Home » Article » Tidak Mengucap “Selamat Natal”: Being Intolerant and Disrespecting Christians?

Tidak Mengucap “Selamat Natal”: Being Intolerant and Disrespecting Christians?

Terbit pertama kali pada 27 Desember 2013, revisi terakhir pada 25 Desember 2015. Tambahan di dalam endnote 9 tentang salam dan tambahan referensi pada endnote 15 tentang menyikapi perbedaan narasi dari sumber yang berlainan sebagaimana dibahas Nouman Ali Khan. Tulisan di dalam blog ini yang berkelindan dengan tulisan ini adalah “Melihat Wajah Yesus (pbuh).”

___________________________

Suasana Natal masih semerbak di lingkungan kita. Umat Kristen masih dalam suasana gembira akan datangnya Natal di rumah mereka. Bagi mereka Natal adalah saat merayakan kemenangan karena Natal adalah perayaan lahirnya juru selamat mereka. Ini adalah perayaan akan kelahiran Yesus Kristus.

PERBEDAAN PENDAPAT DI KALANGAN TEOLOG DAN SEJARAWAN KRISTEN

Perayaan Natal sendiri sebenarnya bagi para teolog dan sejarawan Kristen –bukan awam Kristen– masih jadi bahan perdebatan bilakah tepat dirayakan tiap tanggal 25 Desember. Stefon (2011) misalnya mengajukan setidaknya tiga kemungkinan darimana asal penetapan bulan Desember sebagai bulan kelahiran Yesus.

Kemungkinan pertama sebab jatuh perayaan pada tanggal 25 Desember bisa dirujukkan kepada perhitungan Sextus Julianus Africanus. Sejarawan Kristen Romawi ini menetapkan 25 Maret sebagai hari di mana Yesus dimulakan di dalam perut ibunya [yang kebetulan tanggal yang sama dianggap oleh Sextus Julianus Africanus sebagai hari pertama penciptaan dunia][1] sehingga setelah sekitar sembilan bulan, atau tepatnya 25 Desember, Yesus lahir ke dunia.

Kemungkinan kedua adalah transformasi perayaan Natali Sol Invicti oleh para penganut pagan Romawi kepada agama yang baru mereka anut. Sebelum abad ketiga masehi, kerajaan Romawi yang saat itu belum menjadikan Kristen sebagai agama resminya, merayakan kelahiran kembali Dewa Matahari Sol Invictus tiap tanggal 25 Desember. Akhir Desember ditandai dengan siang yang kembali berdurasi panjang selepas winter solstice[2] dan masyarakat pagan Romawi saat itu mengadakan perayaan Saturnalia [suatu festival yang berlangsung hingga 23 Desember] dan lalu suka cita kelahiran dewa Sol Invictus pada 25 Desember. Perayaan Saturnalia pada waktu itu ditandai dengan pesta perjamuan dan saling menukar hadiah dengan orang lain. Tanggal 25 Desember bagi sebagian kaum pagan Romawi juga diyakini sebagai hari lahir dewa Indo-Eropa Mithra: dewa cahaya dan kesetiaan.

Ketika pada abad ketiga masehi kerajaan Romawi mulai mengakui Kristen sebagai agama resmi maka hipotesis yang menyatakan bahwa perayaan Natal adalah benar-benar transformasi perayaan kelahiran kembali dewa Sol dapat menjelaskan mengapa baru pada abad inilah tercatat Natal mulai dirayakan.

Kemungkinan ketiga tentang penetapan 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus mungkin dapat dikaitkan dengan usaha Kaisar Constantine. Kaisar Contantine-lah yang mencanangkan Kristen sebagai agama resmi kerajaan Romawi di sekitar tahun 366 setelah ia masuk Kristen. Di bawah pemerintahannyalah perayaan kelahiran Yesus dilakukan tiap tanggal 25 Desember. Pemilihan tanggal 25 Desember sebagai perayaan kelahiran Yesus Kritus dapat disebut sebagai “pembaptisan” perayaan paganisme oleh Constantine.

Dari ketiga pendapat di atas, dua pendapat terakhir sesuai kepada dugaan Roll (1995: 107) mengenai kristenisasi perayaan Natalis Solis Invicti dengan menyerap segala simbol yang ada di dalam perayaan 25 Desember pada masa sebelum Kristen.

Meskipun demikian, beberapa pakar sejarah Kristen tidak sepakat dengan pengaitan tradisi perayaan 25 Desember agama Pagan Romawi dengan perayaan Natal. Thomas Talley (dalam Anderson, 2008: 46) menunjukkan bahwa Pagan Romawi meski meyakini 25 Desember sebagai hari kelahiran Dewa Matahari namun tidak terdapat banyak bukti cukup kuat bahwa pada tanggal tersebut diadakan perayaan besar-besaran.

Hijmans (2009: 588) menyatakan bahwa meskipun benar bahwa 25 Desember bagi penganut Pagan Romawi dipercayai sebagai hari lahir Sol Invictus dan keyakinan ini sudah ada sebelum adanya penetapan perayaan Natal pada tanggal yang sama oleh Gereja Katolik Roma pada saat itu namun menurut Hijmans (2009: 595) southern soltice, atau tanggal 25 Desember, adalah hari simbolik secara kosmis dan layak ditetapkan sebagai hari lahir Kristus dan tidak ada kaitannya, kecuali karena kebetulan saja, dengan perayaan Pagan Romawi.

Pendapat Hijmans ini sedikit berbeda dengan manuskrip abad 12 yang ditulis oleh Jacob Bar-Salibi, seorang bishop Syiria, yang menyatakan bahwa kaum Pagan Romawi memang merayakan 25 Desember sebagai hari kelahiran [dewa] matahari (Sol Invictus) dan kaum Kristiani pada saat itu ada yang turut serta dalam keramaian perayaan ini serta menyatakan bahwa tanggal 25 Desember sewajarnyalah untuk ditetapkan sebagai hari kelahiran Yesus Kristus (dalam MacMullen, 1997: 155).

Tambahan pula terkait dengan kontroversi tanggal 25 Desember sebagai perayaan Natal, Kelemen (n.d.) memaparkan pendapat-pendapat lain. Ia memulai tulisannya dengan dua hal yang penting tentang hari kelahiran Yesus Kristus: 1) adanya mitos yang dipercayai awam massal bahwa 25 Desember adalah benar-benar sebagai hari kelahiran Yesus, dan 2) Kitab Perjanjian Baru tidak ada satupun ayat yang merujuk tanggal dan tahun kelahiran Yesus. Ini menunjukkan bahwa umat Kristen awal tidak ada kepentingan untuk mengetahui hari kelahiran Yesus [dus merayakannya]. Tidak berhenti sampai di situ, Kelemen (n.d.) juga memberikan pendapat-pendapat yang berbeda tentang kapan seharusnya Natal dirayakan. DePascha Computus, sebuah manuskrip anonim kuno yang dianggap ditulis di Afrika Utara sekitar 243 Masehi, menunjuk tanggal 28 Maret sebagai hari lahir Yesus. Clement, bishop Alexandria (hidup sekitar 215 Masehi), beranggapan bahwa Yesus lahir pada tanggal 18 November. Sedangkan Fitzmyer[3] punya perhitungan bahwa tanggal yang tepat seharusnya 11 September atau Salsman (2010) menyatakan bahwa beberapa teolog Kristen sebenarnya sudah tahu dari dulu kelahiran Yesus adalah di sekitar akhir bulan September dan bukan Desember.

Ketiadaan tanggal yang tepat untuk perayaan kelahiran Yesus Kristus inilah yang justru sekarang ini menjadikan beberapa pemeluk Kristen, misal di Amerika Serikat (Jones, 2013), mengalami perubahan lanskap religiusitas akan pentingnya perayaan Natal terhadap keimanan mereka. Jika esensinya adalah semangatnya sedangkan tidak ada ketepatan tentang bagaimana perayaan tersebut kapan dilaksanakan [atau apakah memang harus dilakukan] maka argumen urgensi perayaan Natal menjadi lemah. Beberapa sekte Kristen malah tidak mau merayakan Natal karena mereka berkeyakinan bahwa perayaan Natal adalah bentuk perayaan Pagan (Aust, 2005). Sejarah perayaan Natal sendiri yang tidak bisa lepas dari tradisi Pagan yang bertransformasi ke dalam perayaan Kristiani juga mendapatkan kritikan mengenai bagaimana ia juga berubah menjadi sesuatu yang menguntungkan kapitalisme untuk tetap diselenggarakan walau kritik atasnya kian menguat (cf. Salsman, 2010).

Lepas dari masih belum selesainya kesepakatan di antara teolog dan sejarawan Kristen mengenai kapan sejatinya Yesus Kristus dilahirkan, nampaknya bagi beberapa teolog Kristen ada semacam penyingkiran penentuan presisi tanggal kelahiran Yesus Kristus sebab bagi sebagian mereka yang terpenting adalah semangatnya bukan ketepatan tanggalnya.[4]

PERAYAAN NATAL DI SELURUH DUNIA

Natal dirayakan di seluruh dunia. Di beberapa negara, hari perayaan Natal malah sudah dijadikan hari libur nasional. Tiap negara juga memiliki tradisi unik yang berbeda-beda di dalam merayakan natal. Meskipun perayaan Natal sudah menjadi perayaan nasional di beberapa negara, akhir-akhir ini di beberapa negara serupa Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris sudah mulai ada semacam bentuk perlawanan terhadap display perayaan Natal di ruang publik. Penentang display perayaan Natal di ruang publik menganggap bahwa display seperti itu ‘mengintimidasi’ pemeluk agama lain [atau mereka yang atheis, agnostik dan atau sekuler] (Raushenbush, 2013;  Petre, 2009; Bazar, 2005; Ostling, 2005; Fox, 2002; Wakin, 2002).

Hingga saat ini di beberapa negara masih ada perdebatan mengenai tepat tidaknya display perayaan Natal di ruang publik. Gerakan yang menganggap display seperti itu tidak tepat disebut sebagai gerakan War on Christmas. Mereka yang dituding sebagai bagian dari gerakan ini mengatakan bahwa usaha mereka lebih kepada pengurangan intimidasi masif kegegapgempitaan perayaan Natal secara nasional terhadap pemeluk agama lain. Mereka juga menganggap bahwa implementasi pemisahan negara dengan gereja harusnya diwujudkan pula lewat perayaan yang tidak “terlalu intimidatif” terhadap kaum minoritas.

Di sisi lain, kelompok yang pro perayaan Natal di beberapa negara sekuler tetap bersikeras bahwa kelompok pengusung gerakan War on Christmas justru tidak menghargai kebebasan perayaan keagamaan (Keck, 2009). Apapun, di beberapa negara di Eropa maupun di Amerika, hingga hari ini perdebatan tentang perayaan Natal di ruang publik masih terjadi.

Sebenarnya selain display perayaan Natal di ruang publik, isu yang juga masih berlangsung di beberapa negara Eropa dan Amerika adalah ucapan Merry Christmas atau “Selamat Natal”. Bagi beberapa orang di dua kontinen tersebut, pengucapan Merry Christmas menjadi phoney  untuk diucapkan oleh mereka yang tidak beragama Kristen. Semula memang tidak ada isu tentang itu di beberapa negara tersebut namun seiring dengan perkembangan keberanekaragaman agama secara demografis di beberapa negara Eropa dan Amerika dan mulai kuatnya atheisme, ungkapan Merry Christmas kepada orang lain dianggap semu.

Merry Christmas vs Happy Holidays di Amerika Serikat (credit: Public Religion Research Institute)

Merry Christmas vs. Happy Holidays di Amerika Serikat (credit: Public Religion Research Institute)

Berdasarkan jajak pendapat terbaru, semisal di Amerika Serikat (Crowley, 2013), ditemukan fakta bahwa hampir separuh responden lebih suka mengucapkan Happy Holidays atau Season’s Greetings daripada mengucapkan Merry Christmas. Ucapan Happy Holidays atau Season’s Greetings dianggap lebih netral bagi siapapun karena lebih merujuk kepada salutasi atas libur nasional di musim Natal dan bukan kepada perayaan Natal-nya. Hasil survei tersebut sedikit berbeda dengan hasil survei daring yang dilakukan oleh Praetorius (2010, 2011) yang menyatakan bahwa frase Merry Christmas masih menjadi vernakuler[5] masyarakat modern yang lazim dipakai daripada frase Happy Holidays di dunia maya. Meskipun demikian, Praetorius juga menyatakan adanya peningkatan 200 persen pemakaian frase Happy Holidays di dunia maya selama dua dekade terakhir.

BOLEHKAH MENGATAKAN “TIDAK TOLERAN” ATAU “TIDAK MENGHARGAI” KEPADA MEREKA, KHUSUSNYA MUSLIM, YANG TIDAK MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL?

Toleran berasal dari kata tolerance. Makna tolerance dalam kamus Merriam Webster daring adalah kesediaan untuk menerima perasaan, kebiasaan, dan keyakinan yang berbeda dengan milik kita. Sedangkan respect berdasar kamus yang sama berarti sebagai tindakan yang menunjukkan bahwa kita sadar akan hak atau keinginan orang lain.

Pemakaian istilah “toleransi beragama” atau “menghargai keyakinan orang lain” sering muncul di dalam fenomena interaksi perbedaan agama. Di Indonesia, yang menarik dari fenomena ini adalah sikap gebyah uyah[6] terhadap bentuk praktiknya di masyarakat.

