Home » Selected Contemplation » Siapa Pemilik Sah Tanah Palestina?

Siapa Pemilik Sah Tanah Palestina?

Terjemah bebas dan komentar lewat catatan kaki dari tulisan Thomas Williamson berjudul “Who Really Owns the Land of Palestine?[1]” yang teks aslinya bisa diakses di:[2]

http://thomaswilliamson.net/who_owns_the_land.htm

_______________________________________

Sebuah artikel berjudul “Who Owns the Land?” yang muncul di terbitan Sword of the Lord bertanggal 30 Agustus 2002 dan juga di beberapa terbitan internasional lainnya menyuguhkan pernyataan menarik: “… the Jewish National Fund mulai mengumpulkan uang untuk membeli tanah di Palestina demi kepentingan penempatan bangsa Yahudi, besar pembelian tanah tersebut adalah 92% dari wilayah Israel sebagaimana kita lihat sekarang ini.” 

Angka 92% sendiri sungguh berbeda dari angka-angka persentase tanah terbeli yang diakui secara umum dan terdokumentasikan yang menyatakan bahwa pada saat pendirian negara Israel pada tahun 1948, Yahudi hanya membeli sekitar 6% hingga 7% luas wilayah dari negara Israel sekarang (pada masa sebelum Batas Wilayah 1967).

Saya[3] telah dua kali meminta penjelasan mengenai angka 92% Tanah Negara Israel yang diperoleh lewat pembelian kepada penulis “Who Owns the Land?” namun tidak memperoleh balasan.

Sementara itu pula, saya juga telah mengunjungi situs resmi The Jewish National Fund, www.unitedjerusalem.com, sebuah situs Yahudi, pro-Israel, dan pro-Zionist. Situs ini menyatakan bahwa The Jewish National Fund membeli [hanya] 375.000 acre tanah pada saat pendirian negara Israel pada tahun 1948. Jadi berdasar hitungan, luas tanah yang dikuasai oleh negara Israel lewat pembelian kepada bangsa Arab sebelum Batas Wilayah 1967 yang seluas 7.992 mil persegi jika dipersentasekan hanya sebesar 7.33% dan bukan 92%.

Hitungan tentang persentase tanah yang dibeli dari orang Arab berdasar sumber lain juga menyatakan bahwa besarannya sekitar 6-7%. Artikel berjudul “The Jewsih National Fund Land Purchase Methods and Priorities, 1924-1939” tulisan Kenneth W. Stein menyatakan bahwa: “hingga Mei 1948, Yahudi memiliki kurang lebih 2.000.000 dari total 26.000.000 dunam tanah yang ditinggali dan dimiliki bangsa Palestina”. Angka ini berarti sekitar 7.69%, dan bukan 92%.

Jack Bernstein di dalam “The Life of an American Jew in Racist-Marxist Israel” mengatakan bahwa “hingga 1920, bangsa Yahudi hanya memiliki 2% dari wilayah Palestina. Kemudian pada tahun 1948 saat bangsa Yahudi mendirikan negara Israel, mereka mencaplok wilayah Palestina dalam rangka memperluas wilayah yang dimilikinya, dan itupun secara persentase masih di bawah angka 6% dari total wilayah yang dimiliki bangsa Palestina.”

Disappearing Palestine - Palestina yang Menyusut dan Kian Menghilang (credit: Australian Friends of Palestine Association)

Disappearing Palestine – Palestina yang Menyusut dan Kian Menghilang (credit: Australian Friends of Palestine Association)

Booklet berjudul “Origin of the Palestine-Israel Conflict” yang diterbitkan oleh Jews for Justice in the Middle East menyatakan bahwa “di tahun 1948, saat Israel berdiri sebagai sebuah negara, hanya memiliki tanah sah sebesar 6% lebih sedikit dari seluruh wilayah Palestina.”

Robin Miller di dalam “The Expulsion of the Palestinians 1947-1948” mengatakan bahwa “sebelum 1948, bangsa Yahudi hanya memiliki 1,5 juta dari total 26 juta dunam tanah di Palestina … setelah kegiatan pencaplokan tanah dari bangsa Palestina, Israel memiliki wilayah 20 juta dunam, suatu angka yang luar biasa, dari 6% menjadi 77% dari total wilayah awal. Bangsa Yahudi benar-benar berhasil mengambil alih sebuah negara dari bangsa lain”.

Nampaknya banyak umat Kristiani yang didoktrin untuk mendukung klaim bangsa Yahudi atas tanah bangsa Palestina, berdasarkan argumen bahwa 92% tanah Israel adalah hasil pembelian dari bangsa Palestina. Angka 92% sebagaimana dikoarkan lewat tulisan “Who Owns the Land?” adalah jauh berbeda dibanding dengan angka yang dikeluarkan oleh The Jewish National Fund yaitu hanya sebesar 7.33% tanah dibeli dari bangsa Palestina pada saat pendirian negara Israel di tahun 1948.

