Home » Selected Contemplation » Serangan Tak Waras: Cara Israel Giring Gaza ke Jurang Bencana Kemanusiaan

Serangan Tak Waras: Cara Israel Giring Gaza ke Jurang Bencana Kemanusiaan

Ini adalah terjemahan dari tulisan Profesor (Emeritus) Avi Shlaim yang terbit di koran daring The Guardian pada hari Rabu, 7 Januari 2009 dengan judul “How Israel brought Gaza to the brink of humanitarian catastrophe”. Terjemahan ini telah mendapatkan ijin dari beliau. Judul naskah asli yang terlupa dicetak utuh The Guardian sebenarnya adalah “An Insane Assault: How Israel brought Gaza to the brink of humanitarian catastrophe” sebagaimana beliau nyatakan dalam korespondensi lewat surel. Lahir di Irak dan berdarah Yahudi, Prof. Shlaim bagi sebagian orang Yahudi (yang pro kebijakan Israel terhadap Palestina sekarang) dianggap sebagai pengkritik pedas negara Israel. Profesor Avi Shlaim mengajar di Oxford University di bidang Hubungan Internasional dengan fokus pada isu-isu di Timur Tengah. Buku-buku beliau di antaranya adalah The Iron Wall: Israel and the Arab World dan War and Peace in the Middle East: A Concise History.[1]

 ==================================================

Satu-satunya cara memahami perang yang dilakukan Israel di Gaza adalah dengan menengok konteks historisnya. Pendirian negara Israel di bulan Mei 1948 menyiratkan ketidakadilan kepada bangsa Palestina. Pejabat Inggris tidak sepakat dengan keberpihakan Amerika Serikat kepada negara Israel yang baru saja berdiri itu. Pada tanggal 2 Juni 1948, Sir John Troutbeck menulis surat kepada Menteri Luar Negeri, Ernest Bevin, bahwa Amerika Serikat bertanggung jawab atas berdirinya negara gangster yang dipimpin oleh “sekelompok orang yang tidak bermoral”. Dulu saya (Shlaim, pen.) berpikir bahwa sebutan ini terlalu kasar namun serangan tak bermoral Israel atas Gaza, dan keterlibatan tidak langsung pemerintahan Bush di dalam serangan ini, telah membuka lagi pertanyaan yang lama saya pendam.

Saya menulis ini sebagai seseorang yang pernah mengabdi secara loyal di dalam angkatan bersenjata Israel di pertengahan tahun 60-an dan tidak pernah mempertanyakan keabsahan wilayah negara Israel yang dimiliki berdasarkan garis batas sebelum tahun 1967. Yang benar-benar saya tolak adalah proyek kolonial Zionist melewati Garis Hijau ‘Green Line’. Penjajahan Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza selepas perang tahun 1967 tidak ada kaitannya dengan keamanan dan sebenarnya merupakan bentuk ekspansi teritorial. Tujuannya adalah menciptakan Israel Raya dengan cara menguasai sektor politik, ekonomi, dan militer secara permanen wilayah-wilayah Palestina. Hasilnya adalah salah satu penjajahan terlama dan terbrutal di jaman modern ini. Selama empat abad Israel merusak keadaaan ekonomi di Jalur Gaza. Dengan populasi yang besar pengungsi di tahun 1948 menyumpek di wilayah tanah yang makin mengecil tanpa infrastruktur dan sumber daya alam, Gaza sudah tidak memiliki masa depan yang jelas. Meskipun demikian, Gaza tidak hanya sebuah negara yang miskin saja namun juga suatu kisah unik penghancuran sebuah negara. Menyitir ungkapan Bible, Israel mengubah penduduk Gaza menjadi ”tukang belah kayu dan tukang pikul air”[2]; menjadi sumber tenaga kerja yang murah dan pasar bagi barang-barang Israel. Pembangunan industri lokal dipersulit sehingga tidak mungkin bagi orang Palestina mengakhiri ketertundukannya di hadapan orang Israel dan juga menciptakan kebangkitan ekonomi sebagai penunjang kemerdekaan politik secara riil.