Islam adalah agama yang dipeluk oleh mayoritas orang di Indonesia. Meski demikian, Islam juga menjadi agama yang sering disalahpahami oleh pemeluk agama lain. Ada yang menyebut bahwa Islam adalah agama yang eksklusif dan kaku. Lucunya, sebutan ini justru kerap disulut oleh ‘orang Islam yang kurang kerjaan’ atau ‘orang Islam yang butuh kerjaan’.

Karikatur tentang Ucapan

Karikatur tentang Ucapan “Selamat Natal” (credit: Mike Lester/Rome News – Tribune, PoliticalCartoons.com)

Isu yang hangat di negara ini sebenarnya bukan debat tentang display perayaan keagamaan di ruang publik karena negara kita bukan negara sekuler. Juga bukan perdebatan mengenai ucapan Merry Christmas atau Happy Holidays sebab negara ini tidak berbahasa Inggris. Debat yang kerap muncul pada saat menjelang Natal adalah boleh tidaknya seorang muslim mengucapkan “Selamat Natal” kepada umat Kristen.

Sebenarnya di dalam ajaran Islam berbuat baik tidak pernah dibatasi hanya kepada orang lain yang seiman (misal. QS 2: 177; QS 3: 110; HR. Thabrani dan Daruquthni[7]). Namun perbuatan kebaikan kepada siapapun di dalam Islam[8] ada aturannya. Ambil misal ucapan salam di dalam Islam. Di negara ini memang nampak ada usaha pem-bahasaindonesia-an salam dengan ungkapan “Salam Sejahtera”. Sebenarnya secara esensi “salam sejahtera” tidak bisa melingkupi kedalaman makna ucapan assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Dan perlu pula diketahui bahwa tidak ada aturan jelas dalam menjawab ucapan “salam sejahtera”. Ucapan “salam sejahtera” bisa dan boleh dijawab sesuka hati. Beda halnya dengan ucapan assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Ucapan assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh memiliki aturan kapan dan kepada siapa diucapkan serta bagaimana menjawabnya. Jika dianggap bahwa aturan menjawab assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh[9] sebagai bentuk eksklusivisme Islam maka hal demikian tidak tepat. Pandangan demikian seakan-akan menafikan “hal-hal baik” yang dianjurkan atau boleh dilakukan oleh orang Islam kepada orang yang berbeda keyakinan. Aturan ini tidak tepat secara dangkal diartikan bahwa Islam mengajarkan untuk “bersikap bermusuhan kepada umat lain” atau “menafikan keberadaan orang lain”. Jikalau kesimpulan yang muncul adalah demikian, maka perintah di dalam agama Islam untuk berbuat baik kepada orang lain (dan menjaga alam) di dalam Quran maupun Hadist tidaklah dilihat dengan serius oleh orang yang bersempit pikiran seperti itu.

Dalam teologi Islam, rahmatullah dan barakallah adalah doa yang hanya boleh ditujukan kepada orang yang satu iman. Kedua hal ini, rahmatullah dan barakallah, merupakan sesuatu yang ‘legal’ dimintakan kepada Tuhan untuk orang yang satu iman namun ‘illegal’ diberikan kepada orang yang berbeda iman. Mungkin bentuk yang mirip dapat dilihat dalam prosesi penghormatan kematian: takziah adalah umum namun sholat jenazah tidak diberikan kepada orang yang tidak satu iman.

Lalu bagaimanakah kebolehan ucapan “Selamat Natal” yang dilakukan oleh muslim? Jawabannya sederhana: tidak pas.[10] Salutasi “Selamat Natal” menjadikan seorang muslim tidak pas melakukan kebaikan.

Menghormati prosesi pemakaman umat lain adalah kebaikan,[11]bersedekah kepada orang lain dengan ikhlas tanpa melihat keyakinan adalah kebaikan, menjenguk orang sakit adalah kebaikan, bertetangga dengan baik kepada siapapun adalah kebaikan,[12]berjual beli kepada siapapun dengan jujur dan adil adalah kebaikan, memberikan tahniah umum (mis. selamat atas keberhasilan menduduki posisi manajer, selamat sudah bisa beli mobil baru) adalah boleh, berinteraksi secara santun dan baik kepada siapapun tanpa memandang agamanya adalah kebaikan, menebarkan kasih kepada siapapun,[13]bahkan berkoalisi dengan umat yang berbeda keyakinan di dalam keadaan tertentu serta menjamin keselamatan umat beda agama juga bukanlah sesuatu yang dilarang total[14] namun mengucapkan “Selamat [merayakan suka cita Anda akan kelahiran Anak Tuhan Yesus Kristus atau disebut] Natal” – bagi muslim – adalah tidaklah pas.

Umat Islam menghormati Yesus dengan narasi yang berbeda dengan narasi menurut keyakinan Kristen.[15] Yesus di dalam Islam adalah bagian dari lima Rasul Mulia di samping Nuh, Musa, Ibrahim, Muhammad (p.b.u.t). Muslim tidak bisa mengakui Yesus sebagai bagian dari Trinitas sebab pengakuan tersebut bakal membatalkan ketauhidan.[16] Islam menghormati Yesus dengan sangat tinggi sebagai Nabi atau Rasul dan tidak bisa lebih dari itu.

Natal, sebagaimana paparan di atas, adalah perayaan [pengakuan] suka cita kelahiran Anak Tuhan ke dunia sebagai manifestasi Trinitas.[17] Alangkah lucunya jikalau seorang muslim memberi selamat kepada perayaan yang secara teologis sangat bertentangan dengan dasar keyakinannya. Natal, tidak pernah tidak, adalah selalu tentang perayaan suka cita pembenaran keyakinan akan Trinitas. Mereka yang bersikukuh bahwa perayaan Natal hanyalah perayaan kelahiran Yesus saja dan bukan tentang perayaan peneguhan kedeitasan Yesus adalah delusional.

Jadi, tidaklah tepat jikalau bentuk “toleransi beragama” atau “menghargai keyakinan lain” diwujudkan dengan cara gebyah uyah. Pendapat yang menyatakan bahwa salah satu usaha menciptakan (atau menjaga) kerukunan adalah, misal, mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristen tidaklah pas. Perbuatan itu tabu dilakukan sebab alangkah lucu-nya seseorang yang menggigit dengan geraham keyakinan Tauhid namun ber-selamat-an terhadap perayaan Trinitas.

Dalam konteks saling menghargai kebebasan beragama dan menjalankan keyakinan maka memberi ruang dan kedamaian kepada umat Kristen untuk bebas ber-Natal-an adalah tindakan yang pas. Bagaimanapun juga, umat Islam aware bahwa orang lain juga punya hak di negara ini untuk memilih apa yang diyakininya dan hal ini dijamin konstitusi. Tambahan pula dalam perspektif Islam pemberian ruang kepada umat lain adalah “bukanlah sesuatu yang dilarang”.[18]

Tidaklah bijak untuk memberikan stigma kepada muslim yang tidak mengucapkan “selamat Natal” sebagai “tidak memiliki toleransi” atau “tidak menghargai keyakinan” saudara sebangsa mereka yang berkeyakinan Kristen. Menilai sesuatu haruslah dengan prasangka yang baik dan adil. Umat Islam – yang tidak mengucapkan ‘selamat natal’ – tidaklah bisa disebut “tidak memberi toleransi” sebab bagaimanapun juga mereka ini mewujudkannya dalam bentuk ‘tidak mengganggu hak dan keinginan’ orang lain untuk menjalankan keyakinannya.

Perlu  ditambahkan, dalam isu-isu lain yang belum juga lekang hangatnya, bahwa bagi keyakinan lain mungkin sekedar mengucapkan ‘selamat’ tidak ada pemarkaan. Di dalam Islam, hal yang mungkin nampak sepele (mis. ‘sekedar’ memberi ucapan selamat hari raya, anekdot tentang Tuhan, para nabi,[19] atau malaikat) atau sesuatu yang tampak ‘baik secara logika’ di dalam agama lain, tidak bisa di-gebyah-uyah-kan sebagai pasti boleh dan baik menurut agama Islam kecuali memang diukur sesuai takaran Islam.[20]

Tiap agama punya aturan sendiri. Memahami perbedaan ini, dan tentu saja memberi ruang atas perbedaan ini, yang pantas kita sebut sebagai toleran; menghargai keyakinan orang lain.

Salam hangat dan penuh kasih dari seorang muslim.

REFERENSI

Anderson, Michael A. 2008. Symbols of Saints. Michigan: ProQuest LLC.

Aust, Jerold. 2 Desember 2005. “Why Some Christians Don’t Celebrate Christmas.” Diakses 21 Desember 2015 12:27 PM dari:

http://www.ucg.org/the-good-news/why-some-christians-dont-celebrate-christmas

Bazar, Emily. 1 Desember 2005. “Trimming ‘Christmas’ from trees stirs debate. Diakses 27 Desember 2013 3:54 PM WIB dari:

http://usatoday30.usatoday.com/news/nation/2005-12-01-trimming-debate_x.htm

Cooper, J. (n.d.). “Why is Christmas  Day on the 25th December?”. whychristmas.com. Diakses 27 Desember 2013, 11:30 AM WIB dari:

http://www.whychristmas.com/customs/25th.shtml

Crowley, Sharon. 19 Desember 2013. “Merry Christmas’ vs. ‘Happy holidays’. Diakses 27 Desember 2013 4:56 PM WIB dari:

http://www.myfoxny.com/story/24257346/merry-christmas-vs-happy-holidays

Fox, Mike. 21 Desember 2002. “Canada’s Christmas tree controversy. Diakses 27 Desember 2013 3:58 PM WIB dari:

http://news.bbc.co.uk/2/hi/americas/2590223.stm

Hijmans, Steven E. 2009. Sol: The Sun in the Art and Religions of Rome.  Dissertation – Rijksuniversiteit Groningen.

Jones, Robert P. 17 Desember 2013. “Do You Believe? Americans Less Likely to Believe in Historical Accuracy of Christmas Story Than a Decade Ago. Diakses 27 Desember 2013 5:02 PM WIB dari:

http://www.huffingtonpost.com/robert-p-jones-phd/a-christmas-belief…..html

Keck, Kristi. 18 Desember 2009. “Heated debate again over ‘War on Christmas’ claims. Diakses 27 Desember 2013 4:32 PM WIB dari

http://edition.cnn.com/2009/POLITICS/12/18/war.on.christmas/index.html

Kelemen, Lawrence. (n.d.). “The History of Christmas. Diakses 26 Desember 2013, 11:25 PM WIB dari

http://www.simpletoremember.com/vitals/Christmas_TheRealStory.htm

MacMullen, Ramsay. 1997. Christianity and Paganism in the Fourth to Eighth Centuries. New Haven: Yale University Press.

Ostling, Richard. 2005. “Have Yourself a Merry Little Lawsuit This Season”. Buffalo Law Journal 77 (96): 1–4.

Petre, Jonathan. 27 Desember 2009. “Bonkers’ police drop the word Christmas from poster to avoid upsetting other faiths. Diakses 27 Desember 2013, 4:02 PM WIB dari:

http://www.dailymail.co.uk/news/article-1238587/Bonkers-police-drop-word-Christmas-poster-avoid-upsetting-faiths.html

Praetorius, Dean. 24 Desember 2010, 25 Mei 2011. “Merry Christmas vs. Happy Holidays: Which Is More Popular Now?. Diakses 27 Desember 2013 5:19 PM WIB dari:

http://www.huffingtonpost.com/2010/12/24/merry-christmas-vs ….html#214886

Raushenbush, Paul B. 4 Desember 2013. “Happy Holidays vs. Merry Christmas: The Last Thing That Ever Needs To Be Said About It. Diakses 27 Desember 3:49 PM WIB dari:

http://www.huffingtonpost.com/paul-raushenbush/happy-holiday-vs…..html

Roll, Susan K.. 1995. Toward the Origin of Christmas. Kampen: Kok Pharos.

Salsman, Richard M. 23 Desember 2010. “A Well-earned Capitalist Christmas”. Diakses 25 Desember 2015, 4:30 PM dari

http://www.forbes.com/sites/richardsalsman/2010/12/23/a-well-earned-capitalist-christmas/

Stefon, M. 23 Desember 2011. “The Origin of Christmas in December. Diakses 26 Desember 2013, 10:10 PM WIB dari

http://www.britannica.com/blogs/2011/12/origin-christmas-december/

Wakin, Daniel J. 11 Desember 2002. “Lawsuit Attacks Schools’ Ban on Nativity Scenes. Diakses 27 Desember 2013, 4:15 PM WIB dari

http://www.nytimes.com/2002/12/11/nyregion/lawsuit-attacks-…..scenes.html

==============================

Endnotes

[1] Kurung kaku tanda sic

[2] Titik balik matahari musim dingin

[3] Professor Emeritus Biblical Studies pada Catholic University of America, anggota dari the Pontifical Biblical Commission, dan Mantan Presiden Catholic Biblical Association.

[4] cf. James Cooper. (n.d.). “Why is Christmas Day on the 25th of December?”. whychristmas.com. Diakses 27 Desember 2013 dari:

http://www.whychristmas.com/customs/25th.shtml

[5] bahasa keseharian; bahasa khalayak

[6] gebyah uyah (Jw.) = pukul rata tanpa melihat konteks

[7] Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda, ’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.”

