Home » Academic Article » Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah

Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah

Soekarno, atau Achmad Soekarno, di dalam pidatonya pada tanggal 17 Agustus 1966 memberikan sebuah istilah yaitu Jas Merah atau “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”[i]. Pidato tersebut dikenal oleh kebanyakan awam hanya pada bagian istilah Jas Merah-nya saja dan bukan pada konteks mengapa Soekarno menyampaikan pidato itu.

Soekarno menyampaikan pidato tersebut setelah ia mulai terdesak oleh popularitas Soeharto dan MPRS dengan ketuanya A.H. Nasution mulai merapat pada kubu Soeharto dengan memberikan mandat kepada Soeharto untuk memeriksa keterlibatan Soekarno di dalam G30S/PKI[ii]. Oleh sebab itulah di dalam awal pidatonya tersebut Soekarno hendak mengagitasi publik bahwa Supersemar yang diberikannya kepada Soeharto bukanlah penyerahan kekuasaan kepada Soeharto dan ia masih mengemban mandat dari MPRS untuk membawa Indonesia ke arah kemajuan selepas bebas dari kolonialisme. Soekarno lewat pidatonya seakan-akan juga hendak mengingatkan publik bahwa ia adalah ‘tokoh yang mereka kenal’; bapak mereka dalam revolusi melawan kolonialisme.

Sebagaimana kita tahu, Soekarno akhirnya kalah. Pidato pembelaan dirinya tersebut tidaklah mampu mengangkat kembali ‘image’-nya yang kian menurun pasca G30S/PKI. Pada saat itu gencar sekali tuntutan agar PKI dibubarkan sedangkan Soekarno mungkin salah ambil posisi sebab masih terus saja enggan membubarkan PKI. Keadaan tidak tambah lebih baik bagi Soekarno karena saat itu keadaan ekonomi juga tidak kunjung membaik.

Mungkin Soekarno termakan oleh impian besarnya mengenai NASAKOM. Ia saat itu masih saja percaya akan bisa berhasil menyandingkan kaum nasionalis, agamis, dan komunis. Atau mungkin ada hal-hal lain yang membuatnya tidak bisa membubarkan PKI. Apapun itu, tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Terdapat banyak indikasi mengenai jamaknya aktor yang bermain pada kejadian di sekitar G30S/PKI belum lagi terlalu banyak juga kepentingan yang terlibat dalam carut marutnya peristiwa sekitar G30S/PKI[iii].

Sial bagi Soekarno saat itu. Ia sendirian dan dalam posisi terjepit. Publik sudah terlanjur percaya isu keterlibatan Soekarno dengan G30S/PKI dan Soekarno sudah tidak bisa lagi merujuk sejarah kebesaran dirinya di dalam revolusi Indonesia dan nation building yang sering ia gaungkan[iv][v].

Dan segala peristiwa di sekitar G30S/PKI serta jatuhnya Soekarno memang  melibatkan banyak kepentingan. Lashmar dan Oliver[vi] di dalam tulisan mereka menyuguhkan seorang tokoh yang bernama Norman Reddaway. Reddaway adalah seorang agen yang ditugasi oleh Foreign Office[vii] untuk menggalang sentimen terhadap Soekarno. Reddaway tidak bermain sendirian, ia hanyalah salah satu pemain dari operasi intelijen M16[viii] dan CIA[ix] yang telah lebih dulu mengamati keadaan Indonesia.

Bagi Amerika Serikat sebagaimana dokumen tahun 1952, Indonesia (dan juga Malaysia) merupakan sumber utama strategis dunia untuk karet, timah, minyak bumi, dan kekayaan alam lainnya[x][xi]. Niatan Inggris dan Amerika Serikat untuk menggulingkan Soekarno sudah dimulai sejak tahun 1962 dan makin memuncak ketika Soekarno pada tahun 1963 mengusik proyek Inggris di Federasi Malaysia. Soekarno adalah ancaman bagi Inggris dan Amerika Serikat karena dua hal: ia ‘dekat’ kepada komunisme dan ia tidak bersahabat kepada Inggris dan Amerika Serikat[xii]. Kesimpulannya adalah bahwa Soekarno bukanlah figur yang bersahabat atau jinak bagi ‘kemungkinan’ pemanfaatan kekayaan alam yang melimpah ruah di Indonesia.

