Home » Article » Pemilu yang Sehat, Sebuah Utopia?

Pemilu yang Sehat, Sebuah Utopia?

Artikel Dipa Nugraha

Pindai tulisan opini saya yang dimuat di Harian Joglosemar. Publikasi daring (online) artikel tersebut dapat diakses lewat link berikut ini:

Pemilu 2014 yang Sehat, Sebuah Utopia?

Berikut ini adalah sebagian teks aslinya (bahasan tentang Said dan Spivak dikeluarkan) sebelum dipangkas sebab ruang yang tersedia hanya cukup untuk 7500 characters with spaces dan saya memakluminya – bukti saya kurang conciseness (?).

All in all, terima kasih kepada Joglosemar.

_________________________________________________

PEMILU YANG SEHAT, SEBUAH UTOPIA?

 

Menarik memang ketika membaca kisah ‘tertangkapnya’ Walang dan Sa’aran oleh petugas Suku Dinas Sosial Jakarta di perempatan Pancoran beberapa waktu yang lalu. Berdasarkan penuturan media massa, kedua pengemis dari Subang ini menjalankan aktivitasnya hanya pada malam hari dan berhasil mendapatkan lebih dari 25 juta dalam waktu 15 hari. Bahkan cerita justru semakin menarik ketika dinarasikan oleh media massa bahwa Walang mengemis untuk mencicil ONH dan membeli mobil.

Sikap Pembaca terhadap Teks

Kisah Walang dan Sa’aran di media massa sedikit banyak relevan dengan eksperimen yang dilakukan Culler (Structuralist Poetics, 1975). Culler menggubah ulang baris-baris dari novel Dickens menjadi sebuah sajak. Teeuw (Membaca dan Menilai Sastra, 1983) juga melakukan eksperimen yang mirip kepada mahasiswanya dengan menyodorkan gubah ulang berita dari sebuah surat kabar menjadi berbentuk berbait seperti puisi.

Reaksi sebagian besar pembaca dalam eksperimen tersebut adalah sama. Para pembaca dalam eksperimen Culler memperlakukan teks yang disodorkan sebagaimana sebuah puisi dan bukan sebuah novel sebagaimana juga para pembaca dalam eksperimen Teeuw memperlakukan teks yang disodorkan sebagai sebuah puisi dan bukan berita surat kabar. Hasil dari kedua eksperimen ini penting sebab menunjukkan bahwa operasionalisasi pembacaan akan mengikuti bentuk suatu teks ditampilkan. Culler, dan juga Teeuw, menunjukkan bahwa pembaca memiliki kecenderungan merespons teks sesuai tampilannya. Atau dengan kata lain,  modus penafsiran terhadap teks mengikut tampilan teks.

Kebebasan Penafsiran oleh Pembaca

Ketika seorang pembaca berhadapan dengan teks maka interaksi yang terjadi adalah proses ilustrasi. Pembaca di dalam proses ini menyepadankan apa yang tertulis di dalam teks dengan reka ulang imajinatif di dalam pikirannya sesuai dengan realitas dunia. Wolfgang Iser di dalam bukunya The Act of Reading (1978) menggunakan istilah ilustrasi karena apa yang ditampilkan oleh sebuah teks selalu memiliki ruang kosong. Ruang kosong ini niscaya ada sebab teks tidak sama dengan realitas. Pembaca selalu mengisi ruang kosong ini sesuai dengan repositori referensi subjektif yang dimilikinya.

Iser mengedepankan perspektif mengenai pembacaan ini dalam konteks pembacaan karya sastra. Namun apabila merujuk kepada percobaan yang pernah dilakukan oleh Culler dan Teeuw maka kebebasan pembaca untuk mengisi ruang kosong, sebagai bentuk kekurangan teks menampilkan realitas yang utuh, bagaimanapun juga akan tetap dibatasi oleh bagaimana teks tersebut ditampilkan.

Narasi Walang dan Sa’aran di Media Massa

Marilah kita kembali kepada kisah Walang dan Sa’aran. Seperti telah ditampilkan di atas bahwa kisah mereka menarik karenaberita awal yang muncul mengenai petualangan mereka di Jakarta menjadi pengemis disajikan begitu rupa sehingga pembaca akan menafsirkan bahwa Walang dan Sa’aran ‘memang’ menghasilkan 25 juta dengan cara mengemis selama 15 hari di Jakarta. Kisah ini menjadi semakin spektakuler ketika beberapa sosiolog memberikan komentar akademik mengenai fenomena Walang dan Sa’aran.

