Home » Selected Contemplation » Pembodohan yang Atraktif

Pembodohan yang Atraktif

Published on 24 January 2014, Latest Revision on 4 February 2015 as issues on ISIS getting bigger.

Malam itu saya mengikuti sebuah pengajian yang sering ditayangkan di sebuah televisi lokal. Hal yang menarik dari pengajian tersebut adalah pembodohan yang terus berulang kepada awam dan dikemas dengan cara yang atraktif. Yang tipikal dari pengajian ini adalah modus serupa ini: candaan dilemparkan, musik tradisional Jawa dimainkan, sholawat didendangkan, ayat-ayat Qur’an dikutip, hadist disitir, kisah-kisah diceritakan, sedikit bahasa Inggris ini dan itu ditampilkan. Memukau bagi awam!

Pengajian Bergending Itu

Dan malam itu, seperti biasa, sekali lagi saya mengikuti tayangan pengajian yang memukau bagi awam tersebut.

Pengajian dibuka dengan kritik terhadap fatwa MUI tentang doa bersama. Sangat khas, kritik dilakukan bukan dengan kalimat menyalahkan sehingga awam tidak mendapat kesan bahwa pengajian ini suka menyalah-nyalahkan. Kritik tersebut dilakukan dengan mengutip kisah Iblis yang berdoa (memohon) kepada Allah untuk diberi kelonggaran waktu menjalani hukuman sebagaimana termaktub di dalam Qur’an. Iblis dikabulkan doanya. Sang penceramah berkoar-koar atraktif dan menyebut contoh ini sebagai justifikasi bahwa Iblis-pun doanya dikabulkan oleh Allah padahal Iblis telah jelas-jelas dinyatakan terkutuk.

Sang penceramah lalu menunjukkan bahwa banyak orang yang berbeda keyakinan mendapat kemuliaan dunia berkat doa-doa mereka. Lalu pernyataan provokatif dilemparkan: Jika Allah hanya mengabulkan doa orang yang sama keyakinan dengan kita, mengapa justru terdapat banyak bukti bahwa orang-orang yang tidak sama keyakinan juga mendapatkan kemuliaan dunia? Bukankah ini berarti doa-doa mereka juga dikabulkan oleh Allah? Lihatlah Iblis. Iblis saja doanya dikabulkan oleh Allah. Jadi jika ada orang yang berbeda keyakinan atau orang yang serupa Iblis sedang berdoa maka tidak ada salahnya untuk mengaminkan doa mereka. Sang Penceramah berkata bahwa bisa jadi doa yang dilontarkan oleh mereka ini kebetulan ‘pas dikabulkan’ oleh Allah jadi yang penting aminkan saja. Lalu dikatakan bahwa mereka yang tidak paham ini berarti kurang mendalami agama Islam.

Awam hadirin pengajian itu terpukau seperti biasanya. Lalu ada yang ikut menertawakan MUI.

Ada yang ganjil dengan gaya berpikir seperti itu. Untuk kasus Iblis, jika kita cermat membaca kisahnya kita akan mendapati bahwa Iblis berdoa kepada Allah. Iblis, meskipun sudah dicap sebagai pengingkar perintah, tidak bisa disamakan dengan kasus umat yang berkeyakinan lain dalam hal doa. Umat lain berdoa bukan kepada Allah atau ada juga yang berdoa kepada Allah beserta apa yang mereka persekutukan dengan Allah. Jadi berbeda, sangat berbeda (cf. sanggahan Keith E. Johnson atas John Hick dalam terjemahan saya ‘Hipotesis Pluralistik John Hick …’).

Lalu bagaimana dengan terkabulnya doa? Sebuah ilustrasi: Bagaimana jikalau hanya orang yang beriman yang benar saja yang dikabulkan doanya? Jawabannya: semua orang akan beriman pada keimanan yang benar itu. Lalu jika ini terjadi, orang beriman tidak akan mendapatkan ujiannya. Iman menjadi tidak bernilai istimewa sebab tidak beriman kepada iman yang benar itu akan menjadi tidak relevan. Semua orang tentunya akan berbondong-bondong memeluk sebuah agama yang semua doanya tiap kali berdoa dikabulkan. Dus, mempunyai pikiran bahwa benarnya sebuah agama adalah dengan terkabulnya semua doa (di dunia) adalah keluguan. Bayangkan betapa kacaunya dunia jika setiap berdoa tidak ada yang tidak dikabulkan.

Sang penceramah melanjutkan khotbahnya. Ia berkata bahwa banyak orang salah memahami Islam dengan cara selalu mengekor pada budaya Arab.[1] Ia membenturkan budaya Jawa dengan budaya Arab dengan menceritakan, kurang lebih, bahwa budaya Arab adalah budaya padang pasir [yang keras] sedangkan budaya Jawa adalah budaya lempung [yang lentuk]. Kemudian ia menyindir mereka yang bersikap keras – melakukan kekerasan – di dalam berdakwah. Kekerasan bukan khas Jawa. Islam itu datang dalam ajakan kedamaian dan keselamatan dan bukan untuk mengadakan kekacauan.

Awam hadirin pengajian itu terpukau seperti biasanya.

Ada yang aneh dengan pembandingan model seperti itu. Sebagaimana pernah saya singgung dalam endnote pada terjemahan saya ‘Hipokrisi dalam Profesi Kependidikan‘ mengenai Islam dan Arab, ada kerancuan mengenai penyamaan Islam dengan Arab. Inilah cara pikir yang salah. Perlu diketahui bahwa jazirah Arab secara umum berhasil di-islam-kan sehingga seakan-akan semua yang berasal dari Arab adalah pasti Islam.

Tidak semua yang berasal dari Arab adalah Islam dan begitu juga jangan dikatakan bahwa semua yang merupakan ajaran dari Islam adalah budaya Arab. Budaya di jazirah Arab bukanlah budaya yang monoton seratus persen islami karena di jazirah Arab terdapat banyak negara, etnis, varian bahasa, dan agama (mis. Kristen Ortodox Syiria, Kristen Lebanon, Yahudi, Syiah, Zoroastrian).

Cara pikir bahwa semua ajaran Islam adalah sejatinya khas budaya Arab adalah tidak pas. Sebagai contoh lain, tidak pas ketika mengatakan bahwa ajaran menutup aurat dikatakan sebagai budaya Arab karena Arab berpadang pasir sehingga ada kebutuhan menutup diri dari debu dan atau panas. Jika cara melihatnya adalah serupa ini maka secara sederhana seharusnya dapat dijelaskan juga mengapa kewajiban menutup aurat antara pria dan wanita di dalam Islam berbeda padahal baik pria maupun wanita Arab mengalami lingkungan yang sama. Tambahan pula, mengapa juga ada hadist yang menjelaskan bagaimana cara menutup aurat yang ternyata tidak sama dengan apa yang sudah lazim dipakai orang Arab sebelum perintah menutup aurat diperintahkan? Dan jika ingin cermat – bukan kaku – bukankah perintahnya bukan agar berpakaian ala Arab namun ‘menutup aurat’? Dengan demikian pemahaman menutup aurat hendak dipraktikkan dengan gaya busana penutup aurat model apapun – asal pantas dan tidak berlebihan – adalah ketepatan memahami perintah ini.