[8] Tiap agama mempunyai aturan sendiri yang merujuk kepada skriptur masing-masing

[9] “Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167). Lihat pula hadist “Jika seorang ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) memberi salam pada kalian, maka balaslah dengan ucapan ‘wa’alaikum’.” (HR. Bukhari no. 6258 dan Muslim no. 2163). Juga hadist berikut: “Ada seorang Yahudi melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia mengucapkan ‘as saamu ‘alaik’ (celaka engkau).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas membalas ‘wa ‘alaik’ (engkau yang celaka). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Apakah kalian mengetahui bahwa Yahudi tadi mengucapkan ‘assaamu ‘alaik’ (celaka engkau)?” Para sahabat lantas berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami membunuhnya saja?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan. Jika mereka mengucapkan salam pada kalian, maka ucapkanlah ‘wa ‘alaikum’.” (HR. Bukhari no. 6926).

Meski memulai ucapan salam kepada non-muslim adalah tidak pas namun khusus menjawab salam yang diberikan oleh non-muslim ada perbedaan pendapat tentangnya. Hadist jawaban “wa’alaikum” merujuk pada sebab jawabannya mengapa harus begitu dan bukan tiap salam dari non-muslim harus dijawab sebagaimana seperti itu. Pun, tidak ada kemutlakan menjawab salam sepadan dari non-muslim menurut jumhur (cf. “Membalas Salam Non Muslim”; “Menjawab Salam Orang Kafir”).

[10] Silakan rujuk perkara ini pada pandangan beberapa organisasi dan atau ulama-ulama berikut ini:

Selain pandangan yang tertuang di situs resmi Muhammadiyah tertaut itu, Muhammadiyah lewat Fatwa-fatwa Tarjih juga menyatakan bahwa:

“Umat Islam diperbolehkan untuk bekerjasama dan bergaul dengan umat-umat agama dalam masalah – masalah keduniaan serta tidak boleh mencampuradukkan agama dengan akidah dan peribadatan agama lain seperti meyakini Tuhan lebih dari satu, Tuhan mempunyai anak dan Isa Al Masih itu anaknya. Orang yang meyakininya dinyatakan kafir dan musrik.

Poin pertama mengikuti perayaan natal bersama bagi ummat islam adalah Haram hukumnya dalam konteks ini, perayaan Natal di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perkara-perkara akidah tersebut di atas.

Poin Kedua mengucapkan Selamat Natal dianjurkan untuk tidak dilakukan karena merupakan bagian dari perkara kegiatan perayaan Natal, agar Umat Islam tidak terjerumus kepada perkara syubhat dan larangan Allah Subhanahu Wata’ala. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menjauhkan diri dari dari hal – hal yang syubhat dan dari larangan Allah Allah Subhanahu Wata’ala serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan.” (Fatwa – Fatwa Tarjih, Cetakan VI, 2003 hal.209-210)

Bantahan bantahan Kepada Mereka

1. Jika mereka berkata :

Dalam kitab Hanabilah dikatakan :

وفي” جواز “تهنئتهم وتعزيتهم وعيادتهم روايتان

Dan di dalam masalah memberikan selamat kepada mereka, bertaziyah pada mereka dan menjeguk mereka terdapat dua riwayat.

Ini menunjukkan bahwa masih ada khilaf di antara ulama mengenai hukum mengucapkan selamat kepada kaum kafir.

Referensi :

الكتاب : المبدع شرح المقنع للشيخ ابن مفلح ج3 ص325

وفي” جواز “تهنئتهم وتعزيتهم وعيادتهم روايتان” كذا في “المحرر”، والأشهر وجزم به في “الوجيز”، وقدمه في “الفروع”: أنه

يحرم لأن ذلك يحصل الموالاة وتثبت المودة وهو منهي عنه للنص ولما فيه من التعظيم.

الكتاب: : الكتاب : الإنصاف للمرداوي ج4 ص169-168

وأطلقهما في الهداية والمذهب ومسبوك الذهب والمستوعب والخلاصة والكافي والمغني والشرح والمحرر والنظم وشرح ابن منجا

إحداهما : يحرم وهو المذهب صححه في التصحيح وجزم به في الوجيز وقدمه في الفروع والرواية الثانية لا يحرم فيكره وقدمه في الرعاية والحاويين في باب الجنائز ولم يذكر رواية التحريم وذكر في الرعايتين والحاويين رواية بعدم الكراهة فيباح وجزم به ابن عبدوس في تذكرته وعنه يجوز لمصلحة راجحة كرجاء إسلامه اختاره الشيخ تقي الدين ومعناه اختيار الآجري

Kami Menjawab :

Sebagaimana telah dibahas, bahwa tahniah dalam ibarot di atas adalah tahniah mengenai perkara-perkara yang umum yang tidak ada kaitannya dengan syiar keagamaan mereka.
Sedangkan mengenai tahniah atas syiar keagamaan adalah bentuk menyerupai kaum kafir yang dilarang sesuai dengan kesepakatan ulama sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Muflih dan Ibnu Qoyim dari ulama Hanabilah.

Referensi :

أحكام أهل الذمة – (ج 1 / ص 69(

فصل في تهنئة أهل الذمة بزوجة أو ولد أو قدوم غائب أو عافية أو سلامة من مكروه ونحو ذلك وقد اختلفت الرواية في ذلك عن أحمد، فأباحها مرة ومنعها أخرى، والكلام فيها كالكلام في التعزية والعيادة، ولا فرق بينهما، ولكن ليحذر الوقوع فيما يقع فيه الجهال من الألفاظ التي تدل على رضاه بدينه، كما يقول أحدهم: متعك الله بدينك أو نَيحَك فيه، أو يقول له: أعزك الله أو أكرمك، إلا أن يقول: أكرمك الله بالإسلام وأعزك به ونحو ذلك. فهذا في التهنئة بالأمور المشتركة، وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق، مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم، فيقول: عيد مبارك عليك، أو تهنأ بهذا العيد ونحوه

الفروع لابن مفلح (11/ 224(

وَقَالَ فِيمَنْ فَعَلَ كَالْكُفَّارِ فِي عِيدِهِمْ : اتَّفَقُوا عَلَى إنْكَارِهِ ، وَأَوْجَبُوا عُقُوبَةَ مَنْ يَفْعَلُهُ ، قَالَ : وَالتَّعْزِيرُ عَلَى شَيْءٍ دَلِيلٌ عَلَى تَحْرِيمِهِ .

Kalaupun kita setuju bahwa yang dimaksud dalam ibaroh adalah ucapan selamat secara mutlak. Maka pendapat yang memperbolehkan dalam kitab Hanabilah adalah pendapat yang lemah. Dan seorang mufti tidak boleh berfatwa dengan pendapat yang lemah. Apalagi pendapat yang dapat menimbulkan fitnah, maka berfatwa dengan hal itu adalah haram.
referensi

كشف القناع عن متن الإقناع للعلامة البهوتي (3/131(

)و ) يكره ( التعرض لما يوجب المودة بينهما ) لعموم قوله تعالى { لا تجد قوما يؤمنون بالله واليوم الآخر يوادون من حاد الله

ورسوله } الآية ) وإن شمته كافر أجابه ) ; لأن طلب الهداية جائز للخبر السابق). ويحرم تهنئتهم وتعزيتهم وعيادتهم ) ; لأنه تعظيم لهم أشبه السلام ) وعنه تجوز العيادة ) أي : عيادة الذمي ( إن رجي إسلامه فيعرضه عليه واختاره الشيخ وغيره ) لما روى أنس { أن النبي صلى الله عليه وسلم عاد يهوديا , وعرض عليه الإسلام فأسلم فخرج وهو يقول : الحمد لله الذي أنقذه بي من النار } رواه البخاري ولأنه من مكارم الأخلاق) وقال ) الشيخ ( ويحرم شهود عيد اليهود والنصارى ) وغيرهم من الكفار ( وبيعه لهم فيه ) . وفي المنتهى : لا بيعنا لهم فيه ( ومهاداتهم لعيدهم ) لما في ذلك من تعظيمهم فيشبه بداءتهم بالسلام .

( ويحرم بيعهم ) وإجارتهم ( ما يعملونه كنيسة أو تمثالا ) أي : صنما ( ونحوه ) كالذي يعملونه صليبا ; لأنه إعانة لهم على كفرهم . وقال تعالى { ولا تعاونوا على الإثم والعدوان } ( و ) يحرم ( كل ما فيه تخصيص كعيدهم وتمييز لهم وهو من التشبه بهم , والتشبه بهم منهي عنه إجماعا ) للخبر ( وتجب عقوبة فاعله )) ا.هـ

الإنصاف – (ج 7 / ص 191(

قَوْلُهُ ( وَفِي تَهْنِئَتِهِمْ وَتَعْزِيَتِهِمْ وَعِيَادَتِهِمْ : رِوَايَتَانِ ) وَأَطْلَقَهُمَا فِي الْهِدَايَةِ ، وَالْمُذْهَبِ ، وَمَسْبُوكِ الذَّهَبِ ، وَالْمُسْتَوْعِبِ ، وَالْخُلَاصَةِ ، وَالْكَافِي ، وَالْمُغْنِي ، وَالشَّرْحِ ، وَالْمُحَرَّرِ ، وَالنَّظْمِ ، وَشَرْحِ ابْنِ مُنَجَّا .إحْدَاهُمَا : يَحْرُمُ . وَهُوَ الْمَذْهَبُ . صَحَّحَهُ فِي التَّصْحِيحِ . وَجَزَمَ بِهِ فِي الْوَجِيزِ ، وَقَدَّمَهُ فِي الْفُرُوعِ . وَالرِّوَايَةُ الثَّانِيَةُ : لَا يَحْرُمُ . فَيُكْرَهُ . وَقَدَّمَهُ فِي الرِّعَايَةِ ، وَالْحَاوِيَيْنِ ، فِي بَابِ الْجَنَائِزِ وَلَمْ يَذْكُرْ رِوَايَةَ التَّحْرِيمِ .

المجموع – (ج 19 / ص 415(

قالت الحنابلة ويمنعون من تعلية البناء على المسلمين ويحرم القيام لهم وتصديرهم في المجالس وبداء تهم بالسلام وبكيف أصبحت أو أمسيت أو كيف أنت أو حالك وتحرم تهنئتهم وتعزيتهم وعيادتهم، وروى حديث أبى هريرة، وما عدا السلام مما ذكر في معناه فقس عليه، وعنه تجوز عيادتهم لمصلحة راجحة كرجاء السلام اختاره الشيخ تقى الدين والآجري، وصوبه في الانصاف.

بغية المسترشدين (ص: 15)

(مسألة ش) : تجب ، على مفت ، إجابة مستفت في واقعة يترتب عليها الإثم بسبب الترك أو الفعل ، وذلك في الواجب أو المحرم على التراخي إن لم يأت وقت الحاجة وإلا فعلى الفور ، فإن لم يترتب عليها ذلك فسنة مؤكدة ، بل إن كان على سبيل مذاكرة العلم التي هي من أسباب إحيائه ففرض كفاية ، ولا ينبغي الجواب بلا أدري إلا إن كان صادقاً ، أو ترتب على الجواب محذور كإثارة فتنة ، وأما الحديث الوارد في كتم العلم فمحمول على علم واجب تعليمه ولم يمنع منه عذر كخوف على معصوم ، وذلك كمن يسأل عن الإسلام والصلاة والحلال والحرام ، ولو كان العالم بالغاً درجة الفتوى في مذهبه وعلم أمراً فأفتى به بحكم ولم يمتثل أمره ، فله الحمل عليه قهراً بنفسه أو بغيره ، إذ تجب طاعة المفتي فيما أفتى به. ونقل السمهودي عن الشافعي ومالك أن للعالم وإن لم يكن قاضياً أن يعزر بالضرب والحبس وغيرهما من رأى استحقاقه إذ يجب امتثال أمره.

بغية المسترشدين (ص: 10)

(مسألة : ي) : لا يحل لعالم أن يذكر مسألة لمن يعلم أنه يقع بمعرفتها في تساهل في الدين ووقوع في مفسدة ، إذ العلم إما نافع : كالواجبات العينية يجب ذكره لكل أحد ، أو ضار : كالحيل المسقطة للزكاة ، وكل ما يوافق الهوى ويجلب حطام الدنيا ، لا يجوز ذكره لمن يعلم أنه يعمل به ، أو يعلمه من يعمل به ، أو فيه ضرر ونفع ، فإن ترجحت منافعه ذكره وإلا فلا ، ويجب على العلماء والحكام تعليم الجهال ما لا بد منه مما يصح به الإسلام من العقائد ، وتصح به الصلاة والصوم من الأحكام الظاهرة ، وكذا الزكاة والحج حيث وجب.

