Home » Academic » Hipokrisi dalam Profesi Kependidikan

Hipokrisi dalam Profesi Kependidikan

Sebuah terjemah bebas dari tulisan Tom Whitby[i] dengan judul Hypocrisy[ii] in the Profession of Education

Tiap kali saya membayangkan profesi guru[iii], saya secara otomatis membayangkan pula kecendekiaan. Sudah menjadi sesuatu yang niscaya bagi saya bahwa manakala seseorang hendak menjadi guru, ia harus terus menerus belajar. Tentu saja ini bukan berarti bahwa aktivitas terus menerus belajar adalah sesuatu yang mulus dilakukan oleh semua orang. Kerap kali, keadaan tertentu terjadi di dalam kehidupan seseorang sehingga ketetapberlanjutan belajar sejenak terhenti: masalah ekonomi, atau yang paling sering terjadi adalah kesibukan dengan kegiatan rumah tangga.

Saya barusan hadir di dalam pesta pensiun seorang kawan dan sempat bercakap mengenai topik-topik kependidikan dengan beberapa guru yang hadir di dalam acara tersebut. Saya benar-benar terkejut perihal kurang dalamnya pengetahuan para guru yang saya ajak berbincang tentang keilmuan yang seharusnya mereka kuasai. Bahkan lebih parah dari itu, para guru ini tidak dapat berkomentar barang sedikit pun terhadap topik yang saya lempar mengenai ilmu yang harusnya mereka kuasai.

Di dalam pesta pensiun itu, saya melempar topik semisal authentic learning[iv], project based learning[v], the flipped classroom[vi] dan connected educators[vii]. Kebanyakan dari guru-guru yang saya ajak berbincang, baik tua maupun muda, hanya bengong tidak ketulungan terhadap topik-topik yang saya lemparkan. Lebih seringnya, mereka malah merespon dengan berupa-rupa alasan semisal: tidak ada waktu, sibuk mengurus anak yang masih kecil, sibuk dengan kerja sampingan, gagap teknologi sehingga malas berselancar di dunia maya, atau kadang mereka bilang bahwa mereka tidak tertarik. Alasan-alasan inilah yang kerap menjadi tameng terhadap tidak terlibatnya mereka dalam connected educators[viii].

Sebetulnya saya paham bahwa profesi kependidikan, baik secara lokal maupun secara nasional, sedang disorot. Saya juga menyadari bahwa semangat para pendidik sekarang ini sedang dalam titik yang mengkhawatirkan dibandingkan dengan masa lalu. Bahkan saya juga mengerti betapa semprul-nya bagi kita, para pendidik, untuk kudu membela diri terhadap caci maki, sumpah serapah, bahkan hajatan hujat yang dilakukan oleh mereka yang tidak tahu kompleksitas kerja dan beban yang kita miliki. Saya pun juga sadar bahwa [kondisi kualitas] pendidikan sekarang ini sedang dikecam oleh banyak orang. Justru itulah yang membuat saya geleng-geleng kepala mendapati banyak para guru yang merespon keadaan ini dengan sikap yo wis piye meneh[ix], malah tidak memperdalam ilmu dengan terus belajar.

Sebagai tenaga pendidik, kita berjuang menciptakan keyakinan di dalam diri siswa kita supaya menjadi pebelajar[x] sepanjang usia; menjadi pribadi yang belajar berkelanjutan – selalu penasaran akan ilmu pengetahuan. Namun mengapa, saya bertanya, hal demikian kita tanamkan kepada para siswa saja? Sebagai guru, tidakkah kita seharusnya menjadi insan cendekia? Tidakkah kita juga seharusnya tetap belajar sehingga tetap terjaga kompetensi kita sebagai pendidik? Bukankah kita mempunyai tanggung jawab moral untuk memberikan kepada para siswa pendidikan yang terkini, tidak ketinggalan jaman, mengajarkan metodologi terbaru berdasarkan ilmu kependidikan terbaru? Tidakkah kita menyandarkan pelajaran yang kita berikan berdasarkan informasi terbaru dengan menerapkan metode terbaru di dalam pemerolehan, penganalisisan, pemahaman, penciptaan, dan penyampaian informasi-informasi tadi?

Para pendidik nampaknya tidak menjaga nilai tersertifikasinya profesi mereka dengan hal-hal tersebut. Memang benar bahwa kebaruan di dalam ilmu pengetahuan terjadi hampir setiap hari dan tidak bisa dipukul rata kemampuan pencerapan hal-hal baru di dalam ilmu pengetahuan terhadap semua tenaga pendidik – ada perbedaan. Dus, menjaga kompetensi profesi kependidikan selalu berarti keseriusan, keaktifan personal dan pelonggaran waktu di dalam menggapainya.