Kecerobohan dan Kesembronoan

Lebih jauh lagi – meski tidak disinggung di dalam ngaji bersama yang saya tonton itu – beberapa gelintir orang di dalam pengajian serupa pengajian yang saya tonton ini malah pernah saya dengar melempar guyonan rasis bahwa perintah itu adalah karena laki-laki bangsa Arab libidonya besar sehingga kaum wanitanya butuh dilindungi dengan pakaian tertutup. Duh, jika argumen ini dijadikan rujukan maka argumen tersebut dapat pula dipatahkan dengan fakta bahwa tidak semua laki-laki Arab menikah di usia muda, menikah dengan banyak wanita, dan seterusnya yang membuktikan bahwa tidak semua laki-laki bangsa Arab libidonya besar. Tuduhan atau klaim berdasarkan ‘kasus-kasus tertentu’ kemudian digeneralisasi adalah sebuah kesembronoan.

Contoh lain di dalam kesembronoan berpendapat misalnya pada isu kemuliaan bangsa Yahudi. Pendapat yang mengatakan bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang mulia sehingga ‘selalu benar apapun tindak-tanduknya’ adalah berbahaya. Sudah mahfum diketahui bahwa ‘mulia’-nya bangsa Yahudi adalah dalam konteks mereka beruntung karena banyak nabi yang dimunculkan dari kalangan mereka. Dan bagi believers, derajat kemuliaan seseorang adalah kedekatannya kepada Tuhan: melakukan perintah dan menjauhi larangan. Bila sebuah bangsa, bangsa apapun, tidak melakukan perintah dan menjauhi larangan Tuhan maka bangsa tersebut bukan bangsa yang mulia. Dus, makna mulia yang pertama dengan yang kedua adalah berbeda (cf. terjemahan dari tulisan seorang Kristen mengenai sikap berlebihan di dalam ‘memuliakan’ bangsa Yahudi: Siapakah Pemilik Sah Tanah Palestina? dapat dijadikan pembanding).

Dahulu sekali, saya juga pernah terperanjat dengan semacam ajaran yang ditularkan word-of-mouth dari sebuah jamaah yang sampai kepada saya mengenai tingkatan sholat di dalam Islam. Di dalam ajaran yang aneh itu diceritakan bahwa tingkat sholat tertinggi adalah sudah tidak dengan gerakan namun sudah menyatu dengan tiap napas. Menurut ajaran ini, saat sholat sudah menyatu dengan napas maka sudah tidak relevan lagi – sudah tidak level lagi – untuk menetapi sholat yang ‘konvensional’; sholat dengan gerakan. Duh, ajaran ini sungguh aneh. Jika merujuk kepada banyak hadist, Muhammad saw. justru mengecam peninggal sholat [wajib, 5 waktu, dengan gerakan dari takbir hingga salam]. Bahkan sudah terkabarkan pula bahwa Rasul saw. bukan hanya sholat wajib namun juga menghidupkan malamnya dengan sholat tahajud hingga kaki beliau bengkak. Di dalam riwayat muttafaqun ‘alaih disebutkan bahwa Rasul ‘membebani diri’ dengan sholat tahajud. Sholat tahajud yang beliau lakukan bukan hanya sekedar dilakukan namun beliau saw. konsisten sebagai pengunjuk hamba yang pandai bersyukur.  Bukankah asal perintah sholat [wajib] di dalam Islam diberikan langsung kepada Muhammad saw. (cf. HR Muslim no 162) dengan gerakan yang diperintahkan diikuti sesuai apa yang beliau saw. contohkan?  Lalu darimana dasar kesembronoan ajaran ‘sholat tanpa gerakan’ yang menyelisihi teladan nabi yang mengajarkan Islam dan juga sholat?

Hendak disangkal atau hendak direnungkan, kerap ada yang salah dengan bagaimana kita membuat hujjah. Contoh lainnya adalah mengenai kejawaaan kita. Kita selalu mengatakan bahwa yang khas dari orang Jawa adalah lemah lembut dan tata laku-nya. Imbas praktikal dari klaim ini adalah orang Jawa – yang tidak boleh hilang kejawaannya – selalu diajari untuk selalu lemah lembut dalam bertutur kata dan berperilaku sesuai adat Jawa pada hal apapun.

Pertanyaan yang penting justru timbul: Sejauh manakah lemah lembut teguh dipraktikkan kepada sesuatu yang buruk? Bukankah di dalam sejarah tanah Jawa kita telah belajar bahwa kekerasan kadang diperlukan demi kebaikan? Bukankah kita sama-sama sepakat bahwa Walisongo melakukan ‘kekerasan’ kepada Syeh Siti Jenar karena mengajarkan pantheisme dan atau monisme, sesuatu yang berbeda dengan ajaran Muhammad saw.? Bukankah Pangeran Diponegoro, yang sangat teguh memegang kejawaannya dan sikap halus orang Jawa, berani bergerak keras terhadap Belanda (cf. Peter Carey)?

Kadang Kekerasan Dibutuhkan

Kekerasan itu kadang diperlukan asal tepat keadaan, adil, tidak melupakan berbuat kasih sebab ada adab bahkan di dalam tindak kekerasan, dan tak pernah lupa menyediakan ruang pemaafan. Bila saja hendak adil melihat semua fenomena yang ada maka di dalam konteks penegakan demokrasi dan HAM tidak dapat disangkal bahwa kekerasan juga sering dilakukan – tentu saja dengan jargon spesial klasik yang hanya boleh dipakai untuk kekerasan atas nama demokrasi: ‘membebaskan’.

Salah kaprah yang sering terjadi adalah pemberian label bahwa semua kekerasan [kecuali yang didukung media massa] adalah selalu buruk. Dalam konteks ‘main label’ mana kekerasan yang baik dan mana kekerasan yang buruk maka jihad tergambarkan sebagai kekerasan yang buruk. Jihad sekarang ini selalu sengaja diarahkan definisinya dengan hanya kekerasan. Muncul istilah olok-olok serupa kelompok jihadis zonder timbang bagaimana konteks gerakan resistance atau perlawanan tersebut berawal. Intinya jika ada orang Islam melakukan pembelaan diri atau perlawanan terhadap penindasan di sebuah negara yang diinvasi adalah sudah otomatis disebut sebagai bagian dari grup jihadis.

Kebanyakan orang mengamini hal ini tanpa memahami kedalaman dan keluasan makna jihad. Apa yang diyakini oleh kebanyakan awam tentang jihad saat ini adalah distorsi pemaknaan. Argumen beserta fakta-fakta ditampilkan untuk meyakinkan publik awam bahwa jihad adalah memang benar-benar ‘tindakan kekerasan [terhadap orang yang berkeyakinan lain] dalam rangka menegakkan kalimat Allah’ tanpa ditampilkan kepada publik betapa kompleksnya fenomena ‘kekerasan’ (jika memang tidak ada kata lain untuk menunjuk pada kontak fisik) yang dilakukan oleh orang Islam.

Labeling untuk Melemahkan Lawan

Merujuk kepada apa yang pernah diletupkan oleh Huntington (1996) bahwa ideologi “yang tersisa” selepas perang dingin yang memiliki potensi untuk berkonflik di masa mendatang adalah Western dan Islamic. Kisah embargo minyak oleh negara-negara Islam di tahun 70-an dan trauma lama kekalahan bertubi-tubi dalam Crusade menghasilkan persepsi bahwa Islam adalah kompetitor yang alot. Penakhlukan Islam, sebagaimana sebelumnya telah berhasil dilakukan terhadap sosialis-komunis, tidak bisa dilakukan kecuali dengan pembuatan narasi di belakang tirai. Kapitalisme Barat sudah belajar dari pengalaman mereka bahwa berhadapan frontal dengan Islam kerap menghasilkan kekalahan.