الأذكار (ص: 322)

(باب ما يقوله الرجل المقتدى به) إذا فعل شيئا في ظاهره مخالفة للصواب مع أنه صواب إعلم أنه يستحب للعالم والمعلم والقاضي والمفتي والشيخ المربي وغيرهم ممن يقتدى به ويؤخذ عنه : أن يجتنب الأفعال والأقوال والتصرفات التي ظاهرها خلاف الصواب وإن كان محقا فيها ، لانه إذا فعل ذلك ترتب عليه مفاسد ، من جملتها : توهم كثير ممن يعلم ذلك منه أن هذا جائز على ظاهره بكل حال ، وأن يبقى ذلك شرعا وأمرا معمولا به أبدا ، ومنها وقوع الناس فيه بالتنقص ، واعتقادهم نقصه ، وإطلاق ألسنتهم بذلك ، ومنها أن الناس يسيئون الظن به فينفرون عنه ، وينفرون غيرهم عن أخذ العلم عنه ، وتسقط رواياته وشهادته ، ويبطل العمل بفتواه ، ويذهب ركون النفوس إلى ما يقوله من العلوم ، وهذه مفاسد ظاهرة ، فينبغي له اجتناب أفرادها ، فكيف بمجموعها ؟ فإن احتاج إلى شئ من ذلك وكان محقا في نفس الأمر لم يظهره ، فإن أظهره أو ظهر أو رأى المصلحة في إظهاره ليعلم جوازه وحكم الشرع فيه ، فينبغي أن يقول : هذا الذي فعلته ليس بحرام ، أو إنما فعلته لتعلموا أنه ليس بحرام إذا كان على هذا الوجه الذي فعلته ، وهو كذا وكذا ، ودليله كذا وكذا

2. Jika mereka berkata :

Allah SWT berfirman :

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ [الممتحنة/8[

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. ( QS Al Mumtahanah : 8)

Dalam ayat tersebut Allah tidak melarang kita untuk berbuat birr (kebaikan) kepada kaum kafir yang tidak memerangi Islam. Dan mengucapkan selamat natal adalah termasuk salah satu bentuk perbuatan baik kepada kaum kafir.

Kami menjawab :

Menjadikan ayat ini sebagai dalil untuk memperbolehkan mengucapkan selamat natal adalah terlalu memaksa, karena ayat tersebut terlalu umum, dan tidak menjelaskan bentuk birr (kebaikan) apa yang boleh dilakukan dan mana yang dilarang. kepada kaum kafir dzimmi.

Al Imam Qorofi dalam kitabnya “Anwarul Buruq’ mengatakan mengenai batasan birr dalam ayat tersebut :

تَعَيَّنَ عَلَيْنَا أَنْ نَبَرَّهُمْ بِكُلِّ أَمْرٍ لَا يُؤَدِّي إلَى أَحَدِ الْأَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا مَا يَدُلُّ ظَاهِرُهُ عَلَى مَوَدَّاتِ الْقُلُوبِ وَثَانِيهِمَا مَا يَدُلُّ ظَاهِرُهُ عَلَى تَعْظِيمِ شَعَائِرِ الْكُفْرِ

Maka menjadi jelas bagi kami untuk berbuat baik kepada mereka dalam setiap perkara selama tidak mengarah salah satu dari dua hal

Yang pertama, sesuatu yang dzohirnya menunjukkan kepada kecintaan hati kepada mereka

Yang kedua, sesuatu yang menunjukkan dzohirnya sebagai bentuk pengagungan syiar kafir

Menjadi jelas bahwa perbuatan baik yang boleh kita lakukan kepada kaum kafir dzimmi adalah perbuatan baik secara dzohir yang dilakukan bukan atas dasar cinta kepada mereka dan tidak mengarah pada pengagungan syiar mereka.

Contoh perbuatan baik yang diperbolehkan adalah bersedekah kepada kaum faqir mereka, berkata sopan, bermuamalah yang baik dengan tetangga yang kafir dan yang semacamnya. Dan perlu diperhatikan perbuatan tersebut dilakukan bukan atas dasar cinta kepada mereka, karena mencintai mereka adalah dilarang dalam syariat.

Sedangkan contoh perbuatan yang dilarang untuk dilakukan karena terdapat unsur mengagungkan syiar mereka adalah berdiri untuk menghormati mereka, memanggil mereka dengan gelar-gelar kehormatan, begitu juga jika kita melenggangkan jalan untuk mereka dengan merelakan kita berjalan di tempat yang sempit, dll.

Dari sini, dengan mudah dapat kita ambil kesimpulan, bahwa ucapan selamat natal merupakan bentuk perbuatan yang dilarang karena perbuatan ini mengarah pada pengagungan syiar hari raya mereka.

Maka menjadikan ayat ini sebagai dalil memperbolehkan mengucapkan selamat natal sangat tidak tepat sasaran, terlebih lagi jika kita mengikuti pendapat sebagian ahli tafsir yang menyatakan bahwa ayat tersebut telah dinaskh (dihapus) dengan ayat jihad.

Referensi

أنوار البروق في أنواع الفروق – (ج 4 / ص 403-398(

( الْفَرْقُ التَّاسِعَ عَشَرَ وَالْمِائَةُ بَيْنَ قَاعِدَةِ بِرِّ أَهْلِ الذِّمَّةِ وَبَيْنَ قَاعِدَةِ التَّوَدُّدِ لَهُمْ ) اعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى مَنَعَ مِنْ التَّوَدُّدِ لِأَهْلِ الذِّمَّةِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنْ الْحَقِّ } الْآيَةَ فَمَنَعَ الْمُوَالَاةَ وَالتَّوَدُّدَ وَقَالَ فِي الْآيَةِ الْأُخْرَى { لَا يَنْهَاكُمْ اللَّهُ عَنْ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ } الْآيَةَ وَقَالَ فِي حَقِّ الْفَرِيقِ الْآخَرِ { إنَّمَا يَنْهَاكُمْ اللَّهُ عَنْ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ } الْآيَةَ .وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { اسْتَوْصُوا بِأَهْلِ الذِّمَّةِ خَيْرًا } وَقَالَ فِي حَدِيثٍ آخَرَ { اسْتَوْصُوا بِالْقِبْطِ خَيْرًا } فَلَا بُدَّ مِنْ الْجَمْعِ بَيْنَ هَذِهِ النُّصُوصِ وَإِنَّ الْإِحْسَانَ لِأَهْلِ الذِّمَّةِ مَطْلُوبٌ وَأَنَّ التَّوَدُّدَ وَالْمُوَالَاةَ مَنْهِيٌّ عَنْهُمَا وَالْبَابَانِ مُلْتَبِسَانِ فَيَحْتَاجَانِ إلَى الْفَرْقِ وَسِرُّ الْفَرْقِ أَنَّ عَقْدَ الذِّمَّةِ يُوجِبُ حُقُوقًا عَلَيْنَا لَهُمْ لِأَنَّهُمْ فِي جِوَارِنَا وَفِي خَفَارَتِنَا وَذِمَّةِ اللَّهِ تَعَالَى وَذِمَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدِينِ الْإِسْلَامِ فَمِنْ اعْتَدَى عَلَيْهِمْ وَلَوْ بِكَلِمَةِ سُوءٍ أَوْ غِيبَةٍ فِي عِرْضِ أَحَدِهِمْ أَوْ نَوْعٍ مِنْ أَنْوَاعِ الْأَذِيَّةِ أَوْ أَعَانَ عَلَى ذَلِكَ فَقَدْ ضَيَّعَ ذِمَّةَ اللَّهِ تَعَالَى وَذِمَّةَ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذِمَّةَ دِينِ الْإِسْلَامِ . وَكَذَلِكَ حَكَى ابْنُ حَزْمٍ فِي مَرَاتِبِ الْإِجْمَاعِ لَهُ أَنَّ مَنْ كَانَ فِي الذِّمَّةِ وَجَاءَ أَهْلُ الْحَرْبِ إلَى بِلَادِنَا يَقْصِدُونَهُ وَجَبَ عَلَيْنَا أَنْ نَخْرُجَ لِقِتَالِهِمْ بِالْكُرَاعِ وَالسِّلَاحِ وَنَمُوتَ دُونَ ذَلِكَ صَوْنًا لِمَنْ هُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ تَعَالَى وَذِمَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ تَسْلِيمَهُ دُونَ ذَلِكَ إهْمَالٌ أنوار البروق في لِعَقْدِ الذِّمَّةِ وَحَكَى فِي ذَلِكَ إجْمَاعَ الْأَمَةِ فَقَدْ يُؤَدِّي إلَى إتْلَافِ النُّفُوسِ وَالْأَمْوَالِ صَوْنًا لِمُقْتَضَاهُ عَنْ الضَّيَاعِ إنَّهُ لَعَظِيمٌ وَإِذَا كَانَ عَقْدُ الذِّمَّةِ بِهَذِهِ الْمَثَابَةِ وَتَعَيَّنَ عَلَيْنَا أَنْ نَبَرَّهُمْ بِكُلِّ أَمْرٍ لَا يَكُونُ ظَاهِرُهُ يَدُلُّ عَلَى مَوَدَّاتِ الْقُلُوبِ وَلَا تَعْظِيمِ شَعَائِرِ الْكُفْرِ فَمَتَى أَدَّى إلَى أَحَدِ هَذَيْنِ امْتَنَعَ وَصَارَ مِنْ قِبَلِ مَا نُهِيَ عَنْهُ فِي الْآيَةِ وَغَيْرِهَا وَيَتَّضِحُ ذَلِكَ بِالْمَثَلِ فَإِخْلَاءُ الْمَجَالِسِ لَهُمْ عِنْدَ قُدُومِهِمْ عَلَيْنَا وَالْقِيَامُ لَهُمْ حِينَئِذٍ وَنِدَاؤُهُمْ بِالْأَسْمَاءِ الْعَظِيمَةِ الْمُوجِبَةِ لِرَفْعِ شَأْنِ الْمُنَادَى بِهَا هَذَا كُلُّهُ حَرَامٌ وَكَذَلِكَ إذَا تَلَاقَيْنَا مَعَهُمْ فِي الطَّرِيقِ وَأَخْلَيْنَا لَهُمْ وَاسِعَهَا وَرَحْبَهَا وَالسَّهْلَ مِنْهَا وَتَرَكْنَا أَنْفُسَنَا فِي خَسِيسِهَا وَحَزَنِهَا وَضَيِّقِهَا كَمَا جَرَتْ الْعَادَةُ أَنْ يَفْعَلَ ذَلِكَ الْمَرْءُ مَعَ الرَّئِيسِ وَالْوَلَدُ مَعَ الْوَالِدِ وَالْحَقِيرُ مَعَ الشَّرِيفِ فَإِنَّ هَذَا مَمْنُوعٌ لِمَا فِيهِ مِنْ تَعْظِيمِ شَعَائِرِ الْكُفْرِ وَتَحْقِيرِ شَعَائِرِ اللَّهِ تَعَالَى وَشَعَائِرِ دِينِهِ وَاحْتِقَارِ أَهْلِهِ .

وَمِنْ ذَلِكَ تَمْكِينُهُمْ مِنْ الْوِلَايَاتِ وَالتَّصَرُّفِ فِي الْأُمُورِ الْمُوجِبَةِ لِقَهْرِ مَنْ هِيَ عَلَيْهِ أَوْ ظُهُورِ الْعُلُوِّ وَسُلْطَانِ الْمُطَالَبَةِ فَذَلِكَ كُلُّهُ مَمْنُوعٌ وَإِنْ كَانَ فِي غَايَةِ الرِّفْقِ وَالْأَنَاةِ أَيْضًا لِأَنَّ الرِّفْقَ وَالْأَنَاةَ فِي هَذَا الْبَابِ نَوْعٌ مِنْ الرِّئَاسَةِ وَالسِّيَادَةِ وَعُلُوِّ الْمَنْزِلَةِ فِي الْمَكَارِمِ فَهِيَ دَرَجَةٌ رَفِيعَةٌ أَوْصَلْنَاهُمْ إلَيْهَا وَعَظَّمْنَاهُمْ بِسَبَبِهَا وَرَفَعْنَا قَدْرَهُمْ بِإِيثَارِهَا وَذَلِكَ كُلُّهُ مَنْهِيٌّ عَنْهُ .

وَكَذَلِكَ لَا يَكُونُ الْمُسْلِمُ عِنْدَهُمْ خَادِمًا وَلَا أَجِيرًا يُؤْمَرُ عَلَيْهِ وَيُنْهَى وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ مِنْهُمْ وَكِيلًا فِي الْمُحَاكَمَاتِ عَلَى الْمُسْلِمِينَ عِنْدَ وُلَاةِ الْأُمُورِ فَإِنَّ ذَلِكَ أَيْضًا إثْبَاتٌ لِسُلْطَانِهِمْ عَلَى ذَلِكَ الْمُسْلِمِ .

