Home » Article » What’s In A Name

What’s In A Name

Pagi ini ketika berkendara sepeda motor saya mendapati sebuah bus dengan tulisan “Pengenalan Lingkungan dan Akhirussanah TK …. “. Saya tersenyum sebab di dalam benak saya membayangkan istilah yang mirip dengan itu “pelepasan”, “study tour”, “piknik”, “studi banding”, atau “tamasya”.

Istilah-istilah tersebut boleh didebat memiliki arti yang sama atau juga memiliki arti yang berbeda, tergantung pembaca, kata Roland Barthes atau Stanley Fish. Namun problemnya adalah bagaimana sebuah pesan diniatkan oleh pembuat pesan. Tidak seharusnya letak pemaknaan “terserah tujuan akhir” atau “terserah resepsi pembaca”.

Berbicara terserah mungkin akan menjadi sesuatu yang menarik jika kita melihat beaneka ragam fenomena di dalam bahasa. Misalnya kata “rudal”. Penutur Bahasa Indonesia mungkin banyak yang tidak tahu (atau bahkan tidak mau pusing untuk tahu) bahwa istilah “rudal” adalah singkatan dari “peluru kendali”. Contoh yang lainnya adalah istilah “gali” yang sebenarnya singkatan dari “gerombolan anak liar”. Bisa jadi bagi mereka yang tidak tahu konteks mungkin membayangkan bahwa “gali” dekat artinya dengan “sali”. Sali di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya “kokoh”. Dus, orang yang tidak mendapati konteks awal munculnya istilah gali karena referen yang tersedia adalah, misalnya, “sali” maka akan punya potensi untuk mengaitkan “gali” dengan “sali”. Bahkan mungkin saja ketika didapatinya bahwa “gali” untuk berarti “to dig” maka pemaknaan akan istilah “gali” adalah “aktivitas yang berkaitan dengan to dig”.

Jika mempercayai apa yang dikatakan oleh Barthes tentang “terserah tujuan akhir’ dari sesuatu diterima [baca dimaknai], segala sesuatunya bisa jadi berkembang liar. Saya dapat mengatakan bahwa pemahaman dengan pemaknaan itu berbeda. Memang benar bahwa segala wacana adalah sekumpulan tebar teks yang sudah tersedia di belantara kata, sebagaimana dipertegas lewat ungkapan “rajutan mozaik teks”-nya Kristeva, namun itu menjadikan lingkaran hermeneutika menjadi sebuah teks baru dan bukanlah mem-re-produsir makna dari pencipta.

Contoh dari paparan saya di atas misalnya di dalam lagu anak-anak sebagai berikut:

Gilang sepatu gilang,

Gilang si rama-rama

Mari pulang, marilah pulang,

Bersama-sama.

Satu bait lagu yang sering didendangkan anak-anak PAUD atau TK ini mungkin menjadi kasus yang menarik dari apa yang saya utarakan. Saya dapati bahwa lagu tersebut kerap lazim diajarkan sebagai:

Gelang sipatu gelang

Gelang sirama-rama

Mari pulang, marilah pulang

Bersama-sama.

Mungkin benar bahwa kita memiliki tradisi pantun. Benar juga bahwa ada sebagian ahli menganggap dalam satu bait pantun yang terdapat empat larik, baris 1 + 2 adalah semacam pengantar rima. Jadi tidak [harus] mempunyai makna. Mereka “hanya” sebuah mantra dan konon tradisi melayu mengenal “mantra”[1]. Namun ada seorang ahli pantun dari Belanda (?[2]) melihat bahwa sepasang baris awal dari bait pantun adalah berkaitan entah secara simbolik atau memang integral-naratif.

Jika memang lagu anak-anak tersebut dalam konteks ke-melayu-an dianggap dan dipercayai sebagai serupa pantun atau secara natural berpotensi dianggap sebagai lagu main-main yang mengandung “mantra”, maka yang terjadi adalah penciptaan baru yang berbeda dari bentuk pertama. Ia menjadi sebuah teks yang mengandung “mantra”. Mantra tidaklah [harus] mengandung arti. Bahkan secara ekstreme, ia tidak harus memakai kata yang sudah ada, semacam neologisme diperbolehkan.

Namun masalahnya, apakah memang demikian bebas pemaknaan berdasar “diskursus” di dalam teks sebagaimana poin dari Frow tentang intertekstualitas? Apakah begitu longgarnya “teks-teks”, “konteks” dan “meta-teks” saling bergulat di dalam memberi makna? Jika memang diyakini adanya kebebasan yang luar biasa kepada pembaca maka yang terjadi kemudian bukankah “teks” tersebut menjadi “hilang bentuk”?[3]

Pertanyaan yang diajukan adalah: Apakah hal demikian sah-sah saja? “Gelang” adalah mantra, “sipatu” adalah mantra, dan seterusnya dan seterusnya … Bukankah meskipun pembaca memiliki hak untuk “menafsirkan” sendiri teks yang dihadapinya berdasarkan gegap semesta teks yang tersedia, jikalau bekerja secara serampangan akan menjadikan kerja “pembacaan” menjadi “keliaran penciptaan karya baru” sehingga menghancurkan teks?

Bagaimana jikalau kemudian sebenarnya lagu itu berbunyi:

“gilang, sepatu gilang” = “g[em]ilang sepatu g[em]ilang”

“gilang si rama-rama” = “g[em]ilang si rama rama [penaka kunang-kunang]”

Saya sepakat bahwa konteks “to postpone” di dalam pemaknaan adalah esensial. Namun “pemaknaan” berada di dalam tahap “menunda artikulasi makna” pada saat teks-teks yang tersedia sebagai reference memang belum ada. Ketika sudah ada, maka pemberian makna adalah merapatkan dengan intensi pencipta. Kegiatan pembacaan[4] yang lepas kontrol akan membuat bukan sebuah dekonstruksi sebuah teks namun sebagai bentuk fatalism on reading.

