Home » Essay » Languange and Beingness

Languange and Beingness

Menarik memang ketika berbicara tentang bahasa. Saya tersulut lagi untuk mengupas tentang bahasa oleh suatu hal yang terjadi pagi ini. Pagi ini, ketika saya mencari obat sakit kepala di warung langganan, saya terperangah dengan celetukan seorang tua ber-etnis Jawa.

Ia berkata, kurang lebih, seperti ini: “Jangan ajari anakmu bahasa Indonesia nanti bisa-bisa anakmu tidak bisa menunduk[i]”. Seketika itu pula sebagaimana di dalam kisah-kisah Zen yang banyak menceritakan “pencerahan mendadak”[ii] atau sebagaimana Umar r.a.[iii] memeluk Islam karena sentilan pendek: “bagaimana jika kebenaran ternyata ada bukan di apa yang kamu yakini?”[iv] Ya, saya tersentil dengan kalimat seorang tua ber-etnis Jawa itu!

Bahasa memang membentuk realitas. Realitas tidak mungkin berada di luar bahasa.[v]Yang saya maksudkan realitas adalah bukan material yang terpetakan oleh indera normal kita namun adalah “persepsi kita akan realitas yang bersama kita”. Oleh sebab itulah dapatlah saya katakan bahwa beingness adalah selalu being with others[vi] yet situated by languange. Tidaklah mungkin I menjadi being kecuali tersituasikan oleh others dan bahasa.

Why Learn a Language (credit: uncp.edu)

Why Learn a Language (credit: uncp.edu)

Mengapa bisa demikian dan apa kaitannya dengan celoteh mencerahkan dari seorang tua yang saya temui di warung? Ilustrasi-nya adalah sebagai berikut[vii]: Jika seseorang dunianya dibentuk oleh bahasa Indonesia yang dipuji karena egality-nya maka perspektif I, Me,[viii] dan Others-nya akan datar. Ini niscaya berbeda jika seseorang dididik oleh bahasa Jawa yang memiliki unggah-ungguh.[ix]

Maksudnya? Ingat bahwa ada permainan unik antara self dengan kasunyatan. Masih ingatkah bagaimana saya pernah mengutip Mario Pei mengenai istilah salju yang banyak luar biasa oleh suku eskimo? Dan tahukah bahwa orang Jawa punya istilah aking, sega, beras, gabah dan bukan hanya rice saja? Mereka yang berkompetensi[x] bahasa Jawa akan bisa melihat “dirinya yang bersama dengan sekelilingnya” dengan seperangkat set rujukan yang berbeda. Pada contoh “menunduk kepada yang lebih tua” kompetensi rujukan bahwa Me harus merespon hadirnya others yang lebih tua dengan unggah-ungguh bahasa hanya dan hanya bisa terjadi pada mereka yang dididik bahasa Jawa. Pemaham dan pemakai bahasa Jawa akan melihat orang yang lebih tua dengan cara yang jauh berbeda jika dibandingkan dengan mereka yang berbahasa Indonesia: ada rasa penghormatan, takzim, respecting and honouring.

Isu di dalam tulisan ini bisa melebar makin jauh kepada bagaimana seseorang melihat dunia. Potensi perbedaan mengkonstruk kasunyatan oleh setiap orang niscaya muncul ketika disadari bahwa frame of references personal adalah berbeda. Menarik bukan?

Creative Commons License
Languange and Beingness by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.


[i] Menunduk = berperilaku sopan

[iii] Salah satu sahabat Muhammad saw. Khalifah kedua selepas Abu Bakar r.a. di dalam sejarah Islam.

[v] Di dalam ucapan Derrida:

“all those boundaries that form the running border of what used to be called a text, of what we once thought this word could identify, i.e. the supposed end and beginning of a work, the unity of a corpus, the title, the margins, the signatures, the referential realm outside the frame, and so forth. What has happened … is a sort of overrun that spoils all these boundaries and divisions and forces us to extend the accredited concept, the dominant notion of a ‘text’ … that is no longer a finished corpus of writing, some content enclosed in a  book or its margins, but a differential network, a fabric of traces referring endlessly to something other than itself, to other differential traces”. (Derrida, Living On/Borderlines, hlm. 81; 83-84).

“An ‘internal’ reading will always be insufficient. And moreover impossible. Question of context, as everyone knows, there is nothing but context, and therefore: there is no outside-the-text” (Derrida, Biodegradables, hlm. 873).

[vi] Istilah being with others sebenarnya merujuk kepada pemikiran Martin Heidegger. Others tidak merujuk kepada human saja namun semua yang di sekeliling I.

[vii] Tulisan ini bukan provokasi pembenturan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Jawa. Dalam konteks tulisan ini, rujukan prolog adalah kepada konsep Hermeneutics Circle oleh Hans-Georg Gadamer. http://plato.stanford.edu/entries/hermeneutics/

[viii] Untuk terminologi I dan Me silakan baca teori George Herbert Mead.

[ix] dididik oleh dan bukan dididik dengan karena alasan yang akan terjelaskan di paragraf-paragraf  selanjutnya. Bahasa itu mengajari dan mengatur konstruk realitas.

[x] Menarik juga untuk merujuk kepada istilah Chomsky: competence vs. performance. Akan tetapi di dalam konteks tulisan ini, isu-nya menjadi bagaimana konstruksi persepsi realitas (performance) yang didasari seperangkat atribut di luar dirinya namun menjadi rujukan self (competence) berlaku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s