Entah bagaimana bisa muncul peristiwa G30S/PKI hingga kini masih menjadi perdebatan. Tidak ada yang berani mengaku mempunyai versi yang paling benar dari berbagai macam versi yang beredar: samar dan pelik. Peduli setan dengan versi yang tepat menggambarkan peristiwa itu. Apapun, peristiwa G30S/PKI ‘yang gagal’ adalah jadi momen yang tepat bagi Inggris dan Amerika Serikat di dalam meningkatkan sentimen anti Soekarno hingga akhirnya Soekarno jatuh.

Soekarno jatuh dan digantikan oleh Soeharto. Soeharto yang tidak memiliki karir politik sebelumnya dapat ‘tiba-tiba’ menyeruak di sekitar peristiwa G30S/PKI bukanlah karena kebetulan saja. Soeharto didukung penuh oleh Amerika Serikat dan memang ada hipotesis bahwa Soeharto sudah memiliki informasi dari intel Amerika Serikat atau mungkin ‘orang sendiri’, Latief, bahwa PKI akan mengadakan suatu kudeta namun ia tidak mencegah kudeta itu. Bisa jadi hipotesis mengenai dukungan Amerika Serikat ini benar sebab Marshall Green, waktu itu menjabat sebagai Duta Besar AS untuk Indonesia,[xiii] melaporkan ‘dengan sangat cepat’ ke Washington tentang sudah tersampaikan ke Angkatan Darat mengenai dukungan dan pujian Amerika Serikat akan tindakan Angkatan Darat di dalam menangani keadaan pasca G30S/PKI[xiv]. Keterkaitan Soeharto yang waktu itu menguasai Angkatan Darat dengan Amerika Serikat tidak hanya dibuktikan lewat berita kawat Marshall Green saja namun juga terbukti pada insiden kehadiran Soeharto yang mengintervensi dan lalu mengancam rapat kabinet pada bulan Desember 1965 yang sedang membahas nasionalisasi Caltex dan Stanvac[xv].

Selepas Soeharto menggantikan Soekarno, Amerika Serikat menggelontorkan bantuan besar-besaran kepada pemerintahan Soeharto yang baru naik. Bantuan tersebut ditujukan agar tercipta turunnya harga dan tersedianya barang-barang yang sebelumnya langka di masa Soekarno. Dengan demikian, publik akan percaya bahwa pemerintahan Soeharto jauh lebih baik daripada pemerintahan jaman Soekarno[xvi].

Mungkin prolog tulisan ini yang berbicara mengenai bagaimana Soekarno jatuh menjadi renungan yang penting bagi bangsa Indonesia. Kita bisa melupakan sejarah atau beberapa orang menyebutnya sebagai amnesia sejarah. Yang menarik dari amnesia sejarah adalah pertanyaan seputar bagaimana teks-teks mengenai masa lalu saling bertumbukan dan saling mengalahkan.

Hari ini saya mengomentari status seorang kawan baik di suatu jejaring sosial tentang amnesia sejarah. Saya jadi teringat bagaimana amnesia sejarah hanyalah sebuah permainan narasi di dalam dunia politik.

Mungkin bakal ada yang menggugat saya tentang itu. Mungkin masih saja ada yang percaya bahwa ‘teks sejarah’ adalah kerja objektif-akademik tanpa ada dimensi politik. Akan tetapi ‘sejarah’ tentang ‘teks sejarah’ bercerita lain. Mereka yang berkuasa atau memiliki jaringan sumber daya yang kuat-lah yang memegang pena penulisan [teks] sejarah dan juga bagaimana [teks] sejarah direvisi.

Kisah yang sama bisa menjadi sesuatu yang berbeda tergantung siapa yang bercerita, kepada siapa diceritakan, dan dalam niatan apa. Hal ini adalah rambu-rambu sebagaimana telah dijelaskan oleh Noam Chomsky di dalam Gerakan Revisionisme Historis[xvii]. Gerakan Revisionisme Historis secara umum adalah sebuah gerakan penampilan ‘versi lain’ dari versi resmi fragmen sejarah yang dikeluarkan sebuah negara atau yang berseliweran di media massa mainstream. ‘Versi lain’ yang diusung oleh akademisi-akademisi independen ini merupakan bentuk kepedulian akan kenyataan bahwa publik kerap dibuat percaya akan adanya versi tunggal atau ‘versi resmi’ yang tendensius. Dibuat amnesia secara sistematis pada ‘bagian lain’ dari narasi sejarah.

