Home » Academic Article » Twitter dan Portmanteau #akurapopo

Twitter dan Portmanteau #akurapopo

Twitter adalah media sosial yang memiliki lalu lintas pemakai terbesar di dunia sesudah Facebook. Meskipun dari segi lalu lintas masih kalah dari Facebook namun Twitter memiliki keistimewaan yang lebih dibanding Facebook. Twitter memiliki peran di dalam menyulut pemunculan istilah-istilah baru dalam bentuk portmanteau dan menyebarkannya secara luas dalam waktu singkat.[1] Tidak hanya terkait dengan pemunculan istilah-istilah baru, Twitter juga menyediakan ruang interaksi yang efektif untuk ber-twiplomacy bagi organisasi besar, tokoh-tokoh, dan pemerintahan yang ada di seluruh dunia.[2]Inilah yang membedakan Twitter dengan media sosial lainnya.

Portmanteau, atau kadang disebut juga sebagai frankenword,[3] adalah gabungan dari dua atau lebih kata atau morfem yang bentukan dan maknanya adalah gabungan dari keduanya.[4] Portmanteau berasal dari bahasa Perancis yang lucunya juga merupakan portmanteau dari porter + manteau yang artinya kurang lebih ‘koper mantel’ dan dapat diartikan secara bebas sebagai ‘wadah yang mengusung penutup tubuh; sebuah wadah yang menutupi rupa asli’.[5]

Tas Portmanteau (credit: exunoplura.com)

Tas Portmanteau (credit: exunoplura.com)

Pada setiap bahasa sebenarnya portmanteau telah lama ada. Di dalam bahasa Inggris kita bakal mendapati semisal istilah smog yang merupakan gabungan dari smoke dan fog juga staycation yang berasal dari dua kata stay dan vacation.[6]Di dalam bahasa Jepang misalnya kita dapati istilah pasokon (pasonaru kompyuta) dan pokemon (poketto monsuta).[7]Di dalam bahasa Indonesia kita dapati portmanteau di dalam istilah seperti rudal (peluru kendali) dan gali (gerombolan anak liar) sedangkan di dalam bahasa Jawa semisal garwa (sigaraning nyawa) dan wanita (wani ditata).[8]

Twitter-lah yang menyulut maraknya penciptaan portmanteau di dunia maya. Selain memprovokasi gencarnya penciptaan portmanteau, Twitter juga memberikan ruang bagi siapa saja untuk menciptakan portmanteau. Tidak ada eksklusivitas di dalam penciptaan istilah-itilah baru dalam bentuk portmanteau. Twitter tidak hanya ‘memaksa’ tweep untuk menciptakan istilah-istilah baru lewat permainan portmanteau karena terbatasnya karakter namun juga karena Twitter memang menggoda penggunanya untuk menciptakan portmanteau baru lewat hashtag.[9]

Di dalam Twitterverse atau Twittersphere istilah-istilah baru tercipta dengan sangat cepat dan mengandung risiko: cepat datang cepat hilang. Ada memang beberapa istilah yang menjadi kokoh dan kemudian masuk ke dalam kamus standar yang resmi bahasa Inggris semisal selfie dan snollygoster[10] namun banyak juga istilah yang cepat menghilang serupa cronut, obamaquester, dan Sharknado.[11]

Beberapa ahli bahasa berbeda pendapat mengenai portmanteau craze yang sedang terjadi di dunia maya. Ada yang beranggapan bahwa fenomena penyulut kreativitas ini bakal terus eksis namun juga ada yang memandangnya dengan sinis seraya menyindir bahwa fenomena ini bakal berlalu. Mereka ini percaya laju perubahan teknologi media sosial sangatlah cepat sehingga ada kemungkinan perubahan tren pada pemakaian Twitter dan imbasnya terhadap animo penciptaan portmanteau.[12]

Berbicara tentang pemakai Twitter di Indonesia maka ada angka yang mengejutkan. Berdasar kajian semiocast SAS Paris yang dirilis 30 Juli 2012, pemakai Twitter di Indonesia mencapai jumlah 29,4 juta atau menempati peringkat 5 dunia. Masih mengacu pada studi semiocats SAS, Jakarta ditahbiskan menjadi kota dengan jumlah tweet terbanyak di dunia per Juni 2012.[13]Meskipun hasil statistik menyatakan bahwa Indonesia berada di posisi kelima pemakai Twitter terbanyak dan Jakarta menempati peringkat pertama dalam hal jumlah kicauan (tweet) sebagaimana juga disorot dengan penuh kekagetan oleh kontributor majalah Forbes, Victor Lipman,[14] akan tetapi fenomena penciptaan portmanteau lewat media sosial di Indonesia nampaknya belum terdata dan terkaji dengan baik.

