Home » Selected Contemplation » Irshad Manji, Pengkhotbah "Moral Courage", adalah Rasis

Irshad Manji, Pengkhotbah "Moral Courage", adalah Rasis

Sebuah adaptasi disertai catatan kaki atas sebuah tulisan dari Hussein Ibish yang berjudul “Moral Courage Queen Irshad Manji Is a Racist, A Hypocrite, and An Ignoramus” yang naskah aslinya bisa Anda akses di laman berikut:

http://ibishblog.com/blog/…racist_hypocrite_and_ignoramus

Hak cipta ada pada Hussein Ibish. Tulisan Hussein Ibish tidaklah serta merta merupakan pandangan organisasi tempat Hussein Ibish terafiliasi dan juga bukan serta merta serupa dengan pandangan penerjemah. 

________________________________________

Penulis dan pekerja TV Kanada Irshad Manji merupakan sebuah fenomena hipokrit ketika ia tampil di televisi Amerika berbicara mengenai “moral courage” atau “keberanian moral”. Para pendukungnya memberi julukan Irshad Manji sebagai reformis Islam yang berani, dan sebagian besar kritikus menyindirnya sebagai pribadi yang Islamophobis, akan tetapi menurut pendapat saya, ia bukanlah sebagaimana yang dielu-elukan atau dihujatkan.

Klaim Irshad Manji bahwa ia seorang reformis, atau bahkan kritikus [Islam], adalah tidak tepat jika dikaitkan dengan ketidaktahuannya akan teologi, sejarah, dan peradaban Islam. Wanita ini, Irshad Manji, adalah tipe pribadi yang secara gampang dapat saya katakan sebagai tipe tidak pedulian.

Namun, saya juga akan beri alasan mengapa Irshad Manji juga tidak dapat dikatakan sebagai Islamophobis, jika memang istilah Islamophobis memang hendak dilabelkan kepadanya, sebab Irshad juga berbicara tentang hal-hal positif tentang Islam, Muhammad p.b.u.h, Quran, dan hal-hal lain tentang Islam, apalagi ia selalu mengatakan bahwa dirinya adalah pemeluk Islam yang relijius.

Akan tetapi, Irshad sendiri sebagaimana terbuktikan [nanti di dalam tulisan ini], merupakan pribadi yang rasis Anti-Arab, dan justru merupakan hal yang ironis dan kurang ajar ketika ia berkeliling ke berbagai media mempromosikan “keberanian moral”.

Buku Irshad, The Trouble with Islam Today: A Muslim’s Call for Reform in Her Faith (St. Martin’s, 2005), sebagaimana judulnya berbunyi, memiliki sebuah pertanyaan yang kudu dijawab: Masalah apakah yang dimiliki oleh Islam? Dan, buku tersebut punya jawaban yang kocak: orang-orang Arab.

Si Irshad ini hanya tahu sedikit, dan tidak ambil pusing, ketika berbicara tentang isu yang ia kedepankan di dalam bukunya. Serupa dengan tindakan Ayaan Hirsi Ali[1], Irshad mendasarkan kritikannya berdasarkan generalisasi yang ngawur dan urakan mengenai Islam, dan juga menggunakan pengalaman pribadinya untuk membangun simpulan yang absurd dan reduktif terhadap mentalitas, praktik-praktik dan sikap yang Islami.

Bukan hanya betapa seringnya ia mencampuradukkan dengan cara serampangan antara budaya dan teologi (sebenarnya baik Irshad Manji maupun Ayaan Hirsi Ali melakukan hal yang sama, mencampuradukkan budaya dan teologi dalam rangka kebutuhan penguatan argumen mereka), sehingga mengaburkan heterogenitas Islam sebagai suatu teks sosial dan kemudian Irshad menggantikannya dengan “kesatuan yang [Islam] imajiner”[2] yang secara umum justru ditampakkan negatif. Meskipun tidak sama dengan Hirsi Ali yang “meninggalkan” Islam, Irshad berusaha memberi solusi, setidaknya pada beberapa hal, terhadap apa yang ia tuduhkan sebagai “pangkal permasalahan Islam”[3].

Gaya tulis Irshad yang mengharu biru dan justru tidak enak dibaca (sehingga ketika Anda membaca buku ini, Anda serasa sedang dikuliahi seorang anak muda yang terlalu percaya diri, berapi-api, dan merasa punya banyak wejangan) sungguh menjadi sangat keterlaluan ketika memberi label buruk kepada orang-orang Arab.