Strategi pelemahan lawan lewat penciptaan narasi yang menguntungkan penguasa jalur informasi mainstream ini telah dikupas oleh Spivak di dalam Can The Subaltern Speak? (1988) ketika ia menunjukkan bagaimana sati ditampilkan terus-menerus oleh kolonial Inggris di dalam teks-teks sebagai bentuk budaya yang opresif terhadap perempuan dan buruk. Penampilan berulang-ulang sebuah narasi ‘cangkokan’ mengenai tidak beradabnya ritual sati ini menyingkirkan narasi asli sati yaitu pembuktian loyalitas kepada pasangan dan momen sakral kehinduan. Saat orang-orang India sudah teracuni narasi ‘keburukan’ sati dan melupakan nilai sakral sati maka mereka juga ‘mulai lambat laun percaya’ bahwa budaya mereka inferior [‘buruk’] dibandingkan superioritas [atau ‘kebaikan’] budaya Barat.

Pembentukan narasi yang telah sedang berlangsung sekarang dalam konteks benturan antarperadaban, sebuah istilah yang digaungkan oleh Samuel Huntington dalam The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996) dan mengundang polemik, adalah tengah terjadi terhadap Islam.

Edward Said-lah yang menunjukkan di dalam kajian dan tulisan-tulisannya mengenai pembentukan narasi bahwa Islam itu ‘tidak toleran’, ‘kasar’, dan ‘jahat’. Edward Said adalah seorang cendekiawan Palestina yang concern terhadap apa yang tengah terjadi kepada Islam. Edward Said di dalam bukunya Covering Islam: How the Media and the Experts Determine How We See the Rest of the World (1997) menunjukkan bahwa narasi tentang Islam sengaja dibuat dalam rangka membentuk wajah Islam sebagai: suka kekerasan, buruk, kolot terhadap perubahan dan kemodernan serta selalu menolak apa yang dibawa oleh Barat.

Foto Edward Said di tahun 2003, tahun ia meninggal (Credit: Jean-Christian Bourcart/Getty Images)

Foto Edward Said di tahun 2003, tahun ia meninggal (Credit: Jean-Christian Bourcart/Getty Images)

6 Poin Hipotesis Penenunan Isu-isu dalam ‘Menyerang dan Melemahkan’ Islam secara Halus

Sebagaimana Said kemukakan, ideologi yang masih alot dan kurang begitu compatible dengan kapitalisme Barat adalah Islam. Diperlukan suatu cara agar orang-orang Islam terpecah dan sebagian dari mereka lalu ‘terpaksa’ mendefinisikan ulang ajaran agama mereka agar lebih compatible sehingga mudah dikuasai. Isu takfir, kafir, bid’ah, terorisme, bom bunuh diri, dan jihad sengaja ditenun menjadi sebuah narasi besar – beserta sekumpulan identifikator tematik – untuk mencapai tujuan hegemoni ideologi. Berikut ini adalah hipotesis penenunan isu-isu tersebut:

  1. Dibuat sebuah keyakinan lewat pembuatan narasi secara masif dan kolosal bahwa orang beragama Islam ada yang moderat dan ada yang fundamentalis.
  2. Dibuat sebuah momen besar yang membuat kaum moderat memisah dari kaum fundamentalis. Kejadian 9/11 memulai sebuah mega proyek War on Terror dapat terjadi. War on Terror, disangkal atau tidak, telah membuat batasan yang jelas: “bersama kami atau bersama mereka”.

Umat Islam kemudian terpecah karena pilihannya hanya ada dua: moderat atau fundamentalis. Yang moderat berarti compatible dengan apa-apa yang ditawarkan pemimpin mega proyek tersebut sedangkan yang fundamentalis tidak compatible dengan apa yang digaungkan.

Untuk wacana pembanding mengenai kejadian 9/11 apakah merupakan kejadian yang dilakukan oleh orang Islam ‘yang fundamentalis’ atau tidak, dapat dirujuk salah satunya pada laman ini, ini, dan juga ini.

Secara umum mega proyek War on Terror yang dimulai dengan kejadian 11 September, menurut banyak cendekiawan, ilmuwan persenjataan, analis militer dan politik, perkumpulan arsitek (yang memahami karakteristik bangunan WTC), saksi di tempat kejadian, keluarga korban WTC, dan beberapa politisi Amerika Serikat sebagaimana terkumpul di dalam gerakan 9/11truth dan ReThink911, adalah penuh keanehan jika dirujukkan kepada versi yang dinarasikan oleh pemerintah Amerika Serikat dan dituturkan ke seluruh dunia.[2]

Gerakan 9/11truth, ae911truth, dan ReThink911 merujuk kepada pertanyaan-pertanyaan dan dugaan dengan dasar yang kuat seputar:

1). keganjilan-keganjilan kronologi tindakan pemerintah Amerika Serikat sekitar kejadian 9/11,

2). Tiga bangunan gedung pencakar langit (Menara kembar WTC + Building 7) yang runtuh oleh tabrakan dua pesawat (cf. David Hooper, Anatomy of a Great Deception),

3). konstruksi gedung WTC yang memang sudah didesain untuk kuat terhadap tabrakan pesawat sejenis Boeing namun hancur dengan tabrakan pesawat yang sejenis,

4). Video-video pengakuan Osama bin Ladin atas tindakan ‘kekerasannya’ yang berbeda-beda wajah dan insiden pemakaman dihilangkan di laut sehingga pembuktian DNA tidak mungkin dilakukan,

5). Pesawat yang dinarasikan sebagai pesawat terbang komersial dan dibajak berdasar bukti-bukti video diragukan sebagai benar-benar pesawat terbang komersial,

6). Debris bangunan WTC secepat kilat sudah langsung ‘ditangani’ sehingga investigasi insiden dari lokasi kejadian sudah tidak dapat sempurna dilakukan,

7). Debris menara WTC yang sangat panas – besi rangka menara meleleh – dan berdasar banyak ahli, sangat tidak masuk akal jika dihasilkan dari hasil bakaran solar pesawat,

8). Beberapa perusahaan yang berkantor di WTC secara massal pindah dari WTC sebelum kejadian,

9). Kegelisahan urgensi kebutuhan sumber energi, khususnya minyak, yang harus segera dicarikan solusi untuk menghindari kolapsnya ekonomi Amerika Serikat yang dilontarkan oleh pejabat tinggi Amerika Serikat beberapa bulan sebelum peristiwa 9/11. Dugaan bahwa insiden 9/11 merupakan casus belli untuk menginvasi negara kaya sumber energi yang kurang kooperatif dan belum kuat lindung pengaruh China dan Rusia,

10). Sebelum peristiwa 9/11 yang dianggap banyak orang sebagai pelecut utama Amerika Serikat menyerang Irak dan Afghanistan terjadi, sebenarnya pemerintah Amerika Serikat sudah jauh-jauh hari mempersiapkan angkatan perangnya untuk serangan penuh ke Irak dan Afghanistan. Hingga kini alasan persiapan pasukan di sekitar Irak dan Afghanistan tidak begitu jelas namun 9/11 menjadi alasan justifikatif dimulainya operasi militer ke Irak dan Afghanistan,

11). Ketika invasi sudah terjadi maka secara logis mulai timbul perlawanan. Abrakadabra, gerakan perlawanan ini sudah langsung gampang dilabeli oleh media massa dan analis ‘pilihan’ sebagai grup radikal jihadis yang terkait dengan serangan 9/11. Awam dibuat kabur mana yang muncul lebih duluan di dalam ‘perang melawan teror’. Perhatikan bagaimana narasi mengenai kejahatan Irak (pembantaian yang dilakukan Saddam Hussein, Pengembangan Senjata Pemusnah Masal (WMD) Kimia dan Niklir, keterkaitan dengan Al Qaida) hanyalah rajutan dari ‘penggalan-penggalan’ fakta usang atau malah kadang palsu (cf. CBC – The Fifth Estate – The Lies that Led to War) juga perhatikan bagaimana Afghanistan yang dikait-kaitkan dengan Al Qaida dan pusat radikalisme Islam juga merupakan narasi manipulatif (cf. Syaikh Abdussalam, Community Showcase, Cage Africa; David Ray Griffin, 2010. “Did 9/11 Justify the War in Afghanistan?”; Michel Chossudovsky, 2010. “The War is Worth Waging: Afghanistan’s Vast Reserves of Minerals and Natural Gas”).