Publik memang lebih mudah percaya ‘versi resmi’ dari sebuah fragmen sejarah karena ‘versi resmi’ di-endorse secara besar-besaran dan intens oleh pemerintah dan media massa mainstream. Publik, secara psikologis, tidak kalis pada ‘versi resmi’ sebab kepercayaan mereka berlandaskan pada sesuatu yang sederhana: “bagaimana mungkin ‘versi resmi’ adalah tidak pas menggambarkan segala sesuatu sedangkan versi ini di­-endorse oleh pemerintah (lewat buku teks sejarah) dan diulang-ulang oleh media massa mainstream?”.

Gerakan Revisionisme Historis mengajak kita untuk memahami bahwa ‘teks sejarah’ adalah semacam dongeng dan dongeng memiliki alur terserah kepada pendongeng. Ketika sudah disadari bahwa ‘teks sejarah’ tidak bisa lepas dari subjektivitas pendongeng maka tiap pendengar dongeng –atau pembaca teks sejarah- bersikap kritis dan tidak serta merta menelan mentah-mentah dongeng yang diceritakan.

Ambil contoh kisah pengeboman Hiroshima dan Nagasaki[xviii]. Di dalam buku-buku teks sejarah didongengkan bahwa Jepang menyerah kalah akibat kota Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh Amerika Serikat. Sejatinya, jika merujuk kepada tulisan bernada Gerakan Revisionisme Historis, kejadian itu hanya benar pada bagian Amerika Serikat mengebom Hiroshima dan Nagasaki dan Amerika Serikat keluar dari Perang Dunia II sebagai pemenang bukan pada bagian Jepang hanya bisa bertekuk lutut setelah dibom Amerika Serikat[xix]. Jikalau Amerika Serikat tidak keluar sebagai pemenang Perang Dunia II, mungkin apa yang kita baca di dalam buku sejarah akan lain[xx]. Mungkin saja di dalam buku sejarah sekarang akan tertulis betapa kejinya Amerika Serikat yang membantai rakyat sipil di Hiroshima dan Nagasaki dengan bom atom.

Begitu juga jika kita membaca ulang pada kisah Soekarno, juga pada Soeharto. Soekarno dan Soeharto punya masa jaya masing-masing[xxi]. Keduanya punya masa ketika kebesaran mereka tak henti-hentinya didengungkan oleh pembuat narasi di media massa mainstream juga buku teks sejarah resmi dan lalu kemudian diyakini oleh publik.

Pada keadaan gegap gempita politik, teks atau narasi atau ‘dongeng’ saling berseliweran; saling bertumbukan. Gegap gempita suatu saat akan mengalami titik puncak dan akan memisahkan mana yang menjadi pemenang dan mana yang menjadi pecundang. Pemenang akan memegang pena yang menentukan bagaimana sejarah bakal dituliskan di buku teks sejarah dan digaungkan lewat media massa mainstream: sebuah versi resmi. Pecundang akan tersisihkan.

Ketika gegap gempita politik membutuhkan biaya dan pengorbanan yang besar maka ada kecenderungan untuk menjaga kelestarian kekuasaan. Dan biasanya, pecundang akan diberangus dan ‘kisah-kisah’ mereka akan ditenggelamkan dari ingatan publik. Publik hanya akan mengingat para pemenang karena ‘dikondisikan’ hanya menerima kisah masa lalu kolektif versi pemenang yang menjaga langgengnya kekuasaan.

Kalau sedang sial, para pecundang akan dituliskan di dalam buku sejarah mengenai keburukan-keburukannya dan hal-hal baik yang mungkin terdapati pada dirinya menjadi hilang. Para pecundang yang sial bukan lagi ‘manusia’ namun ia adalah tumbal dari ketamakan dan kerakusan.

Oleh sebab itulah ucapan Soekarno di dalam pidatonya mengenai Jas Merah menjadi absurd. Rakyat, atau publik, sewaktu Soekarno sudah mulai kalah popularitasnya menjadi gamang: “Sejarah yang mana?”. Saat itu narasi sentimen terhadap Soekarno sudah terlalu masif; sudah terlalu sering berseliweran. Kebesaran sejarah yang dirujuk Soekarno, tentang kisah-kisah heroiknya melawan penjajah, sudah samar terdengar. Dongeng yang kerap didengar publik pada saat itu adalah bobrok di dalam pemerintahan Soekarno dan isu adanya restu Soekarno terhadap tokoh-tokoh PKI dalam melancarkan G30S/PKI.

