Home » Essay » Catatan atas Masakan dan Peci – Membaca Diskursus Nasionalisme lewat Bandung

Catatan atas Masakan dan Peci – Membaca Diskursus Nasionalisme lewat Bandung

Terbit dalam blog ini 6 Juli 2014, pembaruan konten 8 Juli 2014.

Membaca tulisan-tulisan Bandung[i] mengenai sejarah Indonesia tidaklah pernah tidak menarik. Ia kerap menulis dan konsisten mengenai sisi dan tema yang jarang terjamah dari sejarah Indonesia juga keindonesiaan kita. Yang membuat Bandung terasa istimewa di dalam tulisannya adalah karena ia mau dan mampu memungut teks-teks di pinggiran yang terlupakan dan mungkin dianggap tidak penting. Justru itulah yang membedakan Bandung dengan lainnya. Ia tahu bahwa metanarasi mengenai Indonesia adalah sebuah pemahaman akan totalitas teks, baik yang masuk ke dalam buku-buku teks sejarah ‘wajib’ maupun teks yang tersingkir, ‘disingkirkan’ atau yang dianggap kurang penting.

Bandung tahu bahwa rujukan identitas keindonesian kita tidak mungkin mengabaikan hal-hal yang ia kemukakan dalam tulisan-tulisan pendeknya. Ia piawai membawa kita mengunjungi kembali apa yang mungkin disepelekan dari menjadi Indonesia. Anggaplah bahwa ia mempunyai kemampuan merestorasi gambar masa lalu yang luput dari amatan kita dan kemudian mengolahnya menjadi sebuah gambaran yang mengasyikkan: gambaran tentang identitas keindonesiaan kita.

Saya misalnya teringat bagaimana ia dapat meramu sebuah tulisan mengenai kebijakan negara pada jaman Soekarno, yang kemudian dilanjutkan di masa awal kekuasaan Soeharto, mengenai masakan di dalam “Negara dan Masakan”. Bandung menyandarkan catatan kecilnya mengenai negara dan masakan lewat keterpukauannya terhadap buku Mustika Rasa terbitan Departemen Pertanian tahun 1967. Di dalam catatan kecilnya Bandung membawa kita ke masa lalu di saat negara atau sebutlah Soekarno – bukan terlalu ikut campur kepada hal yang kelihatannya remeh-temeh – menganggap bahwa kemajuan kebudayaan bangsa tidak mungkin tidak membicarakan kekayaan [dan mungkin kebanggaan] masakannya.

Buku Mustika Rasa sendiri mulai disusun pada jaman Soekarno namun kemudian baru terbit pada jaman Soeharto. Ada sedikit perbedaan memang mengenai cara pandang semangat yang digegapkan Soekarno di dalam ide penyusunan kookboek Mustika Rasa ini dengan semangat yang diinduksikan Soeharto. Pada jaman Soeharto, buku masakan ini diubah perspektif ideologisnya menjadi sesuatu yang diniatkan untuk memberi dorongan kepada petani di dalam meningkatkan produksi pangan. Atau dikutip oleh Bandung dari keterangan Sutjipto –pejabat Orde Baru- di dalam buku itu: “buku masakan ini, akan mempunjai pengaruh dan pendorong jang kuat kepada Departemen Pertanian dan petani pada umumnja untuk lebih giat meningkatkan produksi pertanian, chususnja produksi pangan”.

Saya sepakat dengan Bandung bahwa Soekarno dan Soeharto mempunyai jasa bagi negara kita karena mereka berdua mempunyai kontribusi terhadap ideologi kita, atau mungkin sedikit berbeda dengan istilah Bandung, terhadap keindonesiaan kita secara utuh bahkan pada hal yang mungkin kita lupakan dari bincang mengenai identitas nasional kita: masakan. Saya juga tidak bisa memungkiri untuk tidak mendua dari apa yang dia sampaikan bahwa buku Mustika Rasa adalah warisan sejarah bangsa Indonesia. Buku ini adalah sebuah sumbangsih Soekarno dan Soeharto yang mungkin bisa kita rujuk mengenai keindonesiaan kita dalam hal masakan. Buku ini unik karena presiden-presiden sesudah Soekarno dan Soeharto nampaknya kurang melihat diskursus identitas keindonesiaan, nasionalisme, juga meliputi masakan.