12). Saat usaha melawan narasi-narasi penyebar syubhat lewat hipotesis kuat mengenai latar belakang terjadinya peristiwa 9/11 maka dimunculkan pula narasi-narasi yang dipaparkan oleh orang-orang di luar ‘struktur resmi negara’ sehingga muncullah FUD (Fear, Uncertainty, Doubt) mengenai apa yang sedang terjadi dan bagian manakah dari sekumpulan narasi-narasi yang beredar hendak diterima kebenarannya. Bahkan Senator Paul Wellstone meninggal dalam kecelakaan pesawat yang diyakini oleh beberapa orang terkait dengan kerasnya ia bersuara tentang keganjilan kisah 9/11.

13). Usaha-usaha lewat jalur resmi konstitusional di dalam meminta penyelidikan ulang akan keganjilan jatuhnya gedung 7 oleh rakyat Amerika Serikat karena dapat ‘paling tidak’ menguak lubang atau ketidakkonsistenan cerita resmi mengenai serangan terorisme pada peristiwa 9/11 pun seakan-akan mendapat hambatan sebagaimana terjadi atas gerakan NYC CAN.

Meluas dari subjek perang mencari minyak bumi, dugaan perluasan market dan diseminasi ide demokrasi liberal yang memudahkan jalan bagi integrasi negara-negara yang ditakhlukkan menjadi berbasis demokrasi [liberal] kapitalisme dapat dirujuk kepada tulisan hipotesis Huntington di dalam benturan antarperadaban [antar-ideologi] dan Edward Said di dalam evilisasi Islam.

14). Dan ketika justifikasi perang lewat kisah WTC sudah mulai kacau maka dimunculkanlah ISIS sebagai bagian dari penciptaan keadaan: “ada musuh di sana”.

  1. Umat Islam yang fundamentalis ini dilabeli mitos sebagai sekumpulan orang yang mengartikan dan mempraktikkan Islam itu sebagai aksi kekerasan jihad [khusus yang sudah bergerak kontak fisik bukan beradu wacana lagi sudah spesifik disebut dengan label jihadis], pemberangusan bid’ah, aksi angkat senjata, terorisme, menolak patuh pada ‘semua’ hukum buatan manusia, tidak memberi ruang hidup kepada pemeluk agama lain, memusuhi kafir secara mutlak, dan mengakomodasi tindak bom bunuh diri sedangkan umat Islam yang moderat dibuat identifikator mitologis sebagai orang yang tidak kaku dalam beragama, menjadi rahmat bagi semesta alam, penuh kasih sayang, memberi ruang kepada umat lain, dan mengutuk segala tindak kekerasan.
  1. Ciri-ciri kelompok fundamentalis kadang dibuat di dalam satu paket narasi sebagai:

a). penolak doa bersama (didistorsikan sebagai bukti bahwa mereka ini membenci dan punya niatan untuk membunuh kafir serta tidak suka kedamaian); b). penolak pengadaan ritual tradisional yang baik dan sudah turun temurun (didistorsikan sebagai bukti bahwa mereka tidak mencintai budaya asli mereka. Mereka ini dilukiskan sebagai terlalu berkiblat pada Arab. Mereka dituding sebagai berbahaya bagi kearifan lokal); c). penganjur pada kemurnian peribadatan dan penasihat bahaya bid’ah (didistorsikan sebagai penolak segala kemodernan dan kemajuan zaman)*

  1. Perpecahan terjadi dan kemudian ‘memang muncul’ dua muka Islam: moderat dan fundamentalis. Pada fase ini umat Islam telah berhasil dipecah. Yang moderat akan punya kecenderungan untuk terus meng-compatible-kan diri dengan pencetus War on Terror sedangkan yang fundamentalis akan punya kecenderungan semakin menjaga jarak dengan ‘mereka’.

Pemilahan umat Islam menjadi dua kelompok yaitu kaum moderat dengan fundamentalis sebenarnya sebuah cara agar di dalam umat Islam terjadi saling tuding dan lalu terpecah belah. Separasi ini mengakibatkan umat Islam dibuat sibuk dengan saling membedakan mana yang se-aliran (moderat atau fundamentalis) serta di sisi lain membuat pembuktian-pembuktian bahwa Islam bukan agama yang sembarangan melakukan kekerasan kepada umat lain. Sudah menjadi sifat alami manusia yang cenderung mudah terprovokasi untuk membantah tudingan bahwa ia buruk.

Konsep moderat dan fundamentalis dalam beragama yang didoktrinkan secara halus kepada umat Islam adalah diniatkan sebagai provokasi untuk membuat umat Islam terpecah belah, sibuk menyanggah dan membantah tudingan pancingan, serta memaksa diri sebagian umat Islam untuk membuka keran permissivism selebar-lebarnya.

  1. Dunia, bukan hanya dunia Islam, bersamaan dengan peluncuran poin 1 hingga 4 dari hipotesis ini disuguhi oleh dua hal di dalam pop culture: 1). Film-film dan karya fiksi ilmiah yang menampilkan proyeksi jenis Islam yang melakukan kekerasan. Sebuah proyeksi evilisasi Islam dalam upaya membentuk keyakinan bawah sadar kolektif bahwa ‘Islam yang jahat’ memang benar-benar ada dan tidak layak dianggap sebagai saudara trans-negara yang layak dibantu oleh saudara Islam lainnya, 2). Film-film dan karya fiksi ilmiah yang menampilkan ketakutan akan akhir dunia dan hanya dapat dicegah oleh kekuatan teknologi yang dimiliki oleh Amerika Serikat. Tujuan dari cangkok pikiran ini jelas, meyakinkan bahwa Amerika Serikat adalah superior dan juga menjadi satu-satunya harapan keberlangsungan bumi dan manusia sehingga tidak pas untuk tidak didukung.
Screenshot Laman Muka SItus Architects and Engineers for 9/11 Truth (Credit: ae911truth.org)

Screenshot Laman Muka SItus Architects and Engineers for 9/11 Truth (Credit: ae911truth.org)

Bagian dari Adu Domba: Penciptaan Mitos tentang Nasihat Bid’ah adalah sama dengan Takfir dan Makin Disokongkuatkannya Moderat Islam dengan Warna Lokal

Berdasar pengertian yang sederhana, takfir adalah menggelari seorang muslim sebagai keluar dari Islam karena ucapan dan atau perilakunya yang secara terang-terangan dan konsisten berseberangan dengan apa yang Al-Kitab (untuk istilah ‘Al-Kitab’ silakan rujuk ke tulisan saya yang berjudul ‘Sastra dan Hermeneutika‘ pada bagian endnote nomor 1) dan As-Sunnah ajarkan. Takfir adalah perkara yang berat dan bukan perkara yang ringan. Penggelaran takfir kepada seseorang pun harus bersandar kepada Al-Kitab dan As-Sunnah bukan dengan asal-asalan.