Siapa saja yang membaca artikel ini dan lalu dapat membuktikan kevalidan angka 92% sebagai besar persentase tanah Israel yang benar-benar dibeli dari bangsa Palestina dapat memprotes saya lewat situs saya, dus dengan demikian akan juga membuktikan bahwa angka 7.33% tanah pembelian dari bangsa Palestina bersumber dari The Jewish National Fund adalah salah.

Beberapa orang mungkin akan berkata bahwa tidaklah menjadi persoalan berapa persen sebenarnya tanah bangsa Palestina yang dibeli oleh bangsa Yahudi pada saat pendirian negara Israel, sebab Tuhan sudah memberikan tanah Palestina kepada bangsa Yahudi sehingga menjadi hak bangsa Yahudi-lah untuk merampas dari tangan bangsa Arab [Palestina] bahkan tanpa harus membelinya.

Akan tetapi, tidak ada dasar di dalam skriptur akan argumen ini. Ibrahim dan Daud [p.b.u.t.], meskipun mereka Yahudi, membayar dengan harga yang adil atas tanah yang mereka beli dari Ephron the Hittite (Ktb. Kejadian 23:16) dan dari Ornan the Jebusite (2 Samuel 24:21-24, 1 Tawarikh 21:22-25).

Paulus, saat ditanya keuntungan menjadi orang Yahudi apa, ia menjawab: “Banyak, namun yang paling utama adalah, kepada bangsa Yahudi-lah diberikan perintah-perintah Tuhan,” (Roma 3:2). Paulus tidak menyebutkan perampasan tanah milik orang lain sebagai keuntungan menjadi bangsa Yahudi; justru ia mengatakan bahwa keuntungan menjadi bangsa Yahudi adalah kepada mereka-lah perintah-perintah Tuhan diberikan. Perlu dicatat bahwa salah satu perintah Tuhan adalah: “Tidak boleh mencuri dari orang lain”. Tidak ada dasar di dalam skriptur untuk menyelisihi perintah yang sudah jelas ini.

Beberapa orang mungkin akan mengatakan bahwa kita[4] diwajibkan untuk mendukung berdirinya negara Israel bagaimanapun dan apapun caranya berdasarkan rujukan kepada ayat-ayat di Perjanjian Lama yang berisi janji dan restu Tuhan terhadap negara teokratis Israel. Bahkan para pengkhotbah yang meyakini bahwa Perjanjian Lama tidak berlaku lagi, dan para pengkhotbah yang sudah tidak memakai 10 Perintah Tuhan dan kewajiban donasi untuk Tuhan dari sebagian penghasilan, secara aneh tetap memakai Perjanjian Lama ketika berbicara tentang pendirian negara Israel di dunia modern. Para pengkhotbah tersebut tidak pernah mengutip ayat-ayat di Perjanjian Baru mengenai justifikasi pembelaan pendirian negara Israel di dunia modern karena memang tidak ada ayat di Perjanjian Baru yang berbicara tentang itu.

Dapatkah kita menafsirkan pernyataan Tuhan di dalam Perjanjian Lama mengenai janji dan restu Tuhan terhadap Israel kuno, untuk diterapkan lewat tafsir yang berisi dukungan sepenuh kepada berdirinya Israel di dunia modern? Jawabannya adalah: Tidak. Kecuali kita juga secara adil memakai logika yang sama terhadap tafsir skriptur mengenai janji dan restu Tuhan kepada bangsa Arab.

Sebagai contoh, di dalam Yesaya 19:25 terdapat ayat: “Dan kepada mereka, Tuhan berkata, diberkatilah bangsa Mesir”. Berdasar ayat ini, tidakkah kita seharusnya membantu bangsa Mesir dengan sepenuh sebagaimana kita membela dan menjustifikasi tindak-tanduk bangsa Israel? Lalu di manakah kumpulan aktivis pembela bangsa Mesir yang melakukan perjalanan ke Mesir dan lalu membantu “perampasan” tanah sehingga semua dimiliki bangsa Mesir?

Kemudian di dalam Kitab Kejadian 21:18, Tuhan menjanjikan kepada Ismail sebuah bangsa yang hebat. Mengapa kita tidak membantu mewujudkan janji Tuhan itu dengan mendukung segenap tenaga kepada bangsa Palestina dan bangsa Arab lainnya yang merupakan keturunan Ismail? Mengapa kepatuhan kepada Tuhan kita lakukan dengan pilih-pilih? Mengapa mendukung Israel namun mengabaikan Mesir dan Palestina.

Jawabannya sebenarnya adalah kebijakan luar negeri kita tidaklah bersandar dari skriptur yang berisi janji kepada bangsa-bangsa di masa lampau yang sekarang sudah jauh berbeda keadaannya.