Sejarah yang dimaksud Soekarno pelan-pelan tenggelam oleh gencarnya narasi yang meminggirkan kisah heroik ‘ala’ Soekarno. Teks sejarah milik Soekarno terkalahkan oleh teks sejarah ‘baru’ mengenai harapan akan adanya pemerintahan yang baru; pemerintahan tanpa Soekarno. Dan kemudian memang benar, sesudah itu narasi kehebatan Soekarno kalah oleh narasi penahbis kehebatan Suharto yang berlangsung selama 32 tahun.

Begitu juga kini. Kini adalah saat beberapa dokumen disingkap mengenai bagaimana Suharto naik ke jenjang kekuasaan. Petualangan Suharto dengan pemberangusan PKI dan simpatisannya di tahun 1965 mulai dikuak lewat narasi-narasi yang pernah tersembunyikan atau narasi-narasi baru sebagaimana sejarah bakal berulang: benturan narasi. Siapa yang mempunyai narasi dengan endorser kekuatan-kekuatan besar biasanya pelan-pelan akan menempati buku teks utama. Dan seperti lazimnya kita semua tahu, kekuatan-kekuatan besar yang mendorong atau mengijinkan sebuah narasi yang baru menjadi dominan sudah selalu siap dengan rencana berikutnya terhadap sebuah negara yang status quo-nya digoyang.

Kemudian pada akhirnyalah kita hanya bisa duduk termenung dan terpukau mengenai bagaimana sebuah negara sebenarnya tidak memiliki sejarah dan kedaulatannya sendiri. Kita akan semakin tahu bagaimana goyangan atas sebuah negara seringkali sebuah eksperimen di dalam membuat keadaan yang memang hendak dicapai kekuatan-kekuatan besar itu. Bukankah demikian Jack dan Sam?

Creative Commons License
Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.
=======================================

[i] n.n, “Saya ini 21 Tahun Dicekal – Wawancara [dengan] Abdul Haris Nasution ”, Majalah D&R 17 Januari 1998

[ii] Ibid

[iii] Howland, Richard C. 1970. “The Lessons of the September 30 Affair,” Perspective on Indonesia, hlm. 13-29

[iv] Ibid

[v] Lashmar, P & Oliver, J. 1 Desember 1998. “How We Destroyed Soekarno”, The Idependent

http://www.independent.co.uk/arts-entertainment/how-we-destroyed-sukarno-1188448.html

[vi] Ibid

[vii] Kantor Urusan Luar Negeri Kerajaan Inggris yang salah satu kegiatannya adalah mempromosikan kepentingan Kerajaan Inggris.

[viii] Dinas Intelijen Inggris

[ix] Dinas Intelijen Amerika

[x]Lashmar, P & Oliver, J. Loc. Cit.

[xi]Bandingkan juga konsistensi ketergiuran Amerika Serikat terhadap kekayaan alam dan posisi strategis Indonesia dalam Lawrence Griswold, “Garuda and the Emerald Archipelago: Strategic Indonesia Forges New Ties with the West,” Sea Power (Navy League of the United States), vol. 16, no. 2 (1973), hlm. 20, 25.

[xii] Lashmar, P & Oliver, J. Loc. Cit.

[xiii] Untuk narasi lain tentang kejadian sekitar pemberontakan G30S/PKI silakan bandingkan dengan ‘Cornel Paper’.

Yang menarik dari “Cornell Paper” adalah suguhan hipotesis naratif tentang tidak terlibatnya Soekarno dan PKI dalam ‘kudeta’ yang kemudian disebut sebagai G30S/PKI. Cornell Paper adalah buah karya Benedict Anderson, Ruth McVey, dan Frederick Burnell. Ketiga orang ini adalah alumni dari Cornell University maka kertas kerja mereka disebut dengan ‘Cornel Paper’.

Peristiwa G30S/PKI menurut Cornell Paper adalah buah dari konflik internal di dalam tubuh angkatan bersenjata. Di dalam Cornell Paper, Soeharto [berkongsi  dengan pihak asing] yang menjadi pemain sentral orkestrasi konflik tersebut dan akhirnya keluar sebagai pemenang (Benedict Anderson, Ruth McVey, Frederick Bunnel. 1971. A Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia. Ithaca, N.Y.: Modern Indonesia Project, Cornell University).