Di dalam tulisannya yang lain, Bandung menggamit bagian lain dari keindonesiaan kita yang mungkin lolos dari amatan: peci. Saya masih teringat pada salah satu tulisan Bandung mengenai peci sebagai simbol nasionalisme kita. Saya lupa judul tulisannya yang berbicara mengenai peci ini. Yang saya ingat adalah dulu saya membacanya di koran Solopos. Lamat-lamat saya mencoba mengingat apa yang diutarakan oleh Bandung di dalam tulisannya itu. Susah memang mengingat detil sesuatu yang telah lama lewat meskipun menginspirasi pemahaman dan menggoda perubahan cara pandang kita. Ya, Bandung memang kerap menggodaku untuk melihat ulang dan lebih jeli tentang bagian-bagian yang luput dari keindonesian kita. Tulisan Bandung mengenai peci yang dapat saya temukan daring mungkin hanyalah tulisan pendeknya di kolom Tempo bertanggal 3 Juni 2014 berjudul “Tiga Lagu”.

Di dalam “Tiga Lagu”, Bandung tidak berbicara secara khusus mengenai peci. Meskipun demikian, di dalam tulisannya ini ia konsisten dengan tulisannya yang pernah saya baca dahulu mengenai penyebutannya tentang pertunjukkan mengingat sejarah pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia lewat lagu, dan juga peci. Ia mengingatkan kita bahwa lagu [kebangsaaan] dan juga peci bukanlah diartikan sebagai seremoni kenegaraan saja. Ada pesan yang dalam di sana: semangat mengabdi, berbakti, tidak melupakan sejarah, dan bangga atas keindonesiaan kita.

Bicara peci dan keindonesiaan kita yang pernah dikupas oleh Bandung dalam tulisan pendeknya di Solopos dan mengemuka sedikit di dalam Tempo, juga membawa saya untuk merujuk kepada tulisan Hendri F. Isnaeni yang berjudul “Nasionalisme Peci”.

Credit: sukarno-years.net

Credit: sukarno-years.net

Hendri di dalam tulisannya bercerita mengenai peci, atau kopiah, atau songkok di dalam budaya dan identitas kebangsaan kita lewat penelusurannya pada masa lalu. Ia tidak berhenti hanya pada kisah mengenai Soekarno saja – sesuatu yang menjadi fokus Bandung di dalam tulisannya di Solopos – Hendri bergerak ke menyusur ke belakang dan kemudian bercerita mengenai sejarah peci dan bagaimana ia menjadi sebuah simbol dari nasionalisme Indonesia[ii]. Hendri, seperahu dengan Bandung, mengatakan bahwa peci yang berwarna hitam adalah simbol nasionalisme Indonesia. Ia menjadi sesuatu yang tidak boleh dilupakan.

Credit: postojnska-jama.eu

Credit: postojnska-jama.eu

Sungguh menarik memang jikalau bercermin dari solilokui Soekarno mengenai kisah peci hitamnya sebagaimana Bandung dan Hendri bersepakat merujuk dari buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia tulisan Cindy Adams. Soekarno mengenang kisah peci hitamnya dari sebuah solilokui yang terjadi atas dirinya di bulan Juni 1921 dalam rapat Jong Java di Surabaya.

Sukarno, Peci, Sepeda, dan Senyum Cerianya (Credit: gettyimages.com)

Sukarno, Peci, Sepeda, dan Senyum Cerianya (Credit: gettyimages.com)

Ada dua istilah yang muncul dari solilokui Soekarno: ‘pengekor’ dan ‘pemimpin’. Soekarno muda saat itu bertanya kepada dirinya sendiri bilasanya ia hanya seorang pengekor atau pemimpin. Ia menjawab bahwa ia adalah seorang pemimpin dan karenanyalah ia memakai peci hitam. Bisa jadi solilokui itu benar sebagai semacam, sebut saja revelasi. Ia benar karena kemudian terbuktikan bahwa ia adalah seorang pemimpin – dengan peci hitamnya. Peci hitamlah yang juga menjadi saksi dari pidato Soekarno berjudul “Indonesia Menggugat” di pengadilan landraad di kota Bandung. Dari sinilah kemudian peci hitam menjadi simbol nasionalisme Indonesia.