وَأَمَّا مَا أُمِرَ بِهِ مِنْ بِرِّهِمْ وَمِنْ غَيْرِ مَوَدَّةٍ بَاطِنِيَّةٍ فَالرِّفْقُ بِضَعِيفِهِمْ وَسَدُّ خُلَّةِ فَقِيرِهِمْ وَإِطْعَامُ جَائِعِهِمْ وَإِكْسَاءُ عَارِيهِمْ وَلِينُ الْقَوْلِ لَهُمْ عَلَى سَبِيلِ اللُّطْفِ لَهُمْ وَالرَّحْمَةِ لَا عَلَى سَبِيلِ الْخَوْفِ وَالذِّلَّةِ وَاحْتِمَالِ إذَايَتِهِمْ فِي الْجِوَارِ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى إزَالَتِهِ لُطْفًا مِنَّا بِهِمْ لَا خَوْفًا وَتَعْظِيمًا وَالدُّعَاءُ لَهُمْ بِالْهِدَايَةِ وَأَنْ يُجْعَلُوا مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَنَصِيحَتُهُمْ فِي جَمِيعِ أُمُورِهِمْ فِي دِينِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ وَحِفْظُ غَيْبَتِهِمْ إذَا تَعَرَّضَ أَحَدٌ لِأَذِيَّتِهِمْ وَصَوْنُ أَمْوَالِهِمْ وَعِيَالِهِمْ وَأَعْرَاضِهِمْ وَجَمِيعِ حُقُوقِهِمْ وَمَصَالِحِهِمْ وَأَنْ يُعَانُوا عَلَى دَفْعِ الظُّلْمِ عَنْهُمْ وَإِيصَالُهُمْ لِجَمِيعِ حُقُوقِهِمْ وَكُلُّ خَيْرٍ يَحْسُنُ مِنْ الْأَعْلَى مَعَ الْأَسْفَلِ أَنْ يَفْعَلَهُ وَمِنْ الْعَدُوِّ أَنْ يَفْعَلَهُ مَعَ عَدُوِّهِ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ فَجَمِيعُ مَا نَفْعَلُهُ مَعَهُمْ مِنْ ذَلِكَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مِنْ هَذَا الْقَبِيلِ لَا عَلَى وَجْهِ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالَةِ مِنَّا وَلَا عَلَى وَجْهِ التَّعْظِيمِ لَهُمْ وَتَحْقِيرِ أَنْفُسِنَا بِذَلِكَ الصَّنِيعِ لَهُمْ وَيَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَسْتَحْضِرَ فِي قُلُوبِنَا مَا جُبِلُوا عَلَيْهِ مِنْ بُغْضِنَا وَتَكْذِيبِ نَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّهُمْ لَوْ قَدَرُوا عَلَيْنَا لَاسْتَأْصَلُوا شَأْفَتَنَا وَاسْتَوْلَوْا عَلَى دِمَائِنَا وَأَمْوَالِنَا وَأَنَّهُمْ مِنْ أَشَدِّ الْعُصَاةِ لِرَبِّنَا وَمَالِكِنَا عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ نُعَامِلُهُمْ بَعْدَ ذَلِكَ بِمَا تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ امْتِثَالًا لِأَمْرِ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ وَأَمْرِ نَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا مَحَبَّةً فِيهِمْ وَلَا تَعْظِيمًا لَهُمْ وَلَا نُظْهِرُ آثَارَ تِلْكَ الْأُمُورِ الَّتِي نَسْتَحْضِرُهَا فِي قُلُوبِنَا مِنْ صِفَاتِهِمْ الذَّمِيمَةِ لِأَنَّ عَقْدَ الْعَهْدِ يَمْنَعُنَا مِنْ ذَلِكَ فَنَسْتَحْضِرُهَا حَتَّى يَمْنَعَنَا مِنْ الْوُدِّ الْبَاطِنِ لَهُمْ وَالْمُحَرَّمِ عَلَيْنَا خَاصَّةً وَلَمَّا أَتَى الشَّيْخُ أَبُو الْوَلِيدِ الطُّرْطُوشِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ الْخَلِيفَةَ بِمِصْرَ وَجَدَ عِنْدَهُ وَزِيرًا رَاهِبًا وَسَلَّمَ إلَيْهِ قِيَادَهُ وَأَخَذَ يَسْمَعُ رَأْيَهُ وَيُنَفِّذُ كَلِمَاتِهِ الْمَسْمُومَةَ فِي الْمُسْلِمِينَ . وَكَانَ هُوَ مِمَّنْ يَسْمَعُ قَوْلَهُ فِيهِ فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ فِي صُورَةِ الْمُغْضَبِ وَالْوَزِيرُ الرَّاهِبُ بِإِزَائِهِ جَالِسٌ أَنْشَدَهُ : يَا أَيَّهَا الْمَلِكُ الَّذِي جُودُهُ يَطْلُبُهُ الْقَاصِدُ وَالرَّاغِبُ إنَّ الَّذِي شُرِّفْت مِنْ أَجْلِهِ يَزْعُمُ هَذَا أَنَّهُ كَاذِبٌ فَاشْتَدَّ غَضَبُ الْخَلِيفَةِ عِنْدَ سَمَاعِ الْأَبْيَاتِ وَأَمَرَ بِالرَّاهِبِ فَسُحِبَ وَضُرِبَ وَقُتِلَ وَأَقْبَلَ عَلَى الشَّيْخِ أَبِي الْوَلِيدِ فَأَكْرَمَهُ وَعَظَّمَهُ بَعْدَ عَزْمِهِ عَلَى إيذَائِهِ فَلَمَّا اسْتَحْضَرَ الْخَلِيفَةُ تَكْذِيبَ الرَّاهِبِ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ سَبَبُ شَرَفِهِ وَشَرَفِ آبَائِهِ وَأَهْلِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِينَ بَعَثَهُ ذَلِكَ عَلَى الْبُعْدِ عَنْ السُّكُونِ إلَيْهِ وَالْمَوَدَّةِ لَهُ وَأَبْعَدَهُ عَنْ مَنَازِلِ الْعِزِّ إلَى مَا يَلِيقُ بِهِ مِنْ الذُّلِّ وَالصَّغَارِ وَيُرْوَى عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ فِي أَهْلِ الذِّمَّةِ أَهِينُوهُمْ وَلَا تَظْلِمُوهُمْ وَكَتَبَ إلَيْهِ أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا نَصْرَانِيًّا بِالْبَصْرَةِ لَا يُحْسِنُ ضَبْطَ خَرَاجِهَا إلَّا هُوَ وَقَصَدَ وِلَايَتَهُ عَلَى جِبَايَةِ الْخَرَاجِ لِضَرُورَةِ تَعَذُّرِ غَيْرِهِ فَكَتَبَ إلَيْهِ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَنْهَاهُ عَنْ ذَلِكَ وَقَالَ لَهُ فِي الْكِتَابِ مَاتَ النَّصْرَانِيُّ وَالسَّلَامُ أَيْ افْرِضْهُ مَاتَ مَاذَا كُنْت تَصْنَعُ حِينَئِذٍ فَاصْنَعْهُ الْآنَ وَبِالْجُمْلَةِ فَبِرُّهُمْ وَالْإِحْسَانُ إلَيْهِمْ مَأْمُورٌ بِهِ وَوُدُّهُمْ وَتَوَلِّيهِمْ مَنْهِيٌّ عَنْهُ فَهُمَا قَاعِدَتَانِ إحْدَاهُمَا مُحَرَّمَةٌ وَالْأُخْرَى مَأْمُورٌ بِهَا وَقَدْ أَوْضَحْت لَك الْفَرْقَ بَيْنَهُمَا بِالْبَيَانِ وَالْمَثَلِ فَتَأَمَّلْ ذَلِكَ . ( الْفَرْقُ التَّاسِعَ عَشَرَ وَالْمِائَةُ بَيْنَ قَاعِدَةِ بِرِّ أَهْلِ الذِّمَّةِ وَبَيْنَ قَاعِدَةِ التَّوَدُّدِ لَهُمْ ) مِنْ حَيْثُ إنَّ بِرَّهُمْ وَالْإِحْسَانَ إلَيْهِمْ مَأْمُورٌ بِهِ { لَا يَنْهَاكُمْ اللَّهُ عَنْ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ } الْآيَةَ وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { اسْتَوْصُوا بِأَهْلِ الذِّمَّةِ خَيْرًا } وَقَالَ فِي حَدِيثٍ آخَرَ { اسْتَوْصُوا بِالْقِبْطِ خَيْرًا } وَوُدُّهُمْ وَتُوَلِّيهِمْ مَنْهِيٌّ عَنْهُ قَالَ تَعَالَى { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنْ الْحَقِّ } الْآيَةَ .

وَقَالَ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ { إنَّمَا يَنْهَاكُمْ اللَّهُ عَنْ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ } الْآيَةَ حَتَّى اُحْتِيجَ لِلْجَمْعِ بَيْنَ هَذِهِ النُّصُوصِ بِمَا هُوَ مِنْ الْفَرْقِ بَيْنَ قَاعِدَتَيْ بِرِّهِمْ وَالتَّوَدُّدِ لَهُمْ مِنْ أَنَّ عَقْدَ الذِّمَّةِ لَمَّا كَانَ عَقْدًا عَظِيمًا فَيُوجِبُ عَلَيْنَا حُقُوقًا لَهُمْ مِنْهَا مَا حَكَى ابْنُ حَزْمٍ فِي مَرَاتِبِ الْإِجْمَاعِ وَنَجْعَلُهُمْ فِي جِوَارِنَا وَفِي حَقِّ رَبِّنَا وَفِي ذِمَّةِ اللَّهِ تَعَالَى وَذِمَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذِمَّةِ دِينِ الْإِسْلَامِ ا هـ .

وَاَلَّذِي إجْمَاعُ الْأَمَةِ عَلَيْهِ أَنَّ مَنْ كَانَ فِي الذِّمَّةِ وَجَاءَ أَهْلُ الْحَرْبِ إلَى بِلَادِنَا يَقْصِدُونَهُ وَجَبَ عَلَيْنَا أَنْ نَخْرُجَ لِقِتَالِهِمْ بِالْكُرَاعِ وَالسِّلَاحِ وَنَمُوتَ دُونَ ذَلِكَ صَوْنًا لِمَنْ هُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ تَعَالَى وَذِمَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ تَسْلِيمَهُ دُونَ ذَلِكَ إهْمَالٌ لِعَقْدِ الذِّمَّةِ وَمِنْهَا أَنَّ مَنْ اعْتَدَى عَلَيْهِمْ وَلَوْ بِكَلِمَةِ سُوءٍ أَوْ غِيبَةٍ فِي عِرْضِ أَحَدِهِمْ أَوْ نَوْعٍ مِنْ أَنْوَاعِ الْأَذِيَّةِ أَوْ أَعَانَ عَلَى ذَلِكَ فَقَدْ ضَيَّعَ ذِمَّةَ اللَّهِ تَعَالَى وَذِمَّةَ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذِمَّةَ دِينِ الْإِسْلَامِ تَعَيَّنَ عَلَيْنَا أَنْ نَبَرَّهُمْ بِكُلِّ أَمْرٍ لَا يُؤَدِّي إلَى أَحَدِ الْأَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا مَا يَدُلُّ ظَاهِرُهُ عَلَى مَوَدَّاتِ الْقُلُوبِ وَثَانِيهِمَا مَا يَدُلُّ ظَاهِرُهُ عَلَى تَعْظِيمِ شَعَائِرِ الْكُفْرِ وَذَلِكَ كَالرِّفْقِ بِضَعِيفِهِمْ وَسَدِّ خُلَّةِ فَقِيرِهِمْ وَإِطْعَامِ جَائِعِهِمْ وَإِكْسَاءِ عَارِيهِمْ وَلِينِ الْقَوْلِ لَهُمْ عَلَى سَبِيلِ اللُّطْفِ لَهُمْ وَالرَّحْمَةِ رِّفْقِ بِضَعِيفِهِمْ وَسَدِّ خُلَّةِ فَقِيرِهِمْ وَإِطْعَامِ جَائِعِهِمْ وَإِكْسَاءِ عَارِيهِمْ وَلِينِ الْقَوْلِ لَهُمْ عَلَى سَبِيلِ اللُّطْفِ لَهُمْ وَالرَّحْمَةِ لَا عَلَى سَبِيلِ الْخَوْفِ وَالذِّلَّةِ وَاحْتِمَالِ أَذِيَّتِهِمْ فِي الْجِوَارِ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى إزَالَتِهِ لُطْفًا مِنَّا بِهِمْ لَا خَوْفًا وَتَعْظِيمًا وَالدُّعَاءِ لَهُمْ بِالْهِدَايَةِ وَأَنْ يُجْعَلُوا مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَنَصِيحَتِهِمْ فِي جَمِيعِ أُمُورِهِمْ فِي دِينِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ وَحِفْظِ غَيْبَتِهِمْ إذَا تَعَرَّضَ أَحَدٌ لِأَذِيَّتِهِمْ وَصَوْنِ أَمْوَالِهِمْ وَعِيَالِهِمْ وَأَعْرَاضِهِمْ وَجَمِيعِ حُقُوقِهِمْ وَمَصَالِحِهِمْ وَأَنْ يُعَانُوا عَلَى دَفْعِ الظُّلْمِ عَنْهُمْ وَإِيصَالِهِمْ لِجَمِيعِ حُقُوقِهِمْ وَكُلِّ خَيْرٍ يَحْسُنُ مِنْ الْأَعْلَى مَعَ الْأَسْفَلِ أَنْ يَفْعَلَهُ وَمِنْ الْعَدُوِّ أَنْ يَفْعَلَهُ مَعَ عَدُوِّهِ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ .

تفسير الجلالين – (ج 11 / ص 156)

{ لاَّ ينهاكم الله عَنِ الذين لَمْ يقاتلوكم } من الكفار { فِى الدين وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مّن دياركم أَن تَبَرُّوهُمْ } بدل اشتمال من الذين { وَتُقْسِطُواْ } تفضوا { إِلَيْهِمُ } بالقسط ، أي بالعدل وهذا قبل الأمر بجهادهم [ 5 : 47 ] { إِنَّ الله يُحِبُّ المقسطين } العادلين .