Mata Uang keluaran 1927 oleh The Palestine Currency Board. Negara Palestina sudah ada sejak lama (credit: drberlin.com)

Mata uang keluaran tahun 1927 oleh The Palestine Currency Board. Negara Palestina sudah ada sejak lama (credit: drberlin.com)

Gaza adalah kisah klasik ekploitasi kolonialisme di era poskolonial. Permukiman Yahudi di wilayah pendudukan adalah tidak bermoral, ilegal, dan bikin ruwet usaha perdamaian. Permukiman ini menjadi alat eksploitasi dan juga sekaligus sebagai simbol perampasan. Di Gaza, pemukim Yahudi berjumlah hanya 8.000 di tahun 2005 dibandingkan dengan 1,4 juta penduduk asli [Palestina]. Walaupun sedikit jumlah, orang Yahudi ini menguasai 25% luas wilayah, 40% tanah yang subur, dan sebagian besar sumber-sumber mata air. Meski hidup berdampingan, mayoritas penduduk Palestina hidup di dalam kemiskinan dan penderkitaan yang tidak ketulungan. Delapan puluh persen dari penduduk Palestina bertahan hidup dengan pendapatan kurang dari $2 per hari. Kehidupan di Jalur Gaza merupakan kehidupan yang nista menurut standar normal, memaksa penduduk Palestina hidup hanya untuk bertahan hidup, dan turut andil di dalam menumbuhkan benih militansi.

Pada bulan Agustus 2005, pemerintahan yang digawangi Partai Likud yang dipimpin oleh Ariel Sharon mengadakan tarik pemukiman dari Gaza. Delapan ribu pemukim Yahudi ditarik dari Gaza dengan melantakkan pemukiman yang sebelumnya telah mereka huni dan lahan yang sudah sebelumnya mereka garap. Saat itu, Hamas – pergerakan perlawanan Islam, berhasil mengusir pemukim ilegal Yahudi lewat kampanye politik. Penarikan mundur pemukim Yahudi dari Gaza adalah kejadian yang membuat malu Tentara Israel[3]. Sharon menyatakan kepada dunia bahwa penarikan pemukim Yahudi dari wilayah Gaza saat itu adalah bentuk kontribusi Israel terhadap solusi dua negara[4]. Akan tetapi pada tahun berikutnya, sebanyak 12.000 orang Israel menempati wilayah lain Palestina, Tepi Barat, sehingga kian menyurutkan usaha serius akan pengakuan kemerdekaan Palestina. Penyerobotan tanah dan koar-koar mengenai usaha perdamaian adalah hal yang tidak mengena. Israel sebenarnya mempunyai pilihan untuk berdamai dengan Palestina namun mereka campakkan pilihan itu dengan tetap nekat terus merampas tanah Palestina.

Tujuan utama dari langkah penempatan pemukim Yahudi di Tepi Barat adalah memperluas garis batas Israel Raya. Sehingga penarikan pemukim dari Jalur Gaza sebenarnya bukan ditujukan untuk membuka pembicaraan damai dengan pemerintah otoritas Palestina namun untuk membuka jalan bagi ekspansi wilayah baru di Tepi Barat. Langkah ini adalah manifestasi kepentingan Israel. Israel yang mendasarkan tindakannya pada penyangkalan akan identitas nasional bangsa Palestina seakan-akan bermain-main dengan penarikan diri mereka dari Gaza.

Penarikan diri Israel dari Jalur Gaza sejatinya bukan penarikan total sebab tentara Israel masih saja bercokol di sana dan menguasai akses ke Gaza baik lewat darat, laut, maupun udara. Gaza diubah menjadi semacam sebuah penjara yang besar. Sejak saat itu, angkatan udara Israel menikmati kebebasan untuk menjatuhkan bom, merusak dengan gelombang sonik pesawat yang terbang terlalu rendah, dan tanpa henti meneror penduduk di penjara yang bernama Gaza ini.