Cerita mereka ini menarik karena sejatinya, yang tidak terlalu intens diulas oleh banyak media massa kemudian, bahwa uang yang dibawa Walang dan Sa’aran sebanyak lebih dari 25 juta bukanlah melulu hasil dari aktivitas mengemis selama 15 hari di Jakarta. Ketika ditelisik lebih jauh oleh petugas Sudin Sosial Jakarta ternyata Walang memang terbiasa membawa semua uang yang ia miliki ke manapun ia pergi.

Berdasar penuturan Walang, uang 25 juta tersebut sebanyak 21 juta merupakan uang hasil jual beli sapi dan olah sawah sewa yang selama ini merupakan aktivitasnya di kampung. Walang selalu membawa uangnya sebab ia tidak terbiasa dengan kerumitan penyimpanan uang di bank dan jikalau ditinggal di rumahnya ia khawatir anak tirinya akan mengambil uang tersebut.

Jadi uang 25 juta Walang dan Sa’aran bukanlah melulu dari hasil mengemis selama 15 hari. Deviasi dari kenyataannya, apa yang telah disampaikan oleh beberapa media massa seakan-akan mengarahkan sebuah persepsi bahwa mengemis di Jakarta sungguh menggiurkan hasilnya. Buktinya: Walang dan Sa’aran!

Problem Narasi di Media Massa

Ada semacam dilema penampilan sebuah teks oleh media massa. Dilema yang dihadapi adalah keterbatasan ruang penyampaian dan kebutuhan untuk selalu menampilkan berita-berita lain sehingga kesan ‘terkini’ selalu terjaga. Tambahan pula, begitu banyak berita ‘terkini’ selalu sedang menunggu giliran untuk segera disajikan.

Ada semacam implikasi pragmatis dari keadaan ini. Kisah Walang dan Sa’aran pada mulanya ditampilkan ‘tidak cukup lengkap’ oleh surat kabar dan televisi sebab dilema ruang dan waktu terjadi. Para jurnalis ‘kadang’ tidak cukup waktu untuk melakukan investigasi mendalam karena dikejar deadline atau karena proses investigasi memang tidak secepat kebutuhan tampilnya berita. Saat ‘berita yang belum utuh’ ini mendapat respons tinggi di masyarakat, baru timbullah kebutuhan untuk mengulas berita tersebut secara utuh yang sifatnya opsional.

Mengapa opsional? Sebab semisal dari hasil investigasi lanjutan ditemui bahwa sensasi gempar yang telah terjadi di masyarakat bakal redup oleh pemberitaan lengkap dan menyeluruh: bahwa sebagian besar uang 25 juta Walang dan Sa’aran ternyata bukan melulu dari hasil mengemis, ada dua opsi yang mungkin dipilih: 1). memberitakan secara utuh berdasarkan investigasi lanjutan sehingga masyarakat kemudian reda kegemparannya atau 2). menampilkan berita-berita lain yang sudah menunggu diterbitkan sebab lebih menguntungkan bagi citra ‘terkini’.

Sudah menjadi kemahfuman bahwa publik menyukai berita sensasional. Di sisi lain, penyaji berita tidak bisa dikatakan melakukan kesalahan sebab yang mereka sampaikan, sampai kadar tertentu, memang mengandung fakta-fakta hasil investigasi. Di sisi lain tidak ada kewajiban bagi mereka untuk menyampaikan semua fakta yang mereka temukan. (Sebagian) fakta sudah disampaikan zonder peduli apakah publik tergiring kepada penafsiran yang tepat atau tidak; berita-berita (sensasional) lain sudah menunggu ditampilkan.

Pembaca Menghadapi Narasi Media Massa

Sebuah renungan patut muncul dari apa yang tersampaikan di atas. Perlu bagi kita untuk khawatir dengan berita yang kita peroleh dari media massa menjelang pemilu tahun depan. Kita, para penikmat media massa – meminjam istilah Iser – adalah konsumen narasi media massa. Kita mengkonsumsi teks yang disajikan oleh media massa sebagaimana adanya. Penafsiran kita atas sebuah kejadian selalu terikat kepada fakta-fakta yang diberikan media massa: apakah lengkap, belum lengkap, hanya sebagian, atau tersortir demi kepentingan sebuah narasi.