تفسير الرازي – (ج 15 / ص 325)

اختلفوا في المراد من { الذين لَمْ يقاتلوكم } فالأكثرون على أنهم أهل العهد الذين عاهدوا رسول الله صلى الله عليه وسلم على ترك القتال ، والمظاهرة في العداوة ، وهم خزاعة كانوا عاهدوا الرسول على أن لا يقاتلوه ولا يخرجوه ، فأمر الرسول عليه السلام بالبر والوفاء إلى مدة أجلهم ، وهذا قول ابن عباس والمقاتلين والكلبي ، وقال مجاهد : الذين آمنوا بمكة ولم يهاجروا ، وقيل : هم النساء والصبيان ، وعن عبد الله بن الزبير : أنها نزلت في أسماء بنت أبي بكر قدمت أمها فتيلة عليها وهي مشركة بهدايا ، فلم تقبلها ولم تأذن لها بالدخول ، فأمرها النبي صلى الله عليه وسلم أن تدخلها وتقبل منها وتكرمها وتحسن إليها ، وعن ابن عباس : أنهم قوم من بني هاشم منهم العباس أخرجوا يوم بدر كرهاً ، وعن الحسن : أن المسلمين استأمروا رسول الله في أقربائهم من المشركين أن يصلوهم ، فأنزل الله تعالى هذه الآية ، وقيل الآية في المشركين ، وقال قتادة نسختها آية القتال . وقوله : { أَن تَبَرُّوهُمْ } بدل من { الذين لَمْ يقاتلوكم } وكذلك { أَن تَوَلَّوْهُمْ } بدل من { الذين قاتلوكم } والمعنى : لا ينهاكم عن مبرة هؤلاء ، وإنما ينهاكم عن تولي هؤلاء ، وهذا رحمة لهم لشدتهم في العداوة ، وقال أهل التأويل : هذه الآية تدل على جواز البر بين المشركين والمسلمين ، وإن كانت الموالاة منقطعة ، وقوله تعالى : { وَتُقْسِطُواْ إِلَيْهِمْ } قال ابن عباس يريد بالصلة وغيرها { إِنَّ الله يُحِبُّ المقسطين } يريد أهل البر والتواصل ، وقال مقاتل : أن توفوا لهم بعهدهم وتعدلوا ، ثم ذكر من الذين ينهاهم عن صلتهم فقال : { إِنَّمَا ينهاكم الله عَنِ الذين قاتلوكم فِى الدين . . . أَن تَوَلَّوْهُمْ } وفيه لطيفة : وهي أنه يؤكد قوله تعالى : { لاَّ ينهاكم الله عَنِ الذين لَمْ يقاتلوكم } .

POINT-POINT PENTING :

mengucapkan selamat (Tahni`ah) dalam urusan keduniaan kepada orang-orang kafir seperti kelahiran, pernikahan, dll masih diperselisihkan ulama, tetapi pendapat yang kuat adalah haram.
Sedangkan mengucapkan selamat (Tahni`ah) dalam syiar agama mereka adalah haram tanpa ada khilaf.

Mengucapkan salam kepada orang kafir adalah haram hukumnya, adapun pendapat yang memperbolehkan adalah pendapat yang sangat lemah / syadz, dan seorang mufti dilarang berfatwa dengan pendapat yang lemah, apalagi pendapat yang syadz. Bahkan pendapat syadz tidak boleh diamalkan untuk dirinya sendiri.
Agama Nasrani sudah ada sejak zaman Rasulullah saw. Mereka telah merayakan natal (kelahiran Yesus / Nabi Isa) sejak zaman dahulu dan zaman sebelum Rasulullah saw.

Ketika mereka merayakan hal tersebut Rasulullah tidak bersabda “Nahnu ahaqqu bi Isa” (kami lebih berhak atas Isa), sebagaimana yang dikatakan Rasulullah saw ketika melihat kaum Yahudi merayakan keselamatan Nabi Musa pada tangga 10 muharrom, ketika beliau memerintahkan berpuasa di hari itu, beliau bersabda “Nahnu Ahaqqu Bi Musa” (Kami lebih berhak atas Musa).

Seandainya kaum muslim disyariatkan untuk merayakan kelahiran Nabi Isa pastinya Beliau akan menyatakan hal tersebut ketika kaum Nasrani merayakannya.

Kemudian dilanjutkan dengan tulisan dari KH Muhammad Idrus Ramli (Pengurus Lajnah wan Nasyr PWNU Jawa Timur & Sekretaris LBM NU Jember) yang dikutip FP Facebook yang sama sebagai berikut:

HUKUM UCAPAN SELAMAT NATAL

Sebelum menjelaskan hukum ucapan selamat natal, ada beberapa pertimbangan yang perlu dipikirkan;

Pertama, ucapan selamat biasanya diucapkan ketika seseorang bersuka cita atau menerima kesenangan yang dibenarkan dalam agama seperti ketika hari raya idul fitri, kelahiran anak, pernikahan dan lain-lain. Hal ini seperti kita baca dalam kitab Wushul al-Amani fi Ushul al-Tahani, karya al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi, dalam himpunan kitabnya al-Hawi lil-Fatawi juz 1.

Kedua, ucapan selamat juga diucapkan ketika seseorang bersuka cita karena menerima kenikmatan atau terhindar dari malapetaka, seperti dikemukakan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar
al-‘Aqalani dalam kitabnya, Juz’ fi al-Tahni’ah bil-A’yad.

Dalam konteks ini beliau berkata:

ﻳﺴﺘﺪﻝ ﻟﻌﻤﻮﻡ ﺍﻟﺘﻬﻨﺌﺔ ﻟﻤﺎ ﻳﺤﺪﺙ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻌﻢ ﺍﻭ ﻳﻨﺪﻓﻊ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻘﻢ ﺳﺠﻮﺩ ﺍﻟﺸﻜﺮ ﻟﻤﻦ ﻳﻘﻮﻝ ﺑﻪﻭﻫﻮ ﺍﻟﺠﻤﻬﻮﺭ ﻭﻣﺸﺮﻭﻋﻴﺔ ﺍﻟﺘﻌﺰﻳﺔ ﻟﻤﻦ ﺃﺻﻴﺐ ﺑﺎﻹﺧﻮﺍﻥ . )ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ، ﺟﺰﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻬﺌﺔﻓﻲ ﺍﻷﻋﻴﺎﺩ، ﺹ 46 )

“Keumuman ucapan selamat terhadap kenikmatan yang terjadi atau malapetaka yang terhindar menjadi dalil sujud syukur bagi orang yang berpendapat demikian, yaitu mayoritas ulama dan dianjurkannya bertakziyah bai orang-orang yang ditimpa malapetaka.” (Al-Hafizh Ibnu Hajar, Juz’ fi al-Tahni’ah fil-‘Id, hal. 46).

Ketiga, para ulama menganggap hari raya non Muslim, bukan termasuk hari raya yang baik dan mendatangkan kebaikan bagi umat Islam. Dalam konteks ini al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi berkata dalam kitabnya al-Amru bil-Ittiba’ wa al-Nahyu ‘anin al-Ibtida’ sebagai berikut:

ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻭﺍﻟﻤﻨﻜﺮﺍﺕ ﻣﺸﺎﺑﻬﺔ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﻭﻣﻮﺍﻓﻘﺘﻬﻢ ﻓﻲ ﺃﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﻭﻣﻮﺍﺳﻤﻬﻢ ﺍﻟﻤﻠﻌﻮﻧﺔ ﻛﻤﺎﻳﻔﻌﻠﻪ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺟﻬﻠﺔ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻣﻦ ﻣﺸﺎﺭﻛﺔ ﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﻭﻣﻮﺍﻓﻘﺘﻬﻢ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﻔﻌﻠﻮﻧﻪ ﻓﻲ ﺧﻤﻴﺲﺍﻟﺒﻴﺾ ﺍﻟﺬﻱ ﻫﻮ ﺍﻛﺒﺮ ﺍﻋﻴﺎﺩ ﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ )ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺟﻼﻝ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻲ، ﺍﻷﻣﺮ ﺑﺎﻻﺗﺒﺎﻉ ﻭﺍﻟﻨﻬﻲﻋﻦ ﺍﻻﺑﺘﺪﺍﻉ ﺹ 141

Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka selayaknya ucapan selamat natal dihukumi haram dan harus dihindari oleh umat Islam. Dalam konteks ini, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah al-Hanbali berkata:

ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﺘﻬﻨﺌﺔ ﺑﺸﻌﺎﺋﺮ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﺍﻟﻤﺨﺘﺼﺔ ﺑﻪ ﻓﺤﺮﺍﻡ ﺑﺎﻻﺗﻔﺎﻕ ﻣﺜﻞ ﺃﻥ ﻳﻬﻨﺌﻬﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﻭﺻﻮﻣﻬﻢﻓﻴﻘﻮﻝ ﻋﻴﺪ ﻣﺒﺎﺭﻙ ﻋﻠﻴﻚ ﺃﻭ ﺗﻬﻨﺄ ﺑﻬﺬﺍ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻓﻬﺬﺍ ﺇﻥ ﺳﻠﻢ ﻗﺎﺋﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﻓﻬﻮ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺤﺮﻣﺎﺕ ﻭﻫﻮ ﺑﻤﻨﺰﻟﺔ ﺃﻥ ﻳﻬﻨﺌﻪ ﺑﺴﺠﻮﺩﻩ ﻟﻠﺼﻠﻴﺐ ﺑﻞ ﺫﻟﻚ ﺃﻋﻈﻢ ﺇﺛﻤﺎ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﺷﺪ ﻣﻘﺘﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻬﻨﺌﺔ ﺑﺸﺮﺏ ﺍﻟﺨﻤﺮ ﻭﻗﺘﻞ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﻭﺍﺭﺗﻜﺎﺏ ﺍﻟﻔﺮﺝ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ﻭﻧﺤﻮﻩ … ﻭﺇﻥ ﺑﻠﻲ ﺍﻟﺮﺟﻞﺑﺬﻟﻚ ﻓﺘﻌﺎﻃﺎﻩ ﺩﻓﻌﺎ ﻟﺸﺮ ﻳﺘﻮﻗﻌﻪ ﻣﻨﻬﻢ ﻓﻤﺸﻰ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﻭﻟﻢ ﻳﻘﻞ ﺇﻻ ﺧﻴﺮﺍ ﻭﺩﻋﺎ ﻟﻬﻢ ﺑﺎﻟﺘﻮﻓﻴﻖﻭﺍﻟﺘﺴﺪﻳﺪ ﻓﻼ ﺑﺄﺱ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ. ) ﺍﺑﻦ ﻗﻴﻢ ﺍﻟﺠﻮﺯﻳﺔ، ﺃﺣﻜﺎﻡ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺬﻣﺔ 1/442 )

“Adapun ucapan selamat dengan simbol-simbol yang khusus dengan kekufuran maka adalah haram berdasarkan kesepakatan ulama, seperti mengucapkan selamat kepada kafir dzimmi dengan hari raya dan puasa mereka. Misalnya ia mengatakan, hari raya berkah buat Anda, atau Anda selamat dengan hari raya ini dan sesamanya. Ini jika yang mengucapkan selamat dari kekufuran, maka termasuk perbuatan haram. Ucapan tersebut sama dengan ucapan selamat dengan bersujud kepada salib. Bahkan demikian ini lebih agung dosanya menurut Allah dan lebih dimurkai daripada ucapan selamat atas minum khamr, membunuh seseorang, perbuatan zina yang haram dan sesamanya. ..

Apabila seseorang memang diuji dengan demikian, lalu melakukannya agar terhindar dari keburukan yang dikhawatirkan dari mereka, lalu ia datang kepada mereka dan tidak mengucapkan kecuali kata-kata baik dan mendoakan mereka agar memperoleh taufiq dan jalan benar, maka hal itu tidak lah apa-apa.” (Ibnu Qayyimil Jauziyyah, Ahkam Ahl al-Dzimmah, juz 1 hal. 442).

Pernyataan di atas menyimpulkan bahwa ucapan selamat natal, hukumnya haram dilakukan oleh seorang Muslim, karena termasuk mengagungkan simbol-simbol kekufuran menurut agamanya.
Lalu bagaimana, jika sekelompok umat Islam berpartisipasi menghadiri acara natal dengan tujuan mengamankan acara natalan??? Tentu saja, hukumnya juga haram. Al-Imam Abu
al-Qasim Hibatullah al-Thabari al-Syafi’i, seorang ulama fiqih madzhab Syafi’i berkata:

ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﻘﺎﺳﻢ ﻫﺒﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺑﻦ ﻣﻨﺼﻮﺭ ﺍﻟﻄﺒﺮﻱ ﺍﻟﻔﻘﻴﻪ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺃﻥ ﻳﺤﻀﺮﻭﺍ ﺃﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﻷﻧﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻜﺮ ﻭﺯﻭﺭ ﻭﺇﺫﺍ ﺧﺎﻟﻂ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮﺑﻐﻴﺮ ﺍﻹﻧﻜﺎﺭ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻛﺎﻟﺮﺍﺿﻴﻦ ﺑﻪ ﺍﻟﻤﺆﺛﺮﻳﻦ ﻟﻪ ﻓﻨﺨﺸﻰ ﻣﻦ ﻧﺰﻭﻝ ﺳﺨﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ
ﺟﻤﺎﻋﺘﻬﻢ ﻓﻴﻌﻢ ﺍﻟﺠﻤﻴﻊ ﻧﻌﻮﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺳﺨﻄﻪ

“Telah berkata Abu al-Qasim Hibatullah bin al-Hasan bin anshur al-Thabari, seorang faqih bermadzhab Syafi’i: “Kaum Muslimin tidak boleh (haram) menghadiri hari raya non Muslim, karena mereka melakukan kemunkaran dankebohongan. Apabila orang baik bercampur dengan orang yang melakukan kemungkaran, tanpa melakukan keingkaran kepada mereka, maka berarti mereka rela dan memilih (mendahulukan) kemungkaran tersebut., maka dikhawatirkan turunnya kemurkaan Allah atas jamaah mereka (non-Muslim), lalu menimpa seluruhnya, kita berlindung dari murka Allah.”