Israel bangga menampilkan dirinya sebagai negara demokratis meski negara-negara di sekitarnya mempraktikkan otoritarianisme. Meskipun demikian, sepanjang sejarahnya, Israel tidak pernah mendukung demokratisasi kepada negara-negara Arab tetangganya malahan membuat ulah sebaliknya. Israel mempunyai sejarah panjang memiliki keterkaitan dengan rezim-rezim Arab yang reaksioner dalam rangka menggencet nasinalisme rakyat Palestina. Uniknya adalah meskipun masih belum sempurna, rakyat Palestina justru berhasil membangun demokrasi di dalam negaranya dibandingkan dengan negara-negara Arab tetangganya – kecuali Lebanon. Di bulan Januari 2006, pemilu yang demokratis berhasil dilangsungkan di Palestina dan memenangkan Hamas. Meskipun demikian, Israel justru menolak mengakui pemerintahan yang dipilih secara demokratis ini, sembari menuding bahwa Hamas adalah murni organisasi gerakan teroris.

Asymmetry - The Unequal War (credit: anticapitalists.org)

Asymmetry – The Unequal War (credit: anticapitalists.org)

Amerika Serikat dan Uni Eropa secara urakan turut bergabung dengan Israel di dalam mengutuk dan melabeli pemerintahan Hamas sebagai jahat serta kong-kalikong menahan pendapatan dari pajak dan bantuan luar negeri untuk Palestina. Situasi sureal kemudian berkembang dengan banyaknya negara yang ikut-ikutan memberi sanksi ekonomi kepada Palestina, sanksi kepada pihak yang dijajah dan malah bukan kepada pihak yang menjajah, sanksi kepada pihak yang ditindas dan bukan kepada penindas.

Kisah pilu yang terus saja terjadi di dalam sejarah Palestina, bangsa yang tertindas ini malah dianggap sebagai biang keladi dari kemalangan yang menimpanya. Mesin propaganda Israel secara konsisten menampilkan bangsa Palestina sebagai bangsa teroris, bahwa mereka menolak hidup berdampingan dengan negara Yahudi, bahwa nasionalisme mereka adalah antisemitisme, bahwa Hamas adalah sekumpulan orang jahat yang fanatik di dalam agamanya, dan bahwa Islam tidak bisa berdamai dengan Demokrasi[5]. Apapun, ambil cara melihat tragedi ini dengan cara yang tak berbelit, bangsa Palestina adalah bangsa yang memiliki hak yang sama dengan bangsa-bangsa lainnya. Mereka bukanlah bangsa yang lebih mulia dibandingkan dengan bangsa lainnya namun juga bukan bangsa yang lebih rendah dari bangsa lainnya: mereka adalah manusia seperti kita. Apa yang mereka cita-citakan adalah wilayah dan tanah yang menjadi hak mereka agar dapat hidup secara bebas dan bermartabat.

Sebagaimana normalnya pergerakan perlawanan [terhadap penjajah], Hamas mulai menempuh cara lebih moderat ketika mulai duduk di tampuk kekuasaan. Hamas yang semula menolak adanya negara Israel, sudah mulai melunak dan bersikap pragmatis dengan melihat jalan damai lewat penerimaan akan solusi dua negara. Di bulan Maret 2007, Hamas dan Fatah membentuk pemerintahan gabungan dan bersiap untuk negosiasi genjatan senjata dengan Israel. Walaupun demikian, Israel malah menolak bernegosiasi dengan pemerintahan yang melibatkan Hamas.

Israel masih saja melanjutkan cara lamanya, mengadu domba faksi yang ada di Palestina. Kembali pada tahun 80an, Israel mendukung Hamas untuk melemahkan Fatah, gerakan sekuler di bawah pimpinan Yasser Arafat. Akhir-akhir ini mengompori pejabat Fatah yang korup dan rakus untuk mendongkel orang-orang Hamas dan merebut kekuasaan di Palestina. Tambah pelik, kaum neokonservatif Amerika Serikat yang agresif ikut terlibat di dalam merangkai plot perang saudara di Palestina. Campur tangan neokonservatif Amerika Serikat inilah yang menjadi faktor utama bubarnya pemerintahan gabungan Hamas dan Fatah serta membuat Hamas terpaksa menekuk Fatah untuk memegang tampuk kekuasaan di bulan Juni 2007 selepas percobaan kudeta yang gagal oleh Fatah.