Telah terjadi salah kaprah yang fatal di dalam merujuk perbuatan takfir. Yang sering terjadi adalah saat seseorang menegur saudaranya yang seiman mengenai praktik bid’ah sering disalahsangkakan sebagai bentuk takfir. Ada kerancuan mengenai nasihat tentang bid’ah dengan pentakfiran. Agama adalah nasihat. Perilaku saling menasihati dalam takwa dan kebaikan adalah nature seorang muslim kepada saudaranya. Oleh sebab itulah ketika saudara kita menasihati tentang ibadah bid’ah tidak selalu dapat langsung disangkakan bahwa ia mengkafirkan kita.

Ada semacam mitos mengenai keterkaitan antara takfir, nasihat mengenai bid’ah, dan kekerasan. Nasihat mengenai bahaya bid’ah sejatinya dilakukan oleh ulama atau saudara-saudara kita dalam rangka kasih sayang dan nature untuk saling menasihati dalam kebaikan. Nasihat tentang bid’ah dalam agama memang kadang terdengar keras dan kurang mengenakkan telinga karena perkara bid’ah adalah bukan perkara yang sepele. Adakah kita pernah merenung barang sebentar saja mengapa mereka ini terkesan begitu sangar di dalam nasihat tentang bid’ah? Bukankah Muhammad saw. sudah memberikan peringatan keras mengenai bid’ah? Mereka yang menasihati tentang bahaya bid’ah sering disalahsangkakan sebagai bentuk kekakuan memahami agama. Mereka yang berbicara tentang bid’ah selalu dikaitkan dengan cerita bahwa mereka ini punya potensi untuk melakukan kekerasan. Well, tidak ada ruginya pandangan tidak pas ini dirujukkan kepada kisah Ibrahim as. dengan kapaknya.

Bid’ah adalah istilah yang ada di dalam Islam. Istilah bid’ah bukanlah istilah baru dalam Islam sebab memang jelas tersebut di dalam beberapa hadist. Bahkan Muhammad saw. kerap mengulang-ulang nasihat untuk menghindari bid’ah di dalam khotbah beliau (cf. HR Muslim No 867).

Bid’ah secara umum dapat diartikan sebagai membuat perkara baru dalam agama (cf. HR Muslim No 867, HR Bukhari No 5063, HR Muslim No 1847, HR Tirmidzi No 2677). Ketika seorang muslim mengadakan amalan baru di dalam beragama dengan dalih apapun, dapat disebut sebagai menambah perkara yang baru di dalam agama. Islam bagi orang Islam adalah agama yang lengkap. Segala amalan telah diajarkan oleh Muhammad saw. tanpa ada yang ditutup-tutupi. Bukankah amalan yang diajarkan Muhammad saw. sudah sangat banyak untuk tiap kita dapat melakukan semua amalan tersebut? Mengapa merasa lebih pintar di dalam beribadah kepada Allah dengan menambah amalan baru?

Yang lucu dari penyebar ‘kebohongan’ tentang isu bid’ah biasanya lari kepada dua hal: 1). merancukan awam antara bid’ah di dalam beribadah dengan ‘perkara baru di dalam kehidupan’, atau 2). merancukan awam dengan penafsiran liar.

Pada kasus pertama penyebar kebohongan biasanya merujuk kepada kalimat yang kurang lebih berbunyi: Apa-apa yang tidak ada di jaman nabi saw. disebut bid’ah lalu naik sepeda motor, memakai listrik, menikmati dan mensyukuri kemajuan teknologi berarti tidak boleh?

Perlu diketahui bahwa apa yang Muhammad saw. nasihatkan tentang bid’ah adalah perkara baru di dalam beragama dan bukan dalam semua hal. Jadi jikalau seorang muadzin menggunakan pengeras suara sebagai pengganti keharusan ia bersuara lantang tiap adzan maka tidaklah dapat disebut sebagai bid’ah sebagaimana kebolehan manakala kita pergi ke masjid hendak memakai motor dan bukan berjalan kaki karena rumah yang terlalu jauh untuk berjalan kaki. Namun menjadi tidak tepat, sebuah bid’ah, ketika misalnya ber-adzan dengan lafaz yang dibuat sendiri meskipun diargumenkan sebagai baik.

Implikasi dari perancuan di atas adalah penyimpulan bahwa Islam seakan-akan menolak kemajuan dan modernisasi.

Pada kasus kedua dirancukannya awam dengan penafsiran liar dari hadist tentang bid’ah hasanah. Sebenarnya pembahasan tentang bid’ah yang lebih pas dapat dirujuk kepada laman ini atau ini.

Isu bid’ah adalah isu yang menarik di dalam makin kuatnya fenomena terpecahnya umat Islam menjadi bukan hanya moderat vs. fundamentalis saja namun ‘moderat dengan warna lokal’; atau kadang distempel sebagai pembumian Islam yang disesuaikan dengan budaya setempat. Di Indonesia, isu Yasinan adalah isu utama yang menjadi penanda ‘moderat dengan warna lokal’.

Bahasan khusus tentang Yasinan, sebagai salah satu isu yang kerap menciptakan konflik frontal horizontal, argumen-argumen yang lebih lengkap dapat dirujuk pada laman ini atau ini. Di dalam isu Yasinan, secara singkat, awam dibuat rancu antara 1). Sampainya doa dan amalan sedekah kepada orang yang sudah meninggal yang seakan-akan terjustifikasi manifestasinya hanya lewat Yasinan. Cara lain yang bukan lewat ‘institusi’ Yasinan menjadi seperti ‘kurang lazim’, 2). Perintah membaca Quran yang dikait-kaitkan dengan pemilihan ‘hanya’ surah Yasin padahal tidak ada dalil yang kuat dengan pengkhususan selalu membaca surah Yasin, 3). Tidak ada dalil pengkhususan hari-hari dengan bilangan tertentu. Dalil yang disandarkan pada pendapat Jalaludin Abdurrahman As-Suyuthi beratsar ma’lul lagi dhoif,[3]  4). Larangan berkumpul-kumpul setelah pemakaman yang dibenturkan dengan argumen menghibur keluarga yang berduka, 5). Klaim ritual warisan Walisongo yang patut dipertanyakan: a. Apakah benar Walisongo mengajari demikian? b. Benarkah Walisongo mengajari demikian untuk tetap diteruskan ataukah hanya sementara dipakai sebagai sarana untuk kemudian dihilangkan secara pelan-pelan? c. Jikalau memang ada bukti-bukti kuat bahwa Walisongo mengajari demikian, apakah ide kembali kepada As-sunnah di dalam menyikapi kematian hendak dinafikan? 6). Alasan berkumpul dalam kebaikan dan sebagai sarana dakwah yang juga menyelisihi poin nomor empat, 7). Tradisi ritual khas Jawa yang patut dilestarikan versus permurnian ritual ibadah, dan 8). Isu kekakuan dalam beribadah dengan memegang As-Sunnah.

