Home » Article » New Zealand Adalah Negara Paling ‘Islami’

New Zealand Adalah Negara Paling ‘Islami’

Sebuah artikel kritis yang ditulis oleh Shafiq Morton. Diposting di internet pertama kali tanggal 13 Februari 2012.[1] Revisi terakhir atas terjemahan ini dilakukan pada 8 Agustus 2015.

.

.

.

Seberapa ‘Islami’-kah negara-negara Islam? Pertanyaan inilah yang diajukan dua peneliti dari Universitas George Washington, Scheherazade Rahman dan Hossain Askari, di dalam Global Economy Journal of 2010.

Dan meskipun tulisan kedua peneliti ini sudah dua tahun yang lalu,[2] kebaruan pendekatan yang dipakai keduanya dan pemakaian paradigma Barat di dalam paper mereka membuat menjadikan paper tersebut sebagai bacaan wajib di dalam memahami isu perkembangan dunia.

Hal demikian sebab gerakan Arab Spring yang memprovokasi munculnya hak-hak politik di dunia Muslim dan Occupy Movements yang ditujukan kepada bankisme[3] di dunia Barat, justru menjadikan fokus yang tidak boleh dinafikan dari pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan oleh paper tersebut.

Di dalam abstrak paper mereka, kedua penulis berbicara tentang masa pasca 9/11. Mereka mengobservasi keingintahuan global yang sedang berkembang terkait masalah keyakinan, keuangan, politik, dan hak asasi manusia. Pertanyaan yang justru seharusnya muncul sebagai kritik atas paper tersebut adalah: di manakah posisi keyakinan hendak ditaruh dalam konteks keuangan, politik, dan hak asasi manusia?

Para penulis merujuk pada kurangnya akademisi serupa Bernard Lewis (tokoh yang pertama menggaungkan istilah ‘clash of civilization’) di dalam memahami keterkaitan antara agama, ekonomi, dan masyarakat.

Masalah terbesar, sebagaimana klaim kedua penulis paper tersebut, adalah bahwa Islam cenderung dihakimi berdasar kepada labeling tentang segala rupa laku tindak Muslim dan bukan lewat analisis mengenai pesan sebenarnya dari Islam.

Pertanyaan utama dari paper tersebut, kemudian mengerucut pada: apakah negara yang memaklumatkan diri sebagai negara Islam – seperti terujuk kepada keanggotaan OIC (Organisation of Islamic Countries) – mempraktikkan kebijakan-kebijakan yang berlandaskan pada ajaran Islam yang sebenarnya.

Pengukuran ‘Islamicity’ atau ‘Keislaman’ dilakukan oleh kedua penulis tersebut dengan paradigma yang mereka ciptakan sendiri. Penyusunan perangkat tolok ukur penilaian keislaman sebuah negara mereka buat dengan cara memilah poin-poin tertentu yang dianggap menjadi ciri khas sebuah negara muslim dan kemudian menyusun semacam indeks standar pengukuran.

Lebih dari 208 negara lantas diukur berdasar empat kategori: 1. ekonomi, 2. kapasitas hukum dan pemerintahan, 3. hak-hak politik dan hak asasi, serta 4. hubungan internasional.

Asumsi utama dari penelitian ini adalah bahwa keputusan-keputusan yang dibuat oleh individual di dalam sebuah masyarakat pada kadar tertentu ditentukan oleh sistem kepercayaan mereka. Sistem kepercayaan inilah yang menular di dalam value-value lain di dalam perikehidupannya.

Meskipun demikian, pengukuran Islamicity – sebagaimana istilah ini dimunculkan oleh kedua peneliti – bukanlah hal yang tanpa problem. Dari 57 negara di dalam OIC, hanya ada tujuh negara (Afghanistan, Bahrain, Iran, Mauritania, Pakistan, Oman, dan Yaman) yang memaklumatkan diri sebagai negara Islam, sedangkan 12 negara lainnya hanya menyatakan bahwa Islam adalah agama resmi negara tersebut dan bukan sebagai ‘negara Islam’.

Di dalam penelitian terhadap 208 negara, baik Muslim maupun non-Muslim dibandingkan di dalam takaran keislaman. Tidak hanya itu saja yang patut menjadi pertanyaan terhadap penelitian itu. Indikator yang sifatnya ke-Barat-an, semisal UN Development Index dan Transparency International’s Corruption Perception Index dikaitkan dengan prinsip keislaman.