Sukarno dan Fidel Castro, 1960 di Havana, Cuba (Credit: en.wikipedia.org)

Sukarno dan Fidel Castro, 1960 di Havana, Cuba (Credit: en.wikipedia.org)

Menuruti tulisan Bandung mengenai makanan dan peci, mungkin ia sekarang patut untuk habis kata. Bandung di dalam “Negara dan Masakan” sudah menyuarakan kecemasannya mengenai penguasa sekarang yang melupakan hal-hal kecil –seperti masakan– sebagai rujukan totalitas ideologi, nasionalisme, dan canang identitas keindonesiaan. Mungkin juga ia kini kehabisan tinta dalam memaknai seorang yang hendak mendaku sebagai pemimpin namun melupakan peci hitamnya sebagai sebuah ekspresi seorang pemimpin –bukan pengekor– atas nasionalisme dan sejarah yang tidak boleh dilupakannya. Pun, Bandung akan kesulitan menafsirkan bagaimana tahbis simbolik Gus Dur tentang peci, sebagai sebuah pesan, tampaknya dinafikan. Mungkin.

Creative Commons License Catatan atas Masakan dan Peci – Membaca Diskursus Nasionalisme lewat Bandung by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

========================

endnotes

[i] Saya kesulitan memberi nama panggilan yang pas bagi Bandung Mawardi. “Saudagar Buku” ini kadang bisa juga dipanggil Mawar – meskipun ia pernah agak protes mengenai nama Mawar yang kerap dipakai sebagai nama alias korban pemerkosaan. Gugat sindirnya menyatakan bahwa tidak semua Mawar adalah korban pemerkosaan dan ia adalah Mawar yang justru dijauhi para pemerkosa karena tampang seramnya. Apapun, nama Bandung adalah lebih lazim. Oleh sebab itulah di dalam tulisan ini saya memakai panggilan Bandung dan saya tidak menyebutnya dengan kalimat sakti: “Sebut saja namanya Mawar”.

Pertama kali saya mengenal Bandung adalah lewat Kabut Institut. Dulu sewaktu kuliah, saya kadang main di Kabut Institut di pojokan Sekarpace, Surakarta tempat ia menimbun buku-buku kunonya. Tempat itu dulu agak gelap namun bila kami berkumpul untuk diskusi –saya penyimak saja- menjadi terang dan berasap. Terang karena kilau pemikiran-pemikiran yang bertebaran dari teman-teman yang berdiskusi dan berasap karena ada tembakau yang dibakar (he he …).

Di tempat itu pula-lah saya sempat berhasil membeli dua buku kuno dari Bandung dengan harga nyang-nyangan yang kemungkinan sudah tidak terbit lagi. Dua buku itu –yang saya lupa judulnya- terstempel Kabut Institut kebetulan tidak saya bawa dalam perjalanan saya mencari ilmu sehingga saya belum dapat ngodal adul koleksi buku saya untuk menuliskan judul-judulnya di dalam endnote ini.

Selepas lulus kuliah dan lompat-lompat pekerjaan, saya sudah tidak bertemu dan mengobrol lagi dengan Bandung. Terakhir pembicaraan saya dengannya hanya lewat telepon dan ia tidak begitu ingat saya karena memang saya bukan pengunjung tetap Kabut Institut. Kabar terakhir darinya bahwa Kabut Institut sudah pindah lokasi: di rumahnya (?). Demikian.

[ii] Meskipun demikian, kalimat penutup Hendri di dalam tulisannya kurang mengejawantahkan judul yang ia sematkan: “Nasionalisme Peci”. Kalimat penutup Hendri seakan-akan meredupkan kebesaran peci menjadi hanya ‘pakaian formal’ saja. Sangat disayangkan bahwa ia telah memilih judul yang bagus “Nasionalisme Peci” kemudian menelusuri sejarah peci (atau kopiah, atau songkok) serta bagaimana para pemuda pejuang kemerdekaan -tanpa menilik agama yang dianutnya- telah membuat peci sebagai simbol nasionalisme, sebuah identitas keindonesiaan.