Perang yang disulut oleh Israel di Gaza pada bulan Desember tanggal 27 merupakan puncak dari serangkaian benturan dan konfrontasi dengan pemerintahan Hamas. Dalam konteks yang lebih luas, perang tersebut adalah perang Israel terhadap rakyat Palestina sebab rakyat Palestina-lah yang memilih dan mempercayai Hamas untuk memegang kekuasaan. Tujuan perang yang didengungkan oleh Israel adalah meningkatkan tekanan kepada pemimpin Hamas sehingga sepakat berdamai dengan syarat yang telah ditentukan Israel. Tujuan yang tidak tersingkap terang-terangan dari perang ini adalah memprogandakan kepada dunia bahwa tragedi yang menimpa rakyat Palestina di Gaza adalah tragedi kemanusiaan saja dan membutakan kepada dunia apa yang sebenarnya terjadi: usaha perjuangan rakyat Palestina untuk merdeka dan berdaulat dari penjajahan Israel.

Mulainya perang oleh Israel saat itu adalah momen yang bertepatan dengan tahun politik [di Israel]. Tahun itu, di bulan Februari tanggal 10 akan diadakan pemilu di Israel. Politikus-politikus butuh unjuk gigi di pentas nasional, menunjukkan ketegasan mereka sebagai upaya menghapus noda kekalahan terhadap pejuang Hizbullah di Lebanon pada bulan Juli 2006. Tambahan pula, langkah gila politikus Israel bisa dilakukan dengan adem ayem oleh sebab apatis atau tidak berdayanya pemimpin-pemimpin Arab yang pro Barat dan dukungan membabi buta Presiden Bush yang kebetulan saat itu sedang memasuki masa akhir jabatannya. Bush sudah selalu siap dengan lontaran kesalahan kepada Hamas atas segala krisis yang terjadi di Palestina, siap untuk juga memveto segala usulan penyegeraan genjatan senjata yang diusulkan di Dewan Keamanan PBB, dan mengangguk-angguk manakala Israel melakukan invasi bersenjata ke Gaza.

Sudah menjadi lagu lama, Israel yang adidaya berkoar-koar menjadi korban agresi Palestina meskipun perimbangan kekuatan militer di antara kedua negara secara logika dapat menunjukkan secara jelas siapakah korban sebenarnya. Perang yang terjadi adalah pertempuran antara David dan Goliath[6] namun gambaran di dalam kisah Bible telah dibalik – Palestina yang kecil dan tidak memiliki kemampuan militer yang memadai menghadapi Israel yang memiliki kekuatan militer nggilani, tanpa ampun, dan angkuh. Tudung terhadap kedigdayaan militer Israel, seperti biasa, adalah merekalah korbannya, mereka teraniaya, dan membalas serangan dalam rangka membela diri. Di dalam bahasa Ibrani hal seperti ini disebut sebagai ‘sindrom bokhim ve-yorim’ – menangis meraung-raung sembari menembakkan peluru.

Yang jelas, Hamas tidaklah bisa disebut sebagai pihak yang sepenuhnya tidak ikut andil dalam terciptanya konflik ini. Dimentahkan kemenangan bersihnya lewat pemilu dan direcoki dengan serang yang tidak bermoral[7], telah menyulut senjata yang kerap dipakai kaum yang lemah: teror[8]. Militan dari Hamas dan Jihad Islam meluncurkan roket Qassam ke pemukiman Yahudi di seberang perbatasan Gaza sampai akhirnya Mesir memediasi genjatan senjata selama enam bulan pada akhir Juni kemarin. Kerusakan yang ditimbulkan oleh roket ‘primitif’ milik militan Hamas nyaris tidak terlalu berarti di pihak Israel namun efek psikologisnya sungguh terasa. Rakyat Israel menggugat pemerintahnya untuk memberikan perlindungan kepada mereka atas serangan roket ‘primitif’ ini. Mendasarkan keadaan ini, Israel memiliki hak untuk membela diri namun balasan yang dilakukan Israel terhadap serangan roket ‘primitif’ ini sungguh jauh dari perimbangan. Angka jumlah korban menjelaskan ini semua. Dalam kurun waktu tiga tahun selepas penarikan diri dari Gaza, hanya 11 warga Israel terbunuh lewat tembakan roket sedangkan serangan tentara Israel pada waktu yang sama telah membunuh 1.290 warga Palestina di Gaza – 222 anak-anak ikut menjadi korban.