Buku pengakuan karya Ryan Holiday mengenai aktivitasnya di dalam menggubah narasi demi kepentingan klien yang menyewanya di beberapa media seperti the Huffington Post, Gawker, Business Insider, TechCrunch, Mashable dll. (Credit: barnesandnoble.com)

Buku pengakuan karya Ryan Holiday mengenai aktivitasnya di dalam menggubah narasi demi kepentingan klien yang menyewanya di beberapa media seperti the Huffington Post, Gawker, Business Insider, TechCrunch, Mashable dll. (Credit: barnesandnoble.com)

Secara bawah sadar, kita merespon teks media massa dengan cara kaku sebab kita selalu percaya bahwa media massa akan “selalu independen, akurat, runtut, dan lengkap”. Pertanyaan menggelisahkan justru timbul ketika kita bercermin kepada kisah Walang dan Sa’aran: bahwa ‘kisah 15 hari dan 25 juta’ mereka adalah tidak sebagaimana berita awal disampaikan kepada kita. Ada dua kemungkinan dapat diajukan: mungkin karena sudah banyak antrian berita (sensasional) lainnya atau mungkin sudah terlanjur menjadi sensasi publik sedangkan kelanjutan kisah mereka sudah tidak ekonomis – atau meminjam istilah Parenti (2001), newsworthy – lagi untuk ditampilkan.

Teks dan Narasi

Narasi yang tidak lengkap atau belum lengkap dapat mengarahkan seseorang kepada kesimpulan yang tidak pas. Serupa dengan seorang hakim yang menentukan hukuman seorang terdakwa, pembaca di dalam membaca teks bakal menentukan penafsiran sebuah teks. Hakim menyandarkan keputusannya berdasarkan fakta-fakta yang ‘tersedia’ di persidangan sebagaimana pembaca menafsirkan sebuah teks berdasar fakta-fakta yang ‘ada’ di dalam sebuah teks. Begitu pula penikmat berita dari media massa. Penikmat media massa akan menafsirkan suatu kejadian berdasarkan fakta-fakta yang ‘disediakan’ oleh penyaji berita.

Kegiatan menafsirkan teks sehingga terbentuk sebuah narasi mengenai suatu hal, serupa dengan yang dikatakan oleh Barthes di dalam The Death of The Author (1967). Dalam konteks tulisan ini, narasi yang ditampilkan oleh media massa bakal bertemu dengan hakimnya: para penikmat media massa.

Meskipun seakan-akan Barthes menafikan keberadaan penggubah narasi di dalam proses pemaknaan namun sebenarnya ia tidak mengatakan bahwa teks tidak ada penggubahnya. Ia menekankan bahwa sebuah teks ketika sudah diselesaikan oleh penggubahnya untuk kemudian dilempar ke sidang pembaca maka nasib pemaknaan terletak kepada para pembacanya dan tidak bisa ditentukan oleh penggubahnya. Kompromi atas pendapat Barthes serta berkaca pada eksperimen Culler, Teeuw, dan apa yang diungkapkan oleh Iser maka operasionalisasi penafsiran, tidak bisa dibantah, selalu ‘dibimbing’ oleh teks – dan teks sudah didesain bentuknya oleh penggubah.

Hal senada juga disorot oleh Michael Parenti di dalam esai-nya Monopoly Media Manipulation (2001) [Mediterranean Quarterly, 2002, Volume 13, Number 2: 56-66. ed. 2016]. Parenti menunjukkan bahwa pewartaan yang berimbang di dalam penampilan sebuah berita cenderung tidak pernah terjadi sebab ‘tidak menguntungkan’ penguasa media massa; para kapitalis atau pemerintah. Terjadilah apa yang disebut dengan follow-up avoidance (mis. Kasus Walang dan Sa’aran), framing, labeling, dan false balancing. Follow-up avoidance merupakan bentuk penampilan sesuatu sengaja tidak lengkap sehingga berpotensi menimbulkan distorsi penafsiran sedang framing merujuk kepada bagaimana sebuah kejadian ditampilkan sehingga menggiring penafsiran tertentu sesuai keinginan penggubah teks.