Penciptaan Mitos mengenai Istilah Kafir yang Deviatif dari Skriptur Islam

Isu lainnya adalah mengenai pemakaian istilah kafir. Kafir secara bahasa dapat dirujukkan kepada ‘ingkar, menolak, menutup’. Tidak dipahami oleh kebanyakan orang – bahkan orang Islam awam – bahwa di dalam Islam orang kafir dapat dibagi menjadi tiga golongan: kafir harbi, kafir ahlu al-‘ahd, kafir dzimmi (cf. Ibnu Qayyim). Ketiga golongan kafir ini di dalam kacamata Islam memiliki kedudukan yang berbeda-beda. Selama ini mitos yang selalu diajarkan, dan tidak fair di dalam mengutip sumber dari literatur dan sejarah Islam, adalah bahwa orang Islam diajari untuk ‘memusuhi, berperilaku ramah yang hipokrit, tidak berlaku adil, berbuat jahat, bahkan membunuhi’ orang-orang kafir.

Modus yang dipakai di dalam membuat dan mengukuhkan mitos ini adalah dengan memotong sebuah ayat dari ayat yang lain, dari konteks sebab turunnya, dari hadist yang menerangkan maknanya, dan bagaimana Muhammad saw. dan para sahabat awal – semoga rahmat Allah atas mereka – mempraktikkannya. Modus lain yang kadang dipakai di dalam pengukuhan mitos ini adalah mengutip kisah sejarah dengan membuat distorsi tentangnya. Repotnya, praktik-praktik ini dilakukan dengan kalimat-kalimat yang santun dan atau mengesankan keilmiahan sehingga kerap memukau.

Saat kita fair melongok hubungan antara umat Islam dengan umat yang bukan Islam (atau disebut dengan istilah sebagai kafir) akan kita dapati bahwa kebanyakan cerita yang beredar tentang kekejaman Islam terhadap kafir adalah mitos. Dampak fatal dari mitos ini adalah ada semacam fobia manifestasi kekerasan di dalam penggunaan istilah kafir untuk menyebut orang yang bukan Islam: mereka yang Islam sungkan memakai istilah kafir kepada non-muslim sedangkan yang non-muslim merasa terancam dengan istilah kafir.

Istilah kafir di dalam Islam merujuk kepada mereka yang bukan muslim, non-muslim. Di dalam sejarah Islam di zaman Muhammad saw. dan para sahabatnya, rahmat Allah atas mereka, muslim hidup berdampingan dengan kafir. Tidak ada yang salah dengan istilah kafir. Istilah kafir dari etimologi maupun di dalam teologi Islam merujuk kepada mereka yang menolak Islam sebagai keyakinan yang hak. Mitos yang berkembang bahwa kafir adalah sebutan orang Islam terhadap orang di luar mereka ‘yang harus dibunuh’, ‘tidak layak diperlakukan adil’, ‘serupa hewan’, ‘sudah pasti masuk neraka,’[4] dan ‘tidak memiliki hak hidup’ adalah tidak berdasar pada sumber otentik Islam (cf. tulisan Umm Zakiyyah yang berjudul ‘Kaafir, the New F-word’ memiliki perspektif yang mirip dengan apa yang saya sampaikan).

Penyematan Kesepadanan Istilah antara Jihad, Terorisme, dan Bom Bunuh Diri

Isu lain yang dilekatkan dengan Islam ‘yang buruk’ – Islam fundamentalis – adalah jihad, terorisme, dan bom bunuh diri.[5] Sudah jelas bahwa jihad adalah bagian penting dari Islam sedangkan terorisme bukan ajaran Islam jikalau kita benar-benar mempelajari ajaran Islam. Tidaklah adil untuk menganggap bahwa terorisme adalah ajaran Islam karena kebetulan ‘ada orang Islam yang melakukan terorisme’ [Bahkan secara ekstrem, temuan Trevor Aaronson bisa memberikan gambaran bagaimana national security theater yang merujuk pada ‘Muslim Terrorist Attack on American Soil’ adalah proyek internal pemerintahan Amerika Serikat yang dapat kita baca pada tulisan yang berlandaskan banyak data dengan judul “How the FBI Created A Terrorist”].**

Sama halnya juga tidak tepat jika diterapkan di dalam menuduh bahwa demokrasi mengajarkan ‘terorisme oleh negara’ karena ada beberapa negara pengusung demokrasi yang menginvasi dan atau membuat teror politik dan ekonomi terhadap negara lain karena ‘berbeda pendapat’ tentang bentuk pemerintahan yang ideal (baca: tidak memakai demokrasi sebagai sistem bernegaranya). Begitu juga merupakan hal yang ceroboh saat kita menuduh agama-agama di daerah tertentu di belahan dunia ini sebagai pengajar terorisme oleh sebab kebetulan ‘ada pemeluk agama tersebut yang melakukan terorisme’.

Kasus bom bunuh diri adalah kasus yang menarik. Ia menarik karena dari kajian bentur kebudayaan, Gayatri Spivak menyebut di dalam salah satu pidatonya sebagai perilaku sub-altern yang kian tersedak karena tidak memiliki sedikit pun kesempatan untuk berbicara mengenai ketertindasannya sedang narasi yang bertebaran malah justru menjustifikasi ‘kebenaran’ dan pembenaran pihak penindas.

Di dalam dunia Islam mayoritas ulama menyatakan pendapat bahwa bom bunuh diri di dalam melawan penindasan sebagai perbuatan yang terlarang. Perjuangan melawan penjajah, penindas, atau pembuat kejahatan harus dilakukan secara proporsional; bukan dalam konteks keputusasaan dan gegabah serta memahami mana daerah damai dan mana daerah di mana peperangan terjadi.

Patut pula ditambahkan bahwa bom bunuh diri merupakan fenomena yang tidak hanya terjadi di dunia Islam. Di beberapa negara, bom bunuh diri juga dilakukan oleh pemeluk agama lain, juga sebagai cermin dari keputusasaan. Berdasar hal-hal ini maka mengatakan bahwa bom bunuh diri adalah ciri khas ajaran Islam adalah blunder pembuatan kesimpulan.

Penyempitan Definisi Jihad – Perancuan Makna Jihad

Awam sering dibuat bingung dengan istilah jihad. Kebingungan disebarkan dengan membedakan bahwa Islam yang baik adalah yang tahu bahwa jihad hanyalah melawan hawa nafsu sedangkan Islam yang salah –yang radikal– adalah yang memaknai jihad sebagai mengangkat senjata ketika ditindas.[6] Beberapa endorser inferioritas jihad sebagai suatu istilah yang melingkupi angkat senjata berperang membela penindasan dirancukan lewat penggaungan terus menerus sebuah penyempitan makna jihad hanya sebagai melawan hawa nafsu.

Di sisi lain, karena istilah jihad disempitkan maknanya menjadi perang melawan hawa nafsu saja lewat endorser-endorser terpilih maka jihad yang termasuk membela diri dengan mengangkat senjata menjadi sesuatu yang tabu untuk diceritakan ke publik awam. Endorser-endorser mau ikut mengkampanyekan narasi itu bisa karena uang dan atau bisa karena dicekoki dengan ketakutan bahwa jikalau istilah jihad ditautkan juga dengan aktivitas mengangkat senjata maka Islam akan disamakan dengan mengajarkan kekerasan.

