Home » Selected Contemplation » Malam dan Sepi, Benarkah Kita Selalu Ditampar oleh Nuansa Nocturnal?

Malam dan Sepi, Benarkah Kita Selalu Ditampar oleh Nuansa Nocturnal?

Lagu pop bisa kerap mengingatkan kita akan sepi. Sepi adalah kawan memasung dan memasing. Lewat beberapa lagu pop, kita menjadi teringat betapa sepi-nya kita. Ingatkah kita kalimat-kalimat dari lagu pop seperti ini?

  • “Dalam hitam gelap malam, ku berdiri melawan sepi” (Mimpi – Anggun C. Sasmi)
  • “Andaikan malam yang sepi dapat bicara, tentu aku tak kan kesepian” (Cintaku Tak Terbatas Waktu – Anie Carerra)
  • ” Di malam yang sesunyi ini, aku sendiri tiada yang menemani” (Kisah Cintaku – Chrisye)
  • “Malam sunyi kembali kembali lara sendiri. Gelap pekat entah apa yang tersirat” (Gue Ingin – Super Bejo)
  • “Masih adakah waktu tersisa kasih, temani diriku di malam gelap ini” (Satu Senyum Saja – Tatoo)
Bukankah mereka memukulmu terutama dengan kesepadanan sepi yang datang kala malam? Malam dan sepi adalah satu paket yang menarik di dalam lagu pop, pun mereka sebenarnya juga menarik di dalam hidup kita. Ketika malam datang, banyak dari kita merasa sepi, butuh hingar bingar. Maka dibutuhkanlah nite club agar sepi itu hilang, namun sepi itu tetap ada. Kemudian ditambahkanlah musik yang gegap rancak agar sepi itu hilang, namun sepi itu tetap ada. Lalu orang-orang mulai menambahkan sedikit Lexo, sedikit Love, namun sepi tidak beranjak pergi.
Sepi itu seakan-akan seperti nature kita. Sekuat apapun kita berusaha mengusirnya, ia tidak pergi. Ia hanya pergi ketika wajahmu dekat dengan tanah, lambungmu jauh dari tanah. Ia akan hilang lewat munajat sebab memang begitulah obatnya. Ia tidak akan hilang lewat lagu pop karena justru lagu pop mengajak syahdu (There’ll be Sad Songs – Billy Ocean; Syahdu – Rhoma Irama) dan sepi maka kian menjadi. Ia juga tidak akan hilang ketika musik gegap rancak diputar dan Love lewat kerongkongan sebab justru yang demikian membuat seperti kita makin sepi.
Seperti sajak Taufik Ismail di tahun 1964, Oda pada van Gogh, mendapati sepi sewaktu malam ada di mana-mana:
Oda pada van Gogh

Pohon sipres. Kafe tua
Di ujung jalan
Sepi. Sepi jua
Langit berombak
Bulan di sana
Sepi. Sepi namanya
Adakah sepi memang bagian dari diri kita – kala malam? Masih ingatkah kita pada cerita pendek Ernest Hemingway berjudul A Clean, Well Lighted Place (1933)? Cerita pendek tersebut juga berlatar sepi dan malam. Benarkah bahwa nuansa nocturnal memang mengingatkan kita pada sepi? Ataukah sepi adalah hanya permainan mood saja ketika matahari pergi dari ubung langit sehingga energi kita menjadi berkurang dan lalu mood kita menjadi “lembek”? Apapun pukulan sepi ketika malam merayap, pesan lewat Tombo Ati (Opick) mengenai menjauhkan lambung ketika malam datang adalah benar.
Adakah kita mau “make time” dan konsisten melakukannya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s