Sebelum menjadi guru atau pendidik, kita dulu harus menjadi pebelajar. Jikalau kita hendak menjadi pendidik yang meningkat kualitasnya, tentu saja kita harus menjadi pebelajar yang baik. Kerap kita tidak mempunyai pilihan terhadap ilmu apa sajakah yang harus kita pelajari namun kita tetap mempelajarinya dengan serius. Celakanya, selepas menjadi guru dan kemudian mandeg menjadi seorang pebelajar, banyak guru yang tidak tahu sampai sejauh mana mereka menguasai ilmu yang mereka ajarkan. Pertanyaan yang mungkin timbul adalah ‘bagaimana para pendidik ini dapat menentukan apa sajakah yang harus dipelajari oleh siswa [sic] mereka[xi] jikalau mereka tidak memahami hal-hal baru dalam ilmu pengetahuan yang harusnya dipelajari dan relevan dengan masa sekarang?

Jika saja para guru terus leyeh-leyeh[xii]dengan keadaan seperti ini padahal mereka sebenarnya tahu bahwa leyeh-leyeh bakal membuat keadaan kian buruk bagi mereka dan bagi kebaikan siswa yang menjadi tanggung jawabnya, lalu mengapa mereka tidak segera membenahi diri?

Memang benar bahwa keadaan tidak selalu ideal. Namun bagaimanapun juga, masyarakat kita butuh tenaga pendidik yang terpelajar dan mau terus belajar. Menjadi pembelajar adalah juga berarti sebuah proses menjadi pebelajar sepanjang usia. Menjadi pembelajar – atau tenaga pendidik – adalah sebuah keniscayaan terhadap proses belajar tanpa henti. Ia tidak bisa ‘dikembangkan’ hanya lewat lokakarya tahunan yang digagas dalam konteks hadir sebagai peserta, diskusi senyampang saja, dan lalu makan-makan. Ambil kata, jikalau pengajaran[xiii] adalah sesuatu yang terus dilakukan oleh seorang guru maka implikasi sederhananya adalah pembelajaran, bagi guru untuk dirinya sendiri dan bukan untuk murid saja, adalah aktivitas berkelanjutan.

Dengan kemajuan teknologi [informasi, internet] saat ini, para guru dapat tersambung dengan sumber informasi, rujukan keilmuan, dan teman-teman seprofesi untuk menjaga relevansi keilmuan mereka. Sebelum Anda menyanggah saya, saya katakan bahwa saya tidak yakin bahwa Anda dapat menjadi guru yang efektif dan relevan [sic][xiv] dengan mengabaikan ‘ketersambungan’ Anda dengan ini semua. Benar, bahwa beberapa orang membaca artikel-artikel di jurnal dan buku-buku serta menulis artikel di majalah tanpa sedikitpun memanfaatkan ‘ketersambungan’ dengan teknologi, namun saya sangat yakin bahwa kemungkinannya kecil sekali bagi Anda untuk menjadi persona yang relevan dengan cara serupa ini.

Guru di era sekarang ini butuh menjadi ‘relevan’ dan ‘tersambung’ dengan komunitas seprofesi atau sumber informasi adalah lebih efektif dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Hal ini butuh keseriusan, butuh waktu, dan usaha sepenuh. Bukankah kita selalu menekan siswa kita agar selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan? Lalu mengapa kita tidak melakukan hal yang selalu kita koar-koarkan kepada siswa kita di ruang kelas?

Pengembangan profesionalitas tenaga pendidik sebagai sebuah prioritas lewat kekinian ilmu yang disampaikan dan cara penyampaiannya harusnya menjadi aspek utama di dalam reformasi pendidikan. Hipokrisi terbesar dari profesi guru adalah sifat malas untuk menjadi pebelajar sepanjang usia. Guru-guru model ini sejatinya bukan ‘guru yang buruk’ karena bagaimanapun mereka telah tertempa di dalam dunia pembelajaran. Mereka hanyalah ‘korban’ dari sebuah sistem pendidikan kita yang mengajari untuk berpuas diri lewat detail-hal-harus-terlaksana dalam kurikulum atau malah terlalu mabuk oleh gonta-gantinya kurikulum[xv] [sic].

Apapun, saya hendak menekankan, pendidik yang baik meniscayakan komitmen dalam dirinya untuk menjadi pebelajar sepanjang usia. Sudahkah kita memiliki komitmen itu?


[i] Telah mendapat ijin dari beliau untuk saya terjemahkan secara bebas dan tampilkan di blog saya. Diambil dari blog beliau yang dapat diakses via link berikut:

http://tomwhitby.wordpress.com/2012/06/12/hypocrisy-in-the-profession-of-education/

Profil Tom Whitby dapat Anda simak lewat link berikut:

http://tomwhitby.wordpress.com/about/

[ii] Meskipun KBBI menyepadankan kata ‘hipokrit’ dengan ‘munafik’ namun saya lebih suka untuk membedakan kedua istilah ini.

Kata munafik di dalam bahasa Indonesia dijumput dari bahasa Arab. Meskipun benar bahwa di dalam kontak antarbudaya dus jumput menjumput istilah terjadi beserta kemungkinan deviasi makna pun kerap berlangsung sebagaimana Anda bisa baca di dalam tulisan saya Perempuan, Wanita, atau Betina? dan kamus daring Merriam-Webster memberikan definisi kata hipokrisi yang serupa dengan kata ‘munafik’ akan tetapi, khusus di dalam istilah hipokrit vs. munafik, saya tetap lebih nyaman menerjemahkan hypocrisy sebagai hipokrisi.