[xiv] Berita Kawat Kedutaan AS di Indonesia ke Department of State, tanggal 4 November 1965, in United States Department of State, Foreign Relations of the United States, 1964-1968, vol. 26, hlm. 354.

[xv] Roosa, J. & Nevins, J. 5 November 2005. “40 Years Later: The Mass Killings in Indonesia”, diakses 29 Mei 2014 dari http://www.globalresearch.ca/40-years-later-the-mass-killings-in-indonesia/1187

[xvi] Ibid

[xvii] Chomsky, N. 31 Maret 1992. “Historical Revisionism”. Diakses 29 Mei 2014 dari http://www.chomsky.info/letters/19920331.htm

[xviii] Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki adalah contoh yang menarik tidak hanya dari sisi Revisionisme Historis namun juga misalnya dari konteks gugatan terkait HAM. Bandingkan dengan kisah Soeharto yang sekarang sedang disorot mengenai ‘dosa’nya di dalam tragedi pembantaian anggota (juga yang baru diduga) PKI di sekitar tahun 1966.

Soeharto keluar sebagai pemenang dan pegang kendali di Indonesia hingga 1998. Pada saat Soeharto berkuasa, nyaris tidak ada kebisingan mengenai gugat tanggung jawab Soeharto terhadap kejadian yang terjadi pada sekitar tahun 1966. Soeharto waktu berkuasa masih di-back up oleh Amerika Serikat sehingga mereka yang hendak melawan Soeharto mengalami kesulitan mendapatkan ‘akses’ untuk mengajukan gugatan. Yang dimaksud dengan ‘akses’ adalah sumber daya pengajuan gugatan beserta perlindungan.

Lalu apa kaitannya gugatan HAM terhadap Soeharto dengan ‘nirgugatan’ HAM kepada Amerika Serikat pada kasus pengeboman Hiroshima Nagasaki?

Amerika Serikat mengebom Hiroshima dan Nagasaki sehingga mengakibatkan korban sipil yang luar biasa banyak padahal sebelum pengeboman itu Jepang sudah babak belur serta berseliweran berita intelijen bahwa Jepang sudah hendak menyerah kalah pada sekutu. Jadi, pengeboman Hiroshima dan Nagasaki adalah kejahatan HAM yang serius. Meskipun demikian, mereka yang menggugat pelanggaran HAM yang telah dilakukan oleh Orde Baru tidak berani menggugat Amerika Serikat pada kasus Hiroshima dan Nagasaki -tutup mata pura-pura tidak melihat- sebab ‘back up’ dari Amerika Serikat sangat mereka perlukan untuk menyediakan ‘akses’ di dalam gugatan mereka terhadap Orde Baru (cf. Kohls, Gary G. 31 Juli 2013. “The Hiroshima Myth: Unaccountable War Crimes and the Lies of US Military History”, diakses 29 Mei 2014 dari:

http://www.globalresearch.ca/the-hiroshima-myth-unaccountable-war-crimes-and-the-lies-of-us-military-history/5344436).

Atau misalnya di dalam kasus Holocaust yang dilakukan oleh Inggris sebagaimana disindir oleh George Monbiot di dalam artikelnya yang berjudul “Deny the British Empire Crimes? No, We Ignore Them” dan bisa diakses lewat tautan berikut:

http://www.theguardian.com/commentisfree/2012/apr/23/british-empire-crimes-ignore-atrocities?CMP=share_btn_fb

[xix] Lihat endnote no 18.

[xx] Menarik juga untuk melihat Kisah Pembantaian Nanking sekitar tahun 1937 berdasar versi China dan berdasar versi Jepang. Ada kemiripan dua versi yang muncul pada narasi Kisah Pembantaian Nanking dengan kisah ‘pembantaian’ terhadap kaum komunis di Indonesia sekitar tahun 1966. Versi Orde Baru adalah serupa narasi kejadian di Nanking versi Jepang sedangkan versi penggugat pelanggaran HAM Orde Baru atas kasus sekitar 1966 mirip dengan kejadian di Nanking versi China.

[xxi] Paragraf ini mengingatkan kita pada sebuah bait dari sajak saduran Chairil Anwar yang berjudul “Catetan Th. 1946”

Kita –anjing diburu– hanya melihat sebagian dari
sandiwara sekarang
……….

sandiwara yang dipertontonkan selalu dalam keadaan ‘sekarang’ karena perbedaan waktu, perbedaan penguasa akan membuat tontonan potensial berubah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s