Home » Selected Contemplation » Musuh dalam Selimut? Wabah Baru di Inggris: Islamophobia

Musuh dalam Selimut? Wabah Baru di Inggris: Islamophobia

Sebuah terjemahan bebas dan ringkasan disertai komentar pada catatan kaki dari sebuah artikel berjudul “The Enemy within? Fear of Islam: Britain’s New Disease; Suspicion of the Muslim Community has found its way into mainstream society – and nobody seems to care” tulisan Peter Oborne yang terbit di The Independent online pada hari Jumat, 4 Juli 2008. Teks asli bisa diakses di sini:

http://www.independent.co.uk/news/uk/home-news/the-enemy-within-fear-of-islam-britains-new-disease-859996.html

Apabila Anda temukan ketidakpersisan penerjemahan, maka kekurangan ada pada diri saya, Dipa Nugraha. Untuk rujukan, pergunakan sumber asli. Hak cipta ada pada Peter Oborne.

Tiga tahun yang lalu, empat pemuda melakukan bom bunuh diri dan mengakibatkan banyak orang terbunuh di kota London. Tujuan mereka bukan hanya untuk membunuh dan membuat kerusakan, namun juga bertujuan jangka panjang: menyebarkan benih kecurigaan dan memecah belah muslim Inggris dengan pemeluk agama lain. Mereka berhasil[1].

Di Inggris sekarang ini terdapat syak wasangka yang semakin dalam kepada komunitas muslim. Budaya kekerasan terhadap komunitas muslim makin mewabah di jalanan di Inggris.

Sarfraz Sarwar adalah salah seorang tokoh komunitas muslim di Basildon, Essex. Dia kerap mendapatkan serangan dan pelecehan, dan masjid tempat ia biasa beribadah telah terbakar rata dengan tanah. Sarwar, yang memiliki 6 orang anak dan seorang istri yang bekerja di panti jompo, adalah orang yang lugu. Kejahatan yang dilakukannya adalah “menjadi seorang muslim”. Dia dan rekan-rekan seimannya sekarang hanya bisa menyelenggarakan ibadah dengan cara sembunyi-sembunyi sehingga dapat terhindar dari serangan dan pelecehan. Semenjak peristiwa 9/11[2], Sarwar sudah mengalami banyak sekali serangan dan pelecehan.

Berdasar penyelidikan Channel 4, terdapat banyak penyerangan dan pelecehan terhadap muslim di Inggris namun luput[3] dari publisitas. Berita tentang pelecehan dan penyerangan terhadap muslim tidak ditampilkan di media massa namun kejahatan yang dilakukan oleh muslim menjadi berita yang dibesar-besarkan.

“There is a reason for this blindness in the media. The systematic demonisation of Muslims has become an important part of the central narrative of the British political and media class; it is so entrenched, so much part of normal discussion, that almost nobody notices. Protests go unheard and unnoticed.”

Justru di situlah tidak adilnya. Terdapat usaha-usaha lewat media massa yang berusaha membuat muslim sebagai iblis dan usaha-usaha ini tampaknya menjadi bagian penting dari plot utama agenda politikus dan media massa Inggris. Meskipun terdapat protes akan kejahatan penstereotipan muslim sebagai serupa iblis, namun protes tersebut diabaikan dan tidak diberitakan oleh media massa.

Mengapa? Sebab umat muslim di Inggris kebayakan miskin, terisolasi, dan terasing dari masyarakat pemegang kendali. Dan, banyak muslim Inggris merupakan warga yang bukan kulit putih. Sebagai sebuah komunitas, muslim Inggris sangatlah lemah. Memang ada beberapa muslim yang berhasil menjadi anggota parlemen, namun tiadanya surat kabar yang dimiliki oleh muslim, dan di Inggris hanya ada satu saja jurnalis muslim, Yasmin Alibhai-Brown, membuat pemberitaan yang adil dan berimbang tentang muslim dan Islam di Inggris mengalami kepayahan.

Berdasarkan survei, muslim di Inggris menduduki tempat teratas untuk masalah pengangguran, tingkat kesehatan yang rendah, dan rendahnya tingkat pendidikan dibandingkan umat agama lain. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa muslim Inggris rentan terhadap serangan maupun pelecehan dari tokoh-tokoh mainstream.