Israel Modern tidaklah sama dengan negara teokratis Israel di masa lampau yang bersandar kepada Hukum Perjanjian Lama dan pengharapan akan Messiah. Israel Modern tidak hanya menolak Messiah, namun juga menolak Hukum Perjanjian Lama.

Ambil contoh, Israel menolak perintah untuk tidak semena-mena terhadap non- Yahudi yang tinggal di wilayah Israel (Keluaran 12:49, 22:21, 23:9; Imamat 19:33-34, 25:35; Ulangan 10:18-19, 23:7, 24:17, 27:19), dan larangan menebang pohon subur-berbuah (Ulangan 20:19-20). Merupakan sebuah hal yang tidak logis ketika menggunakan Perjanjian Lama sebagai rujukan pendirian negara Israel modern sembari melakukan pengecualian terhadap bangsa Yahudi dengan kalimat: “Bangsa Yahudi tidak wajib patuh terhadap Hukum Perjanjian Lama”.

Negara Israel dikenal lewat industri seks dan pelacurannya, juga lewat parade kaum homoseksual di Tel-Aviv dan Jerusalem, dan dukungan pemerintah terhadap kegiatan aborsi. Berdasarkan The Jewish Virtual Library, terdapat 18.785 aborsi legal dan 16.000 aborsi ilegal di Israel pada tahun 1999. Kritikus Israel terhadap aborsi memperkirakan bahwa terdapat 1.000.000 janin Yahudi telah diaborsi sejak tahun 1948 hingga 1992 dan mereka melabelinya sebagai serupa Holocaust. Zionis Kristen yang mengirimkan uang ke Israel, dan melobi bantuan pemerintah Amerika kepada Israel, telah membantu mendanai bentuk aborsi kepada janin-janin Yahudi yang dilegalkan oleh pemerintah Israel.

Sebagai seorang Kristen[5], kita tidak diperkenankan menghakimi atau mengutuk Israel terhadap kesalahan yang juga terjadi dan dilakukan oleh bangsa-bangsa lainnya di dunia. Namun juga, perlu dicermati, agar kita tidak pula malah ke titik ekstrem lainnya, terlalu memuliakan pemerintah dan bangsa Israel sebagai dukungan sepenuh yang berlandaskan kepada sesuatu yang tidak tepat.

Perlu pula ditambahkan bahwa tiada yang berubah dari gerakan Zionisme sebagaimana Noel Smith pernah menulis di tahun 1957 di The Baptist Bible Tribune bahwa: “Zionisme menolak Tuhan orang Israel, Tuhan para Nabi, Tuhan pemilik tanah suci. Zionisme tidak mendasarkan klaim tanah yang dijanjikan kepada mereka berdasar perjanjian Ibrahim p.b.u.h. dengan Tuhan. Zionisme menolak untuk mengakui bahwa diaspora bangsa Yahudi adalah kerja Tuhan karena dosa bangsa Yahudi menolak Messiah yang datang. Zionisme tidak mengenal dosa sehingga tidak diperlukan Messiah untuk menebus dosa. Zionisme adalah [gerakan] atheis, sekuler, politis. … Zionisme, menolak Tuhan yang memberikan Tanah yang dijanjikan, menolak berterima kasih atas pemberian, sehingga tidak punya dasar valid untuk mengklaim tanah Palestina – sebagai suatu hak mereka lebih daripada orang Arab lainnya”.

Tuhan, di masa lalu, benar telah memberi tanah Palestina kepada bangsa Yahudi, namun pemberian ini tidaklah bentuk penafian kebolehan bangsa non-Yahudi untuk mempunyai tanah di Israel, sebagaimana terdapat di dalam kisah Ephron dan Ornan (Silakan bandingkan pula dengan Bilangan 9:14).

Janji Tuhan kepada bangsa Yahudi terhadap tanah Palestina tidak berlaku kepada bangsa Yahudi sebab janji tersebut bersyarat yaitu kepatuhan kepada Tuhan (lihat Kitab Kejadian 17:9-14; Keluaran 19:5-6, Ulangan 7:12; Yoshua 23:15-16, 1 Raja-raja 9:6-9, 2 Tawarikh 7:19-22, Yehezkiel 33:24-27). Tuhan akhirnya menggunakan bangsa Romawi untuk mengusir bangsa Yahudi dari tanah yang dijanjikan di tahun 70 S.M. sebagai bentuk hukuman terhadap pelanggaran kepatuhan akan perintah Tuhan: penolakan dan penyaliban Messiah mereka (Matius 21:33-43, 23:38).

