Home » Academic Article » Sastra dan Pencipta

Sastra dan Pencipta

Ada suatu perdebatan yang tidak kunjung usai mengenai pengkajian karya sastra (teks, naskah) dengan penciptanya. Perdebatan mengenai posisi pencipta di dalam pemaknaan sebuah karya sastra tidaklah mudah dilerai sebagaimana kisah selisih tafsir ‘Bulan di atas Kuburan’ yang diberikan oleh pencipta sajak tersebut yakni Sitor Situmorang dengan Umar Junus lewat pembelaan ‘teori resepsi sastra’ karena hingga sekarang pun belum ada pencerahan yang memuaskan mengenai penempatan pencipta sebuah karya sastra (selanjutnya disebut ‘pencipta teks’) di dalam operasionalisasi pelahiran pemaknaan.

Barthes, Foucault, Burke, dan Ranciere adalah beberapa nama yang layak disebut di dalam pembicaraan mengenai teks dan pencipta teks. Barthes membuat pembicaraan tentang ini menjadi menggairahkan saat ia corat-coret esai dengan judul “The Death of The Author”. Di dalam esainya ini ia berdendang sebagaimana Mallarme mengenai pengaruh teks di dalam penciptaan makna. Teks adalah pribadi yang berbicara dan bukan pencipta yang berbicara kepada pembaca. Sehingga dengan demikian teks yang sedang berbicaralah yang berkomunikasi kepada pembacanya.[1] Oleh sebab itulah setiap pembaca ketika membaca suatu teks tidaklah sedang berinteraksi dengan penciptanya namun sedang menjalin hubungan dengan teks yang dibacanya. Bagi Barthes, teks muncul di hadapan pembaca dalam bentuk seperangkat kode yang mengajak setiap pembaca untuk bermain-main dengannya di dalam membangun penafsiran[2]. Pencipta tidak hadir di dalam permainan intim ini sebab pengarang sudah mati ketika permainan keduanya, teks dan pembaca, sedang berlangsung.

Berbeda dengan Barthes, Foucault di dalam esainya “What is An Author” tidak sepakat dengan apa yang diutarakan Barthes. Foucault berpandangan bahwa ide mematikan pencipta di dalam permainan intim pemaknaan adalah gila sebab identifikasi siapa pencipta teks adalah vital di dalam proses pemahaman kode dan penciptaan makna yang dilakukan setiap pembaca. Menyitir perkataan Foucault bahwa ketidakanoniman teks “performs a certain role with regard to narrative discourse, assuring a classificatory function. … It establishes a relationship among the texts”[3]. Foucault mengkritik pemahaman yang hanya mengulangi pandangan Nietzche mengenai ‘ketidakhadiran Pencipta teks’ di dalam memahamkan pesan yang ada di dalam teks[4]. Kehadiran nama pencipta di dalam sebuah teks sejatinya memiliki implikasi serius dan penting. Ia menjadi deskripsi (description) dan tujuan (designation) dari sebuah teks[5]. Pengetahuan akan identitas pencipta teks akan memberi panduan yang jelas di dalam pemaknaan. Pengetahuan akan siapa pembuat teks akan memberi batasan yang jelas dan membantu memahamkan ke-being-an sebuah teks. Foucault menyatakan bahwa pengetahuan akan pencipta teks membantu “marking off the edges of the text, revealing, or at least characterizing, its mode of being”[6] karena di dalam sebuah teks selalu ada diskursus tertentu yang membedakan dengan teks-teks lainnya dari latar budaya yang berbeda[7] atau dengan kalimatnya: “the author’s name serves to characterize a certain mode of being of discourse”[8].