Labeling juga disebut Parenti sebagai bentuk kesengajaan penciptaan narasi sesuai keinginan pihak tertentu. Contoh labeling misalnya tindakan reaksioner sebuah organisasi massa ketika pihak yang berwenang ‘membiarkan’ pelanggaran yang terjadi. Tindakan ini sebenarnya dipicu oleh tidak segera bergeraknya pihak berwenang padahal sudah ada laporan resmi berulang kali tentang pelanggaran tersebut. Ketika sebuah media massa hendak melakukan labelling terhadap sebuah organisasi massa maka bagian di mana ‘ada laporan resmi berulang kali’ sengaja tidak ditampilkan. Berita yang disajikan menampilkan hanya tindakan reaksioner organisasi massa tersebut dengan ditambahi  label sebagai: anarkis, tidak tahu hukum, garis keras dsb.

Penggubahan Narasi dan Pemilu 2014

Pemilu 2014 sudah di ambang pintu. Merujuk kepada peran bombardir teks di dalam mengarahkan dan membentuk persepsi, perlu muncul kekhawatiran komunal dalam diri kita sebagai konsumen media massa menuju pemilu 2014. Di dalam pemilu, permainan persepsi itu penting sebagaimana secara implisit dinyatakan dalam temuan Marzuki Alie (2010) lewat disertasi doktoralnya dan apa yang diungkap Parenti (2001) di dalam esai-nya patut kita cermati.

Kita secara sadar melihat bahwa akhir-akhir ini beberapa kandidat pasangan capres dan cawapres pemilik media massa secara gencar menampilkan diri mereka maupun partai mereka lewat media massa yang mereka miliki. Mengenai fenomena ini, KPID DKI Jakarta lewat risetnya yang bekerja sama dengan 6 perguruan tinggi sejatinya juga telah memberikan lampu kuning kepada kita bahwa “ada kecenderungan pemberitaan dan iklan [di media massa] pun sudah disusupi kampanye [politik]” sebagaimana penuturan Hamdani Masil, Minggu (29/12, merdeka.com).

Terkait dengan esai [tulisan, ed. 2016] Parenti, sebenarnya yang berbahaya bagi sehatnya demokrasi kita bukan iklan politik yang bagi publik awam pun akan gampang dimaknai sebagai ajakan politis. Hal yang berbahaya bagi demokrasi kita adalah potensi penyajian berita yang digubah sedemikian rupa sehingga tercipta persepsi yang baik bagi suatu partai dan kandidat pasangan capres- cawapres tertentu dan persepsi yang buruk bagi partai dan pasangan lainnya lewat ‘penyortiran’ berita – ‘pemolesan’ berita: sebuah bentuk false balancing.

Bagaimana jika kelak pilihan partai dan pasangan presiden-wapres kita di pemilu 2014 merupakan bentuk akumulasi atas penggiringan oleh narasi media massa dari “hal-hal baik” saja yang dimiliki oleh kandidat-kandidat pemilik media massa dan kekalisan kita akan “hal-hal yang tidak begitu baik” yang sengaja sering ditampakkan ada pada partai serta kandidat-kandidat lain yang tidak memiliki media massa?

Ada semacam anekdot ironis dari apa yang sering dilontarkan oleh Sutan Bhatoegana “katakan semua yang benar, namun jangan semua yang benar dikatakan”. Bagaimana jika berita-berita yang dimunculkan memang narasinya digubah dengan tujuan membentuk sebuah keyakinan bawah sadar kita; sebuah persepsi tentang baik tidaknya sebuah partai atau pasangan kandidat presiden-cawapres. Dan penampil berita tidak bisa disalahkan sebab adagium Bhatoegana berlaku: tidak semua hal yang benar dan baik dari sebuah partai ditampilkan sedangkan partai yang ‘dimiliki’ oleh pemilik media massa akan ditampilkan semua kebaikannya (dan berulang-ulang). Kemudian kita tidak punya daya untuk adil menilai kepada semua kandidat dalam pemilu sebab fakta-fakta ‘yang ada’ mengenai kelebihan suatu partai atau pasangan kandidat capres – cawapres hanya tersedia sebagaimana supplier fakta sajikan kepada kita: tidak berimbang. Fair-kah hal demikian bagi sehatnya demokrasi kita jika tidak ada peregulasian? Dus, layakkah kita melabeli sehatnya pemilu 2014 sebagai sebuah utopia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s