Kedua penulis menggarisbawahi empat konstruk Islami yang dianggap sebagai jaminan dasar akan kesuksesan negara Islami: walayyah (pemahaman lewat kebijaksanaan dan keadilan), karamah (pengakuan martabat manusia), meethaq (pengakuan akan kemahakuasaan Tuhan), dan khilafah (kepemimpinan yang amanah).

Meskipun kedua penulis tidak merujukkan asas ini kepada pendapat Imam Ghazali, namun nampaknya empat asas negara Islami ini memiliki kemiripan dengan enam kaidah sosial milik Imam Ghazali: 1. hak beragama, 2. hak untuk kaya, 3. hak untuk memiliki sesuatu, 4. hak untuk berketurunan, 5. hak untuk menjaga martabat, 6. hak memperoleh keadilan.

Hal implisit yang termaktub di dalam konsep ini adalah nilai-nilai masyarakat yang peduli dan melindungi anggotanya; ditandai dengan pengadilan yang adil, pemerataan kemakmuran, dan kepemimpinan yang tanpa kepalsuan.

Di dalam ranah ekonomi, sebagaimana ungkap kedua penulis, sistem hukum Islam mengajarkan pasar bebas, namun tidak sama dengan model kapitalistik ala Barat. Sebagai contoh, fikih Islam mengajarkan pembagian risiko dan tidak sepakat dengan penarikan pajak untuk impor dan ekspor. Fikih Islam juga melarang monopoli, hoarding, spekulasi, dan manipulasi harga.

Kedua penulis menyimpulkan bahwa hal-hal yang diajukan Islam terkait dengan sistem pemerintahan, solidaritas sosial, kerjasama, dan keadilan menampilkan dukungan akan perkembangan dan kemakmuran ekonomi.

Hasil dari penelitian mereka, meskipun dilabeli oleh mereka sendiri sebagai ‘preliminary’[4], merupakan sesuatu yang menarik untuk dibaca dan dikaji.

Menarik sebab negara-negara Islam memiliki ranking yang buruk. New Zealand, yang jumlah biri-birinya lebih banyak dari jumlah penduduknya, muncul sebagai negara paling Islami, sedangkan Amerika Serikat – yang dipercayai sebagai negara paling demokratis – hanya menempati peringkat 25.

China, yang biasanya disorot sebagai kekuatan ekonomi yang ‘rakus’, secara mengejutkan menempati posisi 27. India, negara yang demokrasi-nya lagi meriang, berada di posisi 89. Negara Israel, yang selama ini dianggap rempong terhadap dunia Islam, nangkring di posisi 61 alias lebih tinggi dari negara-negara Islami. Lucunya, Tepi Barat dan Gaza yang sedang dikuasai oleh Israel, berada di posisi 207.

Negara Islami yang rankingnya lumayan tinggi adalah Bahrain, di posisi 64. Walaupun jika kemudian diadakan perankingan ulang, bisa jadi ranking 64 pada saat ini sudah bukan lagi milik Bahrain. Iran berada di 163 (atau selisih 3 tingkat dengan Afghanistan). Sedangkan negara yang menahbiskan Islam sebagai agama resmi negara, Malaysia memiliki ranking tertinggi di antara lainnya. Posisi Malaysia adalah 38.

Bagi negara yang barusan kena imbas Arab Spring, Tunisia berada di posisi 83. Mesir ambil posisi 153 dan Libya ambil ranking 196. Mungkin saja ranking milik Tunisia ini yang muncul sebelum Arab Spring terjadi memberikan semacam perkiraan awal, sebuah prediktor, bahwa Tunisia bakal mengalami transisi pemerintahan diktator ke demokrasi lebih cepat dibanding negara Arab lainnya.

Argumen bahwa ranking yang dibuat paper ini adalah berhasil sebagai prediktor sebenarnya tidak sesederhana itu harus dilihatnya. Jika menuruti ranking yang ada maka kita tahu bahwa Arab Spring di jazirah Arab terjadi secara random dan ada eksklusi pada beberapa negara karena keadaan ajeg saja.

Afrika secara umum mendapat ranking yang buruk – meski juga ada pengecualian. Mauritania beroleh tempat di posisi 42. Mauritania negara kecil yang memiliki penduduk Muslim minoritas secara mengejutkan berada di posisi yang lumayan tinggi.