Berapapun jumlah korban yang timbul dalam perang, menyasar warga sipil adalah salah. Aturan ini berlaku bagi kedua belah pihak, baik Israel maupun Hamas. Akan tetapi Israel-lah yang mencatatkan diri sebagai pelaku tindakan brutal dan tanpa henti kepada penduduk Gaza. Israel pulalah yang tetap memblokade Gaza meskipun genjatan senjata sudah berlaku. Bagi para pemimpin Hamas, tindakan Israel untuk tetap memblokade Gaza adalah pelanggaran perjanjian genjatan senjata antara kedua belah pihak. Selama masa genjatan senjata, Israel melarang segala bentuk ekspor barang dari Jalur Gaza dan ini melanggar perjanjian di tahun 2005 serta menyebabkan peningkatan jumlah pengangguran secara massal. Menurut catatan, 49,1% penduduk Gaza menjadi penganggur saat itu terjadi. Pada saat yang bersamaan, Israel membatasi dengan amat sangat jumlah truk pengangkut makanan, bahan bakar, tabung gas untuk masak, suku cadang pusat pengelolaan air dan sanitasi, dan suplai obat-obatan ke Gaza. Sulit mencari alasan logis bagaimana tindakan Israel ini dianggap sebagai upaya melindungi warga mereka dari serangan Palestina. Bahkan jikapun diklaim ini sebagai upaya yang bakal moncer meredam serangan, perlakuan Israel terhadap warga Palestina ini adalah menyalahi hukum kemanusiaan internasional.

Kebrutalan tentara Israel senada sekali dengan kebohongan yang diberitakan juru koar negara Israel. Delapan bulan sebelum melancarkan aksi serangan militer ke Gaza, Israel mendirikan Direktorat Informasi Nasional. Inti dari pesan dan khotbah dari direktorat ini adalah pelanggaran genjatan senjata oleh Hamas, bahwa Israel hanyalah berusaha melindungi warganya dari serangan Hamas, bahwa militer Israel berusaha semaksimal mungkin tidak menimbulkan korban dari rakyat sipil. Juru propaganda Israel berhasil menyebarkan ‘pesan’ ini ke seluruh penjuru dunia. Pada dasarnya, apa yang dipropagandakan oleh juru koar Israel ke seluruh penjuru dunia adalah penuh kebohongan.

Ada jurang perbedaan antara realitas dari tindakan militer Israel dengan retorika yang diujarkan oleh kuru koar mereka. Bukan Hamas yang melanggar perjanjian genjatan senjata namun Israel-lah yang melanggar. Israel melakukannya dengan menerobos masuk ke Gaza pada tanggal 4 November dan lalu membunuh 6 orang Hamas. Tujuan Israel bukanlah melindungi penduduknya dari serangan Hamas namun sejatinya hendak menggulingkan pemerintahan Hamas di Gaza dan mengompori penduduk Gaza agar memberontak kepada pemerintahan yang sah[9]. Dan jauh dari usaha meminimalisasi jumlah korban dari kalangan sipil, militer Israel bersalah dengan pengeboman membabi-buta dan blokade tiga tahun lamanya[10] yang telah membuat penduduk Gaza – sejumlah 1.5 juta jiwa – dalam bayang bencana kemanusiaan.

Perintah di dalam Bible mengenai hukum mata diganti dengan mata[11] dapatlah disebut sudah cukup keras[12]. Akan tetapi tindak ofensif gila Israel terhadap Gaza tampaknya mengikuti hukum tagih mata sebagai tebusan atas rugi bulu mata. Selepas delapan hari pengeboman – dengan tumbal jatuh korban tewas lebih dari 400 orang Palestina padahal hanya empat orang saja meninggal dari pihak Israel – pemerintah Israel yang giras memerintahkan invasi militer ke Gaza sebagai balasan atas kerugian yang tidak terhitung dari pihak Israel.