Pembaruan

Syukurlah bahwa selepas saya mengontak via telepon, Bandung dua hari kemudian mengirimkan tulisannya kepada saya. Terima kasih saya ucapkan kepadanya karena sudah bersedia ndudah-ndudah tumpukan tulisannya  dan mengirimkannya lewat surel kepada saya hari ini (8 Juli 2014).

Tidak hanya itu. Saya juga mengucapkan terima kasih atas ijin Bandung untuk diperbolehkan menyalin tulisannya yang berjudul “Peci…”, salah satu tulisan yang menginspirasi tulisan saya ini, ke dalam lampiran ‘pembaruan’. Demikian.

====================

Peci…
Bandung Mawardi
Ingat peci, ingat Y.B. Mangunwijaya. Lelaki bersahaja, mengenakan peci: menguatkan imajinasi kesantunan dan kebijaksanaan. Sosok sang arsitek dan pengarang novel-novel ampuh itu tampak “pantes” dan elok. Kita tak perlu lekas mengartikan peci adalah simbol keberagamaan. Dulu, peci pernah dianggap ekspresi simbolik kaum beragama Islam. Y.B. Mangunwijaya adalah penganut Katolik, tak menjadikan peci sebagai simbol agama. Peci mengesankan ekspresi identitas-kultural, mengacu kehidupan para lelaki di desa atau kampung: biasa mengenakan peci dalam pelbagai acara sosial, ritual, kultural, politik. Peci mengandung makna populis ketimbang agamis.
Peci juga mengingatkan kita dengan sang legendaris, Soekarno. Peci dipilih Soekarno sebagai lambang kebangsaan, dipromosikan sejak aktif di pergerakan kebangsaan. Soekarno mengakui: “… aku memutuskan untuk mempertalikan diriku dengan sengaja kepada rakjat jelata” (Adams, 1966). Soekarno memang lihai memproduksi dan mengolah simbol demi nasionalisme dan keindonesiaan. Peci turut jadi pilihan, dipropagandakan secara massif. Soekarno pun menjadi model agung: tampil anggung mengenakan peci saat berpidato, jamuan makan, kunjungan resmi. Seruan Soekarno: “Ajolah saudara-saudara, mari kita angkat kita punja kepala tinggi-tinggi dan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia merdeka!”
Misi Soekarno menuai sambutan publik, dari masa ke masa. Kaum penguasa dan elite politik perlahan sering mengenakan peci sebagai simbol dari “kepatutan” atau penampilan khas di pelbagai acara. Lihatlah foto para presiden, wakil presiden, menteri, gubernur, bupati, walikota! Mereka mengenakan peci, berwajah semringah dan berwibawa. Peci selalu dipandang mata, merangsang imajinasi historis meski tak mutlak mengingatkan Soekarno. Peci masuk ke gelanggang politik, aksesoris untuk para pejabat dan elite politik. Berpeci representasi “tata krama” politik dan kultural, tak selalu beridentitas Islam.
Sebelum sebaran pesan dengan peci, kita mengingat tokoh kontroversial bernama Haji Misbach alias “Haji Merah”. Tokoh gerakan kebangsaan dan agama di Solo, memilih mengenakan kain tutup kepala model Jawa ketimbang kopiah atau peci. Haji Misbach tak tergoda dengan tampilan para tokoh agama dan politik saat zaman bergerak. Ingat, para tokoh SI melakukan komunikasi simbolik dengan umat melalui peci. Sikap oposisi dari Haji Misbach memang tak “mengalahkan” gairah umat mengenakan peci. Haji Misbach ingin memberi sindiran dan kritik: beragama tak mesti menanggalkan identitas-kultural lokal.