Narasi model ini yang diceritakan terus-menerus lewat media massa akan membuat umat Islam awam meredefinisi istilah jihad. Mereka memberi arti baru –yang sempit- bahwa mengangkat senjata ketika ditindas bukanlah sesuatu yang terkait dengan jihad. Ini terbentuk oleh dua hal: endorser-endorser narasi yang merupakan ulama yang su‘ atau ulama baik yang terlalu moderat seolah-olah yang mengajarkan suatu definisi bahwa jihad tidak bisa dilakukan dengan angkat senjata meskipun dalam kondisi tertindas. Indoktrinasi bahwa jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu yang telah membuat umat Islam merasa sudah ‘benar’ karena mendahulukan jihad yang paling besar: melawan hawa nafsu dan merasa ‘salah’ jika ada pikiran bahwa membela diri dengan mengangkat senjata adalah jihad.

Ketakutan menampilkan definisi jihad secara utuh adalah fenomena yang relevan dengan bahasan Gayatri Spivak mengenai bagaimana sati di dalam budaya Hindu India menjadi nampak buruk dan akhirnya menghilang dari praktik ritual. Umat Islam bisa suatu ketika pada titik nadir kehilangan kepastian definisi istilah jihad, konteks aplikasinya, dan urgensinya di dalam kelindannya terhadap pengakuan keimanan.

Upacara sati yang merupakan salah satu praktik ritual di dalam agama Hindu India, saat itu dalam bedah Spivak, disebut-sebut kolonial Inggris sebagai tidak beradab. Sati diajarkan kepada rakyat pribumi saat itu oleh pemerintah kolonial Inggris sebagai sesuatu yang harus dihindari karena mengejarkan kekerasan, kebrutalan. Pelabelan ini dilakukan secara besar-besaran dan berkelanjutan sehingga menciptakan keyakinan pada masayarakat Hindu India bahwa sati adalah benar-benar buruk dan kemudian meninggalkan praktik ritual tersebut.

Sebenarnya jika ditelisik lebih dalam, sati adalah identitas kehinduan India. Praktik ritual ini adalah salah satu bagian dari Hindu India sehingga indoktrinasi –yang kemudian berhasil– bahwa sati adalah sesuatu yang buruk. Saat itulah timbul rasa inferioritas budaya dalam diri orang Hindu India terhadap budaya kolonial Inggris. Rasa inferioritas ini menyebabkan makin mudahlah kolonial Inggris mencekoki ajaran mengenai keunggulan budaya Inggris. Dan dari situlah Inggris berhasil menjajah India secara lama.

Jihad secara istilah sebenarnya berarti “bersungguh-sungguh mencapai sesuatu yang Allah cintai berupa iman dan amal sholeh dan menolak sesuatu yang dibenci Allah berupa kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan”.[7] Jihad tidak pernah diartikan bahwa yang paling utama adalah ‘menahan hawa nafsu’. Pernyataan ‘jihad terbesar adalah jihad melawan hawa nafsu’ ini seakan-akan kadang meremehkan bentuk jihad lain yaitu mengangkat senjata ketika penindasan dilakukan atas orang beriman.[8]

Perlu diketahui bahwa hadist yang dipakai untuk membuat kesimpulan bahwa ‘jihad melawan hawa nafsu sebagai jihad terbesar‘ sebenarnya bersandar pada hadist lemah.[9] Hadist ini lemah oleh sebab terdapat perawi yang bernama Yahya bin Ya’la Al-Aslami Al-Kufi dan Laith bin Abi Sulaim. Pun meski demikian, informasi ini jangan diartikan bahwa ‘melawan hawa nafsu’ bukan bagian dari jihad sebab ada hadist lain yang menyatakan bahwa melawan hawa nafsu juga bagian dari jihad.[10] Yang menjadi kurang pas adalah bila meyakini jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu dan jihad dalam bentuk lain kalah utama dari melawan hawa nafsu.

Ada yang salah jika terjebak dengan keyakinan bahwa jihad adalah hanya melawan hawa nafsu dan menghindari pemakaian istilah jihad ketika berjuang dengan angkat senjata di dalam membela diri dan agama yang diyakini. Usaha mengerucutkan jihad kepada urusan hawa nafsu saja sehingga kemudian timbul ‘keyakinan’ di dalam pikiran awam mengenai definisi itu adalah bagian dari memencilkan suatu ajaran yang jelas ada dasarnya di dalam skriptur dan membuat awam menafikan ajaran yang resmi ada di dalam agama yang diyakininya. Kalau sudah demikian bolehlah disebut sudah merasa inferior dengan istilah ‘jihad’ dan mungkin bisa merembet kepada istilah-istilah lain. Perasaan inferior pada praktik keberagamaan lewat pembingungan istilah dan ajaran adalah jalan bagi mudahnya dipecah-belah dan ditakhlukkan, serupa kisah sati.

Kontemplasi

Malam itu, seperti biasa, saya mendapati televisi – saat dilakukan secara masif dan kolosal – potensial untuk dapat mencekoki awam dengan pemikiran atau keyakinan apapun.

Bagaimana jika televisi sebagai alat dakwah kapitalisme terus menerus dipakai dan berhasil mendikte awam mengenai ‘cara yang benar’ dalam memahami dan menjalankan perintah agama lewat ulama-ulama su’? Jika demikian terjadi bukankah ancaman tercabutnya ilmu agama pelan-pelan menjadi nyata?

Ah, mungkin memang benar. Ulama-ulama yang baik dan tinggi ilmunya kurang laku di televisi karena tidak pandai membuat senda gurau dan main-main, tidak pandai bernyanyi, tidak mengajarkan ‘semua’ pelestarian ritual budaya, tidak bisa joget, tidak fasih berbahasa Inggris, tidak memakai gadget canggih, tidak berpenampilan gaul, dan tidak dapat melakukan hipnotis. Mereka tidak suka bermain-main dalam menyampaikan sesuatu. Mereka kurang memiliki nilai jual, kurang atraktif.

Ataukah bukan itu saja?

Bercermin dari apa yang telah tersampaikan di atas, ulama-ulama yang baik dan tinggi ilmunya ini tidak  laku di televisi karena tidak menguntungkan  bagi teror penciptaan perasaan inferior – tidak kooperatif, tidak bisa mengikuti narasi redefinisi Islam, tidak dapat membuat Islam yang mampu berintegrasi dengan kapitalisme dan budaya Barat yang ‘superior’, tidak dapat meng-compatible-kan Islam dengan kebutuhan permisif pada semua hal. Dengan kata lain, mereka memang tidak ‘berguna’ bagi usaha penancapan hegemoni ideologi dalam doktrinasi massal awam lewat televisi.

Lalu bagaimana jika kita, karena terbiasa terpapar televisi, menjadi terlena kepada pembodohan yang dikemas secara atraktif dan lalu menyingkiri kebenaran yang membuat panas telinga?

Apakah kemudian ulama-ulama yang baik dan tinggi ilmunya akan makin memencil, teralienasi, menjadi al-ghuroba’, menjadi sub-altern that cannot speak sehingga kita tidak mempunyai lagi akses kepada mereka dan kita juga tidak memiliki lagi saluran yang mampu mendistribusikan, mewartakan, membagikan nasihat dan pemikiran mereka? Bukankah pada keadaan seperti ini umat Islam seperti dibodohi dengan buaian atraksi permainan narasi dan lelucon-lelucon yang membuat kita ikut tertawa atas kebodohan yang tidak mau segera disadari?