Irshad ini menyalahkan sebagian besar, atau malah semua (?), masalah yang dihadapi Islam kepada orang Arab dan budaya mereka. Sebagai hal yang kentara sekali adalah penggunaan istilah “padang pasir Arab”[4], “budaya padang pasir”[5], dan “budaya padang pasir [Saudi(?)] Arabia”[6]. Obsesi Irshad terhadap padang pasir – perlu diketahui bahwa tidak semua wilayah Arab merupakan daerah padang pasir dan dihuni kaum nomad – dapatlah disebut sebagai upaya penciptaan aura “ketidakproduktifan”, “kegersangan”, “keliaran”, dan  “keterbelakangan”, dan sehingga para pembaca dapat digiring kepada pemograman alam bawah sadar bahwa orang Arab berdasarkan keadaan wilayah, budaya, dan moral adalah bangsa yang jauh dari memiliki kebaikan.

Dengan penggunaan citraan padang pasir sebagai “kode terang-terangan namun terselubung maksud” kepada signifikansi pemograman alam bawah sadar para pembaca akan budaya Arab, Irshad membuat suatu pengajaran rasisme Anti-Arab di beberapa bagian dari bukunya.

Mula-mula Irshad menunjuk bahwa orang Arab adalah agresor, pula menyebarkan versi Islam yang menyimpang dan kaku ke seluruh dunia. Menurut Irshad, orang Arab telah memakai Islam untuk menjajah Muslim lainnya. Masih menurutnya bahwa “di dalam Islam, imperialis budaya Arab bersaing dengan Tuhan di dalam memperebutkan Kekuasaan”. Irshad menulis bahwa jilbab adalah kemenangan bagi budaya padang pasir Arab[7]. Jika, para pembaca sudah diprogram bawah sadarnya bahwa budaya Arab adalah “terbelakang”, maka tudingan Irshad terhadap pemakaian jilbab bagi umat Islam yang bukan dari budaya Arab adalah bentuk kemunduran budaya. Ia menyatakan bahwa muslim di seluruh dunia adalah pengikut orang-orang padang pasir[8] dan lalu berkoar akan adanya “fakta” bahwa orang Arab telah membuat orang non-Arab sebagai bawahan [budaya]. Dan lalu, Irshad, dengan sangat gegabah justru melempar pertanyaan retoris versi wacana propaganda-nya: Siapakah penjajah muslim? Amerika Serikat atau [Saudi] Arabia?[9] Dan juga sembrono memakai istilah yang kurang lebih dapat diartikan bahwa Sudan adalah jajahan orang Arab.

Irshad nampaknya tidak paham benar bahwa tidak semua orang Arab tinggal di wilayah serupa kaum nomad Badui, dan kebodohan ini malah ia gunakan sebagai pijakan argumen akan masalah yang dihadapi umat Islam dewasa ini. Lalu bertubi-tubi ia mengatakan betapa “bodohnya” orang Islam karena mengikuti cara berpikir orang Arab yang membuat mereka tidak berkembang.[10]

Isu berikutnya yang Irshad Manji tuding adalah “pengekangan terhadap umat beragama lain”. Irshad, sekali lagi, nunjuk orang Arab. Ia mengatakan bahwa: “Mungkin yang menjadi sebab adalah cara berpikir padang pasir yang membuat suatu sistem dzimmi, suatu bentuk represi sistematis kepada Yahudi dan Kristen di wilayah yang dikuasai Muslim”.[11]

Kemudian Irshad menuding lagi bahwa pengekangan terhadap wanita di komunitas Muslim non-Arab adalah ulah orang Arab. Ia mengatakan sesuatu yang bisa membuat terpingkal-pingkal pegiat pemahaman lintas agama bahwa: “Mungkin pula kepribadian padang pasir Islam-lah yang membuat perkosaan seorang wanita di Pakistan dapat dibenarkan sebagai kompensasi tebusan atas penghinaan terhadap suatu klan, bahkan ketika kehormatan klan tersebut dilecehkan bukan oleh wanita yang diperkosa itu namun oleh orang lain”.[12] (Bahkan tuduhan ini pun, jika didasarkan pada ajaran budaya padang pasir Arab, di dalam masyarakat Arab manapun praktik atau ajaran ini tidak pernah ada).