Islamophobia mulai mewabah di Inggris. Sementara Islamophobia menjadi sesuatu yang “normal” di Inggis, di sisi lain pelaku Anti-Semitisme dilabeli sebagai jahat, dan tidak bermoral di masyarakat Inggris.

Ada anggapan bahwa Islamophobia tidak bisa dianggap sebagai sama dengan Anti-Semitisme. Pendukung anggapan ini mengatakan bahwa Islamophobia adalah kebencian terhadap suatu ideologi atau agama [Islam] dan bukan kepada umat muslim. Dan dengan anggapan bias ini artinya malah menjadikan umat muslim di Inggris menjadi tidak punya tempat bernaung dalam konteks peribadahan, pengembangan sosial-politik, dan ekspresi budaya bernuansa Islam.

[Bahkan wabah ini makin parah dan meluas di Inggris]. Penulis terkenal Inggris, Martin Amis, mengatakan kepada Ginny Dougary dari The Times bahwa “ada kemendesakan yang perlu … komunitas muslim harus menderita sampai akhirnya mereka lemah. Cegah mereka dari berpergian. Deportasi mereka, atau buang mereka ke jalanan. Jangan beri mereka kebebasan. Razia siapapun di negara ini yang wajahnya ke-arab-araban atau berbau Pakistan. Pokoknya beri diskriminasi kepada mereka sehingga seluruh komunitas muslim menderita hingga ke anak-anaknya”. Amis tidak hanya “menghina” muslim di Inggris, namun lebih dari itu, ia menggunakan kata-kata fasisme dan barbar; meskipun di Inggris malah bukunya makin laris bak kacang goreng.

Gaya bahasa kolumnis-kolumnis Islamophobis di surat kabar besar di Inggris seperti Toynbee dan Liddle sebagaimana dipakai oleh British National Party, mulai mewabah dan terus meningkat di media massa dan di masyarakat Inggris.

Di sebagian besar negara-negara Eropa, partai-partai mulai melihat bahwa isu Yahudi dan Homoseksual sudah tidak begitu laku di dalam mendongkrak suara pemilih. Di Inggris, British National Party melihat bahwa isu anti-Yahudi dan anti-Kulit Berwarna sudah bukan menjadi isu yang layak pakai. Isu Islamophobia-lah yang sedang laku keras sebab dengan demikian mereka dapat mengeksploitasi ketakutan publik khususnya masalah imigran dan komunitas minoritas di Inggris tanpa khawatir mereka bakal dilabeli sebagai rasis.

Jawabannya adalah jelas. British National Party (BNP) mendapatkan momen untuk mengeksploitasi ketakuatan publik lewat isu Terorisme Islam setelah kejadian 9/11 di Amerika, dan khususnya kasus Bom 7/7 di Inggris. Pimpinan BNP, Nick Griffin, malah terang-terangan melabeli Islam sebagai “keyakinan jahat dan sesat” dan bersamaan dengan itu, ia pelan-pelan menghilangkan citra dirinya yang dulu Anti-Semitis. Para anggota partai BNP di Inggris sekrang sering dan gemar membicarakan terorisme Islam, keburukan Islam, dan menggembar-gemborkan ketakutan di masyarakat mengenai ada usaha mengubah Inggris menjadi negara Islam.

Sebenarnya, masalah imigran di Inggris cukup pelik. Banyak kaum minoritas di Inggris menjadi sasaran akan pencemaran Identitas British. Setelah sebelumnya Umat Katholik [Roma] [4] menjadi sasaran pelecehan dan serangan, kemudian minoritas Yahudi juga semenjak dahulu sudah menjadi bahan ejekan, kemudian minoritas bangsa Perancis di Inggris, orang Jerman, kaum Gay, orang Kulit Berwarna, pernah dilecehkan, dan sekarang di Inggris, kaum minoritas muslim menjadi sasaran pelecehan.

Kita seharusnya malu terhadap bagaimana perlakuan kita sekarang terhadap muslim, di media massa, di ruang politik, bahkan di kehidupan kita sehari-hari. Kita tidak memperlakukan muslim dengan adil, toleran, dan patut sebagaimana klaim kita akan Gaya Orang Inggris yang berbeda dengan gaya bangsa lainnya. Sekarang yang kita butuhkan adalah perubahan budaya [dan persepsi kita terhadap Islam dan umat muslim].