Tidak hanya berbicara mengenai fungsi ketidakanoniman sebuah teks sebagai penting, Foucault merujukkan pula kepada metodologi penafsiran eksegesis ala Santo Jerome. Santo Jerome mempunyai empat kriteria di dalam mengidentifikasi dan memahami sebuah teks dengan merunutkan kepada penciptanya dengan cara: 1) Jika di dalam beberapa naskah yang dianggap ditulis oleh seseorang ditemukan ada satu naskah yang mutunya rendah, maka dianggaplah satu naskah tersebut sebagai bukan karyanya (pencipta dianggap memiliki mutu karya yang konstan), 2) Jika sebuah naskah menyelisihi doktrin yang menjadi ciri khas seorang pengarang maka naskah tersebut tidak layak diatribusikan kepada nama yang sama (pencipta dianggap memiliki koherensi teoretis atau konseptual), 3) Sebuah karya juga harus tidak diakukan sebagai karya seseorang jika ditulis dengan gaya yang berbeda dengan naskah-naskah lainnya dan juga mengandung kata-kata serta ungkapan yang tidak lazim di masa ia hidup (pencipta dianggap sebagai pemilik satu kesatuan stilistik), 4) naskah yang mengandung kutipan pernyataan atau penceritaan kejadian yang terjadi sesudah kematian seseorang tidaklah bisa disematkan sebagai karya orang itu karena menunjukkan bahwa naskah ini merupakan naskah interpolatif (pencipta naskah diakui sebagai ‘seseorang’ yang pernah ada di dunia dan terlibat di dalam runtut jalannya sejarah)[9].

Meskipun Foucault mengatakan bahwa metodologi pemeriksaan dan penafsiran teks modern tidaklah persis seperti apa yang diformulasikan oleh Santo Jerome namun Foucault membuktikan bahwa penafsiran teks – bahkan saat pencipta teks mengalami perubahan konsep atau ide yang diyakininya – tidak pernah steril dari kebutuhtahuan mengenai pencipta sebuah teks. Apa yang dinyatakan Foucault bukan berarti bahwa seorang pembaca adalah agen yang pasif di dalam berinteraksi di dalam teks dan makna teks adalah persis seperti apa yang diberikan oleh pencipta teks namun Foucault seakan-akan hendak mengatakan bahwa pencipta selalu membayangi teks yang hadir di hadapan pembaca dengan pertanyaan-pertanyaan serupa ini: 1) bagaimana teks ini mewujud terlahir ke dunia?, 2) Bagaimanakah teks tersebut dapat dipakai dan dimaknai, 3) adakah tempat yang tepat mengenai diskursus yang diusung oleh sebuah teks?, 4) adakah kemungkinan-kemungkinan lain di dalam diskursus kelindan subjek-subjek yang tampil di dalam sebuah teks?[10]

Tanding wacana yang disampaikan Foucault terhadap pandangan Barthes mengenai posisi pencipta di dalam teks dan penafsirannya dapat pula kita rujukkan kepada tulisan Burke[11] dan Ranciere[12]. Burke dan Ranciere bersepakat bahwa menihilkan keberadaan pencipta kepada sebuah teks dan penafsirannya adalah sesuatu yang tidak mengena. Burke bahkan mengkritisi bagaimana Barthes di dalam tulisan-tulisan terkemudiannya justru menunjukkan bahwa ‘pencipta selalu ada bersama teks’; sebuah paradoks dari apa yang pernah Barthes dakwahkan sebelumnya di dalam esai “The Death of The Author”[13].

Creative Commons License
Sastra dan Pencipta by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

ENDNOTES

[1] Barthes, R. 1988. ‘The Death of the Author’ in David Lodge, Modern Criticism and Theory: A Reader (pp. 167-172). NY: Longman Inc. New York. p. 168

[2]Ibid, p. 169

[3] Foucault, M. 1988. ‘What is an Author?’ in David Lodge, Modern Criticism and Theory: A Reader (pp. 197-210). NY: Longman Inc. New York.p. 201

[4] Ibid, p. 200

[5] Ibid

[6]Ibid, p. 202

[7]Ibid

[8] Ibid, p. 201

[9] Ibid, p. 204

[10] Ibid, p. 210

[11]Burke, S. 1998. ‘The Birth of the Reader’ in Burke, S.The Death and Return of the Author: Criticism and Subjectivity in Barthes, Foucault and Derrida. (pp. 20-61). Edinburg: Edinburg University Press.

[12]Rancière, J. 2010. ‘The Death of The Author or The Life of the Artist?’ in Rancière, J., Chronicles of the Consensual Times. (pp. 101-105). London: Continuum.

[13]Op.Cit. Burke, pp. 27-28

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s