Berbicara mengenai portmanteau di Indonesia maka akan terdapati satu istilah yang sekarang menjadi tren di kalangan tweep Indonesia. Istilah yang populer tersebut adalah akurapopo, aku rapopo atau rapopo.

Ada perbedaan pendapat bilakah istilah ini pertama kali muncul dan menjadi tren di media sosial Indonesia. Ada yang berpendapat bahwa istilah ini menjadi kokoh di media sosial Indonesia selepas Julia Perez kerap mengeluarkan pernyataan “aku ra popo” selepas pernikahannya digantung oleh Gaston Castano sebagaimana dinyatakan oleh Fadhila di dalam tulisannya “Inilah Istilah paling Ngetren Saat Ini: Aku ra popo.[15] 

Ada juga yang berpendapat bahwa ungkapan ini pertama kali muncul di Twitter lewat ‘ulah’ kreatif kicauan bertagar akurapopo oleh Mas Aam alias Enthon9.[16]Apapun, istilah ini kemudian menjadi makin populer ketika Jokowi, Prabowo, dan Anas Urbaningrum turut mengucapkan kalimat yang sama: “Aku Rapopo.[17]

Ungkapan “Aku rapopo” makin kuat gaungnya ketika Mario Teguh menyoroti istilah ini di dalam acara gugah motivasinya[18]dan juga diperkenalkan di dalam dunia manajemen dan investasi oleh Lukas Setia Atmaja lewat kontemplasi kepada kisah keberhasilan Rudy Hartono, Warren Buffet, dan Lo Kheng Hong.[19]

Sebagai orang Jawa, saya hendak menyoroti beberapa hal yang terkait dengan ungkapan aku rapopo atau rapopo. Pertama yang harus kita perhatikan di dalam pemakaian istilah ini adalah mengenai ejaan. Sejatinya transliterasi yang tepat dari ungkapan aku rapopo adalah aku [o]ra [a]pa-[a]pa.

Di dalam transliterasi huruf bahasa Jawa ke dalam alfabet bahasa Indonesia, dikenal huruf a yang bunyinya berdasar alfabet IPA[20]adalah sebagai /ä/. Contoh pengucapannya adalah seperti di dalam kata “god” /ˈgäd/ di dalam bahasa Inggris atau serupa pengucapan huruf o di dalam kata “kolong” dalam bahasa Indonesia. Kaidah ini juga dapat dirujukkan kepada entri istilah di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dari bahasa Jawa aja dumeh[21] dan bukan ojo dumeh. Berdasar kaidah ini maka ungkapan “aku tidak apa-apa” yang di dalam bahasa Jawa yaitu “aku ora apa-apa” seharusnya ditransliterasikan dengan huruf a dan bukan huruf o. Jadi bentuk yang semestinya adalah “aku [o]ra [a]pa-[a]pa” atau “aku ra pa-pa”. Walaupun demikian, patut pula diketahui bahwa setiap bahasa memiliki sifat manasuka sehingga menjadi tidaklah pas, dalam konteks ini, untuk menghakimi pemakaian sebuah istilah ‘salah kaprah’ yang sudah lazim dipakai sebagai ‘salah’.

Hal berikutnya yang menarik dari istilah aku rapopo adalah pemahaman khalayak mengenai istilah ini. Secara umum, istilah aku rapopo sering dimaknai menyempit sebagai “aku tidak apa-apa [masih single sedangkan yang lain sudah memiliki pasangan]”[22]atau kadang diartikan dalam bentuk terjemahan “aku tidak apa-apa” sebagaimana dirujukkan kepada ucapan yang sering dipakai oleh Jokowi di dalam menjawab serangan terhadap dirinya.[23]

Jika kita menilik kepada bahasa dan budaya Jawa sebagai asal dari istilah aku rapopo maka sebenarnya penjelasannya tidak sesederhana penterjemahannya sebagai “aku tidak apa-apa”. Orang Jawa, atau wong Jawa,[24] terkenal dengan kode etik tutur bahasa “ngono ya ngono naming aja ngono” yang terjemahnya adalah kurang lebih “meskipun memang demikian namun tidaklah demikian gamblang untuk diutarakan.” Ajaran etika tutur ini memiliki pesan bahwa beberapa hal tidaklah bijak jika disampaikan secara frontal.

