Home » Academic Article » Penggunaan Aku, -Ku, Dia, -Nya di dalam Terjemahan Bible

Penggunaan Aku, -Ku, Dia, -Nya di dalam Terjemahan Bible

Adalah sederhana namun menjadi rumit ketika berbicara tentang penerjemahan. Penerjemahan adalah bukan pekerjaan yang mudah. Problematika seringkali muncul bukan hanya karena perbedaan struktur gramatika antarbahasa namun juga hal-hal lain yang ada di dalam bahasa namun tidak gampang terungkapkan lewat bahasa.

Penerjemahan bisa berarti pemaknaan dan memang benar demikian adanya. Seorang penerjemah berada di dalam kubangan kompleksitas bahasa sumber (SL atau source language) dan bahasa tertuju (TL atau target language). Saya teringat ketika membaca buku Mario Pei mengenai bahasa. Pei (1965: 119) memberi contoh bagaimana orang Jawa mempunyai 10 istilah untuk menyebut “to stand” dan 20 istilah yang berbeda untuk menyebut “to sit“. Ia juga memberi contoh tentang bagaimana orang Eskimo mempunyai hampir selusin kosa kata untuk menyebut “snow” (1965: 119). Dari segi “alih bahasa” dengan konteks diferensi perbendaharaan kosa kata saja sudah menunjukkan bagaimana tidak mudahnya proses penerjemahan berlangsung. Pada kasus ketimpangan kosa kata, catatan kaki atau catatan akhir bisa digunakan untuk membantu memahamkan istilah yang problematis.

Lalu bagaimana dengan hal-hal lain yang ada di dalam bahasa namun tidak gampang terungkapkan lewat bahasa sebagaimana disinggung di paragraf awal? Sebagai misal penggunaan istilah Bapa atau Father [in Heaven] di dalam tradisi Abraham untuk menyebut Tuhan. Di dalam tradisi Abraham, istilah Bapa dipakai sebagai sebuah metafora penyebutan terhadap Penguasa Semesta Alam yang menciptakan, melindungi, dan memberi (bdk. Blidstein, 2006: 1 dan Goshen-Gottstein, 2001). Sedangkan di dalam masyarakat Jawa yang awalnya terkena pengaruh Hindu, digunakanlah istilah Gusti dan bukan Bapa. Di dalam kepercayaan Hindu [Jawa], karena raja dilihat sebagai pelindung dan mempunyai kuasa di bumi maka istilah Gusti juga dipakai untuk menyebut seorang raja (lih. Wahjono, 2004: 71-72). Dus, istilah Gusti menjadi sesuatu yang lazim ketika diatributkan untuk Tuhan (Gusti Allah) dan penguasa (Gusti Pangeran) bukan dalam konteks blasphemy namun dikarenakan pengiasan orang Jawa yang Islam. Berbeda dengan penggunaan istilah Gusti untuk menyebut raja sebagai co-equal dengan Dewa bagi orang Jawa yang Hindu sebab kepercayaan Dewa Raja, secara konseptual bagi orang Jawa yang Islam penggunaan istilah Gusti untuk menyamakan dzat Tuhan dengan raja adalah sebuah hal yang terlarang.

The Books of the Bible (credit: biblica.com)

The Books of the Bible (credit: biblica.com)

Berbeda dengan apa yang termaktub di dalam Kitab Tao ketika berbicara mengenai penyebutan terhadap Pencipta Langit dan Bumi. Di dalam kitab Tao misalnya digunakan istilah Originator juga Honoured Ancestor of all things sebab keberadaan Dzat ini adalah sebuah Misteri. Dzat ini berbeda dan mendahului ada karena memang jelas dibedakan dengan God (Dewa?). Ia ada lebih dulu sehingga Ia tidak bisa diatribut dengan sebuah sebutan (lih. terj. Legge, 1981: V1, V4).