Lalu Irshad, dengan kalimatnya yang berapi-api seakan-akan hanya dia yang memegang kunci pencerahan dan kebenaran, menunjuk bahwa kurangnya persamaan derajat dan demokrasi di dalam komunitas muslim adalah juga salah orang Arab.[13]

Lalu bertubi-tubi ia menuding bahwa daftar kesalahan orang Arab lainnya adalah:

  1. Anti-Semitisme di dalam pikiran muslim Asia Tenggara dan berkembangnya Islam di Asia Tenggara[14]
  2. Kurangnya reformasi di dalam Islam[15] dan kebencian terhadap semua hal yang berbau Barat.
  3. Kurangnya kepuasan teologis di antara muslim
  4. Istilah “real muslims” = orang Arab[16]

yang semuanya memberikan label bahwa dalang dari keburukan di dalam Islam adalah orang Arab. Irshad bahkan menyatakan bahwa orang Arab tidak punya kontribusi bagi kemajuan Islam (yang sesungguhnya aneh sebab Islam diajarkan oleh Muhammad p.b.u.h yang orang Arab) sebab sejak semula orang Islam telah menginfeksi ajaran Islam dengan keburukan Arab. Dus dengan demikian, Irshad telah membuat dirinya menjadi seorang rasis Anti-Arab dan terlihat bodoh.[17]

Dan justru menjadi aneh ketika ia berbicara yang menyiratkan kecintaannya terhadap orang Yahudi[18] dan “larangan” untuk menentang okupasi Israel di Palestina. Ia melihat bahwa Israel dan orang Yahudi:

  1. Memiliki kontribusi terhadap agama Islam[19]
  2. dan orang Palestina merupakan korban dari plot yang gagal dari orang Arab
  3. tidaklah bersalah akan penderitaan rakyat Palestina sebab bangsa Palestina merupakan korban dari para pemimpin Arab yang membuat mereka menjadi pengungsi.

Bahkan ia dengan bangga, namun lucu, mengatakan bahwa ia bisa menjadi warga negara Israel tanpa harus pindah agama dari Islam ke Yahudi[20] tanpa ia tahu bahwa ketika dia adalah muslim Palestina, maka hal tersebut adalah absurd, bahkan jikalau ia sebagai muslim Palestina menikah dengan warga negara Israel.

Bahkan ia berkoar-koar menyatakan bahwa Israel adalah satu-satunya negara di Timur Tengah di mana orang Arab yang beragama Kristen dapat pindah kewarganegaraan dengan sukarela[21] meskipun kiat semua tahu itu tidak terjadi kepada warga Kristen Bagian Selatan Lebanon.

Bahkan secara konyol, Irshad memuji pemerintahan Israel di mana menurutnya Yahudi adalah minoritas[22] dan diskriminasi, dalam artian memberikan beberapa hak khusus pada “minoritas tertentu”[23], yang terjadi di Israel adalah sah sebab minoritas ini pernah mengalami ketidakadilan.[24]

Yang menjadi masalah dari argumen Irshad adalah, bukan hanya patut dipertanyakan darimana ia memperoleh data yang konyol itu, namun juga pembenaran penjajahan dan penindasan terhadap rakyat Palestina. Bahkan ia menyatakan bahwa penjajahan model Israel kepada rakyat Palestina adalah baik.[25] Ia juga bersikap membingungkan di dalam notasinya akan Raja Shehadeh, seorang aktivis dan pegiat hak asasi manusia.

Harus diakui, bahwa Irshad Manji telah membuat kita bingung akan definisi novel propaganda dengan tulisan yang adil dan berbobot tentang derita rakyat Palestina sehingga malah dengan jelas sekali membuat justifikasi akan pendudukan Israel di tanah Palestina, dan Irshad Manji-lah orang yang berkoar-koar dengan berparade ke banyak media massa mengenai ajaran “moral courage[26].


[1] kelahiran Somalia; pembela hak-hak wanita di dalam komunitas Islam dengan cara yang ‘aneh’.

[2] Untuk lebih jauh memahami masalah betapa kelihatan “bodohnya” [atau memang disengaja?] penulis-penulis urakan yang berbicara tentang Islam, silakan Anda cari referensi tentang fatwa, misalnya, tentang Bom Bunuh Diri dan Perang Jihad. Fatwa dari ulama-ulama mainstream Islam berbeda dengan fatwa minoritas ulama Islam, NAMUN ketika berbicara lebih jauh lagi, Anda akan dapati bahwa fatwa minoritas ulama Islam tersebut berkaitan langsung dengan daerah perang “tertentu” [yang kita-semua-tahu-wilayahnya]. Lalu bagaimana dengan “daerah di luar daerah yang kita-semua-tahu-wilayahnya”? Komentar saya di dalam catatan kaki terjemah bebas tulisan berjudul “Musuh dalam Selimut … Islamophobia” bisa Anda jadikan pemicu untuk mulai mempertanyakan banyak hal yang berbau “aksi bunuh diri teroris”.