Sebagai contoh, jawaban atas tawaran suguhan makan yang diberikan kepada orang Jawa ketika bertamu dengan “mboten, sampun.” Mboten terjemahnya adalah ‘tidak’ dan sampun adalah ‘sudah.’ Jawaban ‘tidak [karena tadi] sudah’ sebenarnya bentuk budaya pekewuh di dalam kultur Jawa dan tidak serta merta selalu diartikan bahwa orang Jawa yang ditawari benar-benar menolak tawaran suguhan makan. Meskipun misalnya seorang Jawa dalam keadaan lapar dan nantinya juga akan menerima suguhan makan yang diberikan ketika sudah dipaksa namun orang Jawa tidak lazim untuk menerima sebuah tawaran suguhan makan dengan mengiyakannya pada kali pertama. Jawaban ini hanyalah etika budaya Jawa mengenai ewuh pekewuh.[25]

Begitu juga ungkapan Jawa seperti ‘aku rapopo’ harusnya juga dirujuk kepada kultur Jawa dan tidak begitu pas untuk hanya diterjemahkan sebagai ‘aku tidak apa-apa.’ Memahami orang Jawa memang tidak mudah sebab budaya Jawa terkenal untuk ‘tidak to the point terhadap apa yang sebenarnya hendak disampaikan.’ Perilaku orang Jawa ini bukan deceitful namun ‘berputar-putar.’ Meskipun kadang juga, orang Jawa mengatakan apa yang sebenarnya hendak ia sampaikan dalam keadaan yang mengharuskan ia berlaku demikian.

Aku rapopo jika benar-benar dirujukkan kepada kultur Jawa bisa mengandung beberapa arti:

  1. Aku tidak apa-apa sebagaimana kadang orang Jawa menyampaikan sebagaimana dipahami khalayak di luar masyarakat Jawa mengenai arti istilah ini. Di dalam bahasa Inggris mungkin dapat dipadankan dengan ungkapan “I am okay” atau “I am fine“.
  2. Aku apa-apa (atau aku sakit/luka) namun sebagai orang Jawa tidaklah pas membuat khawatir orang lain sehingga ngeyem-ngeyemi wong liya (membuat tenang orang lain) adalah hal yang baik lewat ucapan yang bertolak belakang dengan apa yang sebenarnya dirasakan. Orang Jawa di dalam keadaan ini bersikap tidak mau merepotkan orang lain. Ia tidak mau melibatkan orang lain di dalam kekhawatiran atau luka yang sebenarnya ia rasakan. Di dalam bahasa Inggris mungkin definisi kedua ini dapat dipadankan dengan ungkapan “I’ll be okay, don’t you worry“.
  3. Aku apa-apa (atau aku sakit/luka) dan ucapan ini diniatkan untuk menjalin percakapan dan keterkaitan simpatis khas orang Jawa. Jikalau orang Jawa mengalami luka kemudian ia ditanyai orang lain bagaimana keadaannya lantas orang Jawa tersebut menjawab: “aku rapopo” sebenarnya ia bertutur refleks karena ia sadar secara kultural bakal mendapatkan timpalan dari penanya: “tenanan? (benar begitu?).” Mungkin pada kultur lain timpalan “benar begitu?” dan kemungkinan jawaban balik berikutnya “tenanaku rapopo (sungguh, aku tidak apa-apa)” akan menghentikan pertanyaan mengenai “luka” tersebut. Pada masyarakat Jawa, kepedulian yang diajarkan secara kultural akan membuatnya “memaksa diri untuk membantu” dan tidak berdiam saja saat orang yang terluka sudah memberi jawaban untuk kedua kalinya: “sungguh, aku tidak apa-apa”. Jadi fungsi ungkapan “aku rapopo” pada konteks ini adalah untuk menarik simpati orang lain.
  4. Aku tidak apa-apa sebab meskipun aku disakiti dan tidak punya daya untuk membalas maka aku percaya bahwa gusti Allah ora sare (Tuhan tidaklah tidur [dan aku percaya bahwa Tuhan akan membalaskan sakit yang ditimpakan orang kepadaku]). Aku juga percaya bahwa aku akan dikuatkan oleh sebab nerima lan sumeleh (ikhlas [pada keadaan] dan bersandar [pada kuasa Tuhan]). Makna dari ucapan aku rapopo pada konteks keempat adalah mirip dengan ungkapan di dalam bahasa Inggris “you’ll see“. Pengucap “aku rapopo” sejatinya menahan diri tidak membalas karena tidak mampu membalas atau memang tidak mau membalas sebab ia meyakini bahwa Tuhan yang akan membalaskannya.
  5. Aku tidak apa-apa sebab meski aku dilukai namun aku bakal kuat bertahan. Si aku rapopo yakin bahwa ia kuat menahan dera dan dalam konteks tertentu malah seakan-akan menantang datangnya dera tambahan semisal dalam kalimat “aku rapopo, tambahano maneh seranganmu! (aku [tetap] tidak apa-apa, tambahkan lagi seranganmu!)”
  6. Aku tidak apa-apa sebab aku tidak mempersoalkan suatu kejadian yang sedang diperbincangkan karena tidak ada pengaruhnya terhadap diri si aku; semacam bentuk sikap apatis. Misalnya di dalam kalimat bahasa Jawa: “Aku (sih) rapopo yen misale presidene Pak Jokowi semono uga rapopo yen presidene Pak Prabowo (aku tidak mempersoalkan jikalau presidennya Pak Jokowi begitu juga tidak mempersoalkan bila presidennya Pak Prabowo)Makna yang keenam dapat disandingkan dengan “aku ora nggagas (aku tidak mempersoalkan atau aku tidak ambil pusing)”.