Sebagaimana telah disinggung di dalam judul tulisan ini mengenai penggunaan Aku, -Ku, Dia, -Nya (selanjutnya digunakan hanya satu terma “Aku”] bagi terjemah penyebutan Tuhan di dalam Bible maka ada beberapa catatan menarik. Di dalam bahasa Indonesia [dan juga bahasa lain, selanjutnya karena tulisan ini fokus dalam bahasa Indonesia maka referennya adalah bahasa Indonesia], Aku dengan huruf awal besar dipakai sebagai atribut penunjuk entitas pertama Tuhan. Aku tidak bisa dipakai untuk merujuk kepada selain Tuhan. Problematika adalah muncul ketika harus mendudukkan konteks Aku di dalam bahasa Indonesia ke dalam konsep Trinitas di dalam keyakinan Kristen Trinitarian.

Di dalam konsep Trinitas, Yesus bisa sebagai Tuhan namun bisa sebagai manusia. Di dalam Trinitas dikenal istilah theantropis (lih. BP, tt.). Pada terjemahan Bible, dapatlah dilihat bagaimana kesulitan dihadapi oleh penerjemah ketika hendak menerapkan konsep Trinitas di dalam bahasa. Penerjemah “kikuk” ketika harus menerjemahkan Yesus sebagai manusia yang berbeda namun sama dengan Yesus sebagai Tuhan. Sebagai misal “kekikukan” bisa terjadi manakala harus menerjemahkan ayat di dalam Bible Matius 27: 46. Contoh lainnya lagi adalah ketika penerjemah harus menerjemahkan istilah Lord, misalnya di dalam Bible Matius 7: 21 yang sebenarnya di dalam bahasa Indonesia merujuk kepada Tuan. Oleh sebab di dalam konsep trinitas Yesus adalah co-equal dengan Tuhan [Bapa] maka istilah Lord diterjemahkan menjadi Tuhan. Penyebutan kepada tiga pribadi di dalam trinitas adalah co-equal namun tidak bisa diputarbalikkan karena jika diputarbalikkan maka pemahaman Bible Matius 27: 46 menjadi membingungkan meskipun di dalam Bible Matius 27: 46 Yesus adalah sebagai manusia namun penerjemah Bible tidak mau ambil pusing sehingga hantam mudah dengan memakai “Aku” dengan A huruf besar. Dan menarik juga untuk memperhatikan terjemah Ulangan 5: 7. Di dalam ayat ini God diterjemahkan sebagai Allah dan juga terdapat di dalam Bible Yohanes 1: 1 yang menerjemahkan Logos sebagai Allah. Sehingga benarkah parafrase adagium yang dimulai di dalam paragraf introduksi: “pengungkapan lewat bahasa adalah kurang menyibak maksud lengkap sebenarnya” ataukah hanya kepelikan konsep sebenarnya yang tidak bisa dilingkupi bahasa?

Post Script: Pada Kristen Unitarian, konsep Trinitas tidak dikenal. Sebagai misal di dalam Bible Yohanes 1: 1, digunakan istilah Logos sebagai Logos [atau divine; bersifat ilahiah] bukan serta merta mengatributi The Word / Logos sebagai Tuhan. Kajian menarik tentang ini salah satu di antaranya dapat disimak di John 1: 1 – But What About John 1: 1?

DAFTAR PUSTAKA

Alon Goshen-Gottstein. “God the Father in Rabbinic Judaism and Christianity: Transformed Background or Common Ground?”, The Elijah Interfaith Institute, pertama terbit di dalam Journal of Ecumenical Studies, 38:4, Spring 2001.

BP. tt. Yesus Kristus Adalah Manusia diunduh dari imansejati.net

Gerald J. Blidstein. 2006. Honor thy father and mother: filial responsibility in Jewish law and ethics. New Jersey: KTAV Publishing House, Inc.

Mario Pei. 1965. The Story of Language. Philadelphia and New York: J.B. Lippincott, Co., hlm. 119.

Parwatri Wahjono. “Sastra Wulang dari Abad XIX: Serat Candrarini, Suatu Kajian Budaya” dalam Jurnal Makara, Sosial Humaniora, Vol. 8, No. 2, Agustus 2004: 71-82.

Sacred Books of The East, Vol 39. 1891Terjemahan James Legge, Editor Friedrich Max Muller. Oxford: The Clarendon Press.



Creative Commons License
Penggunaan Aku, -Ku, Dia, -Nya di dalam Terjemahan Bible by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s