Bagaimana jika ada orang berkata, tidak apa-apa mengucapkan selamat natal, dengan tujuan selamat atas lahirnya Nabi Isa ‘alaihissalam? Ucapan orang ini perlu dipertanyakan. Kepada siapa Anda memberikan fatwa tersebut? Kepada orang yang bershalawat kepada Nabi Muhammad shalllallahu ‘alaihi wasallam dan nabi-nabi lainnya yang iducapkan di rumahnya dan bukan pada hari natal? Secara jujur saja, kepada siapa dia mengucapkan selamat natal? Apakah kepada Isa ‘alaihissalam, secara khusus, tanpa diucapkan kepada non-Muslim??? Atau selamat natal diucapkan kepada non-Muslim pada hari raya mereka???

Tulisan ini perlu disempurnakan oleh para pembaca.

Wallahu a’lam.

Kemudian juga bisa dirujuk kepada Buya Yahya lewat video di situs berbagi video YouTube berikut ini.

Juga terkabarkan kepada saya lewat Ustad Khuzaini Hasan dan juga ternukil di dalam FP yang sama, dari Muhammad Lutfi Rochman (Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Yaman (PCINU) Yaman) sebagai berikut:

KUATNYA HUJJAH KEHARAMAN SELAMAT NATAL DAN [KEHARAMAN] MENJAGA GEREJA MENURUT MAZHAB SYAFI’I

Seperti beberapa tahun yang sudah berlalu menjelang akhir tahun bulan Desember selalu ramai di tanah air beberapa oknum yang mengatasnamakan NU berusaha menebar syubhat dikalangan masyarakat awam tentang ucapan selamat natal. Beberapa tokoh yang seharusnya menjadi teladan dan contoh justru mencari beragam dalih dan alasan pembenaran dengan mengkorupsi dalil untuk mengubah fakta haramnya ucapan natal menjadi “boleh” dengan alasan Islam rahmah, Islam toleran, Islam Tasamuh dsb yang sering di gembor- gemborkan kalangan liberal yang sembunyi dibalik nama besar NU. Lebih terlihat “mencari pembenaran” sebagian kalangan mencari alasan dengan kelakuan yang belum tentu syar’I dari beberapa tokoh yang “terlanjur” terkenal. Bahwa agama Islam bukanlah dibangun dengan ketokohan apalagi dizaman yang penuh fitnah ini, tetapi terbangun dengan ‘Hujjah dan Landasan’ yang kuat para ulama salaf terutama para ulama mazhab sebagaimana qonun asas dari Nahdlatul Ulama yang sudah ditetapkan oleh sang pendiri Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari Rahimahullah.

Untuk itu kami mendapat kesempatan bertanya kepada Mufti Mazhab Syafi’iyyah di Tarim Hadramaut Yaman, Salah satunya beliau As Syaikh Muhammad Ali Ba’udhon Asy Syafi’i. Berikut kurang lebih rangkuman percakapan kami tentang keharaman ucapan tahniah hari raya orang kafir.

سألت الشيخ محمد علي باعوضان : ياالشيخ هل تحريم تهنيئة لأعياد الكفار باﻹجماع أو فيه قول بجوازه ؟

فأجاب الشيخ : نعم حرام، فكيف ﻧﻬﻨﺌﻮﻥ ﺑﻌﻴﺪﻫﻢ ؟
أما قول بجوازه ففيه كلام ثاني. فتعجب الشيخ

قلنا : حتي يعتقدون بحلاله هل هم كفر؟ قال نعم

يا الشيخ بعض المسلمين في جاوى يعتادون ﺫﻟﻚ ﺑﻞ ﻳﺤﺮﺳﻮﻥ ﺍﻟﻜﻨﺎﺋﺲ ﻛﺎﻟﻌﺴﻜﺮ. لو رضيت سنرسل بعض المسائل معك إلي إندونيسيا فاشار برضاه فتعجب مرة ثانية قال نعوذ بالله من ذلك!
بل لا بد من بحث حديث من تشبه بقوم فهو منهم.

Kami bertanya kepada beliau tentang keharaman ucapan tahniah selamat perayaan hari raya kaum kuffar sudah ijma’ atau ada qoul yang membolehkan ?

As syaikh pun terkejut dan meyakinkan keharamannya dan menyatakan agar tidak memperdulikan terhadap perkataan orang yang membolehkan.

Maka kami meminta kerelaan beliau untuk mengirimkan sebagian tanya jawab kepada beliau ke tanah Jawa Indonesia karena sebagian muslimin membiasakan ucapan selamat natal dan bahkan sebagian dari mereka menjaga gereja seperti barisan laskar dengan dalih toleransi.

Maka Syaikh kembali terkejut dan mengucapkan ‘Na’uzdubillah’ dan menegaskan kepada kami agar juga memasukkan pembahasan hadits “Barangsiapa menyerupai suatu kaum (Kafir atau Musyrik) maka dia merupakan bagian dari kaum tersebut”.

Berikut ini kami lampirkan sumber dari kitab mu’tamad mazhab Syafi’I tentang keharaman tahniah hari raya kuffar bahkan para pelakunya berhak mendapat ta’zir (hukuman) dari pemerintahan Islam.

(فرع) يعزر من وافق الكفار في أعيادهم ومن يمسك الحية ومن يدخل النار ومن قال لذمي يا حاج ومن هنأه بعيده ومن يسمي زائر قبور الصالحين حاجا والساعي بالنميمة لكثرة إفسادها بين الناس الخ.

di ambil dari Bab hudud dan Ta’zir dari kitab ulama mazhab Syafi’iyyah sbb:

1. Al allamah Sayyid Alawi bin Ahmad Seggaf Asy Syafi’I dalam kitab Tarsyikh Al Mustafidin khasiyah Fathul Muin yang sangat masyhur di pesantren Indonesia (hal 88 cetakan Darul Fikr).

2. As syekh Sulaiman Al Jamal syarakh al manhaj karangan Syaikh Zakaria Al Anshori yang mendapat gelar Syaikhul Islam dalam mazhab Syafi’I.

As syekh Al Jamal menukil pendapat Imam Al Khalabi dari kitab Khasiyah syarah Al Mahalli alal minhaj kitab Imam An Nawawi dengan menyebutkan ta’zir dari sisi menyerupai orang kafir diperayaan hari raya mereka.

3. As Syekh Abdul Hamid As Syarwani As Syafi’I dalam kitab khasiyah Tukhfah Ala Minhaj karangan Ibnu Hajar Al Haitami yang pendapatnya merupakan rujukan teratas Mutaakhhirin Syafi’iyyah hingga hari ini terutama di wilayah Hijaz, Yaman, Syam, Kurdistan, Dagestan, Dan Semenanjung Asia hingga Indonesia.

4. As Syaikh Syamsuddin Muhammad Khotib As Syirbini dalam kitab Mughni Al Muhtaj. Syekh Khotib adalah murid Ar Romli Al Kabir yang masyhur mendapat gelar Al Walid. Ar Romli As Shogir putra beliau adalah pengarang Kitab Nihayatul Muhtaj yang pendapatnya merupakan rujukan mayoritas pengikut Syafi’iyyah dari Mesir hingga Haromain dan Semenanjung Afrika.

5. As Sayyid Al Bakri Satho dalam kitabnya I’anat At Tholibin Khasiyah Fathul Muin juga mengutip sebagian dari sisi menyerupai orang kafir. (Darul Ihya Turots Al ‘Arobi hal 254 juz 4).

Penutup

Sesudah kami sebutkan dasar dan hujjah yang begitu kuat oleh para ulama kibar mazhab Syafi’I, Maka kami yang faqir ini mengajak kepada kaum muslimin Indonesia yang mayoritas bermazhab Syafi’i terutama Nahdliyyin agar mulai Desember tahun ini untuk berhenti membiasakan kebiasaan haram dan memalukan dengan ikut memeriahkan perayaan hari raya kaum kuffar seperti Natal, Nyepi, Waisyak dsb.

Toleransi yang benar sesuai contoh nabi adalah dengan tidak mengganggu perayaan ibadah mereka dan tetap berpegang teguh dengan Islam dan Ajarannya yang merupakan satu- satunya Diin yang hanya mendapat Ridho Allah SWT. Wallahu Alam

Sumber FP Pondok Pesantren Al – Anshory Tulusrejo Grabag Purworejo

* Meskipun demikian, pada tahun 2009 Syaikh Yusuf Qaradhawi bersikap keras kepada muslim yang terbius dalam selebrasi Natal.

[11] Perhatikan juga kalimat retoris dalam hadist ini:

Dari Ibnu Abu Laila bahwa ketika Qais bin Saad ra. dan Sahal bin Hunaif ra. sedang berada di Qadisiyah, tiba-tiba ada iringan jenazah melewati mereka, maka keduanya berdiri. Lalu dikatakan kepada keduanya: Jenazah itu adalah termasuk penduduk setempat (yakni orang kafir). Mereka berdua berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah dilewati iringan jenazah, lalu beliau berdiri. Ketika dikatakan: Jenazah itu Yahudi, Rasulullah saw. bersabda: Bukankah ia juga manusia? (Shahih Muslim No.1596)

[12] Dari Abu Syuraih Al Khuzai dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berbuat baik pada tetangganya, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia menghormati tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berbicara yang baik atau diam.” (Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 32-Bab Man Kaana Yu’minu Billahi wa Yaumil Akhir Falaa Yu’dzi Jaarohu. Muslim: 31-Kitab Al Luqotoh, hal. 14)

Dari Aisyah radliallahu ‘anha dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,“Jibril senantiasa berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga sampai saya mengira bahwa dia (Jibril) hendak memberikan warisan kepadanya.” (Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 28-Bab Al Washoh bil Jaar. Muslim: 45-Kitab Al Birr wash Shilah wal Adab, hal. 140).

Mujahid berkata, “Saya pernah berada di sisi Abdullah ibnu ‘Amru sedangkan pembantunya sedang memotong kambing. Dia lalu berkata, ”Wahai pembantu! Jika anda telah selesai (menyembelihnya), maka bagilah dengan memulai dari tetangga Yahudi kita terlebih dahulu.” Lalu ada salah seorang yang berkata, “(Anda memberikan sesuatu) kepada Yahudi? Semoga Allah memperbaiki kondisi Anda.”Abdullah bin ’Amru lalu berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat terhadap tetangga sampai kami khawatir kalau beliau akan menetapkan hak waris kepadanya.”(Adabul Mufrod no. 95/128. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat inishahih. Lihat Al Irwa’ (891): [Abu Dawud: 40-Kitab Al Adab, 123-Fii Haqqil Jiwar. At Tirmidzi: 25-Kitab Al Birr wash Shilah, 28-Bab Maa Jaa-a fii Haqqil Jiwaar])

[13] Perhatikan QS 60:8 dan silakan pelajari pula sebab turunnya ayat ini. Juga QS 4:1 atau QS 31:15. Juga misalnya hadist:

Jubair bin Muth’im berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali silaturahmi (dengan kerabat).” (HR. Muslim no. 2556).

Kemudian juga misalnya

Dari Jarir bin Adillah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang terhalangi dari bersikap lemah lembut, maka dia telah terhalang dari seluruh bentuk kebaikan.” (HR. Muslim).

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud, hadist Sahih).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau meriwayatkan: “al-Aqra’ bin Habis suatu ketika melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang mencium al-Hasan -cucu beliau-, maka dia berkata: ‘Saya memiliki sepuluh orang anak namun saya belum pernah melakukan hal ini kepada seorang pun di antara mereka.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, ‘Sesungguhnya barang siapa yang tidak menyayangi maka dia tidak akan disayangi.’.” (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafazh Muslim).

[14] Silakan rujuk kepada Kisah Muhammad (p.b.u.h) di Madinah.

Juga pelajari surat pemberian jaminan keselamatan kepada umat lain yang diberikan oleh Muhammad (p.b.u.h) serta bagaimana beliau (p.b.u.h) berinteraksi dengan umat berbeda keyakinan [Kristen] berikut ini:

Qasim Rashid. 10 Agustus 2014. “Letter to All Christians from Prophet Muhammad (pbuh)”. muslimvillage.com.  (keaslian diragukan cf. Konsultasi Syariah)

Ismail Acar. 2005. “Interactions between Prophet Muhammad and Christians”. Fountain Magazine, Issue 50, April – June 2005.

Juga misalnya bagaimana Umar bin Khattab melindungi kaum Kristen di Yerusalem.

[15] Sebenarnya, antara Kristen dengan Islam memiliki narasi-narasi yang berbeda bukan hanya tentang kedudukan Yesus (p.b.u.h).

Di dalam Bible [saya konsisten menggunakan istilah Bible dan bukan Injil atau Alkitab cf. tulisan saya ‘Sastra dan Hermeneutika’ lihat endnote nomor 1], dan ini sangat berbeda dengan narasi Quran, dinarasikan bahwa kisah jatuhnya Adam ke dunia adalah sebagai ‘kesalahan’ Hawa (Eve) yang menggoyahkan Adam sedangkan di dalam Islam tidaklah demikian.