Negara Afrika lain, Namibia, ada di posisi 45, Afrika Selatan ranking 50, dan Ghana dapat posisi 53. Berdasar ranking ini, Afrika Selatan berada di posisi yang lebih tinggi dari semua negara yang memaklumatkan diri sebagai negara Islam. Lebih lanjut, yang menarik juga adalah, kecuali dibandingkan dengan China, negara kita[5] beroleh ranking yang lebih tinggi dibanding negara-negara BRIC[6].

Kedua penulis paper ini menggunakan temuan preliminary mereka sebagai acuan kepada sebuah kesimpulan bahwa negara-negara Islami tidaklah se-islami sebagaimana sangkaan selama ini. Meskipun demikian, keberadaan negara-negara maju di dalam ranking yang lebih tinggi dibandingkan negara-negara Islami di dalam Indeks Keislaman harus dicermati dengan cara yang tepat.

Keterkaitan antara keyakinan, keuangan, dan politik adalah kompleks. Kurang berkembangnya negara-negara Islami tidaklah dapat diatributkan hanya kepada agama.

Masalah yang sudah mengendap lama di negara-negara berkembang[7], semisal pemerintahan yang belum cakap[8], kebijakan ekonomi yang buruk[9], ketergantungan pada bantuan[10], korupsi yang menggurita atau sistemis[11], kurangnya perlakuan adil sosial[12], dan sistem jaminan kesehatan yang amburadul[13], tidaklah tepat disimpulkan sebagai memiliki keterkaitan dengan ajaran di dalam Kitab Suci sebuah agama.

Justru sebenarnya juga diakui oleh kedua penulis artikel tersebut, kegagalan pemerintahan dan kebijakan sebuah negara – bukan agamanya – sesuatu yang selama ini dilabelkan kepada negara di Timur Tengah dan [sebagian] negara Afrika, yang harusnya dijadikan tolok ukur sebab asalnya, walaupun negara-negara ini diberkati dengan minyak dan kekayaan alam yang melimpah.

Endnotes

[1] Yang Anda baca ini adalah terjemahan bebas dari tulisan Shafiq Morton di laman:

                http://vocfm.co.za/blogs/shafiqmorton/?p=797#.

atau

http://surfingbehindthewall.blogspot.com.au/2012/02/new-zealand-is-worlds-most-islamic.html

Morton adalah host sebuah acara radio di Afrika Selatan, penulis, fotografer, dan jurnalis senior pemenang penghargaan Vodacom 2008 di kategori Community Media. Buku karangan Shafiq Morton yang sudah terbit berjudul Notebooks from Makkah to Madinah  dan Surfing behind the Wall. Pada tahun 2009, Shafiq Morton dinobatkan sebagai salah satu dari 500 muslim yang berpengaruh di dunia menurut versi The Royal Islamic Strategic Studies Centre. Terjemahan bebas ini telah mendapat ijin Shafiq Morton.

[2] Dua tahun: merujuk kepada tanggal posting tulisan Shafiq Morton.

[3] Bankisme: saya belum menemukan definisi dari kamus resmi mengenai istilah ini. Namun secara umum dapat diartikan kepada cara pandang bahwa kondisi ekonomi dan finansial selalu dan hanya bersandar kepada bank dan tidak ada instrumen lain yang bisa menyodorkan kemakmuran kecuali menjaga bank tetap berdiri.

[4] Sesuatu yang masih prematur, sesuatu yang memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Sebagai wacana banding betapa prematur, atau bahkan malah dapat disebut sebagai gegabahnya, penelitian Scheherazade Rahman dan Hossain Askari dapat dirujuk – salah satunya – kepada data statistik yang dipaparkan oleh Rheena yang dapat Anda kunjungi lewat link berikut (click here).

[5] Negara kita = negara Shafiq Morton = Afrika Selatan

[6] BRIC = Brasil, Rusia, India, China

[7] Perhatikan bahwa ranking di dalam paper ini mengikutsertakan semua negara, baik negara Islam, negara yang menjadikan Islam sebagai agama resmi, negara yang mayoritas penduduknya Islam, dan negara yang sama sekali bukan Islam untuk kemudian diukur lewat Indeks Keislaman.

[8] Bukankah acuan sistem pemerintahan yang dianggap terbaik oleh ‘dunia’ saat ini adalah sistem pemerintahan demokrasi? Jikalau demikian, bukankah sangat logis untuk cerdas menyimpulkan bahwa relatif lebih stable dan skilful Barat dibanding negara apapun yang baru belajar demokrasi, atau baru saja mengalami transisi ke bentuk demokrasi, atau dipaksa untuk menjadi negara demokrasi (sesuatu yang baru)? Bandingkan misalnya dengan argumen Dr. Shashi Tharoor MP berikut ini di dalam menyanggah argumen propagandis mengenai pernyataan bahwa India belum demokratis sedangkan Britain sudah sangat demokratis.