Kembali kepada konteks, jadi imaginary unity adalah bentuk ketidaktahuan akan Islam atau bisa jadi bentuk kesengajaan yang menyesatkan di dalam agenda stigmatisasi dan atau justifikasi causa belli.

Jika Anda hendak mau adil terhadap diri sendiri di dalam mengkonstruk realitas, Anda berarti mau membandingkan both sides of the story di dalam menelusur Truth. Lalu jika Anda tertarik mendekonstruksi realitas bebrapa kasus besar di dunia sebagaimana telah dikhotbahkan oleh media massa mainstream maka Anda bisa memulainya dengan mengunjungi laman-laman berikut ini:

http://911truth.org/ for WTC Attack

http://plane-truth.com/Aoude/geocities/victim.html for Pan Am 103 Bombing

http://www.lrb.co.uk/v29/n12/hugh-miles/inconvenient-truths for Pan Am 103 Bombing

http://www.guardian.co.uk/uk/1999/apr/07/lockerbie.patrickbarkham for Pan Am 103 Bombing

http://www.codoh.com/ for Holocaust debate

Jika Anda telah selesai dengan “mendengarkan kisah kedua belah pihak” yang berselisih, maka Anda kemudian bisa membangun kembali narasi milik  Anda sendiri yang lebih adil, runtut, dan masuk akal.

Perlu dicatat bahwa “sejarah yang ditulis” oleh sejarawan tidak selalu berdasar fakta karena kadang  memang “sengaja” ditulis untuk melayani kepentingan kelompoknya atau kadang “sengaja” ditulis distortif karena ancaman pihak yang menang. Dan, ketika “sejarah yang sudah terlanjur ditulis” tadi diajarkan selama beberapa generasi dan atau dikokohkan oleh legitimasi negara dan media massa mainstream, maka “sejarah yang sudah terlanjur ditulis” tersebut bermanifes di dalam otak kita sebagai sesuatu yang benar; sebuah “fakta”.

[3] Di dalam teks asli dari Hussein Ibish, istilah “the trouble with Islam today” pada kalimat yang saya terjemahkan bercatatan kaki ini beroleh tanda kutip. Ini dapatlah kita artikan bahwa istilah “the trouble with Islam today” yang dipakai oleh Si Irshad, secara implisit menurut Hussein Ibish adalah “bermasalah”.

[4] desert Arabs

[5] desert culture

[6] the desert culture of Arabia

[7] Isu jilbab bagi wanita Islam (muslimah), silakan Anda dapat cek di komentar catatan kaki saya terhadap terjemah bebas tulisan “5 Hal Konyol yang Sering …” mengenai bagaimana tradisi Abraham (Yahudi, Kristen, dan Islam) justru mewariskan pemakaian jilbab. Akan tetapi, untuk mengetahui lebih dalam tentang isu ini khususnya dalam konteks teologi Islam, silakan Anda hubungi MUI setempat.

[8] “parrot the desert peoples”

[9] “Who is the real colonizers of the Muslims, America or Arabia?”

[10] Tidak berkembang? Silakan Anda baca tulisan Jacopo della Quercia, 5 Ridiculous Things You Probably Believe About Islam. Terjemah bebas beserta komentar lewat catatan kaki bisa Anda baca di blog saya ini. Untuk rujukan teks asli, Anda bisa mengunjungi laman ini:

http://www.cracked.com/article_18911_5-ridiculous-things-you-probably-believe-about-islam.html

Kemudian patut juga membaca tulisan Justin Podur yang berjudul “A Multifaceted Fraud: Reviewing Irshad Manji’s ‘Trouble with Islam'” di dalam menganalisis konstruksi gaya pikir dan perspektif Irshad Manji.

[11] Komentar singkat tentang Kafir Dzimi oleh saya, Dipa Nugraha, bagi Muslim adalah zakat, bagi Dzimmi adalah pajak. Hak peribadatan dilindungi. Ada kerancuan bagi mereka yang buta dengan sejarah Islam yang ditulis bukan oleh kaum orientalis, mereka rancu membedakan antara perang-rampasan perang-keadaan perang dengan hak-hak dan kewajiban warga negara di dalam negara teokrasi Islam.

Dalam sebuah hadis yang dikeluarkan Abu Ubaid dalam kitabnya, Al-Amwal, melalui jalur Urwah, Rasulullah saw. bersabda:

Siapapun yang beragama Yahudi atau Nasrani (berkedudukan sebagai dzimmi), maka dia tidak diganggu untuk melaksanakan ajaran agamanya. Mereka dikenakan jizyah.