Kamus daring Merriam-Webster memberi keterangan bahwa hipokrisi  dapat memiliki arti: 1) perilaku seseorang yang melakukan suatu hal padahal ia melarang orang lain melakukannya; 2) perilaku seseorang yang tidak bersesuaian dengan klaim mengenai apa yang diyakininya atau dirasakannya; 3) kepura-puraan seseorang di dalam lahiriah yang berbeda dengan apa yang dia yakini atau apa yang ada di dalam benak; 4) perilaku hipokrisi.

Di dalam bahasa Arab, istilah ‘munafik’ sedikit berbeda bila dibandingkan dengan istilah ‘hipokrit’ dalam kamus daring Merriam-Webster. Perbedaan tersebut terjadi sebab istilah munafik merujuk kepada definisi Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam, “Ada 4 hal yang jika terdapat pada diri seseorang, maka ia menjadi seorang munafiq sejati, dan jika terdapat padanya salah satu dari sifat tersebut, maka ia memiliki satu karakter kemunafikan hingga ia meninggalkannya. Jika dipercaya ia berkhianat, jika berbicara ia berdusta,  jika berjanji ia mengingkari, dan jika berdebat ia melampaui batas.” (HR. Bukhari nomor 34 dan Muslim nomor 58).

Sebenarnya pandangan saya tentang Arab dan terma menurut Islam juga mengarahkan kepada isu tentang celupan atas budaya.

Saya melihat bahwa Islam, yang memang lahir di masyarakat Arab, telah dominan mencelupi budaya Arab sebagai sesuatu yang berbeda dari pendapat beberapa orang awam bahwa Islam sama dengan Arab.

Ketika istilah ‘munafiq’ yang berasal dari sebuah kata di dalam bahasa Arab mendapat celupan makna dari Islam sebagaimana termaksud di atas serta meski jejak etimologis ‘akar kata’ masih tercecer, namun karena pergeseran semantis ia mengikut kepada 4 ciri perilaku yang terkelindan dengan ‘pernyataan keimanan’ tersebut.

Walaupun dalam konteks kebahasaindonesiaan sesungguhnya sah-sah saja untuk memakai ‘hipokrit’ atau ‘munafik’ secara serupa arti (cf. KBBI)  namun saya lebih nyaman menggunakan istilah ‘hipokrit’ dibandingkan ‘munafik’.

Sekedar catatan tambahan atas terjemahan ini:

Dalam bahasa Indonesia dimungkinkan muncul istilah kehipokritan (prefiksasi + sufiksasi, ke-an) namun dalam terjemahan ini hypocrisy lebih suka saya terjemahkan sebagai hipokrisi.

[iii] Istilah ‘guru’ merujuk kepada segala tenaga pendidik: guru sekolah formal maupun informal dan dosen. Dalam konteks yang lebih luas, dapat pula ditambahkan guru agama.

[viii] Whitby menggunakan istilah connected educators dalam kalimat ini secara “sarkastis”. Alasan-alasan yang digunakan para guru tersebut memang menunjukkan bukti bahwa mereka tidak tergabung dalam ‘para pendidik yang terkoneksi dengan internet [dan perkembangan ilmu pengetahuan (?)]’.

[ix] Yo wis piye meneh = lantas hendak berbuat apa. Ungkapan ini adalah bentuk nerima yang tidak tepat. Di dalam masyarakat Jawa, masyarakat tempat saya born and bred, piwulang nerima kerap dapat diartikan dengan dua perspektif sebagai: 1) merespon keadaan yang ada dengan tidak melakukan apa-apa, 2) merespon keadaan dengan menepi ((Jw.) ‘mengendapkan hal-hal yang sedang dihadapi untuk pencarian solusi) lalu bergerak memperbaiki keadaan. Apapun hasil dari tindakan melakukan perbaikan harus diterima dengan hati ikhlas untuk men-setting ulang tindakan perbaikan yang lebih cermat. Perspektif yang pertama-lah yang men-stagnan-kan adanya perbaikan.

[x] pebelajar = learner. Bentukan ini merujuk kepada bentukan lain seperti suruh, penyuruh, pesuruh.

[xi] Di dalam tulisan aslinya tidak merujuk kepada “siswa mereka” namun pada “diri mereka”. Siswa [sic] adalah tambahan dari penerjemah.

[xii] Leyeh-leyeh (Jw.) = (more or less) reluctant in the comfort zone

[xiii] Pengajaran = teaching

[xiv] Di dalam teks asli hanya ‘efektif’ saja tanpa ‘relevan’

[xv] Agar terasa relevan dengan dunia pendidikan di negara kita, sedikit penambahan yang berbeda dengan teks aslinya dilakukan – sebuah adaptasi konteks lokal: isu kurikulum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s