[1] Ketika berbicara tentang Bom Bunuh Diri, maka kita harus jeli melihat masalah ini. Apakah bom bunuh diri bagian dari mainstream fikih Islam? Ataukah malah mainstream fikih Islam menganjurkan atau malah mengharamkan aksi Bom Bunuh Diri? Kemudian ketika berbicara tentang “aturan umat muslim berperang”, maka apakah boleh membunuh non-kombatan dan pula tidak di wilayah perang? Ataukah banyak aksi Bom Bunuh Diri adalah sebagai upaya menunjukkan bahwa muslim suka membunuh orang? Jika memang ditujukan untuk membuat stereotip bahwa muslim suka membunuh orang, maka strategi “memperbanyak aksi Bom Bunuh Diri” lewat duplikasi manipulatif pelaku (ingat kisah di dalam Minority Report?), lewat adu domba sekte – aliran fikih (ingat kisah di dalam Green Zone?), atau lewat distorsi dan manipulasi fakta (ingat tulisan-tulisan Edward Said dan Noam Chomsky?) adalah “berhasil”. Dan juga dengan demikian dapat digunakan sebagai cause belli atau alasan justifikatif serangan kepada negara-negara teokrasi Islam dan, secara jangka panjang dan luas, merupakan pukulan telak terhadap ideologi Islam.

[2] Sekali lagi saya, Dipa Nugraha, selalu mengingatkan kepada sidang pembaca yang mau peduli bahwa Tragedi Serangan WTC adalah kejahatan kemanusiaan yang sengaja didesain sebagai causa belli untuk merangsek dan mencaplok beberapa negara kaya minyak dan juga sebagai alat untuk perang ideologi. Untuk verifikasi dan memperdalam pemahaman atas argumen ini, silakan kunjungi sebuah situs yang dibuat oleh orang-orang Amerika yang “sangat marah dan kecewa” dengan banyaknya kejanggalan dari peristiwa 9/11 atau Tragedi Serangan WTC. Bagi mereka, kejanggalan-kejanggalan ini menunjukkan bahwa ada skenario jahat dari beberapa insider pemerintahan Amerika Serikat atas tragedi tersebut. Situs yang saya maksud adalah:

http://911truth.org/

bahkan di situs Bloomberg malah Sir Jonathan Porritt, penasehat PM Inggris Tony Blair, membeberkan bahwa alasan utama serangan ke Iraq, dengan label dan jargon “Perang Terhadap Terorisme”, adalah diniatkan untuk penguasaan ladang minyak. Silakan dibaca lewat link di bawah ini:

http://www.bloomberg.com/apps/news?pid=newsarchive&sid=ahJS35XsmXGg&refer=top_world_news

Dan ini juga terjadi atas Libya. Gadafi dijungkalkan bukan saja untuk menguasai ladang minyak Libya yang menggiurkan, namun juga karena Gadafi mengemukakan ide tentang mata uang emas yang dapat membuat ekonomi Amerika Serikat ambruk. Untuk rujukan, silakan Anda kunjungi situs ini:

http://thedailybell.com/2228/Gaddafi-Planned-Gold-Dinar-Now-Under-Attack.html

dan juga ini:

http://thedailybell.com/2226/Real-Cause-for-Gaddafis-Expulsion-Wanted-Gold-Currency.html

dan juga ini:

http://www.finalcall.com/artman/publish/World_News_3/article_7886.shtml

dan ini:

http://moraloutrage.wordpress.com/2011/03/03/muammar-gaddafi-of-libya/

[3] Salah satu isu yang kentara dari adanya konspirasi jahat dari Desain Besar Perang Ideologi dan Perang untuk Minyak adalah tidak diberitakan berita secara berimbang (adil) dan benar tentang Islam dan muslim; tidak ada both-side-of-the-story – berita-berita pemerkaya wacana dipinggirkan (dimarjinalkan) di media massa mainstream.

[4] Ingat bahwa Inggris mempunyai Katholik Anglikan yang berbeda dengan Katholik Roma. Silakan Anda cari sendiri rujukan tentang perbedaan itu, namun Anda bisa memulainya dari situs ini:

http://www.differencebetween.net/miscellaneous/difference-between-anglican-and-catholic/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s