Dan perlu pula dikaji bahkan di dalam Quran, Allah berfirman:

Sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia atas sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah (QS al-Hajj [22]: 40).

Untuk memperkaya khazanah perspektif, silakan kunjungi:

http://villailmu.wordpress.com/2011/…-dalam-negara-khilafah/

[12] “And maybe the desert personality of Islam is why the rape of a woman in Pakistan can be made to compensate a dishonored clan, even if that clan’s honor was violated not by her but by someone else”

[13] “Let me propose this much: equality can’t exist in the desert, not if the tribe’s integrity is to remain intact.”

[14] Mahathir has betrayed his own susceptibility to Arab influencers by holding Jews responsible for Malaysia’s currency crisis.” dan juga “Desert Islam is also encroaching on Southeast Asia.”

[15] Anda bisa membaca tulisan saya berjudul “Sastra dan Hermeneutika” sebagai pemerkaya pemahaman akan isu ini.

[16] Bagi Anda yang pernah belajar Islam meski hanya sedikit saja, pasti tertawa terpingkal-pingkal dengan tudingan polos Irshad Manji ini. Bahkan di dalam Islam, konsep pembebasan budak sebagaimana dapat kita baca di dalam sejarah, yang diajarkan secara pelan-pelan adalah bentuk pengajaran tentang tidak ada diskriminasi terhadap manusia. Terhadap wanita? Silakan baca tulisan saya, dari awal sampai akhir, berjudul “Perempuan, Wanita, atau Betina”, Anda bisa juga baca tulisan Aisha Abdul Rahman, The Islamic Conception of Women’s Liberation (Al Raida, Issue 125, Spring 2009).

[17] “It was non-Arabs who created the vast corpus of Islamic law up to and during the golden age.” Dan justru membuatnya tidak tahu tentang kepada siapa Quran diberikan sebelum disampaikan kepada umat manusia, proses kodifikasi Quran, bagaimana penutur riwayata hadist terlibat, dan hanya melihat penulis kumpulan hadist dan peletak dasar kefikihan. Atau memang dia belum tahu tentang Islam?

[18] Ketika berbicara tentang Yahudi, kita harus berhati-hati dengan generalisasi yang keliru. Persepsi yang perlu ditanamkan adalah bahwa: Tidak semua Yahudi itu beragama Yahudi, tidak semua orang Yahudi itu bersikap dan bertindak fanatisme sempit (minjam istilah orientalis yang suka menempelkan istilah radikal ini kepada Islam) atau radikal terhadap bangsa lain atau pemeluk agama lain, dan tidak semua orang Yahudi mendukung zionisme.

Jadilah sebisa mungkin untuk adil di dalam menghakimi.

[19] Sebenarnya, bagi umat Islam, tradisi Islam TIDAKLAH dimulai dari tradisi Abraham saja namun merunut kepada Adam p.b.u.h. dengan syariat yang berbeda. Yang paling keras gelegarnya di dalam teologi Islam adalah ajaran tauhid yang merupakan misi pengajaran kepada setiap utusan Tuhan dari dulu hingga sekarang. Untuk lebih jelasnya, silakan Anda kunjungi MUI terdekat.

[20] “As a Muslim, I could become a citizen of Israel without having to convert”

[21] “the only country in the Middle East to which Arab Christians are voluntarily migrating.”

[22] Anda akan tertawa jika Anda mempelajari negara Israel.

[23] yang dimaksud Irshad adalah Yahudi.

[24]When it comes to citizenship, Israel does discriminate. In the way that an affirmative action policy discriminates, Israel gives the edge to a specific minority that has faced historical injustice. In that sense, the Jewish state is an affirmative action polity. Liberals should love it.”

[25] “Israel, I find, brings more compassion to ‘colonization’ than its adversaries have ever brought to ‘liberation’.”

Sebagai tambahan pemerkaya wacana akan isu ini, ada baiknya Anda membaca terjemah bebas dan ringkasan beserta komentar pada catatan kaki atas tulisan Thomas Williamson, “Who Really Owns the Land of Palestine” yang ada di blog saya ini. Atau jika Anda hendak membaca versi aslinya atau hendak menggunakan sebagai rujukan resmi, silakan kunjungi:

http://www.thomaswilliamson.net/who_owns_the_land.htm

[26] Keberanian [menyuarakan] Moral[itas]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s