Propaganda Haji Misbach tak berpengaruh besar. Kaum pergerakan masa 1930-an biasa mengenakan dan mengartikan peci. Penguatan simbol merambat ke pelbagai kelas sosial. Peci tak cuma bermakna nasionalisme. Peci dihadirkan di pelbagai konteks peristiwa. Para tokoh memproduksi makna dengan peci. Pilihan peci bersaing dengan tutup kepala tradisional dan topi bercorak kolonial. Di atas kepala, adu simbol dan propaganda ideologi berlangsung, dari masa ke masa. Kita sejenak mengingat keputusan Marco Kartodikromo, jurnalis dan pengarang radikal. Marco Kartodikromo memilih berkostum corak Eropa dan mengenakan topi mirip kaum berkulip putih, bermaksud mengumbar sindiran ke kaum bumiputera dan bangsa kolonial. Penampilan parlente justru menguak ide-imajinasi radikal, melawan kolonialisme dan kekolotan kaum tradisionalis.
Di Indonesia, peci mendapat legitimasi politis akibat pengenaan oleh kaum politik. Masa Orde Lama, penampilan Soekarno berpeci lekas mengartikan pribadi revolusioner atau manusia berkepribadian Indonesia. Penglihatan publik atas peci mengangkut biografi Soekarno dan episode-episode pergerakan politik kebangsaan. Di kubu berbeda, penguatan arti agama juga berlangsung melalui peci. Tokoh-tokoh di pelbagai partai politik berasas Islam bersaing karisma. Mereka menghendaki peci adalah identitas politik Islam. Peci tak harus bereferensi nasionalisme. Peci menjadi simbol rebutan bagi kubu nasionalis dan kubu agama saat Indonesia rawan konflik dan pertarungan ideologi.
Warisan Soekarno berlanjut saat masa Orde Baru. Soeharto mengikuti penampilan Soekarno. Penguasa kontroversial mengenakan peci dalam foto-foto resmi. Sejarah tak terputus. Pemaknaan peci masih bersambung meski berbeda tokoh. Lihatlah, Soeharto tampil cakep, elok, berwibawa dengan peci! Kita memang tak pernah tahu pengertian peci bagi Soeharto. Selama Orde Baru, peci menghiasi kepala para tokoh dan pejabat. Peci semakin menemukan “pembenaran” secara politik, sosial, kultural, agama.
Sekarang, peci adalah simbol dari hasrat berkuasa. Deklarasi Prabowo Subianto-Hatta Rajasa gamblang menghadirkan peci sebagai simbol politik. Penampilan di Rumah Polonia (19 Mei 2014) dan adegan pendaftaran ke KPU membuktikan permainan simbol: mencampur imajinasi referensial antara kubu nasionalis dan kubu agama. Penampilan berbeda tampak melalui penampilan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Di Gedung Joang 45, mereka tak mengenakan peci atau tutup kepala. Kita berhak kaget atau ragu. Mereka ingin “mewarisi” simbol-simbol berkaitan Soekarno. Mengapa mereka tak mengenakan peci? Apakah mereka lupa bahwa peci adalah siasat Soekarno mengobarkan nasionalisme dan ajakan pembentukan kepribadian Indonesia?

Ingat, Joko Widodo pernah mendapat warisan peci dari tokoh bangsa berjulukan Gus Dur, 26 September 2013. Peci sengaja diberikan ahli waris Gus Dur untuk Joko Widodo berkonteks politik. Joko Widodo dianggap pantas mengenakan peci, berharap memunculkan imajinasi sikap, pemikiran, kejiwaan mengacu Gus Dur. Apakah Joko Widodo sungkan mengenakan peci warisan Gus Dur? Ah, kita tak usah memberi serbuan curiga dan ragu. Joko Widodo tentu memiliki argumentasi mengenai peci pemberian keluarga Gus Dur. Ah, publik bisa mengandaikan saat deklarasi Joko Widodo mengenakan peci Gus Dur. Penampilan Joko Widodo tentu bisa bersaing secara simbolik dan imajinasi politik dengan penampilan Prabowo Subianto. Begitu.

==========

Tulisan-tulisan lain karya Bandung yang saya rujuk dalam tulisan di atas dengan judul “Negara dan Masakan” dapat dinikmati lewat tautan ini dan “Tiga Lagu” dapat dibaca lewat tautan ini sedang tulisan Hendri F. Isnaeni dapat dibaca lewat tautan ini. Demikian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s