream di dalam membentuk realitas dan juga persepsi publik (atau orang kebanyakan) akan suatu hal. Walaupun demikian, di sisi lain makin tersambungnya Barat dan Timur juga memiliki hal positif dengan makin melimpah-ruah dan terbukanya akses terhadap ‘narasi-narasi’ marjinal yang tidak mendapat tempat di media massa mainstream. Makin pendeknya jarak Barat dan Timur berarti tukar menukar informasi yang sifatnya apokrifa (disingkirkan dari khazanah awam) menjadi dimungkinkan. Tulisan ini adalah manifestasi dari kompilasi beberapa tulisan apokrifa, ‘yang dipinggirkan dari bacaan publik karena tidak menguntungkan narasi besar hegemonik’.

[xix] Menarik berbicara mengenai narasi Däniken ini dalam potensinya mengeruk uang. Tidak berhenti di dalam masalah mendatangakan keuntungan saja, narasi Däniken yang mendasari ‘teori’  Ancient Aliens juga menguntungkan secara politis bagi pembentukan narasi kedigdayaan Amerika Serikat. Sering sekali lepas dari perhatian bahwa di dalam layers of naration mengenai alien selalu ditampilkan ‘cangkokan informasi’ terus-menerus secara TSM bahwa Amerika Serikat-lah penguasa informasi tentang aliens dan hanya Amerika Serikat-lah yang tahu bagaimana berhadapan dengan para aliens.

Bandingkan juga misalnya dengan narasi mengenai holocaust yang disindir oleh Norman G. Finkelstein, seorang akademisi Yahudi anti Zionisme,  di dalam bukunya yang berjudul The Holocaust Industry (2000) yang terus menerus secara TSM digaungkan bahwa ‘hanya Yahudi saja yang menjadi korban dan atau korban terbesar dari Perang Dunia II [lewat NAZI]’ karena berpotensi mendatangkan keuntungan secara politis bagi agenda Zionisme.

4 thoughts on “Belajar dari Kisah dan Narasi Erich von Däniken

  1. Aksi oleh Daniken sebenarnya adalah upaya deduktif, dan itu boleh- boleh saja. Soal penghakiman publik bahwa itu imajinasi yang liar, sukar divalidasi, dan mengada- ada, bukan ranah peneliti sains untuk jadi hakimnya. Langkah berikutnya tentunya adalah proses validasi dengan metodologi terukur dan protokol disiplin yang tercatat, apapun hasilnya.

    Ya pertunjukan Ancient Aliens di televisi kan sebuah upaya yang menjual, dan memang ternyata dibeli oleh pemirsanya. Tapi popularitas tentunya tidak menunjukkan kesahihan sebuah teori, termasuk langkah Daniken ini. Tak apa- apa sih Oom, kan bisa mendorong orang buat berpikir kreatif ya haha 😀

    Like

    • ‘any theory is accepted’ as long as it has solid arguments.
      However, any so-called solid argument is always open to debate. The way we see something is never objective since observer cannot make himself dependent from object, vice versa. Thus, making any argument applies the same rule.
      The question between believers and sceptics would always start with “what are your expectations?”

      Like

  2. Solid arguments should be based on measurement methodology, with transparent protocol, so it will be reproducible for other person to do similar things, with similar results.

    Any chemical or physical reaction need no expectation from the researcher, just try it to avoid confirmation bias. The similar method do the same for psychology and any human related experiment 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s