================================

Endnotes

[1] Si Penceramah benar hanya pada bagian “salah karena mengekor budaya Arab”. Mempraktikkan Islam bukanlah mempraktikkan semua hal yang ada di Arab. Jikapun banyak hal di kawasan Arab sudah terislamisasikan bukan berarti semua hal yang ada di Arab adalah bagian dari Islam. Silakan bandingkan dengan salah kaprah mengenai Islam dianggap sama dengan Arab di dalam tulisan ini.

[2] Tidak hanya banyak kejanggalan di dalam versi resmi (official story) peristiwa tersebut namun juga jargon-jargon War on Terror malah menjadi alat justifikasi menindas [negara-negara] muslim.

Mengenai gugatan ini silakan misalnya baca tulisan dari Junaid Rana (Associate Professor dalam Kajian Asian American dari Universitas Illinois, Urbana Champaign) yang berjudul “Palestine, Blackness, and the Complexity of Racism” lewat link berikut ini untuk menambah pemahaman mengenai bagaimana jargon War on Terror adalah propaganda terselubung di dalam menekan Islam: http://www.theislamicmonthly.com/the-challenge-of-decolonization/

[3] Justru yang menarik dari fenomena Yasinan adalah mengenai darimana angka-angka jumlah hari di dalam suasana duka keluarga yang ditinggalkan dirujuk. Jika dugaan beberapa orang bahwa angka-angka hari yang dipakai sebagai patokan berkumpul para tetangga di rumah keluarga yang berduka adalah dari tradisi Hindu maka bisa jadi benar. Perlu diingat bahwa sebelum Islam masuk ke tanah Jawa, budaya Hindu sudah sangat kuat berakar.

Prosesi ritual duka di dalam tradisi Hindu (cf. Sourabh Gupta. 20 Mei 2009. “Hindu Death Rituals”Hinduism Today. Januari/Februari/Maret 2007. “Death and Dying”; Vasudha Narayanan. Februari 2003. “Hindu Rituals for Death and Grief”) dapat disarikan beberapa hal yang masih terdapati jejak tradisi Hindu di penduduk Jawa ketika menghadapi kematian adalah sebagai berikut:

  1. Keluarga duka tidak boleh memasak makanan kecuali jenazah sudah selesai dikremasi (dikubur)
  2. Tempat di mana yang bersangkutan meninggal, dipasangi lampu teplok / lilin untuk memberi penerangan pemandu perjalanan arwah dan juga disediakan semangkok air untuk memberi kesegaran bagi perjalanan arwah.
  3. Semua cermin di dalam rumah duka ditangkupkan atau ditutupi.
  4. Pada hari ke-3, 5, 7, 9 dan setahun setelah kematian diadakan acara berkumpul makan dan mengenang orang yang meninggal di rumah keluarga duka.

Pada tradisi Islam, tulisan Abu Al-Jauzaa’ yang berjudul “Atsar Thaawuus tentang Anjuran Tahlilan 7 Hari Berturut-turut” dapat menambah referensi terkait duduk perkara ini.

[4] Di dalam Islam, masuk surga atau nerakanya seseorang adalah hak mutlak Allah. Sebagaimana tersebut di dalam hadist berikut ini:

Dari Abi Abdirrahman Abdillah bin Mas’ud radiallahu’anhu, beliau berkata: Kami diberitahu oleh Rasulullah dan beliau adalah orang yang juur lagi terpercaya – Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya telah disempurnakan penciptaan salah seorang dari kalian dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk sperma, kemudian dia menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus kepadanya malaikat, kemudian ditiupkan ruh kepadanya, lalu malaikat tersebut diperintahkan untuk menulis empat perkara; untuk menulis rizkinya, ajalnya dan amalannya dan nasibnya (setelah mati) apakah dia celaka atau bahagia. Demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Dia. Sesungguhnya salah seorang dari kalian benar-benar beramal dengan amalan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya satu hasta, lalu dia didahului oleh catatan takdirnya, sehingga dia beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga dia memasukinya. Dan salah seorang di antara kalian benar-benar beramal dengan amalan ahli neraka, hingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya sehasta, lalu dia didahului oleh catatan takdirnya, sehingga dia beramal dengan amalan ahli surga hingga dia memasukinya. (HR Bukhari dan Muslim. Shahih dikeluarkan oleh Al Bukhari di dalam [Bid’ul Khalqi/3208/Fath]. Muslim di dalam [Al Qadar/2463/Abdul Baqi]).

[5] Perjuangan melawan musuh dan atau penindasan dengan bom bunuh diri secara jumhur (mayoritas ulama) adalah haram (dilarang). Fenomena bom bunuh diri sebagai perlawanan melawan penindasan sendiri juga terjadi pada beberapa perjuangan yang dilakukan oleh pihak yang persenjataannya kalah jauh melawan musuh yang persenjataannya lengkap dan canggih DAN tidak selalu melulu terkait dengan ‘keyakinan seseorang bakal masuk surga jika demikian dilakukan’.

Simplifikasi pandangan bahwa semua motif bom bunuh diri adalah ‘dilandasi keyakinan yang diajarkan di dalam agama tertentu dengan ganjaran dunia akhirat yang demikian dan demikian’ justru melupakan banyak faktor lainnya sebagai pendorong dan faktor lainnya sebagai penyanggah.

Faktor pendorong adalah misalnya keputusasaan dalam perjuangan melawan penindasan atau bisa juga karena dendam personal. Faktor penyanggah adanya keterkaitan bom bunuh diri yang seolah-olah selalu dikaitkan dengan ajaran suatau agama –dalam konteks ini adalah Islam– adalah misalnya bagaimana secara mayoritas pendapat ulama Islam bahwa bom bunuh diri adalah terlarang.

Sebagai tambahan, aksi bunuh diri di dalam perjuangan juga dilakukan oleh ‘individu yang beragama selain Islam.’ Sehingga menjadi salah kaprah jika sudah teracuni narasi media massa bahwa aksi bom bunuh diri adalah identik dengan [ajaran] Islam.

[6] Mengangkat senjata ketika ditindas bisa dibaca sebagai berjuang dengan harta, jiwa (fisik), lisan (tegur, nasehat) di dalam menegakkan kalimat tauhid.

[7] Ibnu Taimiyah dalam Kholid Syamhudi. 21 Juli 2010. “Memahami Arti Jihad”. Web. Diakses 18 September dari:

http://muslim.or.id/manhaj/memahami-arti-jihad.html

[8] Ibid.

[9] Abu Umair. Tanpa tanggal. “02-020 : Hadis Sebaik-baik Jihad Ialah Jihad Nafsu”. Web. Diakses 18 September 2014 dari:

http://abuumair.com/soal-jawab/al-quran-dan-hadis/02-020/

Dalam hadis Jabir, sekumpulan sahabat pulang dari satu peperangan, lalu Nabi SAW bersabada: Kamu pulang dari jihad kecil kepada jihad yg lebih besar, iaitu: Mujahadah seseorang hamba terhadap nafsunya (HR: Dailami, dan dinilai DHAIF oleh muhadditheen dan muhaqqiqeen. Silsilah Dhaifah 5/478).

[10] Ibid. “Orang yang berjihad ialah orang yang melawan nafsunya” HR Tirmizi (no: 1621). Hadis Hasan Sahih.

* Untuk diskusi (debat) mengenai ini silakan rujuk pada video di YouTube ini dan tulisan Ustad Firanda Andirja.

** Untuk presentasi Trevor Aaronson, dapat disimak pada video Ted berikut ini.

Creative Commons License
Pembodohan yang Atraktif by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s