Dari beberapa contoh penerapan ungkapan aku rapopo sebagaimana dipakai oleh orang Jawa maka dapatlah disimpulkan betapa kayanya makna ungkapan aku rapopo.

Kembali pada perbincangan istilah aku rapopo dalam konteks fenomena penciptaan istilah baru dalam bentuk portmanteau lewat media sosial (Twitter), ada beberapa pertanyaan yang menarik untuk diajukan:

  1. Akan konsisten-kah pekicau atau tweep di Indonesia di dalam memakai istilah bertagardan telah mapan seperti “aku rapopo”, “akurapopo”, atau “rapopo” dan menciptakan portmanteau-portmanteau lain lewat Twitter (atau media sosial lain) kelak? Akankah rapopo hilang dan dilupakan?
  2. Politisi yang memakai ungkapan aku rapopo semisal Jokowi, Prabowo, dan Anas Urbaningrum menjadi menarik untuk dijadikan bahan kajian apakah mereka dalam salah satu kondisi yang disebut di atas ataukah hanya dalam konteks sesederhana terjemah bahasa Indonesia sebagai “aku tidak apa-apa” saja? Ataukah mereka secara sadar memakai portmanteau tersebut dalam konteks budaya Jawa mereka?
  3. Akankah Pusat Bahasa Indonesia akan meresmikan portmanteau serupa rapopo di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia? Akankah ada kemungkinan bahwa Pusat Bahasa Indonesia meresmikan istilah-istilah baru semisal merujuk kepada portmanteau yang beredar di dunia maya (Twitter) yang dipakai secara konsisten dan massal? Hendakkah Pusat Bahasa tidak melongok potensi pemerkayaan kosakata di dalam bahasa Indonesia lewat media sosial Twitter yang memiliki ‘jemaat’ luar biasa banyak?

Tiga pertanyaan tersebut menarik untuk jadi sebuah kajian sebab memang belum ada kajian tentang itu di Indonesia. Adakah yang tertarik untuk mengkajinya? Jika misalnya tidak ada yang tertarik dan juga menafikan sulutan yang diberikan tulisan ini maka #akurapopo. 🙂

Twitter dan Portmanteau #akurapopo by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

==============================

Endnotes

[1] Ben Zimmer dalam Katy Steinmetz. 24 Juli 2014. “We, the Tweeple: Why Twitter Inspires So Many New Words. Web. Diakses 9 Juni 2014 dari: http://newsfeed.time.com/2013/07/24/we-the-tweeple-why-twitter-inspires-so-many-new-words/

[2] Cf. Matthias Lüfkens. 20 November 2013. “How Do International Organisations Tweet”. Web. Diakses 9 Juni 2014 dari: http://twiplomacy.com/how-do-international-organisations-tweet/

[3] Ben Freeland. 15 Januari 2012. “Frankenwords: The Uses and Abuses of Portmanteaus”. Web. Diakses 9 Juni 2014 dari: http://brushtalk.blogspot.com.au/2012/01/frankenwords-uses-and-abuses-of.html

[4] Merriam-Webster Online Dictionary. Web. Diakses 9 Juni 2014 dari: http://www.merriam-webster.com/dictionary/portmanteau

[5] Ibid. Portmanteau = port[e] + manteau = tas [pembawa] mantel

[6] Paul McFredies. 26 Mei 2008. Web. Diakses 9 Juni 2014 dari: http://www.wordspy.com/words/staycation.asp

[7] Loc. Cit. Ben Freeland.