Peningkatan tindak militer oleh Israel bagaimanapun juga tidaklah akan mampu melindungi Israel dari serangan roket ‘primitif’ dari sayap militer Hamas. Betapapun kematian dan kerusakan yang ditimbulkan militer Israel terhadap Hamas, Hamas tetap berjuang melawan penjajahan dan akan terus melawan dengan roket ‘primitif’ mereka. Hamas adalah gerakan yang mengagungkan indahnya menjadi korban dan mulianya menjadi martir. Tiada cara militer dapat ditempuh dalam rangka mendamaikan kedua belah pihak yang berseteru ini. Celah cela terhadap konsep keamanan yang digaungkan Israel adalah ketidakberpihakan kepada keamanan bangsa lain [Palestina]. Satu-satunya jalan bagi Israel untuk memperoleh kemanan adalah bukan lewat kekuatan senjata namun lewat pembicaraan damai dengan Hamas, yang telah konsisten menyatakan diri untuk mau bernegosiasi damai untuk 20, 30, atau 50 tahun dengan negara Yahudi Israel sesuai batas wilayah sebelum tahun 1967. Israel telah menolak tawaran ini sebagaimana Israel dengan dalih yang sama menampik usul perdamaian Liga Arab tahun 2002, yang dibiarkan nangkring tak tersentuh di meja perundingan: Israel ogah karena usulan damai menyiratkan juga pengakuan kedaulatan dan kompromi terhadap Palestina.

Kilas ringkas catatan mengenai Israel selama empat dekade menyulitkan untuk tidak mengambil kesimpulan bahwa negara Israel telah benar-benar mengejawantah menjadi negara urik yang dipimpin oleh “sekelompok orang yang tidak bermoral”. Ia menjadi sebuah negara urik yang doyan melanggar hukum internasional, memiliki senjata pemusnah massal, dan mempraktikkan terorisme – melakukan tindak kekerasan terhadap warga sipil untuk tujuan politis. Negara Israel memenuhi ketiga kriteria; tidak bisa untuk disangkal karena faktanya memang demikian. Tujuan sebenarnya dari Israel adalah bukan hidup berdampingan secara damai dengan tetangga Palestina mereka namun dominasi secara militer. Israel terus saja menumpuk kesalahan yang berulang-ulang yang pernah mereka lakukan di masa lampau dan justru kian memperparahnya. Setiap politikus, sebagaimana manusia biasa lainnya, tentu sah-sah saja untuk mengulangi kebohongan dan kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalu. Akan tetapi bukan hal yang demikianlah yang kemudian menjadi sebuah beban untuk melanjutkan tradisi dua keburukan ini.

===============================================

End Notes

[1] Disclaimer: tidak semua isi dari tulisan Prof. (Emeritus) Shlaim adalah sama dengan pandangan penerjemah sebagaimana end note yang ada pada terjemahan ini tidak serta-merta mewakili pandangan beliau.

[2] Bible, Ulangan 29: 11

[3] atau IDF (Israeli Defence Forces)

[4] Solusi Dua Negara = Ide mengenai penyelesaian konflik Israel-Palestina dengan pengakuan oleh kedua belah pihak akan kedaulatan negara Israel dan juga Palestina.

[5] penjelasan lebih lanjut tentang “Islam tidak bisa berdamai dengan Demokrasi” tidak sesederhana lewat jawaban: ya atau tidak.

[6] Quran = Daud melawan Jalut

[7] Pelajari hal ini mungkin ada kemiripan dengan kemenangan IM di Mesir dan FIS di Aljazair. Mungkin.

[8] Pelajari pidato Gayatri Spivak mengenai ini. Adakah ‘teror’ merupakan jawaban atas buntunya akses mereka yang dibungkam?

[9] Bandingkan dengan kisah di Mesir.

[10] Tiga tahun dari tanggal publikasi tulisan ini (7 Januari 2009) dan bukan publikasi terjemahan ini (14 Juli 2014).

[11] Bible, Ulangan 19:21

[12] Sebenarnya Prof. Shlaim menggunakan istilah ‘savage enough’.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s