Namun tentu saja, siapapun saja meski dia Yahudi, tetap berhak atas tanah di Palestina asalkan dia membelinya dengan adil. Sebagai seorang Kristen, kita seharusnya menjunjung tinggi kebolehan pemilikan tanah Palestina kepada semua orang Yahudi, dan juga orang Palestina selama mereka secara legal memiliki tanah tersebut. Kita bukanlah komunis – yang mengakui pemilikan tanah adalah hanya oleh negara yang boleh direbut kapan saja tanpa ganti rugi yang adil. Dan kita juga bukanlah rasis, yang mengusir orang lain dari tanahnya karena orang tersebut berasal dari etnis tertentu.

Jadi, siapakah pemilik sah tanah Palestina? Jawabnya janganlah berdasarkan argumen konyol mengenai siapa yang lebih dulu menempati tanah itu, atau bangsa yang lebih disukai Tuhan-lah yang berhak atas tanah itu. Yang berhak atas tanah Palestina adalah mereka yang memilikinya dengan cara yang adil, bukan dengan perampasan atau pengusiran namun lewat jual beli yang benar.

Yesaya pernah menubuatkan tentang suatu masa ketika bangsa Yahudi dan bangsa Arab akan diperlakukan sama di hadapan Tuhan: “Pada waktu itu Israel akan menjadi yang ketiga di samping Mesir dan di samping Asyur, suatu berkat di atas bumi, yang diberkati oleh TUHAN semesta alam dengan berfirman: “Diberkatilah Mesir, umat-Ku, dan Asyur, buatan tangan-Ku, dan Israel, milik pusaka-Ku” (Yesaya 19:25-26[6])”.

Kita sekarang ini hidup di masa sebagaimana dinubuatkan oleh nabi Yesaya. Perjanjian Baru memberikan kita ajaran bahwa tidak ada lagi perbedaan antara Yahudi dan non-Yahudi (Kisah Rasul-rasul 15:9; Roma 10:12; Galatia 3:28). Bangsa Yahudi sudah tidak memiliki keunggulan sebagai keturunan langsung resmi dari Ibrahim p.b.u.h. (Yohanes 8:39). Israel sejati dan anak sebenar dari Ibrahim p.b.u.h. adalah mereka yang mendapat pencerahan iman (Roma 2:28-29; Galatia 3:7; cf. Galatia 6:15-16).

Semua sederajat di hadapan Tuhan (Kisah Rasul-rasul 17:26) dan hal ini berlaku kepada semua bangsa tanpa pengecualian. Oleh sebab itulah, kita seharusnya bersikap adil terhadap bangsa lain, baik Yahudi, Arab, maupun Palestina dan menjauhi bersikap dan berkeyakinan bahwa seolah-olah Tuhan memberi hak kepada suatu bangsa untuk bebas merampas hak bangsa yang lain.


[1] Hak Cipta ada pada Thomas Williamson. Jikalau ada sedikit perbedaan dari teks asli, maka hal demikian disebabkan kekurangpresisian penerjemah. Harap dimaklumi. Pendistribusian teks ini harus menyertakan nama pemilik Hak Cipta dan alamat akses teks asli. Untuk rujukan, gunakan rujukan pada teks asli. Usaha penerjemahan ini merupakan kegiatan non-profit dan tidak serta merta merupakan pandangan dari penerjemah.

[2] untuk artikel yang berkait erat dengan isu yang sama dengan pembahasan lebih ke ranah gugat tafsir clamant terhadap skriptur biblikal, baca juga tulisan Thomas Williamson yang lain berjudul “To Whom Does the Land of Palestine Belong?” yang bisa diakses di:

http://thomaswilliamson.net/palestine.htm

untuk artikel yang berkait erat dengan isu konflik Israel-Palestina di dalam ranah permainan istilah di media massa semisal istilah teroris dilekatkan kepada orang Palestina padahal jika hendak berlaku adil maka pertanyaannya adalah “siapa yang menjajah siapa?” silakan baca salah satu tulisan Edward Said berjudul “What Israel Has Done” yang bisa diakses di:

http://weekly.ahram.org.eg/2002/582/op2.htm

Tulisan Edward Said lainnya bisa diakses di:

http://www.edwardsaid.org/?q=node/1

Buku yang mengupas sangat dalam dan komprehensif tentang isu Israel-Palestina semisal The Politics of Anti-semitism (AK Press, 2003). Menurut buku ini, Zionis memanipulasi persepsi kita tentang banyak hal sehingga menguntungkan mereka.

[3] Kata “saya” di dalam terjemahan artikel ini merujuk kepada Thomas Williamson

[4] Karena penulis asli artikel ini adalah seorang pemeluk Kristen, maka kata “kita” di dalam tulisan ini merujuk kepada “umat Kristen”.

[5] Merujuk kepada penulis dan teman-teman seiman-nya.

[6] Jika merujuk kepada Alkitab terjemahan LIA (1994) maka 2 ayat yang dimaksud di sini bernomor ayat 24-25.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s