Bandingkan juga kisah Luth (Lot) incest dengan dua anak gadisnya, juga Nuh (Noah) sebagai pemabuk berat, kemudian Daud (David) yang berzina dengan Betsyeba.

Narasi-narasi serupa ini tidak terdapati di dalam skriptur Islam. Muslim dalam keadaan tidak membenarkan maupun menyalahkan pada narasi-narasi yang berada di luar skriptur resmi Islam sebab Muslim diajari bersikap demikian. Sikap tidak membenarkan dan tidak menyalahkan bersebab beberapa nabi (p.b.u.t) di dalam skriptur Islam KADANG diceritakan HANYA beberapa episode penting di dalam hidup mereka (p.b.u.t) dan narasi-narasi di luar itu adalah samar.

Bandingkan juga dengan adanya narasi Yesus (p.b.u.h) sewaktu kecil yang memiliki –jika membandingkan narasi di dalam skriptur Kristen dengan skriptur Islam- ada setidaknya 5 narasi.

Empat narasi berdasar Bible Matius, Yohanes, Lukas, Markus (cf. Felix Just, 2013. “The four Gospels: Some Comparative Overview Charts”) dan satu narasi berdasar Al Quran. Jikalau diperhatikan secara benar bahwa keempat narasi mengenai Yesus (p.b.uh.) sewaktu kecil di dalam Bible saling berbeda satu sama lain sedangkan ada pula manuskrip lain yang tertolak (apokrifa, rejected books) di Konsili Nicea juga memiliki narasi-narasi yang mungkin berbeda satu sama lain. Dalam keadaan seperti ini, bagi muslim saat mendapati ada narasi yang sudah jelas di dalam skriptur Quran (atau dalam Hadist) maka narasi yang ada di dalam Quran (atau dalam Hadist)-lah yang dipegang. Jadi narasi masa kecil Yesus (p.b.u.h) di dalam skriptur Kristen atau Biblikal adalah tidak diyakini oleh muslim (bdk. Kisah Pemuda di dalam Gua / Ashabul Kahfi sebagaimana diyakini di dalam tradisi Kristen Jacobite sebagaimana diungkapkan oleh Nouman Ali Khan dalam “Sleepers of the Cave: Stories behind Surahs”).

Tidak berhenti sampai di situ. Kisah Yesus (p.b.u.h) yang dipercayai oleh sebagian besar umat Kristen tidak pernah menikah sepanjang hidupnya berbeda dengan narasi yang disandarkan kepada QS. Ar Ra’ad: 38 yang mengindikasikan ada kemungkinan Yesus (p.b.u.h) menikah. Kisah menikahnya Yesus (p.b.u.h) juga bersesuaian dengan skriptur fragmen papirus kuno yang baru diketemukan dan dikuak oleh Karen L. King dari Harvard Divinity School setelah sebelumnya Dr. Barbara Thiering mengambil kesimpulan yang sama dari kajiannya terhadap gulungan-gulungan kuno yang diketemukan di sekitar Laut Mati (cf. Jonathan Beasley. 10 April 2014. “Testing Indicates ‘Gospel of Jesus’s Wife’  Papyrus Fragment to be Ancient”Bart D. Ehrman & Barbara Thiering. 2006. “Scholarly Smackdown: Were Mary Magadalene and Jesus Married?”Ahmad Sarwat. 5 Desember 2011. “Nabi Isa Ternyata Telah Menikah dan Poligami”).

[16] Pahami juga mengenai pemberian label yang tidak tepat mengenai anti-Yesus (p.b.u.h.) kepada ajaran Islam. Perlu diketahui bahwa di dalam Islam Yesus (p.b.u.h) dipuji sebagai Nabi dan Rasul yang luar biasa. Muslim tidak akan bisa mengolok-olok Yesus (p.b.u.h) sebab muslim diajari untuk menghormati para Nabi dan Rasul (p.b.u.t). Mengenai pengingkaran Yesus menjadi bagian dari Trinitas sebenarnya jika umat Kristen mengkaji bagaimana Trinitas menjadi mainstream ajaran di dalam Kekristenan maka tidak akan kaget terhadap pandangan bahwa Yesus (p.b.u.h) adalah hanya Nabi atau Rasul saja.

Sebagai tambahan, sebelum Konsili Nicea (th. 325 M) memaklumatkan kredo Nicea yang dipakai oleh umat Kristen saat ini, ada dua pandangan mengenai posisi Yesus (p.b.u.h) di dalam ajaran Kristen PADA MASA-MASA AWAL MULAI MENYEBAR. Pandangan Arius dengan Athanasius saling berselisih mengenai posisi Yesus (p.b.u.h), apakah sebagai ‘manusia biasa yang suci’ ataukah ‘se-dzat dengan Bapa’. Konsili Nicea-lah yang kemudian memutuskan bahwa pandangan Arius yang menolak penyamaan Dzat Bapa dengan Yesus adalah bidah.

[17] Perhatikan bagaimana misalnya lirik lagu Christmas Carol: Joy to the world, The Lord has come …. Bagi beberapa gelintir Muslim yang menggunakan dalil pembolehan ucapan ‘Selamat Natal’ dengan dalil ‘hanya BASA-BASI mengucapi selamat kelahiran Yesus saja’ dan bukan dalam rangka menyepakati bahwa ‘Yesus (p.b.u.h) dirayakan kelahirannya ke dunia sebagai bagian dari Trinitas’ adalah problematis.

Basa-basi memberi ucapan selamat padahal sadar dan yakin ada beda narasi tentang Yesus (p.b.u.h) di dalam Quran dengan yang ada di dalam Bible SERTA perayaan Natal adalah selalu mengenai perayaan kelahiran Juru Selamat sebagai bagian dari Trinitas menjadikan pemberian ucapan menjadi absurd dan malah olok-olok. Basa-basi ini menyelisihi maksud perayaan Natal bagi umat Kristen.

Makna dari perayaan Natal atau Christmas sebagai bukan hanya perayaan kelahiran Yesus namun perayaan kelahiran juru selamat, penebus dosa, dan peneguhan deitas Yesus dapat dirujuk dari situs-situs Kristen yang terpercaya misalnya sebagai berikut:

Slick, Matt. n.d. “What is the true meaning of Christmas?”. Diakses 25 Desember 2015, 10:36 PM dari

https://carm.org/what-is-the-true-meaning-of-christmas

Grace to You (GTY). n.d. “What is the true meaning of Christmas?”. Diakses 25 Desember 2015, 10: 39 PM dari

http://www.gty.org/resources/questions/QA70/what-is-the-real-meaning-of-christmas

Warren, Rick. 19 Desember 2008. “The Purpose of Christmas”. Diakses 25 Desember 2015, 10:50 PM dari

http://www.christianitytoday.com/ct/2008/decemberweb-only/151-55.0.html

[18] Tulisan ini juga sebagai respon atas tulisan Sumanto Al Qurtuby, deputy chairman of Nahdlatul Ulama’s North America branch, yang berjudul In the Spirit of Tolerance, a Merry Christmas to My Christian Friends yang diterbitkan daring tanggal 24 Desember 2012 di The Jakarta Globe.

Ada sedikit catatan untuk tulisan Al Qurtuby. Kisah Sunan Kudus, yang dirujuk dalam tulisannya, tentang “melarang” muslim makan sapi harus dilihat dalam konteks: apakah Sunan Kudus mengeluarkan fatwa haram bagi muslim untuk memakan sapi atau hanya anjuran menghindari memakan (tentu saja juga menyembelih) sapi secara terang-terangan di hadapan umat Hindu untuk menghargai keyakinan mereka. Jika diasumsikan pendapat pertama yang bakal dipegang maka bisa gugur oleh “kisah tidak minum madu Rasul Muhammad (p.b.u.h)” bisa menjadi rujukan (cf. QS 5: 87-88) sehingga asumsi kedua-lah yang layak dipahami pernah dilakukan oleh Sunan Kudus.

[19] Visualisasi nabi atau rasul menurut mainstream Islam adalah sesuatu yang tidak diperbolehkan. Visualisasi Yesus (p.b.u.h), yang di dalam Islam diyakini sebagai salah satu Rasul  dari lima Rasul termulia, adalah tetap dianggap tidak pantas untuk dilakukan meski dalam konteks lucu-lucuan semisal lewat karikatur, lawakan, maupun depiksi dalam film.

Penghindaran visualisasi ini sebenarnya mirip dengan pandangan awal Gereja mengenai visualisasi Yesus (p.b.u.h) sebagaimana termaktub di dalam canon no 36 hasil keputusan Konsili Elvira pada tahun 306.

Gambar yang beredar mengenai rupa Yesus (p.b.u.h) hingga kini masih menjadi perdebatan akurasinya di kalangan Katolik dan Kristen sebagaimana diungkap oleh Ronald Goetz (Ronald Goetz. 1984. “Finding the Face of Jesus”. Christian Century, March 21-28, hlm. 299). Goetz, Doktor di bidang teologi dan etika Kristen dari Elmhurst College Illinois, menjabarkan dalam tulisannya itu bagaimana perupaan Yesus berbeda-beda pada setiap jaman karena mengikuti imajinasi dan stilistika seniman yang membuatnya dan juga tidak ada baku rujukan penggambarannya.

Sumber rujukan lain dari visualisasi Yesus (p.b.u.h) adalah Kain Kafan Turin (The Shroud of Turin). Meskipun Kain Kafan Turin oleh umat Katolik diyakini menyimpan wajah asli Yesus (p.b.u.h) namun hingga saat ini masih terjadi perdebatan yang sengit di kalangan akademisi dan teolog biblikal. Perdebatan tersebut meliputi penentuan kesejamanan kain kafan itu dengan masa Yesus (p.b.u.h), otentisitas atau fabrikasi bayangan pada kain, dan jati diri sesungguhnya dari laki-laki yang tervisualisasikan pada kain tersebut [menarik juga untuk diketahui bahwa di dalam narasi Islam, Yesus (p.b.u.h) lolos dari tragedi penyaliban] (cf. Mati Milstein. 17 Desember 2009. “Shroud of Turin not Jesus’, Tomb Discovery Suggests”, National Geographic NewsMark Prigg. 12 Februari 2014. “Scientists claim Turin Shroud is real: Jerusalem earthquake in 33 AD after the crucifixion could have caused radioactive reaction and confused dating techniques”. Daily Mail Science & Tech; Linda Geddes. 2 April 2014. “Shroud of Turin depicts Y-shaped crucifixition”. New Scientist issue no 2963; Joe Nickell. 22 Desember 2011. “Turin ‘Shroud’ called ‘Supernatural'”, Center for Inquiry).

[20] Bagaimana dengan ke-kikuk-an penjabat pada institusi di dalam momen perayaan hari raya agama lain?

Mungkin sudah harus mulai disepakati oleh kita semua untuk toleran, legawa, dan membiasakan diri untuk tidak meminta pejabat untuk menghadiri seremoni keagamaan dan atau pemberian sambutan ketika berbeda keyakinan.

Mungkin bagi penjabat -jikasanya terpaksa tidak bisa mendelegasikan padahal diminta datang dan belum bisa menyatakan secara tegas pandangan haramnya pemberian ucapan selamat natal- ucapan seperti ini bisa menjadi jalan tengah:

“Negara mengucapkan …”

“Kantor … mengucapkan …”

“RW [dan bukan pengurus RW] mengucapkan ….”

atau dengan ucapan

“Bagaimana kabar liburan natalnya?”

Juga justru menjadi aneh ketika sebuah organisasi yang berbasis keislaman malah ikut-ikutan mengucapkan “Selamat Natal”.

Jikalau argumennya adalah karena umat lain juga (pernah dan selalu) mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri” atau “Selamat Hari Raya Idul Adha” dan pengucapan “Selamat Natal” adalah sebagai bentuk membalas kebaikan maka kisah sebab turunnya Surat Al Kafirun (cf. Muhammad Abdul Tuasikal. 2010. “Faedah Tafsir Surat Al Kafirun”) dapat dijadikan rujukan mengenai ‘saling bergantian menyembah setahun-setahun’.

Pahami juga bahwa di dalam agama lain pengucapan selamat hari raya kepada umat yang berbeda agama adalah ‘tidak bermasalah untuk dilakukan’ sehingga apakah tepat kemudian meluntur karena hendak berbalas budi lalu mengikuti kebolehannya?

Pahami juga bahwa di dalam skriptur Islam selebrasi peneguhan keyakinan trinitas sebagaimana tersirat di dalam perayaan natal adalah dianggap tidak pas. Silakan dirujuk kepada ayat di dalam Surat Maryam 88-92.

Dan juga di dalam Islam diajari bahwa meremehkan sebuah ucapan adalah perkara yang berbahaya. Peremehan sebuah ucapan tahniah sebagaimana diargumenkan oleh beberapa penyokong saling berbalas tahniah perayaan hari agama lintas pemeluk agama adalah tidak pas dilakukan jika hendak merujuk pada skriptur Islam. Kalimat yang digaungkan bahwa “itu hanya ucapan saja” justru tertolak. Silakan dirujuk pada QS An Nahl: 116 dan hadist berikut:
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat” (Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6477 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 2988).

Wallahu’alam.

Creative Commons License
Tidak Mengucap “Selamat Natal”: Being Intolerant and Disrespecting Christians? by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s