Kritik lain dari perankingan negara paling Islami bagaimanakah misalnya New Zealand yang nangkring di posisi 20 besar untuk negara dengan tingkat penipuan yang tinggi dan perkosaan yang tinggi serta tingkat perampokan di ranking 50 dunia sesuai data independen tahun 2000-an disebut sebagai negara yang paling Islami? Adakah kesejahteraan, keamanan warga negara, dan atau penegakan hukum yang kuat dan menjerakan bisa dikaitkan dengan tingkat Islami-nya sebuah negara? Jika bisa mengapa New Zealand tidak bercacat pada beberapa hal tersebut? Dan mengapakah justru kemudian pihak domestik New Zealand justru menunjukkan bahwa New Zealand adalah negara dengan tingkat kejahatan yang tinggi dibandingkan dengan negara lain sebagaimana dirujukkan pada rilis survei The International Crime Victims Survey? Bagaimanakah sebuah negara yang selain tidak memakai ‘hukum Islami’ hanya gara-gara indikator yang debatable bisa diklaim lebih Islami dibandingkan negara-negara lainnya?

Kemudian bandingkan juga dengan tulisan Shelina Zahra Janmohamed dengan judul “Islamicity rankings ignore the realities”. Shelina mempertanyakan sejauh mana parameter ‘keislaman’ sebuah negara adil dibuat dan layak diterapkan pada semua negara. Ia juga melontarkan pertanyaan usil mengapa misalnya tidak muncul perankingan tingkat ‘kekristenan’ atau ‘keyahudian’ sebuah negara. Poin utama yang dikutipkan dari Prof. Askari oleh Shelina adalah bagaimana parameter ‘keislaman’ yang digunakan meluputkan hal yang paling utama dari makna kata ‘keislaman’ pada usaha perankingan negara-negara yang ada di dunia: “the attempt to live an Islamic life.”

[9] Bukankah acuan ekonomi dunia [saat ini] adalah sistem ekonomi Barat sehingga Barat lebih ‘terampil’ dan start duluan di dalam menerapkan sistem ekonomi ini?

[10] Sudah jelas, tidak perlu diberikan pertanyaan ‘bukankah?’.

[11] Sejatinya ketika chaos terjadi (mis. karena endnote 8, 9, 10) maka pengguritaan korupsi memiliki kemungkinan lebih besar untuk terjadi.

[12] Lihat endnote 11.

[13] Lihat endnote 11.

4 thoughts on “New Zealand Adalah Negara Paling ‘Islami’

    • Dibaca dan direnungi dengan cermat. Jika suka adventure dalam hidup, ‘mungkin’ NZ adalah tempat yang relatif ok. Namun untuk mereka yang terikat secara emosional dengan nilai-nilai ‘mangan ra mangan penting kumpul (sedulur)’ dan religius maka NZ tetap kalah dengan Indonesia. Ya, Indonesia, negeri yang penuh pesona!

      Like

  1. Mungkin ada yang berminat menyusun Islamicity indicator :

    Seutama-utamanya IMAN ialah ucapan La ilaha illallah dan serendah-
    rendahnya ialah menyingkirkan apa-apa yang berbahaya -semacam batu,
    duri, lumpur, abu kotoran dan Iain-Iain sebagainya -dari jalanan. Sifat
    malu adalah suatu cabang dari keimanan itu

    “ISLAM itu engkau
    bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Alloh dan sesungguhnya
    Muhammad itu utusan Alloh, engkau mendirikan sholat, mengeluarkan zakat,
    berpuasa pada bulan Romadhon dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah
    jika engkau mampu melakukannya.”

    IHSAN adalah Engkau beribadah
    kepada Alloh seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak
    melihatnya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu.”

    KeIMANan itu ada tujuhpuluh lebih – tiga sampai sembilan -atau keimanan
    itu cabangnya ada enampuluh lebih – tiga sampai sembilan.
    Seutama-utamanya ialah ucapan La ilaha illallah dan serendah- rendahnya
    ialah menyingkirkan apa-apa yang berbahaya -semacam batu, duri, lumpur,
    abu kotoran dan Iain-Iain sebagainya -dari jalanan. Sifat malu adalah
    suatu cabang dari keimanan itu.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s