[8] Khusus untuk istilah wanita silakan dirujuk perdebatan etiomologisnya di dalam tulisan saya “Perempuan, Wanita, atau Betina” lewat: https://dipanugrahablog.wordpress.com/2011/05/16/perempuan-wanita-atau-betina/

[9] Ben Zimmer dalam Katy Steinmetz, Loc Cit.

[10] Lance Whitney. 21 Mei 2014. “Hashtag, Selfie, and Tweep Join Merriam-Webster Dictionary”. Web. Diakses 9 Juni 2014 dari: http://www.cnet.com/au/news/hashtag-selfie-and-tweep-join-merriam-webster-dictionary/

Desire Athow. 30 Desember 2009. “Twitter Generates Many New Words in 2009 Says Oxford English Dictionary”. Web. Diakses 9 Juni 2014 dari: http://www.itproportal.com/2009/12/30/twitter-generates-many-new-words-2009-says-oxford-english-dictionary/

[11] Katy Steinmetz. 21 Februari 2013. “Why the Obamaquester Label Won’t Last”. Web. Diakses 9 Juni 2014 dari: http://swampland.time.com/2013/02/21/why-the-obamaquester-label-wont-last/

[12] Ibid.

[13] Semiocast SAS – 20, rue Lacaze 75014 Paris France — © 2009-2014. Web. Diakses 9 Juni 2014 dari: http://semiocast.com/en/publications/2012_07_30_Twitter_reaches_half_a_billion_accounts_140m_in_the_US

[14] Victor Lipman. 30 Desember 2012. “The World’s Most Active Twitter City? You Won’t Guess It”. Web. Diakses 9 Juni 2014 dari: http://www.forbes.com/sites/victorlipman/2012/12/30/the-worlds-most-active-twitter-city-you-wont-guess-it/

[15] Fadhila. 2 April 2014. “Inilah Istilah paling Ngetren Saat Ini: Aku Rapopo”. Web. Diakses 9 Juni 2014 dari: http://simomot.com/2014/04/02/inilah-istilah-paling-ngetren-saat-ini-aku-rapopo/

Fadhila di dalam tulisannya konsisten menuliskannya “Aku Rapopo” meskipun di dalam bahasa Jawa sejatinya ungkapan ini berasal dari tiga kata: Aku + Ora + Apa-apa.

[16] Bdk. Fadhila, Ibid. dengan Cak Uding. 28 Maret 2014. “Awal Mula Sebuah Ekspresi #AkuRapopo”. Web. Diakses 9 Juni 2014 dari: http://almaujudy.com/2014/03/28/awal-mula-aku-rapopo-dan-kelanjutannya/

[17] Ibid.

[18] Ibid.

[19] Lukas Setia Atmaja. 7 April 2014. “Belajar dari ‘Aku Ra Popo’”. Web. Diakses 9 Juni 2014 dari: http://kolom.kontan.co.id/news/210/Belajar-dari-Aku-Ra-Popo

[20] International Phonetic Association

[21] Warief Djajanto Basorie. 2 Maret 2009. “Perubahan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia”. Rubrik Bahasa Majalah Tempo.

[22] Aditya Eka Prawira. 11 Maret 2014. “’Aku Rapopo’, Ungkapan Miris Paling Populer Saat Ini”. Web. Diakses 9 Juni 2014 dari: http://news.liputan6.com/read/2021060/aku-rapopo-ungkapan-miris-paling-populer-saat-ini

[23] Alsadad Rudi (Hindra Liauw, ed.). 25 Maret 2014. “Alasan Jokowi Gunakan Istilah “Aku Rapopo””. Web. Diakses 9 Juni 2014 dari: http://megapolitan.kompas.com/read/2014/03/25/1704217/Alasan.Jokowi.Gunakan.Istilah.Aku.Rapopo.

[24] bukan Wong Jowo namun Wong Jawa karena menetapi kaidah baku sebagaimana penjelasan sebelumnya mengenai aja dumeh.

[25] kesungkanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s