Jeda yang terjadi adalah temporal, saya sepakat. Ia terjadi pada saat “pendugaan makna sesuai intensi penciptaan”. Ia menjadi “mungkin” berkembang ketika teks tersebut may signify makna yang berbeda. Istilah may signify adalah bukan kemutlakan, karena itulah dipakai istilah may.

Pada kasus lagu di atas, pemaknaan lagu hanya sebagai word-per-word:

Gilang sepatu gilang,

Gilang si rama-rama

Mari pulang, marilah pulang,

Bersama-sama.

Lalu bagaimana jika ia sudah beranjak kepada beyond text? Bahwa “sekarang waktunya pulang bersama-sama sebab sepatu sudah bersih, secemerlang cahaya kunang-kunang” adalah to go beyond text. Inilah yang dimaksud oleh A. Teeuw bahwa di dalam pembacaan manusia bertingkah sebagai homo significance atau jika merujuk kepada istilah Culler bahwa pembacaan selalu merupakan hasil dari recuperation and denaturalization. Ada semacam “potensi kenakalan” atau “kewas-wasan” dari tiap manusia untuk terkadang “menjelajah melebihi teks”. Hal demikian terjadi, dan hanya bisa terjadi, karena potensi bahasa yang saya harus sepakat dengan kaum “post-strukturalisme”, untuk melahirkan arti metaforik.

Ini menjadi menguatkan pelabelan manusia sebagai homo significance yang sebenarnya bermuara kepada dua hal. “Potensi kenakalan” terjadi karena di dalam nature manusia ada semacam dorongan untuk “menjadi bersifat personal”, ego didahulukan. Kalimat interpretatif: “menurutku artinya adalah tidak se-tekstual itu” adalah bukti yang demikian. Pada kasus “kewas-wasan”, yang muncul dari interpretasi adalah “jangan-jangan artinya tidak se-tekstual itu”. Kewas-wasan pun bisa tetap terjadi ketika pencipta teks sudah memberi pemaknaan yang rigid. Kewas-wasan model ini karena ada kecurigaan bahwa pencipta teks menyembunyikan makna sebenarnya. Aktivitas menjelajahi kemungkinan “menjadi berbeda” dan atau “mungkin dapat bermakna lain” menjadikan proses pembacaan sendiri menjadi unik dan bisa sublim.

Perlu pula dicatat. Jika memang semua terserah pembaca, alangkah naifnya jikalau menaifkan pembacaan “Marly” di dalam sajak Z oleh salah seorang mahasiswa A Teew ketika tidak ada argumen terbuka untuk menaifkan pembacaan Umar Junus terhadap Bulan di atas Kuburan. Atau alangkah tidak pas ketika Andre Hardjana menyoroti pasar kembang-nya Sitor Situmorang yang ditafsirkan “terserah” Djoko Pradopo.

Tulisan ini bahkan bisa mengembara kepada salah satu kisah tentang sapi betina, ketika ego dan atau was-was muncul di dalam pembacaan perintah. Saat ego muncul, maka akan timbul polemik, sedangkan saat was-was menguasai maka akan timbul kesetenghatian. Kisah ini justru menjadikan sebuah pemarkaan bahwa “teks sastra” berbeda dengan “teks hukum”. Dus, ketika sebuah teks hukum dilarikan kepada sastra, maka hasil akhirnya adalah hancurnya makna perintah.

Kembali kepada kisah bus yang tadi pagi saya lihat, intensi penggunaan istilah “akhirrusanah” adalah berbeda dengan intensi penggunaan “pelepasan”, “study tour”, dll. Tambahan pula, meskipun mungkin istilah “akhirrusanah” dirasa mirip dengan “pelepasan yang baik” namun pesan yang hendak ditampilkan menjadi berbeda juga jikalau digunakan istilah “pelepasan yang baik”. Oleh karena itulah, selayaknyalah kita tidak memakan mentah-mentah ungkapan “what’s in a name” sebab percayalah bahwa istilah berbeda menjadikan arti yang berbeda. Sebagaimana “ini kali” dengan “kali ini” menunjukkan intensi serius si Chairil yang mengusik pembacaan kita sebagaimana A Teeuw pernah membahasnya.


[1] Dan ini pernah hendak digaungkan oleh Sutardji lewat kredo-nya namun ia akhirnya men-dekredo­-kan dirinya … karena dulu ia masih suka minum sedangkan sekarang konon ia sudah sadar. Just kidding

[2] Dahulu saya pernah membaca buku tentang pantun yang mengutip pendapat dari salah satu peneliti budaya pantun dari Belanda (?) yang punya pendapat demikian. Namun saya lupa detilnya. Jika ada yang tahu judul bu atau info sebagai referen dari catatan kaki ini, silakan hubungi saya.

[3] Pertanyaan besar kepada kaum dekonstruksi adalah “sampai sejauh mana kebebasan pembaca tidak dipengaruhi oleh intensi penciptaan?”. Jikalau kebebasan itu mutlak, sampai sejauh mana konstruksi itu justru tidak merusak esensi teks? Apakah “keberadaan” teks dapat dibebaskan dari “keadaannya”?

[4] Pembacaan = pemahaman = pemaknaan. Pembacaan “secara kodrati sebenarnya sama arti” dengan pemaknaan sebab aktivitas membaca mengarahkan pembaca secara alamiah kepada pemaknaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s